Ijtihad terhadap Masalah-Masalah Kontemporer

23 Maret 2009 at 8:18 AM 2 komentar


Pada dasarnya, ajaran Islam itu terbagi menjadi tiga ajaran pokok, yaitu: akidah, syari’ah, dan akhlak-tasawwuf.

Akidah adalah ajaran Islam mengenai keimanan (kepercayaan/keyakinan). Syari’ah adalah ajaran Islam mengenai hukum-hukum praktis. Biasa juga disebut fiqh. Yaitu menyangkut masalah-masalah ibadah (salat, zakat, puasa, haji), muamalah (transaksi jual beli, perdagangan, hutang-piutang, usaha bersama), munakahat (hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah keluarga/akhwalul syaksiyah, seperti pernikahan, perceraian, rujuk, waris), jinayah (masalah-masalah pidana, hukuman bagi orang-orang yang melakukan kejahatan yang melanggar hukum-hukum Allah).

Akhlak-tasawwuf, yaitu lebih menekankan kepada kebersihan hati. Seseorang yang sudah yakin adanya Allah, kemudian dia beribadah, maka ibadah itu harus ikhlas. Ikhlas inilah salah satunya yang dibahas pada ilmu tasawwuf. Dalam menghadapi realitas kehidupan dunia, kita senantiasa tergiur oleh materi. Agar kita tidak terlena dari kehidupan akhirat, maka pada akhlak-tasawwuf juga diajarkan mengenai zuhud (asketis), kita juga diajarkan sikap qana’ah (menerima anugerah Allah dengan senang hati).

Pembagian ajaran Islam menjadi tiga macam tersebut (aqidah, syari’ah, dan akhlak-tasawwuf) didasarkan pada dialog antara Rasulullah dengan Malaikat Jibril. Di dalam Hadis Riwayat Bukhari ada ungkapan dari Sayyidina Umar ibn Khattab yang mengatakan:

Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Rasulullah, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: “Ya Muhammad, jelaskanlah kepadaku, apakah Islam?”

Lalu Rasulullah menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”

Orang itu berkata, ”Engkau benar.”

Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.

Kemudian orang itu bertanya lagi, “Kini beritahu, apakah iman?”

Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadha’ dan qadar.”

Orang itu lantas berkata, “Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi, ”Kini beritahu, apakah ihsan?”

Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.”

Dia bertanya lagi, “Beritahu aku, kapankah hari kiamat terhadi?”

Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.”

Kemudian dia berkata lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.”

Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.”

Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi?”

Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah kemudian berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.”

Dari hadis inilah yang kemudian menjadi landasan para ulama, bahwa dalam Islam intinya terbagi menjadi tiga ajaran pokok, yaitu akidah yang mencerminkan keimanan, syari’ah yang mencermikan keislaman, dan akhlak-tasawwuf yang mencerminkan ihsan. Ketiga-tiganya merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam masalah akidah, kemudian dikembangkan lagi oleh ulama-ulama ahli ilmu kalam (teologi). Masalah ihsan dikaji di dalam tasawwuf yang itu adalah tazkiyatunnufus (kebersihan jiwa). Syari’ah (hukum-hukum Islam) didasarkan pada nash Alquran dan Sunnah Rasulullah. Alquran sudah mengklaim, bahwa seluruh ajaran yang disampaikan Rasulullah sudah sempurna, seperti yang termaktub di dalam Alquran:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maaidah: 3)

Ayat ini diturunkan pada saat Rasulullah dan para sahabat sedang wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah 10 Hijriah yang disebut sebagai Haji Wadaa. Pada saat itulah Allah menyatakan bahwa Agama Islam telah sempurna, sehingga tak perlu ada penambahan-penambahan lagi. Dan hal ini mengisyaratkan, bahwa tak lama setelah Haji Wadaa itu, Rasulullah akan wafat, karena dengan sempurnanya Alquran, sempurnanya ajaran Islam, maka tugas risalah Rasulullah sudah menjelang selesai.

Oleh karena itulah, kita yakin bahwa Islam mampu menjawab setiap permasalahan umat, karena Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Islam adalah agama yang lengkap, yang di dalamnya menjelaskan berbagai persoalan kehidupan manusia. Di dalamnya memberikan hidayah dan petunjuk kepada setiap manusia terhadap problem-problem yang dihadapinya.

Tentunya kesempurnaan Agama Islam bukan terletak pada penjelasan secara rinci, melainkan pada penjelasan secara prinsip-prinsip dan pokoknya saja, sebab kalau Islam menjelaskan secara rinci (Alquran dan Hadis menjelaskan terhadap permasalahan umat secara rinci), pasti risalah Islam akan ketinggalan zaman. Hal ini karena masalah-masalah yang terjadi pada masa Rasulullah itu tidak selamanya cocok dan sesuai dengan keadaan sekarang. Bahkan banyak masalah-masalah sekarang yang muncul yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah.

Misalkan, di masa Rasulullah belum ada perbankan dan asuransi. Kini ada bank dan asuransi. Karena itu, Islam harus menjelaskan bagaimana hukum perbankan dan asuransi dalam pandangan Islam. Pada masa Rasulullah, bisnis yang dilakukan masih sederhana. Sekarang muncul Multi Level Marketing (MLM) misalkan. Tentunya dalam hal ini juga harus dikaji, bagaimana pandangan Islam terhadap masalah-masalah bisnis seperti MLM dan semacamnya.

Bahkan bukan hanya masalah-masalah muamalah, masalah ibadah pun tidak terlepas dari perkembangan umat manusia. Misalkan, pada masa Rasulullah, kalau bepergian jauh cukup dengan mengendarai unta. Sehingga setiap waktu salat mereka bisa menunaikan salat di darat. Sekarang kita sudah biasa naik pesawat. Pergi haji dari Jakarta ke Jeddah lamanya 9 jam. Dalam hal ini, pasti di tengah jalan ada waktu salat dan tidak selamanya bisa dijamak di daratan. Lantas, bagaimanakah tata cara salat di atas pesawat?

Hal-hal seperti ini adalah masalah baru, sehingga untuk mencari solusinya perlu ada ijtihad. Bagaimana cara thaharahnya, menghadap kiblatnya, dan sebagainya. Di sinilah muncul masalah-masalah baru yang harus ada ijtihad untuk pemecahan masalahnya. Karena itulah, Alquran hanya memberikan prinsip-prinsip dasar supaya bisa dikembangkan oleh para ulama melalui ijtihad. Di sinilah pentingnya para ulama merespon setiap masalah-masalah yang muncul untuk memberikan penjelasan hukum kepada masyarakat luas.

Apalagi jika dicermati, menurut penelitian Departemen Agama, Alquran yang berisi 6236 ayat ternyata tidak semua ayatnya memberikan penjelasan mengenai masalah hukum. Menurut penelitian Dr. Abdul Khalaf (guru besar hukum Islam di Kairo), ternyata ayat Alquran yang menjelaskan masalah hukum (ayat ahkam) tidak lebih dari 500 ayat (sekitar 8%), sedangkan ayat-ayat yang lainnya lebih banyak menjelaskan mengenai kisah-kisah umat terdahulu, penciptaan alam, kisah para nabi dan rasul serta umatnya.

Selain itu, tidak semua masalah dijelaskan oleh Rasulullah. Memang, untuk masalah-masalah yang tidak mengalami perubahan seperti salat, maka secara prinsip Rasulullah telah menjelaskan. Beliau mempraktekkan salat, kemudian menyatakan:

Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.

Demikian juga haji. Dalam hal ini, Rasulullah mempraktekkan ibadah haji mulai dari ihram, wukuf, mabid di muzdalifah, melempar jamrah, thawaf, sa’i, dan sebagainya, itu semua dicontohkan oleh Rasulullah dan beliau mengatakan:

Ambillah tata cara ibadah hajiku untuk kalian praktekkan.

Jadi, dalam masalah-masalah yang tetap yang tidak mengalami perkembangan, maka itu dijelaskan oleh Rasulullah secara rinci. Akan tetapi, dalam masalah-masalah muamalah (hubungan antara sesama manusia), yang masalah-masalah tersebut mungkin mengalami perkembangan, Rasulullah hanya menjelaskan prinsip-prinsipnya saja. Maka di sinilah peran para ulama untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana hukum dari masalah-masalah yang baru muncul yang itu belum pernah terjadi pada masa Rasulullah.

Dalam kaitan dengan hukum-hukum Islam, ada dua macam, yaitu: pertama, hukum-hukum yang langsung ditetapkan berdasarkan nash Alquran dan Hadis yang qath’i (yang pasti, tidak mengalami perubahan, yang takkan mengalami perbedaan pendapat). Kedua, hukum-hukum Islam yang didasarkan pada ijtihad, pada analisa para ulama dari nash-nash Alquran yang masih zhanniyyudh dhalalah (yang masih mungkin ditafsirkan) untuk digali hukumnya dan dijelaskan kepada umat.

Masalah-masalah yang ditetapkan oleh Alquran secara qath’i itu disebut dengan syari’ah, yaitu seperti masalah wajibnya salat. Sampai kapanpun, salat itu wajib. Bahkan hingga hari kiamat, hukum wajibnya salat itu takkan berubah. Begitu juga wajibnya puasa ramadhan, zakat, dan haji. Begitu juga perbuatan seperti zina, minuman keras, narkoba, judi, akan tetap haram hukumnya hingga hari kiamat. Inilah yang disebut dengan hukum-hukum syari’ah yang ditetapkan berdasarkan nash Alquran dan Sunnah Rasulullah yang qath’i (yang pasti, yang tak mungkin diinterpretasikan yang lain).

Akan tetapi, ada masalah-masalah yang didasarkan pada hukum ijtihad para ulama. Contohnya, wudhu’ adalah wajib ketika kita akan melakukan salat. Dalam Alquran dinyatakan:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Maaidah: 6)

Berapakah batas kepala yang harus dibasuh dalam wudhu’? Ini adalah permasalahan ijtihad yang pada masalah ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Pada Mazhab Hanafi, yang harus diusap ketika wudhu’ adalah seluruh kepala. Jika sebagian saja, maka tidak sah. Mazhab Maliki menyatakan, minimal yang diusap itu adalah sepertiga dari kepala. Sedangkan menurut Mazhab Syafi’i, cukup tiga helai rambut saja yang diusap, maka wudhu’nya sudah sah.

Bagaimanakah hukum dari persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan? Apakah hal tersebut akan membatalkan wudhu’ atau tidak? Ini juga adalah masalah ijtihad. Namun untuk memahami apakah ”aw laamastumun-nisaa” yang dimaksud itu adalah bersentuhan kulit dengan kulit, atau yang dimaksud itu adalah simbol dari hubungan seksual antara suami istri, maka di sini terjadi perbedaan pendapat.

Menurut Mazhab Syafi’i, persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan akan membatalkan wudhu’, apapun bentuknya. Sehingga pada Mazhab Syafi’i, jika suami istri bersentuhan kulit saja, maka akan membatalkan wudhu’.

Pada Mazhab Hanafi, persentuhan kulit yang seperti itu tidak membatalkan wudhu’. Menurut Mazhab Hanafi, yang membatalkan wudhu’ itu adalah jika berhubungan seksual suami istri. Jadi, mazhab ini menginterpretasikan, bahwa ”aw laamastumun-nisaa” itu adalah sebagai simbol hubungan suami istri, bukanlah persentuhan kulit biasa.

Mazhab Maliki mengatakan, bahwa yang penting itu bukan persentuhannya, melainkan persentuhan yang dimaksud adalah persentuhan yang diikuti dengan syahwat. Sehingga, jika persentuhan itu diiringi dengan syahwat, maka batallah wudhu’nya. Sebaliknya, jika persentuhan itu tidak diiringi dengan syahwat, maka wudhu’nya tidak batal.

Jadi, ada hukum yang didasarkan pada nash Alquran dan Hadis yang qath’i yang itu dinamakan sebagai hukum syari’ah, dan ada juga hukum-hukum yang didasarkan pada ijtihad yang dinamakan sebagai fiqh.

Kalau syariah, maka ciri dasarnya adalah tetap, takkan mengalami perubahan, statis takkan berubah hingga kiamat. Sebaliknya, fiqh itu cirinya adalah dinamis, bisa berubah-ubah.

Pada syari’ah tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat), karena nash nya jelas. Sedangkan pada fiqh, maka cirinya adalah ikhtilaf (perbedaan pendapat). Sehingga wajar kemudian jika ada yang berbeda pendapat mengenai bunga bank.

Bagaimanakah hukumnya bunga bank? Pada hal ini, terjadi ikhtilaf. Kalau riba, semua ulama mengatakan hukumnya adalah haram, karena nash nya jelas, yaitu:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-Baqarah: 275)

Kalau riba, semua ulama sepakat bahwa itu adalah haram, karena dalilnya adalah qath’i dhalalah (pasti). Tapi apakah bunga bank itu termasuk riba atau tidak, maka ini adalah masalah ikhtilaf. Ada ulama yang mengatakan bahwa bunga bank termasuk riba, sehingga praktek perbankan konvensional itu haram hukumnya. Namun ada juga yang mengatakan bahwa bunga bank bukanlah termasuk riba, sehingga praktek perbankan konvensional itu tidaklah haram.

Sekarang ini, dengan adanya bank syari’ah, memang sangat dianjurkan untuk beralih ke bank syari’ah, karena pada bank syari’ah sistemnya adalah bagi hasil (mudharabah), dan diajurkan untuk meninggalkan praktek yang ada di bank konvensional, dan ini menurut sebagian besar ulama. Termasuk juga fatwa MUI menyatakan, bahwa bunga bank itu hukumnya haram, karena sekarang ini sudah ada sistem perbankan syari’ah yang menggunakan sistem bagi hasil.

Karena hal tersebut sifatnya ikhtilaf, maka wajar kemudian terjadi kontroversi. Termasuk juga yang baru-baru ini diputuskan oleh ijtima’ ulama, yang paling sering kita dengar adalah masalah golput (golongan putih) dan masalah rokok.

Mengapa para ulama membahas masalah golput, padahal itu termasuk dalam ranah politik? Hal ini karena para ulama meyakini, bahwa semua prilaku umat Islam terkait dengan hukum Allah, tidak ada prilaku manusia yang terlepas dari hukum Allah. Islam menjelaskan dan memberi ketentuan terhadap seluruh permasalahan umat, bahkan hingga ke permasalahan yang mungkin dianggap kecil seperti untuk ke toilet pun ada aturannya. Jika permasalahan yang dianggap kecil saja diatur oleh Islam, maka masalah kenegaraan pun tentu ada aturannya.

Berkaitan dengan hal ini, MUI berpendapat bahwa masalah memilih pemimpin adalah wajib. Negara Indonesia yang berpenduduk sangat banyak ini tentunya harus ada pemimpinnya. Karena kalau tidak ada pemimpin, nantinya negara akan kacau. Sedangkan pemerintah (pemimpin) itu dipilih melalui Pemilihan Umum (PEMILU). Karena itulah, MUI berpendapat bahwa memilih dalam PEMILU adalah wajib hukumnya. Walaupun dari segi undang-undang adalah hak warga negara, tapi dalam pandangan Islam, memilih pemimpin hukumnya adalah wajib. Mengapa demikian?

Kalau seandainya dibiarkan boleh tidak memilih, bagaimana ternyata nantinya rakyat Indonesia mayoritas (misalkan lebih dari 60%) tidak memilih? Kalau seperti ini, nantinya pemimpin yang terpilih itu kurang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Pemimpin yang seperti ini ketika memberikan keputusan-keputusan politik akan mudah dianulir oleh rakyat. Karena itulah, MUI dalam ijtima’ ulama memutuskan, bahwa memilih pemimpin adalah wajib yang salurannya adalah melalui PEMILU.

Bagaimana misalkan jika mayoritas umat Islam golput, sementara orang-orang non muslim semuanya memilih, sehingga akibatnya nanti anggota DPR, DPD, dan DPRD mungkin yang terpilih adalah mayoritas orang non muslim, bahkan mungkin yang terpilih sebagai presiden pun juga non muslim. Kalau seandainya mayoritas DPR, DPD, dan DPRD dikuasai oleh non muslim, maka kemungkinan undang-undang yang nantinya diputuskan tidak berpihak terhadap umat Islam. Di sinilah pentingnya kita memilih dalam PEMILU.

Karena itulah, MUI memutuskan dalam ijtima’ ulama, bahwa golput adalah haram. Melalui PEMILU, maka akan memberikan kesempatan kepada umat agar memilih pemimpin yang baik. Apalagi sekarang ini PEMILU nya adalah memilih orang, bukanlah memilih partai. Sehingga kita bisa memilih orang Islam yang menurut kita bisa dipercayakan membawa amanah, yang bisa memperjuangkan berlakunya undang-undang yang berpihak kepada umat Islam, yang bisa memperjuangkan undang-unddang yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Lagi-lagi, hal ini tergantung pada DPR. Kalau DPR nya adalah orang-orang yang kurang mempunyai komitmen keislaman, maka akan merugikan umat Islam. Di sinilah pentingnya kita memilih orang-orang yang kredibel, yang amanah, yang bisa membawa perjuangan umat Islam untuk meraih izzul Islam wal muslimin.

Selanjutnya adalah masalah rokok. Mengapa dalam ijtima’ ulama diputuskan, bahwa prinsipnya hukum rokok itu adalah dilarang. Ada dua hukum berkaitan dengan rokok, yaitu ada yang makruh dan ada yang haram. Ada orang-orang tertentu yang di dalam hidupnya sangat tergantung dengan rokok, termasuk juga pada sisi para pekerja di perusahaan rokok (akan terjadinya banyak PHK jika industri rokok ditutup). Namun di sisi lain, rokok juga berbahaya. Betapa banyak orang yang sakit karena rokok. Karena itulah, ijtima’ ulama kemudian memutuskan, bahwa pada prinsipnya rokok itu hukumnya dua macam, yaitu ada yang makruh dan ada yang haram. Makruh untuk orang secara umum, dan haram untuk orang-orang tertentu (seperti perempuan yang hamil dan anak-anak). ***

Disarikan dari Kuliah Dhuha yang disampaikan oleh Dr. KH. Hamdani Rasyid, M.A. pada tanggal 2 Maret 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

About these ads

Entry filed under: Fiqh, Islamika. Tags: , , , , , , .

Hikmah Maulid Nabi Muhammad Manusia Masuk ke Alam Dunia; Kehidupan Dunia adalah Amanah

2 Komentar Add your own

  • 1. dir88gun  |  28 Maret 2009 pukul 5:46 AM

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/

    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    Sudah saatnya kita ganti sistem,
    untuk masa depan umat yang lebih baik!
    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

    Suka

  • 2. Faisal  |  2 Oktober 2009 pukul 11:47 AM

    Tiga prinsip ini yang harus dipahami umat,karena hal ini menjadi pondasi dalam kehidupan.

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 320,979 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: