Ayat-Ayat Fitnah

AYAT-AYAT FITNAH

Disarikan dari Kuliah Dhuha

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Quraish Shihab

pada tanggal 4 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada saat ini, tidak sedikit kesalah-pahaman tentang ajaran Islam. Bukan saja oleh Non-Muslim, bahkan Muslim-pun sering kali salah paham mengenai ajaran Islam. Beberapa bulan yang lalu, seperti kita ketahui telah tersebar film berjudul “Fitna”. Berbagai macam reaksi ditunjukkan oleh kaum muslimin menanggapi film ini. Al-Qur’an memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad berkaitan dengan sikap orang yang tidak senang kepada Islam (sikap kaum musyrikin yang melecehkan Islam). “Jika orang musyrik mengganggu kamu, maka ambil yang mudah, jangan persulit.”

Ayat ini seakan-akan berpesan, bahwa jangan menanyakan suatu persoalan yang pintar kepada orang yang bodoh. Jangan meminta sesuatu yang baik kepada orang yang jahat. Terhadap orang yang membenci kita, maka jangan berharap orang tersebut akan mencintai kita. Karena setiap bejana hanya bisa mengeluarkan apa yang ada di dalam bejana tersebut.

Mari kita jangan salah paham dengan ajaran agama kita. Sekaligus mari kita mengikuti tuntunan Allah yang berkaitan dengan pelecehan terhadap agama Islam. Jangan kita mengira, bahwa pelecehan ini adalah yang terakhir. Allah berfirman:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Q.S. Ali Imran: 186)

Dulu kita pernah mendengar Ayat-Ayat Setan oleh Salman Rusdi. Kemudian juga ada karikatur Nabi Muhammad. Dan belakangan ini adalah film “Fitna”. Ini yang populer, sedangkan yang tidak populer mungkin lebih banyak dari ini. Berkaitan dengan Film “Fitna”, sebenarnya bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang disebutkan di dalam film ini? Kemudian, bagaimana tuntunan Tuhan jika hal seperti ini terjadi lagi? Ada beberapa ayat Al-Qur’an di dalam film “Fitna” ini yang akan kita cermati.

Sebenarnya apakah yang dimaksud produser film ini dengan kata “fitna”? Apalagi ini juga di dalam Bahasa Belanda. Di dalam agama, terkadang apa yang ada di dalam hati yang ingin kita sembunyikan, tetapi apa yang hendak kita sembunyikan itu tiba-tiba muncul di mulut tanpa kita sadari.

Berkaitan dengan Film “Fitna” ini, sebenarnya orang ini (pembuat Film “Fitna”) mau memfitnah Islam, tapi Tuhan ingin menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya. Maka ia pun membuat film “Fitna” ini, yang di film tersebut semuanya berisi fitnah. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, bahwa suatu hari nanti kulit, tangan, dan semua organ tubuh kita akan bisa bicara. Lalu kita berkata kepada organ tubuh kita itu, “Mengapa kami bicara? Siapa yang menjadikan kamu bisa bicara?” Lalu dijawablah oleh organ tubuh kita itu, “Allah yang menjadikan saya bisa bicara.” Jadi, apa yang tersembunyi di dalam hati kita, itu nantinya akan berbicara dan bersaksi.

Ayat Pertama (pada Film “Fitna”):

Ditayangkan di film tersebut, yang di situ ada ayat Al-Qur’an yang mungkin dibaca oleh seorang Qari’ Internasional. Semuanya dibaca, tapi ada yang dipotong. Contoh dari yang ditayangkan di film tersebut adalah ayat sebagai berikut:

Kalau kamu bertemu dengan orang-orang kafir, maka penggal batang lehernya, sampai kalau sudah terjadi mandi darah, ikat dia …. (Q.S. Muhammad: 4)

Kemudian setelah ayat itu dibacakan, ditayangkanlah lima orang berdiri memakai baju hitam, lalu ada satu orang memakai baju merah, yang kemudian orang yang pakai baju merah ini dipenggal batang lehernya oleh lima orang berpakaian merah. Itulah Islam, menurut film tersebut. Apakah ini fitnah?

Ayat ini sebenarnya tidak berbicara mengenai setiap orang kafir yang kita temui, melainkan ayat ini berbicara mengenai orang-orang kafir yang memusuhi (yang memerangi) Islam. Sehingga secara harfiah, ayat ini sebenarnya menyatakan “kalau kamu bertemu dengan orang-orang kafir itu dalam peperangan ….”

Dulu (dan mungkin sampai sekarang), ada orang-orang yang menyiksa ketika membunuh. Al-Qur’an menginginkan, kalaupun kamu berperang dan mesti membunuh, maka bunuhlah dia secepat mungkin supaya tidak tersiksa. Yang ini hanya bisa dilakukan dengan memenggal kepala, sampai mereka lumpuh tidak bisa bergerak. Kalau ketika berperang, mereka ini sudah tidak bisa berperang lagi, maka ikat mereka. Dulu, kalau berperang memang pasti ada yang mati. Tapi kalau sekarang, bisa saja terjadi suatu peperangan namun tidak banyak yang mati, atau boleh jadi tidak mati, melainkan langsung kalah, misalkan dengan memutus jalur logistik.

Pada masa Rasulullah, kaum Muslimin pernah berperang dengan orang Yahudi Bani Quraizah. Orang Yahudi tersebut kemudian kalah, lalu ditawan dan diikat. Mengapa diikat? Karena dulu tidak ada rumah tahanan. Biasanya tahanan ini dititipkan di rumah sahabat Rasulullah. Tawanan ini ditahan, karena kalau ia kembali, maka ia bisa menyerbu kembali. Pernah Rasulullah menitipkan satu tawanan pada Sayyidina Ali. Kemudian turun ayat, memuji Sayyidina Ali, memuji peraturan yang diberlakukannya. Ayat tersebut berbunyi:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Q.S. Al-Insan: 8)

Waktu Rasulullah menahan kelompok Bani Quraizah, mereka ini diikat di tengah panas terik matahari. Nabi berkata, “Jangan kumpulkan dua kepanasan terhadap mereka, yaitu panasnya mereka kalah dan panasnya terik matahari. Biarkan mereka beristirahat.”

Hal-hal seperti inilah (keagungan ajaran Islam) yang telah disembunyikan. Pada ayat tersebut, ia (pembuat film “Fitna”) tidak membaca lanjutan ayatnya, yaitu:

… Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti …. (Q.S. Muhammad: 4)

Rasulullah berkata kepada para tawanan perang, “Jika kamu (tawanan) mau bebas, maka ajarlah orang Islam untuk baca-tulis.” Tidak ada dikatakan untuk membunuh mereka (tawanan). Justru kalimat seperti ini tidak dibaca, karena hal ini adalah keistimewaan Al-Qur’an (dan juga Islam).

Ayat kedua (pada Film “Fitna”):

… Itu orang-orang kafir, setiap kulit mereka hangus terbakar, Allah akan mengganti kulit baru, supaya dibakar lagi, sehingga dia tidak pernah terhenti dari siksa …. (Q.S. An-Nisaa: 56)

Tujuan disitirnya ayat ini sepertinya adalah untuk menggambarkan, bahwa penyiksaan terhadap orang kafir adalah penyiksaan yang tiada hentinya. Kalau perlu bakar dia (orang kafir) itu sampai kulitnya hangus. Habis dibakar, kemudian sembuh, lalu setelah itu diganti lagi.

Di sini ingin digambarkan, bahwa Islam kejam, karena Tuhannya memang kejam. Itulah sebabnya, di antara mereka ini ada yang mengatakan, bahwa yang teroris itu bukan Umat Islam, melainkan yang teroris adalah Al-Qur’an. Jadi yang salah itu bukan Islam, melainkan adalah Al-Qur’an. Dia ingin menggambarkan, bahwa Islam itu “teror”, Islam itu “kejam”, karena Tuhannya “kejam”.

Ayat di atas (yang ditampilkan pada film tersebut) sebenarnya berbicara mengenai siksaan di hari kiamat. Kalau nantinya di akhirat kita memperoleh surga, maka itu tak lain adalah anugerah Allah, bukan karena amalan manusia. Shalat dilakukan adalah untuk kepentingan kita. Kita berzakat adalah untuk kepentingan kita yaitu misalkan agar harta kita tidak dirampok dan harta tersebut menjadi berkah, serta kita juga disenangi oleh orang. Jadi tidak usah lagi mengharap sesuatu di akhirat. Kalaupun kita mendapatkan sesuatu di akhirat, itu merupakan anugerah dari Allah.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada satu orang pun di antara kamu yang masuk surga karena amalnya.” Kemudian ditanya oleh sahabat, “Kamu juga tidak masuk surga karena amalmu?” Dijawab oleh Rasulullah, “Kecuali kalau Allah menganugerahkan (melimpahkan) rahmat-Nya kepadaku.

Apakah hanya Islam yang mengancam dengan api neraka, atau agama lain juga sama, yaitu mengancam dengan api neraka? Nabi Isa pun yang kita kenal sebagai nabi yang penuh kasih sayang, juga mengancam dengan api neraka. Di dalam Perjanjian Baru tertulis jelas hal tersebut. Jadi bukan hanya Agama Islam.

Salah satu cara pendidikan adalah reward dan punishment. Dan salah satu cara pendidikan adalah ancaman. Bisa jadi karena rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, kemungkinan nanti neraka itu tidak ada. Bisa jadi neraka itu hanya ancaman. Itu sebabnya, dalam pandangan ahlussunnah wal jama’ah (Asy’ariyah), karena surga dan neraka itu hak prerogatif Allah, bisa saja Dia memasukkan orang yang berdosa ke surga. Ada orang-orang yang justru menjadi baik karena diancam. Jadi, janganlah pernah menyangka bahwa Allah itu kejam. Bersangka baiklah kepada Allah.

Ayat ketiga (pada Film “Fitna”):

Perangilah mereka sampai tidak ada penganiayaan, dan agama seluruhnya adalah milik Allah …. (Q.S. Al-Baqarah: 193)

Begitulah kira-kira terjemahan mereka. Mereka ingin mengatakan, bahwa Allah memerintahklan Rasulullah dan Umat Islam memerangi siapapun, sampai Agama Islam menguasai dunia. Di film “Fitna” digambarkan mengenai hal ini. Ada satu orang yang berpidato dengan mengacungkan pedang lalu berkata “Allahu akbar … Allahu akbar …,” dan kemudian berkata, “Islam harus menguasai dunia.”

Apakah memang Islam menghendaki tersebarnya agama dengan pedang? Tentunya tidak. Jadi, apa arti dari ayat ini, “Perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, tidak ada penganiayaan, dan agama seluruhnya tunduk kepada apa yang ditetapkan Allah.”

Kata “ad-din” memiliki banyak arti. Jika dikatakan “Maliki yaummiddin“, maka “ad-din” yang dimaksud artinya adalah pembalasan. Jika dikatakan “Al-yauma akmaltulakum dinakum,” maka “ad-din” yang dimaksud artinya adalah agama.

Ad-din” juga berarti kepatuhan. “Perangi orang yang memerangi kamu sampai tidak ada penganiayaan, dan kepatuhan hanya kepada Allah.” Bukan artinya “Agama Islam sampai tersebar”, melainkan “semua harus patuh kepada Allah”.

Berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah, di dalam Al-Qur’an disebutkan juga bahwa Allah melarang kita untuk menghancurkan rumah ibadah agama lain, dan juga melarang kita untuk mencaci berhala-berhala (sesembahan) agama lain. Dalam firman-Nya disebutkan:

Jangan memaki sembahan-sembahan mereka itu, karena kalau kamu memaki mereka, maka mereka akan balik memaki kamu …. (Q.S. Al-An’am: 108)

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan:

… Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

(Q.S. Al-Hajj: 40)

Jadi, merupakan tindakan yang salah jika ada Umat Islam yang menghancurkan rumah ibadah agama lain. Kalau begitu, apakah Allah memang mengizinkan manusia beragama selain agama Islam? Apakah Allah juga meridhai kekufuran? Dan apakah Allah mengizinkan kekufuran? Kalau Allah tidak mengizinkan, maka kekufuran itu tidak terjadi. Ada perbedaan antara “izin” dengan “restu”. “Restu” adalah izin plus suka. Sedangkan “izin” adalah mempersilakan, tapi tidak menyetujui.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai hal ini:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” …. (Q.S. Al-Kahfi: 29)

Dalam ayat yang lain disebutkan pula:

Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. Al-Kafirun: 6)

Jadi kalau kita membiarkan orang menganut agama yang ia pilih, apakah itu sesuai dengan kepatuhan kita kepada Allah? Ketika Allah berfirman “Lakum dinukum waliyyadin,” maka yang mau memilih agama dan kepercayaan yang ia anut, apakah itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak? Harus dibedakan antara “izin”, “kehendak”, atau “restu”. Apakah hal di atas merupakan kehendak Allah atau bukan? Apakah ada yang terjadi di bumi dan alam ini yang tidak sesuai dengan kehendak Allah? Tentunya tidak ada yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Tak dapat kita pungkiri, bahwa di bumi ini pasti ada kekufuran. Apakah Allah mengizinkan orang untuk berlaku kufur? Jadi dalam hal ini, kita tidak bisa mengancam seseorang bahwa ia harus masuk Islam. Adanya rumah ibadah agama lain apakah itu karena izin Allah? Ya, tentunya karena izin Allah, bukan hanya izin dari pemerintah. Kita tentunya harus patuh kepada Allah. Jika Allah mengizinkan hal-hal tersebut, kemudian kita mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak boleh, apakah kita dapat dikatakan patuh? Dalam hal ini berarti kita sudah tidak patuh kepada Allah.

Hal inilah yang dimaksud oleh ayat ketiga tersebut di atas. Yang penting jangan menganiaya orang. “Fitnah” itu di dalam Al-Qur’an artinya “menganiaya”.

… dan fitnah (menganiaya) itu lebih besar dosanya daripada membunuh. (Q.S. Al-Baqarah: 191)

Kembali kepada konteks ayat di atas, “Perangi mereka yang memerangi kamu sampai batas tidak ada lagi penganiayaan.”

Kemudian muncullah pertanyaan, apakah kita menganiaya saudara-saudara kita yang non muslim jika kita larang mereka beragama? Jika hal ini dilakukan, berarti kita sudah menganiaya mereka, kita tidak patuh kepada Allah. Jika kita menghalang-halangi dan menakut-nakuti orang untuk menjalankan agamanya berarti kita sudah menganiaya mereka.

Dalam hal ini, kepatuhan hanyalah kepada Allah. Berarti kita sudah patuh kepada Allah jika kita mengizinkan orang lain menganut agama dan kepercayaannya, walaupun itu berbeda dengan kepercayaan kita. Karena itu, kita harus memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk melaksanakan ajaran agamanya, melaksanakan kepercayaannya, tetapi dengan syarat bahwa dia tidak melakukan penganiayaan.

Oleh sebab itulah, pada Al-Baqarah: 193 ayatnya ditutup dengan:

… Kalau mereka sudah berhenti dalam penganiayaan, tidak ada permusuhan dari Allah kecuali terhadap orang yang berlaku aniaya. (Q.S. Al-Baqarah: 193)

Dalam hal ini, bagi Umat Islam, jika lawannya sudah berhenti melakukan aniaya, maka ia harus menghentikan perlawanan terhadap lawannya itu. Kalau Umat Islam masih melakukan perlawanan, atau mengutik-utik mengganggu lawannya itu, maka Allah akan marah kepada orang Islam, karena ketika itu ia telah berlaku aniaya.

Bagaimana petunjuk Al-Qur’an jika ada yang melecehkan Islam?

Jika hal ini terjadi, apakah mereka yang melecehkan Islam itu akan kita perangi? Dalam firman-Nya, Allah mengingatkan: “Kamu pasti akan diuji menyangkut harta kamu, menyangkut jiwa kamu. Kamu pasti akan mendengar dari orang-orang, sebagian dari orang Yahudi, sebagian dari orang Nasrani, sebagian dari orang yang tak beragama, gangguan yang banyak.

Petunjuknya dari lanjutan ayat tersebut, yaitu: “Kamu dituntut sabar dan bertakwa, karena itu adalah sesuatu amalan yang perlu ditekadkan, itu sesuatu yang sangat terpuji.

“Sabar” berarti menahan emosi atau menahan gejolak nafsu pada saat kita kuasa untuk melampiaskannya. Sedangkan “takwa” pada dasarnya adalah menghindar dari sesuatu yang buruk. Allah memerintahkan kita untuk mencari yang selamat.

Berkaitan dengan Film “Fitna”, tentunya kita harus pahami, mengapa mereka melecehkan Islam. Hal ini bisa dikarenakan mereka tidak tahu. Kalau mereka tidak tahu, kemudian kita beritahu, kemungkinan nantinya mereka tidak akan melecehkan. Kalau dia sudah tahu, tapi memang bermaksud untuk melecehkan, maka hati-hatilah, perhitungkan langkah kita.

Walaupun kita mampu, tapi kemudian akan berdampak buruk, maka jangan lakukan. Itulah arti sebenarnya dari “takwa”, hindari, perhitungkan langkah kita. Kalau kita menghindari, dan kita sudah sabar dalam arti sudah kuat, maka orang yang mau melecehkan itu akhirnya menjadi tidak berani melecehkan.

Mengapa ada orang yang berani melecehkan Islam? Karena mereka tidak takut. Mengapa ada negara yang takut diboikot ekonominya oleh Umat Islam? Dalam kasus ini Denmark sudah rugi besar setelah pemboikotan dari Umat Islam (berkaitan dengan kasus karikatur Nabi Muhammad). Padahal dalam hal ini kita (Umat Islam) tidak menganggu mereka. Kita hanya tidak mau membeli barang mereka.

Menurut petunjuk agama, jika ada yang melecehkan Islam, maka pergunakanlah langkah yang tepat untuk menghadapinya, yaitu kita harus benar, harus kuat, kemudian perhitungkanlah langkah tersebut, jangan sampai langkah itu membawa bencana untuk kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita membakar kedutaan negara lain, ataupun membakar benderanya, karena bukan mereka yang salah. Berkaitan dengan kasus Film “Fitna”, ini adalah kesalahan satu orang. Karena kalau kita merusak kedutaan negara lain atau membakar bendera negara tersebut misalkan, maka mereka pun bisa melakukan hal tersebut kepada kita.

Jadi, perhitungkan langkah kita, lihat apa yang paling maslahat. Ucapkan selamat tinggal, sambil menunggu, sehingga mungkin saja nantinya mereka akan insaf dan tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut. Kalau mereka masih terus melakukan hal tersebut, boleh jadi kemudian kita sudah kuat, sehingga dia tidak berani lagi untuk melakukan itu. Inilah petunjuk agama, yang sudah sepantasnya untuk kita jalankan.

Patut diingat, bahwa ini bukan yang terakhir. Allah yang berkata demikian. Karena itu, turun petunjuk-petunjuk-Nya. Dan ini adalah salah satu petunjuk yang harus menjadi pegangan untuk kita. Kita perkuat diri kita, ilmu, teknologi, ekonomi, persatuan dan kesatuan. Perkuat hal tersebut, sehingga jika ada orang yang ingin mengganggu, maka mereka tidak akan berani. [Aan]

Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman

TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN

Disarikan dari Kuliah Dhuha

yang disampaikan oleh:

Dr. H. Zamiril Ali Husein, M.A.

pada tanggal 27 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasululah SAW, “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada pada-Nya, sesungguhnya suatu ketika kelak akan turut Isa bin Maryam AS. Isa bin Maryam itu akan berada di tengah-tengah kamu di akhir zaman nanti. Ia akan menjadi hakim yang seadil-adilnya. Dia akan menghancurkan salib-salib dan mengadili para rahib Nasrani. Kemudian dia akan membunuh babi-babi. Akan dihapuskan semua kemungkaran. Di situ orang-orang sudah tidak ada lagi yang menipu orang lain. Semua akan berkata jujur. Dan terjadilah kekayaan yang melimpah ruah, sehingga tidak seorang pun lagi nanti yang bersedia menerima pemberian orang lain.” (H.R. Imam Muslim)

Hadits ini kita angkat agar kita mengerti, bahwa Nabi Isa AS (rasul ke-24 menurut keyakinan umat Islam) akan turun di akhir zaman nanti, yang sejarah kelahirannya diceritakan oleh Allah SWT di dalam Q.S. Ali Imran ayat 59:

Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Q.S. Ali Imran: 59)

Selanjutnya pada Q.S. An-Nisaa ayat 157 disebutkan:

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. (Q.S. An-Nisaa ayat 157)

Bahkan ternyata di dalam Matius pasal 26 ayat 57 – 74, disebutkan bahwa yang disalib itu adalah Yudas Iskariot. Di dalam Injil juga diceritakan, bahwa pada malam gelap itu Yudas melaporkan, bahwa Al-Masih (Isa) yang menjadi Raja Dunia itu sudah ada di taman itu. Tapi ketika malam gelap tidak diketahui siapakah sebenarnya yang ditangkap. Kemudian diseretlah orang yang disangka sebagai Nabi Isa itu ke pengadilan.

Di dalam Injil – Matius ayat 27 – 31 disebutkan: Ketika diseret itu, maka ditanyailah Petrus, “Apakah kamu kenal dengan orang yang akan diadili ini?” Petrus mengatakan, bahwa ia tidak kenal. Kemudian Petrus ditanyai lagi, “Bukankah kamu pernah bersama dia sebagai muridnya?” lalu Petrus berkata, “Iya, tapi bukan dia.”

Maka pada waktu itu Petrus berkata, “Aku bersumpah dan berjanji, bahwa aku tidak kenal orang itu.” Ketika itu berkokoklah ayam.

Di dalam Injil – Matius pasal 26 ayat 47 – 56 juga disebutkan: Bahwa pada saat itu, Isa hilang pada malam tersebut. Beberapa hari kemudian ia baru muncul. Dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku bukan di kayu salib itu. Tetapi aku sudah dijanjikan oleh Allah akan terangkat dari diri kalian.”

Di Injil juga diterangkan, bahwa sesungguhnya Nabi Isa pergi meninggalkan murid-muridnya, sampai Nabi Isa tiba di pinggir Laut Tiberias, dan di sana kemudian Nabi Isa menghilang.

Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisaa ayat 158:

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisaa: 158)

Banyak terjadi perbedaan pendapat dalam hal ini. Misalkan aliran Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah) menganggap, bahwa yang akan lahir di kemudian hari itu bukanlah Isa, melainkan Mirza Ghulam Ahmad. Dan dialah (Mirza Ghulam Ahmad) yang dinamakan Al-Masih Al-Maw’ud. Dan beberapa waktu yang lalu di Indonesia juga ada pengakuan dari Ahmad Moshadeq, bahwa dialah (Ahmad Moshadeq) sebagai Al-Masih Al-Maw’ud. Aliran Syi’ah Ismailiyah dan Syi’ah Imamiyah menganggap, bahwa yang lahir itu nanti adalah Al-Mahdi (Imam Mahdi), bukanlah Al-Masih.

Dalam hal ini, hadits Rasulullah seperti tersebut di awal memberikan ketenangan kepada kita, agar kita tidak bermusuhan satu sama lain, dan kita akan hidup berdampingan dengan damai.

Patut kita ketahui, bahwa hingga hari ini, jiwa orang-orang tersebut penuh dengan keraguan dan kebimbangan.

Firman Allah pada Q.S. Ali Imran ayat 151:

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. (Q.S. Ali Imran: 151)

Menurut para ulama tafsir, bahwa peristiwa Nabi Isa (seperti juga ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an) adalah kelanjutan dari peristiwa Ashabul Kahfi.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi ayat 10-12:

(10) (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

(11) Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,

(12) Kemudian kami bangunkan mereka, agar kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).

(Q.S. Al-Kahfi: 10-12)

Menurut para ahli tafsir, ketika tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi itu masuk ke dalam goa, waktu itu mereka (pemuda Ashabul Kahfi) tertidur lama. Para ahli sejarah mengatakan, tertidurnya tujuh pemuda Ashabul Kahfi itu adalah selama 305 tahun (menurut perhitungan tahun matahari). Menurut para ahli tafsir, Nabi Isa pun kini sedang tertidur.

Rasulullah bersabda:

Ketika malam Isra’ dan Mi’raj, aku ditakdirkan oleh Allah dengan segala kekuasaan, mendapat perintah shalat. Lalu aku berhadapan dengan Allah. Ketika aku berkata, “Attahiyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatulillah.” Allah menjawab, “Assalamu‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.” Lalu aku berkata, “Assalamu‘alaina wa ‘ala ibadillahish shalihin.” Lalu Allah berfirman, “Asyhaduanlaailaaha illallah wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah.” Lalu Allah berfirman, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.” Lalu aku berkata, “Wa ‘ala ali Muhammad. Kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Kamaa barakta ‘ala Ibrahim, wa ‘ala ali Ibrahim. Fil alamina innaka hamidun majid.” (diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik,)

Jadi dalam dialog antara Rasulullah dengan Allah tersebut di atas, terlihat bahwa Rasulullah begitu mementingkan orang lain. Ketika Rasulullah selesai melaksanakan Isra’ Mi’raj, maka dia ditanya oleh para sahabat, “Apakah doamu kepada Allah, ya Rasulullah?” Dijawab oleh Rasulullah, “Doaku hanya meminta kepada Allah, Ya Allah tolong diringankan umatku, tidak seperti umat-umat terdahulu.”

Telah terbukti di dalam sejarah umat-umat terdahulu, misalkan umat Nabi Nuh, sedikit saja melakukan kesalahan, maka langsung diberikan bencana banjir yang begitu besar, begitu juga umat-umat nabi yang lainnya. Lihatlah di sekitar kita sekarang ini, betapa banyaknya kemaksiatan yang terjadi. Tapi Allah belum menurunkan bencana seperti halnya bencana yang ditimpakan kepada umat-umatnya para nabi sebelum Nabi Muhammad, yang hal ini dikarenakan doanya Nabi Muhammad. Karena itu, sudah selayaknya kita sebagai umat Nabi Muhammad untuk selalu bershalawat kepadanya. Hingga menjelang ajalnya pun, Rasulullah selalu mengatakan, “Ummatiummati … wahai umatku … wahai umatku.” Jadi, betapa Rasulullah begitu mencintai umatnya.

Kemudian lanjutan dari hadits riwayat Imam Muslim di atas adalah:

Nabi Muhammad berkata: “Isa bertemu kepada Umat Muhammad,”

Maksudnya mungkin Nabi Isa tidak turun di kalangan Umat Islam, tapi turun di kalangan Umat Nasrani, kemudian mengadili mereka (Umat Nasrani).

Selanjutnya, Nabi Muhammad berkata:

Akan senantiasa hingga ada Hari Kiamat, di mana Isa Alaihissalam itu pergi ke kalangan Umat Islam, lalu Nabi Isa dipersilakan untuk menjadi Imam oleh Umat Islam. Namun Isa menolak dengan dua tangan, katanya “Nabimu (Muhammad) adalah lebih mulia dari aku. Aku sebenarnya hanya mengikuti ajaran Muhammad. Dan aku membawa ajaran Muhammad ini di tengah-tengah umatku. Inilah yang paling benar hingga Hari Kiamat.”

Jadi, begitulah Umat Nabi Muhammad diberi kemuliaan oleh Allah. Karena itu, kita tidak usah ragu dan kita juga beristiqamah, karena Islam-lah agama yang paling benar. Dan juga kita tanamkan hal ini kepada anak-anak kita. Orang yang beristiqamah itu tidak akan pernah terombang-ambing.

Diceritakan dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah mengumpulkan para sahabat. Rasulullah berkata:

“Wahai para sahabatku, sesungguhnya di dekat hari-hari akhir nanti akan lahir di kalanganmu berbagai macam perbedaan pendapat. Di antara mereka ada yang akan menyesatkan kamu. Maka berpegang teguhlah kamu kepada Al-Qur’an dan Sunnahku. Dan gigitlah jubahmu itu dengan gerahammu, karena di kemudian hari nanti tidak sedikit orang yang akan menyesatkan kamu. Sekiranya kamu berpegang teguh kepada Allah dan Rasul, serta para ulama-ulama yang membawa kebenaran, maka selamatlah engkau hingga akhir hayatmu.”

Nanti malaikat akan turun dan berkata, “Tenang, serta jangan ragu dan bimbang. Sesungguhnya Allah akan memberikan pertolongan kepada orang yang beristiqamah.”

Istiqamah adalah menguatkan tekad dan pendirian. Karena itulah, dari sekarang kita berusaha untuk beristiqamah. Selain itu, anak-anak kita juga harus dididik untuk selalu beristiqamah.

Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 92:

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (Q.S. An-Nahl: 92)

Jadi menurut ayat ini, bahwa Umat Islam sudah kokoh, jangan mau diobrak-abrik dan dipecah-pecah. Sekarang kita ini sedang terpecah-pecah. Kekerasan terjadi di mana-mana hanya karena sedikit perbedaan pendapat. Ingat, kita ini adalah umat yang satu (ummatan wahidah). Apabila kekerasan terjadi, maka ingatlah firman Allah pada Q.S. Ali Imran ayat 159:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran: 159)

Apa yang telah disebutkan pada ayat di atas, maka begitulah seharusnya persaudaraan di antara sesama muslim.

Pada suatu hari, ada seseorang yang datang kepada Rasulullah. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, apa yang akan Tuan terangkan kepada kami?”

Nabi berkata, “Tahukah kamu, siapakah orang yang paling termiskin di akhirat kelak?”

Dijawab oleh orang itu, “Yang dikatakan orang yang paling miskin di dunia ini adalah orang yang tidak mempunyai harta, tidak mempunyai dinar, dan tidak mempunyai dirham.”

Rasulullah pun berkata, “Tidak, orang yang paling miskin di kalangan umatku adalah mereka yang datang di Hari Kiamat yang dia itu membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, akan tetapi dia itu selama hidupnya suka menganiaya orang. Pahalanya tersebut kemudian diserahkan kepada Allah, lalu Allah melelang pahalanya tersebut, lalu ditanyakan, siapakah orang yang pernah dianiaya oleh orang tersebut. Apabila orang-orang yang sudah dianiayainya itu datang, maka diberikanlah pahala shalat, puasa, dan zakatnya itu kepada orang yang pernah dianiayainya itu. Jika masih ada yang melapor, maka kejahatan orang yang pernah dianiayainya itu akan dipikulkan kepadanya. Jika masih ada lagi yang melapor, maka dia itu terpaksa dilemparkan ke neraka.” (Dari Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar, dan Abdullah ibn Mas’ud, dirawikan oleh Tarmizi, Nasa’i, Muslim, Darul Quthni, dan Ibnu Hibban)

Maksud dari hadits ini adalah agar kita berbuat baik kepada Allah (hablumminallah) dan berbuat baik kepada manusia (hablumminannas). Karena itu, sesama Umat Islam tidak boleh bermusuhan lebih daripada tiga hari. Karena itu saling bermaafanlah. Apabila bertemu sesama muslim, maka ucapkanlah “Assalamu’alaikum”. Karena itu pula, setelah shalat berjamaah, kita diajurkan untuk saling bersalaman. Jika kita diberikan kebaikan, maka doakanlah orang tersebut agar ia diberi pahala yang melimpah. Jika kita diberi keburukan, maka doakan juga, agar orang tersebut diberi kesadaran. Begitulah sikap yang dianjurkan kepada sesama Umat Islam. Rasululullah pernah bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antaramu hingga ia mencintai saudaranya bagaikan mencintai dirinya sendiri.”

Sabar sebagai pengendalian diri, dan shalat sebagai jalan untuk menuju kepada Allah. Sabar untuk pergaulan dengan sesama manusia, sedangkan shalat untuk pergaulan kita kepada Allah.

Apapun yang terjadi terhadap perselisihan pendapat tentang Nabi Isa, maka kita terima, bahwa perselisihan tersebut adalah sebagai suatu rahmat. [Navy]

Nasakh dan Mansukh

NASAKH DAN MANSUKH

Disarikan dari Pengajian Tarikh Tasyri

yang disampaikan oleh:

Dr. H.M. Masyhoeri M. Naim, M.A.

pada tanggal 24 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Tahap-tahap Perkembangan Tasyri Islam

Secara global, kronologis pertumbuhan dan perkembangan Tasyri’ Islam melalui enam tahap:

Tahap pertama, yaitu tahap pertumbuhan pertama kali ketika Islam dibawa dan diperkenalkan oleh Rasulullah SAW. Tahap ini berakhir hingga wafatnya Rasulullah SAW.

Tahap kedua, yaitu tahap pada kehidupan sahabat-sahabat besar. Tahap ini berakhir dengan berakhirnya masa kekhalifahan empat khulafaur rasyidin.

Tahap ketiga, yaitu tahap sahabat-sahabat kecil dan tabi’in-tabi’in besar. Tahap ini berakhir dengan wafatnya sahabat yang terakhir, yaitu Ibnu Thufail (pada tahun 101 setelah hijrahnya Rasulullah).

Tahap keempat, yaitu tahap ketika Ilmu Fiqh menjadi sebuah disiplin ilmu yang mandiri sebagaimana juga ilmu-ilmu yang lainnya.

Tahap kelima, adalah tahap ketika perkembangan Ilmu Fiqh itu mencapai puncak keemasannya. Tahap ini berakhir dengan berakhirnya kekhalifahan Abbasiyah dan masuknya tentara Mongol membumihanguskan kerajaan-kerajaan Islam.

Tahap keenam, adalah masa ketika Ilmu Fiqh mengalami keredupan (kejumudan) sampai hari ini.

Kajian kita kali ini masih berada pada sekitar tahap pertama. Secara umum, kajian kali ini terkait tentang sumber hukum Islam yang dijadikan pegangan orang-orang muslim ketika itu. Sumber hukum Islam yang dijadikan pegangan oleh orang-orang Islam di waktu itu, baik oleh Rasulullah maupun sahabat-sahabatnya, maka yang pertama dari sumber hukum Islam itu adalah Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah landasan utama bagi Agama Islam, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan Allah yang wajib untuk kita pegangi. Ada banyak ayat-ayat yang menyampaikan persoalan ini, begitu juga sabda Rasulullah.

Firman Allah pada Surat Al-Imran ayat 103:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imraan: 103)

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa kita diperintahkan untuk berpegang teguh kepada ketentuan-ketentuan Allah, dan kita jangan bercerai-berai dalam menyikapi ketentuan Allah itu.

Sabda Rasulullah:

Aku tinggalkan kepada kalian dua persoalan yang kalau kalian memegang dua hal ini, maka jaminan kalian tidak akan pernah tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku (petunjuk-petunjuk dariku).

Dua dalil di atas kiranya sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan, bahwa Al-Qur’an merupakan sesuatu yang tidak boleh tidak harus menjadi falsafah hidup dan pegangan kita dalam meniti kehidupan di dunia ini. Persoalannya, apakah di dalam Al-Qur’an itu semuanya layak dipegangi? Atau ternyata ada beberapa bagian di dalam Al-Qur’an yang ternyata oleh Allah dinyatakan tidak berlaku? Karena itulah kita perlu untuk mengetahui lebih dalam lagi, sehingga kita bisa lebih mengenali Al-Qur’an.

Berkaitan dengan hal tersebut, kajian-kajian seperti ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita lakukan, sehingga walaupun semangat kita untuk selalu memegangi Al-Qur’an tersebut adalah suatu keharusan, tetapi kita tidak terjebak oleh keadaan di mana kita memegangi sebuah kondisi atau ketentuan yang sudah disampaikan oleh Allah bahwa ketentuan tersebut sudah kadaluwarsa dan tidak bisa lagi dijadikan pegangan. Di dalam bahasa Fiqh hal ini disebut sebagai ayat-ayat yang mansukhah, yaitu ayat-ayat yang dianulir. Oleh karena itulah, kita perlu menyibak pengertian nasakh dan mansukh tersebut.

Nasakh dan Mansukh

Secara umum dari sisi etimologi, bahwa nasakh berarti mengangkat atau menghilangkan, di samping juga ada pengertian nasakh yang berarti menyalin (nasakh tu kitab = saya menyalin kitab). Tapi secara umum, terutama berkaitan dengan permasalahan ini, nasakh berarti mengubah, mengangkat, atau mengganti ketentuan yang ada. Sehingga, nasakh di dalam persepsi kajian Ilmu Fiqh adalah mengganti hukum-hukum yang sudah ada dengan hukum baru yang datang setelah itu. Karena itu, untuk mengetahui nasakh dan mansukh ini, maka harus diketahui mana ayat-ayat yang dianulir dan mana ayat-ayat yang ditetapkan untuk menggantikan posisi ayat yang pertama. Dalam hal ini, persyaratan yang menggantikan itu harus yang datang kemudian. Karena itulah, juga harus diketahui kapan ayat tersebut turun.

Pada prinsipnya, nyaris menjadi suatu kesepakatan seluruh Umat Islam sejak zaman Rasulullah hingga kini, bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang sudah kadaluwarsa (mansukh). Dalam hal ini, kecuali satu orang yang tidak menyetujui, yaitu Abu Muslim Al-Isfahani. Beliau ini menentang habis-habisan terjadinya nasakh dan mansukh di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, kalau ada suatu ayat, kemudian ayat tersebut dinyatakan kadaluwarsa, berarti ada hukum Allah yang memang tidak layak pakai. Dan Allah sangat mustahil menentukan sebuah ketentuan yang tidak layak pakai.

Seberapapun hujjah dalil yang disampaikan Abu Muslim Al-Isfahani, tetapi realita menjelaskan kepada kita, bahwa banyak ayat-ayat yang masa berlakunya sudah tidak lagi ditetapkan sebagai hukum Islam sejak Rasulullah masih ada. Nasakh dan mansukh ini bukanlah persoalan logika, bukan hasil dari pemikiran manusia, bukan pula hasil pemikiran sahabat, bahkan juga bukan hasil pemikiran Rasulullah, tetapi memang Allah lah yang menyampaikan bahwa suatu ayat tersebut hanya sampai ketika itulah berlakunya, kemudian diganti dengan ayat yang lain.

Persoalannya adalah, apakah gunanya nasakh dan mansukh ini? Apakah Allah itu sama dengan manusia, yang Dia tidak mengerti bahwa sekarang ini kondisinya begini, nantinya ketika kondisi tersebut berbeda, maka peraturan tersebut akan diganti? Padahal semua yang terjadi ini, bahkan sebelum alam ini terjadi, Allah sudah menentukan, bahwa nanti akan begini, dan nantinya lagi akan begini. Lantas mengapa Allah menentukan, seolah-olah Allah tidak mengetahui akan terjadi perubahan nantinya? Hal ini tentunya persoalan yang layak untuk kita cari jawabannya.

Hikmah terjadinya Nasakh dan Mansukh

Pada prinsipnya, hikmah atau manfaat dari terjadinya nasakh dan mansukh adalah justru semakin mengukuhkan kebesaran Allah dalam banyak hal, yaitu:

Yang pertama, mengukuhkan keberadaan Allah, bahwa Allah takkan pernah terikat dengan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan logika manusia. Sehingga jalan pikiran manusia takkan pernah bisa mengikat Allah SWT. Allah mampu melakukan apa saja, sekalipun menurut manusia hal tersebut tidak logis. Tetapi Allah akan menunjukkan, bahwa kehendak-Nya lah yang akan terjadi, bukan kehendak kita. Sehingga diharapkan dari keberadaan nasakh dan mansukh ini akan mampu meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, bahwa Dia-lah yang Maha Menentukan.

Yang kedua, dengan nasakh dan mansukh ini diharapkan pula kita akan mempunyai prediksi dan pengertian bahwa Allah itu memang adalah zat yang Maha Bijak, Maha Kasih, Maha Sayang, bahkan “arhamurrahimin“, yaitu lebih kasih daripada yang berhati kasih dan lebih sayang daripada siapa saja yang berhati sayang. Mengapa? Karena memang pada kenyataannya hukum-hukum nasakh dan mansukh tersebut semuanya demi untuk kemaslahatan dan kebaikan kita.

Dua poin ini layak untuk kita potret, kemudian kita tancapkan sedalam-dalamnya pada akidah kita. Sementara itu, untuk lebih memperkuat keimanan kita, juga terdapat hikmah lain dari keberadaan nasakh dan mansukh ini. Bahwasanya wajar bahwa sesuatu yang “makhluk” itu adalah “al-hadits“, yang itu berbeda dari “al-khaliq” yang adalah “al-qadim“. Sebab persepsi yang diajarkan kepada kita, bahwa Al-Khaliq yang sifatnya qadim artinya tidak akan pernah mengalami perubahan. Al-Qidam (Dia yang tak pernah ada awalnya), wal-abad (dan dia takkan pernah berakhir, takkan pernah terjadi perubahan), yang hal ini mulai dari dulu hingga sampai kapanpun tanpa diketahui awal dan akhirnya, itulah Allah. Berbeda dengan kita, yang asalnya tidak ada, kemudian ada, dan kemudian tidak ada lagi, yang ini semuanya melalui proses.

Di sinilah letak luar biasanya Allah dalam menentukan hukum ini, yaitu disesuaikan dengan kondisi manusia yang menjadi obyek hukum itu sendiri. Ketika seseorang berusia remaja, maka tentunya hukum yang diberlakukan kepadanya berbeda dengan ketika dia masih anak-anak. Untuk itulah, Allah menyesuaikan dengan hal tersebut. Hal ini bukan berarti Allah tidak mampu. Karena jika Allah menginginkan untuk menciptakan sesuatu maka Dia tidak akan repot-repot. Di dalam banyak ayat disebutkan, misalkan di ujung Surat Yasin:

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Q.S. Yaasin: 82)

Jangankan hitungan hari, jam, menit, ataupun detik, Allah tak memerlukan semua hitungan itu. Langsung Dia berkata maka akan langsung terjadilah apa yang diinginkan-Nya itu. Tetapi realita memberitahukan, bahwa Allah menciptakan bumi dan planet-planet ini melalui proses. Ada yang dikatakan enam hari, ada yang lebih dari itu. Hal ini berarti, bahwa Allah ingin menunjukkan kepada manusia, bahwasanya sesuatu itu harus berproses, walaupun Allah mampu melakukan tanpa melalui proses tersebut. Dalam hal ini, termasuk juga ketika Allah menciptakan suatu hukum yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Patut diingat, bahwa hukum yang membumi kepada manusia (hukum yang merakyat) adalah hukum yang komunikatif dengan rakyat yang diatur oleh hukum tersebut. Sedangkan hukum yang tidak merakyat, maka dapat dipastikan bahwa hukum tersebut tak akan pernah terealisasi dengan baik. Hukum yang baik adalah hukum yang secara kondisional menyesuaikan dan sesuai dengan kondisi yang diterapi hukum tersebut. Allah dalam hal ini mencontohkan hal-hal seperti berikut, bahwa perbedaan-perbedaan waktu yang pasti akan terjadi di dalam kehidupan ini. Kondisi di zaman sekarang tidak pernah sama dengan kondisi di zaman Rasulullah, sehingga memerlukan hal-hal yang baru. Inilah hikmah dari adanya perubahan-perubahan hukum sesuai dengan perubahan kondisi dan perubahan waktu. Karena itulah, nasakh dan mansukh merupakan bagian dari kebijakan Allah SWT yang layak untuk kita syukuri.

Kategori Nasakh

Secara umum, nasakh di dalam Al-Qur’an ada tiga kategori. Pertama, yaitu nasakh di mana ayatnya diubah dan hukumnya juga diubah. Maksudnya, secara tekstual ayat tersebut diganti, dan hukumnya juga diganti. Kedua, ayatnya diganti, tetapi hukumnya masih tetap berlaku. Ketiga, ayatnya masih ada di dalam Al-Qur’an, tetapi hukumnya kemudian dinyatakan sudah kadaluwarsa. Jenis ketiga ini yang paling banyak di dalam Al-Qur’an.

Contoh untuk kategori pertama (nasakh dalam sisi tekstual/ayatnya, sedangkan hukumnya masih berlaku), yaitu:

Menurut suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa ada satu ayat di Surah Al-Ahzab yang menyatakan, jika ada orang berzina, sedangkan orang tersebut sudah atau pernah menikah, maka orang tersebut harus dirajam. Ayat ini kemudian diangkat oleh Allah dan dihapus keberadaannya, sehingga tekstualnya menjadi tidak ada tapi hukumnya masih tetap berlaku. Mengapa bisa demikian? Karena diganti oleh ayat lain pada Surat An-Nuur ayat 2, yaitu:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nuur: 2)

Maksud ayat ini (An-Nuur: 2) adalah, bahwa jika ada yang berzina, maka hukumannya adalah dicambuk sebanyak 100 kali. Ini di antara hukum-hukum yang realitas terjadi, sehingga terlalu sulit untuk mengingkari adanya nasakh dan mansukh di dalam ayat tersebut. Ayatnya sudah tidak ada, tetapi hukumnya masih tetap diberlakukan oleh Rasulullah, bahkan hingga akhir zaman nanti.

Untuk kategori kedua, yaitu yang lafaz dan hukumnya dua-duanya dicabut. Contohnya adalah sebagai berikut:

Sayyidatuna Aisyah menyatakan, bahwa Rasulullah pernah mendiktekan ayat Al-Qur’an kepada mereka ketika itu, bahwa orang yang menyusui dan disusui akan mempunyai hubungan nasab sebagaimana ibu dan anak kandung minimal sepuluh kali. Tetapi ternyata ayat ini dicabut oleh Allah, termasuk juga hukumnya. Sebagai gantinya, sekali saja menyusui sepanjang itu sudah mengenyangkan, maka sudah dianggap memiliki hubungan nasab. Yang jelas hukum yang sepuluh kali itu dicabut.

Untuk kategori ketiga, yaitu hukumnya dinasakh sedangkan lafaznya tetap ada. Dan ini yang paling banyak terjadi di dalam ayat-ayat yang dinasakh itu. Contohnya adalah Al-Baqarah ayat 180:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 180)

Ayat ini menyatakan, bahwa ketika mendekati kematian, maka kita harus membuat wasiat. Ternyata kemudian ayat ini dianulir oleh Allah, kemudian hukumnya diganti sebagaimana pada An-Nisaa ayat 11-12 disebutkan:

Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa`atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisaa: 11)

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari`at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (Q.S. An-Nisaa: 12)

An-Nisaa ayat 11-12 berbicara tentang pembagian warisan, tidak ada lagi kewajiban untuk berwasiat. Ketika meninggalkan dunia ini, maka harta-harta tesebut harus dibagi sesuai dengan ketentuan ayat 11-12 Surat An-Nisaa ini. [nAvY]


Tafsir Al-Hujurat Ayat 1 – 5

TAFSIR AL-HUJURAT AYAT 1 – 5

Disarikan dari Pengajian Tafsir

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. K.H. Umar Shihab, M.A.

pada tanggal 23 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Al-Hujuraat: 1

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Hujuraat: 1)

Sebagian besar ayat yang dimulai dengan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw” adalah Madaniyah, yaitu ayat yang diturunkan di Madinah. Ayat ini menyangkut keadaan dan kehidupan Rasulullah dan tata cara menghadapi Rasulullah.

Surah ini disebut Al-Hujuraat, asal katanya adalah “hujrah” yang berarti kamar. Yang dimaksud dengan “kamar” ini adalah rumah-rumah Rasulullah yang begitu kecil, hingga disebut “hujrah“. Rumah Rasulullah itu kecil, berada di samping Masjid Nabawi. Sekarang malahan sudah masuk ke dalam lingkungan Masjid Nabawi, yaitu berada di depan Raudhah.

Menurut sebagian ulama tafsir, bahwa pada umumnya perintah yang didahului dengan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw” merupakan perintah yang wajib. Karena dalam Al-Qur’an ada kata-kata fi’il ‘amar, tapi bukan berarti wajib, melainkan berarti sunnah. Misalkan:

Maka bersembahyanglah kamu pada Hari Raya Idul Adha itu, dan berkurbanlah. (Q.S. Al-Kautsar: 2)

Perintah berkurban pada ayat tersebut adalah perintah berupa fi’il ‘amar, tetapi diterangkan bahwa hal itu adalah sunnah muakkad, bukanlah sesuatu yang wajib. Namun bila dikatakan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw“, maka hal itu menunjukkan suatu perintah yang wajib.

Selanjutnya pada ayat di atas (Al-Hujuraat: 1) terdapat kata “tuqaddimuw” yang berarti mendahului. Sehingga, “laa tuqaddimuw” berarti jangan mendahului. Di dalam kitab tafsir disebutkan, “Jangan mendahului mengambil keputusan sebelum adanya keputusan Allah dan Rasul-Nya.” Jadi, jika sudah ada keputusan Allah dan Rasul-nya, maka tidak menjadi persoalan. Ayat ini menyangkut keadaan ketika Rasululullah masih hidup. Pada masa itu, terkadang ada sahabat yang mengambil keputusan sebelum ditetapkan oleh Rasulullah atau sebelum diturunkannya ayat kepada Rasulullah.

bayna yadayillaah” menurut ulama tafsir maksudnya adalah “ayat-ayat Al-Qur’an”. “wa rasulihi” maksudnya adalah apa yang diterangkan oleh Rasul-Nya, dalam pengertian ini adalah penafsiran Al-Qur’an dan hadits-hadits yang ada.

Apakah ayat ini sudah tidak berlaku lagi sekarang? Rasulullah sudah wafat dan Al-Qur’an sudah lengkap. Jadi, apa yang dimaksud dengan “jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya” pada ayat ini?

Menurut sebagian ulama tafsir, maksud dari ayat ini adalah melarang untuk berandai-andai. Misalkan: seandainya saya menteri, seandainya saya kaya, dan sebagainya. Dan juga jangan mengkhayalkan diri kita pada sesuatu yang tidak mungkin. Juga jangan menetapkan sesuatu yang belum terjadi. Boleh saja misalkan seperti prakiraan (ramalan) cuaca yang ada landasan ilmiahnya. Tapi jika suatu ramalan yang tidak ada landasan ilmiahnya, maka sangat dilarang oleh Allah.

Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya, “Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok?”

Salah seorang muridnya menjawab, “Yang akan terjadi besok ialah matahari akan terbit dari sebelah timur.”

Imam Ghazali lalu berkata, “Tidak benar. Siapapun tak ada yang tahu bahwa besok matahari masih akan terbit.”

Lalu Imam Ghazali juga mengatakan, “Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali satu, bahwa kematian itu adalah pasti.”

Jadi, janganlah takut dengan kematian. Karena itu, jika ditanya tentang kematian, maka orang sufi akan berkata, bahwa kematian itu adalah sesuatu yang biasa saja.

Kemudian ayat ini diakhiri dengan menyebutkan sifat Allah, yaitu “sami’un ‘alim” (Maha Mendengar dan Maha Megetahui). Mengapa ayat ini diakhiri dengan “sami’un ‘alim“? Maksudnya, agar manusia mengetahui, jika ia mengkhayal, biasanya khayalan itu berasal dari dalam dirinya sendiri. Karena berasal dari dalam dirinya sendiri, maka dianggap tidak ada yang mengetahui khayalan tersebut selain dirinya. Di sinilah Allah mengingatkan, bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Al-Hujuraat: 2

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (Q.S. Al-Hujuraat: 2)

…laa tarfa’uw aswaatakum fawqa shawtinnabiy …“, artinya bahwa: jangan mengangkat suaramu lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi. Bagaimanakah maksud ayat ini, sedangkan kini Nabi sudah tidak ada?

Ada orientalis yang mengatakan, bahwa ada ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang tidak bisa diberlakukan lagi. Ia (orientalis) itu tidak memahami, bahwa ayat itu tujuannya bukan hanya untuk umat di zaman Nabi, tapi berlaku di sepanjang zaman.

Maksud pertama dari ayat di atas adalah, bahwa jangan mengeraskan suara kita jika sedang berziarah ke makam Nabi, termasuk juga untuk tidak menangis di makam Nabi.

Diriwayatkan, bahwa ketika Sayyidina Umar menjadi khalifah, ada orang di sekitar kuburan Rasulullah sedang bercengkerama dengan suara keras. Sayyidina Umar kemudian bertanya kepada orang itu, “Kamu dari mana?”

Dijawab oleh orang itu, “Dari luar kota.”

Lalu Sayyidina Umar berkata kepada orang itu, “Tidakkah kamu mengetahui, bahwa Al-Qur’an mengingatkan kita untuk jangan mengangkat suara lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi?”

Orang itu kemudian terdiam dan berhenti berbicara, setelah itu keluar dari masjid setelah memberi salam kepada Rasulullah.

Diriwayatkan pula, bahwa Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar itu biasanya ketika berbicara dengan Nabi, maka suaranya lebih keras dari suara Nabi. Kemudian turun ayat ini, hingga semua orang ketika itu menjadi ketakutan. Setelah turunnya ayat ini, maka Sayyidina Umar jika berbicara kepada Nabi tidak lagi seperti biasanya. Karena takut bersuara keras, maka jika Sayyidina Umar sedang berbicara kepada Nabi, kadang-kadang Nabi mengangkat tangannya untuk mendengar suara Sayyidina Umar.

Maksud kedua yaitu, jangan mengangkat suara lebih keras jika ulama sedang berceramah. Ulama adalah pewaris Nabi. Sehingga mengganggu ulama yang sedang berceramah berarti sama saja dengan mengganggu Nabi. Bahkan jangan berbisik sekalipun atau bersikap yang itu dapat mengganggu.

Maksud ketiga yaitu, jangan mengangkat suaramu lebih tinggi dari suara orang yang lebih tua dari kamu. Di sini digambarkan, bahwa Rasulullah itu lebih tua, atau pemimpin, atau orang yang dituakan dan dihormati, maka jangan mengangkat suara lebih keras daripada orang-orang yang dihormati.

… wa la tajharu lahu bil qawli qajahri ba’dhikum liba’dhin …“, artinya: jangan memanggil Nabi seperti kamu memanggil sesamamu.

Sebenarnya Nabi tidak mau dikultuskan. Karena itu, ada seorang sahabat yang memberitahukan kepada Nabi, “Ya Rasulullah, kami ini memberi salam kepada sesama kami, bahkan kepada pembantu kami dengan kalimat: Assalamu’alaikum. Apakah kepada engkau juga diucapkan: Assalamu’alaikum?”

Rasulullah lalu berkata, “Tidak ada bedanya. Aku adalah makhluk Tuhan, aku adalah manusia yang mempunyai jiwa, orang lain pun sama denganku.”

Bedanya, jika kepada Nabi diucapkan shalawat, sedangkan kepada yang lain kita tidak mengucapkan shalawat. Jangankan manusia, Allah pun mengucapkan shalawat kepada Nabi.

Allah mengingatkan kita, bahwa janganlah memanggil nama Nabi seperti kita memanggil nama orang lain, misalkan hanya menyebut “Muhammad”. Jika ditujukan kepada Rasulullah, maka bisa kita panggil dengan “Sayyidina Muhammad”, atau “Nabiyullah Muhammad shallallahu alayhi wa sallam”. Mengenai hal ini, ada dua pendapat di kalangan ulama: ada yang mengatakan harus ada kata “Sayyidina”, namun ada juga yang mengatakan tidak perlu kata “Sayyidina”. Tapi yang jelas, jangan disamakan antara Muhammad yang lain dengan Nabi Muhammad SAW.

Ada dua keuntungan jika kita mengucapkan hal tersebut. Pertama, kita mendapat pahala, karena hal tersebut diperintahkan oleh Allah. Kedua, jika kita mendoakan Nabi, maka doa tersebut akan terpantul kepada kita.

Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seorang sahabat yang suaranya itu keras. Setelah turunnya ayat ini, maka ia menjadi takut, dan kemudian menjauh dari Nabi. Pada suatu ketika Nabi bertanya, manakah sahabat tersebut. Sahabat yang lain mengatakan, bahwa sahabat yang dimaksud oleh Nabi itu takut karena suaranya keras. Nabi pun menjelaskan, bahwa bukan hal itu yang dimaksud. Suara keras yang dimaksud adalah “mengganggu”.

Jadi, apapun yang kita lakukan jika itu kemudian mengganggu orang lain, maka hal tersebut akan menghapus amal kita, dan itu biasanya tidak kita sadari. Dalam hal ini bukan hanya kepada Nabi, tetapi kepada siapa saja. Bahkan bukan hanya terhadap orang yang dituakan, kepada anak kecil sekalipun jika perbuatan kita itu mengganggu, maka akan terhapuslah amal kita.

Apakah yang dimaksudkan dengan terhapusnya amal perbuatan? Yang dimaksud di sini adalah pahalanya. Dalam hal ini, ketika shalat sekalipun. Sebagian ulama mengatakan, bahwa jika shalat itu menganggu orang lain, maka pahala shalat itu tidak ia peroleh, melainkan hanya kewajiban shalatnyalah yang telah ia penuhi.

Al-Hujuraat: 3

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Hujuraat: 3)

Apakah maksud ayat ini? Maksudnya, bahwa mereka yang bersuara rendah di hadapan gurunya, berbicara dengan orang secara lemah lembut, dia tidak mengganggu orang lain, disebutkan oleh Allah bahwa mereka itu diuji hatinya. Kalau diuji, maka kemungkinannya hanya dua, yaitu lulus dan tidak lulus. Pada ayat di atas juga disebutkan, bahwa Allah menguji hati-hati mereka dengan ketaqwaan. Maksudnya, Allah memberikan ujian kepada mereka, apakah mereka itu taat kepada Al-Qur’an atau tidak.

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seseorang datang ke rumah Rasulullah dengan berteriak-teriak. Tujuan orang itu adalah untuk bertemu dengan Rasulullah. Ketika bertemu dengan Abu Bakar, ia tidak mau berbicara dengan Abu Bakar. Begitu juga ketika bertemu dengan Umar, Utsman, dan Ali. Dalam riwayat lain juga dikatakan, bahwa Umar mengusir orang itu, karena caranya untuk bertemu dengan Rasulullah itu salah. Barangkali dalam kehidupan kita juga begitu. Misalkan ingin bertemu dengan seseorang, tapi karena waktunya tidak tepat, maka akhirnya tidak dapat bertemu.

Disebutkan pada ayat di atas, bahwa mereka yang tidak mengganggu itu, maka akan mendapatkan ampunan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah, maka alangkah baiknya kita jalankan akhlak ini. Dan insya Allah dalam kehidupan dengan sesama manusia, maka kita akan selalu hidup dalam kedamaian, dalam bertetangga misalkan. Bukan hanya damai dengan sesama manusia, tetapi juga damai dengan Allah, karena Allah akan memberikan ampunan kepada kita dan memberikan pahala yang besar.

Al-Hujurat: 4

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (Q.S. Al-Hujuraat: 4)

Menurut riwayatnya, ada orang yang memanggil Nabi dengan suara yang keras. Digambarkan bahwa mereka itu tidak berakal. Dalam hal ini bukan berarti mereka itu orang bodoh, melainkan adalah orang-orang yang pintar, apalagi mereka mengajak Rasulullah untuk berdialog. Dalam riwayat ini disebutkan, bahwa Rasulullah tidak keluar, karena mereka itu datang dengan cara yang kasar.

Pada ayat ini disebutkan, bahwa mereka itu berteriak-teriak dari belakang rumah, walaupun sebenarnya mereka datang dari depan rumah. Hal ini dikarenakan pekerjaan seperti mereka ini hina, sehingga disebut di dalam Al-Qur’an sebagai “min waraa-il hujuraat” yang berarti di belakang rumah. Mestinya jika mereka datang dari depan, maka seharusnya dikatakan sebagai “amamal hujuraat“. Dalam ayat ini, Allah ingin menunjukkan kehinaan perbuatan yang seperti itu.

aksaruhum la ya’qilun“, ada ulama tafsir mengatakan “banyak di antara mereka”. Jadi, orang-orang yang memanggil Rasulullah itu banyak. Dan di antara yang banyak itu, persentasenya lebih banyak yang dianggap tidak berakal.

la ya’qilun” diartikan sebagai “tidak berakal”. Ada juga yang menganggap bahwa orang tidak berakal itu adalah orang gila. Ada juga yang menggangap bahwa tidak berakal itu adalah bodoh ataupun jahil. Jika ada yang mengatakan “jahiliyah“, berarti “kaum yang bodoh”, walaupun sebenarnya mereka itu pintar. Tapi karena tidak mau percaya kepada Allah, maka disebutlah sebagai “jahiliyah“.

Al-Hujurat: 5

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujuraat: 5)

wa law” artinya “sekiranya”. “law” itu menggambarkan “tidak”. “wa law annahum shabaruw” berarti “sekiranya mereka itu bersabar”. Maksudnya, “sekiranya mereka itu bersabar” adalah karena mereka itu tidak bersabar, sampai keluar Rasulullah kepada mereka, “la kaanaa khayrallahum” yaitu “akan baik bagi mereka”. Mereka itu datang untuk meminta dibebaskannya tawanan-tawanan mereka. Ada beberapa permintaan dari mereka sehingga mereka mendatangi Rasulullah. Karena caranya seperti itu, dikatakan bahwa sehingga Rasulullah kembali keluar kepada mereka. Apa yang mereka dapat? Dikatakan kemudian bahwa akan baik bagi mereka. Tapi kenyataannya tidak, karena Rasulullah tidak keluar, sehingga semua permintaannya tidak dipenuhi. Seandainya mereka datang dengan cara yang baik, mungkin ada dari permintaan mereka itu yang dipenuhi oleh Rasulullah.

Law annahum shabaruw: mereka sabar. Sabar yang seperti apa? Hattaa takhruja ilayhim, yaitu sehingga Rasulullah itu keluar. Karena Rasulullah itu pasti keluar. Kapan Rasulullah keluar dari rumah? Biasanya, Rasulullah keluar di waktu shubuh. Setelah Shalat Shubuh, Rasulullah kembali ke rumahnya. Sesudah sarapan pagi, maka beliau keluar lagi, ke masjid untuk menjelaskan tentang ajaran agama atau keluar ke tempat-tempat tertentu. Ketika Zhuhur, Rasulullah ke masjid lagi, setelah itu kembali ke rumah. Keluar lagi pada waktu sore untuk shalat Ashar ke masjid, setelah itu kembali ke rumah. Ketika akan Maghrib, pergi lagi ke masjid Maghrib hingga Isya’.

Di dalam riwayat disebutkan, biasanya Rasulullah itu pada umumnya tidak kembali ke rumah antara Maghrib dan Isya’. Walaupun ada ahli sejarah mengatakan, bahwa biasa juga Rasulullah kembali ke rumah antara Maghrib dan Isya’. Dalam hal ini, terutama pada saat-saat turun wahyu. Jika turun wahyu, Rasulullah tidak kembali ke rumahnya. Tapi jika tidak ada wahyu turun, Rasulullah kembali ke rumahnya. Pada umumnya ahli sejarah mengatakan, bahwa Rasulullah tidak kembali ke rumahnya antara Maghrib dan Isya’, karena ada dua hal yang dilakukan Rasulullah. Pertama, mengajarkan Al-Qur’an. Kedua, membacakan Al-Qur’an itu dalam waktu shalat. Karena itu, ada hadits yang ditolak oleh sebagian ulama, bahwa Rasulullah itu selalu membacakan ayat pendek pada waktu Shalat Maghrib. Ada juga pendapat lain yang mengatakan, bahwa Rasulullah itu setiap waktu shalat yang dijaharkan yaitu Maghrib, Isya’, dan Shubuh, maka Rasulullah membacakan ayat-ayat yang turun pada waktu itu. Jika turun 10 ayat, maka dibacakannya 10 ayat itu. Turun 20 ayat, maka dibacakannya 20 ayat tersebut. Sehingga para sahabat bisa menghafalnya, kemudian menuliskannya di pelepah kurma, batu-batu, ataupun kulit domba.

Jadi, kitapun demikian halnya jika mau bertemu dengan sesorang. Biarlah kita bersabar untuk menunggu orang tersebut. Karena itu, dianjurkan kita dalam berusaha harus bersabar. Ada pepatah Arab mengatakan, “Sesuatu pekerjaan yang baik itu perlu kesabaran.” Karena itu Allah mengatakan, “Dahulukanlah (minta tolonglah) agar kita sabar.”

… wallahu ghafururrahim … : sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kepada siapa Allah itu Maha Pengampun? Yaitu kepada orang yang sabar (innallaha ma’ash-shabirin). Tidak dikatakan bahwa Allah itu bersama orang yang pintar ataupun kaya, melainkan bersama orang yang sabar. Jadi kalau kita sabar, maka Allah akan mengampuni dan menyayangi kita. Mudah-mudahan kita tergolong sebagai orang-orang yang sabar.

Kesimpulan

Pertama, mari kita jangan mengandai-andai, jangan mengkhayal, dan jangan minta kepada peramal.

Kedua, jangan mengganggu pewaris nabi, jangan mengganggu orang lain, jangan mengangkat suara keras jika ada yang mau diminta, jangan membuat ulah sehingga orang lain tidak merasa senang kepada kita.

Ketiga, bagi mereka yang rendah suaranya, menjaga suaranya, menjaga sikapnya, menjaga tingkah lakunya di hadapan orang lain, mereka itu akan diberi ampun oleh Allah. Sedangkan mereka yang mengangkat suaranya di hadapan Nabi, atau di hadapan pewaris Nabi, ataupun kepada siapa saja, maka akan hilang pahala perbuatannya.

Keempat, orang diuji, yaitu mereka yang mau menjaga suaranya sehingga lemah lembut selalu, tidak keras.

Janganlah memanggil Nabi seperti kita memanggil orang lain selain Nabi. Bacalah selalu shalawat kepada Nabi, dan hargailah Nabi sebagai seorang yang termulia di antara seluruh manusia.

Kelima, bagi mereka yang diuji oleh Allah SWT, maka mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Keenam, mereka yang memanggil di luar kebiasaan dan di luar aturan, mereka itu digambarkan sebagai orang yang tak berakal, sebagai orang gila atau orang bodoh.

Ketujuh, jika mereka sabar, pasti akan mendapatkan keuntungan di dunia, dan mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah SWT.

Inilah bagian dari ajaran akhlak yang digambarkan dalam ayat-ayat ini. [Nafi]

Kajian Tafsir Surah Al-Furqan (25): 63-77

KAJIAN TAFSIR SURAH AL-FURQAN (25): 63-77

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

pada tanggal 22 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada sebelas sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki sebelas sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang akan mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT. Rahmat-rahmat Allah yang paling besar tersebut yaitu kedudukan atau derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh mereka di surga kelak.

Orang-orang yang beriman itu harus melaksanakan seluruh kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka. Apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban tersebut, maka mereka akan mendapatkan siksaan yang amat pedih dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila mereka menunaikan kewajiban-kewajiban yang diberikan tersebut, maka mereka akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman setelah menunaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang termaktub pada Surah al-Furqaan ayat 63-77, sebelas sifat yang dimaksud tersebut adalah:

Pertama, sifat tawadhu’.

Tawadhu’ adalah lawan dari sifat takabbur. Tawadhu’ adalah sifat yang selalu merendah, merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah. Jika orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang memiliki sifat takabbur adalah orang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Di dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang di dalam dirinya terdapat sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah akan mengharamkan surga baginya.

Takabbur adalah orang yang menganggap dirinya besar, padahal dia tidak besar. Orang yang mengaku memiliki banyak hal, tapi sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa. Padahal kata Allah, bahwa apa yang mereka miliki itu tidak ada maknanya sedikitpun. Karena itulah, mereka menambahkan sifat di dalam dirinya dengan apa yang tidak mereka miliki. Untuk menjadikan diri kita tawadhu’ adalah dengan berpandangan bahwa apa yang kita miliki tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Allah SWT.

Sifat sombong adalah sifat yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki sifat sombong. Hanya saja, ada orang yang membiarkan kesombongannya menjadi subur, dan ada juga yang bisa menahan kesombongannya, sehingga kesombongannya tidak pernah muncul.

Firman Allah pada Surah Al-Furqaan ayat 63:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Q.S. Al-Furqaan: 63)

Pada ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ‘ibaadurrahman itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tawadhu’, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang yang berilmu, orang yang kaya, ataupun orang yang memegang jabatan tinggi.

Pertanyaannya, mampukah kita bersikap tawadhu’? Harus diingat, bahwa sikap takabbur itu akan muncul kapanpun dan di manapun. Jika kita tidak berhati-hati, maka sikap tersebut akan menjadi subur, akan berkembang dengan sendirinya karena kondisi dan keadaan di mana kita hidup. Karena itulah, menurut Rasulullah, sombong terhadap orang yang sombong itu adalah sebuah kebajikan sedekah. Mengapa? Karena kalau kita menahan kesombongan seseorang, sebenarnya kita mendekatkan orang tersebut kepada surga. Karena, jika ada kesombongan di dalam hati seseorang, maka diharamkan kepadanya untuk mendapatkan surga. Jika kita sombong terhadap orang yang sombong sehingga orang tersebut menjadi tidak sombong, maka sebenarnya kita telah menjauhkannya dari neraka dan mendekatkannya kepada surga.

Kedua, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib).

Maksudnya adalah, bahwa orang tersebut senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, walaupun orang lain selalu mengejeknya dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan. Artinya, bahwa ‘ibaadurrahman adalah orang-orang yang senantiasa mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik, senantiasa bersikap dengan sikap yang baik, senantiasa menimbulkan kebajikan-kebajiikan walaupun di tengah orang-orang yang tidak mau berbuat kebajikan kepadanya.

Biasanya, jika mendengar ada orang yang mengejek kita, maka kita akan membalasnya dengan ucapan-ucapan yang lebih kasar dibandingkan orang yang mengejek kita tersebut. Kalau ada yang memaki kita, maka kita akan membalasnya lebih dari satu kali makian. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita sebanyak sekali, maka kita akan membalasnya lebih dari sekali. Itulah fitrah manusia.

Dalam ayat ini disebutkan, bahwa jika ada orang-orang yang bodoh yang menyapa dia, kalau ada orang-orang yang mengejek dia dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan baginya, maka dia akan menyampaikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang yang mengejeknya itu. Tapi secara fitri, hal ini tak mudah untuk dilakukan. Malahan sebaliknya, seringkali perbuatan kebajikan dibalas dengan kejahatan (air susu dibalas dengan air tuba).

Rasulullah menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang-orang yang apabila diputuskan hubungan silaturahmi, maka ia tidak akan memutuskan hubungan tersebut. Misalkan: ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, tapi kita tetap mendatangi rumah orang tersebut. Hal ini tak mudah untuk dilakukan, karena biasanya jika ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, maka kita akan semakin menjauhi orang tersebut.

Rasulullah juga menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang suka memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadanya.

Ketiga, yaitu orang beriman yang suka tahajjud di malam hari.

Firman Allah pada Al-Furqaan ayat 64:

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S. Al-Furqaan: 64)

Bangun di malam hari setelah tidur, untuk kemudian melakukan shalat tahajjud bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi apabila kita membiasakan diri, maka secara otomatis pada saatnya kita akan terbangun, sehingga hal seperti ini mudah saja untuk dilakukan. Mengapa tahajjud ini penting? Karena jika ibadah dilakukan di tempat yang sepi, maka konsentrasi kita akan lebih terpusat, dibandingkan ibadah di tengah keramaian.

Menurut pandangan para ulama, shalat tahajjud merupakan shalat sunnat muakkad, yaitu shalat sunnat yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah. Shalat sunnat tahajjud biasa dilakukan paling tidak dua raka’at, umumnya dilakukan delapan raka’at, ditambah dengan witir tiga raka’at. Begitu besar pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat tahajjud, karena tidak banyak orang yang mampu melakukan shalat tahajjud itu pada setiap malamnya.

Keempat, yaitu merasa takut akan siksa Allah SWT.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 65-66:

(65) Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal“.

(66) Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (Q.S. Al-Furqaan: 65-66)

Orang yang senantiasa takut terhadap azab Allah, maka akan menyebabkannya selalu mematuhi dan mentaati perintah-perintah Allah dan senantiasa meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an digambarkan, bahwa di saat menghadapi sakaratul maut, maka bagi mereka yang belum memiliki persiapan menghadapi alam kubur dan alam akhirat itu lalu meminta kepada Allah untuk menunda kematiannya, karena mereka belum banyak melakukan ibadah kepada Allah. Lalu Allah menjawab, “Apabila ajal mendatangi seseorang, maka ajal tersebut tak bisa diundur dan tidak juga bisa dipercepat.”

Jika kita selalu mengingat akan azab Allah, maka pada saat itulah keinginan kita akan muncul untuk melakukan ibadah kepada-Nya. Patut diingat, bahwa azab yang kita terima tak pernah ada habisnya. Dimulai pada saat kita menjalani sakaratul maut, kemudian berlanjut ketika berada di dalam kubur. Kemudian terus berlanjut hingga ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar. Menurut riwayat, bahwa di padang mahsyar nanti matahari itu sejengkal di atas kepala, dan manusia pada saat itu kondisinya berbeda-beda. Ada yang selalu merasa dingin dan sejuk, walaupun matahari berada di atas kepalanya. Ada juga yang merasa badannya terbakar, karena dibakar oleh matahari.

Pendeknya, ketika di padang mahsyar, maka manusia sudah merasakan alam atau suasana yang berbeda sesuai dengan amal kebajikannya. Bagi yang mendapatkan siksaan, maka siksaan tersebut akan terus berlanjut. Ketika berada di dalam neraka, siksaan tersebut takkan pernah ada habisnya. Setelah kulitnya terbakar oleh api neraka, kemudian kulit tersebut diganti lagi dengan yang baru. Setelah itu dibakar lagi, kemudian diganti lagi, dan begitu seterusnya tak pernah berhenti.

Seorang muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap siksaan Allah SWT. Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka kita akan menjadi orang yang senantiasa patuh terhadap perintah-Nya.

Kelima, yaitu sederhana (moderat) di dalam berinfaq.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 67:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al-Furqan: 67)

Pada ayat di atas dengan jelas menyebutkan, apabila manusia atau orang yang beriman yang ingin membelanjakan sesuatu, maka ketika membelanjakan tersebut dia tidak boleh terlalu boros, dan juga tidak boleh terlalu kikir.

Di dalam ayat lain Allah menyebutkan:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Israa’: 26)

Jadi, tidak boleh ada sikap boros, dan tidak boleh juga kikir, melainkan berada di tengah-tengah (moderat). Kalau kita berbelanja, maka belanjalah sesuai dengan keperluan. Kalau bersedekah, jangan sampai memberikan sedekah terlalu banyak. Hanya karena bangga dengan pahala bersedekah sehingga kita bersedekah terlalu banyak, sedangkan kita lupa akan kebutuhan kita sendiri.

Allah juga mengingatkan, bahwa orang-orang yang bersifat boros itu adalah saudara-saudaranya syaitan, seperti yang termaktub pada Surah Al-Israa’ ayat 27 berikut ini:

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Israa’: 27)

Tetapi jangan juga karena mengingat akan kebutuhan kita, lalu kita tidak mau mengeluarkan apa yang kita miliki, hingga zakat sekalipun tidak mau dikeluarkan. Itulah orang yang kikir sebenarnya. Dalam hal ini, kita harus bersikap moderat, tidak kikir dan tidak juga boros, namun berada di antara keduanya (moderat).

Pada Surah Al-Israa’ ayat 29 juga disebutkan:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al-Israa’: 29)

Jadi, jangan juga kita membelanjakan sesuatu sampai habis, dan jangan pula kita enggan membelanjakan apa yang ada pada diri kita. Hal ini tak mudah dilaksanakan, karena pada umumnya manusia itu bersifat konsumtif. Sifat konsumtif yang tak bisa ditahan yang kemudian menjadi-jadi, itulah yang disebut pemborosan. Tapi kalau menahannya juga menjadi-jadi, itulah yang dinamakan kikir. Di dalam hadits Nabi juga disebutkan, bahwa: “Urusan yang terbaik adalah urusan yang di tengah-tengah.”

Keenam, menjauhkan diri dari sifat syirik.

(68) Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya).

(69) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

(70) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(71) Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

(Q.S. Al-Furqan: 68-71)

Syirik itu pada hakikatnya adalah sifat yang senantiasa menyekutukan Allah. Seseorang yang menganggap bahwa selain Allah itu ada tuhan yang lain lagi, maka dapat dikategorikan sebagai syirik. Kalau seseorang melakukan penyembahan terhadap Allah, tapi dalam suasana yang lain dia juga melakukan penyembahan terhadap yang selain Allah, maka itu juga dapat disebut sebagai syirik. Menurut ulama, syirik yang seperti ini dinamakan syirik akbar (syirik besar). Syirik akbar adalah syirik yang berupa menyekutukan Allah SWT dengan sembahan atau penyembahan yang selain dari Allah.

Kemudian ada juga yang dinamakan syirik asghar (syirik kecil). Menurut para ulama, syirik asghar salah satunya adalah riya’. Mengapa? Karena ketika beribadah, yang ia harapkan bukanlah keridhaan Allah, tetapi karena sesuatu yang selain dari Allah. Ibadah yang dilakukannya bukanlah diniatkan untuk Allah, tetapi karena yang selain Allah. Kalau ada seseorang yang melakukan shalat bukan karena Allah, tetapi karena yang lain, maka inilah yang disebut sebagai syirik asghar.

Berkaitan dengan syirik akbar, di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan, bahwa mereka yang syirik itu apabila mati, maka dosa karena syiriknya tersebut tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Dosa tersebut takkan pernah diampunkan oleh Allah, jika saat ia meninggal dunia tak pernah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa syiriknya itu. Karena itu, banyak sekali hal-hal yang menjauhkan seseorang dari surga, salah satu di antaranya adalah syirik.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An-Nisaa: 48)

Ketujuh, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT.

Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik, melakukan pembunuhan terhadap orang lain juga merupakan perbuatan dosa besar. Berkaitan dengan ini, ada juga orang yang melakukan pembunuhan, tetapi pembunuhan itu atas perintah hukum. Pembunuhan jenis ini tidak dikategorikan sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Misalnya, ada seseorang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain, lalu dia itu diadili oleh hakim, dan hakim memutuskan bahwa dia akan juga dibunuh dengan hukum qishash. Maka mereka yang melakukan eksekusi hukuman mati terhadap orang yang dikenai hukum qishash tersebut tidaklah dikategorikan dalam rangka membunuh sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, karena eksekusi hukuman mati tersebut berdasarkan perintah hukum.

Dalam kaitan dengan hukum qishash ini, ada ketentuan-ketentuan tertentu yang berlaku. Misalnya: dalam sebuah negara, jika negara memutuskan berdasarkan keputusan pengadilan bahwa si A akan dihukum qishash, maka itu tidak dianggap sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Tetapi jika ada sekelompok orang di dalam sebuah negara yang mereka (orang-orang itu) memberlakukan hukuman qishash kepada seseorang tanpa adanya keputusan pengadilan yang sah, maka hal ini dikategorikan bukanlah pelaksanaan hukuman qishash yang sesuai dengan tuntunan syari’ah. Karena itu, bagi mereka yang memberlakukan pembunuhan seperti ini, maka mereka telah melakukan pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh.

Berkaitan dengan ini, Allah mengingatkan, bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang, maka seolah-olah dia itu telah membunuh semua manusia, seperti termaktub pada ayat berikut ini:

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maidah: 32)

Kedelapan, menjauhkan diri dari perbuatan berzina.

Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik dan membunuh, melakukan perzinahan juga merupakan perbuatan dosa besar. Karena itu, bagi pelakunya akan diberikan siksaan yang berlipat ganda oleh Allah di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 69: (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

Tetapi pada Surah Al-Furqaan ayat 70 dan 71 memberikan kabar gembira kepada kita: [70] kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [71] Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Furqan: 70-71)

Yang dimaksud pada ayat tersebut, jika sudah pernah terjadi hal-hal yang seperti itu (syirik, pembunuhan, dan zina), maka Allah membukakan pintu taubat, lalu bertaubatlah kepada Allah. Tapi pernyataan ini jangan dipelintir. Kalau begitu syirik dulu, baru kemudian bertaubat, karena Allah pasti akan mengampuni. Kalau begitu membunuh dulu, nantikan Allah akan membukakan pintu taubat. Kalau begitu berzinah dulu, nanti malam shalat lail kemudian berdo’a, minta ampun dan bertaubat, maka Allah akan mengampuni. Tentunya bukan ini sebenarnya yang dimaksud.

Itulah sebabnya, bagi manusia yang bersalah, apabila dia bertaubat, maka kesalahannya itu akan dihapuskan oleh Allah SWT. Setelah dosa dan kesalahannya dihapuskan oleh Allah SWT, maka kalau bertaubat lagi, maka akan ada tumpukan pahala dari taubatnya yang akan diberikan oleh Allah. Jika ia bertaubat lagi, sedangkan dosanya sudah tidak ada lagi, maka pahala bertaubatnya akan ditambahkan lagi oleh Allah SWT. Karena itulah, tindakan bertaubat dan beristighfar itu tidak hanya dilakukan setelah kita melakukan perbuatan-perbuatan dosa, tetapi kalau memungkinkan di sepanjang kehidupan kita selalulah kita bertaubat.

Perbuatan zina adalah perbuatan dosa besar yang menurut Rasulullah, bahwa orang yang berzina itu tidak layak kalau diundang untuk menghadiri sebuah majelis. Ini merupakan siksaan sosial.

Kesembilan, menjauhkan diri dari bersaksi palsu.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Q.S. Al-Furqaan: 72)

Saksi palsu bisa muncul kapan saja. Hal ini biasanya terjadi apabila dengan menjadi saksi palsu itu maka akan mendapatkan keuntungan. Sekarang ini banyak sekali terjadi orang yang memberikan kesaksian palsu. Misalkan: sebenarnya kasus tersebut seharusnya dimenangkan oleh pihak A, tapi hakim kemudian memberikan kemenangan kepada pihak B, karena semua saksi memberatkan pihak A. Dalam hal ini, mereka yang menjadi saksi palsu itu sudah melakukan dosa besar. Menjadi saksi palsu itu membahayakan kemaslahatan di dalam masyarakat.

Kesepuluh, senang menerima nasehat yang baik.

Dikatakan oleh Al-Qur’an:

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Q.S. Al-Furqaan: 73)

Jadi, orang yang termasuk kategori orang beriman yang mendapat gelar ‘ibaadurrahman itu adalah orang yang senantiasa menerima nasehat-nasehat yang baik yang diberikan oleh orang lain, orang yang senantiasa mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari orang-orang yang memberikan pelajaran-pelajaran yang baik. Termasuk di dalam hal ini adalah orang yang senang mencari ilmu adalah orang yang senang menerima nasehat.

Kesebelas, senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqaan: 74)

Bukan hanya berdoa untuk dirinya, juga berdoa untuk keluarganya, untuk anak cucunya agar menjadi orang-orang yang baik dan orang-orang yang shaleh di belakang hari. Orang-orang yang seperti ini dikatakan oleh Al-Qur’an adalah orang-orang yang akan mendapatkan ganjaran yang paling tinggi di surga nanti yang akan diberikan oleh Allah SWT, seperti termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 75-77:

(75) Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

(76) mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

(77) Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.

(Q.S. Al-Furqaan: 75-77)

Kesebelas hal ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi marilah kita melatih diri dan membiasakan untuk memiliki kesebelas sifat dan sikap ini, seperti yang diungkapkan Al-Qur’an pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 ini. [hAns]


Pembinaan Karakter

PEMBINAAN KARAKTER

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 21 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pembinaan karakter kini memang menjadi suatu yang krisis. Hampir setiap orang sulit sekali untuk mempertahankan karakter aslinya. Pada umumnya banyak di antara kita begitu gampang berubah. Sedikit saja mendapat pengaruh dari luar, maka faktor internalnya menjadi berubah. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan. Jika sudah seperti ini, kiranya menjadi sulit untuk menyebarkan suatu kebaikan jika kita sendiri tidak memiliki pendirian yang tangguh.

Ada beberapa hal yang menyebabkan karakter seseorang itu menjadi gampang berubah, walaupun misalkan ibadah orang tersebut sangat baik, hubungan dengan sesama manusia juga baik, tetapi sering kali orang tersebut merasakan dirinya sangat lemah. Orang itu merasakan bahwa dirinya sangat lemah (tidak kuat) menghadapi suatu perubahan. Jika situasi sosial berubah, maka dirinya juga menjadi terpengaruh akan perubahan tersebut. Bahkan, perubahan cuaca pun kadang ikut mempengaruhi orang tersebut.

Ada lima karakter yang pada umumnya sering mempengaruhi pandangan hidup manusia, yaitu: karena rasa bersalah, rasa dendam, rasa takut, materi, dan pengakuan diri.

Pertama, seseorang berubah karena rasa bersalahnya (terpengaruh oleh rasa bersalahnya).

Ciri-cirinya adalah: jika ia telah melakukan dosa, apalagi dosa yang dilakukannya itu adalah dosa besar, maka ia seperti dikejar dan dihantui oleh perasaan bersalahnya. Perasaan berdosa ini biasanya membuat seseorang dalam bertindak menjadi sangat kaku, bahkan hidupnya cenderung pasrah, tidak ada semangat, dan tidak ada kreativitas.

Jangan pernah memandang enteng dosa, karena dosa bisa membuat seseorang itu menjadi tidak produktif, tidak kreatif, jalan pikirannya buntu, dan kehilangan semangat hidup. Karena itu, semua perbuatan dosa dilarang oleh Allah. Dosa itu bisa dipahami melalui pikiran, melalui kata hati, dan melalui firman Tuhan dan hadits Rasulullah. Walaupun kita tidak pernah membaca Al-Qur’an atau Hadits sekalipun, tetapi kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan itu bertentangan dengan nilai kebenaran. Misalkan perbuatan zina, mencuri, ataupun membunuh, tanpa kita membaca ayat Al-Qur’an pun, kita bisa mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak benar. Sehingga, jika perbuatan dosa tersebut kita lakukan, maka pasti ada sesuatu yang salah di dalam diri kita. Perasaan bersalah ini tak mungkin akan hilang jika tanpa adanya penyadaran diri (taubat). Dosa tidak akan membuat seseorang itu produktif di dalam perjalanan hidupnya.

Kedua, seseorang berubah karena rasa dendamnya. Rasa dendamnya itu mempengaruhinya dalam setiap mengampil keputusan ataupun kesimpulan.

Orang seperti ini ciri-cirinya adalah nekat. Ia selalu melihat objek yang didendaminya itu seperti iblis. Dia pernah sakit hati terhadap sesuatu, karena itu ia dendam. Terhadap orang yang didendaminya itu, kiranya tak ada positifnya sekalipun. Maka kehidupan yang dilaluinya selalu penuh dengan benci, marah, dan dendam. Orang seperti ini takkan pernah bisa produktif. Jika ada orang yang bekerja karena dimotivasi oleh dendam, yakinlah maka rekan kerjanya akan gerah, apalagi malaikat.

Jangan pernah kita didikte atau mengambil suatu keputusan karena dimotivasi oleh perasaan dendam. Dendam ini dilarang oleh Allah, karena dendam itulah nantinya yang akan membakar energi orang tersebut. Ia akan loyo, akan jatuh sakit, dan juga akan hilang segala-galanya. Mengapa? Karena dendam di dalam dirinya itulah yang membuat orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagi orang yang menyimpan rasa dendam yang sangat mendalam, maka segala yang dilakukannya sehari-hari selalu tidak enak, seakan-akan setiap saat selalu penuh dengan wajah orang yang didendaminya itu. Bahkan mungkin ketika ia tidur dan bermimpi. Bahayanya, jika seseorang yang mengambil kesimpulan dan keputusan karena dimotivasi oleh dendam, maka kesimpulan dan keputusan yang dihasilkan tersebut akan sangat riskan.

Orang seperti ini biasanya agresif, dan menganggap orang yang didendaminya itu seperti setan. Ia anarkis dan destruktif. Jika konstruktif adalah bersifat permanen dan positif, maka destruktif lebih cenderung goyah dan meruntuhkan (menghancurkan). Karena itu, jangan pernah kita didikte di dalam mengambil suatu keputusan dengan perasaan dendam. Akibatnya bukan hanya kita yang merasakannya, bahkan keluarga dan orang yang ada di sekitar kita akan merasakan dampaknya.

Ketiga, dipengaruhi oleh rasa takut. Apapun keputusannya, selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya.

Orang seperti ini biasanya penakut, misalkan takut terhadap hujan lebat sehingga badannya akan bergetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena takut. Mendengar halilintar ia menjadi takut. Mendengarkan orang berteriak saja, maka jantungnya akan berdebar-debar. Orang seperti ini biasanya pernah mengalami trauma, dan traumanya itu tidak terselesaikan. Sehingga di dalam bertindak, ia akan selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya itu. Orang seperti ini cenderung menjadi statis, tidak mau mengambil resiko, yang akhirnya orang ini menjadi kerdil. Orang seperti ini juga biasanya sering keliru dalam mengambil suatu tindakan. Jika kita terlalu didikte oleh perasaan takut, maka kita tidak bisa berbuat secara normal.

Keempat, terpengaruh karena materi atau kedudukan atau pangkatnya.

Orang seperti ini biasanya kelihatan egois. Sepertinya hanya dialah yang paling hebat. Tindakan-tindakan seperti ini cenderung juga menimbulkan kerugian terhadap dirinya sendiri, bahkan juga terhadap orang lain. Karena itu, jika kita mendapakan rezeki dari Allah, baik itu berupa materi (harta) atau dalam bentuk jabatan (kedudukan), maka jangan sampai materi dan jabatan tersebut membuat kita terpengaruh dalam mengambil suatu tindakan.

Ciri-ciri orang yang seperti ini, yaitu tidak ada lagi orang yang mampu mengerem pembicaraannya. Juga terlihat di dalam perbuatannya, seakan-akan dialah yang paling hebat. Selain itu juga dalam bentuk kebijakan, misalkan bahwa kebijakannya itu selalu diarahkan pada dirinya sendiri. Orang seperti ini cenderung tidak demokratis. Orang seperti ini biasanya menempuh kehidupan yang serba gampang, tidak ingin repot, dan kurang hati-hati. Mengapa? Karena kekuasaan ada di tangannya, yang ini bisa merugikan dirinya dan juga orang lain.

Kelima, terpengaruh karena pengakuan atas dirinya sendiri (aktualisasi diri).

Karena ingin mengaktualisasi dirinya tersebut di dalam masyarakat, sehingga ia tak pernah mempedulikan seberapa besarpun pengorbanan yang telah dan akan ia berikan, demi popularitas, yang penting dirinya terkenal.

Kelima karakter ini tidak sejalan dengan tuntunan di dalam Agama Islam. Misalkan orang yang bekerja dengan penuh rasa berdosa, maka ia akan seperti orang yang linglung, tidak pernah fokus, tak pernah ada semangat di dalam bekerja, karena ada kerusakan di dalam sistem batinnya. Karena itu, kita dilarang untuk melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, maka kita akan semakin tidak fokus, karena ada kerusakan di dalam sistem batin kita. Sebaliknya, jika tidak ada salah yang kita lakukan, sekalipun pangkat kita rendah, sekalipun kita rakyat biasa, tetapi tetap ada keberanian pada diri kita. Bagi orang yang tidak pernah bersalah, ia berani karena ia benar, dan ia takut karena ia salah.

Begitu juga dengan rasa takut. Rasa takut itu pasti akan mengganggu kehidupan seseorang. Ada saatnya kita takut dan ada saatnya kita berani. Kapankah kita takut? Di dalam Bahasa Arab, jika “khasya” adalah takut kepada Allah, sedangkan “khawfun” adalah takut kepada makhluk Allah. Seseorang itu lebih tepat untuk khasya dibandingkan khawfun. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan kita kepada hantu atau syaitan. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan akan terbongkarnya aib kita di dalam masyarakat. Ketika ada aib pada diri kita, kita lebih takut aib tersebut diketahui oleh orang lain dibandingkan kita takut kepada Allah.

Selain lima karakter tersebut di atas, maka ada karakter yang keenam, yaitu orang yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Inilah yang kita harapkan. Sehingga nilai keagamaan tersebut akan mewarnai kehidupan kita.

Jadi ada lima hal yang jangan sampai menjangkiti diri kita seperti tersebut di atas, yaitu rasa bersalah, dendam, takut, materi, dan aktualisasi diri yang berlebihan. Untuk mengobatinya adalah dengan cara kita harus kembali kepada Agama Islam sebagai pandangan hidup kita (way of life). [N4viY]

Menjadi Orang Tua bagi Anak Usia 14 – 21 Tahun

MENJADI ORANG TUA BAGI ANAK USIA 14 – 21 TAHUN

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Hj. Neno Warisman

pada tanggal 13 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Anak adalah rahasia kesuksesan kita, yaitu jika kita betul-betul sudah menyiapkan anak kita, sehingga tauhid dan akidah si anak menjadi lurus.

Ada sebuah cerita tentang seorang pemuda yang akan dihukum mati. Pemuda ini memohon satu permintaan, yaitu sebelum dia dihukum mati, dia memohon dapat mencium ibunya, dan permohonan itu dikabulkan. Setelah dia mencium ibunya, maka ia kembali lagi ke tempat hukuman mati tersebut. Beberapa saat kemudian, pemuda ini memohon lagi untuk mendapatkan kesempatan satu kali lagi, yaitu untuk mencium lidah ibunya. Maka pemuda itu diberikan izin kembali, dan kemudian dia mencium lidah ibunya, dan dalam waktu yang begitu cepat, pemuda ini menggigit lidah ibunya sampai putus. Na’uzubillahi min zalik.

Apakah gerangan yang menjadi alasan bagi sang pemuda hingga tega menggigit lidah ibunya tersebut? Mungkin dapat dikatakan ini adalah anak ahli neraka. Sudah mau dihukum mati karena keburukan akhlaknya, masih saja melakukan keburukan yang lain.

Hendaklah kita belajar dari apa yang terjadi di alam ini. Semua fenomena ini diberikan kepada kita untuk kemudian menjadi pemikiran kita, dan juga menjadi dorongan hidayah bagi kita.

Pemuda tersebut mengatakan, “Belajarlah dari apa yang aku lakukan, wahai para Ibu. Selama aku tumbuh menjadi remaja, ibuku tidak meluruskanku.”

Dari cerita ini, dapatlah kita ambil hikmahnya, yaitu sesungguhnya anak-anak pada dasarnya menyukai kelurusan.

Dari hasil sebuah penelitian yang sudah cukup lawas dan bisa menjadi suatu acuan bagi kita, yaitu bagaimana anak-anak kita digoda oleh sebuah ghazwul fiqr, yaitu penjajahan pola pikir yang luar biasa di usia 14 – 21 tahun. Karena pada usia ini, ia sudah membangun dunianya sendiri. Ia sudah tidak hidup di dunia anak-anak yang masih lengket dengan ibunya. Ia sudah mau meluncur bagai anak panah yang melesat, dan dia berkata, “Aku mau melakukan apa yang ingin aku lakukan.” Dia sudah membangun dunianya sendiri.

Salah satu hal yang menjadi konsentrasi dan kepedulian kita yang utama adalah bagaimana tarbiyah jinsiyah (pendidikan seksualitas)-nya kita lakukan, yang hari ini kita ditantang betul untuk menjadi Ayah dan Ibu. Apakah kita mau menjadi orang tua yang sukses lahir dan batin, atau kita sukses lahir saja. Kalau kita mencari akhirat, sudah pasti dunia akan mengikuti kita. Tapi jika hanya mencari dunia, sudah pasti akhirat meninggalkan kita.

Menurut penelitian tersebut (pada tahun 1987), tempat jima’ (senggama) remaja yang hamil, mereka melakukannya di sekolah 28%, di taman 4,9%, di mobil 4%, di hotel 11,2%, di tempat parkir 2,78%, dan yang tertinggi dilakukan adalah di rumah yaitu 83% lebih.

Jadi dari data penelitian ini (tahun 1987), sudah begitu parahnya kehidupan anak-anak kita, sedangkan waktu itu siaran televisi di Indonesia masih begitu sedikitnya (hanya satu, yaitu TVRI). Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta dengan ghazwal fiqr (penjajahan pola pikir)-nya, yang dipasok terus menerus kepada anak-anak kita, sehingga mereka meyakini, bahwa yang mereka lihat itu adalah suatu hal yang benar. Bukankah dua kemampuan utama yang diberikan kepada setiap bayi adalah pendengaran dan penglihatan. Sayyid Qutb mengatakan, bahwa dari pendengaran dan penglihatan inilah masuknya berbagai macam faham dan ideologi.

Jadi, hal ini memiliki korelasi dengan kenyataan, bahwa anak-anak kita di usia 18 tahun adalah yang terbanyak mengunjungi pelacuran. Mengapa? Ternyata barulah kita ketahui, bahwa Indonesia (dan ini di Jawa Timur) merupakan lokalisasi pelacuran yang paling besar di Asia Tenggara, yaitu dengan jumlah PSK-nya pada tahun 1987 yaitu sebanyak 7.500 orang. Itu baru di salah satu tempat. Kini belum dilakukan lagi penelitian serupa, tapi sekarang sudah bisa disinyalir (dengan jangka waktu sebelas tahun dari tahun 1987 hingga sekarang), apalagi dengan perkembangan teknologi kini yang sudah begitu laju melesatnya, yang di satu sisi teknologi tersebut memberikan dampak positif, namun di sisi lainnya juga membawa dampak negatif.

Anak adalah amanat dari Allah. Apakah kita mau memiliki generasi yang hebat? Semuanya tergantung dari kita semua.

Seorang ahli mengatakan, bahwa yang nomor satu atau paling fundamental (mendasar) dari hubungan kita dengan anak kita yang berumur 14 – 21 tahun adalah cuma dua agendanya, yaitu harus kita tinggalkan cara kita yang dulu yang disebut concrete movement menjadi hidden movement. Kalau kita masih menggunakan cara concrete movement, maka dijamin anak kita tidak akan terlalu senang dilakukan seperti itu. Hidden movement adalah memberikan contoh, yaitu bagaimana kita sebagai orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak kita secara perlahan-lahan, yang di dalamnya terdapat perhatian yang begitu spesial kepada anak kita.

Ada beberapa poin yang harus kita siapkan untuk bergaul dengan sukses kepada anak kita:

Pertama-tama, kita lihat dulu tiga citraan, apakah kita dapat mengkonfirmasi citraan anak kita itu terhadap dirinya sendiri. Gambaran dia terhadap dirinya yang kita bangun selama ini dari 0 sampai 14 tahun itu sesuai tidak dengan citraan dia yang ada di luar? Gambaran dia yang kita bangun itu apakah lebih baik atau lebih buruk dari citraan dia terhadap yang dipasok oleh luar. Misalnya dalam hal pacaran. Apakah gambaran dia itu bahwa dirinya memang wajar dan sepatutnya untuk punya pacar? Apakah dia seperti itu? Dia berurusan dengan gambaran kita. Apakah kita setuju dengan pacaran? Dan apakah dia membawakan dirinya ke luar seperti itu juga? Ini menjadi pertanyaan kita. Apakah dia setuju dan yakin bahwa ujian akhir nasional itu merupakan tolok ukur kecerdasannya? Apakah dunia luar memang memasok pikiran seperti itu? Dan bagaimana kita menganggap ujian akhir nasional itu untuk dia?

Secara gampangnya, lagi-lagi konsep diri yang kita bangun dalam hubungan keseharian kita kepada anak kita itu akan membawa sikap-sikap dia di masyarakat ataupun di dalam rumah, dan akan membawa kepada dia satu sikap yang lahir berupa keyakinan diri untuk dia membawakan misi hidupnya sebagai hamba Allah kelak yang akan menjadi manusia dewasa. Ini dilakukan menjelang dia dewasa (sekitar usia 14, 15, 16 tahun).

Apa yang harus kita lakukan sebagai konsekuensi dari citraan-citraan (jati diri) anak kita?

Yang pertama, kita memberikan pemahaman (menemani dia untuk memahami dirinya sendiri), bahwa dia (jiwa, fisik, dan ruhaninya) itu berubah. Kita menemani dan memahami dia, sehingga kita tidak complain dan tidak bingung. Kalau kita sudah memahami anak kita, berarti komunikasi kita dengan anak kita itu dapat dikatakan jernih, tidak ada kesal yang berlebihan, dan juga tidak ada marah. Sehingga kita dapat melihat sikapnya, apakah dia itu bengal, frustasi, dan sebagainya. Pada usia 14 – 21 tahun ini kita percaya bahwa dia sudah membangun dunianya sendiri, yang dunianya itu berbeda sama sekali dengan dunia kita.

Yang kedua, kita mempersiapkan si anak agar dirinya siap menjadi anggota sosial dari masyarakat. Kita mencoba untuk menerjunkan dia menjadi salah satu anggota masyarakat yang mengerti bahwa dia memang hidup di antara masyarakat.

Yang ketiga, kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi wirausahawan. Dalam hal ini, tidak harus kita mempersiapkannya menjadi pebisnis. Tapi dengan cara ini, bagaimana kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi manusia yang mandiri.

Yang keempat, kita memanggil anak-anak kita dengan panggilan calon ayah ataupun calon ibu. Dalam hal ini, sebenarnya kita mempersiapkan anak kita itu untuk menjadi suami ataupun istri yang baik yang tidak akan menyusahkan istri atau suaminya nanti. Ini penting, karena memang kelak anak-anak kita akan menjadi orang tua seperti kita, yang nantinya mereka akan menurunkan generasi-generasi penerus bangsa ini. Yang harus ditanamkan untuk mempersiapkan mereka menjadi suami atau istri yang baik itu antara lain: Pertama, agar mereka menjaga pandangannya. Kedua, tidak ikhtilaf (tidak bercampur baur) antara laki-laki dengan perempuan. Ketiga, jangan bersentuh kulit laki-laki dengan perempuan.

Dan yang harus selalu diingat, bahwa dari sekarang kita juga harus mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi mujahid-mujahid. Jangan sampai umat Islam seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, yaitu: “banyak, tetapi seperti buih”. Karena itu, marilah kita tanamkan kepada anak-anak kita agar memiliki kesadaran untuk membangun agama, bangsa dan negara ini. [44n]

Hikmah di Balik Penciptaan Syaitan

HIKMAH DI BALIK PENCIPTAAN SYAITAN

Disarikan dari Pengajian Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 6 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ketika Allah akan menciptakan khalifah di bumi (yaitu manusia), maka para malaikat protes kepada Allah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 disebutkan:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Khalifah artinya adalah “pengganti dari yang tidak ada”. Oleh karena itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq disebut sebagai “Khalifah Rasul”, karena menggantikan posisi Rasulullah SAW setelah Rasulullah wafat. Umar bin Khattab juga disebut sebagai “khalifah”, karena menggantikan posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena itu, jangan sekali-kali kita menyebut “Khalifah Allah”. Al-Qur’an ataupun Hadits tak pernah menyebutkan “Khalifah Allah”. Khalifah Allah berarti pengganti Allah. Kalau begitu Allah ke mana kalau digantikan. Al-Qur’an hanya menyebutkan: “Aku (Tuhan) akan membuat pengganti di bumi”.

Menurut para ahli tafsir, berdasarkan riwayat dari Abdullah ibnu Abbas, memang sebelum diciptakannya makhluk yang bernama manusia, bahwa dunia pernah didiami oleh makhluk yang bernama “Banul Jan”. Makhluk itu berbuat kerusakan, yang kemudian Allah akan menciptakan penggantinya lagi.

Dari persepsi pemahaman malaikat sepeti disebutkan pada ayat di atas, malaikat sepertinya “protes”. Malaikat mengatakan, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah kemudian mengatakan, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita “bertanya” kepada Allah. Mengapa kita sudah taat, tapi masih diberi musibah dan bencana?

Jadi, apa sebenarnya hikmah di balik Allah menciptakan syaitan?”

Ada 3 (tiga) kategori makhluk. Yang pertama disebut “malaikat”, yang kedua disebut “manusia”, dan yang ketiga disebut “Jin”. Ketiga-tiganya ini memiliki karakter yang berbeda.

Malaikat diciptakan oleh Allah hanya memiliki sifat untuk selalu taat kepada Allah. Allah menerangkan karakter malaikat ini, bahwa malaikat tidak pernah durhaka kepada Allah dan selalu mengerjalan apa yang diperintahkan.

Manusia ada yang taat kepada Allah, dan juga ada yang tidak taat kepada Allah. Yang taat disebut mu’min, yang tidak taat disebut kafir.

Jin memiliki watak seperti manusia, yaitu ada yang taat dan juga ada yang tidak taat.

Pertanyaannya, di mana syaitan?

Secara bahasa, “syaitan” berarti adalah sesuatu yang tidak mau mengikuti aturan. Dalam istilah, “syaitan” adalah makhluk Allah yang tidak mau taat terhadap perintah-perintah Allah, baik dia itu berupa jin, maupun berupa manusia.

Malak” (jama’nya malaikat) berarti memiliki watak yang taat. “Jin” artinya tutup, karena tidak terlihat. “Manusia” atau “Insan” terambil dari kata “nisiyan”, yang artinya lupa.

Al-Qur’an menegaskan:

Wa kazalika ja’alna liqulli nabiyyin ‘aduwwan syayaatiinal insi wal jin.

“Dan demikianlah setiap Nabi kami ciptakan musuh-musuh berupa syaitan yang terdiri dari manusia dan jin.”

Jadi semakin jelaslah, bahwa syaitan itu dapat berupa manusia, dan dapat juga berupa jin. Sedangkan “iblis” yang kita kenal selama ini, artinya sama dengan arti “syaitan”, yaitu makhluk yang tidak taat kepada Allah. Iblis bukan nama, melainkan sebutan untuk sifat seorang jin yang tidak taat terhadap perintah Allah. Nama sebenarnya dari iblis tersebut adalah “Haris”. Iblis itu sifatnya, nama dirinya adalah “Haris” yang berarti “penjaga”. Mengapa disebut “Haris”? Konon karena mendapat tugas untuk menjaga surga. Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam, maka semua malaikat kemudian sujud. Jin yang bernama “Haris” yang kemudian dikenal sebagai “Iblis” kemudian tidak mau taat.

Setelah itu, Iblis kemudian terkutuk dan tidak boleh tinggal di surga. Iblis kemudian meminta kepada Allah agar tidak dimatikan sampai waktu kiamat. Permintaan atau doa iblis itu ternyata dikabulkan oleh Allah.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah Iblis adalah makhluk yang percaya kepada Allah? Mungkin dapat dikatakan, bahwa Iblis itu memang percaya kepada Allah. Dan kalau “percaya” itu diterjemahkan dengan kata “mu’min”, maka dapatlah dikatakan bahwa Iblis itu mu’min.

Allah bertanya kepada Iblis, “Mengapa kamu tidak mau sujud kepada Adam ketika kamu Aku perintahkan?”

Iblis pun menjawab, “Saya lebih hebat dari Adam. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakan Adam dari tanah.”

Menurut Iblis, bahwa api itu lebih baik dari tanah. Makanya kemudian Iblis mengganggap bahwa ia tidak pantas untu tunduk kepada makhluk yang terbuat dari tanah.

Watak dari api adalah selalu meninggi dan selalu ke atas. Ini menunjukkan bahwa api merupakan watak sombong. Karena itu, watak Iblis adalah sombong. Dari kesombongannya itulah yang kemudian menyebabkan ketidak-taatan.

Berbeda dengan tanah, bahwa di manapun tanah umumnya selalu diposisikan pada bagian yang paling bawah. Jadi, watak tanah itu antara lain adalah merendahkan diri dan tidak arogan. Watak tanah yang kedua, bahwa biarpun dilemparkan kotoran, maka tanah akan selalu memberikan yang terbaik, menghasilkan buah-buahan yang lezat, dan sebagainya. Karena itu, manusia seharusnya mempunyai watak tanah ini.

Seperti disebutkan di atas, bahwa Iblis itu percaya kepada Allah. Tapi, percaya kepada Allah namun tidak taat kepada Allah, maka hal tersebut tidak akan berarti apa-apa. Yang menyelamatkan manusia nantinya adalah percaya dan taat kepada Allah.

Selanjutnya, bahwa doa (permintaan) iblis ternyata dikabulkan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an dikisahkan permintaan iblis ini:

Rabbi ‘anzirni ila yaumi yub’atsu.

“Wahai Tuhanku, berilah kami masa tangguh jangan Kamu matikan, sampai manusia nanti dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat!”

Permintaan iblis ini memang dikabulkan, tapi tidak pas seratus persen. iblis meminta kepada Allah agar tidak dimatikan sampai manusia dibangkitkan dari kubur, yang berarti hari kiamat. Padahal, sesudah manusia dibangkitkan dari kubur, maka tidak ada lagi kematian. Yang ada adalah hidup kekal selama-lamanya.

Maka, Allah mengabulkan doa iblis tidak persis iblis diberi umur panjang sampai pada hari manusia dibangkitkan, tapi hanya sampai pada waktu yang ditentukan. Jadi, iblis diberi “kelebihan” untuk tidak mati, yang kelebihan inilah kemudian digunakan iblis untuk merayu dan menggoda manusia. Pengalaman iblis dalam menggoda manusia sejak zaman Nabi Adam hingga hari yang ditentukan tersebut sungguh luar biasa. Jangankan orang biasa, Nabi saja bisa tergoda.

Kalau begitu, apa hikmahnya Allah menciptakan iblis (syaitan) ini? Karena ternyata, syaitan ini di dunia membuat kemungkaran dan kemaksiatan. Menurut manusia, alangkah lebih baiknya misalkan jika syaitan itu tidak diciptakan, sehingga dunia ini akan baik semuanya. Seandainya tidak ada iblis, mungkin kejahatan tidak akan pernah ada di dunia ini.

Hikmah penciptaan syaitan antara lain:

Pertama, bahwa seandainya tidak ada Syaitan, maka tidaklah dapat diketahui manakah manusia yang baik dengan yang tidak baik. Karena tanpa adanya syaitan, maka tidak ada kriteria antara baik dengan tidak baik.

Lebih bagus mana antara malaikat dengan manusia? Ada pendapat yang mengatakan, bahwa manusia lebih bagus daripada malaikat. Karena manusia ketika taat kepada Allah, maka ketaatannya itu terjadi setelah ia melawan syaitan. Ketika manusia taat, hal ini dilalui setelah manusia berhasil melumpuhkan syaitan. Sedangkan malaikat ketika taat kepada Allah, tidak berperang melawan syaitan. Ketaatan malaikat karena wataknya memang taat. Karena itu di kalangan malaikat, mungkin tidak ada istilah malaikat yang baik dengan yang tidak baik.

Manusia mempunyai karakter untuk tidak puas dengan pemberian yang ada. Manusia memiliki kreatifitas untuk berusaha. Ketika usahanya itu berhasil dan mendapatkan hasil yang maksimal, maka di situlah manusia merasa puas. Karena itu, manusia tak ingin seperti orang yang berada di dalam penjara, yang selalu terkekang kebebasannya.

Kedua, seandainya Allah tidak menciptakan syaitan dan kemudian Allah akan memasukkan manusia ke dalam surga, maka kriteria apa yang digunakan oleh Allah untuk menentukan bahwa yang ini mendapat tingkatan surga yang tinggi, sedangkan yang lainnya mendapatkan tingkatan surga yang rendah. Tentunya kriteria tersebut tidak ada, yang akhirnya semuanya mendapat tingkatan surga yang sama. Padahal amal yang dilakukan manusia berbeda-beda. Ada yang amal ibadahnya tinggi, dan ada juga yang amal ibadahnya rendah. Lantas di mana keadilan Tuhan jika manusia dengan amal ibadah yang berbeda-beda, tapi dimasukkan ke dalam tingkatan surga yang sama? Inilah hikmah diciptakannya syaitan, maka manusia kemudian bervariasi dalam menjalankan amal ibadahnya. Di sinilah letak keadilan Tuhan.

Bahwa dalam mewujudkan keadilan Tuhan terhadap manusia, tanpa adanya syaitan, maka manusia tidak akan mendapatkan godaan. Apabila Tuhan kemudian memberikan surga kepada manusia dan surga itu sama, maka di sinilah tidak ada keadilan Tuhan, sedangkan amal ibadah masing-masing manusia berbeda-beda.

Ketiga, bahwa manusia memiliki ketidak-puasan hanya untuk menerima. Ketidak-puasan itu diwujudkan dalam bentuk tinggi rendahnya amal dan ketaatan manusia setelah manusia melakukan perlawanan terhadap syaitan. [Aan]

Fakir Miskin

FAKIR MISKIN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 2 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hamba yang sangat dipuji Allah adalah hamba yang merasa miskin di hadapan kebesaran Allah. Sedangkan hamba yang tidak terpuji adalah mereka yang merasa kaya di hadapan Allah. Sebagai seorang yang beriman, sedapat mungkin kita selalu merasa faqir dan juga selalu merasa miskin di hadapan kebesaran Allah SWT.

Salah satu tanda-tanda keangkuhan dan kesombongan seseorang, bahwa ia selalu merasa kaya, sekalipun ia sedang menghadap kepada Allah. Pada saat kita sedang sujud di hadapan Allah, maka lupakanlah kekayaan dan semua yang kita miliki. Hamba yang paling cepat mendaki ke langit menuju ke haribaan Allah adalah hamba yang merasa miskin dan merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah.

Kita sangat sadar, bahwa semua yang kita peroleh itu hanya titipan Allah. Titipan itu hanyalah sementara. Ketika kita meninggal, maka yang mengantar kita sampai di pemakaman hanya kain kafan. Semewah apapun seseorang, maka tidak akan ada hartanya yang mengantar sampai ke liang kubur.

Ketika di liang kubur, sama saja antara orang kaya dengan orang miskin. Memang ada yang dipeti-matikan dengan peti yang sangat mewah, tapi peti mewah itu tak akan memberikan arti apa-apa bagi seseorang. Karena itu, kita dianjurkan untuk tidak menggunakan peti mati, kecuali dalam keadaan terpaksa dan kondisi tertentu yang mengharuskan menggunakan peti mati.

Jadi, kita tidak ada arti apa-apa di hadapan kebesaran Allah SWT. Karena itu, siapapun yang ingin dicintai Allah, maka selalulah ia merasa miskin, terutama ketika menghadap-Nya. Bahkan kalau perlu kita pun merasa miskin di hadapan manusia.

Firman Allah:

Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 273)

Maksudnya, bahwa ada orang yang dia itu menjadi miskin karena dia melakukan misi ketuhanan. Kalau dia mencari nafkah (rezeki), dia mungkin akan menjadi kaya. Tapi jika ia mencari nafkah tersebut, kemungkinan umatnya akan ketinggalan, serta tidak mendapatkan apa-apa. Hal inilah yang diwanti-wanti oleh Allah SWT. Jadi sesungguhnya kemiskinannya itu adalah kemiskinan yang sudah diperhitungkan.

Di beberapa pulau di Indonesia yang sudah ditinggalkan ustadz, yang kemudian beberapa Jum’at berturut-turut tidak bisa lagi Shalat Jum’at. Bukan karena tidak ada umat, dan bukan pula tidak ada masjid, melainkan tidak ada lagi yang bisa meyampaikan khutbah di tempat itu. Akhirnya, ada beberapa anak muda yang sangat produktif yang kemudian terpanggil untuk datang ke tempat tersebut. Dia kemudian menjadi guru ngaji, dan juga menjadi ustadz di sana. Karena hal tersebut, dia tidak ada lagi waktu untuk mencari nafkah, sehingga dengan sendirinya orang seperti ini termasuk sebagai orang miskin. Inilah antara lain yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas, yang mana orang-orang seperti ini sangat patut untuk dibantu.

Sabda Rasulullah:

Ittaqillaha faqiran la talqi ghaniyyan.

“Bertemulah kepada Tuhanmu dalam keadaan faqir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya.”

Orang miskin di mata Tuhan itu penting, dan tidak ada bedanya dengan orang kaya, asalkan orang miskin itu termasuk miskin yang taat. Ini tidak berarti bahwa orang kaya itu tidak mempunyai tempat di mata Tuhan, meskipun banyak rintangan bagi orang kaya itu. Sehingga orang kaya yang pemurah lebih tinggi martabatnya di mata Tuhan dibandingkan orang miskin yang taat. Jadi sesungguhnya, yang dimaksudkan bukanlah tinggalkan dunia, melainkan carilah dunia tapi jangan pernah lupakan akhirat.

Suatu pepatah mengatakan (pepatah Imam Syafi’i):

I’mallidunyaka ka-annaka ta’i syu-abada wa’malli akhiratika ka-annakatamuutughada.

“Carilah duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Maksudnya, jika kita membayangkan kehidupan abadi, maka pasti kita akan bekerja optimal mencari dunia ini. Tetapi jika kita membayangkan besok akan mati maka kita akan menshadaqahkan harta kita dan ibadah kita pasti mencapai puncaknya. Jadi, jangan dipertentangkan antara dunia dengan akhirat. Karena dunia adalah pintu masuk ke akhirat.

Addunya mir-atul akhirat.

“Pencerminan akhirat kita itu adalah apa yang kita rasakan di dunia ini.”

Jadi, untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk neraka atau surga, maka lihatlah apa yang kita lakukan di dunia ini.

Rasulullah bersabda:

Innallaha yuhibbul faqiiral muta’affif abal a’yal.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang fakir yang menjaga kehormatan diri yang menjadi bapak keluarga.”

Dia merasa fakir, tetapi kefakiran dan kemiskinannya itu terhormat. Ada orang miskin tapi tidak terhormat. Maka jadilah orang miskin yang terhormat. Dia memang miskin secara harta, tapi dia kaya dengan hati. Dia dekat selalu dengan Tuhannya, dia selalu merindukan Nabinya, dia selalu rajin berkomunikasi dengan Al-Qur’an, dan dia tidak pernah terlepas dari mengingat Tuhan.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata: “Terkutuklah orang yang memuliakan seseorang karena kekayaannya, dan meremehkan seseorang karena kefakirannya.”

Jangan-jangan kebanyakan dari kita adalah seperti ini, yang selalu memandang seseorang dari kekayaannya. Jika orang tersebut kaya, maka kita akan memuliakannya, tapi jika orang tersebut miskin maka kita akan meremehkannya.

Rasulullah bersabda:

Yadkhulu fuqaraa-u ummatil jannata qabla aghniyaa-iha bi khamsimi-atin ‘amin.

“Orang-orang faqir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya di antara mereka dengan selisih waktu 500 tahun.”

Tuballiman bidahilal islami wa qaana’isyuhu qafafan waqana ‘abidin.

“Berbahagialah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Islam dan kehidupannya merasa cukup dan tidak menjadi beban orang lain dan puas dengan yang ada.”

Inilah yang dinamakan qana’ah. Orang yang paling kaya ialah orang yang merasa puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Sedangkan orang yang miskin ialah orang yang selalu merasa tidak punya apa-apa.

Orang yang miskin adalah orang yang banyak maunya, sekalipun hartanya banyak. Orang kaya yang paling hina adalah orang kaya yang suka meminta-minta. Kalau orang miskin meminta-minta mungkin masih dapat dikatakan wajar, tapi jika orang kaya suka meminta-minta, sungguh terhinalah orang seperti ini, dan rendah martabatnya di mata Allah.

Kalau memohon banyak kepada Allah, itulah yang terpuji. Tapi jika meminta kepada makhluk Tuhan, itulah yang tidak terpuji. [Aan]

Pandangan Hidup Manusia Menurut Islam

PANDANGAN HIDUP MANUSIA MENURUT ISLAM

Disarikan dari Kuliah Dhuha

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

pada tanggal 16 Maret 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Manusia Sebagai Khalifatullah

Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.

Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah manusia melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa mencapai kesenangan dunia dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai tiga pandangan ini kepada manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah Al-Baqarah ayat 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada di bumi sebagai khalifatullah.

Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang bersifat keduniaan sebenarnya merupakan penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah. Jika seseorang menyadari bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.

Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan yang diberikan oleh atasan kita, ataupun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah. Sebagai khalifatullah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak kepada semua makhluknya.

Pada hakikatnya, kita menjadi khalifatullah secara resmi adalah dimulai pada usia akil baligh sampai kita dipanggil kembali oleh Allah. Manusia diciptakan oleh Allah di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Lantas, apakah manusia ketika berada di dalam rahim ibunya tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba? Apakah janin yang berada di dalam rahim itu tidak beribadah?

Pada dasarnya, semua makhluk Allah di atas bumi ini beribadah menurut kondisinya. Paling tidak, ibadah mereka itu adalah bertasbih kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah:

Yushabbihu lillahi ma fissamawati wama fil ardh.

Bebatuan, pepohonan, gunung, dan sungai misalkan, semuanya beribadah kepada Allah dengan cara bertasbih. Dalam hal ini, janin yang berada di dalam rahim ibu beribadah sesuai dengan kondisinya, yaitu dengan cara bertasbih. Ketika Allah akan meniupkan roh ke dalam janin, maka Allah bertanya dulu kepada janin tersebut. Allah mengatakan “Aku akan meniupkan roh ke dalam dirimu. Tetapi jawab dahulu pertanyaan-Ku, baru Aku akan tiupkan roh itu ke dalam dirimu. Apakah engkau mengakui Aku sebagai Tuhanmu?” Lalu dijawab oleh janin tersebut, “Iya, aku mengakui Engkau sebagai Tuhanku.”

Dari sejak awal, ternyata manusia itu sebelum ada rohnya, atau pada saat rohnya akan ditiupkan, maka Allah menanyakan dahulu apakah si janin mau mengakui-Nya sebagai Tuhan. Jadi, janin tersebut beribadah menurut kondisinya, yaitu dengan bertasbih kepada Allah. Tidak ada makhluk Allah satupun yang tidak bertasbih kepada-Nya.

Manusia mulai melakukan penyimpangan dan pembangkangan terhadap Allah yaitu pada saat ia berusia akil baligh hingga akhir hayatnya. Tetapi, jika kita ingat fungsi kita sebagai khalifatullah, maka takkan ada manusia yang melakukan penyimpangan.

Makna sederhana dari khalifatullah adalah “pengganti Allah di bumi”. Setiap detik dari kehidupan kita ini harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah, seperti ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya:

Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa li ya’budu.

“Tidak Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembah kepada-Ku.”

Kalau begitu, sepanjang hayat kita sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah. Dalam pandangan Islam, ibadah itu ada dua macam, yaitu: ibadah primer (ibadah mahdhah) dan ibadah sekunder (ibadah ghairu mahdhah). Ibadah mahdhah adalah ibadah yang langsung, sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah tidak langsung. Seseorang yang meninggalkan ibadah mahdhah, maka akan diberikan siksaan oleh Allah. Sedangkan bagi yang melaksanakannya, maka akan langsung diberikan ganjaran oleh Allah. Ibadah mahdhah antara lain: shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah semua aktifitas kita yang bukan merupakan ibadah mahdhah tersebut, antara lain: bekerja, masak, makan, dan menuntut ilmu.

Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang paling banyak dilakukan dalam keseharian kita. Dalam kondisi tertentu, ibadah ghairu mahdhah harus didahulukan daripada ibadah mahdhah. Nabi mengatakan, jika kita akan shalat, sedangkan di depan kita sudah tersedia makanan, maka dahulukanlah untuk makan, kemudian barulah melakukan shalat. Hal ini dapat kita pahami, bahwa jika makanan sudah tersedia, lalu kita mendahulukan shalat, maka dikhawatirkan shalat yang kita lakukan tersebut menjadi tidak khusyu’, karena ketika shalat tersebut kita selalu mengingat makanan yang sudah tersedia tersebut, apalagi perut kita memang sedang lapar.

Tujuan Ibadah

Tujuan ibadah ada dua (baik itu ibadah mahdhah, maupun ibadah ghairu mahdhah). Pertama, untuk mencapai kesenangan hidup di dunia. Kedua, untuk mencapai ketenangan hidup di akhirat. Atau secara sederhananya yaitu untuk mencapai kesenangan dan ketenangan dunia dan akhirat. Berbagai macam kesenangan dunia kita lakukan tak lain adalah untuk meraih kesenangan dan ketenangan akhirat. Misalkan bekerja. Dengan bekerja, maka seseorang akan mendapatkan uang. Dengan uangnya tersebut, maka ia akan mendapatkan kesenangan dunia, dan juga akan semakin memudahkannya untuk melakukan ibadah mahdhah, misalkan berzakat ataupun menunaikan ibadah haji.

Rasulullah mengatakan, “Orang yang paling gampang masuk surga adalah orang kaya yang mau bersedekah.”

Mendengar itu, seorang sahabat berkata, “Ya Rasul, bagaimana kalau saya ini tidak kaya?”

Rasulullah kemudian menanyakan kepada sahabat tersebut, “Apakah kamu memiliki kurma?”

“Punya, ya Rasul,” jawab sahabat tersebut.

“Kalau kamu memang memiliki kurma, maka bagi dua-lah kurma tersebut. Setengahnya sedekahkan kepada orang lain, sedangkan setengahnya lagi untukmu. Setengah yang kamu bagikan kepada orang lain tersebut akan mengantarkan kamu untuk masuk surga bersama orang kaya yang suka bersedekah,” perjelas Rasulullah kepada sahabat tersebut.

Lalu ada lagi sahabat yang bertanya ketika itu, “Ya Rasul, saya tidak kaya dan tidak punya kurma. Kalau seperti ini, berarti saya susah masuk surga?”

Lalu Rasulullah bertanya kepada sahabat tersebut, “Apakah kamu mempunyai air satu gelas?”

“Punya, ya Rasul,” jawab sahabat tersebut.

“Kalau begitu, yang satu gelas tersebut kamu bagi dua. Setengahnya untuk kamu, sedangkan setengahnya lagi kamu sedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan. Maka setengah yang kamu sedekahkan kepada orang lain itu akan mengantarkan kamu masuk surga bersama orang yang punya kurma yang dibagi dua tadi, dan juga bersama dengan orang kaya yang suka bersedekah.”

Lalu ada lagi yang bertanya, “Ya Rasul, saya ini tidak kaya, tidak punya kurma, dan juga tidak punya air satu gelas. Kalau begitu saya ini akan susah masuk surga?”

Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Kalau kamu tidak mempunyai ketiga-tiganya itu, maka sedekahkanlah kepada saudaramu kalimat-kalimat yang baik, nasihat-nasihat yang baik, serta ucapan-ucapan yang baik.”

Nabi juga pernah mengatakan, “Hak seorang muslim itu adalah untuk didatangi pada saat ia sakit.” Jika itu adalah hak seorang muslim, maka muslim yang lainnya berkewajiban untuk mendatangi muslim yang sedang sakit tersebut.

Lalu Nabi juga pernah mengatakan, “Ketika kalian mendatangi orang yang sedang sakit, coba usap-usaplah dia dengan mengatakan, bersabarlah, karena ini ujian Allah.” Jadi, kita tidak perlu merasa berat untuk mendatangi dan menjenguk orang yang sedang sakit jika kita sedang tak memiliki apa-apa. Karena kita menjenguknya itu dalam rangka “kalimat thayyibah” kepada mereka yang sakit itu. Patut juga diketahui, kadang kala orang yang sakit itu kemudian menjadi sembuh lebih dikarenakan motivasi dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Semua kenikmatan itu diberikan oleh Allah karena kita diberikan kedudukan sebagai khalifatullah. Khalifatullah yang sangat efektif adalah khalifatullah yang menyadari dirinya, bahwa semua kenikmatan yang ada sekarang ini adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah, dan kita mensyukurinya hanya dengan jalan beribadah kepada-Nya.

Ibadah itu pada hakikatnya dalam rangka tiga hal:

Pertama, membina diri dengan baik.

Jika orang beribadah, tapi dirinya tidak terbina, sebenarnya ia belum mencapai tujuan itu. Misalkan, dia sering datang ke pengajian, tapi sifatnya tetap saja tidak pernah berubah. Ini berarti, bahwa dia menyimpang dari tujuan ibadah.

Mendidik dirinya itu adalah dalam rangka membina hubungan dengan sesama, dengan lingkungan, dan dengan Penciptanya. Jadi, kalau kita mendengarkan pengajian, dan pengajian itu adalah ibadah, maka seharusnya pembinaan diri tersebut menjadi meningkat. Misalkan, kita mengetahui bahwa minuman yang memabukkan itu diharamkan oleh agama, yang hal tersebut kita ketahui setelah mendengarkan ceramah agama. Namun setelah itu, ternyata kita tetap mengkonsumsi minuman yang memabukkan tersebut. Jika seperti ini, berarti kita belum sempurna membina diri kita dalam rangka mencapai ibadah.

Kedua, dalam rangka mensucikan diri kita.

Mensucikan diri yang dimaksud adalah: Pertama, mensucikan diri dari sifat-sifat yang kotor. Kedua, mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan kotor. Sifat kotor akan mendorong kita melakukan perbuatan-perbuatan kotor. Makanya, perbuatan kotor itu kita minimalkan, bahkan kita hilangkan dari diri kita sendiri. Ketiga, membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Jika kita pernah melakukan perbuatan dosa, maka kemudian kita bertobat kepada Allah dan beristighfar. Itulah tujuan dari ibadah yang kita lakukan.

Ketiga, mengisi diri dengan sifat yang terpuji, mengisi diri dengan perbuatan baik, dan mengisi diri dengan perbuatan yang berpahala.

Kalau begitu, sasaran ibadah itu pada hakikatnya adalah untuk membina diri, mensucikan diri, dan mengisi diri.

Di dalam kehidupan kita sebagai khalifah Allah, maka ada dua hal yang harus kita perhatikan. Pertama, ada yang harus dijaga. Kedua, ada yang harus dihindari.

Yang harus dijaga tersebut ada empat hal: Pertama, menjaga hubungan baik dengan diri sendiri. Kedua, menjaga hubungan dengan sesama manusia. Ketiga, menjaga hubungan dengan lingkungan. Keempat, menjaga hubungan dengan Allah.

Yang harus dihindari tersebut juga ada empat hal, yaitu: penzaliman terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, terhadap lingkungan, dan terhadap Allah.

Kesimpulan

Jika kita sudah menyadari bahwa diri kita sebagai “Khalifah Allah”, kemudian penciptaan kita itu adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, semua ibadah yang kita lakukan dalam rangka menjaga empat hubungan tadi dan menghindari empat hubungan tadi, maka manusia tersebut menjadi manusia yang muttaqin sejati.

Jadi, kalau kita ingin mendapatkan predikat orang yang bertaqwa sejati, maka sebenarnya ajaran-ajaran tersebutlah yang harus kita laksanakan. Orang yang bertakwa secara sejati, maka akan ada keseimbangan di dalam hidupnya. Dia selalu menjaga hubungannya dengan dirinya, dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan Tuhannya.

Kalau manusia sudah seperti itu, pasti dia akan hasanatan fiddunya wa hasanatan fil akhirah. Di dalam tasawuf, manusia seperti inilah yang dinamakan insanul kamil, yaitu manusia yang sudah mencapai derajat para Nabi, terutama mencapai derajat Rasulullah Muhammad SAW. Derajat para Nabi yang dimaksud adalah derajat dalam hal amal ibadah, bukan sebagai Nabinya.

Semoga kita menjadi manusia yang menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, dan juga sebagai hamba yang harus beribadah kepada-Nya, dan kita bercita-cita agar kita menjadi manusia yang mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. [Navy]