Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim

10 Desember 2008 at 6:30 AM 1 komentar


Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim“. (Q.S. Al-Baqarah: 124)

Ayat ini mengisahkan mengenai Nabi Ibrahim, yang merupakan informasi dari Allah untuk kita jadikan semacam cermin apakah kita bisa mengikuti langkah Nabi Ibrahim, atau apakah kita kuat seperti Nabi Ibrahim dalam menghadapi tantangan yang diberikan oleh Allah terhadap keimanan dan ketakwaan kita. Jadi ini adalah alat untuk bercermin dalam rangka mengevaluasi diri.

Berbagai rangkaian ibadah di dalam Idul Adha adalah dalam rangka menapaktilasi perjalanan Nabi Ibrahim, untuk memperlihatkan kepada kita bagaimana patuhnya seorang hamba yang digelari dengan khalilullah. Khalil artinya teman karib. Jadi, khalilullah adalah teman karibnya Allah. Tetapi Allah tentunya tidak mungkin memiliki teman karib seperti halnya kita memiliki teman. Intinya adalah bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang sangat dekat dengan Allah. Yang mengantarkan Nabi Ibrahim hingga begitu dekat kepada Allah adalah karena kepatuhan yang tanpa reserve terhadap-Nya. Kalau secara umum ditanyakan kepada kita, apakah kita sudah termasuk sebagai orang yang sangat patuh kepada Allah? Kita lihat Ibrahim dahulu, barulah nanti kita bisa mengatakan, apakah kita sudah begitu patuh kepada Allah atau tidak.

Nabi Ibrahim lahir di Kota Urs-Babilonia. Dia lahir di lingkungan orang-orang yang menyembah berhala. Ayahnya sendiri adalah seorang tukang pembuat patung yang bernama Azar. Raja yang memerintah ketika itu bernama Nambrudz. Ketika Ibrahim masih kecil, dia sudah melihat bahwa apa yang dilakukan oleh ayah dan kaumnya itu merupakan suatu kebodohan, karena batu yang dibuat patung itu dibuat seindah-seindahnya, kemudian disembah.

Kalau berhala orang-orang zaman dahulu adalah berupa patung yang terbuat dari batu ataupun kayu. Tetapi apakah berhala orang zaman sekarang? Berhala masa kini mungkin bisa saja uang, kekuasaan, kecantikan, ataupun kedudukan. Untuk meraih semua itu, orang mau melakukan apa saja.

Kembali kepada Nabi Ibrahim,

Yang jelas, Nabi Ibrahim tidak suka dan dia merasa bahwa ayah dan kaumnya sangat bodoh, sehingga kemudian ia mengancurkan semua sembahan yang disembah oleh ayah dan kaumnya itu, kecuali patung yang besar. Ketika ia ditanya (seperti yang digambarkan dalam Surah Al-Anbiyaa’ ayat 51-66):

“Siapa yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” tanya kaumnya ketika itu.

Ibrahim berkata, “Tanyakanlah kepada patung yang besar, karena kapaknya ada padanya. Yang besar itu tidak senang karena yang kecil disembah juga. Karena itulah patung yang besar itu murka, lalu dihancurkannyalah patung-patung yang kecil-kecil itu.”

Lalu dijawab oleh kaumnya, “Tak mungkin, hai Ibrahim, karena patung itukan tak bisa berbicara.”

Ibrahim pun berkata, “Nah, sudah tahu patung itu tak bisa berbicara dan tak bisa melakukan apa-apa, tapi mengapa patung-patung itu masih juga disembah?”

Orang yang sudah tertutup pintu hatinya, bukannya kemudian terbuka dengan gugahan itu, tetapi malahan semakin murka. Akhirnya diputuskanlah oleh kaumnya, bahwa Ibrahim harus dihukum dengan cara dibakar.

Di sinilah dapat kita cermati, ujian pertama yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim dalam mempertahankan tauhidnya, sehingga ia rela mengorbankan diri dan jiwanya untuk kepatuhan kepada Allah. Dari sisi ini, bagaimanakah dengan kita? Apakah kita rela mengorbankan diri kita demi mempertahankan akidah? Tanyakanlah kepada diri kita masing-masing. Sepertinya kita sangat jauh dari apa yang telah diteladankan oleh Nabi Ibrahim.

Di dalam Surah Al-Anbiyaa’ ayat 69 disebutkan: Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim“.

Sehingga api itu tidak membakar dan api itu tidak mendatangkan cacat sedikit pun, tetapi tetap saja hati orang-orang kafir itu tidak terbuka. Mengapa bisa demikian? Di dalam Surah Al-Baqarah ayat 6 dan 18 disebutkan:

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Q.S. Al-Baqarah: 6)

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Al-Baqarah: 18).

Jadi, gugahan itu pun belum mampu membuka pintu hati orang-orang yang hatinya memang sudah tertutup. Yang membuat hati orang-orang tersebut tertutup adalah dosa. Apabila kita melakukan suatu dosa, biasanya hati kita merasa bersalah. Tetapi ketika kita melakukan dosa yang kedua, maka rasa bersalahnya sedikit berkurang. Ketika yang ketiga, semakin berkurang. Kalau sudah sepuluh kali, maka hati kita biasa saja. Hal ini terjadi karena hati kita mulai tertutup. Bukan Allah yang menutupnya, melainkan kita yang telah menutupnya dengan dosa.

Kembali kepada kisah Nabi Ibrahim,

Lalu kemudian Ibrahim pun diusir dari kaumnya. Pergilah Ibrahim ke Palestina bersama istrinya (Sarah) dan keponakannya (Luth). Tetapi kemudian, ternyata di Palestina pun Nabi Ibrahim tidak diterima dengan baik. Akhirnya Ibrahim pun pindah lagi ke Mesir.

Perjalanan Nabi Ibrahim ini sungguh jauh, yaitu dari Irak, kemudian ke Palestina, lalu ke Mesir, kemudian kembali lagi ke Palestina, apalagi perjalanan tersebut hanya dilakukan dengan unta ataupun berjalan kaki. Inilah perjuangan Nabi Ibrahim untuk mempertahankan akidah. Bandingkanlah dengan keadaan kita sekarang yang kadang akidah dan keimanan kita dikalahkan oleh hal-hal keduniawian, apalagi hal keduniawian itu adalah hal-hal yang tidak terlalu perlu untuk dilakukan.

Kemudian setelah kembali dari Mesir, Sarah (istrinya) menganjurkan kepada Ibrahim, kalau kiranya tidak mungkin dia akan mendapatkan anak (keturunan), lebih baik Nabi Ibrahim menikahi Hajar (budak perempuan yang dihadiahkan Raja Mesir kepadanya). Anjuran itu diterima oleh Nabi Ibrahim. Hajar kemudian dimerdekakannya, setelah itu Hajar dinikahinya. Dari pernikahannya dengan Hajar, lalu lahirlah Ismail.

Pada Surah Ash-Shaffat ayat 100 disebutkan: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Lalu kita hubungkan ayat ini dengan Surah Ibraahim ayat 39: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a.

Bukan seminggu dua minggu, bukan sebulan dua bulan, bukan setahun dua tahun, tetapi puluhan tahun doa tersebut didoakan oleh Nabi Ibrahim. Menurut riwayat, bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan anak pada waktu ia berusia 80 tahun, tetapi yang paling banyak mengatakan bahwa ketika ia berusia 90 tahun. Secara manusiawi dan hukum alam, bahwa pada umur seperti itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk mendapatkan anak. Tetapi di sinilah Allah baru memberikan Nabi Ibrahim anak. Dapat dibayangkan, betapa senang dan bahagianya, juga betapa berharganya oleh Ibrahim akan kehadiran Ismail. Tetapi apakah kemudian yang diujikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim?

Ketika Ismail lahir, Hajar tentunya gembira, begitu juga dengan Sarah. Tetapi ketika Ibrahim sudah memberikan perhatian yang sangat lebih kepada Ismail, mulai ada perasaan yang lain pada diri Sarah. Ia (Sarah) meminta kepada Ibrahim: “Jauhkanlah mereka dariku!”

Secara manusiawi, mungkin hal itulah sebabnya Nabi Ibrahim menjauhkan Hajar dan Ismail dari dirinya. Tetapi secara akidah, ini adalah ketentuan dari Allah. Dan Allah pula yang menunjukkan ke mana seharusnya Hajar dan Ismail ditempatkan. Kemudian diantarkanlah anak dan istrinya itu ke Mekkah. Bayangkanlah, jarak antara Palestina dengan Mekkah adalah sebulan perjalanan pergi dan sebulan perjalanan pulang. Padang pasir belantara, di situlah Allah tempatkan di sisi Baitullah Al-Haram yang ketika itu belum ada bentuknya tampak oleh manusia.

Setelah Nabi Ibrahim mengantarkan Ismail dan Hajar ke Mekkah, kemudian Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk pergi. Artinya, Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di tempat yang tidak ada tanaman, tidak ada air, dan tidak ada apapun kecuali batu dan pasir. Di dalam Alquran disebutkan:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Q.S. Ibraahim: 37).

Ketika Ibrahim membalikkan untanya, Hajar pun berkata, “Mengapa kami ditinggalkan di sini?”

Ternyata Ibrahim tidak mampu untuk menjawabnya. Hajar pun kemudian berpikir, mungkin berat bagi suaminya untuk menjawab. Kemudian untuk yang kedua, Hajar mengubah pertanyaannya, “Hai Ibrahim, apakah ini adalah perintah Allah?”

Dijawab oleh Ibrahim, “Iya.”

Hajar pun berkata, “Kalau begitu pergilah, hai suamiku. Apabila Allah memerintahkan sesuatu, pasti Dia tidak akan menzalimi dan menyulitkan kami.”

Kita bertanya pada diri kita sendiri, tak usah kita pikir seperti Nabi Ibrahim dahulu yang pergi meninggalkan anaknya dengan kegalauan hatinya, dengan perkataan, “Aku tinggalkan anakku di daerah yang tak ada tumbuh-tumbuhan di situ, Tuhanku?”

Inilah perasaan hati seorang ayah. Tetapi kita melihat Hajar, ketika Ibrahim mengatakan bahwa hal itu adalah perintah Allah, maka Hajar mengatakan, “Pergilah, Ibrahim. Apabila Allah memerintahkan sesuatu, pasti Allah tidak akan menyulitkan kami.”

Inilah keyakinan dari seorang perempuan. Dia rela ditinggalkan suaminya, dia rela sendiri hanya bersama anaknya yang masih kecil, hanya karena keyakinannya yang kokoh dan kuat kepada Allah.

Mari kita bertanya kepada diri kita, seyakin itukah diri kita kepada Allah? Untuk melaksanakann segala perintah-Nya, untuk menjauhi segala larangan-Nya. Ketika kita berdagang, Allah melarang kita untuk menipu. Sudahkah kita yakin, bahwa dengan tidak menipu, maka Allah tidak akan menzalimi kita? Ketika di kantor, kita tidak menerima sogok dan suap. Sudahkah kita yakin bahwa dengan tidak menerima sogok dan suap itu kita tidak akan dibiarkan oleh Allah untuk tidak makan? Inilah pertanyaan-pertanyaan mendasar, yang perlu kita tanyakan kepada diri kita. Sudahkah kita seperti Hajar, yang meyakini bahwa perintah Allah itu pasti tidak akan memberati kita.

Kita hapal dan mungkin selalu membacanya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. (Q.S. Al-Baqarah: 286)

Tetapi ketika kita diberi beban oleh Allah, seyakin itukah kita? Ini contoh yang luar biasa yang diberikan oleh Allah untuk kita. Mungkin kita akan mengatakan, bahwa untuk menjadi seperti Nabi Ibrahim mungkin kita tak sanggup: Nabi Ibrahim itu Rasulullah, Nabi Ibrahim itu Khalilullah. Sudahlah, tidak usah kita mencontoh Nabi Ibrahim, tetapi cukuplah kita mencontoh Hajar yang tak lain asalnya adalah seorang budak pemberian Raja Mesir kepada Sarah.

Tinggallah kemudian Hajar dan Ismail, sedangkan Ibrahim pergi, hanya sesekali ia datang menjenguk mereka. Kini kita lihat perjuangan Hajar. Di manakah kita bisa membuktikan bahwa Hajar begitu yakin?

Ketika bekal sudah habis, air susu pun sudah kering, anaknya juga menangis tiada henti, ternyata Hajar tidak putus harapan. Dari Bukit Shafa, ia melihat ke Bukit Marwa, fatamorgana, seakan-akan ada air di sana. Sepertinya ada harapan di sana. Ia melangkah menuju ke tempat itu. Sampai di sana, ternyata tidak ada apa-apa. Kemudian ia lihat ke arah anaknya, dan dia dengarkan anaknya menangis, lalu dia kembali lagi ke Bukit Shafa. Begitulah sampai tujuh kali, tidak pernah putus harapan. Inilah yang dikatakan oleh Allah, bahwa orang yang zalim pun tidak boleh putus asa, apalagi bagi orang yang beriman:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az-Zumar: 53)

Sekali dilangkahkan kaki, tidak pernah ingin berhenti, sampai Allah memberikan karunia. Karena itulah dinamakan “sa’i”. “sa’i – sa’a” artinya adalah usaha atau berusaha. Melangkah terus, sampai akhirnya pada yang ke tujuh kali, dilihatnya telapak kaki anaknya itu basah. Di situlah dia mulai menggali-gali. Ternyata airnya tak bisa terkumpul, karena di padang pasir, lalu dikatakannya, “zamzam…zamzam…”, yang artinya adalah “berkumpullah … berkumpullah….”

Ini dari segi usaha. Dari sisi lain, bahwa inilah kasih sayang dari orang tua. Karena itulah, bagi yang sudah beribadah haji, yang harus diingat adalah makna yang terdalam dari sa’i, yaitu mengingat kasih sayang ibu kita kepada kita. Bagi yang sudah ber-sa’i, maka sudah selayaknya ia mendatangi ibu dan ayahnya, lalu tunduk dan sujud, sambil berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah diriku dan kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”

Dia akan menjadi anak yang lebih baik kepada kedua orang tuanya daripada sebelum-sebelumnya. Apabila orang yang sudah pergi haji, tetapi kemudian tidak mampu untuk menjadi anak yang “birrul walidain”, mungkin kemabruran jauh dari hajinya.

Kembali kepada Nabi Ibrahim,

Karena Hajar sudah menemukan zamzam, dan kemudian orang sudah mulai ramai di Mekkah, kehidupan pun sudah mulai membaik. Kemudian, Nabi Ibrahim sekali-sekali datang ke Mekkah menjenguk Hajar dan Ismail (tidak dijelaskan oleh sejarah berapa kali Nabi Ibrahim datang ke Mekkah sebelum peristiwa penyembelihan Ismail). Dapat dibayangkan sesekalinya itu lebih dikarenakan jauhnya jarak antara Palestina dengan Mekkah. Pada kali yang ke beberapa itu, Nabi Ibrahim datang menjenguk ke Mekkah. Ketika itu, didapatinya Hajar dan Ismail tidak ada di tempat biasanya. Ditanyakannya kepada orang-orang di sekitar, ternyata diketahui bahwa keduanya sedang mengembala ternak di Arafah. Nabi Ibrahim pun kemudian menyusul ke sana. Ketika sampai di Arafah, hari sudah sore, ternyata Hajar dan Ismail sudah menuju ke Muzdalifah, lalu Nabi Ibrahim pun menyusul ke Muzdalifah. Dari Muzdalifah, mereka kemudian meneruskan perjalanan ke Mina. Di Mina, Nabi Ibrahim mengalami mimpi penyembelihan itu. Didalam Alquran disebutkan dijelaskan:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“. (Q.S. Ash-Shaaffaat: 102)

Dapat dibayangkan, betapa beratnya Nabi Ibrahim untuk menyampaikan hal tersebut. Anak yang didapat pada saat usianya sudah tua, dijenguk hanya sesekali, ketika anaknya itu dapat menjadi hiburan baginya (qurrata a’yun), dan dapat membantu tugas-tugasnya, Allah kemudian memerintahkan untuk menyembelih anaknya itu.

Nampak oleh Ismail kegalauan hati ayahnya, dan betapa beratnya ayahnya untuk melakukan perintah tersebut. Ismail adalah anak yang diberi pendidikan oleh Allah, seperti yang disebutkan pada Surah Ash-Shaaffaat ayat 101: Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

Melihat kegalauan ayahnya, Ismail pun berkata, “Ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah untuk melakukannya, insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.”

Ini adalah kepatuhan ayah dan anak terhadap Allah. Disembelih pun, si anak tetap mengatakan hal tersebut.

Ketika kedua-duanya itu telah betul-betul bulat untuk melaksanakan perintah Allah tersebut: Ibrahim telah mempersiapkan alatnya dan Ismail telah mempersiapkan jiwa dan mentalnya, lalu kemudian Ibrahim menaruh anaknya di tanah. Lalu kata anaknya, “Ayah, untuk lebih memudahkan, bukalah bajuku!”

Setelah dibuka, ternyata hal itu masih memberatkan Nabi Ibrahim. Ismail pun berkata, “Ayah, supaya ayah tak keberatan melihatku, maka tutuplah kepalaku dengan bajuku. Nanti, berikan bajuku ini kepada ibu.”

Dalam hal ini, tugas berat seorang ayah dibantu oleh anak, supaya ayahnya mampu untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Allah tersebut. Ibrahim melakukan tanpa berbicara apa-apa, lalu dia buka baju Ismail, kemudian ditelungkupkan dan dimiringkannya kepala Ismail. Ketika akan dimulai penyembelihan, Allah pun memanggil:

(104) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, (105) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Ash-Shaaffaat: 104-105)

Lalu kemudian Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar. Inilah balasan bagi orang yang berbuat ikhsan kepada Allah.

Ini semuanya merupakan ujian untuk Nabi Ibrahim. Ia lulus diuji ketika harus mengorbankan jiwanya. Ia juga lulus diuji ketika harus meninggalkan kampung halamannya. Ia tidak mudah melaksanakan ketika diuji dengan anaknya. Tetapi akhirnya dia pun lulus dari ujian tersebut. Bagi Nabi Ibrahim, tiada yang lebih dicintai dan dipatuhi kecuali Allah. Kecintaannya kepada Allah melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri, kampung halaman, harta, istri, dan juga anaknya.

Ujian-ujian Allah ini memberikan gambaran bahwa tidak ada pemberhalaan-pemberhalaan yang harus dilakukan oleh manusia. Setiap pemberhalaan itu harus diputus. Pemberhalaan itu adalah yang membuat kita lalai, lengah, lupa, bahkan membuat kita ingkar terhadap aturan Allah. Bagi Nabi Ibrahim, berhalanya yang dituntut untuk dikorbankan adalah anaknya (Ismail). Bagi kita, apa dan siapa berhala kita? Tanyankanlah kepada diri kita masing-masing. Apa dan siapa yang membuat kita selama ini selalu lalai, lambat dari mengingat dan mematuhi Allah, membuat kita lengah, lupa, dan yang membuat kita selalu melanggar perintah Allah? Maka potong dan kalahkanlah itu, sehingga tiada yang kita cintai dan patuhi kecuali hanya Allah. Kecintaan dan kepatuhan kita kepada yang lain itu merupakan dalam kerangka kecintaan dan kepatuhan kepada Allah.

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan haram dari empat bulan haram, seperti yang disebutkan pada Surah At-Taubah ayat 36. Bulan haram adalah bulan yang lebih dimuliakan dibandingkan dengan bulan yang lain. Empat bulan haram yang dimaksud yaitu: Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajjab.

Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram adalah tiga bulan yang berturut-turut yang merupakan bulan dalam rangka pelaksanaan ibadah haji agar dapat terlaksana dengan aman dan tenteram. Satu lagi terpisah, yaitu Rajjab.

Pada bulan Dzulhijjah, ada ibadah-ibadah penting yang itu adalah dalam rangka menapaktilasi perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Yang pertama adalah yang tidak bisa dilakukan kecuali di tempat yang telah ditentukan oleh Allah, yaitu di Baitullah dan sekitarnya (tanah haram dan sekitarnya) untuk pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Tidak ada dalil yang membenarkan bahwa jika kita pergi ke salah satu tempat yang dianggap keramat dan suci sebanyak tujuh kali maka akan sama dengan naik haji. Di beberapa daerah ada keyakinan seperti ini.

Sebenarnya apakah inti dari ibadah haji? Secara sederhana mungkin dapat kita katakan, bahwa haji adalah ziarah ke suatu tempat yang telah ditetapkan oleh Allah. Tetapi secara filosofis, bahwa haji adalah latihan meninggalkan dunia (latihan mati). Bagi yang sudah berhaji, mungkin terasa akan hal ini ketika meninggalkan kampung halaman untuk pergi haji. Setelah pulang lagi ke kampung halaman, apakah masih ada rasanya? Apakah buktinya kalau orang paham bahwa haji itu adalah latihan meninggalkan dunia? Yaitu ketika kecintaannya kepada dunia menjadi lebih kecil dibandingkan dengan sebelum dia berhaji. Kalau setelah berhaji, kecintaannya kepada dunia semakin besar, maka hajinya tersebut mungkin tidak mabrur.

Ketika kita melangkahkan kaki dari rumah untuk berhaji, maka kita dipisahkan dari dunia kita, dari segala bentuk kesenangan, dari kampung halaman, rumah, perabotan, anak dan keluarga yang kita cintai, yang semuanya kita tinggalkan dengan satu tekad, yaitu: labbaik allahumma labbaik.

Jadi, yang pertama, haji adalah latihan kita untuk meninggalkan dunia.

Kedua, ketika berhaji, kita mengenakan pakaian ihram (yang ini juga menapaktilasi Nabi Ibrahim). Ketika mengenakan pakaian ihram, kita melepaskan baju-baju kita, maka pada hakikatnya kita melepaskan segala macam atribut duniawi kita. Nama kita siapa, gelar kita apa, rumah kita di mana, kampung halaman kita di mana, kita publik figur atau bukan, harta kita sebanyak apa, yang semuanya itu kemudian menjadi habis, sama halnya ketika jasad kita berpisah dari ruh. Nama kita yang ada ketika itu (bagi pria misalkan), jika nama aslinya adalah Ahmad, maka namanya hanyalah Ahmad Abdullah (Ahmad si Hamba Allah), tidak peduli namanya mau panjang ataupun pendek, ada gelarnya atau tidak, mau rumahnya di mana pun, tak peduli semuanya, karena untuk urusan pulang hanyalah ‘Abdullah. Ketika itu yang terasa adalah: inna akramakum ‘indallaahi atqaakum.

Kalau sudah seperti itu, maka efek positifnya adalah menghilangkan segala bentuk kesombongan karena atribut. Selama ini kehidupan kita sebenarnya dibantu oleh atribut. Kita menjadi gagah dan bangga karena baju kita. Dan baju itu juga ada tingkatan-tingkatannya. Tapi baju yang dimaksud di sini bukan hanya sekedar baju yang menutupi aurat, baju yang dimaksud juga merupakan baju-baju yang lain yang mempermudah urusan kita.

Bayangkanlah ketika kita meninggal dunia untuk berhadapan dengan Allah, kita diantarkan oleh tiga komponen: dua komponen pulang, hanya satu yang selalu setia mendampingi kita. Keluarga yang disayangi dan harta yang dicintai akan pulang, sedangkan yang tinggal mendampingi kita hanyalah amal shaleh. Orang yang berhaji akan berpikir, bagaimana sesudah kepulangannya? Apa yang sudah dipersiapkannya? Inilah yang diingatkan oleh Umar ibn Khattab: Hitunglah dirimu sebelum malaikat datang menghitung dirimu.

Lalu kemudian, kita lanjutkan perjalanan Nabi Ibrahim, dan sekaligus menapaktilasi Nabi Adam melakukan thawaf.

Thawwaf secara ritual adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, diawali dari hajar aswad, ditempatkan Ka’bah sebelah kiri, dari sisi yang terluar, lalu kemudian makin masuk, sampai ke pinggir betul dari Ka’bah. Ini adalah thawwaf secara ritual. Sedangkan thawwaf secara hakikat adalah kehidupan kita sehari-hari semenjak kita lahir hingga mati. Awal thawwaf adalah kelahiran kita, akhir dari thawwaf adalah kematian kita.

Thawwaf di Baitullah tidak bentrok. Sepadat apapun orang, namun tidak ada yang terinjak-injak, tak ada yang sahut-sahutan dan marah-marahan. Tetapi di dalam thawwaf kehidupan: suami istri cekcok, anak dengan orang tua melawan, tetangga dengan tetangga berselisih, teman dengan teman marah-marahan. Lantas apa kira-kira perbedaannya, padahal sama-sama thawwaf?

Kalau thawwaf di Baitullah, pusat grafitasi gerakannya adalah satu, yaitu Ka’bah. Dalam rangka kepatuhan kepada Allah, andaikan dalam thawwaf kehidupan ini pusat grafitasi gerakannya juga satu, yaitu tawhidullah (kepatuhan kepada Allah), maka tidak akan terjadi percekcokan. Suami dan istri yang patuh kepada Allah, maka tidak akan cekcok. Anak yang patuh kepada Allah, maka takkan melawan terhadap orang tuanya. Tetangga yang patuh kepada Allah, maka akan mengerti hak tetangganya. Pedagang yang patuh kepada Allah, maka akan mengerti hak pembelinya. Begitulah seterusnya. Kalau kewajiban kita sudah dilakukan, maka hak orang lain pasti akan terpenuhi. Terjadinya percekcokan biasanya karena ada hak orang lain yang terambil dan tertindas oleh kita.

Bagi yang sudah berhaji, maka persoalannya adalah mempertahankan kemabruran. Bagi yang belum berhaji, maka persoalannya adalah meraih kemabruran. Yang paling sulit bukanlah meraih, melainkan mempertahankan. Untuk itulah, kita harus sering-sering melakukan wukuf. Wukuf dalam arti bukanlah wukuf di Arafah. Wukuf di Arafah adalah berhenti, diam, tenang selama setengah hari. Kita ingat peristiwa Nabi Adam dan Hawa ketika keduanya telah keluar dari surga karena melakukan pelanggaran. Apakah yang mereka ucapkan kepada Allah, seperti yang termaktub pada Surah Al-A’raf:

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi“. (Q.S. Al-A’raaf: 23)

Intinya, bahwa kita semuanya tidak ada yang terlepas dari dosa, karena kita bukan malaikat yang diproyeksikan oleh Allah untuk tidak pernah salah. Kita diberikan oleh Allah bekal, yang bekal itu memungkinkan kita untuk salah dan juga memungkinkan kita untuk benar, memungkinkan kita untuk menyimpang dan juga memungkinkan kita untuk lurus. Karena itulah Allah mengatakan: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Q.S. Al-Balad: 10)

Dua jalan tersebut ada yang lurus dan ada pula yang menyimpang. Yang lurus banyak onak dan duri, banyak hambatan dan tantangannya. Tetapi yang menyimpang itu sesuai dengan nafsu manusia. Karena itulah banyak dari kita yang menjadikan setan sebagai teman, sementara kita setiap saat mengucapkan: auzubillahi minasy syaithanirrajim. Mengapa setan tetap kita jadikan sebagai teman, sementara kita juga selalu ber-ta’awwuz kepada Allah? Karena apa yang diinginkan oleh setan itu sesuai dengan nafsu kita.

Jadi, wukuf yang dimaksudkan adalah evaluasi diri. Sediakanlah waktu kita untuk bertanya kepada diri ini. Apa yang sudah kita lakukan hari ini? Rencana apa yang harus kita lakukan untuk esok? Allah mengingatkan: Carilah dengan semua karunia Allah itu kehidupanmu yang bahagia di akhirat, jangan lupa dunia. Tetapi kita sering membaliknya: carilah dunia, jangan lupakan akhirat, atau lupakan saja akhirat. Karena itulah, Rasulullah mengingatkan: Merenung diri sejenak itu akan lebih baik daripada ibadah sunnat satu tahun. Mengapa? Karena dengan perenungan itu, kita akan menemukan siapa kita yang sebenarnya, dari mana kita, sedang di mana kita, akan ke mana kita, dan apa bekal kita nanti di hadapan Allah.

Perjuangan kita setiap saat dalam menghadapi diri tidak pernah berakhir. Itulah yang secara ritual dilakukan dengan cara melempar jamrah. Melempar jamrah itu bisa tiga hari ataupun bisa juga empat hari. Pada hari yaumunnahar melempar jamrah ‘aqabah, ditambah dengan dua atau tiga hari tasyrik. Tetapi, melempari (menjamrahi) diri kita sendiri harus dilakukan berkali-kali setiap hari. Pagi mungkin kita bisa menang, siang kita hampir kalah, karena itulah, lempari lagi, lempari lagi. Lempari lagi segala hal yang menghambat kita dari mengingat dan mematuhi Allah, serta dari segala pelanggaran-pelanggaran itu.

Mudah-mudahan, kita akan termasuk sebagai orang-orang yang bisa meneladani Nabi Ibrahim yang begitu banyak ujiannya, namun dia mampu menghadapi semuanya. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan predikat yang mulia di sisi Allah dengan meneladani apa yang telah diajarkan oleh Allah. Jangan pernah berhenti berdoa, jangan pernah berputus asa, karena Allah selalu menyertai perjuangan kita. Insya Allah. [Aan]

- – – – – – – – – – – – – -
Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Dr. Hj. Isnawati Rais M.A. pada tanggal 30 November 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta.

Transkriptor: Hanafi Mohan
– – – – – – – – – – – – – -

Tulisan ini dimuat di: http://thenafi.wordpress.com/

About these ads

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Makna Qurban Ibadah Haji

1 Komentar Add your own

  • 1. Nilai-Nilai Moral di Seputar Ibadah Haji « The Nafi’s Story  |  28 November 2009 pukul 10:08 AM

    [...] terkait: – Ibadah Haji – Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim – Makna Qurban – Provokator [...]

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 321,800 hits
Desember 2008
S S R K J S M
« Sep   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: