Posts filed under ‘Ceramah Agama Islam’

Pengaruh Agama di Dalam Kehidupan

PENGARUH AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A.

pada tanggal 23 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Seorang pakar pendidikan dari Malaysia bernama Hasan Langgulung pernah mengatakan, bahwa dunia Islam dahulunya pernah mengalami kejayaan dan menjadi superpower selama kurang lebih 7 abad yang peninggalannya hingga saat ini masih bisa kita lihat. Islam dahulu pernah menguasai Spanyol selama 7 abad, dan masih banyak sisa-sisa arsitektur Islam di negara ini. Bahkan Spanyol pernah tercatat di dalam Guinness Book of Record sebagai negara yang paling tinggi kunjungan wisata antar negaranya. Hal ini dikarenakan adanya arsitektur dan bangunan yang Indah di negara ini, seperti di Seville, Granada, yang semuanya itu adalah karya-karya besar Umat Islam.

Islam juga pernah berkuasa di India, Sisilia, Italia, dan beberapa negara lainnya. Ketika itu Umat Islam maju dalam berbagai bidang: kedokteran, arsitektur astronomi, botani, farmakologi, dan seluruh cabang ilmu pengetahuan modern. Hal ini menurut Hasan Langgulung dikarenakan Umat Islam saat itu mengamalkan Asmaul Husna. Mengamalkannya bukan hanya sekedar dihafal dan dibaca, melainkan juga menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Misalkan, Allah bersifat “Al-‘Alim” (Maha Mengetahui), maka untuk menghayatinya kita juga berusaha untuk menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Allah juga bersifat “Al-Musawwir” (Maha Kreatif, Maha Inovatif, Maha Menghasilkan karya-karya besar), maka untuk menghayatinya kita juga semestinya menjadi orang yang kreatif.

Kita bersyukur kepada Allah, bahwa dalam kesempatan ini kita me-recharge (mengisi) kembali agar kita memiliki spirit dengan nilai-nilai, dengan sifat-sifat Allah, dan tentunya juga sesuai dengan praktek dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

Allah berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar-Ruum: 30)

Pada ayat ini, Allah dengan tegas menyatakan dalam kalimat perintah: Fa aqim wajhaka (Maka hadapkanlah wajahmu). Jadi, kata “aqim” merupakan fi’il ‘amr, yang bisa berarti mendirikan, membangun, mengkonstruksi, ataupun menciptakan sesuatu yang kuat.

Di sini kita mencermati, bahwa dalam beragama memang harus secara sungguh-sungguh, jangan setengah hati, dan juga harus total. Jika kita ingin mendirikan suatu bangunan yang kokoh, maka kita tidak boleh asal-asalan mendirikannya. Kita harus mengundang arsiteknya perencananya, ada tes tanahnya, lalu kemudian didesain konstruksi dengan situasi tanahnya, bahan materialnya, waktu pengerjaannya, pengalaman, dan lain sebagainya, sehingga bangunan tersebut menjadi kokoh.

Maka hadapkanlah wajahmu. Dari seluruh panca indera kita, pada tubuh ini terdiri dari berbagai macam organ, yang semua unsur fisik tersebut diwakili oleh wajah. Wajah juga mencerminkan berbagai macam perasaan kita: sedih, senang, murung, susah, dan perasaan-perasaan lainnya akan tercermin di wajah ini.

Ketika kita bertemu dengan orang lain, maka wajah pulalah yang kita tampakkan. Senyum yang kita berikan juga bisa mengalirkan energi. Rasulullah mengatakan, bahwa di antara sedekah yang murah-meriah adalah senyum. Dengan senyum yang terpancar dari wajah kita, maka akan ada komunikasi batin dan ada energi yang masuk ke orang yang kita ajak berkomunikasi. Lalu orang yang kita ajak berkomunikasi itu juga tersenyum membalas senyuman kita. Jika sudah sama-sama tersenyum, maka urusan selanjutnya akan lancar.

Jika di dalam ayat tersebut menyatakan untuk menghadapkan wajah, maka berarti dalam beragama bukan hanya wajah, melainkan semuanya harus ikut beragama. Mata kita ikut beragama, yaitu dengan cara jangan melihat yang diharamkan oleh Allah. Telinga kita juga ikut beragama, yaitu dengan cara tidak mendengarkan hal-hal yang bisa membawa bencana. Tangan kita beragama, yaitu dengan mengerjakan hal-hal yang baik-baik. Kaki kita beragama, yaitu dengan pergi ke tempat yang baik. Hati kita bergama, yaitu hanya kita peruntukkan kepada yang lurus-lurus di jalan Allah. Jadi, semua yang ada pada diri kita ini hadapkanlah kepada agama secara totalitas.

Di kalangan para ahli, ada kajian-kajian tingkatan beragama. Tingkatan tersebut, yaitu:

Pertama, fiqh

Yang mengatur tata cara beragama adalah fiqh. Karena itulah, para ulama sepakat menjadikan ilmu fiqh fardhu ‘ain untuk dituntut. Ilmu fiqh merupakan ilmul hal, yaitu ilmu yang selalu berkaitan dengan kehidupan keseharian kita. Mulai dari kita lahir hingga meninggal dunia, maka fiqh lah yang bekerja. Dengan ilmu fiqh, maka ada standard untuk kita melaksanakan berbagai macam amal ibadah. Kalau kita mau bekerja dengan rapi, maka harus ada SOP (Standard Operasional Prosedur). Dalam hal ini, fiqh merupakan SOP kita dalam melakukan berbagai macam amal ibadah. Semuanya bermula dari fiqh, dan karena itu fiqh tidak boleh kita tinggalkan.

Kedua, sufistik (tasawwuf)

Untuk bisa beragama secara holistik (menyeluruh), maka kita naik ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat sufistik (tasawwuf), yang disebut sebagai mystical approach (pendekatan sufistik). Ketika kita salat, ternyata Allah hadir di dalam diri kita. Kadang-kadang pikiran kita ke mana-mana ketika menunaikan ibadah salat. Kalau ketika salat kita ingat di pasar, maka berarti tasawwufnya belum ada. Pada saat seseorang salat, jika fiqh dilengkapi dengan tasawwuf, maka sebenarnya ada dialog di dalam salatnya itu. Di dalam setiap ayat dan bacaan-bacaan yang kita lafazkan ketika salat, itu sebenarnya ada sahut-sahutan dengan malaikat, namun kita tidak mendengar sahutan dari malaikat tersebut. Karena itulah, janganlah terlalu cepat ketika kita melafazkan bacaan-bacaan salat tersebut. Lafaz-lafaz ketika salat harus kita baca secara tertib. Maka dengan dimensi sufistik ini, maka sifat-sifat Allah akan mengalir, energi-energi tersebut akan mengalir di dalam diri dan kehidupan kita.

Sudah banyak kajian-kajian tentang kecerdasan emosional, dan itu sudah masuk ke dalam manajemen bisnis. Ada buku yang ditulis oleh seorang ahli di bidang komunikasi tentang kecerdasan emosional yang sering dirujuk oleh para komunikator. Ia mengatakan, kalau seseorang mempunyai kecerdasan emosional, maka ucapannya itu akan memiliki resonansi, akan memiliki vibrasi (getaran). Dari resonansi itu, ketika dia menyalurkan sifat kasih sayang, maka sifat kasih sayangnya itu menempel kepada orang tersebut. Ketika dia menyalurkan sifat sabar, maka sifat sabarnya itu menempel kepadanya. Ketika dia menyalurkan sifat ikhlas, maka sifat ikhlasnya itupun menempel kepadanya. Terjadinya komunikasi seperti ini, antara lain dengan pendekatan spiritual emosional. Ilmu tasawwuf mengatur kita dalam hal ini, sehingga kita mempunyai spirit, mempunyai jiwa.

Menurut suatu penelitian, seorang pimpinan yang memiliki kecerdasan emosional, maka akan menyebabkan karyawannya bekerja secara produktif. Hal ini dikarenakan karyawannya merasa ada aliran energi yang baik yang diisikan kepada mereka, yang kemudian menjadikan mereka bisa bekerja dengan penuh semangat dan gairah. Yang masuk ke dalam diri mereka adalah virus-virus yang disebut oleh David McClelland sebagai Need of Achievement, yaitu semangat untuk membangun. Karena itulah, dalam hal ini pemimpin menjadi sangat penting. Ketika virus yang dimasukkannya adalah virus negatif (virus yang buruk): seperti rasa benci, iri, dengki, hasud, maka orang yang dimasuki oleh virus tersebut akan error dan hang.

Ilmu yang mengatur hal seperti ini adalah aspek tasawwuf. Imam Al-Ghazali (dalam kitabnya Ihya Ulumuddin) mencoba memadukan antara fiqh dan tasawwuf. Beliau mengatakan, agar kehidupan ini bermakna, maka fiqh didampingi dengan tasawwuf. Seperti misalnya ketika beliau sedang berwudhu’, maka menurutnya, berwudhu’ itu bukan hanya sekedar mencuci tangan luarnya supaya bersih, tetapi ketika mencuci tangan harus ada dialog dengan tangan: “Hai tangan, apa yang kau perbuat hari ini? Apakah perbuatannya baik atau buruk?”

“Hai kaki, apa yang telah kau perbuat?”

Dijawab oleh kaki, “Saya sudah berbuat baik, yaitu membantu seorang tua renta untuk menyeberangi jalan.”

Ketika mencuci kepala, maka kita tanyakan, “Hai kepala, apa yang telah kau pikirkan hari ini?”

Ketika mencuci mulut, maka kitapun bertanya, “Hai mulut, apa yang telah kau ucapkan hari ini?”

Ketika mencuci telinga, kitapun menanyakan, “Hai telinga, apa yang kau dengar hari ini?”

Dengan melakukan semua ini, maka kita akan mendapatkan dua macam kebersihan. Jika pada fiqh adalah kebersihan lahir, yang disebut sebagai thaharah. Sedangkan pada tasawwuf adalah kebersihan batin, yang disebut sebagai tazkiyah.

Ketiga, ideologi

Tingkatan ini adalah tingkat program, yaitu pendekatan ideologis. Ideologis adalah pemikiran-pemikiran yang sudah matang, pemikiran-pemikiran yang sudah dikaji secara mendalam, lalu kemudian menjadi program, dan program ini harus dilaksanakan. Dalam kaitan ini, maka ketika selesai salat kita mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” ke sebelah kanan dan kiri. Apakah artinya ini? Apakah hanya sekedar menolehkan kepala? Kalau hanya sekedar menolehkan kepala, robot juga bisa. Lantas, apakah sebenarnya makna dari salam ke kanan dan ke kiri tersebut? Maknanya adalah, bahwa ibadah salat yang sudah kita bangun, spirit yang sudah kita lakukan, itu semuanya harus menjadi program yang terwujud di dalam kehidupan, yaitu kita lihat keadaan di kiri kanan kita, keadaan di sekitar lingkungan kita.

Karena itulah, ibadah mahdhah (hablumminallah) itu harus diikuti dengan hablumminannas. Ketika kita menengok ke kanan dan ke kiri, maka kita melihat apakah masalah yang harus dihadapi di dalam masyarakat. Mungkin di sebelah rumah kita ada anak yatim yang perlu disantuni. Mungkin juga di sebelah kita ada orang yang sakit parah yang memerlukan pertolongan, ada orang yang sedang mengalami kesulitan, dan sebagainya, yang ini harus kita lihat dan kita bantu. Dalam konteks inilah masuk ke dalam program yang sifatnya aksi (gerakan). Ini merupakan bagian yang ketiga dari ajaran agama. Setelah kita mengamalkan aspek fiqhnya, aspek tasawwufnya, kemudian masuk kepada aspek sosial. Berkaitan dengan hal ini, para ahli sering melihat, bahwa terkadang masih ada kesenjangan antara aspek fiqh (ritual), aspek spiritual, dan aspek sosialnya. Padahal kalau kita teliti, ternyata seluruh ibadah di dalam Islam mempunyai dampak sosial.

Imam Ayatullah Khomaini pernah membandingkan, ternyata ayat yang berkaitan dengan ibadah sosial lebih banyak dibandingkan ayat yang berkaitan dengan ibadah mahdhah (ibadah individual).

Jika saudara-saudara kita sekarang sebagian sudah berada di Makkah Al-Mukarramah (sedang menunaikan ibadah haji), yang tidak lama lagi akan melaksanakan puncak ibadah haji, cobalah renungkan makna ibadah haji ini. Ternyata makna dari ibadah haji ini penuh dengan nilai-nilai sosial, semangat perjuangan.

Thawaf apakah hanya sekedar berputar-putar mengelilingi Ka’bah?

Ternyata makna dari thawaf adalah, bahwa hidup ini harus dengan perjuangan. Dan setiap perjuangan harus dimulai dengan menyerap nilai Allah. Karena itulah, thawaf dimulai dari ruknul yamani. Kita mulai dengan mengucapkan: “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” lalu kitapun mengelilingi Ka’bah. Jadi, perjuangan itu dimulai dari niat semata-mata karena Allah. Terus mengelilingi, kemudian ketika sampai lagi di ruknul yamani, kita mengucapkan lagi “Allahu akbar“.

Kemudian kita melakukan sa’i.

Sa’i juga memiliki makna perjuangan, yaitu jalan-jalan kecil, lari-lari kecil. Di dalam sejarahnya, sa’i adalah memperjuangan keselamatan manusia, yaitu Ismail (puteranya Nabi Ibrahim, yang kemudian setelah dewasa juga diutus menjadi nabi). Ismail yang ketika itu masih bayi dan ibunya (Siti Hajar) ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tengah padang pasir yang tandus.

Pada waktu itu Nabi Ibrahim berdoa (seperti termaktub di dalam Alquran):

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“. (Q.S. Al-Baqarah: 126)

Itulah yang ditinggalkan dan dipesankan oleh Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Siti Hajar dengan putranya yang masih kecil (Ismail).

Jadi dalam sejarahnya, sa’i merupakan perjuangan menyelamatkan bayi, menyelamatkan manusia. Di dalam perjuangan itu, dimulai dari Bukit Shafa. “shafa” artinya bersih, niat semata-mata karena Allah. “marwa” artinya berkembang. Ada perjuangan, kemudian kemanusiaan.

Begitu juga ketika wukuf di Padang Arafah. “arafah” artinya mengenal, yaitu mengenal secara mendalam. Mengenal, melihat, mengetahui, bukan dengan panca indera, melainkan dengan hati nurani. Maka orang yang wukuf di Padang Arafah, ia akan semakin arif dan bijaksana. Dia mengetahui, bahwa betapa dirinya di hadapan Allah sangat faqir.

Maka digambarkan pada waktu itu manusia tidak boleh membawa apa-apa: pangkat, harta, kedudukan, semuanya ditinggalkan, kemudian hanya mengenakan pakaian putih. Mengapa demikian? Mengapa orang yang berhaji itu harus meninggalkan semua pakaian kebesarannya? Hal ini agar jangan sampai mengganggu hubungan manusia dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah kadang-kadang terganggu oleh berbagai macam faktor: kadang-kadang terganggu oleh pakaian. Jika kita memakai jas, berdasi, dan mentereng, rasanya lain dibandingkan orang yang hanya mengenakan pakaian yang biasa saja, seakan-akan orang yang berpakaian biasa saja itu tidak bonafit. Kalau kita mengenakan pakaian yang indah-indah, maka rasanya kita ini yang paling tampan sedunia. Begitu juga kalau mengenakan pakaian jenderal (militer), seakan-akan kita ini begitu gagah dan sangat berkuasa.

Jadi, pakaian yang kita kenakan itu memberikan dampak psikologis, memberikan pengaruh kejiwaan kepada orang yang memakainya. Maka dalam pelaksanaan ibadah haji, lepaskan semua pakaian itu, supaya hubungan dengan Allah tidak terganggu. Dengan begitu, maka dia menjadi orang yang arif.

Allah berfirman:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Q.S. Al-Baqarah: 197)

Seperti yang termaktub pada ayat di atas, bahwa selain dilarang berbuat “rafats” (berkata yang menimbulkan hal-hal yang bisa membangunkan syahwat), juga dilarang untuk fusuq (melakukan pelanggaran), dan jidaala (bertengkar/berbantah-bantahan). Fusuq berarti orang yang tahu hukum tetapi melanggar. Jangan bertengkar berarti masuk ke masalah sosial, supaya bisa membangun komunikasi yang baik.

Dari cuplikan ayat di atas, betapa kita lihat, bahwa ajaran Islam itu terkait dengan masalah sosial. Pada ayat-ayat yang lain (berkaitan dengan ibadah haji) juga ditegaskan, bahwa dilarang membunuh binatang dan memotong tanaman (lihat Al-Maidah ayat 1, 2, 95). Bahkan di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada sebuah hadis qudsi disebutkan:

Suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Wahai para sahabat, tahukah kamu, siapakah di akhirat nanti yang menjadi orang yang bangkrut?”

Dijawab oleh para sahabat, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai dinar (uang emas) dan dirham (uang perak).”

Kata Rasulullah, “Bukanlah itu, melainkan orang yang bangkrut itu adalah orang yang datang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, pahala zakat, pahala puasa, pahala haji, dan pahala lainnya. Tapi datang malaikat melaporkan: Ya Allah, orang ini memang betul pahala ibadahnya banyak, tetapi orang ini pernah mencaci maki, orang ini pernah menyakiti hati orang lain di depan umum, orang ini pernah menuduh tanpa bukti, orang ini pernah memukul orang lain, orang ini pernah mencuri, orang ini pernah menumpahkan darah. Akhirnya orang tersebut tidak jadi masuk ke surga, ia ditahan.”

Seperti apakah ditahannya? Pahala kebaikan dari salat, zakat, puasa, haji, dan pahala-pahala lainnya dibagi-bagikan kepada orang yang pernah disakitinya, sampai habis pahala yang dimilikinya. Setelah habis pahala kebaikan ibadahnya itu, tinggallah keburukan orang-orang yang dizaliminya yang kemudian ditimpakan kepadanya. Maka kemudian dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Ibadah yang kita lakukan itu harus berdimensi sosial. Kalau dikaitkan lebih jauh lagi, ternyata masalah sosial itu menjadi prioritas. Misalkan jika kita puasa, yang puasa tersebut kita laksanakan sambil melakukan perjalanan. Perjalanan itu bisa meletihkan. Alquran menyatakan, bahwa kita yang berada di dalam perjalanan diperbolehkan untuk berbuka. Atau juga ketika kita dalam keadaan sakit, yang menurut penelitian para dokter, bahwa jika puasanya diteruskan, maka sakitnya akan bertambah parah. Karena itulah, menurut yang termaktub di Alquran, kita diperbolehkan berbuka jika dalam keadaan sakit. Ini artinya, bahwa ibadah di dalam Islam pun memperhatikan keselamatan manusia.

Dimensi sosial inilah yang kita inginkan, yang bermula dari aspek fiqh, aspek tasawwuf, yang kemudian meningkat kepada aspek sosial. Dari sini kemudian naik tingkat lagi ke tingkat ke empat, yaitu pendekatan logikal, kita perkuat argumentasi kita. Kita perkaya keagamaan kita dengan berbagai bahan bacaan, sehingga keberagamaan kita itu menjadi kokoh.

Menurut beberapa buku, akhir-akhir ini menunjukkan keadaan, yaitu orang-orang semakin percaya bahwa ajaran Islam memang ajaran yang terkemuka, ajaran Islam yang bisa memecahkan problem.

Sekarang ini sedang terjadi krisis ekonomi global. Sudah banyak yang stress, ada juga yang bunuh diri, juga ada yang menjadi orang gila. Pengaruhnya ternyata sudah sampai ke Indonesia, antara lain harga hasil pertanian dan perkebunan anjlok, sehingga para petaninya banyak yang stress. Menurut informasi dari media massa, bahwa akan terjadi PHK lebih dari 12 ribu orang.

Dalam keadaan seperti ini, maka agama yang harus menjadi pegangan, karena agama memberikan pedoman bagi manusia dalam seluruh keadaan. Antara lain kini semakin diyakini, bahwa Sistem Ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang paling kuat. Menurut Islam, mata uang itu adalah emas dan perak. Karena mata uang yang paling kuat adalah mata uang emas, yang ternyata hampir tak terkena goncangan.

Menurut ajaran Islam, juga dilarang untuk melakukan monopoli. Islam sudah menawarkan satu prinsip ekonomi yang balance (seimbang). Di dalam Islam dipersilakan untuk kaya. Tetapi bersamaan dengan kekayaan, dia bersedekah, dia berinfak, dia berzakat, dan dia berwakaf. Maka ketika dia makmur, yang lain pun juga ikut makmur. Namun, orang yang diberi zakat dan infak pun jangan ketergantungan terus-menerus. Sebaiknya, ketika diberi zakat, maka harus ada perubahan ke depannya. Jika tahun ini dia diberi zakat, maka tahun yang akan datang dialah yang memberi zakat.

Di dalam krisis ini, mental spiritual Islam sudah memberikan petunjuk, dan itu cukup banyak. Antara lain, misalnya ketika orang menghadapi keadaan pailit (bangkrut), keadaan kekurangan, maka Islam memberikan tuntunan untuk bersabar. Di dalam psikologi modern, sabar diartikan sebagai regresi, yaitu menurunkan kadar ambisi kita. Rasulullah pernah mengatakan (dan juga di dalam ajaran agama lain), bahwa sebab manusia stress itu karena terlalu tinggi obsesinya. Dengan bersikap sabar, maka jika dia menginginkan 100, maka kemudian kadarnya diturunkan menjadi 60. Selain sabar, yaitu sabar untuk menerima kenyataan dari standar 100 diturunkan menjadi 60, juga pada saat yang bersamaan dia juga bersyukur kepada Allah.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibraahim: 7)

Dengan bersyukur, sekecil apapun yang didapatkan, maka di hadapan orang yang bersyukur menjadi bermakna. Tetapi bagi orang yang tidak pernah bersyukur, maka berapapun menjadi tidak ada artinya. Misalkan dia mendapatkan untung sejuta, lalu dia berkata, “Ya…, hanya sejuta. Kemarin untungnya 3 juta.” Besoknya lagi dia mendapat 700 ribu, lalu dia berkata, “Ya…, cuma 700 ribu. Kemarin untungnya sejuta.” Sehingga tak pernah ada habisnya ia mengeluh.

Bagi orang yang bersyukur, ketika ia berada dalam keadaan yang sulit, maka ia akan bertawakkal kepada Allah.

Agama sudah memberikan petunjuk-petunjuk yang lengkap untuk menghadapi semua ini. Maka pada Q.S. Ar-Ruum ayat 30 dikatakan: fa aqim wajhaka. Ternyata kalimat ini luas sekali artinya, baik itu dimensi fiqh, tasawwuf, sosial, ideologi, dan dimensi kognitifnya.

Fa aqim wajhaka liddiini. Menurut para ahli ilmu nahwu, kata “ad-diin” di sini bentuknya ma’rifat. Di dalam Ilmu Nahwu, ada nakirah dan ada ma’rifat. Jika nakirah adalah umum, misalkan kata “diinun“, maka ma’rifat adalah khusus, misalkan kata “ad-diin“. Dalam hal ini, agama yang dimaksud adalah agama yang diturunkan oleh Allah, bukan agama yang dihasilkan dari seminar, bukan pula agama hasil penelitian, tetapi agama yang “that is the revelation from God in The Holy Quran“, yaitu agama yang diwahyukan oleh Tuhan di dalam kitab suci Alquran.

Mengenai orisinalitas Alquran, maka hal ini sudah terbukti. Hal ini sudah bisa dibuktikan, misalkan melalui pendekatan sejarah. Bahwa Alquran ditulis pada zaman Rasulullah masih hidup, dan beliau yang langsung mengedit Alquran tersebut, yang ini menurut istilah pada Ilmu Ulumul Qur’an disebut tauqif (penetapan Rasulullah). Jadi, ketika turun ayat Alquran, maka Rasulullah langsung memerintahkan para sahabat ketika itu untuk menyusun urutan surah dan ayat Alquran seperti yang bisa kita baca hingga saat ini (kini mungkin seperti menyusun dan menyimpan berkas-berkas di dalam file-file).

Di samping itu, penyusunan Alquran ini juga dibantu oleh para penghafal Alquran ketika itu. Jadi, kalau ada lembaran-lembaran Alquran itu yang hilang, maka masih ada back-upnya (sesuai dengan yang dihafal oleh para penghafal). Dan memang pada masa itu, tradisi di Arab adalah tradisi menghafal, sedangkan tradisi baca-tulis mungkin tidak ada, dan kalaupun ada, maka tidak sepenting tradisi menghafal. Oleh karena itulah, tradisi menghafal tersebut hingga saat ini masih ada di Arab. Menghafal Alquran bahkan menjadi persyaratan untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah seseorang masuk ke perguruan tinggi, barulah orang tersebut bertahassus dia mau menjadi apa. Misalkan mau menjadi dokter, silakan, tetapi dokter yang hapal Alquran. Mau menjadi ahli pertanian, silakan, tetapi ahli pertanian yang hapal Alquran. Mau menjadi insinyur, silakan, tetapi insinyur yang hapal Alquran. Mau menjadi tentara, silakan, tetapi tentara yang hapal Alquran. Sehingga agama itu betul-betul menjiwai seluruh aspek kehidupan.

Ada masa yang disebut sebagai Golden Age (Masa Emas). Masa ini pada setiap anak yaitu dari berumur 4 hingga 12 tahun (masa anak ketika TK hingga lulus SD). Inilah masa keemasan, di mana memori anak dengan mudah bisa menghapal. Menurut Ilmu Neurologi (ilmu tentang syaraf), bahwa pada otak manusia itu ada 200 milyar sel otaknya. Pertumbuhannya mulai dari dalam rahim (ketika terjadi ‘alaq). Pembentukan sel tersebut dalam setiap detik sekitar 25 ribu sel yang berkembang, hingga terus berkembang sekitar 200 milyar sel otak manusia tersebut. Sel-sel ini ada Golden Age-nya, di mana ada masa memorizing.

Suatu saat saya berkunjung ke Iran (tepatnya di Kota Teheran). Di sana saya menemukan 200 anak di bawah umur 10 tahun yang sudah hapal Alquran. Anak-anak ini juga pernah dites di London. Kecepatan mereka untuk mencari ayat Alquran dibandingkan dengan kecepatan komputer, ternyata anak-anak ini lebih cepat dibandingkan komputer.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata sistem komputer belum bisa menyaingi otak manusia. Diprediksi, bahwa baru pada tahun 2030 akan ada komputer yang servernya itu bisa menyimpan seperti halnya sel otak manusia. Tapi, sepertinya saya tak terlalu yakin akan prediksi ini. Otak manusia yang diciptakan oleh Allah memorizingnya begitu kuat.

Di sinilah kemudian kepada agama, di mana Alquran berpedoman kepada Ad-Diin, kemudian diperkuat oleh Hadis Rasulullah, kemudian diperkuat lagi oleh keterangan para ulama, seperti yang termaktub pada Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Menurut Imam Al-Maraghi dalam Kitabnya Tafsir Al-Maraghi, bahwa Ulil Amri itu ada dua macam: Al-Amru fiddiin (yaitu ulama) dan Al-Amru fiddaulah atau Al-Amru fiddunya (yaitu umara’). Jadi menurut Imam Al-Maraghi, bahwa ulama dan umara’ itu sama-sama ulil amri. Maka berdasarkan ayat ini, bahwa kawin di bawah tangan itu sebenarnya tidak sah, karena tidak mentaati ulil amri. Apalagi dalam hal ini kaidahnya adalah maslahatul mursalah (kemaslahatan umat).

Liddiini haniifa (beragama itu dengan tulus). Metode beragama memang berbeda dengan metode yang lainnya. Misalkan di dalam metode ilmu pengetahuan, bahwa sebelum kita menerima dan mempercayai sesuatu, maka kita skeptis dahulu terhadap hal tersebut. Kita harus ragu dan memverifikasi dahulu hal tersebut. Setelah teruji benar, barulah kita menerima dan mempercayai hal tersebut. Tetapi agama tidak boleh begitu. Agama diterima dahulu, karena agama adalah dari Allah yang sudah pasti benar. Kita meyakini bahwa agama adalah dari Allah dan sudah pasti benar.

Dengan agama, hidup jadi mempunyai tujuan jangka panjang. Dengan agama, hidup kita menjadi semakin tenang, karena dimiliki oleh Allah. Mudah-mudahan keberagamaan kita semakin mantap, semakin mempunyai nilai resonansi, semakin memiliki vibrasi, getaran di dalam kehidupan, sehingga akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. [Aan]

5 Desember 2008 at 11:46 AM 3 komentar

Provokator Haji

PROVOKATOR HAJI

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 16 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesuai dengan catatan yang dapat dipercayai, bahwa pada tahun 1994, jamaah haji Indonesia hanya 150 ribu orang. Quotanya adalah 220 ribu, yang ini sejak beberapa tahun lalu quota tersebut sudah selalu terpenuhi. Karena itulah, jika mendaftar untuk berhaji sekarang, maka baru bisa berangkat pada tahun 2010. Inilah karena begitu banyaknya orang yang pergi haji. Mengapa bisa menjadi banyak seperti ini? Hal inilah yang akan kita bahas kali ini.

Menurut catatan sejarah, bahwa Rasulullah mempunyai kesempatan tiga kali untuk beribadah haji. Tetapi selama hidupnya dengan tiga kali kesempatan itu, hanya satu kali Rasulullah melaksanakan ibadah haji.

Rasulullah mempunyai kesempatan ratusan kali untuk beribadah umrah, bahkan ribuan kali kesempatan. Tetapi Rasulullah melaksanakan ibadah umrah hanya empat kali: yang pertama gagal (6 H), karena Mekkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik, yang ketika itu baru diizinkan untuk berumrah pada tahun 7 H.

Pada tahun 8 H, Mekkah sudah dikuasai oleh Islam, tetapi Rasulullah tidak melakukan ibadah umrah dan haji. Pada tahun 9 H, Rasulullah barulah melaksanakan ibadah umrah. Pada tahun 10 H, Rasulullah melaksanakan ibadah umrah bersama haji. Jadi selama hidupnya, Rasulullah hanya melaksanakan umrah yang sunnah itu sebanyak dua kali.

Bandingkan dengan orang Indonesia yang jika mempunyai uang, maka maunya berumrah setiap bulan, serta berhaji setiap tahun. Dan ternyata bukan cuma di Indonesia, di negara-negara lain pun juga seperti itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan:

Pertama, ada anggapan, bahwa semakin sering ke Mekkah, maka orang tersebut akan semakin baik; baik dalam hal ibadahnya karena sering datang ke rumah Allah, baik juga karena kantongnya.

Ada anggapan di sebagian daerah di Indonesia, jika seorang pria sudah pernah berhaji sebanyak dua kali, maka dia akan mudah untuk mencari istri yang kedua. Mengapa bisa demikian? Karena orang yang sudah berhaji sebanyak dua kali ini dianggap bagus. Jika anggapan ini benar, maka Rasulullah tidaklah bagus, karena selama hidupnya Rasulullah hanya berhaji sebanyak satu kali.

Kedua, karena gencarnya iklan dan promosi untuk haji dan umrah. Cobalah lihat pada harian seperti Republika, di sana oknum-oknum kyai dan oknum-oknum ustadz semuanya menjadi bintang iklan haji dan umrah. Dan ternyata hal seperti ini tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun seperti itu.

Tadinya saya pikir, mungkin fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, sehingga saya tidak mempunyai kecurigaan apa-apa. Pada Bulan Syawwal (November tahun lalu/2007), saya berada di Chicago-Amerika Serikat. Di sebuah restoran, saya ambil koran-koran, yang ternyata isinya banyak sekali iklan haji dan umrah. Mulai saat itu, saya sudah mulai curiga, kok di semua negara yang ada Umat Islamnya, ternyata koran-koran penuh dengan iklan haji dan umrah? Ini ada apanya? Jika hal ini terjadi di Indonesia saja, tentunya hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Ternyata, hampir di semua negara juga seperti itu, seperti ada yang menggerakkan.

Waktu itu, kami sudah mulai curiga akan fenomena ini. Menurut perkiraan saya, mungkin ada aktor intelektualnya di balik fenomena ini.

Mengapa orang dianjurkan untuk berbondong-bondong pergi haji, bukannya diajurkan untuk membangun Umat Islam. Padahal menurut suatu penelitian yang dilaporkan oleh Sekretaris Dewan Fatwa Republik Arab Syiria, bahwa setiap tahun (setiap musim haji), Umat Islam melemparkan dana untuk ibadah Haji Sunnah sebanyak 5 milyar Dolar Amerika (jika dikurs-kan sekarang yaitu kurang lebih 55 trilyun Rupiah). Ini belum termasuk yang umrah, khususnya umrah pada Bulan Ramadan (Rasulullah saja tidak pernah melakanakan umrah pada Bulan Ramadan).

Jadi, dana sebanyak itu terlempar begitu saja. Pulang dari haji, ternyata keadaan tetap seperti ini (Umat Islam bukan semakin sejahtera).

Kecurigaan ini kemudian berubah ketika pada pertengahan Ramadan yang lalu, kami berada di Kota West Palm Beach-Florida-Amerika Serikat. Ketika itu, kami mendapatkan informasi dari seorang Muslim Indonesia yang bekerja di suatu perusahaan di sana (perusahaan itu milik orang Yahudi). Setiap menjelang musim haji, pemilik perusahaan itu menganjurkan pegawai-pegawainya yang muslim untuk pergi haji. Waktu itu saya tanyakan kepada orang itu, “Yang membiayai siapa, Pak?” Jawab orang itu, “Ya…, membiayai sendiri.”

Lantas kemudian muncul pertanyaan pada saya, “Apakah kepentingannya orang Yahudi menganjurkan orang Islam untuk berduyun-duyun pergi haji?” Apakah orang Yahudi itu ingin mendapatkan pahala? Tapi dia kan tidak mempercayai Agama Islam? Dia juga tidak menginginkan uangnya, karena ia bukan pemimpin perusahaan penerbangan, bukan juga KBIH, apalagi pembimbing haji. Lantas apakah kepentingannya?

Kepentingannya adalah, agar Umat Islam membuang dananya untuk sesuatu yang tidak wajib. Dana Umat Islam jangan dipakai untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membangun rumah sakit-rumah sakit Islam, untuk membangun kesejahteraan Umat Islam, dan sebagainya. Itulah kepentingan mereka.

Menurut FAO (Organisasi Pertanian dan Pangan PBB), bahwa di dunia kini masih dihuni oleh 830 juta orang miskin. Dengan catatan, bahwa yang miskin adalah orang yang penghasilannya kurang dari 2 dolar sehari (sekitar 20 ribu rupiah). Jadi, mereka yang penghasilannya kurang dari 20 ribu rupiah per-hari, maka itu disebut miskin. Dari 830 juta orang miskin itu, 700 juta nya adalah orang Islam.

Karena itulah, saya sekarang bukan lagi curiga, tetapi sudah yakin, bahwa tangan-tangan Yahudi sudah bermain dalam urusan haji. Maka orang Islam selalu digenjot supaya pergi haji terus, jangan ada yang membantu anak yatim yang terkena bencana tsunami di Aceh, jangan ada yang mengentaskan kemiskinan, melainkan uangnya lebih baik digunakan untuk melaksanakan ibadah haji saja terus-menerus. Inilah yang saya sebut sebagai “Provokator Haji”.

Ketika Umat Islam sedang terpuruk, masih banyak anak yatim yang terlantar, juga masjid-masjid yang terbengkalai, padahal Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Buktinya, ketika Rasulullah kedatangan Kabilah Mudhar di Madinah, ternyata Kabilah Mudhar ini orang-orangnya kurus-kurus, kurang gizi, pakaiannya compang-camping.

Melihat Kabilah Mudhar seperti ini, maka Rasulullah marah. Bukan marah kepada orang-orang Kabilah Mudhar yang miskin-miskin, melainkan marah kepada para sahabat, “Mengapa Kabilah Mudhar dibiarkan miskin seperti itu?”

Rasulullah menganjurkan supaya mereka disantuni langsung di masjid. Mendengar anjuran Rasulullah ini, maka ada yang bangun kemudian pulang ke rumah, setelah itu balik lagi ke masjid dengan membawa sekarung gandum kemudian menyerahkannya untuk Kabilah Mudhar. Begitu melihat ini, maka yang lainnya pun balik ke rumah masing-masing dan kemudian kembali lagi ke masjid dengan membawa bahan-bahan makanan, pakaian, dan sebagainya untuk diberikan kepada Kabilah Mudhar. Lalu Rasulullah berkata:

Man sanna bil Islami sunnatan hasanatan balaghu ajruha wa ajruman ‘amilabiha min ghayri an yanqusa min ujurihim syay-an (Siapa yang merintis perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahala perbuatannya itu dan perbuatan orang-orang lain yang mengikutinya).

Hal ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Islam adalah agama yang membawa rahmat (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin). Islam adalah agama yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Rahmat itu bukan hanya untuk manusia (baik itu muslim ataupun kafir), sedangkan binatang saja juga mendapatkan rahmat tersebut.

Menurut suatu riwayat, seorang yang memberikan minuman kepada anjing yang kehausan, ternyata dosanya diampuni oleh Allah, yang artinya ia bisa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing.

Yang namanya “‘alamin” itu adalah apa saja yang eksis di muka bumi ini, baik itu manusia (baik yang muslim maupun yang kafir), binatang, tumbuh-tumbuhan, dan apa saja yang ada di alam ini. Rasulullah mengatakan, bahwa siapa saja yang membunuh seekor burung (‘usfur = burung yang kecil) tanpa ada haknya, maka dia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Diperbolehkan kecuali ada haknya? Para sahabat bertanya, apakah haknya? Rasulullah mengatakan, bahwa burung tersebut boleh dibunuh, tetapi harus dimakan, jangan untuk main-main, misalkan hanya untuk dijadikan sebagai hiasan.

Karena itulah, di dalam hadits banyak disebutkan mengenai pelestarian lingkungan. Sampai-sampai Rasulullah menyatakan untuk tidak membunuh kodok.

Di Australia ada undang-undang yang menyatakan larangan untuk membunuh kodok, termasuk juga burung-burung dan binatang-binatang lainnya. Begitu juga di Amerika Serikat dan Kanada, yang jika kita sedang berada di sana, maka akan terlihat tupai dan burung berkeliaran di sekeliling rumah. Bahkan di Kanada, kita tidak boleh menebang pohon, walaupun pohon itu berada di depan rumah kita, kecuali ada izin dari pemerintah. Inilah rahmatan lil ‘alamin. Tetapi yang lebih banyak mempraktekkannya bukanlah Umat Islam. Mungkin kebanyakan Umat Islam lebih senangnya merusak saja.

Jadi, Islam itu adalah agama yang merupakan rahmat kepada seluruh penghuni alam, bukanlah agama yang individual saja. Kalau Islam itu rahmat, berarti kita sebagai Umat Islam harus peduli terhadap orang lain.

Islam bukanlah hanya agama individual yang tidak ada kepedulian sama sekali terhadap orang lain. Islam adalah agama individual, dan sekaligus agama sosial. Islam adalah agama yang membina keshalehan individual, sekaligus keshalehan sosial.

Oleh sebab itulah, meskipun Rasulullah mempunyai uang dan kesempatan untuk berhaji sebanyak tiga kali, ternyata Rasulullah melaksanakannya cukup satu kali saja. Lantas uangnya yang lain dipergunakan untuk apa? Ternyata dipergunakannya untuk berinfak. Ketika Rasulullah tinggal di Madinah, maka:

Pertama, ada kewajiban untuk berjihad melawan serangan-serangan orang kafir. Jihad memerlukan dana. Maka uang Rasulullah dipergunakan untuk membiayai jihad, begitu juga dengan para sahabat.

Wa jahidu bi anfusikum wa amwalikum (Berjihadlah dengan jiwa raga dan harta kalian).

Kedua, menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim.

Rasulullah mengatakan:

As-sa’i ‘alal armalati wal miskin kal mujahid fi sabilillah (Orang yang menyantuni para janda, para miskin, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah).

Bahkan juga dikatakan, seperti orang yang selalu berpuasa setiap hari dan salat tahajjud setiap malam.

Rasulullah juga mengatakan:

Ana wa kafilul yatim kahataini fil jannah (Saya bersama orang yang menyantuni anak yatim seperti dua jari ini di surga).

Surganya Rasulullah tentunya bukan surga yang biasa, melainkan surga yang paling tinggi tingkatannya, yang ini hanya diberikan kepada Rasulullah dan orang-orang yang menyantuni anak yatim.

Ketiga, menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam kepada Rasulullah ketika itu.

Umumnya, jika orang disuruh untuk menyantuni anak yatim, tentunya akan berpikir dua kali, malas, dan berbagai macam alasan lainnya. Tetapi, jika disuruh haji, maka orang akan langsung mendaftarkan diri.

Haji adalah ibadah yang paling rawan godaan dan provokator. Tidak ada salat itu ayatnya disebut “lillah”, misalkan “wa lillahi aqimush shalah” atau “wa lillahi iqamatush shalah“, meskipun salat itu juga harus lillahi ta’ala. Zakat dan puasa juga demikian. Tetapi untuk haji, ayatnya yang satu diawali dengan “lillah” dan yang satunya lagi ditutup dengan “lillah“.

Wa lillahi ‘alannaasi hijjul baiti manis thatha’a ilaihi sabiilaa (Hanya karena Allah, wajib bagi manusia untuk menjalankan ibadah haji di baitullah bagi yang mampu).

Ayat yang lain ditutup dengan lillah:

Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah (Kerjakanlah haji dan umrah lillahi ta’ala).

Mengapa untuk ibadah yang lain pada ayat yang memerintahkannya tidak disebutkan “lillah“, padahal dalam pelaksanaannya juga harus lillahi ta’ala?

Hikmahnya apa dan mengapa? Karena ibadah haji adalah ibadah yang paling rawan godaan, paling rawan provokator, baik provokator yang berupa setan dan iblis yang tidak kelihatan, maupun setan dan iblis yang kelihatan yang berupa manusia.

Maka, jika kita dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini, mengapa masih ada orang yang berhaji bolak-balik setiap tahun. Ada yang sampai tujuh kali, bahkan ada yang ingin lebih dari itu.

Dalam keadaan Umat Islam terpuruk seperti sekarang ini, ternyata kita masih ada yang berhaji berkali-kali, jor-joran umrah, maka cobalah tanya pada diri sendiri, kita ini mengkuti siapa? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti perintah Allah seperti yang disebutkan di dalam Alquran, maka tanyakan kepadanya, tolong sebutkan ayat mana yang memerintahkan seperti itu? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti Rasulullah, maka katakan kepadanya, bahwa Rasulullah tak pernah berhaji berkali-kali, tak pernah Rasulullah melakukan umrah hingga berkali-kali.

Inilah yang dikhawatirkan, bahwa orang seperti ini sudah terkena provokasi yang dibisikkan oleh provokator kepada hawa nafsu untuk melakukan ibadah haji lagi, bahwa orang yang pergi haji berkali-kali itu hebat, jaminannya surga.

Ð __È_D___œ_ _ô_3896 Patut juga diingat, apakah haji yang dilakukan itu mabrur? Haji yang mabrur itu syaratnya ada tiga:

Pertama, niatnya harus lillahi ta’ala.

Kedua, manasiknya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Ketiga, uang yang dipakai untuk ongkos naik haji haruslah uang yang halal.

Uang yang halal itu maksudnya adalah uang yang diperoleh dari perbuatan yang halal. Halal ataupun haram itu adalah hukum. Hukum itu tidak berkaitan dengan benda. Hukum itu hanya berkaitan dengan perbuatan manusia, yaitu manusia yang mukallaf (manusia yang sudah dikenai hukum). Karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh binatang tidaklah dikenai hukum.

Jika ketiga syarat di atas dilaksanakan, barulah mendapatkan haji mabrur.

Orang yang naik haji dengan menggunakan biaya yang diperoleh melalui cara yang haram, maka dijamin oleh Allah hajinya tidak akan diterima.

Rasulullah bersabda:

Innallaha laa yaqbalu shalatan min ghayri thahuurin wa shadaqatan min uluulin (Allah tidak akan menerima sembahyang tanpa bersuci, dan Allah tidak akan menerima shadaqah dari hasil korupsi).

Teladanilah Rasulullah. Jika beliau memiliki uang, maka uangnya itu disalurkannya: Pertama, untuk membiayai jihad fi sabilillah. Kedua, untuk menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim akibat peperangan. Ketiga, untuk menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu.

Orang-orang yang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu jumlahnya ratusan orang, mereka tinggal di Masjid Nabawi, pakaian mereka hanya beberapa helai, dan mereka tidur di masjid. Lantas dari manakah mereka mendapatkan makan? Rasulullah mengatakan:

“Siapa yang punya makanan untuk satu orang, maka ajaklah dua orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk dua orang, maka ajaklah empat orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk empat orang, maka ajaklah delapan orang pelajar shufah untuk makan.”

Rasulullah sendiri setiap hari meransum kurang lebih untuk 70 orang. Ini semuanya adalah bentuk-bentuk dari infak. Dan itulah yang dikerjakan oleh Rasulullah, bukanlah setiap bulan umrah, bukan pula setiap tahun berhaji. Karena itulah, jika kita ingin berhaji mengikuti seperti Rasulullah, maka ikutilah Rasulullah secara keseluruhan, baik cara maupun jumlahnya.

Sering ada yang mengeluhkan kepada saya, bahwa ia baru pergi haji sekali, tetapi rasanya belum puas. Lalu saya tanyakan kepadanya, “Yang belum puas itu apanya? Apakah thawafnya, wukufnya, sa’inya, melontar jamrahnya, atau jalan-jalan dan belanjanya yang belum puas?”

Saya katakan kepadanya, “Seribu kali anda pergi haji, maka tetap anda tidak akan puas, sebab puas itu bisa saja merupakan hembusan bisikan setan.”

“Jangan dipakai untuk anak yatim, karena tidak akan ada yang tahu. Tetapi jika pergi haji, maka akan banyaklah yang tahu bahwa kamu pergi haji, akan banyaklah yang memujimu” mungkin seperti itulah bisikan setan.

Karena itulah, untuk memberi santunan kepada anak yatim, orang miskin, dan menyumbang untuk masjid misalkan, orang banyak yang enggan untuk melakukannya. Tetapi jika untuk pergi haji berkali-kali, maka banyak sekali yang bersemangat. Di sinilah godaan setannya, betapa begitu rawannya ibadah yang satu ini (haji).

Bagi yang baru pertama kali akan melaksanakan ibadah haji, maka mantapkanlah niatnya. Yang sudah punya kemampuan untuk pergi haji, segeralah berhaji. Jangan sampai rukun Islam yang kelima diubah menjadi beli mobil. Karena ada orang seperti ini, yaitu yang tidak mau menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan rukun Islam yang kelima diganti untuk membeli mobil. Jika ada yang seperti ini, maka ia sudah berdosa. Pergi haji cukup dengan uang sejumlah 35 juta rupiah ia tidak mampu, tetapi jika untuk membeli mobil yang harganya mencapai ratusan juta rupiah ia mampu. Katanya ia tidak mempunyai uang untuk berhaji. Ya wajar saja, karena uangnya dipakai untuk membeli mobil.

Jika ada orang yang seperti ini, maka juallah mobilnya itu, kemudian gunakan uangnya untuk berhaji. Tetapi patut pula diingat, setelah pergi haji, lalu punya uang lagi, maka ikutilah Rasulullah, yaitu infakkanlah uang tersebut. Janganlah kemudian jika memiliki uang lagi, lalu uang tersebut digunakan untuk pergi haji lagi dengan alasan belum puas dan sebagainya.

Dalam hal ini, teladanilah Rasulullah, yaitu berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali.

Hati-hatilah terhadap provokator-provokator haji. Jangan sampai yang kedua dan ketiga kita berhaji karena terkecoh dan terpancing dengan provokasi-provokasi itu. Saya sendiri termasuk orang yang pernah ditawari untuk hal-hal seperti ini.

Waktu pertama kali pulang dari haji pada tahun 1985, saya ditawari untuk mencari jamaah ibadah umrah dan haji. Tawarannya begitu menggiurkan, yaitu jika saya bisa mendapatkan 15 orang jamaah, maka saya bisa pergi haji gratis, pergi umrah gratis. Kalau bisa mendapatkan 30 orang, maka saya bisa pergi haji dengan istri saya. Bukan hanya itu, karena nanti setiap hari saya akan diberi uang saku sejumlah 50 dolar.

Jika saya menerima tawaran ini, maka mungkin saya akan memprovokasi orang-orang untuk pergi haji dan umrah dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, dan seterusnya. Saya mungkin akan menganjurkan dengan embel-embel hadis, yang ujung-ujungnya saya hanya berkepentingan untuk mengumpulkan dolar. Karena semakin banyak orang yang mengikuti ajakan saya, maka akan semakin pula dolar yang saya dapatkan. Kalau sudah seperti ini, maka kantong saya semakin tebal, dan mungkin kami akan dijuluki sebagai ustadz ataupun kyai KPD (Kyai Pemburu Dolar).

Jika ini saya lakukan, berarti saya sudah menjual ayat dan hadis demi kepentingan dolar. Ketika itu, Almarhum Guru saya mengingatkan, agar saya jangan ikut-ikutan mengurus haji. Kalau sekedar membimbing haji mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau sampai membuat perusahaan yang mengurusi dan mengelola haji, yang nanti kalau uang sudah banyak sekali, tentunya saya akan kaya raya, uang bertumpuk, dan saya bingung akan menyalurkan ke mana uang tersebut.

Alhamdulillah, saya tidak sampai tergoda akan tawaran dan provokasi dari provokator haji tersebut. Saya tidak menjadi pembimbing haji, tidak menjadi pengelola haji, tetapi kemudian saya menjadi pengkritik haji.

Mudah-mudahan bagi yang akan menunaikan ibadah haji nantinya bisa mendapatkan haji yang mabrur. Dan yang sudah haji, maka perbanyaklah infak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tidak usah ada pikiran untuk berhaji yang kedua dan ketiga kali, melainkan ikutilah Rasulullah: Berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali. [Aan]

5 Desember 2008 at 11:35 AM Tinggalkan komentar

Kajian Kitab Hadits Nashahihul ‘Ibad

KAJIAN KITAB HADITS NASHAHIHUL ‘IBAD

Disarikan dari Ceramah Dzuhur yang disampaikan oleh Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A. pada tanggal 4 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hadis Pertama

Rasulullah bersabda:

‘An ‘Abdullah ibni ‘Amrin, qaala: qaala rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, arrahimuna yarhamuhurrahman.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, berkata: bersabda Rasulullah SAW, orang-orang yang pengasih, mereka akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.

Bahwa orang-orang yang mengasihi sesamanya di dunia ini, maka pasti akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Karena itulah, misi dari Islam adalah kasih sayang. Dari namanya sendiri, bahwa Islam adalah keselamatan dan kedamaian. Dan jelas sekali surah pertama di dalam Alquran menyatakan mengenai hal ini (Al-Fatihah ayat pertama). “Bismillahirrahmanirrahim” (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Di dalam ajaran Islam, jika kita mencermati akhlak dari orang-orang yang agamanya sudah termasuk tingkat tinggi, jangankan terhadap manusia, terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan pun ada akhlak yang diterapkan. Bahkan dalam hadits yang lain ditegaskan oleh Rasulullah, bahwa ada seorang perempuan yang masuk ke dalam neraka disebabkan ia mengurung seekor kucing di dalam kamarnya, kemudian kucing itu kelaparan dan kehausan, hingga kemudian kucing itu mati.

Terhadap hewan saja kita semestinya berakhlak baik, apalagi terhadap sesama manusia.

Di dalam hadis lain juga ditegaskan, bahwa ada seorang wanita jalang, dalam suatu perjalanan di padang pasir, ia mengalami kehausan. Kemudian ia menemukan suatu oase (perigi/sumur) di tengah-tengah padang pasir. Oase itu begitu dalamnya, dan untuk mengambil airnya begitu susah. Kemudian wanita itu turun ke oase tersebut, lalu ia pun minum sepuas-puasnya. Setelah ia minum, ia naik lagi ke atas. Ketika sudah di atas, ia menjumpai seekor anjing yang kelihatan kehausan. Wanita tersebut begitu yakin, bahwa anjing tersebut begitu hausnya, seperti halnya ia yang barusan mengalami kehausan. Kemudian wanita tersebut mengambilkan air untuk diberikan kepada anjing tersebut. Ia pun turun ke sumur tersebut dan menampung air yang diambilnya dengan sepatu yang sedang dipakainya. Setelah itu dia naik lagi, kemudian memberikan air tersebut kepada anjing yang sedang kehausan itu.

Rasulullah mengatakan, bahwa wanita tersebut tergolong ahli surga, karena mengasihi seekor anjing.

Para sahabat kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ada kebaikan dari berbuat baik terhadap seekor binatang?”

Rasulullah pun menjawab, “Pada setiap makhluk hidup, anda berbuat baik, maka anda akan mendapatkan pahala.”

Jadi, begitu luar biasanya misi yang ditegakkan oleh Islam. Karena itu, Rasulullah memperlakukan hewan begitu baiknya. Bahkan unta beliau diberi nama, yaitu “al-quiswa“. Bukan hanya itu, benda-benda mati seperti pisau dan sebagainya diberi nama oleh Rasulullah (ada nama tersendiri bagi benda-benda mati tersebut). Dalam hal ini, Rasulullah memanusiakan benda mati. Tentunya berbeda sekali dengan umumnya kita yang tidak bisa berbuat semestinya terhadap sesama manusia, apalagi terhadap makhluk yang lainnya.

Karena itulah, ditegaskan:

Irhamu mawfil ardhi, yarhamukumaa fissama’.

Kasihanilah orang-orang yang ada di bumi, akan mengasihani kamu semua yang ada di langit.

Setiap orang yang mengasihi sesama di muka bumi ini, maka penduduk langit, para malaikat, termasuk pencipta alam ini (Allah SWT) akan merahmati orang yang seperti ini.

Di dalam hadits yang lain juga ditegaskan:

Man rahima wa lawzabi hata ‘ushuurin rahimahullahu yawmal qiyamah.

Siapa yang mengasihani orang lain, meskipun hanya sekedar menyembelih seekor burung yang kecil untuk menghormati orang lain, Allah akan merahmati orang tersebut di hari kiamat.

Dalam sejarahnya, Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang sangat hormat terhadap tamu. Bahkan digambarkan di dalam legenda orang-orang Arab, bahwa ada seorang Arab yang bernama Khatim Ath-Thayyi. Ia ini sangat baik terhadap tamu. Semua tamunya ia beri makan, serta ia beri segala macam. Sampai suatu saat, dia hanya mempunyai satu-satunya seekor kuda yang sangat bagus, luar biasa, dan tentunya mahal.

Kemudian Kaisar Byzantium mendengar bahwa kudanya Khatim Ath-Thayyi ini luar biasa. Akhirnya Kaisar Byzantium mengirim empat orang untuk mendatangi Khatim Ath-Thayyi dengan tujuan untuk membeli kuda tersebut, berapapun harganya.

Waktu tamu asing ini (utusan Kaisar Byzantium) datang, Khatim Ath-Thayyi tidak memiliki apa-apa lagi. Ia hanya tinggal mempunyai kuda tersebut. Akhirnya kuda tersebut dipotongnya untuk disuguhkan kepada tamu asingnya itu.

Tamu tersebut beberapa hari menginap di rumahnya, dan dalam beberapa hari itu juga, tamu tersebut belum menyampaikan maksud kedatangannya. Khatim Ath-Thayyi pun terus mengurus tamunya itu, termasuk juga makan dan minumnya. Pada hari ketiga, barulah tamu tersebut menyampaikan maksudnya, bahwa mereka adalah utusan dari Kaisar Byzantium yang bertujuan untuk membeli kuda yang dimiliki oleh Khatim Ath-Thayyi berapapun harganya.

Mendengar ini, Khatim Ath-Thayyi tersenyum dan mengatakan, bahwa karena ia sudah tak mempunyai apa-apa lagi, maka kuda yang dimaksud itu sudah menjadi santapan mereka bersama-sama dalam beberapa hari tersebut semenjak sang tamu berada di rumahnya.

Inilah suatu legenda di kalangan orang-orang Arab, bahwa mereka itu orang-orang yang sangat menghormati tamu. Karena itulah, “duyufurrahman” (tamu Allah/jamaah haji) di Mekkah dan Madinah dimuliakan begitu luar biasa.

Hadis kedua

Ahabbunnaasi ilallaahi an faa-uhum linnaas. Wa ahabbul a’mali ilallaah sururun yudkhiluhu ‘ala muslimin.

Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia). Dan amal (aktifitas) yang dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan (kegembiraan) yang disampaikan kepada sesama muslim.

Diriwayatkan, ketika Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa Asy’ari sebagai gubernur di Yaman Barat dan Yaman Timur, Nabi berpesan ketika kedua sahabat tersebut akan berangkat, yaitu tiga pesan pokok yang merupakan dasar ajaran agama Islam:

Pertama, “yassira wa laa tu’assira” (permudahlah oleh kalian dan jangan dipersulit).

Kedua, “basysyira wa laa tunaffira” (gembirakan mereka oleh kamu berdua, dan jangan kalian takut-takuti).

Ketiga, “sururun bidkhiluhu ‘ala muslim” (bawakan berita gembira/menyenangkan orang muslim itu baik).

Begitu kita menyenangkan seorang muslim, itu berarti melebihi sedekah. Rasulullah mengatakan, “fa bi fadshin thalib (dengan wajah yang cerah)”. Dengan wajah yang simpatik, itu sudah merupakan bagian dari sedekah.

Qaulun ma’rufun wa maghfiratun khairum min shadaqatin irba’ ra’aza” (ucapan yang bagus, ampunan, wajah yang cerah, lebih baik dari sedekah yang disertai dengan menyebut-nyebut).

Inilah yang disebutkan hadis ini, bahwa kita harus datang, pergi, kembali, memberikan berita gembira kepada sesama kita, jangan menakut-nakuti, jangan mengancam, jangan sampai orang lain merasa dengan adanya kita, maka keadaan akan menjadi sulit, sehingga permudahlah semuanya.

Aw yaqsifu anhu qurbahu” (atau orang itu datang ataupun pergi ke manapun bisa menghilangkan kesulitan orang lain).

Aw yaqdhi an hudayna” (atau dia bisa membantu orang yang mempunyai hutang yang tak bisa bayar).

Aw yadhudu an huju’a” (atau menghilangkan kelaparan di tengah-tengah kehidupan masyarakat).

Wal an’am syiima ahin fii haajatin ahabbu ilallaahi min a’taqifa fii haazal masjid” (Dan hendaklah jika anda berjalan dengan seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhannya, lebih dicintai oleh Allah daripada i’tiqaf di masjid ini/masjid Madinah).

Kita tegaskan, bahwa di mana pun kita pergi, kita berangkat, kita kembali, ataupun kita bergaul, maka kita harus mendatangkan rahmat untuk sesama. I’tiqaf yang dimaksudkan oleh Rasulullah adalah I’tikaf selama sebulan di Masjid Nabawi-Madinah.

Wa man kaffa ghadabahu, sataruhullahu aaratahu (Dan siapa yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menutup aibnya).

Jadi, setiap orang yang bisa menahan amarahnya, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut.

Wa man kaazima ghizahu, wa law syaa-an yamdiyahu, amdahullahu maa laa Allahu qalbahu raja-an yawmal qiyamah (Dan siapa yang dapat mengendalikan amarahnya, meskipun ia bisa melampiaskan amarahnya itu, maka Allah akan memenuhi hati orang tersebut dengan pengharapan-pengharapan di hari kiamat).

Kita dizalimi dan disakiti orang lain, maka sebenarnya kita bisa membalas orang tersebut. Tapi kita kemudian tidak membalasnya, malahan kita memaafkan, maka Allah akan memenuhi hati kita dengan suatu harapan-harapan yang sangat indah nantinya pada hari kiamat.

Hidup kita ini memang sudah selayaknya dengan raja’ (harapan/optimisme). Tapi jika hidup disertai dengan pesimisme, maka kita akan gagal.

Wa innassu al-khuluqi yufsidul amala (Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu dapat membinasakan amal-amal kita).

Seandaikan beramal baik itu adalah menanam pohon, maka kita harus memperhatikan hama-hama pohon yang kita tanam itu. Kalau kita menanam pohon meskipun dipupuk sedemikian rupa, tapi hamanya tidak diberantas, maka akan hancurlah pohon yang kita tanam itu. Akhlak yang buruk bagaikan hama yang menggerogoti tanaman.

Yang merusak amal kita antara lain: akhlak yang buruk, adab yang buruk, namimah (mengadu domba), riya’, dan juga hasad. Bahkan Rasulullah mengatakan:

Al-hasadu ya’kulul hasanat kama ta’kulun naarul hathaba (Hasad itu dapat merusak kebaikan-kebaikan seseorang bagaikan api yang membakar jerami).

Bayangkanlah api yang membakar jerami, habislah semuanya, sehingga tinggallah debunya yang halus diterbangkan angin.

Kama yufsidul khalla al-ashala (Sebagaimana merusakkannya cuka yang dicampurkan ke dalam madu).

Hadis ketiga

Saya’ti zamaanun ‘ala ummati, Yafirruuna ‘anil ‘ulama wal fuqaha, Fayabtaliya humullaahu bi tsalaasaati baliyyaatin: Awwaluha yarfa’ullahul barakah min kasbihin, Wats-tsaniyah, yushallitullahu ta’ala alaihim sulthaanan zaalima, Wats-tsaalisatu, yakhrujuuna minaddunya bi ghayri iimaan.

Akan datang di suatu masa menimpa ummatku, di mana mereka umatku itu banyak yang lari dari para ulama dan para fuqaha, maka Allah akan mencoba menguji orang tersebut dengan tiga bahaya: Pertama, Allah akan mengangkat berkah-Nya dari usaha mereka. Kedua, Allah akan menguji orang-orang tersebut dengan diberi pemimpin yang zalim. Ketiga, orang-orang tersebut meninggal dunia dalam keadaan tidak membawa iman. []

18 September 2008 at 7:06 AM 2 komentar

Esensi Puasa Ramadhan dalam Perspektif Alquran

ESENSI PUASA RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihah, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.

Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.

Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.

Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.

Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:

Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.

Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.

Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu dengan kata shaum.

Yang diwajibkan kepada kita bukanlah shaum, melainkan shiyam. Shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Jadi, shaum adalah menahan diri, sedangkan shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Persamaan shaum dan shiyam, bahwa kedua-duanya adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak shaum dan tidak melakukan shiyam.

Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal seperti ini yang akan kita capai.

Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.

Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.

Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks shiyam, ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan tersebut.

Esensi shiyam

Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: la allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.

Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah pakaian takwa tersebut kita kenakan. Wa libasut taqwa zalika khair.

Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam takwa. Jadi, kalau kita mengatakan takwa, maka segala macam kebaikan ada di dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan dima ul khair (himpunan dari segala macam kebaikan).

Jika Alquran mengatakan, bahwa diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertakwa, maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.

Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya. Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.

Rasulullah bersabda, Allah berfirman:

Ash-shaumuli wa ana azzibi.

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.

Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10 pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita mengerti artinya, maka 70 pahalanya.

Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca 30 juz tetapi tidak mengerti artinya.

Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.

Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri, tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta tidak dengki.

Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa lantas digeneralisir. Akulah yang akan memberi pahalanya, kata Allah.

Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini dengan mengatakan: Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.

Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.

Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.

Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?

Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.

Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara. Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah, teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.

Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini. Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah normal

Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]

Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar fidyah saja.

Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.

Ternyata bukan hanya ini.

Allah ar-rahman, apakah kita bisa bersikap ar-rahman kepada orang lain? Allah ar-rahim, apakah kita bisa bersikap ar-rahim kepada orang lain?

Rahman adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan, termasuk juga merahmati orang-orang kafir.

Rahim, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.

Malik, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.

Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.

Quddus artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal: benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.

Allah itu quddus, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.

Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni. Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.

‘Alim, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).

Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang acaranya baik-baik.

Ghaniy, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.

Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf.

Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh. Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi, sehingga dia tidak mau meminta-minta.

Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu untuk meminta.

Selain ghaniy, ada juga mughniy. Mughniy artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi kekayaan.

Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.

Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya. Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.

Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah tersebut.

Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“, yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya pun baik dan benar.

Di sini, yang jadi karim itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu karim. Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?

Allah karim, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna, itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa sampai kepada takwa.

Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.

“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu, yaitu: pertama, syahadat laa ilaa ha illallah. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”

Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:

Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.

Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.

Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.

Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu, kecuali Dia (Allah).

Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:

Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.

Perbaharui imanmu dari saat ke saat.

Wa kaifa nujaddid?

Bagaimana kami memperbaharui iman kami?

Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.

Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.

Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan laa ilaa ha illallah.Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.

Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:

Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.

Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.

Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat laa ilaa ha illallah. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.

Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada kita.

Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?

Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.

Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.

Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita ambil yang mudah saja.

Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka, supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di luar.

Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?

Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:

{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.

Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?

Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka. Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.

Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.

Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.

Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.

Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.

Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?

Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah. Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah. Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.

Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini, permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga, jauhkanlah aku dari neraka.”

Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?

Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”

Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga. Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut. Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada kita.

Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya. Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.

Rasulullah bersabda:

Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.

Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.

Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi diri. Itulah esensi dari puasa. []

18 September 2008 at 6:58 AM 8 komentar

Puasa

PUASA

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Drs. H. Wahfiudin, M.BA., pada tanggal 20 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ayat yang menegaskan mengenai perintah berpuasa di Bulan Ramadhan adalah:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Pada Al-Baqarah ayat 183 hanya memerintahkan kewajiban puasa, namun tanpa menyebutkan waktu yang pasti mengenai kewajiban puasa tersebut. Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 185 secara tegas menyebutkan bahwa kewajiban berpuasa tersebut adalah di Bulan Ramadhan.

Pada Al-Baqarah ayat 185 menyebutkan:

…fa man syahida min kumusy-syahra fal yashumhu …

… siapa yang menyaksikan di antara kamu datangnya bulan itu (Bulan Ramadhan), maka berpuasalah ….

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan menurut penanggalan hijriyah. Ramadhan berasal dari kata “ramadha” (panas yang menghanguskan), sebab sebelum kedatangan Islam, penghitungan kalender itu berdasarkan pada matahari. Sehingga Bulan Ramadhan waktu itu setara dengan September. Dan memang kita ketahui, bahwa musim panas di Jazirah Arabia adalah pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Pada Bulan Juni, Juli, dan Agustus adalah puncak musim panas. Sehingga setelah Juni, Juli, Agustus terbakar oleh sinar matahari, maka September adalah sedang panas-panasnya. Siangnya begitu panjang. Pukul setengah empat sudah masuk waktu Shubuh. Matahari membakar batu. Ketika maghrib, matahari terbenam. Batu yang terbakar terkena sinar matahari seharian, kemudian mulai dingin. Tapi belum dingin betul, pagi lalu muncul lagi. Kemudian terkena panas lagi. Begitulah berbulan-bulan. Karena itulah, bulan yang panas menghanguskan disebut sebagai Bulan Ramadhan.

Setelah Ramadhan, maka masuklah Bulan Syawwal. Syawwal berasal dari kata “syawwala”. Biasanya di gurun-gurun pasir itu ada sumur (oase). Maka air di sumur itu setelah bulan-bulan yang panas itu lalu diangkat. Karena airnya habis ditimba, maka sumur itu menjadi kering. Syawwala artinya sumur yang sudah mengering karena airnya diangkat.

Pada Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, bahwa puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum Umat Nabi Muhammad.

Di Injil-Kitab Jeremia (36) ayat 9 disebutkan:

Adapun dalam tahun yang kelima pemerintahan Yoyakin bin Yosia, Raja Yahuda, dalam bulan yang kesembilan, orang telah memaklumkan puasa di hadapan Tuhan bagi segenap rakyat di Yerusalem. (Injil)

Jadi, sudah ada perintah puasa untuk umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) melalui nabi-nabi yang diutus kepada umat tersebut. Bahkan Nabi Musa, dia naik ke gunung yang begitu tinggi, tembus ke awan, lalu tinggallah ia di atas gunung selama 40 hari 40 malam untuk melakukan ibadah i’tikaf. Karena itulah, di dalam dunia Islam ada kelompok-kelompok tarikat yang mempunyai tradisi suluk (khalwat) selama 40 hari. Inilah tradisi Nabi Musa. Di dalam Alquran, mengenai hal ini dijelaslan pada Surah Al-A’raf ayat 142, bahwa Nabi Musa digembleng selama 30 hari, kemudian lulus, lalu Allah tambahkan 10 hari lagi, sehingga menjadi 40 hari.

Nabi Isa pun digembleng 40 hari 40 malam. Seperti yang tertulis di Injil, bahwa Nabi Isa kemudian dibawa oleh roh (Jibril) ke padang gurun untuk diuji. Maka, setelah berpuasa 40 hari 40 malam, akhirnya laparlah Nabi Isa.

Dari hal ini, dapatlah kita ketahui, bahwa umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) juga berpuasa. Di dalam Injil Lukas juga disebutkan mengenai Puasa Senin-Kamis. Yang menarik, adalah bagaimana sikap berpuasa seperti yang tertulis di Injil Matius:

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram wajahmu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat, bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya, yaitu dikagumi oleh orang. (Injil)

Pesan moral yang ada di Injil sebenarnya sama dengan pesan moral di Agama Islam, yaitu kalau sedang berpuasa, janganlah ditunjuk-tunjukkan bahwa kita sedang berpuasa.

Di dalam Hadits Qudsi, Rasulullah menyampaikan pesan:

Allah tabara wa ta’ala berkata: setiap amal (perbuatan) keturunan Adam untuk si anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberikan ganjarannya langsung. (Hadits Qudsi)

Pesan hadits qudsi ini adalah, bahwa setiap orang yang berbuat baik, maka orang tersebut bisa mengira-ngira ganjaran yang akan ia peroleh. Tetapi puasa, maka ganjarannya tidak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu, dan itu adalah rahasia manusia dengan Allah.

Kembali kepada Injil Matius, juga disebutkan:

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu (oleh Tuhan) yang ada di tempat tersembunyi. (Injil)

Puasa itu adalah urusan kita dengan Tuhan saja, jadi tak usah terlalu dinampak-nampakkan. Jika di hari-hari biasa (selain Bulan Ramadhan) kita bisa beraktivitas normal seperti biasanya, maka di Bulan Ramadhan pun selayaknya kita juga harus tetap beraktivitas seperti biasanya, masuk bekerja seperti biasanya tanpa harus terlambat, bekerja seperti biasanya tanpa harus bermalas-malasan.

Janganlah karena puasa kemudian menjadikan kita selalu minta keringanan. Sesungguhnya puasa itu bukanlah sesuatu yang akan mencelakakan kita, melainkan adalah sesuatu yang akan menggembleng kita. Dan orang takkan mati karena puasa.

Keistimewaan Ramadhan

Karena banyaknya keistimewaan Ramadhan (bulan rahmat, pengampunan, dan sebagainya), menurut Rasulullah:

Kalaulah orang mengetahui kebaikan-kebaikan yang ada pada Bulan Ramadan, niscaya mereka akan menginginkan agar Ramadan berlangsung sepanjang tahun. (Al-Hadits)

Rasulullah juga memberikan pesan:

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah, hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Saat demi saatnya adalah saat-saat yang paling utama. Inilah puncak segala bulan, penghulu segala bulan. (Al-Hadits)

Jika kita cermati lagi pesan Rasulullah tersebut, bahwa Ramadhan adalah bulan yang malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama.

Kita sering kali menganggap bahwa Ramadhan itu yang istimewa hanya siangnya saja. Ternyata kita lupa, bahwa malamnya pun istimewa. Memang, siangnya istimewa karena siangnya kita melakukan ibadah “shiyam” (puasa). Namun janganlah dilupakan, bahwa pada malam harinya pun kita dianjurkan untuk melakukan ibadah “qiyam” (shalat). Secara sederhana menurut terminologi fiqh, bahwa perbanyaklah ibadah di waktu malam, janganlah perbanyak tidur.

Malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Inilah yang sering diabaikan. Di siang harinya karena berpuasa, maka kita begitu mengistimewakan siang hari Ramadhan. Tapi setelah berbuka puasa, maka biasanya aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang sia-sia. Padahal malam di Bulan Ramadhan adalah malam-malam yang istimewa. Malam yang mana? Yaitu sejak Maghrib, itu sudah istimewa, yaitu kita berbuka puasa, kemudian Shalat Tarawih, kemudian membaca Alquran, tidur, apalagi di waktu “sahur”.

Sahur adalah nama waktu, yaitu sepertiga malam yang terakhir, kira-kira pukul setengah 2 sampai setengah 5. Sepertiga malam yang terakhir inilah yang disebut sebagai waktu “sahur”.

Sahur, jamaknya adalah “as-har”. “Wa bil as-haari hum yastaghfirun” (di waktu-waktu sahur, mereka terus memohon ampun kepada Allah). Mengapakah dianjurkan untuk memohon ampun di waktu sahur? Sebab di dalam hadis juga dijelaskan: di waktu sahur (sepertiga malam yang terakhir), Allahu yanzilu ilas-sama’iddunya (Allah turun ke langit yang terdekat dengan bumi, dan Allah mencari-cari orang yang berdoa di waktu sahur, dan Allah akan sangat malu untuk tidak mengabulkan doa orang yang berdoa di waktu sahur).

Maka, ketika Nabi ditanya, “Kapan saat berdoa yang paling baik?”

Nabi lalu mengatakan, “Di penghujung salat fardhu, wa fi jaufil laylil akhirah (di penghujung malam yang terakhir)”.

Maka perbanyaklah berdoa di waktu-waktu yang istimewa ini.

Yang istimewa dari Sahur adalah waktunya, bukanlah makannya (makan sahur). Mengapa? Karena di waktu sahur itulah doa-doa didengarkan dan diperhatikan. Oleh sebab itu, bangun di waktu sahur jangan hanya untuk makan. Kalau ada pesan Rasulullah yang berbunyi: Tasahharu fa inna fissahuri barakah (Bersahurlah kalian, sesungguhnya pada sahur ada keberkahan).

Keberkahan itu pada waktu sahurnya, bukan pada makan sahurnya. Kita sering mengartikan, bahwa keberkahan itu pada makan sahurnya. Sehingga, kitapun makan banyak-banyak pada saat sahur. Bukanlah ini yang dimaksud. Rasulullah mengatakan: Kalaupun yang kamu minum hanya seteguk air, maka itu sudah cukup.

Jadi, kalau memang banyak keberkahan di waktu sahur, mengapa kita tidak makan minum banyak-banyak, mengapa dikatakan oleh Rasulullah, bahwa seteguk air saja cukup.

Keberkahan itu bukan pada makan sahurnya, melainkan pada waktu sahurnya itu sendiri. Jadi makna: tasahharu (bersahurlah kalian), ternyata bukanlah makan sahur, tapi bangun di waktu sahur. Dan isilah waktu sahur jangan hanya dengan makan, melainkan sempatkanlah untuk Salat Tahajjud. Sesuai dengan namanya, yaitu tahajjada (bangun dan bangkit dari tidur), sehingga kalau kita sudah tidur, lalu bangun dan bangkit, maka itulah yang dinamakan sebagai tahajjud.

Setelah bangun dan bangkit itu, lalu bersegeralah untuk shalat. Sehingga salat yang dilakukan itu kemudian disebut sebagai shalat tahajjud. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa shalat tahajjud hanya bisa dilaksanakan setelah terlebih dahulu tidur, maka memang benar adanya. Bagaimana bisa disebut sebagai shalat tahajjud (salat bangkit dari tidur), jika tidak tidur terlebih dahulu. Tetapi, bukan berarti nilainya rendah jika kita melakukan salat malam (salat sunnat) tanpa terlebih dahulu tidur, misalkan bagi orang yang bekerja pada malam hari, sehingga untuk melakukan salat sunnat pada malam hari ia tanpa terlebih dahulu tidur. Cuma, shalat sunnat yang dilakukan tanpa terlebih dahulu tidur, maka tidak dinamakan sebagai salat tahajjud.

Perbedaannya hanyalah pada nama shalatnya. Yang satu disebut tahajjud, sedangkan yang satunya lagi tidak disebut sebagai tahajjud. Lantas disebut sebagai salat apa? Sebut saja sebagai shalat lail (shalat malam). Tetapi berkenaan dengan pahala, sebenarnya sama saja. Substansinya, sama-sama dilakukan pada waktu yang istimewa (sepertiga malam/waktu sahur).

Jadi, sesuai dengan pesan Rasulullah tersebut di atas, bahwa biasanya kita terlalu mengistimewakan siangnya, tetapi lalai memanfaatkan malamnya. Di siang kita shiyam, di malam hari kita qiyam, terutama di waktu sahur. Bangun di waktu Sahur jangan hanya untuk makan sahur, tapi lakukan juga salat dua rakaat, lakukan doa bersama karena di waktu tersebut adalah saat doa dimustajabah oleh Allah.

Di siang hari kita melakukan ibadah lahiriah, yaitu berhenti makan dan minum, berhenti seks, berhenti dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan bisa mengurangi keberkahan puasa. Selain berpuasa secara lahiriah, kita juga berpuasa secara ruhaniah, yaitu:

- fa la yarfus (ngomong yang mengarah kepada syahwat),

- wa la yaskhaf (membenar-benarkan yang salah), dalam hal ini kita tidak melakukan hal yang salah itu, melainkan kita hanya membenarkan tindakan yang salah, maka ini juga tidak boleh kita lakukan. Ini sebenarnya sikap mental,

- wa la yajhal (jangan bersikap bodoh/kasar) .

Di malam hari ada ibadah yang secara lahiriah misalkan mengurangi tidur, kemudian ditambah dengan ibadah ruhaniahnya, seperti: shalat malam, berzikir, berdoa, wirid, baca Alquran.

Khutbah Rasulullah ketika menyambut Ramadhan:

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu-tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmua menjadi ibadah (ini yang seirng disalah-pahami), amal kebajikanmu diterima, doa-doamu dikabulkan. Maka memohonlah kepada Allah Tuhanmu, dengan niat yang tulus dan hati nurani yang suci, agar Allah membimbingmu mampu melakukan puasa dan membaca kitabnya (perbanyaklah membaca Alquran di Bulan Ramadhan). Celakalah orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat nanti, karena itu bersedekahlah kepada fakir-miskin, muliakanlah para orang tuamu, sayangilah mereka yang muda, kuatkanlah hubungan silaturahim.

Nampak sekali, bahwa dari khutbah Rasulullah tersebut, bahwa hubungan manusia dengan Allah, maka nilai tertingginya adalah takwa. Sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia, maka nilai tertingginya adalah adil. Dalam hal ini, takwa dan adil itu tidak bisa dipisahkan.

I’dilu (adillah kalian), wa akrabu littaqwa (karena keadilan sangat dekat pada ketakwaan).

Hubungan antar manusia, nilai tertingginya adalah adil. Janganlah kita merusakkan hubungan antar manusia. Sebab, ketika kita merusakkan keadilan, berarti kita telah merusakkan hubungan antar manusia. Jika sudah seperti ini, maka kita menjadi tidak takwa kepada Allah, meskipun shalat yang kita lakukan bagus, juga puasa, zakat, dan haji yang telah kita lakukan begitu bagus.

Jadi, antara hubungan kita dengan Allah, janganlah dipisahkan dengan hubungan kita antar sesama manusia. Terutama dengan tetangga, kalau ada perbedaan pendapat antara kita, kalau ada konflik antara sesama manusia, maka belajarlah untuk memaafkan. Belajar untuk menyingkirkan dendam, marah, dan kecewa. Apapun yang pernah diperbuat oleh tetangga, kalau kita sulit memaafkannya, kitapun kemudian berkata:

Ya Allah, sebagaimana aku selalu mengharap maaf dan ampunan darimu, maka jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang mudah memaafkan orang lain.

Kita selalu mengharapkan maaf dan ampunan dari Allah, maka sudah selayaknyalah kita juga harus mau memaafkan orang lain. Dan ini adalah hal yang mudah dikatakan, tapi sulit untuk dilakukan. Sebagai manusia biasa, tentunya kadang-kadang ada problem, tapi kita selalu berusaha untuk memaafkan. Dan ternyata setelah kita bisa memaafkan, maka hidup ini menjadi nikmat dan lapang.

Maka di Bulan Ramadhan ini, lakukanlah puasa, qiyamullail, baca Alquran, yang itu semuanya adalah untuk membaguskan hubungan kita dengan Allah. Tapi jangan lupa, hubungan kita dengan manusia bagaimana? Urusan takwa dan ibadah kepada Allah jangan pernah dipisahkan dengan hubungan antar manusia.

Jagalah lidah kita, kendalikan pandangan kita dari yang tidak halal untuk dipandang.. Kendalikan pendengaran kita dari yang tidak halal untuk didengar. Kasihilah anak-anak yatim, agar nanti anak-anak yatim kita juga dikasihi orang. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa kita. Angkatlah kedua tangan kita untuk berdoa di dalam shalat kita, karena itulah saat yang paling utama.

Jadi janganlah ragu, terutama ketika rakaat-rakaat terakhir untuk mengangkat tangan, berdoa kepada Allah. Qunut bukan hanya bisa dilakukan ketika salat shubuh, melainkan juga bisa kita lakukan pada shalat-shalat yang lain.

Saat kita sedang shalat, saat itulah Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan tatapan penuh kasih, menjawab orang-orang yang menyeru-Nya, menyahut orang-orang yang memanggil-Nya, mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai oleh amal kebajikanmu.

Diri kita mau dimasukkan ke neraka oleh Allah. Tapi kita shalat, kita puasa, kita beribadah. Kalau begitu dimasukkan ke surga saja. Ketika mau dimasukkan ke surga, ternyata shalat kita banyak yang bolong, banyak tidak khusyu’nya. Maka tergadailah kita. Sudah melakukan amal kebajikan, tapi amal kebajikan tidak meloloskan kita ke dalam surga, karena dalam amal kebajikan itu banyak cacatnya: ada ujub, ada riya’. Karena itu, perbanyaklah istighfar. Sehingga yang tadinya amal kebajikan itu membebani kita, mau masuk ke surga tapi tertahan, maka beristighfarlah, supaya kekurangan-kekurangan dari ibadah-ibadah tersebut dihapuskan.

Punggung-punggungmu telah payah menanggung beban. Maka ringankanlah dengan sujud yang panjang.

Ketahuilah, Allah taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Ia takkan mengazab orang-orang yang salat dan bersujud, takkan menggentarkan mereka, takkan menakutkan mereka dengan neraka di hari mereka berdiri di hadapan Allah nanti.

Wahai manusia, siapa di antaramu yang memberi makan buka puasa kepada orang-orang beriman yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah ada ganjaran yang setara dengan ganjaran pembebasan seorang budak, dan ampunan atas dosa-dosanya.

Jadi, sangat dianjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang sedang berbuka puasa.

Di tengah khutbah itu, tiba-tiba seorang sahabat menyela, “Ya Rasulullah, tak semua orang di antara kami sanggup memberi makan buka puasa pada orang lain. Kami juga miskin.”

Maka Rasulullah seperti tidak mendengar selaan itu. Rasul terus melanjutkan khutbahnya:

Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan sebiji kurma. Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan seteguk air.

Jadi, semua itu bisa dilakukan dengan seminimal mungkin.

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, maka dia akan berhasil melewati Shiratal Mustaqim di hari ketika kaki-kaki lain tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan para pembantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pertanggungjawabannya di hari kiamat nanti. Siapa yang menahan kejahatannya di bulan ini, maka Allah akan menahan murkanya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, maka Allah akan memuliakannya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang menghubungkan tali persaudaraan di bulan ini, maka Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memutuskan kekeluargaan di bulan ini, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang melakukan shalat sunnat di bulan ini, maka Allah akan menetapkan pembebasan dari api neraka untuknya. Siapa yang melakukan shalat fardhu, maka baginya ada ganjaran seperti 70 kali shalat fardhu di bulan lain. Siapa yang memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, maka Allah akan memberatkan timbangan pada hari ketika timbangan-timbangan ringan. Siapa yang membaca satu ayat Alquran di bulan ini, ganjarannya setara dengan mengkhatamkan Alquran di bulan lain.

Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga telah terbuka untukmu. Maka memohonlah kepada Tuhanmu, agar Ia tak pernah menutupnya lagi bagimu. Pintu-pintu neraka telah tertutup, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar Ia tidak pernah membukanya lagi bagimu. Setan-setan telah terbelenggu, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar mereka tak pernah lagi bisa menguasaimu.

Di tengah khutbah Rasulullah itu, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib lalu berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, perbuatan apa yang paling utama di bulan ini?”

Nabi pun menjawab, “Ya Abal Hasan, perbuatan yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan oleh Allah.”

Dalam hal ini, kalaupun tidak berbuat baik, setidaknya janganlah berbuat yang haram. Tidak berbuat haram saja, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah. Tapi kalau kita melakukan ibadah, melakukan juga yang haram, maka semua amal ibadah kita akan menjadi rusak.

Demikianlah, Ramadhan adalah bulan kebangkitan rohani kita. []

13 September 2008 at 8:15 AM 2 komentar

Tingkatan Zuhud Dihubungkan dengan Hal yang Disukai

TINGKATAN ZUHUD DIHUBUNGKAN DENGAN HAL YANG DISUKAI

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 13 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada petuah-petuah para pendahulu kita (termasuk juga sahabat), dan juga ada hadis Rasulullah yang menyatakan:

Apabila kamu melihat seseorang hamba yang telah diberinya diam dan zuhud, dekatilah hamba itu. Sesungguhnya dia akan mengajarkanmu ilmu hikmah. (Al-Hadits).

Jika ada di antara kita, orang tersebut tidak banyak maunya, tidak cerewet, tidak neko-neko, pandangannya lurus. Lantas orang itu juga menampilkan penampilan zuhud. Sesungguhnya orang itu mempunyai uang, memiliki kekuasaan, tetapi orang tersebut tidak mau menampilkan diri sebagaimana halnya orang yang kaya dan berkedudukan. Rasulullah mengatakan, bahwa dekatilah orang tersebut, karena orang tersebut akan memberi hikmah.

Apakah hikmah?

Hikmah yaitu suatu informasi yang langsung menembus hati kita. Sekalipun orang itu bukan sarjana, juga bukan tokoh masyarakat, tapi apabila orang itu menampilkan dua kriteria ini (pendiam dan zuhud), maka orang seperti ini adalah kekasih Tuhan.

Seorang guru pernah mengatakan, jika pergi ke suatu kampung, carilah masjid yang paling tua di kampung itu. Datanglah lebih awal ke masjid tersebut, misalkan jauh sebelum salat maghrib. Kemudian carilah orang yang paling pertama masuk ke masjid tersebut. Orang tersebut biasanya duduk tafakkur dan juga tidak berkata-kata. Orang yang datang paling awal itu biasanya juga pulang paling akhir. Jika mendapati orang seperti ini, maka dekatilah ia, mintalah orang itu untuk mendoakan kita.

Orang yang seperti ini biasanya bukanlah orang sembarangan. Insya Allah orang seperti ini sudah mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi menurut orang-orang di sekitar tempat itu, bahwa pekerjaan orang tersebut memang seperti itulah adanya. Maka, bersahabatlah dengan orang tersebut, karena dia bukanlah orang sembarangan.

Jika engkau menginginkan dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah di dunia ini. (di akhirat tentunya sudah tidak ada lagi zuhud). Rasulullah telah menjadikan sifat zuhud sebagai sebab dicintai oleh Allah. Jika ingin dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah.

Apakah zuhud?

Zuhud adalah menghindari diperbudak oleh dunia (bukanlah membenci dunia). Orang yang dicintai oleh Allah adalah orang yang berada pada tingkatan derajat yang paling tinggi. Siapakah itu? Yaitu orang-orang yang menampilkan penampilan zuhud. Pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah), bahwa orang yang mencintai dunia itu mendatangkan kemurkaan Allah.

Orang yang berorientasi kepada dunia, seolah-olah hidupnya hanya untuk menikmati dunia, menggenggam dunia, maka orang yang seperti ini tidak akan dicintai oleh Tuhan. Kita mencari-cari dunia, bukanlah kita segala-galanya untuk dunia. Dunia adalah kendaraan menuju akhirat, bukanlah kita yang sebaliknya dinaiki dunia.

Hadis lain mengatakan:

Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya. Maka lisannyapun berkata dengan hikmah. Allah mengenalkan kepadanya akan penyakit dunia dan obatnya sekaligus. Lalu Allah akan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat ke dalam negeri kesejahteraan (surga).

Bagi orang yang zuhud, ada vibrasi positif yang mengalir di dalam diri orang tersebut, sehingga ucapan-ucapan orang yang seperti itu adalah hikmah, seperti tidak ada satu katapun yang mubazir yang keluar darinya, tak ada sepotong katapun yang sia-sia keluar dari mulut orang tersebut.

Ada orang yang berbicara selama dua jam, tetapi tidak ada yang bisa ditangkap, atau hanya sedikit sekali. Ada juga orang yang pendek bicaranya, tapi padat maknanya, mengiang-ngiang di telinga kita, dan tidak akan pernah terlupakan. Itulah ciri-ciri kekasih Tuhan.

Ada orang yang kiaiy besar, profesor doktor, sangat ilmiah, menarik pembawaannya, tetapi ketika kita pulang ke rumah, maka terlupakanlah semua yang disampaikan orang itu. Atau mungkin kita ingat, tapi tidak mempunyai daya tukik untuk mencegah kita melakukan dosa dan maksiat.

Tetapi sebaliknya, orang yang sudah terinstalasi ke dalam dirinya hikmah dari Allah, maka setiap kali kita akan melakukan dosa dan maksiat, maka terbayang-bayanglah wajah orang itu.

Rasulullah bersabda:

Celakalah bagi dunia, celakalah bagi dinar dan dirham. (Al-Hadits)

Maksudnya, jangan sampai mata uang itu yang membuat kita kalap, membuat kita buta, dan yang membuat kita terlena.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Allah telah melarang kami menyimpan emas dan perak. Maka apakah yang seharusnya kami simpan?”

Dijawab oleh Rasulullah, “Salah seorang dari kamu hendaknya selalu membuat lisannya selalu berzikir, membuat hatinya untuk bersyukur, dan isteri yang shalihah yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Mungkin banyak para isteri yang justeru mengajak para suaminya untuk menuntut dunia. Dan tidak sadar menjauhkan suaminya dari akhirat.

Firman Allah:

Perbekalan masa depan di rumah abadi (syurga) nanti adalah at-taqwa. (Al-Qur’an)

Umar ibn Khattab berkata: “Berzuhud terhadap dunia itu menenangkan hati dan jasad.

Kalau ada di antara kita yang tidak tenang, selalu gelisah, kering, walaupun sedang banyak uang, itu tandanya kita kurang zuhud.

Zuhud itu menenteramkan batin,

Bilal (sahabat, yang kemudian menjadi muazzinnya Rasulullah) berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk berzuhud terhadap dunia. Akan tetapi kita malah menyukainya.

Ada orang yang di dalam pikirannya itu selalu uang. Untuk hal-hal yang tidak mendatangkan keuntungan materil baginya, maka ia takkan melakukannya.

Sengaja untuk menghindarkan akhirat, memburu dunia, maka dalam hal ini sebenarnya Tuhan sudah memalingkan perhatian orang tersebut ke dunia saja, dan hilang akan akhiratnya.

Tingkat Zuhud

Zuhud yang pertama, yaitu jika seorang yang berzuhud kepada dunia, tapi orang ini menyukai dunia, hatinya cenderung kepada dunia. Ini adalah tingkatan zuhud yang standard.

Zuhud yang kedua, yaitu ketika seseorang yang meninggalkan dunia dengan ringan, gampang sekali meninggalkan urusan dunia, karena dianggapnya hina dan dihubungkannya kepada apa yang diinginkan. Tak ada artinya dunia ini jika dibandingkan dengan kemulian akhirat.

Tingkatan ini sebenarnya juga masih ada kelemahan, karena kadang-kadang juga masih riya’. Ada orang yang meriya’kan zuhudnya. Orang yang seperti ini, pasti bukanlah contoh zuhud.

Zuhud yang ketiga, yaitu seorang yang berzuhud dengan ringan, tanpa beban, dia berzuhud dengan kezuhudannya. Inilah tingkatan yang paling tinggi.

Orang yang zuhud, tidak memandang kepada zuhudnya, kecuali ia memandang kepada yang dizuhudkannya. Orang yang zuhud sejati, dia tidak sadar bahwa dirinya itu zahid (zuhud).

Kalau ada orang yang menyadari dirinya berbuat baik, maka ini memang baik, tapi belumlah yang terbaik. Yang kita cari adalah kita tidak sadar kalau kita sudah melakukan kebaikan. Kita sudah tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Karena kalau seseorang masih sadar kalau dia sudah melakukan kebaikan, maka suatu waktu nanti dia akan riya’.

Tingkatan Zuhud yang dihubungkan dengan hal yang disukai

Tingkatan paling rendah, zuhudnya karena takut akan siksaan.

Tingkatan menengah, zuhudnya karena mengharapkan pahala. Ia lupakan neraka, tapi ia memohon surga. Maka ia melakukan perbuatan baik karena diiming-imingi oleh surga.

Tingkatan tertinggi, zuhudnya karena suka kepada Allah, bukan takut neraka, bukan ingin surga. Dia takut, dan dia mencintai Tuhannya. Berharap bertemu dengan Allah, hatinya tidak peduli lagi dengan kenikmatan-kenikmatan dan azab. Inilah zuhudnya orang-orang yang mencintai Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang ma’rifah.

Tidak ada orang yang mencintai khusus kepada Allah, kecuali orang-orang yang mengenali Tuhannya. Tidak mungkin jiwa kita akan mampu mengenali Tuhan kalau kita ini berlumuran dosa.

Tiga cara mendekati Tuhan

Pertama, ketika kita sudah melakukan dosa, maka cara masuk yang paling baik untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan beristighfar. Ketika beristighfar, maka di situ terbayanglah ketakutan kita terhadap Allah yang Maha penyiksa. Maka pada saat itu nyali kita menjadi kecil, dan kita menjadi sangat kecil dan takut kepada Tuhan. Inilah cara masuk yang paling bagus untuk dekat kepada Allah.

Kedua, dia tidak berdosa, tetapi orang itu ditimpa musibah: anaknya meninggal, suami atau isterinya tiba-tiba sakit keras. Ada musibah, maka ia pasti ingat Tuhan. Pada posisi seperti ini juga merupakan jalan masuk untuk menuju Tuhan.

Pasti kita ingat Tuhan pada saat melakukan dosa. Jika ada orang yang sudah tidak ingat lagi dengan Tuhan ketika dia melakukan dosa, maka jenis orang seperti ini merupakan jenis orang yang dibenci oleh Tuhan.

Ketika kita melakukan dosa, ternyata kita masih takut, masih ingat Tuhan, masih bertobat, maka itu adalah tanda-tanda bahwa kita masih di dalam lingkup cinta Tuhan. Tapi kalau sudah tidak ada lagi panggilan istighfar setelah kita melakukan dosa dan maksiat, maka memang sudah mati orang itu secara spiritualnya, sekalipun biologisnya masih hidup.

Ketika ditimpa musibah kemudian kita dekat dengan Tuhan, maka itu adalah undangan. Yang menjadi persoalan adalah bagi orang yang sudah dekat dengan Tuhan, yang maqamnya sudah tinggi, tidak ada musibah yang bisa mengingatkan dirinya lebih dekat dengan Tuhan. Tidak pernah lagi mau melakukan dosa, sehingga tidak ada pemancing yang sangat kuat untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan.

Seperti inilah yang dialami oleh umat Islam secara umum. Soal isi perut tidak ada masalah, deposito sudah cukup, tanpa kerjaan, sudah pensiun, tapi insya Allah tujuh turunan takkan terlantar. Pakaian, kendaraan, rumah, semuanya tidak ada maslah. Fasilitas primer, sekunder, dan luxury nya pun sudah lengkap. Orang yang seperti ini membutuhkan metode untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Biasanya orang yang terfasilitasi seluruh kehidupannya, maka sulit untuk intensif dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan biasanya karena ada gelombang besar kehidupan yang menimpanya. Jadi Tuhan itu identik dengan Maha Penolong. Ketika kita sudah tidak membutuhkan pertolongan karena kita sudah merasa cukup, maka pada saat itu kita menjadi susah untuk dekat dengan Tuhan. Cara yang paling tepat untuk orang yang seperti ini ialah lewat pintu ar-raja’.

Hati-hatilah orang yang tenang karena dunianya lengkap, biasanya jiwa orang itu tidak akrab dengan Tuhan. Jangan pernah membiarkan hubungan kita dengan Tuhan biasa-biasa saja. Apakah kita akan terus membiarkan diri kita biasa-biasa saja dengan Tuhan? Yang kita inginkan adalah hubungan intensif itu sendiri. Dan intensitas kehidupan kedekatan dengan Tuhan itu memang harus diupayakan. Musibah tidak ada masalah. Dosa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pada saat kita stabil.

Orang stabil membutuhkan apa yang disebut dengan ar-raja’, yaitu rasa harap yang sangat dalam terhadap Tuhan.

Ar-raja’ adalah sesuatu yang tidak permanen, sifatnya masih keluar-masuk. Ada pula yang disebut dengan hal (fluktuatif/berubah-ubah). Yang kita inginkan adalah permanen. Kalau itu sudah permanen, maka itulah yang disebut sebagai maqam.

Pada umumnya, situasi batin kita sebagai orang awam barulah setingkat hal, yaitu misalkan kalau lagi lagi mood, maka dekatlah dengan Tuhan. Padahal yang kita rindukan adalah, sedetik pun kita takkan pernah mau berpisah dengan Tuhan.

Apa lagi yang seharusnya kita lakukan setelah fase ar-raja’ ini?

Yang kita inginkan adalah yang disebut sebagai fase mahabbah. Inilah yang abadi. Kalau kita menjadi pencinta sejati terhadap Tuhan, maka hati ini takkan pernah menjadi gersang. Semua penderitaan itu terasa nikmat.

Permasalahannya adalah ketika kita berada dalam keadaan normal. Ini adalah ujian yang paling berat. Pada umumnya, kita tidak pernah ada yang resah, karena fasilitas hidup kita sudah lengkap. Kalau kita hidup pada batas normal seperti ini, maka jangan sampai hidup kita nanti sepanjang itu pula berjauhan jarak dengan Tuhan, kita hanya mengingat Tuhan pada saat shalat lima waktu, itupun mungkin hanya separuh dari salat itu kita mengingat Tuhan.

Kalau perut kekenyangan, terlalu banyak makan daging, kalorinya berlebihan, energi berpikirnya segar, biasanya Tuhan itu berjarak. Tuhan itu lebih gampang muncul di perut lapar ketimbang perut kekenyangan. Hidup yang paling berarti di dunia ini adalah selalu dekat dengan Tuhan.

Jadi, ada empat situasi batin yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dosa dan maksiat, musibah, hajat yang sangat besar, dan situasi normal.

Kita mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai dosa, apalagi bagi orang yang sudah sering mendapatkan siraman rohani, intensif mengikuti pengajian, karena secepatnya kita akan beristighfar jika melakukan dosa, walaupun hanya dosa kecil.

Kita juga tidak mengkhawatirkan kalau ada musibah, karena kita pasti akan mengembalikan segalanya kepada Tuhan.

Kita juga tak terlalu khawatir jika ada kebutuhan yang sangat besar, walaupun dibutuhkannya begitu darurat. Kita tak perlu meragukannya, karena kita pasti akan meminta bantuan kepada Allah.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita sedang tidak dalam keadaan membutuhkan apa-apa dalam kehidupan ini (kehidupan kita normal). Ini yang harus dicermati. Jika dalam keadaan seperti ini, apakah yang harus kita lakukan?

Dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah:

- Ar-raja’, yaitu kita jangan mau kehilangan Tuhan. Kalau sepanjang hari ini kita belum ingat Tuhan, sedangkan kita selalu berzikir, shalat, dan ibadah lainnya, tapi ingat kepada Tuhan begitu dangkalnya, tentunya ini merupakan suatu permasalahan. Kedangkalan ingatan kita terhadap Tuhan merupakan pertanda, bahwa Tuhan itu jauh. Bukan Tuhan jauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauhkan diri kita dengan-Nya. Cepatlah mengembalikan posisi batin itu. Kembalilah akrab dengan Tuhan.

Dalam situasi normal, jangan pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat rawatib. Jangan hanya ketika ada masalah saja kita baru melakukan shalat sunnat rawatib. Jangan pula pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat yang lain, termasuk juga jangan mengurangi jumlah rakaat salat dhuha, salat tahajjud, dan salat-salat sunnat lainnya yang biasa kita lakukan. []

13 September 2008 at 8:01 AM 1 komentar

Sya’ban Gerbang Ramadhan

SYA’BAN GERBANG RAMADHAN

Disarikan dari Kuliah Dhuha yang disampaikan oleh KH. Adi Warman Kariem pada tanggal 17 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada periode Mekkah, ayat yang mewajibkan untuk berpuasa di Bulan Ramadhan itu belum turun, yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Jadi, pada periode Mekkah, belum ada kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, karena ayat mengenai perintah tesebut (ayat di atas) belum turun. Tapi, meskipun dalam periode Mekkah tersebut belum ada kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, namun Rasulullah dan para sahabat telah terbiasa berpuasa. Ada dua jenis puasa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam ketika itu (periode Mekkah), yaitu: pertama, puasa setiap tanggal 13, 14, dan 15 (setiap bulannya), yang biasa disebut sebagai puasa hari putih. Kedua, puasa pada tanggal 10 Muharram. Inilah dua jenis puasa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam ketika itu. Hampir-hampir seperti wajib, tapi sebetulnya tak ada kewajiban untuk puasa jenis ini, sehingga kita menyebutnya sebagai puasa sunnah.

Ketika Rasullah dan umat Islam hijrah ke Madinah, barulah ayat yang memerintahkan untuk melaksanakan puasa di Bulan Ramadhan itu turun. Ayat tersebut turun pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Karena itulah, Sya’ban merupakan gerbangnya Ramadhan.

Pada Bulan Rajjab, maka kita berdoa, “Allahumma bariklana fi Rajjab wa Sya’ban, wa balikna Ramadhan.” (Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajjab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan).

Banyak sekali hadits yang menceritakan keistimewaan Bulan Rajjab dan Sya’ban. Salah satunya adalah:

Pada Bulan Sya’ban itu (tepatnya yaitu ketika Nisfu Sya’ban), maka Allah akan turun ke langit dunia. Allah akan melihat, siapa saja hamba-Nya yang meminta ampun, maka Allah akan memberikan ampunan kepada semuanya. (Al-Hadits)

Dalam redaksi yang lain juga disebutkan:

Allah akan turun ke langit dunia, maka Allah memberikan ampunan semua hamba-Nya, kecuali dua jenis manusia: pertama, orang yang mensyirikkan Allah. Kedua, orang yang dalam hatinya ada permusuhan dengan orang lain. (Al-Hadits)

Sebenarnya tidak ada keraguan mengenai malam Nisfu Sya’ban. Yang yang menjadi perbedaan pendapat adalah apa yang kita lakukan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.

Pada tahun kedua hijriyah, muncul beberapa kewajiban. Selain kewajiban mengenai puasa di Bulan Ramadhan, juga muncul kewajiban untuk membayar zakat fitrah. Sedangkan perintah mengenai kewajiban zakat maal baru muncul pada tahun kedelapan hijriyah.

Mengapa Bulan Sya’ban menjadi begitu penting? Karena, jika kita tidak mempersiapkan diri (dalam arti ruh kita) untuk menghadapi Ramadhan, maka ketika Ramadhan habis, ternyata kita tidak mendapatkan apa-apa, karena ruh kita belum siap untuk berhubungan dengan Allah.

Allah tidaklah menilai berapa rakaat kita salat tarawih, berapa banyak kita mengkhatamkan Alquran, berapa malam dan berapa lama kita salat tahajjud, bahkan Allah juga tidak menilai berapa banyak zakat dan sedekah yang kita bayar, melainkan yang dinilai oleh Allah adalah keikhlasan kita dalam mencari keridhaan-Nya.

Karena itulah, sudah semestinya kita bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi datangnya Bulan Ramadhan. Bagi yang mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh menghadapi Bulan Ramadhan, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, bahwa barangsiapa yang senang, atau sekedar senang saja dengan datangnya Bulan Ramadhan, maka syurga adalah balasannya.

Senang yang dimaksud adalah bagi orang-orang yang memang sudah sejak Bulan Rajjab, atau setidaknya sejak Bulan Sya’ban sudah mempersiapkan dirinya (dalam arti ruhnya) untuk menghadapi datangnya Bulan Ramadhan.

Allah berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-‘Ankabuut: 69)

Kuncinya di sini adalah kesungguhan diri kita mempersiapkan datangnya Bulan Ramadhan. Jika diibaratkan, maka Nisfu Sya’ban adalah lampu kuning, yang menandakan bahwa sebentar lagi Ramadhan akan menjelang. Kalau sudah lampu kuning, tinggal setengah bulan lagi Ramadhan, sedangkan kelakuan kita masih seperti sebelum-sebelumnya: hati belum dibersihkan dan dipersiapkan, sehingga ketika Bulan Ramadhan datang, ternyata kita belum apa-apa. Ramadhan kemudian berlalu begitu saja tanpa ada kesan, melainkan sekedar “illal ju’ wal athas” (sekedar tidak makan, sekedar tidak minum).

Ingatlah ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya (Ismail). Allah mengatakan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Hajj: 37)

Allah tidak membutuhkan darah kambing, tidak membutuhkan daging kambing, tidak membutuhkan kulit kambing, melainkan kitalah (manusia) yang membutuhkan semua itu. Allah hanya sekedar mengecek, apakah manusia mau “sami’na wa ’atha’na”. Apakah manusia siap melaksanakan apa yang dikatakan-Nya.

Kesungguhan Nabi Ibrahim inilah yang kemudian oleh Allah dibalas. Karena Nabi Ibrahim sungguh-sungguh memberikan yang terbaik yang dimilikinya. Karena kesungguhannya untuk selalu memberikan yang terbaik, maka anak yang ditunggu-tunggunya (Ismail) yang diperintahkan untuk dikurbankan, kemudian Allah ganti dan Allah balas dengan yang terbaik.

Lihatlah bagaimana kesungguhan Siti Hajar. Waktu itu ia ditinggal di lembah Bakkah (Mekkah), yang ketika itu belum ada apa-apanya selain hanya lembah yang sunyi. Bayangkanlah, ketika itu Siti Hajar ditinggal sendirian oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya ditemani anaknya (Ismail) yang masih kecil.

Ia (Siti Hajar) bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Hai Ibrahim, engkau meninggalkanku di sini apakah karena kehendakmu atau karena perintah Allah? Kalau kehendakmu sendiri, aku tak mau, sama saja engkau sudah menelantarkan isteri dan anakmu. Tapi kalau ini merupakan perintah Allah, maka aku akan mentaatinya.”

Siti Hajar waktu itu tidak membawa cangkul, tidak membawa alat mengebor untuk menemukan air. Apakah yang dilakukan Siti Hajar? Yang dilakukannya adalah selalu memberikan yang terbaik dan selalu bersungguh-sungguh. Yang bisa dilakukan oleh Siti Hajar hanyalah berlari dari Shafa ke Marwa. Ternyata air yang dicari itu tidak ada. Kemudian ia kembali lagi berlari ke Shafa, walaupun ia tahu sebelumnya bahwa di Shafa juga tidak ada air, namun ia tetap mencarinya. Begitu seterusnya beberapa kali bolak-balik berlari antara Shafa dan Marwa. Tapi ia terus bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan air tersebut. Menurutnya, bahwa mustahil Allah akan menelantarkan dia dan anaknya.

Akhirnya, ternyata yang menemukan zam-zam adalah Ismail (anaknya), bukanlah Siti Hajar. Artinya, jika kita beribadah kepada Allah, jika kita sungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka janganlah egois. Bisa saja Siti Hajar berkata, “Yang capek berlari aku, tapi mengapa Ismail (anakku) yang mendapatkannya.”

Ternyata Siti Hajar tidak berkata seperti itu. Terserah Allah akan memberikan rezeki lewat mana. Bayangkanlah jika para pejuang yang dahulunya berjuang melawan penjajah, tapi mereka (para pejuang itu) egois, maunya merdeka secepatnya pada saat itu juga.

Yang Allah minta bukanlah hasil, melainkan usaha yang kita lakukan. Yang menikmati kemerdekaan adalah kita sekarang, sedangkan para pejuang yang dahulunya berjuang ternyata tidak merasakan hasil dari perjuangannya. Mereka juga mungkin tidak tahu ratusan tahun kemudian barulah negeri ini merdeka. Dalam Bahasa Arab disebut “Man jadda wa jada” (siapa yang mau sungguh-sungguh, maka dialah yang mendapatkan hasilnya).

Kesungguhan inilah yang membedakan orang-orang yang beriman yang oleh Rasulullah dikatakan:

Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya Bulan Ramadan, balasannya adalah surga jannatun na’im. (Al-Hadits)

Tapi, jika kita tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri, maka kita bukanlah termasuk yang disebutkan oleh Rasulullah itu.

Ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka yang dihitung oleh Allah bukanlah banyaknya rakaat shalat tarawih, bukanlah banyaknya khataman Alquran, dan bukan pula panjangnya bacaan Alquran ketika shalat tarawih, melainkan yang dinilai oleh Allah adalah kesungguhan dan keikhlasan kita berjuang di jalan-Nya.

Kesungguhan seperti ini juga dilakukan oleh para sahabat Rasulullah. Dalam suatu kesempatan, ketika Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya, ada seorang pemuda yang lewat di depan mereka. Pemuda itu badannya tegap, masih muda, kuat, dan tangkas. Maka sahabat yang hadir ketika itu mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, jika pemuda tersebut mengikuti kita berjihad, sepertinya cocok dan pas sekali.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Apabila pemuda tadi keluar dari rumahnya demi berusaha mencari rezeki untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka itulah yang dinamakan fi sabilillah. Jika ia keluar dari rumahnya sungguh-sungguh untuk mencari rezeki di jalan Allah, maka itulah yang dinamakan fi sabilillah. Kalau pemuda ini keluar dari rumahnya sungguh-sungguh mencari rezeki dan berusaha untuk memberi makan orang tuanya yang sudah tua, maka itulah yang dianamakan fi sabilillah. Apabila pemuda ini keluar dari rumahnya untuk kemegahan dirinya, untuk riya’, agar dipuji oleh orang lain, maka itulah yang dinamakan fi sabilisy-syaithan.”

Dalam hal ini, sebenarnya adalah persoalan ruh. Perbuatannya sama, sama-sama bekerja, sama-sama berusaha sungguh-sungguh, tapi yang Allah nilai bukanlah perbuatan fisiknya, melainkan keikhlasannya hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Rezeki itu adalah rahasia Allah. Setiap orang sudah ditentukan banyak dan sedikitnya rezeki yang ia dapatkan.

Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Sayyidina Ali naik keledai, lalu datang ke masjid. Dilihatnya di depan masjid ada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk. Melihat itu, Sayyidina Ali bermaksud untuk menitipkan keledainya itu kepada pemuda tersebut. Niat Sayyidina Ali, bahwa nanti setelah selesai shalat, maka beliau akan memberi sedekah kepada pemuda tersebut sebanyak satu dinar. Kemudian masuklah Sayyidina Ali ke dalam masjid untuk shalat, setelah sebelumnya menitipkan keledainya kepada pemuda tersebut.

Ketika Sayyidina Ali selesai shalat, lalu keluar dari masjid, ternyata si pemuda tersebut sudah tidak ada. Keledainya masih ada, tapi cangkang keledainya sudah tidak ada. Sehingga Sayyidina Ali berprasangka, jangan-jangan si pemuda yang dititipi keledai tersebut malahan bukan menjaga keledai, melainkan mencuri cangkang keledai. Lalu Sayyidina Ali pun memanggil seorang temannya untuk pergi ke pasar mencari pemuda yang dimaksud. Sayyidina Ali menitipkan satu dinar kepada temannya itu untuk membeli cangkang keledai tersebut dari pemuda yang dimaksud.

Ketika temannya Sayyidina Ali itu pergi ke pasar, ternyata benar, ia menemukan pemuda tersebut sedang menjual cangkang keledai yang dimaksud seharga satu dinar. Lalu temannya Sayyidina Ali itu pun membeli cangkang keledai yang dimaksud dari pemuda tersebut. Ketika temannya Sayyidina Ali itu kembali menghadap Sayyidina Ali, ia pun menceritakan apa yang sudah ditemuinya di pasar, bahwa benarlah apa yang disangkakan oleh Sayyidina Ali.

Mendengar ini, Sayyidina Ali berkata, “Subhanallah, ternyata pemuda tersebut memilih untuk mendapatkan satu dinar yang haram dibandingkan satu dinar yang halal.”

Jika si pemuda tersebut sabar sedikit saja, tentunya ia akan mendapatkan satu dinar yang halal. Namun karena ia tidak sabar, maka ia mendapatkan satu dinar yang haram. Pertanyaannya, apakah rezekinya itu bertambah? Ternyata rezeki yang ia dapatkan dari cara yang haram tersebut tidak bertambah. Memang sudah dari sananya mendapatkan rezekinya sebanyak itu, maka sebanyak itu jugalah yang akan ia dapatkan, walau dengan cara apapun ia lakukan. (kisah ini dikutip dari Buku “La Tahzan”).

Masih dari Buku “La Tahzan”, juga dikisahkan:

Ada dua kelompok nelayan: satu kelompok selalu berbuat maksiat terus, sedangkan kelompok yang satunya lagi selalu tekun beribadah. Tapi tangkapan ikan pada kelompok nelayan yang selalu berbuat maksiat itu ternyata jauh kebih banyak dibandingkan dengan kelompok nelayan yang tekun beribadah. Jadi, kelompok nelayan yang tekun beribadah mulai pusing dihadapkan pada kenyataan tersebut. Mengapa seperti ini, mereka sudah tekun beribadah, tapi rezekinya sedikit, sedangkan yang suka mengerjakan maksiat malahan mendapatkan rezeki yang melimpah. Akhirnya, nelayan-nelayan yang tekun beribadah itu merundingkan hal tersebut sesama mereka. Mereka merundingkan untuk mencoba melakukan maksiat kecil-kecilan, siapa tahu ada perubahan akan rezeki yang mereka dapatkan. Akhirnya diputuskanlah, kemudian mereka mencoba melakukan maksiat kecil-kecilan.

Ternyata benar, setelah mereka melakukan maksiat, tangkapan ikan mereka menjadi melimpah ruah. Di antara tangkapan ikan yang banyak itu, ada satu ikan yang besar. Ketika dibelah perutnya, ternyata di dalam perutnya ditemukan mutiara yang nilainya tak terhingga. Pada saat itu, nelayan-nelayan tersebut berdecak keheranan akan hasil tangkapan mereka tersebut. Mereka lalu mengira, jangan-jangan ini bukan rezeki dari Allah, melainkan karena bantuan setan. Kemudian mereka merundingkan lagi akan hal tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk membuang mutiara tersebut, karena mereka beranggapan bahwa mutiara tersebut tidak halal untuk mereka ambil. Kemudian atas kesadaran mereka, para nelayan tersebut pun insaf, lalu bertobat, dan taat lagi kepada Allah.

Setelah taat lagi kepada Allah, mereka beralih dari tempat semula mereka mendapatkan ikan yang melimpah ruah sebelumnya, berpindah ke tempat lain. Setelah taat lagi kepada Allah, dan pencarian ikan pun mereka lakukan di tempat lain, ternyata tangkapan mereka masih tetap banyak.

Jadi dalam hal ini hanyalah persoalan waktu, bukanlah persoalan mengerjakan maksiat atau tidak. Sudah dari sananya seperti itu, maka seperti itu saja. Walaupun mereka kini kembali tekun beribadah, ternyata tangkapannya tetap banyak. Di antara tangkapan yang banyak itu, ditemukan lagi ikan yang besar, lalu ikan itu dibelah perutnya Ternyata di dalam perut ikan tersebut didapat lagi mutiara yang sebelumnya sudah mereka buang itu. Jadi, kalau memang sudah rezeki, walaupun kita buang, maka rezeki tersebut akan kembali lagi.

Dalam berbisnis, usaha, bekerja, maka janganlah pernah berpikiran untuk melakukan yang haram. Karena yang haram itu takkan pernah bisa untuk menambah rezeki kita.

Siapa saja yang mau menjadi kasirnya Allah, maka dia akan dipilih oleh Allah untuk menjadi kasir-Nya. Kalau kita mendapatkan rezeki, lalu rezeki itu kita simpan untuk diri kita sendiri, maka Allah mengatakan, bahwa kita tidak cocok menjadi kasir-Nya. Tetapi jika kita mendapatkan rezeki dari Allah, kemudian rezeki itu kita berikan lagi kepada orang lain, maka kita cocok menjadi kasirnya Allah.

Kewajiban puasa turunnya pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Kewajiban zakat turun pada tahun kedua hijriyah juga. Tapi pada periode Mekkah, apakah Rasulullah dan umat Islam ketika itu tidak memberi sedekah dan infak? Ternyata Rasulullah dan umat Islam ketika itu memberi sedekah dan infak.

Sebelum turun ayat yang mewajibkan zakat, maka turunlah ayat:

(1) Alif Laam Miim. (2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3)

Jadi, pada periode Mekkah memang tidak ada perintah untuk berzakat. Yang ada adalah perintah untuk menafkahkan sebagian rezeki kepada orang yang membutuhkan. Karena ayat inilah, ketika itu para sahabat selalu berlomba-lomba untuk memberikan sedekah. Ada yang datang untuk mensedekahkan sepertiga dari hartanya, kemudian ada lagi yang ingin menyedekahkan setengah dari hartanya, setelah itu ada lagi yang ingin menyedekahkan dua pertiga dari hartanya, kemudian Abu Bakar Shiddiq mengatakan, bahwa ia ingin menyedekahkan seluruh hartanya.

Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang akan kau tinggalkan untuk anak dan istrimu?”

“Cukuplah Allah dan Rasul-Nya,” jawab Abu Bakar.

Jadi, waktu itu para sahabat memiliki semangat untuk bersedekah habis-habisan. Kemudian turunlah ayat yang memerintahkan kewajiban zakat. Pesan yang ingin disampaikan oleh ayat yang memerintahkan kewajiban zakat ini adalah agar para sahabat tidak usah habis-habisan untuk bersedekah. Yang wajib untuk dizakatkan hanya 2,5 persen.

Tentunya berbeda dengan keadaan kita kini. Bagi kita kini mungkin ada saja alasan yang dibuat-buat untuk menghindari kewajiban membayar zakat, misalkan: nisabnya belum sampailah, haulnya masih kurang, dan alasan-alasan lainnya.

Tapi kalau kita “wa mimmaa razaqnaa hum yunfiquun”, maka Allah mengatakan bahwa kita cocok menjadi kasir-Nya. Allah akan menitipkan rezeki-Nya bukan hanya untuk kita saja, melainkan untuk kita, juga untuk orang lain.

Teladanilah Rasulullah dalam hal ini. Jika di luar Bulan Ramadhan, beliau sangat gemar bersedekah. Ketika Bulan Rajjab, maka sedekahnya bertambah. Ketika Bulan Sya’ban, sedekahnya bertambah lagi. Dan ketika Bulan Ramadhan, maka sedekahnya akan bertambah, dan bertambah lagi. Inilah rahasianya jika kita ingin menambah rezeki.

Rezeki kita takkan pernah habis, karena menurut Allah kita cocok untuk menjadi kasir-Nya. Jika kita mendapatkan rezeki, lalu kita memberikan lagi rezeki tersebut kepada orang lain, maka Allah akan terus menambah rezeki kita. Tetapi, jika ketika kita mendapat rezeki, lalu hanya kita makan untuk diri kita sendiri, maka oleh Allah mungkin hanya diberi sebesar itu saja, karena hanya untuk kita makan sendiri. Sedangkan jika rezeki yang kita dapatkan tersebut juga kita berikan kepada orang lain, maka oleh Allah rezeki tersebut akan terus ditambah, karena rezeki tersebut bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi dititipkan juga untuk diberikan kepada orang lain.

Terlepas dari apa yang kita lakukan pada malam Nisfu Sya’ban, maka sudah tak dapat disangkal lagi bahwa Malam Nisfu Sya’ban itu memang memiliki keutamaan. Jika kita tidak sungguh-sungguh mempersiapkan (terutama ruh kita) untuk menghadapi Bulan Ramadhan, maka nantinya kita tidak terasa, tahu-tahu Ramadan sudah habis, kita hanya “illal ju’ wal athas”, hanya mendapatkan lapar dan haus.

Sya’ban gerbangnya Ramadhan. Sebentar lagi Ramadhan akan datang. Siapkanlah diri kita baik-baik dengan sungguh-sungguh. Allah tidak melihat berapa rakaat shalat tarawih kita, berapa kali kita khatam Alquran, berapa banyak uang yang kita sedekahkan, melainkan yang Allah lihat adalah bagaimana kita melakukan segala perintah-Nya sungguh-sungguh hanya untuk mencari keridhaan Allah. []

13 September 2008 at 7:49 AM 2 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 328,210 hits
Desember 2014
S S R K J S M
« Okt    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: