Tafsir Surah An-Nabaa ayat 31-40

29 Januari 2009 at 3:30 PM 3 komentar


Orang-orang yang bertakwa itu dapat apa?

Ayat 31

Inna lilmuttaqiina mafaazaa.

“Sesungguhnya untuk orang-orang yang bertaqwa itu mafaazaa.”(Q.S. An-Nabaa: 31)

Kata “mafaazaa” terambil dari kata “fauz”. “Fauz” itu dari segi bahasa biasanya diterjemahkan menang, kemenangan. Apa artinya menang itu?


Pertama, kita lihat dari segi bahasa. Jika ada pertandingan, hasil dari pertandingan itu bagaimana? Jawabannya, ada yang menang, ada yang kalah, dan mungkin ada yang seri. Kalau yang kalah, dia mendapatkan sesuatu yang tidak disenanginya. Kalau yang seri, dia tidak mendapatkan apa yang tidak disenanginya, dan tidak juga mendapatkan apa yang ia senangi, dia tidak kalah dan tidak juga menang. Kalau yang menang, dia terhindar dari yang apa yang ia tidak senangi, sekaligus mendapatkan apa yang ia senangi.

Kalau dalam bahasa Al-Qur’an, “fauz” itu artinya terhindar dari bencana, sekaligus memperoleh keselamatan. Terhindar dari siksa, sekaligus memperoleh rahmat Allah. Oleh karena itu, Al-Qur’an menggunakan kata “fauz dalam arti pengampunan dosa sehingga dia tidak tersiksa, dan perolehan surga sehingga ia mendapat nikmat. Ketika lebaran misalkan, ucapannya adalah: “minal a-idin wal faizin.” “al-faizin” adalah orang-orang yang memperoleh pengampunan Allah sekaligus memperoleh surga-Nya.

Kata “mafaazaa terambil dari kata “fauz”. Sehingga “mafaazaa” dapat diartikan mendapat kemenangan. Namun ada juga yang mengartikannya sebagai tempat kemenangan. Kalau dikatakan, dia menang (faza), maka tidak tergambar tempatnya. Tapi jika dikatakan “mafaazaa”, dia memperoleh tempat orang-orang yang menang, dia berada di sana. Di manakah tempat orang-orang yang menang itu? Yaitu di suatu tempat di akhirat nanti, itulah surga.

Sehingga An-Nabaa ayat 31 di atas dapat juga diartikan: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat tempat kemenangan, yaitu mendapat surga ilahi.”

Ayat 32

Hadaa-iqa wa a’naabaa.

“Yaitu kebun-kebun dan buah anggur.” (Q.S. An-Nabaa: 32)

Dalam bahasa Al-Qur’an ada istilah, “jannah” itu adalah suatu tempat yang biasa kita artikan “taman”. Tetapi kalau “hadaa-iq” biasa diartikan “kebun”. Apa perbedaan taman dengan kebun? Bedanya, taman belum tentu ada buahnya, tapi kalau kebun ada buahnya.

Dalam bahasa Al-Qur’an, kalau ia berkata “hadaa-iq” atau “hadiqah”, maka di situ dia memiliki tiga hal pokok: 1) suatu tempat yang pemandangannya indah, 2) ada buah-buahan yang lezat, dan 3) memiliki aroma yang harum.

Jadi, orang-orang yang bertaqwa itu mendapat tempat kemenangan di surga, tempat kemenangan itu adalah: Kebun-kebun, yaitu tempat yang pemandangannya indah, ada buah-buahan yang lezat dan beraneka ragam, dan memiliki aroma yang harum.

“Yaitu kebun-kebun dan buah anggur.” Kalau kita berkata buah anggur, itu maksudnya satu atau banyak? Sebenarnya anggur itu bermacam-macam. Menurut bahasa Al-Qur’an, jika ia untuk menunjukkan banyak maka dinamakan “a’naab”. Tapi jika satu adalah “inaab”. Karena itu lebih cenderung untuk diterjemahkan “dan beraneka ragam buah anggur”, supaya kentara bahwa itu beraneka ragam, bukan satu, karena bentuknya adalah bentuk jamak, bukan bentuk tunggal.

Ayat 33

Wa kawaa’iba atraabaa.

“dan gadis-gadis remaja yang sebaya” (Q.S. An-Nabaa: 33)

Dari segi bahasa, “kawaa’ib” itu jamak dari “ka’ab”. “ka’ab” itu artinya tumit. Tumit itu bagaimana? Yaitu menonjol keluar. Jadi, Al-Qur’an menggambarkan, bahwa gadis-gadis remaja itu adalah gadis-gadis yang baru tumbuh “payudaranya” seperti tumit. Ini adalah makna dasarnya. Kawaa’ib = gadis-gadis remaja yang baru tumbuh. Atraabaa=yang sebaya, artinya umurnya sama semuanya. Mereka mendapat di sana “kawaa’iba atraabaa”.

Sering ada pertanyaan, mengapa cuma gadis yang disebut di surga? Berarti Al-Qur’an itu diskriminatif?

Patut diketahui, bahwa sebenarnya Al-Qur’an itu sering kali menjaga perasaan perempuan. Cukuplah diisyaratkan kepada mereka, bahwa apapun yang mereka inginkan itu akan mereka peroleh di sana. Perempuan oleh Al-Qur’an dilukiskan sebagai makhluk yang memiliki rasa malu yang tinggi. Sehingga menyebut hal-hal yang berkaitan dengan seks, yang berkaitan dengan hubungan lelaki dengan perempuan terkadang tidak disebut oleh Al-Qur’an.

Sebagai contoh, yang mana contoh itu sebenarnya keliru, ketika orang mengartikan “khur’in” dengan bidadari. Karena kesannya bidadari itu hanya perempuan. Kalau kita mempelajari kata yang ditunjuk oleh Al-Qur’an dengan apa yang kita terjemahkan menjadi bidadari itu sebenarnya kata yang tidak menunjukkan jenis kelamin tertentu, sehingga bisa lelaki ataupun bisa perempuan. “Khur” itu bentuk jamak. Tunggalnya bisa “ahwar” ataupun “haura”. “Ahwar” itu maskulin, sedangkan “haura” itu feminin. “Ahwar” itu bisa berarti sempit, juga bisa berarti lebar, sedangkan “‘in” artinya mata. Sehingga kalau dikatakan “khur’in” bisa berarti lelaki yang lebar atau sempit matanya, bisa juga artinya perempuan yang lebar atau sempit matanya. Yang lebar atau sempit matanya ini bisa berarti lebar atau sempit dalam arti kiasan, juga bisa berarti lebar atau sempit dalam arti hakiki. Kalau kita artikan hakiki misalnya, bahwa ada orang yang senang pasangannya itu matanya sipit. Atau ada juga orang yang senang matanya terbuka. Kalau dalam arti majazi (kiasan), misalnya orang yang sempit (matanya sipit) berarti tidak mata keranjang, hanya tertuju pada pasangannya. Kalau yang matanya lebar berarti matanya terbuka berarti wawasannya atau pengetahuannya luas. Namun karena kita sudah menerjemahkan “khur’in” dalam arti bidadari, dan karena pikiran kita selalu tertuju kepada seks, maka “khur’in” selalu saja diartikan bidadari. Padahal tidak selalu dalam arti tersebut (bidadari).

Ayat 34

Wa ka’saan dihaaqaa.

“dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).” (Q.S. An-Nabaa: 34)

ka’” itu artinya gelas yang berisi minuman keras. Gelas yang berisi air putih biasa tentunya tidak bisa dinamakan “ka’”, karena memang isinya bukan minuman keras. Gelas yang tidak berisikan minuman keras dinamakan “kud” ataupun “aqwaab” artinya gelas-gelas. Tapi kalau dikatakan “ka’” itu artinya gelas yang berisi minuman keras. Jadi, di hari kemudian nanti orang akan minum minuman keras. Tetapi berbeda minuman keras itu dengan minuman keras di dunia ini.

Kata “dihaaqaa” artinya yang penuh. Jadi arti dari “ka’san dihaaqaa” adalah gelas-gelas yang penuh berisi minuman. Apakah gelas yang penuh itu otomatis berisi minuman? Tentunya tidak bisa kita gambarkan. Gelas-gelas yang berisi permata, apakah bisa? Tentunya tidak tepat.

Ini berarti jika dikaitkan dengan ayat lain, “wa aqwaabun maudhu’a” artinya gelas-gelas yang diletakkan yang sesuai dengan selera yang mau minum. Jadi kalau “aqwaab” boleh jadi isinya air putih, atau teh, atau anggur, atau susu, dan semua diletakkan dan diberikan sesuai dengan selera.

Kalau “ka’saan” sudah tertentu isinya, yaitu gelas yang berisi minuman keras. Gelas itu “dihaaqa”, pertama artinya “penuh”, dan juga ada juga yang mengartikan “berturut-turut”. Belum puas satu gelas, datang lagi gelas yang lain, belum puas, datang lagi gelas yang lain.

Ayat 35

Laa yasma’uuna fiihaa laghwaan wa laa kidz-dzaabaa.

“Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.” (Q.S. An-Nabaa: 35)

“Di dalamnya”, maksudnya di dalam apa? Apakah di dalam surga atau di dalam mana? Ada yang mengartikan, dan mudahan-mudahan ini baik: “di dalam gelas itu tidak ada sesuatu yang menjadikan orang yang meminumnya melakukan sesuatu yang sia-sia atau kebohongan.”

Inilah bedanya gelas yang penuh dengan minuman keras di surga dengan gelas yang penuh dengan minuman keras di dunia. Bedanya, kalau yang di dunia, dalam minuman keras itu terdapat zat yang bisa membuat orang yang meminumnya menjadi ngomong melantur, bohong, dan sebagainya.

Laa yasma’u nafiiha kalau diartikan di surga juga betul. Tapi sebenarnya ayat ini pada kata “nya” itu adalah menunjuk pada kata yang terdekat dari “nya” tersebut, yaitu “ka’san” atau gelas itu, bukan surga.

Apa artinya “”laghwaan”? “laghwaan” itu artinya adalah sesuatu yang sewajarnya tidak ada. Dia belum tentu haram. Tetapi tidak pantas ada. Contohnya: pada shalat Jum’at, khatib sedang khutbah, kemudian si-A menegur si-B yang ada di dekatnya yang saat itu sedang berbicara, “Hei B jangan berbicara!” Teguran dan larangan si-A terhadap si-B itu apakah haram? Tentunya tidak haram menegur dan melarang seperti itu.

Kita berbicara ketika khatib berkhutbah pada Shalat Jum’at, kita menegur dan melarang orang yang sedang berbicara ketika khatib berkhutbah, apakah haram? Tentunya juga bukan haram. Tetapi itu dinamakan Rasulullah dengan “laghwaan”: “Izaa kul talishahibika yaumal jumuati anshit faqad laghaw”. Dalam kehidupan keseharian kita di dunia ini sering kali terlalu banyak perbuatan ataupun ucapan yang kita lakukan walaupun tidak haram tapi tidak ada gunanya. Orang yang minum minuman keras biasanya melantur omongannya. Bisa jadi omongannya benar, tetapi itu tidak pantas diucapkan.

Sedangkan di surga, seseorang tidak mendengar perkataan yang sia-sia, dan tidak pula perkataan dusta. Perkataan dusta itu adalah perkataan yang haram. “tidak mendengar”, bukan dikatakan “tidak mengucapkan”. Di sana kita tidak mendengar ucapan yang sia-sia. Contohnya: Saya lagi belajar, kemudian tidak jauh dari saya dalam waktu yang bersamaan ada orang yang menghafal Al-Qur’an tapi dengan suara yang keras. Apakah saya yang sedang belajar terganggu? Ya, tentunya saya terganggu.

Nah, kita di surga tidak mendapat gangguan apapun., apalagi kebohongan. Kita menikmati apa yang kita ingin dengarkan. Kita ingin mendengar radio, kemudian ada storing, itu dinamakan “laghwaan”.

Ayat 36

Jazaa-an min rabbika ‘athaa-an hisaabaa.

“Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (Q.S. An-Naba: 36)

jazaa” artinya “pembalasan”. Membalas (memberi imbalan), sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan akibat atau sebagai dampak dari apa yang kita lakukan. Contohnya: Si-A nakal, kemudian Si-A saya balas sebagai apa yang telah dilakukannya. Pembalasan saya tersebut adalah akibat apa yang si-A lakukan terhadap saya. Si-A membantu saya, kemudian saya beri Si-A imbalan. Imbalan saya ini adalah karena Si-A membantu saya.

“ ‘athaa-an” artinya adalah “pemberian tanpa ada sesuatu yang kita lakukan”. Contohnya: Ketika saya sedang berjalan, kemudian saya lihat ada pengemis, lalu saya memberi pengemis itu uang. Apakah yang saya berikan itu imbalan atau bukan? Itu bukan imbalan.

Ada persoalan di kalangan ulama, bahwa surga itu apakah imbalan atau pemberian? Apa yang telah kita lakukan, sehingga surga itu menjadi imbalan?

Misalkan Si-A membantu Si-B, lalu bantuan Si-A itu dilakukan sehingga Si-B berkewajiban memberikan imbalan. Apakah Si-A bisa menuntut Si-B jika Si-B tidak memberikan imbalan? Ya, Si-A bisa saja menuntut Si-B.

Apakah kita bisa menuntut Tuhan jika kita tidak diberikan surga? Apakah yang selama ini kita kerjakan, sehingga kita patut mendapat imbalan berupa surga dari Tuhan?

Kalau dikatakan bahwa surga itu adalah “jazaa-an” (imbalan), nanti ada problemanya. Kalau kita katakan itu adalah “jazaa-an”, maka itu bukan lagi “ ‘athaa-an” (pemberian).

Ulama-ulama berkata: kita itu dalam melakukan berbagai macam kebajikan sebenarnya bukan untuk Tuhan. Melainkan sebenarnya adalah untuk diri kita. Kalau seperti itu, kita perlu imbalan atau tidak? Ya, tidak perlu imbalan, karena semua kebajikan itu kita lakukan untuk diri kita sendiri.

Kalau demikian, apa artinya imbalan di sini? Karena Tuhan menjanjikan untuk memberi sesuatu, maka “jazaa-an” itu adalah imbalan yang diberikan akibat janji Tuhan terhadap makhluk-Nya. Bukan akibat kerja (amal) kita sebagai makhluk-Nya. Janji Tuhan atau imbalan yang dijanjikan Tuhan ini diberikan kepada makhluk-Nya, dan pemberian-Nya itu dan apa yang makhluk-Nya terima itu adalah anugerah, bukan imbalan. Jadi, imbalan-Nya berkaitan dengan janji, bukan berkaitan dengan amal kita.

Dalam sebuah hadits disebutkan: Rasulullah berkata, “Bahwa tidak ada yang masuk surga karena amalnya.” Lalu sahabat bertanya, “Kamu juga ya Rasulullah?” dijawab Rasulullah, “Ya, saya juga, kecuali kalau Allah menganugerahkan rahmat kepadaku.”

Waktu kita membaca tentang penghuni neraka, dikatakan bahwa “jazaa-an wifaaqa” (sebagai pembalasan yang setimpal). Kalau untuk penghuni surga dikatakan: “jazaa-an min rabbika ‘athaa-an hisaabaa”. Kalau untuk penghuni neraka hanya dua kata, yaitu “jazaa-an” dan “wifaaqa”. Sedangkan untuk penghuni surga adalah: “jazaa-an”, “min rabbika”, “ ‘athaa-an hisaabaa”.

Jazaa-an min rabbika” (dari Tuhanmu), yaitu apa yang kita terima itu semuanya bersumber dari Allah. Sedangkan apa yang diterima oleh penghuni neraka adalah bersumber dari dirinya sendiri, bukan dari Allah. Inilah bedanya. Apa yang kita tanam, buahnya kita terima di sana. Dan buah yang kita terima itu tidak lebih dari apa yang kita tanam di dunia. Kalau apa yang kita terima dari surga sumbernya adalah dari Allah. Sesuai atau tidak? Malahan mungkin berlebihan, yaitu “Anugerah yang cukup banyak”

hisaabaa” artinya cukup, tidak butuh yang lain lagi. “hasbi Allah” artinya cukuplah Allah saja, tidak perlu yang lain.

Ada sebuah doa: hasbi su-aalii ilmuhu bihaalii, yang artinya “cukup saya tidak perlu meminta, karena saya mencukupkan bahwa dia tahu keadaan saya.”

Jadi, yang pertama “hisaabaa” itu artinya cukup.

Yang kedua, “hisaabaa” artinya yang disiapkan. Ganjaran yang diterima seseorang dari Allah Swt sudah disiapkan oleh Allah Swt. Apa yang dilakukan oleh manusia itu terhitung oleh Allah Swt ganjarannya. Ada yang dapat 10 kali lipat, ada yang dapat 700 kali lipat, bahkan ada yang dapat tidak terhingga jumlahnya.

Ayat 37

Rabbissamawaati wal-ardhi wa maa baynahumaa ar-rahmani laa yamlikuuna minhu khithaabaa.

“Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.” (Q.S. An-Nabaa: 37)

Rabbissamawaati wal-ardhi wa maa baynahumaa ar-rahman, artinya “balasan dan anugerah dari Tuhanmu yang cukup, dan Tuhanmu itu adalah pemelihara langit dan bumi dan apa yang terdapat di antara keduanya.”

laa yamlikuu naminhu khithaabaa, artinya “mereka itu tidak dapat berbicara dengan Dia.”

La yamlikuu” artinya “tidak memiliki wewenang”, “naminhu” artinya “berbicara dari Allah”. Dan siapapun yang tidak memiliki wewenang berbicara, maka tidak mungkin berbicara. Kalau kita katakan tidak memiliki wewenang berbicara, maka bicaranya itu apakah kepada Tuhan atau kepada siapapun? Contohnya: Anda diam tidak punya wewenang bicara! Apakah kita boleh berbicara dengan orang yang ada di dekat kita. Ya, tidak boleh. Itu arti yang pertama.

Kemudian bisa juga diartikan seperti ini: mereka itu tidak dapat/tidak memiliki wewenang untuk berbicara dengan-Nya (dengan Allah). Maksudnya, kita tidak bisa mengajukan keberatan kepada Allah atas apa saja yang telah diputuskan-Nya.

Ayat 38

Yawma yaquumu ar-ruuh wal-malaaikatush-shaffaa laa yatakallamuuna illaa man adzina lahu ar-rahmanu wa qaala shawaabaa.

Yawma yaquumu ar-ruuh wal malaaikatusshaffa, artinya “Pada hari itu ruh dan malaikat akan tampil dengan sempurna dalam shaf”

ar-ruuh” maksudnya adalah Malaikat Jibril. Berarti semua malaikat ada di satu shaf, dan ada satu shaf lagi yang hanya di tempati ruh, yang ruh itu adalah malaikat jibril. Ada yang juga yang mengartikan

ar-ruuh” itu adalah ruhnya manusia. “Pada hari ketika ruh yakni ruh seluruh manusia berdiri dalam satu shaf dan malaikat pun berdiri dalam satu shaf”. Berarti shafnya ada dua.

Ada juga yang mengartikan bahwa shaf itu hanya satu, karena di sini dikatakan “shaffan” yang merupakan bentuk tunggal. Jadi semuanya (manusia dan malikat) berdiri hanya dalam satu shaf (satu barisan).

Ada juga yang mengartikan seperti arti di atas, yaitu bershaf-shaf. “Pada hari itu akan berdiri bershaf-shaf.”

Kalau dikatakan “Tolong luruskan shaf”, maksudnya satu shaf atau banyak shaf? Bisa berarti satu shaf dan juga bisa berarti banyak shaf.

laa yatakallamuuna illaa man adzinalahu al-rahman, artinya “tidak ada yang bisa berbicara kecuali yang diizinkan oleh Allah”

wa qaala shawaabaa, artinya “dan ia mengucapkan kata yang benar.” Atau juga bisa diartikan, “dan apa yang ia bicarakan itu haruslah pembicaraan yang benar.” Tidak ada yang bisa berbicara, kecuali jika ada izin dari Allah, dan kalaupun bisa berbicara maka haruslah dengan pembicaraan yang benar.

Ayat 39

Dzalikal-yawmul-haq famansyaa-attakhadza ilaa rabbihi ma-aabaa.

Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, maka niscaya ia akan menempuh jalan kembali kepada Tuhanmu. (An-Naba: 39)

Ayat 40

Innaa andzarnaakum ‘adzaabaan qariibaa yawma yanzhurul-mar-u maa qaddamat yadaahu wa yaquulul-kaafiru yaalaytanii kuntu turaabaa.

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah“. ()

Innaa andzarnaakum ‘adzaaban qariiba, artinya “Sesungguhnya kami telah memberikan kepada kamu wahai seluruh manusia siksa yang dekat”

Dari dulu siksa itu selalu dikatakan oleh Tuhan sudah “dekat”. Sekarang, siksa itu masih jauh atau sudah dekat?

Pada prinsipnya makna “dekat” itu adalah bahwa semua yang akan datang itu selalu “dekat”. Kita bandingkan, satu menit dibandingkan dengan satu jam itu cepat. Satu jam dibanndingkan dengan satu hari itu cepat. Satu hari dibandingkan dengan satu minggu itu cepat. Satu minggu dibandingkan dengan satu bulan itu cepat. Satu bulan dibandingkan dengan satu tahun itu cepat. Satu tahun dibandingkan dengan ajal kita itu cepat. Ajal kita dibandingkan dengan kiamat itu cepat.

Datangnya kiamat itu orang hanya bisa menduga bahwa itu tidak lebih dari satu hari, yang itu bisa dikatakan cepat (dekat). Ketukan jam dinding memang menunjukkan, tetapi itu bukanlah waktu yang sebenarnya, namun ketukan jantung kitalah waktu yang sebenarnya. Jadi, semua yang bakal datang itu cepat.

yawma yanzhurul-mar-u maa qaddamat yadaahu, artinya “pada hari itu setiap orang akan melihat apa yang pernah dilakukannya”

wa yaquulul-kaafiru yaalaytanii kuntu turaabaa, artinya “orang kafir berkata: Seandainya saya menjadi tanah saja.”

Orang kafir berkata seperti itu ketika mereka melihat binatang-binatang dibangkitkan oleh Allah, yang pernah membuat kekejaman terhadap yang lainnya diberi balasan, setelah itu Allah menyatakan: “Hai binatang, kau menjadi tanah saja, selesai urusan kamu.”

Ketika itu orang kafir akan berkata, “Enaknya kalau saya hanya menjadi tanah, sehingga saya tidak disiksa.”

Sedangkan orang mukmin ketika itu akan berkata, “Coba dari dulu saya cepat mati.” Karena begitu nikmatnya surga. []

Disarikan dari Pengajian Tafsir Al-Misbah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, M.A. pada tanggal 19 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

About these ads

Entry filed under: Islamika, Tafsir. Tags: , , , , .

Pelajaran dari Peristiwa Hijrah Menjadi Ummatan Wasathan

3 Komentar Add your own

  • 1. rinyuh  |  3 Februari 2009 pukul 9:43 PM

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Perkenankan saya untuk ikut berbagi perihal Digital Qur’an v3, sebuah aplikasi Windows buatan Bpk. Sony Sugema yang menampilkan ayat dalam bahasa Arab, terjemahan dalam bahasa Indonesia/Inggris, sekaligus suara pembacaan dari ayat yang dimaksud.

    Semoga bermanfaat. Terimakasih.

    Wassalam

    Suka

  • 2. nur ilmiyah  |  11 September 2009 pukul 3:31 AM

    salaam..

    mohon sampaikan ucapan terima kasih saya yang sebesar-besarnya pada Syaikh Quraish, karena beliaulah yang membuka mata hati saya sehingga segala kesalahan2 pemikiran saya yang terdahulu dapat saya sadari…semoga
    ALLAH meridahi syaikh Quraih

    Suka

  • 3. haruka  |  29 November 2009 pukul 11:29 AM

    Khusus untuk surrah An-Nabaa ayat 33.
    Anda mengatakan “Kawaa ‘ib” itu berarti “Menonjol”, yg kemudian anda asumsikan bahwa kata menonjol itu adalah “Payudara”.

    Coba anda cek Al-Qur’an pada surrah yg lain!
    Ka’bah di dalam Al-Qur’an dikatakan sebagai Kawaa ‘ib, yg mengandung arti sbg “Yang Menonjol” dikarenakan hanya Ka’bah saja di dunia ini tempat yg paling byk dikunjungi manusia, dan itu tidak bisa dipungkiri.

    Nah, mengapa anda asumsikan Kawaa’ib sbagai “Payudara yg baru tumbuh”???
    Memangnya Ka’bah ada payudaranya???

    Ka’bah kan benda mati, berbentuk kotak, jelas2 tidak memiliki payudara.

    Nah, tolong janganlah campurkan kata Kawaa ‘ib sbg payudara yg menonjol, krn kata Kawaa ‘ib dipakai jg untuk melukiskan Ka’bah sebagai tempat yg menonjol.

    Kita semua tahu, kalau Bidadari adalah makhluk yg sempurna, dan kata bidadari “hurr” tdk bermakna feminin maupun maskulin, jadi kenapa anda mengartikan kata Kawaa ‘ib menjadi payudara yg menonjol????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 315,812 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Istane Qadriyah, Kesultanan Pontianak. http://t.co/ghPtnWEwz1 7 hours ago
  • ...arona pelangi di cakrawala, khabarkan risalah tak berujung batas, saujana pandang di sempadan langit dan bumi. [Risalah] #puzzle 19 hours ago
  • Dan semua kata-kata besar di dunia ini takkan cukup untuknya. [Senandung Rindu Sang Putera Negeri] #puzzle 19 hours ago
  • Asa telah menjadi kobar semangat. Cita meruap-ruap bakar haus dahaga. Takdir dikejar-kejar dalam ketakpastian. [Lekuk Nostalgia] #puzzle 19 hours ago
  • Negeri yang di’azam laksana permata nila Kilaunya gilang gemilang Cemerlang di tiap sudut Benua [Negeri di ‘Azam Cita] #puzzle 20 hours ago

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: