Tangga-Tangga Agar Kita Mendapatkan Cinta dari Allah (lanjutan)

7 Februari 2009 at 11:06 AM 4 komentar


Tangga ke empat

Menurut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa kecintaan kita kepada Allah Swt harus diprioritaskan, harus diutamakan dibandingkan cinta kita kepada diri kita sendiri, bahkan harus diutamakan daripada cinta kita kepada makhluk.

Sudah menjadi fitrah manusia, bahwa kebutuhan dirinya harus lebih diutamakan daripada kebutuhan orang lain. Kemudian Allah meminta kita agar cinta kita kepada-Nya itu lebih hebat dibandingkan cinta kita kepada diri kita sendiri. Atau kita harus mengutamakan cinta kita kepada Allah daripada cinta kita kepada diri sendiri.

Melakukan upaya ini bukanlah hal yang mudah. Menurut Ibnu Qayyim, cinta seseorang kepada Allah itu akan terganjal karena 3 (tiga) hal:

1) Kalau seseorang memperturutkan hawa nafsunya.

2) Kalau seseorang memperturutkan hawa nafsu orang lain.

3) Kalau seseorang memperturutkan bisikan-bisikan syaithan.

Tiga hal ini menjadi penghalang bagi setiap orang untuk mengutamakan cintanya kepada Allah daripada cintanya kepada dirinya sendiri. Begitu beratnya upaya ini, karena tiga tantangan atau halangan itu berada pada diri kita serta berada pada sekitar kita.

Contoh: Sekarang ini cinta kita kepada Allah, tapi kita juga cinta kepada diri kita, kemudian juga cinta kepada isteri atau suami kita, kemudian juga cinta kepada anak kita. Sekarang Allah menginginkan agar cinta kita kepada-Nya lebih hebat dibandingkan cinta kita kepada diri kita, dan cinta kita kepada orang lain yang ada di sekitar kita.

Kalau isteri membujuk kita untuk melakukan sesuatu, yang sesuatu itu bertentangan dengan tuntunan Allah, maka itu akan berbahaya. Karena itu, harus kita tahu apakah permintaan-permintaan dari yang mencintai kita itu sesuai dengan tuntunan Allah ataukah bertentangan dengan tuntunan Allah. Yang banyak terjadi pada kita sekarang ini adalah terpenuhinya harapan dari orang-orang yang mencintai kita dan orang yang kita cintai, lalu atas permintaannya kita melakukan sesuatu perbuatan, padahal perbuatan yang kita lakukan itu bertentangan dengan tuntunan Allah. Kalau itu yang terjadi, maka kita tidak memprioritaskan cinta kita kepada Allah. Kita lebih memprioritaskan cinta kita kepada makhluk.

Karena itu, maka tiga tantangan ini harus diwaspadai, karena kedekatan tiga tantangan itu sangat dekat dari diri kita.

Pada tantangan pertama, seseorang harus mampu menekan hawa nafsu. Hawa adalah keinginan, sama halnya dengan syahwat. Jadi hawa nafsu artinya keinginan jiwa. Syahwat juga keinginan jiwa. Setiap orang punya hawa nafsu dan punya syahwat. Kalau seseorang sudah tidak memiliki hawa nafsu dan tidak memiliki syahwat, berarti orang itu sudah tidak punya jiwa. Kalau seseorang sudah tidak punya jiwa, berarti dia memiliki kelainan jiwa, atau memang dia sudah mati dalam pengertian mungkin mati berpisah roh dari badannya, atau mati dalam arti dia sudah tidak punya rasa dan keinginan.

Karena itu, setiap orang punya hawa nafsu dan setiap orang punya syahwat. Bahayanya kalau sesorang sudah tidak punya hawa nafsu dan tidak punya syahwat, maka dia sudah tidak punya gairah hidup lagi. Maka dia sudah tidak mempunyai keinginan untuk apa saja. Kalau orang seperti ini, maka tidak akan mungkin lagi melakukan kreasi, tidak akan mungkin lagi mengadakan pembaharuan, tidak akan mungkin lagi melakukan perbuatan-perbuatan lebih daripada yang diinginkannya. Dan itu berbahaya.

Kalau hawa nafsu dimiliki oleh setiap orang, kemudian syahwat itu dimiliki oleh setiap orang juga, maka hawa nafsu dan syahwat itu terbagi atas 2 (dua), yaitu: hawa nafsu yang mengarah kepada kebaikan, dan hawa nafsu yang mengarah kepada kejahatan. Jadi hawa nafsu itu tidak langsung kita vonis bahwa dia negatif. Contohnya: kalau Bapak dan Ibu seminggu yang lalu sudah berniat untuk mengikuti pengajian, maka yang memiliki kemauan itu adalah hawa nafsu. Seseorang yang ingin melakukan suatu pekerjaan apa saja, hal itu karena didorong oleh hawa nafsu. Orang mau berbuat baik karena hawa nafsu. Orang mau berbuat jahat karena hawa nafsu. Orang mau mengerjakan shalat karena hawa nafsu. Orang mau berpuasa karena hawa nafsu. Orang mau berzakat karena hawa nafsu. Karena hawa nafsu itu terdiri atas yang baik dan yang buruk, maka hawa nafsu terbagi atas dua.

Itulah sebabnya, hawa nafsu itu harus diarahkan kepada hal yang baik-baik. Syahwat itu harus diarahkan kepada hal-hal yang baik-baik. Kalau syahwat itu diarahkan kepada hal yang buruk, maka kita pasti akan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Kalau hawa nafsu kita mendorong kita kepada yang baik, maka kita akan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik.

Dalam pembagian nafsu, ada nafsu muthmainnah, nafsu lawwamah, dan nafsu ammarah. Yang mau kita buat hati kita itu adalah al-muthmainnah.

Mengekang dan mengendalikan hawa nafsu bukanlah sesuatu yang gampang. Karena hawa nafsu berada di dalam diri kita. Dia tidak akan pernah berada di luar. Sepanjang kita hidup, hawa nafsu itu selalu ada. Dan kalau kita masih hidup, maka hawa nafsu itu akan tetap hidup terus. Hanya saja nanti, ada orang yang hawa nafsunya besar, tetapi tenaganya tidak ada. Keinginannya begitu luar biasa, tapi ia tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan keinginan itu. Yang punya hawa nafsu seperti itu biasanya orang-orang yang sudah tua.

Jadi, hawa nafsu itu terdorong atau mendorong sesorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Itulah sebabnya, Nabi mengingatkan kita, “Ightanim khamsan qabla khamsin, syababaka qabla haramika,” gunakan dan manfaatkan tenaga anda ketika anda masih muda sebelum anda masuk pada usia lanjut. Pada usia muda, hawa nafsunya itu menggelora dan menggebu-gebu, dan ditopang oleh kemampuan fisik yang luar biasa. Tapi kalau seseorang memasuki usia lanjut, bergelora hawa nafsunya, tetapi kekuatannya sudah banyak yang berkurang.

Jadi, gunakanlah masa mudamu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Jangan menunggu masa tua. Tetapi biasanya masa muda kita lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapi ketika usia sudah mulai lanjut, baru mulai sadar, yaitu mulailah berpikir ke masjid, mulailah berpikir menambah ilmu keislaman, mulailah berpikir untuk selalu menghadiri pengajian zikir, dan sebagainya.

Dan di hadits lain juga disebutkan: “Seseorang yang mendapatkan naungan dari Allah Swt di akhirat nanti pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan Allah adalah pemuda yang tumbuh dan berkembang dengan melakukan ibadah.” Ketika masih muda ibadahnya rajin, ketika akan memasuki senja ibadahnya juga rajin, dan ketika memasuki usia tua, ibadahnya tetap rajin. Jadi ibadahnya itu rajin mulai dari usia muda sampai dengan usia tua.

Hawa nafsu kita harus dikekang, harus ditekan, sehingga nafsu-nafsu yang mengarahkan kita kepada hal-hal yang negatif kita jauhi, dan kita bawa nafsu itu kepada hal-hal yang positif, yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Seperti yang telah disebutkan, bahwa tidak mudah bagi setiap orang untuk melepaskan diri dari hawa nafsunya. Karena hawa nafsu setiap saat ada bersama kita selama hayat masih di kandung badan.

Di dalam hawa nafsu itu ada potensi baik dan juga ada potensi buruk. Dua hal ini selalu berperang. Bagaimana mengatasi ini? Jika kita meyakini bahwa pekerjaan itu baik, dan ada bisikan yang mengatakan jangan, maka kita langsung mengatakan, bahwa anjuran jangan itu adalah dari syaithan.

Kemudian bagaimana seseorang bisa menekan hawa nafsunya agar dia terlepas dari itu? Imam Ibnu Qayyim mengemukakan, bahwa ada 7 (tujuh) cara untuk hal tersebut:

Pertama, kita harus menyadari bahwa kita diciptakan oleh Allah Swt bukan untuk menuruti hawa nafsu (dalam arti negatif), melainkan kita diciptakan oleh Allah Swt adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ini adalah persoalan yang tidak mudah untuk dilakukan.

Kedua, kita meyakini bahwa hawa nafsu negatif itu membawa dampak negatif. Dampak negatif itu akan menurunkan derajat kita sebagai manusia yang dimuliakan oleh Allah Swt. Kita menyadarkan diri kita, bahwa hawa nafsu yang negatif itu akan mengantarkan kita kepada dampak yang negatif, yang pada akhirnya akan menurunkan derajat kita yang mulia di mata Allah Swt. Menurut firman-Nya, Allah berkata: bahwa Kami sudah mengangkat derajat manusia itu ke tingkat yang paling baik. Tetapi jika mereka menuruti hawa nafsunya, maka Kami akan mengembalikan mereka ke tingkat yang lebih rendah, bahkan tingkat mereka itu menjadi lebih rendah dibandingkan hewan. Di dunia manusia itu lebih rendah dari tingkatan hewan. Di akhirat nanti manusia tersebut menjadi lebih rendah tingkatannya dibandingkan manusia-manusia yang ada. Orang yang melakukan hal-hal yang negatif di dunia ini memang akan diturunkan oleh Allah derajatnya. Yang tadinya hebat, ketika berbuat tidak baik, maka derajatnya akan menjadi turun. Tidak hanya di mata Allah Swt, tetapi juga pada pandangan manusia. Bahkan, kalau seseorang itu tingkat kemuliaannya belum terlalu tinggi, jika ia jatuh maka ia tidak akan menjadi terlalu berat. Tetapi jika orang yang sudah tinggi derajatnya, kalau ia jatuh, maka jatuhnya akan luar biasa.

Ketiga, kita harus sadar, bahwa hawa nafsu itu akan menghancurkan niat luhur seseorang. Maksudnya, bahwa seseorang yang mengikuti hawa nafsunya, akibatnya adalah segala cita-cita luhur orang tersebut akan menjadi hancur.

Keempat, akibat dari mengikuti hawa nafsu itu akan menimbulkan akibat-akibat yang fatal bagi seseorang. Jadi, menuruti hawa nafsu akan mengakibatkan lahirnya akibat-akibat yang fatal bagi seseorang. Mungkin dalam kondisi tertentu dia tidak merasakan akibat fatal itu. Tetapi pada saat tertentu dia merasakan bagaimana dampak dari mengikuti hawa nafsunya. Mungkin pada saat melakukannya dia tidak merasa sangat menyesal atas perbuatannya. Tetapi pada saat tertentu, orang tersebut akan menyesali begitu luar biasanya. Karena biasanya kalau seseorang sedang mengikuti hawa nafsunya, dan hawa nafsunya itu ada motor pendorongnya, dia tidak mengingat yang dilakukannya. Ketika dia sudah melakukan sesuatu yang tidak benar itu baru ia sadar, mengapa ia melakukan itu. Dan dia akan menyesalinya sungguh luar biasa ketika ia menyadari dirinya sudah melakukan perbuatan itu. Hal ini karena pada saat dia melakukan suatu perbuatan atas dorongan hawa nafsu, nafsu itu tidak berdiri sendiri, melainkan ada syaithan yang selalu memompa-mompa dia. Ketika perbuatan tersebut sudah ia lakukan, kemudian setannya pergi, barulah setelah itu timbul penyesalan dalam dirinya. Karena pendorongnya sudah hilang, tinggallah kita sendiri sebagai pelaku perbuatan tersebut.

Kelima, seseorang yang menuruti hawa nafsunya pada hakikatnya dia menghilangkan kenikmatan-kenikmatan yang menenangkan dirinya. .

Keenam, menuruti hawa nafsu adalah sebuah kekalahan. Karena itu harus kita sadari, bahwa kita harus berada pada pihak yang benar. Ketika kita menginginkan pada pihak yang benar, maka kita harus mendorong hawa nafsu kita berada pada posisi yang benar pula.

Ketujuh, seseorang yang menentang hawa nafsu itu mendapatkan banyak keuntungan. Tidak hanya keuntungan di dunia, tetapi juga keuntungan di akhirat.

Mudahkah kita melakukan yang tujuh itu? Sungguh sangat sulit. Tetapi kita harus berusaha untuk melakukan hal tersebut, walaupun usaha itu selalu berhadapan dengan hawa nafsu yang selalu diliputi oleh syaithan yang ada pada diri kita.

Upaya pertama, yang harus kita lakukan untuk mendapatkan cinta Allah adalah bahwa kita harus berupaya untuk lebih mencintai Allah dengan cara menekan hawa nafsu kita. Yaitu dengan cara mengendalikan hawa nafsu yang negatif ke arah hawa nafsu yang baik dan positif. Kita menyadarkan diri kita dengan tujuh cara di atas. Sehingga kita tidak lagi menuruti hawa nafsu-hawa nafsu jahat yang ada pada diri kita.

Upaya kedua, yaitu menentang dan menjaga agar kita tidak tergoda oleh hawa nafsu dari orang lain. Yang kita cintai di dunia ini begitu banyak. Seseorang boleh jadi sangat cinta kepada ibu dan ayahnya. Ketika dia berumah tangga, bertambahlah cintanya kepada suami atau istri. Dan kecintaannya kepada ayah dan ibunya juga tidak akan hilang, walaupun sudah bertambah cintanya kepada istri atau suami. Setelah memiliki anak, maka bertambahlah kecintaan itu kepada anak. Belum lagi kecintaan kepada benda-benda dunia, harta, jabatan, dan sebagainya. Yang kesemuanya itu diakui atau tidak akan semakin menjauhkan kecintaan kita kepada Allah Swt.

Jadi, karena dimensi cinta kita di dalam kehidupan ini lebih banyak dan lebih besar, maka tantangannya itu jauh lebih besar dibandingkan dengan menahan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Menahan hawa nafsu dari dalam diri kita hanya mengorbankan diri kita sendiri. Tetapi jika dimensi cinta kita sudah banyak, maka yang mana yang harus didahulukan, itulah yang paling berat. Apalagi kalau yang kita cintai dan yang mencintai kita itu adalah orang-orang yang tidak paham tentang cinta kepada Allah Swt. Karena itu tuntunan Islam dalam memilih orang yang akan menjadi pasangan kita itu adalah orang yang “beragama”. Karena persoalannya nanti akan menjadi besar setelah kita menjadi suami istri. Yang pasti persoalannya tidak sedikit.

Dalam kehidupan kita, tantangan dalam kehidupan tersebut jauh lebih banyak dibandingkan dengan tantangan yang muncul dari dalam diri kita sendiri. Kalau yang mencintai itu sudah banyak mendorong kita kepada hal-hal yang bertentangan dengan agama, kalau kita tidak memiliki keyakinan yang kuat dan kita tidak mempunyai kesadaran yang tujuh tersebut di atas, maka kita akan terjerumus kepada perbuatan-perbuatan yang negatif, karena kita tidak sanggup mengekang dan menahan hawa nafsu yang ada pada diri kita.

Ini tantangannya sungguh luar biasa. Karena semua manusia yang ada di hadapan kita itu boleh jadi suatu saat menjadi malaikat, boleh jadi suatu saat menjadi syaithan. Karena syaithan itu tidak mempunyai wujud, ia bisa berwujud dalam bentuk jin, dan juga bisa berwujud dalam bentuk manusia.

Upaya ketiga, kita harus menentang bisikan dan ajakan syaithan yang mendorong kita untuk berbuat kejahatan. Yang ketiga ini juga begitu sulitnya, karena syaithan itu tidak berwujud. Karena tidak berwujud, maka hampir kita tidak bisa membedakan yang mana yang bisikan syaithan dan yang mana yang bukan bisakan syaithan. Mana yang menjadi dorongan syaithan dan mana yang tidak. Kita tidak bisa membedakan mana perbuatan yang didorongnya itu baik dan mana yang tidak baik. Kalau seseorang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sehingga ia sanggup membedakan mana perbuatan baik dan mana yang perbuatan buruk, maka boleh jadi yang baik itu dipandangnya buruk semua dan yang buruk itu dipandangnya baik semua. Karena itu di dalam agama kita selalu diminta untuk mencari ilmu kapan saja dan di mana saja. Jangan karena sudah tua kita tidak mau mencari ilmu, jangan karena kita selalu gampang lupa lalu kita tidak mau mencari ilmu. Karena itu, untuk mengetahui bahwa ini adalah ajakan syaithan atau bukan, yang pertama adalah bahwa syaithan itu selalu mengajak kita kepada hal-hal yang negatif. Tetapi persoalannya, sanggupkah kita membedakan apakah ini negatif atau tidak. Yang bisa membedakan yang negatif dan yang tidak adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang hal yang baik dan tentang hal yang buruk. Misalkan, seseorang baru tahu bahwa perbuatan yang pernah dilakukannya itu adalah perbuatan yang tidak baik adalah di saat ia menanyakannya kepada orang yang mempunyai pengetahuan tentang hal-hal baik dan tentang hal-hal yang buruk tersebut. Jadi, ciri khas syaithan ialah bahwa syaithan itu selalu mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Kesimpulannya, bahwa untuk mendapatkan cinta Allah kepada kita itu bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika kita mendapatkan atau memberikan cinta kepada seseorang atau orang yang ada di dalam lingkungan kita, maka di situ terdapat kendala untuk mendahulukan cinta kita kepada Allah daripada cinta kita kepada diri kita dan cinta kita kepada makhluk-makhluk yang lain yang ada di luar diri kita. Karena sering kali fitrahnya manusia itu adalah mendahulukan dirinya sendiri daripada yang lain. Termasuk mendahulukan perintah Allah atas keinginan dirinya sendiri. Apalagi ia berada pada suasana lingkungan sosial di mana banyak orang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu dipandang tidak baik di dalam agama.

Agar cinta kita itu lebih besar kepada Allah, maka: yang pertama, kita harus sanggup untuk mengekang hawa nafsu kita. Yang kedua, kita harus sanggup menentang hawa nafsu dari orang-orang yang mencintai kita yang mendorong kita untuk berbuat yang tidak baik. Dan yang ketiga, kita harus mampu untuk menentang dorongan-dorongan dari syaithan yang selalu mendorong kita untuk berbuat buruk. Kalau kita sanggup menahan diri dari tiga godaan tersebut, maka cinta kita lebih utama kepada Allah daripada cinta kita kepada diri kita, dari cinta kita kepada makhluk yang ada di sekitar kita, dan dari godaan syaithan yang selalu mendorong kita. Mudah-mudahan bisa kita lakukan. []

Disarikan dari Pengajian Tasawwuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A. pada tanggal 25 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

About these ads

Entry filed under: Islamika, Tasawwuf. Tags: , , .

Bershalawat; Menciptakan Kelapangan di Dalam Dada Trackback dan Mencari Bahan Menulis Blog

4 Komentar Add your own

  • 1. Sani  |  8 Desember 2009 pukul 2:11 AM

    subhanallah bahasan keren banget…

    Like this

  • 2. candra mulia batubara  |  8 Juni 2010 pukul 3:06 AM

    trm ksh ustz ats tulisan nya dan saya minta maaf krn telah mengkopi nya terlebih dahulu tuk bahan rujukan dan ingatanku…
    ustz boleh kah saya bertanya ;;
    bagaimanakah kita mengatasi nafsu yang semakin menggelora ???

    Like this

  • 3. tyrayudiz  |  16 Juli 2011 pukul 6:15 AM

    waduh makasih buanget juragan atas info ne…..

    Like this

  • 4. dijual  |  16 Juli 2011 pukul 6:17 AM

    good job ….

    artikel nya ber manfaat

    Like this

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 297,248 hits
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: