Gejala Alam dan Sejarah

13 April 2009 at 10:16 AM 2 komentar


ocean-motion-by-hogneUmat manusia, yaitu keturunan Adam (Banî Âdam), hidup dalam lingkungan yang disebut alam (âlam). Dari segi kebahasaan, perkataan “alam” (Arab: âlam un) adalah satu akar kata dengan perkataan “ilmu”, juga dengan kata-kata “alamat”. Dan pengertian “alamat” atau “pertanda” itulah yang juga terkandung dalam perkataan “ayat” (Arab: âyat un). Jadi jagad raya adalah “alamat” atau “ayat” Tuhan. Karena itu “alam” merupakan sumber “ilmu” manusia. Manusia diperintakan untuk memperhatikan alam dan gejala-gejala alam yang ada.

Katakanlah (wahai Muhammad): “Perhatikanlah olehmu (wahai manusia) apa yang ada di langit dan di bumi! Namun pertanda-pertanda dan peringatan-peringatan itu tidak akan berguna bagi kaum yang tidak beriman (Q., 11:101).

Dan Dia lah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu segala jenis tumbuh-tumbuhan, kemudian Kami keluarkan daripadanya tanaman yang menghijau, yang daripadanya Kami keluarkan pula dari butir-butir (buah) yang berjenjang-jenjang. Dan dari pohon-pohon kurma, dari mayang-mayangnya, tandan-tandan buah yang mudah dicapai dan dipetik. Juga Kami jadikan kebun-kebun dari ang¬gur dan zaitun serta buah delima, yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya bila telah berbuah, dan perhatikan buah itu bila telah masak. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu ada berbagai pertanda bagi kaum yang beriman (Q., 6:99).

“Pertanda”, “alamat”, atau “ayat” adalah untuk kaum yang berfikir. Semesta alam sebagai pertanda Tuhan tidak akan dimengerti kecuali oleh orang-orang yang berfikir. Jadi ilmu memerlukan akal atau rasio.

Dan Dia menyediakan untuk kamu segala yang ada di seluruh langit dan yang ada di bumi, semuanya dari Dia; sesungguhnya dalam semua itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang berfikir (Q., 45:13).

Dan Dia lah yang menjadikan bumi terbentang luas, dan menjadikan padanya gunung-ganung yangn kukuh serta sungai-sungai. Dan dari tiap-tiap jenis buah-buahan, Dia jadikan padanya pasangan dua-dua. Dia juga menutup siang dengan malam silih berganti. Sesungguhnya dalam semuanya itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang berfikir (Q., 13:3).

Di balik “pertanda”, “alamat”, atau “ayat” Allah dalam alam kebendaan (material) ialah hukum-hukum ketetapan Allah (Taqdîr u ‘l Lâh) yang pasti. Maka kajian tentang alam kebendaan menghasilkan pengetahuan tentang hukum-hukum yang pasti itu (“ilmu eksakta”).

Tuhan yang bagi nya kekuasaan atas seluruh langit dan bumi, dan yang tidak mempunyai anak, serta tidak ada bagi Nya serikat dalam kekuasaan itu, dan Dia ciptakan segala sesuatu lalu Dia buat kepastian (hukum) nya de¬ngan kepastian yang sempurna (Q., 25:2).

Dia (Allah) yang membelah cahaya subuh, yang menjadikan malam untuk istirahat, dan yang menjadikan matahari dan rembulan dalam perhitungan (hisâb). Itulah hukum kepastian (taqdîr) Yang Maha Mulia, Maha Mengetahui
(Q., 6:96).

Lalu Dia jadikannya tujuh langit dalam dua masa; dan Dia beritahukan kepada tiap-tiap langit aturannya (hukumnya) masing-masing. Dan Kami hiasi langit yang terdekat (langit dunia) dengan lampu-lampu (bintang-bintang) serta untuk perlindungan. Itulah hukum kepastian (taqdîr) Yang Maha Mulia, Maha Mengetahui (Q., 41:12).

Dan matahari beredar pada tempat yang tetap baginya. Itulah hukum kepastian (taqdîr) Maha Mulia, Maha Mengetahui (Q., 36:38).

Di balik “pertanda”, “alamat”, atau “ayat” Allah dalam alam kesejarahan manusia (alam sosial) ialah hukum-hukum “Tradisi Allah” (Sunnat u ‘l Lâh) yang tidak akan berubah (pasti), namun punya variabel yang jauh lebih banyak daripada yang ada pada hukum alam kebendaan (Taqdîr u ‘l Lâh). Al Qurân memerintahkan manusia untuk memperhatikan dan mempelajari sejarah umat-umat yang telah lalu sebagai laboratorium alam sosial kemanusiaan. Kajian sejarah menghasilkan ilmu tentang Sunnat u ‘l Lâh yang meliputi variabel yang sangat banyak (“ilmu sosial”).

Apakah belum menjadi petunjuk bagi mereka (kaum kafir), berapa banyak Kami telah binasakan sebelum mereka generasi-generasi, yang mereka (kaum kafir) itu lewati (bekas-bekas) tempat tinggal mereka (generasi masa lalu) itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal fikiran (Q., 20:128).

Dan di antara tanda-tanda Nya ialah penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan bahasa dan warna kulit kamu. Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu (Q., 30:22).

Dan di antara tanda-tanda Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan pada siang hari, dan usaha kamu mencari rezeki dari limpah kurnia Nya. Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi mereka yang bersedia mendengarkan (Q., 30:23).

Tidakkah mereka perhatikan bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang dikehendaki Nya? Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman (Q., 30:37).

Itulah Sunnat u ‘l Lâh yang telah lewat sebelumnya, dan engkau tidak akan dapati perubahan apapun bagi bagi Sunnat u ‘l Lâh (Q., 48:23).

Sesungguh telah lewat sebelum kamu sunnah-sunnah, maka mengembaralah kamu di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana akibat mereka yang mendustakan kebenaran (Q., 3:137).

Maka mengapa mereka tidak memperhatikan sunnah orang-orang terdahulu? Engkau tidak sekali-kali akan dapati perubahan apapun bagi Sunnat u ‘l Lâh, dan engkau tidak sekali-kali akan dapati peregantian apapun bagi Sunnat u ‘l Lâh (Q., 35:43).

Sumber:
Sumber: Budhy Munawar-Rachman (penyunting), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008.

About these ads

Entry filed under: Ensi F - K, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: , , , , .

Bahasa Budaya dalam Al-Quran Nabi adalah Failasuf

2 Komentar Add your own

  • 1. BaNi MusTajaB  |  16 April 2009 pukul 10:50 PM

    Tulisan menarik dan mencerahkan.

    Suka

  • 2. libra  |  18 April 2009 pukul 5:49 PM

    informasi yang bermanfaat…

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 321,786 hits
April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: