Sebagai pernyataan pengabdian kepada Tuhan, ibadat yang juga mengandung arti pengagungan itu sesungguhnya adalah hal yang fitri. Yakni hal yang secara inheren terdapat pada kecenderungan alami manusia dan alam kejadian asalnya sendiri. Karena itu perpindahan dari satu bentuk tindakan ubudiyah ke bentuk yang lain dapat dilihat sebagai tindakan substitutif belaka. Karena dalam kenyataan hidup manusia hampir tidak ada individu yang bebas sama sekali dari suatu bentuk ekspresi pengagungan yang mempunyai nilai ubudiyah atau devotional. Jika seseorang tidak melakukan suatu bentuk tindakan ubudiyah tertentu yang standar (seperti salat dalam Islam, misalnya), maka ia tentu melakukan bentuk tindakan ubudiyah yang lain (seperti, kecenderungan amat kuat pada kaum komunis untuk mengagungkan pemimpin mereka).
Maka, sama halnya dengan semua kecenderungan natural, kecenderung¬an manusia untuk melakukan tindakan-tindakan ubudiyah harus disalurkan secara benar. Dan salah satu batu penguji kebenaran suatu tindakan ubudiyah ialah bahwa ia harus berdampak peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan individu bersangkutan. Ibadat yang benar tentunya tidak akan berdampak pengekangan dan pembelengguan individu seperti yang ada pada sistem-sistem mitologis.
Itu berarti ubudiyah harus ditujukan hanya kepada Wujud Yang Mahatinggi, yang benar-benar “mengatasi” manusia karena Dia adalah Khâliq-nya, sementara manusia adalah makhluk-Nya (meskipun, malah justru, puncak makhluk-Nya). Selanjutnya, tindak¬an ubudiyah harus hanya ditujukan kepada Dia, yang keyakinan, kesadaran dan pengalaman akan kehadiran-Nya dalam hidup menghasilkan ketulusan untuk berbuat sesuatu guna memperoleh “perkenan”-Nya, yaitu amal saleh.
Dari perspektif ini, ibadat merupakan lambang pengagungan seorang hamba kepada Khaliknya serta pernyataan akan penerimaan hamba itu akan tuntutan moral-Nya. Melalui ibadat itu seorang hamba mengharap bahwa al-Khâliq akan menolong dan membimbing hidupnya menempuh jalan menuju kebenaran. Di hadapan-Nya, seorang individu menyadari bahwa dalam menghadapi tantangan hidup bermoral yang tak terhindarkan itu ia memerlukan rahmat dan keutamaan (Arab: fadll; Inggris: grace) dari Allah, karena manusia tidak mungkin mencari dan menemukan sendiri secara sempurna dan tuntas jalan kebenaran itu tanpa bimbingan-Nya. ***
Sumber:
Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality & Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.















Akocha berkata,
19 November 2009 pada 12:04 PM
Mencerahkan…. Setiap membaca tulisan Cak Nur… seakan-akan timbul pengertian baru di akal pikiran kita sesuatu yang biasanya kita abaikan….