Saddudz Dzara-i’ dan Al-Bara’ah Al-Ashliyyah

13 Maret 2009 at 3:29 PM 2 komentar


Pada pertemuan sebelumnya telah dikaji seputar hukum-hukum (dalil-dalil) selain Alquran, Hadis, Ijma’, dan Qiyas, yang ternyata ada beberapa dalil yang menjadi pegangan para ulama dan mujtahid sejak di era sahabat hingga saat ini. Terakhir yang dikaji adalah Al-Maslahah Al-Mursalah, yaitu maslahah (kebaikan-kebaikan) atau menafikan kemudharatan, tetapi tidak ada penjelasan dari Allah dan Rasulullah bahwasanya kemaslahatan tersebut dianjurkan (baik) ataupun ditolak (buruk). Kalau maslahah itu dijelaskan oleh Allah diterima, maka para ulama tidak berbeda pendapat mengenainya. Begitu juga kalau suatu kebaikan itu memang tak pernah dianggap, bahkan jelas-jelas dinyatakan oleh Allah sebagai suatu keburukan, maka para ulama pun tak berbeda pendapat mengenai hal tersebut.

Tetapi pada Mashalih Mursalah, para ulama terbagi menjadi beberapa kubu. Berkaitan dengan Mashalih Murasalah ini, ada satu hal yang menarik pada Mazhab Maliki. Pada Mazhab Maliki, jika ada perempuan muda, cantik, dan mempunyai posisi di masyarakat (baik karena keluarganya memang keluarga terhormat ataupun kedudukan-kedudukan yang lainnya), kalau perempuan ini menikah, kemudian melahirkan anak, maka dia tidak wajib menyusui anaknya. Perempuan dengan kriteria seperti ini boleh tidak menyusui anaknya, anaknya itu boleh disusukan kepada orang lain (kalau sekarang mungkin juga bisa menggunakan susu instant/susu botol). Padahal alasannya itu sepele, yaitu supaya si perempuan tetap cantik, penampilannya tetap menarik, sehingga ia boleh mengorbankan anaknya untuk tidak disusui.

Mengapa bisa demikian? Karena ini untuk maslahah, biar perempuan itu di hadapan suaminya tetap menarik, sehingga suaminya tidak terpesona dengan perempuan lain. Maslahah ini terkesan bertabrakan dengan maslahah yang lain, yaitu maslahah untuk kesehatan anaknya. Padahal para dokter sudah menyatakan, bahwa konsumsi yang paling bagus untuk bayi tersebut adalah ASI. Tak hanya sebatas itu, dalam Alquran juga disebutkan dan menganjurkan agar para ibu menyusui anaknya:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah: 233)

Di dalam kajian Ushl Fiqh, ayat di atas merupakan kalimat khabariyah yang bermakna insya-iyah (berita tetapi substansinya adalah perintah), bahwa ibu-ibu itu harus menyusui anak-anaknya. Mengapa kemudian Mazhab Maliki membolehkan para ibu untuk tidak menyusui anaknya, sementara alasannya terlalu sepele untuk mengabaikan kesehatan anak dan untuk meninggalkan perintah Allah. Berkaitan dengan ini, ada dua hal, yaitu:

Pertama, bahwa Al-Mashalih (kebaikan) tidak menyusui itu karena melihat kebaikan, yaitu agar penampilan seorang perempuan tetap menawan. Maslahah ini pada prinsipnya termasuk mukhashshis (yang mengkhususkan) dari ayat tadi. Pada ayat tersebut artinya bahwa semua ibu-ibu harus menyusui anaknya, yang hal ini berlaku umum. Ternyata ini di-takhshis atau dikecualikan dengan maslahah. Sehingga dalam kasus ini, maslahah menurut Mazhab Maliki termasuk penjelas. Dalam hal ini, sama halnya dengan ayat:

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Ali Imraan: 97)

Ini juga termasuk ayat-ayat yang berbentuk khabariyah tetapi bermakna insya-iyah. “…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah…”. Ayat ini berlaku umum, karena bahasanya itu adalah “an-naas (manusia)”, siapapun manusianya itu. Ternyata ayat ini di-takhshis oleh kondisi. Pertama, tidak semua manusia wajib. Kalau mereka bukan muslim, maka tidak wajib mengerjakan haji.

Seperti juga ayat ini, menurut Mazhab Hanafi, ternyata ayat 233 Surah Al-Baqarah tersebut masih bisa di-takhshis. Hal seperti itu adalah kebiasaan orang Arab sejak zaman sebelum Rasulullah lahir, bahkan Rasulullah sendiri disusui oleh orang lain. Hal ini akan diperjelas dalam al-‘adah awil ‘urf (‘urf), yang melalui dalil inilah Mazhab Maliki menentukan bahwa para ibu boleh tidak menyusui anaknya dengan alasan untuk menjaga kecantikan, boleh disusui oleh orang lain (kalau sekarang mungkin juga bisa menggunakan susu instant/susu botol). Tapi sekali lagi, ini menurut Mazhab Maliki, tidak berlaku bagi mayoritas ulama (jumhur ulama). Maslahah yang seperti ini tidak mu’tabarah (tidak diakui).

Saddudz Dzara-i’

Selanjutnya, ada juga dalil-dalil selain Alquran, Hadis, Ijma’, dan Qiyas, yang menurut ulama Ushl Fiqh disebut Saddudz Dzara-i’. Sad artinya memotong atau menolak. Dzara-i’ artinya adalah al-wasilah atau jalan perantara (batu loncatan) yang bisa mengantarkan seseorang melakukan hal-hal yang buruk. Contohnya: menanam anggur, apakah itu boleh atau tidak?

Dzara-i’ itu adalah jalan perantara yang akan mengantarkan kepada perbuatan yang buruk. Jalan ini pada asalnya adalah boleh. Bahkan tidak mustahil adalah sunnah. Tetapi karena jalan tersebut mengantarkan kepada sesuatu yang haram, maka jalan tersebut di-sad (dipotong/ditolak). Contohnya adalah menanam anggur, paling tidak itu adalah boleh, atau bisa jadi dianjurkan, yaitu ketika di tempat itu satu-satunya tanaman yang bisa hidup hanyalah anggur, atau paling tidak hal itu dibolehkan (mubah).

Tetapi, kalau menanam anggur ini memang diprediksi akan mengantarkan pada suatu kondisi dijadikan khamr (minuman keras), maka menanam anggur tersebut dilarang. Apakah dalilnya? Di Alquran, dalil mengenai hal ini memang tidak ada. Malahan di Alquran disebutkan, bahwa salah satu pohon di surga adalah anggur. Di Hadis juga tak disebutkan, di Ijma’ tak ada kesepakatan, di Qiyas juga tak bisa dianalogikan. Tetapi kita tahu, bahwa khamr itu dilarang oleh Alquran, sehingga hal-hal yang bisa mengantarkan kepada khamr tersebut juga dilarang. Dalil mengenai anggur dilarang dan tak boleh ditanam adalah Saddudz Dzara-i’.

Begitu juga dalam hal jual-beli. Jika kita menjual sesuatu yang dibolehkan, tetapi ketika ada yang membelinya untuk maksud yang haram dan terlarang, maka menjual barang itu kepada yang bermaksud terlarang tersebut hukumnya adalah haram. Padahal menjualnya itu mubah. Apakah dalilnya sehingga dilarang? Dalilnya adalah Saddudz Dzara-i’. Hal ini tak ada di dalam Alquran, Hadis, dan dalil-dalil yang lain, kecuali akan ditemukan pada Saddudz Dzara-i’ yang artinya itu adalah melarang atau memutuskan hal-hal yang bisa mengantarkan kepada yang terlarang.

Pada prinsipnya, Saddudz Dzara-i’ ini ada tiga:

Pertama, bahwa Dzara-i’ (perantara) itu memang dipastikan akan mengantarkan pelakunya kepada sesuatu yang haram. Maka dalam hal ini, para ulama tidak berbeda pendapat, sehingga hukumnya memang haram.

Kedua, Dzara-i’ (perantara) itu biasanya mengantar kepada keburukan. Dalam hal ini pun para ulama tidak berbeda pendapat bahwa hal tersebut hukumnya adalah haram. Diperkirakan di atas 50% hal tersebut akan mengantarkan seseorang menjadi pelaku haram.

Ketiga, hal tersebut setengah-setengah akan mengantarkan kepada keburukan dan juga takkan mengantarkan kepada keburukan. Maksudnya, ada kemungkinan hal tersebut akan mengantarkan kepada keburukan, dan ada juga kemungkinan takkan mengantarkan kepada keburukan. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Jika suatu referensi menyatakan bahwa para ulama berbeda pendapat (khilafiyah) mengenai Saddudz Dzara-i’, maka maksudnya adalah jenis yang ketiga ini.

Mengenai hal ini, disebutkan dalam Alquran, misalkan kita jelas-jelas diperintahkan hanya menyembah Allah, kita dilarang menyekutukan Allah, ataupun menyembah Allah tapi juga menyembah yang lainnya. Sehingga tuhan-tuhan selain Allah itu harus tidak kita yakini. Tetapi kalau kita mengejek tuhan-tuhan selain Allah yang akibat ejekan itu membuat orang non Islam berbalik mengejek Allah, maka mengejek tuhan mereka itu haram hukumnya. Padahal tidak mempercayai bahkan menolak tuhan selain Allah itu wajib hukumnya.

Sekali lagi, pada yang ketiga itulah sering terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama, sedangkan yang pertama dan kedua, para ulama sepakat mengenainya. Tetapi pada banyak buku referensi, bahwa yang pertama dan kedua itu tak pernah dibahas, tetapi yang dibahas itu adalah yang ketiga, yang dalam hal ini tanpa disebutkan mengenai hal tersebut. Sehingga orang yang tidak paham kemudian menganggap bahwa Saddudz Dzara-i’ ini memang tidak layak dijadikan sebagai dalil hukum Islam, karena para ulama berbeda pendapat mengenainya. Padahal, perbedaan para ulama hanyalah pada jenis yang ketiga.

Ada banyak dalil yang dijadikan landasan untuk mengatakan bahwa Saddudz Dzara-i’ yang ketiga tersebut layak juga untuk dijadikan sebagai pegangan, antara lain firman Allah:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S. An-Nuur: 31)

Ayat ini melarang perempuan-perempuan untuk memamerkan perhiasannya. Para ulama memang banyak penafsiran mengenai “ziina (perhiasan)” yang dimaksud. Ada yang mengatakan, bahwa “ziina (perhiasan)” yang dimaksud itu adalah bagian-bagian yang memang tak layak untuk ditampilkan (dipamerkan), termasuk di antaranya adalah aurat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, yaitu:

Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan), dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (isteri) yang shalehah. (HR. Muslim)

Jadi, pengertian “ziina (perhiasan)” dalam ayat tersebut adalah seperti yang dimaksudkan pada sabda Rasulullah tersebut. Sehingga kesimpulannya, ayat tersebut menjelaskan larangan Allah bagi perempuan-perempuan itu untuk memamerkan auratnya, perhiasannya, termasuk juga dalam hal ini adalah perhiasan yang disematkan (emas, perak, dan semacamnya) dan juga perhiasan yang ada pada perempuan seperti kecantikan dan semacamnya. Semuanya haram diperlihatkan (dipamerkan), kecuali kepada suaminya.

Ayat ini menjelaskan bahwa yang haram tersebut adalah memamerkannya. Yang diharamkan tersebut karena akan mengantarkan pada memamerkan “ziina (perhiasan)” yang dimiliki itu. Ayat inilah salah satunya yang dijadikan pegangan oleh para ulama yang menjadikan Saddudz Dzara-i’ itu bagian dari dalil yang bisa dipegangi.

Termasuk dalil yang juga dipegangi yaitu apa yang dilakukan oleh Khalifah Utsman. Ketika itu terjadi suatu peperangan. Pada peperangan tersebut, banyak ulama yang juga ikut serta. Perangnya itu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Ketika waktu kosong saat Maghrib, mereka berhenti dulu dari peperangan. Sehingga para ulama dan para sahabat yang ikut berperang ketika itu berkumpul untuk mengisi kekosongan sekaligus istirahat. Para sahabat dalam hal ini istirahatnya adalah membaca Alquran. Mereka ketika itu saling membaca dan menyimak.

Di dalam pasukan Islam ketika itu asalnya dari berbagai tempat: ada yang dari Baghdad, Yaman, Madinah, Mesir, dan daerah lainnya. Mereka membaca bergiliran. Ketika orang Mesir membaca, ternyata mereka membaca yang tidak pernah didengar oleh orang Madinah. Padahal menurut orang Madinah, ayat tersebut tidak seperti itu bunyi dan cara membacanya. Dari daerah lainnya juga membaca dengan cara yang berbeda. Mereka kemudian saling menyalahkan antara bacaan satu dengan yang lainnya. Karena Alquran itu jika ada yang membaca tidak sesuai dengan bacaan Rasulullah, maka itu dihukum kafir. Sehingga mereka ketika itu nyaris bertengkar dan saling menyalahkan antar sesama muslim, bahkan hampir terjadi perang saudara.

Ketika itu, Huzaifah ibn Yaman berinisiatif ke Madinah menyampaikan kepada Khalifah Utsman untuk segera menyikapi hal tersebut, karena kalau tidak maka akan hancurlah Umat Islam ketika itu. (Pada masa hidup Rasulullah, perbedaan cara membaca Alquran ini juga pernah terjadi, yaitu antara Umar ibn Khattab dengan Hakam)

Akhirnya, mereka itu dihadapkan. Ternyata mereka itu betul. Orang dari Baghdad misalkan, mereka itu mengikuti bacaan seperti yang diajarkan oleh Abdullah ibn Mas’ud. Abdullah ibn Mas’ud ini tidak pernah mengarang sendiri bacaannya kecuali mendengar bacaan dari Rasulullah. Yang dari daerah lainnya juga begitu, yaitu sesuai dengan yang diajarkan oleh sahabat Rasulullah yang lain.

Untuk menengahi hal ini, Khalifah Utsman kemudian menarik Alquran yang dikumpulkam pada masa Khalifah Abu Bakar yang telah tersebar pada para sahabat. Kemudian dikumpulkanlah para Qura’ (penghapal Alquran), dan di bawah komando Said bin Tsabit, Alquran ditulis kembali, yang tulisan itu bisa mencakup seluruh bacaan yang ada. Mushaf ini kemudian dikenal dengan nama Mushaf Utsmani.

Dalam hal ini, Rasulullah pernah mengatakan, bahwa Alquran itu diturunkan menjadi tujuh huruf. Maksudnya, bahwa Alquran itu diturunkan dengan tujuh macam bacaan.

Setelah penyusunan Mushaf Utsmani selesai, maka mushaf-mushaf yang lain (selain Mushaf Utsmani) yang telah dikumpulkan dan ditarik peredarannya, kemudian diperintahkan oleh Khalifah Utsman untuk dibakar. Dalam hal ini, apakah ada dalil yang membolehkan membakar Alquran? Ternyata tidak ada dalilnya, tidak juga dianjurkan, bahkan perbuatan tersebut sebenarnya dilarang. Tetapi dalam konteks ini, kalau Alquran tidak dibakar, maka akan mengantarkan pada kondisi terjadinya perbedaan pendapat, bahkan saling mengkafirkan. Sehingga untuk kemaslahatan umat ketika itu, maka dibolehkan untuk membakar Alquran yang dimaksud. Dalam hal ini dalilnya adalah Saddudz Dzara-i’.

Al-Bara’ah Al-Ashliyyah

Berikutnya di antara sekian banyak dalil adalah Al-Bara’ah Al-Ashliyyah. “Al-Bara’ah” artinya adalah bebas dari hukum, sedangkan “Al-Ashliyyah” artinya adalah pada asalnya.

Ketika sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, yang pada peristiwa tersebut Rasulullah menerima perintah salat, maka umat Islam tidak mempunyai kewajiban untuk salat. Begitu juga ketika sebelum turunnya ayat yang mewajibkan puasa, maka tak ada kewajiban untuk melakukan puasa.

Selanjutnya, apakah Bara’ah Ashliyyah ini bisa dijadikan sebagai pegangan? Misalkan, tidak ada ayat yang membolehkan atau melarang sesuatu. Sehingga dalam hal ini, hal tersebut tidak wajib dan tidak juga dilarang, tidak haram, tidak sunnah, serta tidak juga mubah.

Pekerjaan manusia sebelum ada ketentuan dari Allah

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat menjadi tiga: Pertama, ada yang mengatakan bahwa hal yang dimaksud itu mubah, kecuali ada hal-hal yang menjadikan itu wajib ataupun haram. Kedua, kalau tak ada ketentuan, tak ada ayat ataupun Hadis yang turun menjelaskannya, maka pekerjaan tersebut adalah haram. Ketiga, tak berkomentar mengenai hal tersebut (mendiamkan).

Ketiga pendapat ini kemudian dibantah oleh Imam Al-Ghazali. Menurutnya, ketiga-tiga pendapat tersebut tidaklah benar. Karena kalau tak ada syara’ ataupun tak ada ketentuan-ketentuan syari’at dari Allah maupun dari Rasulullah (baik langsung maupun melalui perantara), maka kalau dikatakan mubah ataupun haram, yang itu semuanya adalah hukum, berarti kita telah menentukan hukum di luar ketentuan Allah, dan juga menghukumi dengan bukan hukumnya Allah.

Berbeda halnya dengan kaum Mu’tazilah. Menurut kaum Mu’tazilah, walaupun hukum tak pernah mengatakan, walaupun Allah dan Rasulullah juga tak pernah memberitahukan, tetapi otak kita mampu memilah-milah. Kalau perbuatan itu tidak baik menurut pendapat otak, walaupun tak ada ketentuan dari Allah dan Rasul, maka perbuatan tersebut haram dilakukan. Jika perbuatan itu baik, walaupun tak ada ketentuan dari Allah dan Rasul, maka itu adalah baik dan boleh dilakukan. Konsep Mu’tazilah itu disebut dengan at-tahsin wat-takbih (baik dan buruk). Artinya, menyikapi kondisi berdasarkan otak. Inilah pegangan Mu’tazilah. Tetapi mayoritas ulama tidak seperti itu. Mayoritas ulama berpendapat, bahwa otak selamanya takkan pernah bisa dijadikan sebagai pegangan.

Menurut kaum Mu’tazilah, jika menurut otak itu baik, maka wajib dilakukan. Kalaupun ada ayat Alquran yang memerintahkannya, maka itu tak lebih hanyalah memperkuat pendapat otak. Menurut Imam Al-Ghazali, yang seperti ini tidaklah dapat dibenarkan. Sehingga ketiga perbedaan itu sama sekali tak pernah diperhitungkan oleh Imam Al-Ghazali, sehingga ia mengatakan, bahwa semua itu tidak layak untuk dipegangi. []

*** Disarikan dari Pengajian Tarikh Tasyri yang disampaikan oleh Dr. H.M. Masyhoeri M. Naim, M.A. pada tanggal 5 Maret 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

About these ads

Entry filed under: Fiqh, Islamika. Tags: , , , , , , , , , , .

Fleksibilitas Kehidupan Back to Basic

2 Komentar Add your own

  • 1. hernidyah putri  |  9 Juni 2009 pukul 6:13 AM

    tolong cantumkan contoh-contoh klasifikasi saddudz dzara’i..
    bisa juga di kirim ke alamat email saya..
    terimakasih sebelumnya

    Suka

  • 2. Ayu rizki gumelar  |  8 Desember 2009 pukul 12:51 PM

    Mksh atas pnjlasan na.. Itu membuat saya bsa mngerjakan tgas2 dgn benar.. Sekali lg syukron…!

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 328,485 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: