Makna Qurban

9 Desember 2008 at 5:17 PM 8 komentar


Qurban adalah suatu ibadah yang ditetapkan oleh Islam yang dasarnya terdapat di dalam Alquran Surah Al-Kautsar:

(1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Q.S. Al-Kautsar: 1-3)

Al-Kautsar adalah sungai. Ada juga yang mengatakan, bahwa Al-Kautsar adalah nama sungai, ada juga yang mengatakan sebagai nikmat yang banyak, ada juga yang mengatakan sebagai nama salah satu bagian di surga.

Jadi, dasar dari qurban adalah “fa shalli lirabbika wanhar”. Ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Ada yang berpendapat, bahwa perintah untuk salat pada ayat ini adalah khusus untuk Salat Idul Adha. Namun ada juga yang berpendapat bahwa perintah salat pada ayat ini adalah perintah salat secara keseluruhan (secara umum). Karena itulah, di kalangan ulama ada yang mengatakan qurban itu sunnat karena dikaitkan dengan Salat Idul Adha yang merupakan salat sunnat.

Jika salat pada ayat ini diartikan sebagai Salat Idul Adha, maka kata “wanhar” (berqurbanlah) mempunyai arti bahwa berqurban dianjurkan bagi mereka yang mampu. Namun jika “fa shalli” di sini diartikan sebagai salat secara umum, maka “wanhar” merupakan perintah wajib bagi setiap muslim untuk berkurban. Sehingga sebagian ulama berpendapat, bahwa qurban itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Pendapat inipun terbagi dua lagi: ada yang mengatakan wajib setiap tahun bagi yang mampu, dan ada juga yang mengatakan wajib bagi orang yang mampu sekali seumur hidup.

Di antara ketiga pendapat ini sama-sama kuatnya. Terserah kita masing-masing mau memahami dan memakai yang mana. Menurut saya, alangkah lebih baiknya bagi orang yang mampu untuk berqurban setiap tahunnya.

Apakah manfaat qurban? Mengapa kita diperintahkan untuk berqurban?

Menurut sejarahnya, qurban ini sudah ada sejak zaman dahulu. Sebelum datangnya Islam, ritual qurban sudah dikenal. Misalkan: di Meksiko (orang Viking) mengenal qurban yaitu dengan mengurbankan anak gadis. Di Mesir kuno, ritual qurbannya adalah mengurbankan manusia (tidak harus anak gadis). Tetapi Islam datang membawa ajaran, bahwa yang diqurbankan itu adalah binatang.

Menurut sejarahnya, pada saat Nabi Ismail mau disembelih oleh ayahnya (Nabi Ibrahim). Pada saat itu, Nabi Ismail adalah putra satu-satunya yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim. Kemudian Nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya. Pada saat itu, mimpi tersebut adalah wahyu.

Nabi Ibrahim memberitahu anaknya (Nabi Ismail): “Wahai anakku, aku diperintahkan untuk menyembelihmu.”

Sang anak pun berkata, “Kalau itu memang perintah Allah, maka laksanakanlah.”

Menurut sejarahnya, ketika Ismail akan disembelih oleh Nabi Ibrahim, maka kemudian digantikan oleh Allah dengan seekor domba.

Di sinilah sejarahnya pertama kali, sehingga ditetapkannya qurban seekor domba. Jadi, bukan manusia yang diqurbankan. Islam datang menyatakan bahwa qurban itu ada, tetapi bukan manusia, melainkan binatang. Menurut ajaran Islam, bahwa qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Biasanya ada tradisi di daerah-daerah tertentu, misalkan jika ingin membuat jembatan, membuat rumah, dan semacamnya, maka harus mengorbankan binatang, mesti mengeluarkan darah. Sedangkan di dalam Islam, hal seperti ini tidak dibenarkan. Yang dibenarkan di dalam Islam yaitu mengorbankan binatang pada hari Idul Adha sampai tiga hari sesudahnya (Ayyamut tasyriq).

Bagaimanakah ukuran qurban?

Qurban dilakukan dengan menyembelih binatang, yaitu kerbau, sapi, kambing, domba, ataupun unta. Qurban itu adalah satu ekor kambing untuk satu orang. Jika tujuh orang, maka qurbannya adalah seekor sapi, kerbau, ataupun unta.

Di dalam Alquran dan Hadis memang tidak menyebutkan kerbau sebagai hewan yang bisa dijadikan sebagai hewan qurban. Kerbau hanyalah ijtihad ulama, yaitu menganalogikan dengan sapi. Para fuqaha mengatakan, yang penting adalah binatang berkaki empat dan halal. Maka hewan seperti rusa pun boleh untuk dijadikan sebagai hewan qurban (dianalogikan dengan kambing ataupun domba).

Ada juga yang mengatakan, bahwa berqurban itu yang penting mengeluarkan darah, sehingga bagi yang berpendapat seperti ini, ayam pun boleh dijadikan sebagai hewan qurban. Jika ada yang berpendapat seperti ini, maka hal itu sudah pasti salah.

Apa imbalan bagi orang yang berqurban?

Banyak hadis yang menganjurkan kita untuk berqurban, antara lain disebutkan:

Setiap bulu dari binatang itu maka akan menghapuskan setiap dosa orang yang berqurban.

Jadi, tujuannya adalah untuk menghapus dosa.

Kadang ada juga orang yang bernazar, bahwa jika ia lulus ujian, maka ia akan berqurban. Tetapi qurban tersebut tidak dilakukannya pada ayyamut tasyriq. Ini juga sebenarnya bukan qurban. Karena qurban itu waktunya hanya pada ayyamut tasyriq. Sehingga yang dilakukan di luar hari tasyriq itu bukanlah qurban, melainkan hanya nazar biasa (seperti contoh di atas).

Pahala qurban cukup besar. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa setiap bulu akan menghapus dosa-dosa orang yang berqurban tersebut.

Ada hadis yang mengatakan, bahwa qurban yang kita lakukan akan membantu kita saat meniti shirathal mustaqim. Dan banyak sekali hadis-hadis yang menerangkan tentang pahala qurban tersebut.

Qurban juga haruslah binatang yang sempurna. Syarat pertama, harus hewan berkelamin jantan. Jantan itu menunjukkan kesempurnaan. Kedua, sudah cukup umur. Ketiga, tidak cacat. Jika hewan tersebut bertanduk, maka harus tak satupun tanduk dari hewan tersebut yang patah. Hewan tersebut harus sempurna, tidak buta, tidak cacat. Jangan hanya karena kita ingin mencari yang murah, maka kita beli yang buta, yang tanduknya sudah tak ada, yang belum cukup umur, ataupun yang cacat. Mengapa harus demikian? Mengapa harus sempurna? Apakah hikmahnya?

Kesempurnaan di sini dimaksudkan agar dalam berqurban: berkorban perasaan, berkorban dalam beribadah, semuanya itu harus sempurna. Begitu juga pada ibadah-ibadah yang lain, yang semuanya itu harus secara sempurna kita lakukan. Selain dalam ibadah, kesempurnaan ini juga harus kita wujudkan dalam perbuatan dan amal kita, misalkan ketika memaafkan orang lain. Memaafkan harus sempurna, jangan setengah-setengah. Ada yang memaafkan orang lain dengan mengatakan: “Aku maafkan engkau, tapi aku tak bisa melupakan kesalahanmu.” Jika seperti ini, bukanlah memaafkan namanya, karena maafnya tidak sempurna.

Jadi, hikmah dari qurban yaitu:

Pertama, kita diminta untuk melakukan segala sesuatunya dengan sempurna di dalam hidup ini. Salat harus sempurna, janganlah kita salat dengan pakaian yang tidak sempurna. Jangan sampai kita salat dalam keadaan hati kita tidak sempurna. Jangan sampai puasa yang kita lakukan tidak sempurna. Kesempurnaan inilah yang dituntut, dan inilah ajaran qurban. Karena itulah, qurban yang kita lakukan itu harus sempurna.

Kedua, bahwa kita diminta untuk mengurbankan binatang, bukan pakaian, bukan tumbuh-tumbuhan, bukan manusia. Maksudnya adalah agar sifat kebinatangan yang ada pada diri kita ini bisa kita korbankan. Sifat kebinatangan itu antara lain: tamak, mengambil hak orang lain, tidak ada aturan. Islam mengajarkan untuk mengorbankan binatang agar sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita bisa kita enyahkan.

Sebenarnya, ibadah yang diperintahkan di dalam Islam itu mengenal waktu. Salat ada waktunya, yaitu pagi, siang, sore, malam, dan sebelum tidur. Puasa juga ada waktunya, yaitu di bulan Ramadhan. Zakat juga ada waktunya, yaitu setelah cukup setahun, setelah cukup satu kali panen, setelah cukup punya anak (untuk hewan ternak). Qurban juga ada waktunya, yaitu setelah satu tahun. Mengapa demikian? Hal ini hikmahnya agar kita menghargai waktu. Hal ini memberikan pembelajaran kepada kita, bahwa hidup kita ini juga ada waktunya. Pada saat terakhir kita mati, semuanya punya waktu. Dan inilah ajaran agama yang mendidik kita, karena itulah kita diminta untuk berkorban memotong binatang.

Kemudian Surah Al-Kautsar diakhiri dengan: innasyani akahuwal abtar (Sesungguhnya yang membenci engkau hai Muhammad ialah yang terputus rahmatnya). Artinya, bahwa mereka yang tidak mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad, maka orang tersebut tidak akan mendapat rahmat. Sehingga ada ulama yang menafsirkan, siapa yang tidak setuju dengan ibadah qurban ini, maka dia tidak akan mendapat rahmat dari Allah.

Jangan sampai kita membenci ajaran ini. Ada orientalis yang mengatakan, “Mengapa harus ditetapkan hanya pada ayyamu tasyriq? Mengapa tidak ditetapkan bahwa untuk membantu orang miskin?”

Sebenanrya korban ini juga adalah untuk membantu orang miskin. Ada seorang ulama dari Iran yang mengatakan, bahwa pada dua hari raya itu tidak boleh ada orang muslim yang meminta-minta. Kalau ada orang muslim yang meminta-minta pada dua hari raya, maka tanggung jawab dosanya adalah pada semua orang Islam. Mengapa? Karena pada Hari Raya Idul Fitri ada zakat fitrah, yang zakat ini harus dikeluarkan sebelum dilaksanakannya Salat Idul Fitri. Pada Hari Raya Idul Adha ada qurban yang harus disembelih setelah Salat Idul Adha. Karena itulah, pada Hari Raya Idul Adha tersebut tidak boleh ada orang Islam yang meminta-minta.

Innasyani akahuwal abtar
Yang membenci kamu adalah yang terputus (yang tidak mendapatkan rahmat).

Membenci bukan hanya terus terang kita mengatakan tidak suka, melainkan tidak melaksanakan ajaran Nabi Muhammad juga dianggap membenci. Karena itulah, yang tidak mau melaksanakan qurban juga dianggap membenci. Kalau kita mampu, maka setiap tahun kita berqurban. Mampu sapi, maka kita qurbankan sapi. Seekor sapi itu bisa untuk qurban tujuh orang. Tapi kalau kita hanya mampu untuk satu orang, maka qurbankanlah seekor kambing ataupun domba.

Berkaitan dengan qurban ini, ada seseorang yang pernah melihat pembagian daging qurban si salah satu masjid besar di Jakarta. Daging tersebut memang dibagikan kepada orang-orang miskin, tetapi ketika mereka keluar, maka daging tersebut langsung ditadah oleh penadah (dijual kepada penadah, kemudian penadah menjualnya lagi). Hal ini sepertinya selalu terjadi setiap tahun. Jika kita cermati dari kejadian ini, berarti ada sekelompok orang yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk keuntungannya.

Mencermati hal ini, kalau penadah itu membeli tidak dengan harga yang sangat murah, dan apalagi memang yang menerima qurban itu misalkan tidak membutuhkan semua daging yang dia terima itu untuk dimakan, maka tidak ada salahnya hal tersebut terjadi. Namun, jika penadah itu memang mau membeli daging yang tadinya 10 ribu kemudian dia membeli hanya 5 ribu, maka hal tersebut tentunya tidak boleh terjadi.

Apakah ukuran orang yang mampu untuk berqurban?

Seperti kita ketahui bersama, bahwa dalam zakat ada hitungannya (nisab). Lantas kemudian, apakah di dalam qurban juga ada nisabnya seperti halnya pada zakat?

Menurut Imam Malik, bahwa yang wajib zakat harta dianggap juga mampu untuk berqurban. Jadi, standardnya adalah orang yang wajib zakat harta. Menurut imam-imam yang lain, bahwa mereka yang mampu (dalam arti sudah bisa berqurban). Jadi, standardnya adalah tidak ada standard. Tergantung masing-masing orang, jika ia merasa sudah mampu untuk berqurban, maka alangkah lebih baiknya ia berqurban, tetapi jika ia merasa belum mampu, maka tak ada paksaan baginya untuk berqurban.

Apakah boleh berqurban dalam bentuk yang lain (bukan dalam bentuk penyembelihan hewan qurban)? Apakah daging qurban boleh diuangkan, untuk kemudian uang tersebut kita berikan kepada orang yang membutuhkan selain daripada daging qurban?

Akhir-akhir ini negeri kita sering dilanda musibah. Sebagai warga negara, tentunya kita ingin membantu saudara-saudara kita yang dilanda musibah tersebut. Berkaitan dengan Hari Raya Idul Adha, para dermawan memberikan bantuan berupa daging qurban. Namun, ternyata daerah yang terkena musibah tersebut lebih membutuhkan bantuan dalam bentuk yang lain (misalkan pakaian, beras, ataupun makanan instant), bukanlah dalam bentuk dahing qurban. Menyikapi kondisi ini, apakah diperbolehkan menurut syariah bahwa daging tersebut diuangkan, kemudian kita berikan bantuan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan saudara-saudara kita yang terkena musibah tersebut?

Hingga sekarang, tidak pernah ada ulama yang mengatakan bahwa qurban itu boleh diuangkan. Ada yang berpendapat, yang boleh adalah disembelih, kemudian disimpan, kemudian dikalengkan, lalu dibagi-bagikan kepada yang memerlukan setelah ayyamut tasyriq. Sama halnya dengan dam (bagi para jamaah haji). Dam itu tidak boleh diuangkan, tetapi boleh membayar dengan uang, untuk kemudian ditukar dengan hewan, kemudian hewan tersebut disembelih. Karena dam itu tidak ada batas waktunya (tidak seperti qurban yang ada batas waktunya), maka biasanya daging hewan yang disembelih itu dimasukkan ke dalam kaleng, kemudian dibagi-bagikan ke negara-negara miskin. Tetapi pada kasus qurban, jika qurban tersebut digantikan dengan uang, maka tidak pernah ada ulama yang menjelaskan kebolehannya.

Pada dam, yang jika diartikan bahwa dam itu artinya mengeluarkan darah, maka qurban juga mengeluarkan darah, sehingga tidak boleh dengan uang. Beda halnya dengan zakat fitrah. Ada mazhab yang membolehkan zakat fitrah tersebut diganti dengan uang, ada juga yang mengatakan tidak boleh. Tetapi kalau dam dan qurban, belum pernah saya baca literatur yang membolehkan diganti dengan uang. Mungkin suatu saat nanti ada ulama yang berpendapat seperti itu.

Apakah orang yang sudah meninggal dunia bisa kita gantikan qurbannya (badal qurban) seperti halnya menghajikan orang yang sudah meninggal dunia (badal haji)?

Mengenai hal ini, saya tidak pernah membaca mengenai badal qurban. Kalau badal haji memang ada aturannya di dalam Islam (literatur yang menyebutkan juga ada). Ada orang yang mengatakan mengenai badal shalat, badal puasa, badal zakat, tetapi ternyata yang ada aturannya hanya badal haji, sedangkan untuk yang lain tidak ada. Badal qurban pun tidak perlu dilakukan, karena

Menurut sebagian ulama, kewajiban berqurban itu cukup sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu. Kalau yang mampu itu sudah meninggal, maka bagi anaknya silakan berqurban secara sendiri-sendiri (tidak usah badal). [Aan]

- – - – - – - – - – - – - – - -
Disarikan dari Pengajian Umum yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Umar Shihab, M.A. pada tanggal 26 November 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta.

Transkriptor: Hanafi Mohan
- – - – - – - – - – - – - – - -

Tulisan ini dimuat di: http://thenafi.wordpress.com/

About these ads

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Pengaruh Agama di Dalam Kehidupan Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim

8 Komentar Add your own

  • 1. myrazano  |  12 Desember 2008 pukul 3:10 PM

    nabi ber qurban sedikitnya 40 ekor kambing setiap tahun
    bukankah berarti
    ” Menurut sebagian ulama, kewajiban berqurban itu cukup sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu ”

    masih perlu diperdebatkan lagi ???

    salam kenal dari http://myrazano.com

    Suka

  • 2. Hanafi Mohan  |  31 Desember 2008 pukul 9:05 AM

    terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

    Suka

  • 3. dian candra fatihah  |  19 Oktober 2009 pukul 10:56 AM

    bagus sekali penjelasannya.sy jd lebih mengerti dan paham dr arti berqurban.sy tunggu tulisan2 selanjutnya….!Sukses….

    Suka

  • 4. sudirman  |  8 November 2010 pukul 1:24 AM

    ibadah qurban hendaknya teraplikasi bagi yang mampu dengan memnyembelih domaba,sapi, dan unta, adapun yang belum mampu maka pada hari tasriq minimal ada satu sifat kebinatangan dalam diri kita yang harus di buang.saya tunggu tuliasan selanjutnya terutama standar umur hewan yang sempurna untuk diqurbankan..!semoga Allah merahmati kita semua.Amin

    Suka

  • 5. David  |  21 Mei 2011 pukul 11:04 PM

    Mantap
    Ma kasih sharingnyA

    Suka

  • 6. Pujex Carlox's blog  |  2 Juni 2011 pukul 4:58 PM

    [...] David on Makna Qurban [...]

    Suka

  • 7. Rizky Qomaril Prawirodihardjo  |  7 November 2011 pukul 1:43 AM

    perihal Iedul adha, haji & hewan yg di qurbankan:

    menyembelih /mematikan /menghilangkan SISI BINATANG yg seperti “kambing” (punya sifat yg suka berperang) juga “sapi” (yg juga dijadikan sbg simbol2 berhala ) itulah agar tidak terdapat pada orang tua, anak, keluarga, istri, sahabat, pemimpin s/d lingkup kenegaraan. maka sesungguhnya itu adalah jenis ternak yg banyak bermanfaat lalu sebarkanlah daging2 sembelih itu dengan perasaan IKHLAS (perumpamaan perasaan ibrahim thd ismail karena harus mengkorbankan yg sangat bernilai tinggi) olehmu sbg bahan makanan para fakir, dhuafa & musafir yg sedang berkumpul berdatangan sengsara dari segala penjuru yg jauh di (Baitullah) tanpa terpaksa pada saat itu, dan sampaikan berita secara perlahan (berbisik) kepada mereka bahwa syeiton sungguh2 musuh yang nyata dalam kehidupan dan juga persembahan2 berhala (pada saat itulah) yang disebut MUSYRIK lantas menjadi KAFIR yg paling tersesat agar kembali ke ajaran Allah SWT dan berkehidupan yg tenteram. ( terjemah pribadi QS 022, 30-33)

    Suka

  • 8. Rizky Qomaril Prawirodihardjo  |  7 November 2011 pukul 1:56 AM

    subject Iedul adha, haji animals wrote in qurbankan:

    kill/disable/remove the animals such as the “goat” (had the warlike nature of the reply) is also a “cow” (who also serve as simbol2 idols) that is not contained in the elderly, children, families, wives, friends, leaders until the scope of the State of the Union. then surely it is a type of cattle-lots of useful and spread the meat and whether it is with a feeling of SINCERE (parable of the good feeling of ibrahim against ismail having to forego wrote a very high value) by you as foodstuffs the indigent, disadvantaged travellers is assembled to arrive from all directions-miserable deep (House) without the forced at the time, and tell them the news slowly (whispering) to those that Satan was the real enemy in life as well as the offering of idols (at that time) called SHIRK outright DISBELIEVE most astray in order to return to the teachings of Allah and the ones with that serene mood. (translations of personal QS 022, 30-33)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 307,123 hits
Desember 2008
S S R K J S M
« Sep   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Innahum wahnun wa wahmu. Maalahum fii al-harbi 'azmu. Hum kabayti al-'ankabuuti. Hiinamaa yalqaahu syahmu. *Zalzil amna Israaiil* 3 hours ago
  • Qum zalzil zalzalah. Zalzil amna Israil. Taqaddam yaa abna Aqshana. Wa dukka al-ardha nirana. Wa zalzil amna Israil. Asy'il fiihi burkana. 13 hours ago
  • Tak usah terlalu mudah percaya dengan apa-apa yg anda baca, lihat, dan dengar, karena di sebalik itu lebih banyak lagi yg tak anda ketahui. 1 day ago
  • Beharap semoge name IAIN Pontianak diobah menjadi bename IAIN Sultan Syarif Yusuf Al-Qadri. cc: Pak @Edi_Kamtono - bit.ly/1qT9pav 1 week ago
  • Beharap semoge name IAIN Pontianak diobah menjadi bename IAIN Sultan Syarif Yusuf Al-Qadri. cc: @mas_arif_joni - bit.ly/1qT9pav 1 week ago

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: