Posts filed under ‘Ceramah Agama Islam’

Pengaruh Agama di Dalam Kehidupan

PENGARUH AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A.

pada tanggal 23 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Seorang pakar pendidikan dari Malaysia bernama Hasan Langgulung pernah mengatakan, bahwa dunia Islam dahulunya pernah mengalami kejayaan dan menjadi superpower selama kurang lebih 7 abad yang peninggalannya hingga saat ini masih bisa kita lihat. Islam dahulu pernah menguasai Spanyol selama 7 abad, dan masih banyak sisa-sisa arsitektur Islam di negara ini. Bahkan Spanyol pernah tercatat di dalam Guinness Book of Record sebagai negara yang paling tinggi kunjungan wisata antar negaranya. Hal ini dikarenakan adanya arsitektur dan bangunan yang Indah di negara ini, seperti di Seville, Granada, yang semuanya itu adalah karya-karya besar Umat Islam.

Islam juga pernah berkuasa di India, Sisilia, Italia, dan beberapa negara lainnya. Ketika itu Umat Islam maju dalam berbagai bidang: kedokteran, arsitektur astronomi, botani, farmakologi, dan seluruh cabang ilmu pengetahuan modern. Hal ini menurut Hasan Langgulung dikarenakan Umat Islam saat itu mengamalkan Asmaul Husna. Mengamalkannya bukan hanya sekedar dihafal dan dibaca, melainkan juga menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Misalkan, Allah bersifat “Al-‘Alim” (Maha Mengetahui), maka untuk menghayatinya kita juga berusaha untuk menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Allah juga bersifat “Al-Musawwir” (Maha Kreatif, Maha Inovatif, Maha Menghasilkan karya-karya besar), maka untuk menghayatinya kita juga semestinya menjadi orang yang kreatif.

Kita bersyukur kepada Allah, bahwa dalam kesempatan ini kita me-recharge (mengisi) kembali agar kita memiliki spirit dengan nilai-nilai, dengan sifat-sifat Allah, dan tentunya juga sesuai dengan praktek dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

Allah berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar-Ruum: 30)

Pada ayat ini, Allah dengan tegas menyatakan dalam kalimat perintah: Fa aqim wajhaka (Maka hadapkanlah wajahmu). Jadi, kata “aqim” merupakan fi’il ‘amr, yang bisa berarti mendirikan, membangun, mengkonstruksi, ataupun menciptakan sesuatu yang kuat.

Di sini kita mencermati, bahwa dalam beragama memang harus secara sungguh-sungguh, jangan setengah hati, dan juga harus total. Jika kita ingin mendirikan suatu bangunan yang kokoh, maka kita tidak boleh asal-asalan mendirikannya. Kita harus mengundang arsiteknya perencananya, ada tes tanahnya, lalu kemudian didesain konstruksi dengan situasi tanahnya, bahan materialnya, waktu pengerjaannya, pengalaman, dan lain sebagainya, sehingga bangunan tersebut menjadi kokoh.

Maka hadapkanlah wajahmu. Dari seluruh panca indera kita, pada tubuh ini terdiri dari berbagai macam organ, yang semua unsur fisik tersebut diwakili oleh wajah. Wajah juga mencerminkan berbagai macam perasaan kita: sedih, senang, murung, susah, dan perasaan-perasaan lainnya akan tercermin di wajah ini.

Ketika kita bertemu dengan orang lain, maka wajah pulalah yang kita tampakkan. Senyum yang kita berikan juga bisa mengalirkan energi. Rasulullah mengatakan, bahwa di antara sedekah yang murah-meriah adalah senyum. Dengan senyum yang terpancar dari wajah kita, maka akan ada komunikasi batin dan ada energi yang masuk ke orang yang kita ajak berkomunikasi. Lalu orang yang kita ajak berkomunikasi itu juga tersenyum membalas senyuman kita. Jika sudah sama-sama tersenyum, maka urusan selanjutnya akan lancar.

Jika di dalam ayat tersebut menyatakan untuk menghadapkan wajah, maka berarti dalam beragama bukan hanya wajah, melainkan semuanya harus ikut beragama. Mata kita ikut beragama, yaitu dengan cara jangan melihat yang diharamkan oleh Allah. Telinga kita juga ikut beragama, yaitu dengan cara tidak mendengarkan hal-hal yang bisa membawa bencana. Tangan kita beragama, yaitu dengan mengerjakan hal-hal yang baik-baik. Kaki kita beragama, yaitu dengan pergi ke tempat yang baik. Hati kita bergama, yaitu hanya kita peruntukkan kepada yang lurus-lurus di jalan Allah. Jadi, semua yang ada pada diri kita ini hadapkanlah kepada agama secara totalitas.

Di kalangan para ahli, ada kajian-kajian tingkatan beragama. Tingkatan tersebut, yaitu:

Pertama, fiqh

Yang mengatur tata cara beragama adalah fiqh. Karena itulah, para ulama sepakat menjadikan ilmu fiqh fardhu ‘ain untuk dituntut. Ilmu fiqh merupakan ilmul hal, yaitu ilmu yang selalu berkaitan dengan kehidupan keseharian kita. Mulai dari kita lahir hingga meninggal dunia, maka fiqh lah yang bekerja. Dengan ilmu fiqh, maka ada standard untuk kita melaksanakan berbagai macam amal ibadah. Kalau kita mau bekerja dengan rapi, maka harus ada SOP (Standard Operasional Prosedur). Dalam hal ini, fiqh merupakan SOP kita dalam melakukan berbagai macam amal ibadah. Semuanya bermula dari fiqh, dan karena itu fiqh tidak boleh kita tinggalkan.

Kedua, sufistik (tasawwuf)

Untuk bisa beragama secara holistik (menyeluruh), maka kita naik ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat sufistik (tasawwuf), yang disebut sebagai mystical approach (pendekatan sufistik). Ketika kita salat, ternyata Allah hadir di dalam diri kita. Kadang-kadang pikiran kita ke mana-mana ketika menunaikan ibadah salat. Kalau ketika salat kita ingat di pasar, maka berarti tasawwufnya belum ada. Pada saat seseorang salat, jika fiqh dilengkapi dengan tasawwuf, maka sebenarnya ada dialog di dalam salatnya itu. Di dalam setiap ayat dan bacaan-bacaan yang kita lafazkan ketika salat, itu sebenarnya ada sahut-sahutan dengan malaikat, namun kita tidak mendengar sahutan dari malaikat tersebut. Karena itulah, janganlah terlalu cepat ketika kita melafazkan bacaan-bacaan salat tersebut. Lafaz-lafaz ketika salat harus kita baca secara tertib. Maka dengan dimensi sufistik ini, maka sifat-sifat Allah akan mengalir, energi-energi tersebut akan mengalir di dalam diri dan kehidupan kita.

Sudah banyak kajian-kajian tentang kecerdasan emosional, dan itu sudah masuk ke dalam manajemen bisnis. Ada buku yang ditulis oleh seorang ahli di bidang komunikasi tentang kecerdasan emosional yang sering dirujuk oleh para komunikator. Ia mengatakan, kalau seseorang mempunyai kecerdasan emosional, maka ucapannya itu akan memiliki resonansi, akan memiliki vibrasi (getaran). Dari resonansi itu, ketika dia menyalurkan sifat kasih sayang, maka sifat kasih sayangnya itu menempel kepada orang tersebut. Ketika dia menyalurkan sifat sabar, maka sifat sabarnya itu menempel kepadanya. Ketika dia menyalurkan sifat ikhlas, maka sifat ikhlasnya itupun menempel kepadanya. Terjadinya komunikasi seperti ini, antara lain dengan pendekatan spiritual emosional. Ilmu tasawwuf mengatur kita dalam hal ini, sehingga kita mempunyai spirit, mempunyai jiwa.

Menurut suatu penelitian, seorang pimpinan yang memiliki kecerdasan emosional, maka akan menyebabkan karyawannya bekerja secara produktif. Hal ini dikarenakan karyawannya merasa ada aliran energi yang baik yang diisikan kepada mereka, yang kemudian menjadikan mereka bisa bekerja dengan penuh semangat dan gairah. Yang masuk ke dalam diri mereka adalah virus-virus yang disebut oleh David McClelland sebagai Need of Achievement, yaitu semangat untuk membangun. Karena itulah, dalam hal ini pemimpin menjadi sangat penting. Ketika virus yang dimasukkannya adalah virus negatif (virus yang buruk): seperti rasa benci, iri, dengki, hasud, maka orang yang dimasuki oleh virus tersebut akan error dan hang.

Ilmu yang mengatur hal seperti ini adalah aspek tasawwuf. Imam Al-Ghazali (dalam kitabnya Ihya Ulumuddin) mencoba memadukan antara fiqh dan tasawwuf. Beliau mengatakan, agar kehidupan ini bermakna, maka fiqh didampingi dengan tasawwuf. Seperti misalnya ketika beliau sedang berwudhu’, maka menurutnya, berwudhu’ itu bukan hanya sekedar mencuci tangan luarnya supaya bersih, tetapi ketika mencuci tangan harus ada dialog dengan tangan: “Hai tangan, apa yang kau perbuat hari ini? Apakah perbuatannya baik atau buruk?”

“Hai kaki, apa yang telah kau perbuat?”

Dijawab oleh kaki, “Saya sudah berbuat baik, yaitu membantu seorang tua renta untuk menyeberangi jalan.”

Ketika mencuci kepala, maka kita tanyakan, “Hai kepala, apa yang telah kau pikirkan hari ini?”

Ketika mencuci mulut, maka kitapun bertanya, “Hai mulut, apa yang telah kau ucapkan hari ini?”

Ketika mencuci telinga, kitapun menanyakan, “Hai telinga, apa yang kau dengar hari ini?”

Dengan melakukan semua ini, maka kita akan mendapatkan dua macam kebersihan. Jika pada fiqh adalah kebersihan lahir, yang disebut sebagai thaharah. Sedangkan pada tasawwuf adalah kebersihan batin, yang disebut sebagai tazkiyah.

Ketiga, ideologi

Tingkatan ini adalah tingkat program, yaitu pendekatan ideologis. Ideologis adalah pemikiran-pemikiran yang sudah matang, pemikiran-pemikiran yang sudah dikaji secara mendalam, lalu kemudian menjadi program, dan program ini harus dilaksanakan. Dalam kaitan ini, maka ketika selesai salat kita mengucapkan “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” ke sebelah kanan dan kiri. Apakah artinya ini? Apakah hanya sekedar menolehkan kepala? Kalau hanya sekedar menolehkan kepala, robot juga bisa. Lantas, apakah sebenarnya makna dari salam ke kanan dan ke kiri tersebut? Maknanya adalah, bahwa ibadah salat yang sudah kita bangun, spirit yang sudah kita lakukan, itu semuanya harus menjadi program yang terwujud di dalam kehidupan, yaitu kita lihat keadaan di kiri kanan kita, keadaan di sekitar lingkungan kita.

Karena itulah, ibadah mahdhah (hablumminallah) itu harus diikuti dengan hablumminannas. Ketika kita menengok ke kanan dan ke kiri, maka kita melihat apakah masalah yang harus dihadapi di dalam masyarakat. Mungkin di sebelah rumah kita ada anak yatim yang perlu disantuni. Mungkin juga di sebelah kita ada orang yang sakit parah yang memerlukan pertolongan, ada orang yang sedang mengalami kesulitan, dan sebagainya, yang ini harus kita lihat dan kita bantu. Dalam konteks inilah masuk ke dalam program yang sifatnya aksi (gerakan). Ini merupakan bagian yang ketiga dari ajaran agama. Setelah kita mengamalkan aspek fiqhnya, aspek tasawwufnya, kemudian masuk kepada aspek sosial. Berkaitan dengan hal ini, para ahli sering melihat, bahwa terkadang masih ada kesenjangan antara aspek fiqh (ritual), aspek spiritual, dan aspek sosialnya. Padahal kalau kita teliti, ternyata seluruh ibadah di dalam Islam mempunyai dampak sosial.

Imam Ayatullah Khomaini pernah membandingkan, ternyata ayat yang berkaitan dengan ibadah sosial lebih banyak dibandingkan ayat yang berkaitan dengan ibadah mahdhah (ibadah individual).

Jika saudara-saudara kita sekarang sebagian sudah berada di Makkah Al-Mukarramah (sedang menunaikan ibadah haji), yang tidak lama lagi akan melaksanakan puncak ibadah haji, cobalah renungkan makna ibadah haji ini. Ternyata makna dari ibadah haji ini penuh dengan nilai-nilai sosial, semangat perjuangan.

Thawaf apakah hanya sekedar berputar-putar mengelilingi Ka’bah?

Ternyata makna dari thawaf adalah, bahwa hidup ini harus dengan perjuangan. Dan setiap perjuangan harus dimulai dengan menyerap nilai Allah. Karena itulah, thawaf dimulai dari ruknul yamani. Kita mulai dengan mengucapkan: “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” lalu kitapun mengelilingi Ka’bah. Jadi, perjuangan itu dimulai dari niat semata-mata karena Allah. Terus mengelilingi, kemudian ketika sampai lagi di ruknul yamani, kita mengucapkan lagi “Allahu akbar“.

Kemudian kita melakukan sa’i.

Sa’i juga memiliki makna perjuangan, yaitu jalan-jalan kecil, lari-lari kecil. Di dalam sejarahnya, sa’i adalah memperjuangan keselamatan manusia, yaitu Ismail (puteranya Nabi Ibrahim, yang kemudian setelah dewasa juga diutus menjadi nabi). Ismail yang ketika itu masih bayi dan ibunya (Siti Hajar) ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tengah padang pasir yang tandus.

Pada waktu itu Nabi Ibrahim berdoa (seperti termaktub di dalam Alquran):

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“. (Q.S. Al-Baqarah: 126)

Itulah yang ditinggalkan dan dipesankan oleh Nabi Ibrahim ketika meninggalkan Siti Hajar dengan putranya yang masih kecil (Ismail).

Jadi dalam sejarahnya, sa’i merupakan perjuangan menyelamatkan bayi, menyelamatkan manusia. Di dalam perjuangan itu, dimulai dari Bukit Shafa. “shafa” artinya bersih, niat semata-mata karena Allah. “marwa” artinya berkembang. Ada perjuangan, kemudian kemanusiaan.

Begitu juga ketika wukuf di Padang Arafah. “arafah” artinya mengenal, yaitu mengenal secara mendalam. Mengenal, melihat, mengetahui, bukan dengan panca indera, melainkan dengan hati nurani. Maka orang yang wukuf di Padang Arafah, ia akan semakin arif dan bijaksana. Dia mengetahui, bahwa betapa dirinya di hadapan Allah sangat faqir.

Maka digambarkan pada waktu itu manusia tidak boleh membawa apa-apa: pangkat, harta, kedudukan, semuanya ditinggalkan, kemudian hanya mengenakan pakaian putih. Mengapa demikian? Mengapa orang yang berhaji itu harus meninggalkan semua pakaian kebesarannya? Hal ini agar jangan sampai mengganggu hubungan manusia dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah kadang-kadang terganggu oleh berbagai macam faktor: kadang-kadang terganggu oleh pakaian. Jika kita memakai jas, berdasi, dan mentereng, rasanya lain dibandingkan orang yang hanya mengenakan pakaian yang biasa saja, seakan-akan orang yang berpakaian biasa saja itu tidak bonafit. Kalau kita mengenakan pakaian yang indah-indah, maka rasanya kita ini yang paling tampan sedunia. Begitu juga kalau mengenakan pakaian jenderal (militer), seakan-akan kita ini begitu gagah dan sangat berkuasa.

Jadi, pakaian yang kita kenakan itu memberikan dampak psikologis, memberikan pengaruh kejiwaan kepada orang yang memakainya. Maka dalam pelaksanaan ibadah haji, lepaskan semua pakaian itu, supaya hubungan dengan Allah tidak terganggu. Dengan begitu, maka dia menjadi orang yang arif.

Allah berfirman:

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Q.S. Al-Baqarah: 197)

Seperti yang termaktub pada ayat di atas, bahwa selain dilarang berbuat “rafats” (berkata yang menimbulkan hal-hal yang bisa membangunkan syahwat), juga dilarang untuk fusuq (melakukan pelanggaran), dan jidaala (bertengkar/berbantah-bantahan). Fusuq berarti orang yang tahu hukum tetapi melanggar. Jangan bertengkar berarti masuk ke masalah sosial, supaya bisa membangun komunikasi yang baik.

Dari cuplikan ayat di atas, betapa kita lihat, bahwa ajaran Islam itu terkait dengan masalah sosial. Pada ayat-ayat yang lain (berkaitan dengan ibadah haji) juga ditegaskan, bahwa dilarang membunuh binatang dan memotong tanaman (lihat Al-Maidah ayat 1, 2, 95). Bahkan di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada sebuah hadis qudsi disebutkan:

Suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Wahai para sahabat, tahukah kamu, siapakah di akhirat nanti yang menjadi orang yang bangkrut?”

Dijawab oleh para sahabat, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai dinar (uang emas) dan dirham (uang perak).”

Kata Rasulullah, “Bukanlah itu, melainkan orang yang bangkrut itu adalah orang yang datang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, pahala zakat, pahala puasa, pahala haji, dan pahala lainnya. Tapi datang malaikat melaporkan: Ya Allah, orang ini memang betul pahala ibadahnya banyak, tetapi orang ini pernah mencaci maki, orang ini pernah menyakiti hati orang lain di depan umum, orang ini pernah menuduh tanpa bukti, orang ini pernah memukul orang lain, orang ini pernah mencuri, orang ini pernah menumpahkan darah. Akhirnya orang tersebut tidak jadi masuk ke surga, ia ditahan.”

Seperti apakah ditahannya? Pahala kebaikan dari salat, zakat, puasa, haji, dan pahala-pahala lainnya dibagi-bagikan kepada orang yang pernah disakitinya, sampai habis pahala yang dimilikinya. Setelah habis pahala kebaikan ibadahnya itu, tinggallah keburukan orang-orang yang dizaliminya yang kemudian ditimpakan kepadanya. Maka kemudian dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Ibadah yang kita lakukan itu harus berdimensi sosial. Kalau dikaitkan lebih jauh lagi, ternyata masalah sosial itu menjadi prioritas. Misalkan jika kita puasa, yang puasa tersebut kita laksanakan sambil melakukan perjalanan. Perjalanan itu bisa meletihkan. Alquran menyatakan, bahwa kita yang berada di dalam perjalanan diperbolehkan untuk berbuka. Atau juga ketika kita dalam keadaan sakit, yang menurut penelitian para dokter, bahwa jika puasanya diteruskan, maka sakitnya akan bertambah parah. Karena itulah, menurut yang termaktub di Alquran, kita diperbolehkan berbuka jika dalam keadaan sakit. Ini artinya, bahwa ibadah di dalam Islam pun memperhatikan keselamatan manusia.

Dimensi sosial inilah yang kita inginkan, yang bermula dari aspek fiqh, aspek tasawwuf, yang kemudian meningkat kepada aspek sosial. Dari sini kemudian naik tingkat lagi ke tingkat ke empat, yaitu pendekatan logikal, kita perkuat argumentasi kita. Kita perkaya keagamaan kita dengan berbagai bahan bacaan, sehingga keberagamaan kita itu menjadi kokoh.

Menurut beberapa buku, akhir-akhir ini menunjukkan keadaan, yaitu orang-orang semakin percaya bahwa ajaran Islam memang ajaran yang terkemuka, ajaran Islam yang bisa memecahkan problem.

Sekarang ini sedang terjadi krisis ekonomi global. Sudah banyak yang stress, ada juga yang bunuh diri, juga ada yang menjadi orang gila. Pengaruhnya ternyata sudah sampai ke Indonesia, antara lain harga hasil pertanian dan perkebunan anjlok, sehingga para petaninya banyak yang stress. Menurut informasi dari media massa, bahwa akan terjadi PHK lebih dari 12 ribu orang.

Dalam keadaan seperti ini, maka agama yang harus menjadi pegangan, karena agama memberikan pedoman bagi manusia dalam seluruh keadaan. Antara lain kini semakin diyakini, bahwa Sistem Ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang paling kuat. Menurut Islam, mata uang itu adalah emas dan perak. Karena mata uang yang paling kuat adalah mata uang emas, yang ternyata hampir tak terkena goncangan.

Menurut ajaran Islam, juga dilarang untuk melakukan monopoli. Islam sudah menawarkan satu prinsip ekonomi yang balance (seimbang). Di dalam Islam dipersilakan untuk kaya. Tetapi bersamaan dengan kekayaan, dia bersedekah, dia berinfak, dia berzakat, dan dia berwakaf. Maka ketika dia makmur, yang lain pun juga ikut makmur. Namun, orang yang diberi zakat dan infak pun jangan ketergantungan terus-menerus. Sebaiknya, ketika diberi zakat, maka harus ada perubahan ke depannya. Jika tahun ini dia diberi zakat, maka tahun yang akan datang dialah yang memberi zakat.

Di dalam krisis ini, mental spiritual Islam sudah memberikan petunjuk, dan itu cukup banyak. Antara lain, misalnya ketika orang menghadapi keadaan pailit (bangkrut), keadaan kekurangan, maka Islam memberikan tuntunan untuk bersabar. Di dalam psikologi modern, sabar diartikan sebagai regresi, yaitu menurunkan kadar ambisi kita. Rasulullah pernah mengatakan (dan juga di dalam ajaran agama lain), bahwa sebab manusia stress itu karena terlalu tinggi obsesinya. Dengan bersikap sabar, maka jika dia menginginkan 100, maka kemudian kadarnya diturunkan menjadi 60. Selain sabar, yaitu sabar untuk menerima kenyataan dari standar 100 diturunkan menjadi 60, juga pada saat yang bersamaan dia juga bersyukur kepada Allah.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (Q.S. Ibraahim: 7)

Dengan bersyukur, sekecil apapun yang didapatkan, maka di hadapan orang yang bersyukur menjadi bermakna. Tetapi bagi orang yang tidak pernah bersyukur, maka berapapun menjadi tidak ada artinya. Misalkan dia mendapatkan untung sejuta, lalu dia berkata, “Ya…, hanya sejuta. Kemarin untungnya 3 juta.” Besoknya lagi dia mendapat 700 ribu, lalu dia berkata, “Ya…, cuma 700 ribu. Kemarin untungnya sejuta.” Sehingga tak pernah ada habisnya ia mengeluh.

Bagi orang yang bersyukur, ketika ia berada dalam keadaan yang sulit, maka ia akan bertawakkal kepada Allah.

Agama sudah memberikan petunjuk-petunjuk yang lengkap untuk menghadapi semua ini. Maka pada Q.S. Ar-Ruum ayat 30 dikatakan: fa aqim wajhaka. Ternyata kalimat ini luas sekali artinya, baik itu dimensi fiqh, tasawwuf, sosial, ideologi, dan dimensi kognitifnya.

Fa aqim wajhaka liddiini. Menurut para ahli ilmu nahwu, kata “ad-diin” di sini bentuknya ma’rifat. Di dalam Ilmu Nahwu, ada nakirah dan ada ma’rifat. Jika nakirah adalah umum, misalkan kata “diinun“, maka ma’rifat adalah khusus, misalkan kata “ad-diin“. Dalam hal ini, agama yang dimaksud adalah agama yang diturunkan oleh Allah, bukan agama yang dihasilkan dari seminar, bukan pula agama hasil penelitian, tetapi agama yang “that is the revelation from God in The Holy Quran“, yaitu agama yang diwahyukan oleh Tuhan di dalam kitab suci Alquran.

Mengenai orisinalitas Alquran, maka hal ini sudah terbukti. Hal ini sudah bisa dibuktikan, misalkan melalui pendekatan sejarah. Bahwa Alquran ditulis pada zaman Rasulullah masih hidup, dan beliau yang langsung mengedit Alquran tersebut, yang ini menurut istilah pada Ilmu Ulumul Qur’an disebut tauqif (penetapan Rasulullah). Jadi, ketika turun ayat Alquran, maka Rasulullah langsung memerintahkan para sahabat ketika itu untuk menyusun urutan surah dan ayat Alquran seperti yang bisa kita baca hingga saat ini (kini mungkin seperti menyusun dan menyimpan berkas-berkas di dalam file-file).

Di samping itu, penyusunan Alquran ini juga dibantu oleh para penghafal Alquran ketika itu. Jadi, kalau ada lembaran-lembaran Alquran itu yang hilang, maka masih ada back-upnya (sesuai dengan yang dihafal oleh para penghafal). Dan memang pada masa itu, tradisi di Arab adalah tradisi menghafal, sedangkan tradisi baca-tulis mungkin tidak ada, dan kalaupun ada, maka tidak sepenting tradisi menghafal. Oleh karena itulah, tradisi menghafal tersebut hingga saat ini masih ada di Arab. Menghafal Alquran bahkan menjadi persyaratan untuk masuk ke perguruan tinggi. Setelah seseorang masuk ke perguruan tinggi, barulah orang tersebut bertahassus dia mau menjadi apa. Misalkan mau menjadi dokter, silakan, tetapi dokter yang hapal Alquran. Mau menjadi ahli pertanian, silakan, tetapi ahli pertanian yang hapal Alquran. Mau menjadi insinyur, silakan, tetapi insinyur yang hapal Alquran. Mau menjadi tentara, silakan, tetapi tentara yang hapal Alquran. Sehingga agama itu betul-betul menjiwai seluruh aspek kehidupan.

Ada masa yang disebut sebagai Golden Age (Masa Emas). Masa ini pada setiap anak yaitu dari berumur 4 hingga 12 tahun (masa anak ketika TK hingga lulus SD). Inilah masa keemasan, di mana memori anak dengan mudah bisa menghapal. Menurut Ilmu Neurologi (ilmu tentang syaraf), bahwa pada otak manusia itu ada 200 milyar sel otaknya. Pertumbuhannya mulai dari dalam rahim (ketika terjadi ‘alaq). Pembentukan sel tersebut dalam setiap detik sekitar 25 ribu sel yang berkembang, hingga terus berkembang sekitar 200 milyar sel otak manusia tersebut. Sel-sel ini ada Golden Age-nya, di mana ada masa memorizing.

Suatu saat saya berkunjung ke Iran (tepatnya di Kota Teheran). Di sana saya menemukan 200 anak di bawah umur 10 tahun yang sudah hapal Alquran. Anak-anak ini juga pernah dites di London. Kecepatan mereka untuk mencari ayat Alquran dibandingkan dengan kecepatan komputer, ternyata anak-anak ini lebih cepat dibandingkan komputer.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata sistem komputer belum bisa menyaingi otak manusia. Diprediksi, bahwa baru pada tahun 2030 akan ada komputer yang servernya itu bisa menyimpan seperti halnya sel otak manusia. Tapi, sepertinya saya tak terlalu yakin akan prediksi ini. Otak manusia yang diciptakan oleh Allah memorizingnya begitu kuat.

Di sinilah kemudian kepada agama, di mana Alquran berpedoman kepada Ad-Diin, kemudian diperkuat oleh Hadis Rasulullah, kemudian diperkuat lagi oleh keterangan para ulama, seperti yang termaktub pada Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Menurut Imam Al-Maraghi dalam Kitabnya Tafsir Al-Maraghi, bahwa Ulil Amri itu ada dua macam: Al-Amru fiddiin (yaitu ulama) dan Al-Amru fiddaulah atau Al-Amru fiddunya (yaitu umara’). Jadi menurut Imam Al-Maraghi, bahwa ulama dan umara’ itu sama-sama ulil amri. Maka berdasarkan ayat ini, bahwa kawin di bawah tangan itu sebenarnya tidak sah, karena tidak mentaati ulil amri. Apalagi dalam hal ini kaidahnya adalah maslahatul mursalah (kemaslahatan umat).

Liddiini haniifa (beragama itu dengan tulus). Metode beragama memang berbeda dengan metode yang lainnya. Misalkan di dalam metode ilmu pengetahuan, bahwa sebelum kita menerima dan mempercayai sesuatu, maka kita skeptis dahulu terhadap hal tersebut. Kita harus ragu dan memverifikasi dahulu hal tersebut. Setelah teruji benar, barulah kita menerima dan mempercayai hal tersebut. Tetapi agama tidak boleh begitu. Agama diterima dahulu, karena agama adalah dari Allah yang sudah pasti benar. Kita meyakini bahwa agama adalah dari Allah dan sudah pasti benar.

Dengan agama, hidup jadi mempunyai tujuan jangka panjang. Dengan agama, hidup kita menjadi semakin tenang, karena dimiliki oleh Allah. Mudah-mudahan keberagamaan kita semakin mantap, semakin mempunyai nilai resonansi, semakin memiliki vibrasi, getaran di dalam kehidupan, sehingga akan membawa manfaat di dunia dan akhirat. [Aan]

5 Desember 2008 at 11:46 AM 3 komentar

Provokator Haji

PROVOKATOR HAJI

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 16 November 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesuai dengan catatan yang dapat dipercayai, bahwa pada tahun 1994, jamaah haji Indonesia hanya 150 ribu orang. Quotanya adalah 220 ribu, yang ini sejak beberapa tahun lalu quota tersebut sudah selalu terpenuhi. Karena itulah, jika mendaftar untuk berhaji sekarang, maka baru bisa berangkat pada tahun 2010. Inilah karena begitu banyaknya orang yang pergi haji. Mengapa bisa menjadi banyak seperti ini? Hal inilah yang akan kita bahas kali ini.

Menurut catatan sejarah, bahwa Rasulullah mempunyai kesempatan tiga kali untuk beribadah haji. Tetapi selama hidupnya dengan tiga kali kesempatan itu, hanya satu kali Rasulullah melaksanakan ibadah haji.

Rasulullah mempunyai kesempatan ratusan kali untuk beribadah umrah, bahkan ribuan kali kesempatan. Tetapi Rasulullah melaksanakan ibadah umrah hanya empat kali: yang pertama gagal (6 H), karena Mekkah masih dikuasai oleh orang-orang musyrik, yang ketika itu baru diizinkan untuk berumrah pada tahun 7 H.

Pada tahun 8 H, Mekkah sudah dikuasai oleh Islam, tetapi Rasulullah tidak melakukan ibadah umrah dan haji. Pada tahun 9 H, Rasulullah barulah melaksanakan ibadah umrah. Pada tahun 10 H, Rasulullah melaksanakan ibadah umrah bersama haji. Jadi selama hidupnya, Rasulullah hanya melaksanakan umrah yang sunnah itu sebanyak dua kali.

Bandingkan dengan orang Indonesia yang jika mempunyai uang, maka maunya berumrah setiap bulan, serta berhaji setiap tahun. Dan ternyata bukan cuma di Indonesia, di negara-negara lain pun juga seperti itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan:

Pertama, ada anggapan, bahwa semakin sering ke Mekkah, maka orang tersebut akan semakin baik; baik dalam hal ibadahnya karena sering datang ke rumah Allah, baik juga karena kantongnya.

Ada anggapan di sebagian daerah di Indonesia, jika seorang pria sudah pernah berhaji sebanyak dua kali, maka dia akan mudah untuk mencari istri yang kedua. Mengapa bisa demikian? Karena orang yang sudah berhaji sebanyak dua kali ini dianggap bagus. Jika anggapan ini benar, maka Rasulullah tidaklah bagus, karena selama hidupnya Rasulullah hanya berhaji sebanyak satu kali.

Kedua, karena gencarnya iklan dan promosi untuk haji dan umrah. Cobalah lihat pada harian seperti Republika, di sana oknum-oknum kyai dan oknum-oknum ustadz semuanya menjadi bintang iklan haji dan umrah. Dan ternyata hal seperti ini tidak hanya di Indonesia, di negara lain pun seperti itu.

Tadinya saya pikir, mungkin fenomena ini hanya terjadi di Indonesia, sehingga saya tidak mempunyai kecurigaan apa-apa. Pada Bulan Syawwal (November tahun lalu/2007), saya berada di Chicago-Amerika Serikat. Di sebuah restoran, saya ambil koran-koran, yang ternyata isinya banyak sekali iklan haji dan umrah. Mulai saat itu, saya sudah mulai curiga, kok di semua negara yang ada Umat Islamnya, ternyata koran-koran penuh dengan iklan haji dan umrah? Ini ada apanya? Jika hal ini terjadi di Indonesia saja, tentunya hanya sesuatu yang biasa-biasa saja. Ternyata, hampir di semua negara juga seperti itu, seperti ada yang menggerakkan.

Waktu itu, kami sudah mulai curiga akan fenomena ini. Menurut perkiraan saya, mungkin ada aktor intelektualnya di balik fenomena ini.

Mengapa orang dianjurkan untuk berbondong-bondong pergi haji, bukannya diajurkan untuk membangun Umat Islam. Padahal menurut suatu penelitian yang dilaporkan oleh Sekretaris Dewan Fatwa Republik Arab Syiria, bahwa setiap tahun (setiap musim haji), Umat Islam melemparkan dana untuk ibadah Haji Sunnah sebanyak 5 milyar Dolar Amerika (jika dikurs-kan sekarang yaitu kurang lebih 55 trilyun Rupiah). Ini belum termasuk yang umrah, khususnya umrah pada Bulan Ramadan (Rasulullah saja tidak pernah melakanakan umrah pada Bulan Ramadan).

Jadi, dana sebanyak itu terlempar begitu saja. Pulang dari haji, ternyata keadaan tetap seperti ini (Umat Islam bukan semakin sejahtera).

Kecurigaan ini kemudian berubah ketika pada pertengahan Ramadan yang lalu, kami berada di Kota West Palm Beach-Florida-Amerika Serikat. Ketika itu, kami mendapatkan informasi dari seorang Muslim Indonesia yang bekerja di suatu perusahaan di sana (perusahaan itu milik orang Yahudi). Setiap menjelang musim haji, pemilik perusahaan itu menganjurkan pegawai-pegawainya yang muslim untuk pergi haji. Waktu itu saya tanyakan kepada orang itu, “Yang membiayai siapa, Pak?” Jawab orang itu, “Ya…, membiayai sendiri.”

Lantas kemudian muncul pertanyaan pada saya, “Apakah kepentingannya orang Yahudi menganjurkan orang Islam untuk berduyun-duyun pergi haji?” Apakah orang Yahudi itu ingin mendapatkan pahala? Tapi dia kan tidak mempercayai Agama Islam? Dia juga tidak menginginkan uangnya, karena ia bukan pemimpin perusahaan penerbangan, bukan juga KBIH, apalagi pembimbing haji. Lantas apakah kepentingannya?

Kepentingannya adalah, agar Umat Islam membuang dananya untuk sesuatu yang tidak wajib. Dana Umat Islam jangan dipakai untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membangun rumah sakit-rumah sakit Islam, untuk membangun kesejahteraan Umat Islam, dan sebagainya. Itulah kepentingan mereka.

Menurut FAO (Organisasi Pertanian dan Pangan PBB), bahwa di dunia kini masih dihuni oleh 830 juta orang miskin. Dengan catatan, bahwa yang miskin adalah orang yang penghasilannya kurang dari 2 dolar sehari (sekitar 20 ribu rupiah). Jadi, mereka yang penghasilannya kurang dari 20 ribu rupiah per-hari, maka itu disebut miskin. Dari 830 juta orang miskin itu, 700 juta nya adalah orang Islam.

Karena itulah, saya sekarang bukan lagi curiga, tetapi sudah yakin, bahwa tangan-tangan Yahudi sudah bermain dalam urusan haji. Maka orang Islam selalu digenjot supaya pergi haji terus, jangan ada yang membantu anak yatim yang terkena bencana tsunami di Aceh, jangan ada yang mengentaskan kemiskinan, melainkan uangnya lebih baik digunakan untuk melaksanakan ibadah haji saja terus-menerus. Inilah yang saya sebut sebagai “Provokator Haji”.

Ketika Umat Islam sedang terpuruk, masih banyak anak yatim yang terlantar, juga masjid-masjid yang terbengkalai, padahal Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Buktinya, ketika Rasulullah kedatangan Kabilah Mudhar di Madinah, ternyata Kabilah Mudhar ini orang-orangnya kurus-kurus, kurang gizi, pakaiannya compang-camping.

Melihat Kabilah Mudhar seperti ini, maka Rasulullah marah. Bukan marah kepada orang-orang Kabilah Mudhar yang miskin-miskin, melainkan marah kepada para sahabat, “Mengapa Kabilah Mudhar dibiarkan miskin seperti itu?”

Rasulullah menganjurkan supaya mereka disantuni langsung di masjid. Mendengar anjuran Rasulullah ini, maka ada yang bangun kemudian pulang ke rumah, setelah itu balik lagi ke masjid dengan membawa sekarung gandum kemudian menyerahkannya untuk Kabilah Mudhar. Begitu melihat ini, maka yang lainnya pun balik ke rumah masing-masing dan kemudian kembali lagi ke masjid dengan membawa bahan-bahan makanan, pakaian, dan sebagainya untuk diberikan kepada Kabilah Mudhar. Lalu Rasulullah berkata:

Man sanna bil Islami sunnatan hasanatan balaghu ajruha wa ajruman ‘amilabiha min ghayri an yanqusa min ujurihim syay-an (Siapa yang merintis perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahala perbuatannya itu dan perbuatan orang-orang lain yang mengikutinya).

Hal ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang anti kemiskinan. Islam adalah agama yang membawa rahmat (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin). Islam adalah agama yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Rahmat itu bukan hanya untuk manusia (baik itu muslim ataupun kafir), sedangkan binatang saja juga mendapatkan rahmat tersebut.

Menurut suatu riwayat, seorang yang memberikan minuman kepada anjing yang kehausan, ternyata dosanya diampuni oleh Allah, yang artinya ia bisa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing.

Yang namanya “‘alamin” itu adalah apa saja yang eksis di muka bumi ini, baik itu manusia (baik yang muslim maupun yang kafir), binatang, tumbuh-tumbuhan, dan apa saja yang ada di alam ini. Rasulullah mengatakan, bahwa siapa saja yang membunuh seekor burung (‘usfur = burung yang kecil) tanpa ada haknya, maka dia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Diperbolehkan kecuali ada haknya? Para sahabat bertanya, apakah haknya? Rasulullah mengatakan, bahwa burung tersebut boleh dibunuh, tetapi harus dimakan, jangan untuk main-main, misalkan hanya untuk dijadikan sebagai hiasan.

Karena itulah, di dalam hadits banyak disebutkan mengenai pelestarian lingkungan. Sampai-sampai Rasulullah menyatakan untuk tidak membunuh kodok.

Di Australia ada undang-undang yang menyatakan larangan untuk membunuh kodok, termasuk juga burung-burung dan binatang-binatang lainnya. Begitu juga di Amerika Serikat dan Kanada, yang jika kita sedang berada di sana, maka akan terlihat tupai dan burung berkeliaran di sekeliling rumah. Bahkan di Kanada, kita tidak boleh menebang pohon, walaupun pohon itu berada di depan rumah kita, kecuali ada izin dari pemerintah. Inilah rahmatan lil ‘alamin. Tetapi yang lebih banyak mempraktekkannya bukanlah Umat Islam. Mungkin kebanyakan Umat Islam lebih senangnya merusak saja.

Jadi, Islam itu adalah agama yang merupakan rahmat kepada seluruh penghuni alam, bukanlah agama yang individual saja. Kalau Islam itu rahmat, berarti kita sebagai Umat Islam harus peduli terhadap orang lain.

Islam bukanlah hanya agama individual yang tidak ada kepedulian sama sekali terhadap orang lain. Islam adalah agama individual, dan sekaligus agama sosial. Islam adalah agama yang membina keshalehan individual, sekaligus keshalehan sosial.

Oleh sebab itulah, meskipun Rasulullah mempunyai uang dan kesempatan untuk berhaji sebanyak tiga kali, ternyata Rasulullah melaksanakannya cukup satu kali saja. Lantas uangnya yang lain dipergunakan untuk apa? Ternyata dipergunakannya untuk berinfak. Ketika Rasulullah tinggal di Madinah, maka:

Pertama, ada kewajiban untuk berjihad melawan serangan-serangan orang kafir. Jihad memerlukan dana. Maka uang Rasulullah dipergunakan untuk membiayai jihad, begitu juga dengan para sahabat.

Wa jahidu bi anfusikum wa amwalikum (Berjihadlah dengan jiwa raga dan harta kalian).

Kedua, menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim.

Rasulullah mengatakan:

As-sa’i ‘alal armalati wal miskin kal mujahid fi sabilillah (Orang yang menyantuni para janda, para miskin, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah).

Bahkan juga dikatakan, seperti orang yang selalu berpuasa setiap hari dan salat tahajjud setiap malam.

Rasulullah juga mengatakan:

Ana wa kafilul yatim kahataini fil jannah (Saya bersama orang yang menyantuni anak yatim seperti dua jari ini di surga).

Surganya Rasulullah tentunya bukan surga yang biasa, melainkan surga yang paling tinggi tingkatannya, yang ini hanya diberikan kepada Rasulullah dan orang-orang yang menyantuni anak yatim.

Ketiga, menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam kepada Rasulullah ketika itu.

Umumnya, jika orang disuruh untuk menyantuni anak yatim, tentunya akan berpikir dua kali, malas, dan berbagai macam alasan lainnya. Tetapi, jika disuruh haji, maka orang akan langsung mendaftarkan diri.

Haji adalah ibadah yang paling rawan godaan dan provokator. Tidak ada salat itu ayatnya disebut “lillah”, misalkan “wa lillahi aqimush shalah” atau “wa lillahi iqamatush shalah“, meskipun salat itu juga harus lillahi ta’ala. Zakat dan puasa juga demikian. Tetapi untuk haji, ayatnya yang satu diawali dengan “lillah” dan yang satunya lagi ditutup dengan “lillah“.

Wa lillahi ‘alannaasi hijjul baiti manis thatha’a ilaihi sabiilaa (Hanya karena Allah, wajib bagi manusia untuk menjalankan ibadah haji di baitullah bagi yang mampu).

Ayat yang lain ditutup dengan lillah:

Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah (Kerjakanlah haji dan umrah lillahi ta’ala).

Mengapa untuk ibadah yang lain pada ayat yang memerintahkannya tidak disebutkan “lillah“, padahal dalam pelaksanaannya juga harus lillahi ta’ala?

Hikmahnya apa dan mengapa? Karena ibadah haji adalah ibadah yang paling rawan godaan, paling rawan provokator, baik provokator yang berupa setan dan iblis yang tidak kelihatan, maupun setan dan iblis yang kelihatan yang berupa manusia.

Maka, jika kita dalam keadaan terpuruk seperti sekarang ini, mengapa masih ada orang yang berhaji bolak-balik setiap tahun. Ada yang sampai tujuh kali, bahkan ada yang ingin lebih dari itu.

Dalam keadaan Umat Islam terpuruk seperti sekarang ini, ternyata kita masih ada yang berhaji berkali-kali, jor-joran umrah, maka cobalah tanya pada diri sendiri, kita ini mengkuti siapa? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti perintah Allah seperti yang disebutkan di dalam Alquran, maka tanyakan kepadanya, tolong sebutkan ayat mana yang memerintahkan seperti itu? Jika ada yang mengatakan bahwa ia mengikuti Rasulullah, maka katakan kepadanya, bahwa Rasulullah tak pernah berhaji berkali-kali, tak pernah Rasulullah melakukan umrah hingga berkali-kali.

Inilah yang dikhawatirkan, bahwa orang seperti ini sudah terkena provokasi yang dibisikkan oleh provokator kepada hawa nafsu untuk melakukan ibadah haji lagi, bahwa orang yang pergi haji berkali-kali itu hebat, jaminannya surga.

Ð __È_D___œ_ _ô_3896 Patut juga diingat, apakah haji yang dilakukan itu mabrur? Haji yang mabrur itu syaratnya ada tiga:

Pertama, niatnya harus lillahi ta’ala.

Kedua, manasiknya harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Ketiga, uang yang dipakai untuk ongkos naik haji haruslah uang yang halal.

Uang yang halal itu maksudnya adalah uang yang diperoleh dari perbuatan yang halal. Halal ataupun haram itu adalah hukum. Hukum itu tidak berkaitan dengan benda. Hukum itu hanya berkaitan dengan perbuatan manusia, yaitu manusia yang mukallaf (manusia yang sudah dikenai hukum). Karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh binatang tidaklah dikenai hukum.

Jika ketiga syarat di atas dilaksanakan, barulah mendapatkan haji mabrur.

Orang yang naik haji dengan menggunakan biaya yang diperoleh melalui cara yang haram, maka dijamin oleh Allah hajinya tidak akan diterima.

Rasulullah bersabda:

Innallaha laa yaqbalu shalatan min ghayri thahuurin wa shadaqatan min uluulin (Allah tidak akan menerima sembahyang tanpa bersuci, dan Allah tidak akan menerima shadaqah dari hasil korupsi).

Teladanilah Rasulullah. Jika beliau memiliki uang, maka uangnya itu disalurkannya: Pertama, untuk membiayai jihad fi sabilillah. Kedua, untuk menyantuni janda-janda miskin dan anak-anak yatim akibat peperangan. Ketiga, untuk menyantuni orang-orang yang sedang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu.

Orang-orang yang belajar Islam pada Rasulullah ketika itu jumlahnya ratusan orang, mereka tinggal di Masjid Nabawi, pakaian mereka hanya beberapa helai, dan mereka tidur di masjid. Lantas dari manakah mereka mendapatkan makan? Rasulullah mengatakan:

“Siapa yang punya makanan untuk satu orang, maka ajaklah dua orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk dua orang, maka ajaklah empat orang pelajar shufah untuk makan. Yang mempunyai makanan untuk empat orang, maka ajaklah delapan orang pelajar shufah untuk makan.”

Rasulullah sendiri setiap hari meransum kurang lebih untuk 70 orang. Ini semuanya adalah bentuk-bentuk dari infak. Dan itulah yang dikerjakan oleh Rasulullah, bukanlah setiap bulan umrah, bukan pula setiap tahun berhaji. Karena itulah, jika kita ingin berhaji mengikuti seperti Rasulullah, maka ikutilah Rasulullah secara keseluruhan, baik cara maupun jumlahnya.

Sering ada yang mengeluhkan kepada saya, bahwa ia baru pergi haji sekali, tetapi rasanya belum puas. Lalu saya tanyakan kepadanya, “Yang belum puas itu apanya? Apakah thawafnya, wukufnya, sa’inya, melontar jamrahnya, atau jalan-jalan dan belanjanya yang belum puas?”

Saya katakan kepadanya, “Seribu kali anda pergi haji, maka tetap anda tidak akan puas, sebab puas itu bisa saja merupakan hembusan bisikan setan.”

“Jangan dipakai untuk anak yatim, karena tidak akan ada yang tahu. Tetapi jika pergi haji, maka akan banyaklah yang tahu bahwa kamu pergi haji, akan banyaklah yang memujimu” mungkin seperti itulah bisikan setan.

Karena itulah, untuk memberi santunan kepada anak yatim, orang miskin, dan menyumbang untuk masjid misalkan, orang banyak yang enggan untuk melakukannya. Tetapi jika untuk pergi haji berkali-kali, maka banyak sekali yang bersemangat. Di sinilah godaan setannya, betapa begitu rawannya ibadah yang satu ini (haji).

Bagi yang baru pertama kali akan melaksanakan ibadah haji, maka mantapkanlah niatnya. Yang sudah punya kemampuan untuk pergi haji, segeralah berhaji. Jangan sampai rukun Islam yang kelima diubah menjadi beli mobil. Karena ada orang seperti ini, yaitu yang tidak mau menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan rukun Islam yang kelima diganti untuk membeli mobil. Jika ada yang seperti ini, maka ia sudah berdosa. Pergi haji cukup dengan uang sejumlah 35 juta rupiah ia tidak mampu, tetapi jika untuk membeli mobil yang harganya mencapai ratusan juta rupiah ia mampu. Katanya ia tidak mempunyai uang untuk berhaji. Ya wajar saja, karena uangnya dipakai untuk membeli mobil.

Jika ada orang yang seperti ini, maka juallah mobilnya itu, kemudian gunakan uangnya untuk berhaji. Tetapi patut pula diingat, setelah pergi haji, lalu punya uang lagi, maka ikutilah Rasulullah, yaitu infakkanlah uang tersebut. Janganlah kemudian jika memiliki uang lagi, lalu uang tersebut digunakan untuk pergi haji lagi dengan alasan belum puas dan sebagainya.

Dalam hal ini, teladanilah Rasulullah, yaitu berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali.

Hati-hatilah terhadap provokator-provokator haji. Jangan sampai yang kedua dan ketiga kita berhaji karena terkecoh dan terpancing dengan provokasi-provokasi itu. Saya sendiri termasuk orang yang pernah ditawari untuk hal-hal seperti ini.

Waktu pertama kali pulang dari haji pada tahun 1985, saya ditawari untuk mencari jamaah ibadah umrah dan haji. Tawarannya begitu menggiurkan, yaitu jika saya bisa mendapatkan 15 orang jamaah, maka saya bisa pergi haji gratis, pergi umrah gratis. Kalau bisa mendapatkan 30 orang, maka saya bisa pergi haji dengan istri saya. Bukan hanya itu, karena nanti setiap hari saya akan diberi uang saku sejumlah 50 dolar.

Jika saya menerima tawaran ini, maka mungkin saya akan memprovokasi orang-orang untuk pergi haji dan umrah dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, dan seterusnya. Saya mungkin akan menganjurkan dengan embel-embel hadis, yang ujung-ujungnya saya hanya berkepentingan untuk mengumpulkan dolar. Karena semakin banyak orang yang mengikuti ajakan saya, maka akan semakin pula dolar yang saya dapatkan. Kalau sudah seperti ini, maka kantong saya semakin tebal, dan mungkin kami akan dijuluki sebagai ustadz ataupun kyai KPD (Kyai Pemburu Dolar).

Jika ini saya lakukan, berarti saya sudah menjual ayat dan hadis demi kepentingan dolar. Ketika itu, Almarhum Guru saya mengingatkan, agar saya jangan ikut-ikutan mengurus haji. Kalau sekedar membimbing haji mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau sampai membuat perusahaan yang mengurusi dan mengelola haji, yang nanti kalau uang sudah banyak sekali, tentunya saya akan kaya raya, uang bertumpuk, dan saya bingung akan menyalurkan ke mana uang tersebut.

Alhamdulillah, saya tidak sampai tergoda akan tawaran dan provokasi dari provokator haji tersebut. Saya tidak menjadi pembimbing haji, tidak menjadi pengelola haji, tetapi kemudian saya menjadi pengkritik haji.

Mudah-mudahan bagi yang akan menunaikan ibadah haji nantinya bisa mendapatkan haji yang mabrur. Dan yang sudah haji, maka perbanyaklah infak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tidak usah ada pikiran untuk berhaji yang kedua dan ketiga kali, melainkan ikutilah Rasulullah: Berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali. [Aan]

5 Desember 2008 at 11:35 AM Tinggalkan komentar

Kajian Kitab Hadits Nashahihul ‘Ibad

KAJIAN KITAB HADITS NASHAHIHUL ‘IBAD

Disarikan dari Ceramah Dzuhur yang disampaikan oleh Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A. pada tanggal 4 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hadis Pertama

Rasulullah bersabda:

‘An ‘Abdullah ibni ‘Amrin, qaala: qaala rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam, arrahimuna yarhamuhurrahman.

Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar, berkata: bersabda Rasulullah SAW, orang-orang yang pengasih, mereka akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih.

Bahwa orang-orang yang mengasihi sesamanya di dunia ini, maka pasti akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Karena itulah, misi dari Islam adalah kasih sayang. Dari namanya sendiri, bahwa Islam adalah keselamatan dan kedamaian. Dan jelas sekali surah pertama di dalam Alquran menyatakan mengenai hal ini (Al-Fatihah ayat pertama). “Bismillahirrahmanirrahim” (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Di dalam ajaran Islam, jika kita mencermati akhlak dari orang-orang yang agamanya sudah termasuk tingkat tinggi, jangankan terhadap manusia, terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan pun ada akhlak yang diterapkan. Bahkan dalam hadits yang lain ditegaskan oleh Rasulullah, bahwa ada seorang perempuan yang masuk ke dalam neraka disebabkan ia mengurung seekor kucing di dalam kamarnya, kemudian kucing itu kelaparan dan kehausan, hingga kemudian kucing itu mati.

Terhadap hewan saja kita semestinya berakhlak baik, apalagi terhadap sesama manusia.

Di dalam hadis lain juga ditegaskan, bahwa ada seorang wanita jalang, dalam suatu perjalanan di padang pasir, ia mengalami kehausan. Kemudian ia menemukan suatu oase (perigi/sumur) di tengah-tengah padang pasir. Oase itu begitu dalamnya, dan untuk mengambil airnya begitu susah. Kemudian wanita itu turun ke oase tersebut, lalu ia pun minum sepuas-puasnya. Setelah ia minum, ia naik lagi ke atas. Ketika sudah di atas, ia menjumpai seekor anjing yang kelihatan kehausan. Wanita tersebut begitu yakin, bahwa anjing tersebut begitu hausnya, seperti halnya ia yang barusan mengalami kehausan. Kemudian wanita tersebut mengambilkan air untuk diberikan kepada anjing tersebut. Ia pun turun ke sumur tersebut dan menampung air yang diambilnya dengan sepatu yang sedang dipakainya. Setelah itu dia naik lagi, kemudian memberikan air tersebut kepada anjing yang sedang kehausan itu.

Rasulullah mengatakan, bahwa wanita tersebut tergolong ahli surga, karena mengasihi seekor anjing.

Para sahabat kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ada kebaikan dari berbuat baik terhadap seekor binatang?”

Rasulullah pun menjawab, “Pada setiap makhluk hidup, anda berbuat baik, maka anda akan mendapatkan pahala.”

Jadi, begitu luar biasanya misi yang ditegakkan oleh Islam. Karena itu, Rasulullah memperlakukan hewan begitu baiknya. Bahkan unta beliau diberi nama, yaitu “al-quiswa“. Bukan hanya itu, benda-benda mati seperti pisau dan sebagainya diberi nama oleh Rasulullah (ada nama tersendiri bagi benda-benda mati tersebut). Dalam hal ini, Rasulullah memanusiakan benda mati. Tentunya berbeda sekali dengan umumnya kita yang tidak bisa berbuat semestinya terhadap sesama manusia, apalagi terhadap makhluk yang lainnya.

Karena itulah, ditegaskan:

Irhamu mawfil ardhi, yarhamukumaa fissama’.

Kasihanilah orang-orang yang ada di bumi, akan mengasihani kamu semua yang ada di langit.

Setiap orang yang mengasihi sesama di muka bumi ini, maka penduduk langit, para malaikat, termasuk pencipta alam ini (Allah SWT) akan merahmati orang yang seperti ini.

Di dalam hadits yang lain juga ditegaskan:

Man rahima wa lawzabi hata ‘ushuurin rahimahullahu yawmal qiyamah.

Siapa yang mengasihani orang lain, meskipun hanya sekedar menyembelih seekor burung yang kecil untuk menghormati orang lain, Allah akan merahmati orang tersebut di hari kiamat.

Dalam sejarahnya, Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang sangat hormat terhadap tamu. Bahkan digambarkan di dalam legenda orang-orang Arab, bahwa ada seorang Arab yang bernama Khatim Ath-Thayyi. Ia ini sangat baik terhadap tamu. Semua tamunya ia beri makan, serta ia beri segala macam. Sampai suatu saat, dia hanya mempunyai satu-satunya seekor kuda yang sangat bagus, luar biasa, dan tentunya mahal.

Kemudian Kaisar Byzantium mendengar bahwa kudanya Khatim Ath-Thayyi ini luar biasa. Akhirnya Kaisar Byzantium mengirim empat orang untuk mendatangi Khatim Ath-Thayyi dengan tujuan untuk membeli kuda tersebut, berapapun harganya.

Waktu tamu asing ini (utusan Kaisar Byzantium) datang, Khatim Ath-Thayyi tidak memiliki apa-apa lagi. Ia hanya tinggal mempunyai kuda tersebut. Akhirnya kuda tersebut dipotongnya untuk disuguhkan kepada tamu asingnya itu.

Tamu tersebut beberapa hari menginap di rumahnya, dan dalam beberapa hari itu juga, tamu tersebut belum menyampaikan maksud kedatangannya. Khatim Ath-Thayyi pun terus mengurus tamunya itu, termasuk juga makan dan minumnya. Pada hari ketiga, barulah tamu tersebut menyampaikan maksudnya, bahwa mereka adalah utusan dari Kaisar Byzantium yang bertujuan untuk membeli kuda yang dimiliki oleh Khatim Ath-Thayyi berapapun harganya.

Mendengar ini, Khatim Ath-Thayyi tersenyum dan mengatakan, bahwa karena ia sudah tak mempunyai apa-apa lagi, maka kuda yang dimaksud itu sudah menjadi santapan mereka bersama-sama dalam beberapa hari tersebut semenjak sang tamu berada di rumahnya.

Inilah suatu legenda di kalangan orang-orang Arab, bahwa mereka itu orang-orang yang sangat menghormati tamu. Karena itulah, “duyufurrahman” (tamu Allah/jamaah haji) di Mekkah dan Madinah dimuliakan begitu luar biasa.

Hadis kedua

Ahabbunnaasi ilallaahi an faa-uhum linnaas. Wa ahabbul a’mali ilallaah sururun yudkhiluhu ‘ala muslimin.

Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama manusia). Dan amal (aktifitas) yang dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan (kegembiraan) yang disampaikan kepada sesama muslim.

Diriwayatkan, ketika Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa Asy’ari sebagai gubernur di Yaman Barat dan Yaman Timur, Nabi berpesan ketika kedua sahabat tersebut akan berangkat, yaitu tiga pesan pokok yang merupakan dasar ajaran agama Islam:

Pertama, “yassira wa laa tu’assira” (permudahlah oleh kalian dan jangan dipersulit).

Kedua, “basysyira wa laa tunaffira” (gembirakan mereka oleh kamu berdua, dan jangan kalian takut-takuti).

Ketiga, “sururun bidkhiluhu ‘ala muslim” (bawakan berita gembira/menyenangkan orang muslim itu baik).

Begitu kita menyenangkan seorang muslim, itu berarti melebihi sedekah. Rasulullah mengatakan, “fa bi fadshin thalib (dengan wajah yang cerah)”. Dengan wajah yang simpatik, itu sudah merupakan bagian dari sedekah.

Qaulun ma’rufun wa maghfiratun khairum min shadaqatin irba’ ra’aza” (ucapan yang bagus, ampunan, wajah yang cerah, lebih baik dari sedekah yang disertai dengan menyebut-nyebut).

Inilah yang disebutkan hadis ini, bahwa kita harus datang, pergi, kembali, memberikan berita gembira kepada sesama kita, jangan menakut-nakuti, jangan mengancam, jangan sampai orang lain merasa dengan adanya kita, maka keadaan akan menjadi sulit, sehingga permudahlah semuanya.

Aw yaqsifu anhu qurbahu” (atau orang itu datang ataupun pergi ke manapun bisa menghilangkan kesulitan orang lain).

Aw yaqdhi an hudayna” (atau dia bisa membantu orang yang mempunyai hutang yang tak bisa bayar).

Aw yadhudu an huju’a” (atau menghilangkan kelaparan di tengah-tengah kehidupan masyarakat).

Wal an’am syiima ahin fii haajatin ahabbu ilallaahi min a’taqifa fii haazal masjid” (Dan hendaklah jika anda berjalan dengan seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhannya, lebih dicintai oleh Allah daripada i’tiqaf di masjid ini/masjid Madinah).

Kita tegaskan, bahwa di mana pun kita pergi, kita berangkat, kita kembali, ataupun kita bergaul, maka kita harus mendatangkan rahmat untuk sesama. I’tiqaf yang dimaksudkan oleh Rasulullah adalah I’tikaf selama sebulan di Masjid Nabawi-Madinah.

Wa man kaffa ghadabahu, sataruhullahu aaratahu (Dan siapa yang dapat menahan amarahnya, maka Allah akan menutup aibnya).

Jadi, setiap orang yang bisa menahan amarahnya, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut.

Wa man kaazima ghizahu, wa law syaa-an yamdiyahu, amdahullahu maa laa Allahu qalbahu raja-an yawmal qiyamah (Dan siapa yang dapat mengendalikan amarahnya, meskipun ia bisa melampiaskan amarahnya itu, maka Allah akan memenuhi hati orang tersebut dengan pengharapan-pengharapan di hari kiamat).

Kita dizalimi dan disakiti orang lain, maka sebenarnya kita bisa membalas orang tersebut. Tapi kita kemudian tidak membalasnya, malahan kita memaafkan, maka Allah akan memenuhi hati kita dengan suatu harapan-harapan yang sangat indah nantinya pada hari kiamat.

Hidup kita ini memang sudah selayaknya dengan raja’ (harapan/optimisme). Tapi jika hidup disertai dengan pesimisme, maka kita akan gagal.

Wa innassu al-khuluqi yufsidul amala (Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu dapat membinasakan amal-amal kita).

Seandaikan beramal baik itu adalah menanam pohon, maka kita harus memperhatikan hama-hama pohon yang kita tanam itu. Kalau kita menanam pohon meskipun dipupuk sedemikian rupa, tapi hamanya tidak diberantas, maka akan hancurlah pohon yang kita tanam itu. Akhlak yang buruk bagaikan hama yang menggerogoti tanaman.

Yang merusak amal kita antara lain: akhlak yang buruk, adab yang buruk, namimah (mengadu domba), riya’, dan juga hasad. Bahkan Rasulullah mengatakan:

Al-hasadu ya’kulul hasanat kama ta’kulun naarul hathaba (Hasad itu dapat merusak kebaikan-kebaikan seseorang bagaikan api yang membakar jerami).

Bayangkanlah api yang membakar jerami, habislah semuanya, sehingga tinggallah debunya yang halus diterbangkan angin.

Kama yufsidul khalla al-ashala (Sebagaimana merusakkannya cuka yang dicampurkan ke dalam madu).

Hadis ketiga

Saya’ti zamaanun ‘ala ummati, Yafirruuna ‘anil ‘ulama wal fuqaha, Fayabtaliya humullaahu bi tsalaasaati baliyyaatin: Awwaluha yarfa’ullahul barakah min kasbihin, Wats-tsaniyah, yushallitullahu ta’ala alaihim sulthaanan zaalima, Wats-tsaalisatu, yakhrujuuna minaddunya bi ghayri iimaan.

Akan datang di suatu masa menimpa ummatku, di mana mereka umatku itu banyak yang lari dari para ulama dan para fuqaha, maka Allah akan mencoba menguji orang tersebut dengan tiga bahaya: Pertama, Allah akan mengangkat berkah-Nya dari usaha mereka. Kedua, Allah akan menguji orang-orang tersebut dengan diberi pemimpin yang zalim. Ketiga, orang-orang tersebut meninggal dunia dalam keadaan tidak membawa iman. []

18 September 2008 at 7:06 AM 2 komentar

Esensi Puasa Ramadhan dalam Perspektif Alquran

ESENSI PUASA RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihah, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.

Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.

Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.

Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.

Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:

Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.

Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.

Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu dengan kata shaum.

Yang diwajibkan kepada kita bukanlah shaum, melainkan shiyam. Shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Jadi, shaum adalah menahan diri, sedangkan shiyam adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Persamaan shaum dan shiyam, bahwa kedua-duanya adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak shaum dan tidak melakukan shiyam.

Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal seperti ini yang akan kita capai.

Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.

Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.

Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks shiyam, ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan tersebut.

Esensi shiyam

Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: la allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.

Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah pakaian takwa tersebut kita kenakan. Wa libasut taqwa zalika khair.

Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam takwa. Jadi, kalau kita mengatakan takwa, maka segala macam kebaikan ada di dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan dima ul khair (himpunan dari segala macam kebaikan).

Jika Alquran mengatakan, bahwa diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertakwa, maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.

Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya. Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.

Rasulullah bersabda, Allah berfirman:

Ash-shaumuli wa ana azzibi.

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.

Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10 pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita mengerti artinya, maka 70 pahalanya.

Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca 30 juz tetapi tidak mengerti artinya.

Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.

Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri, tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta tidak dengki.

Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa lantas digeneralisir. Akulah yang akan memberi pahalanya, kata Allah.

Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini dengan mengatakan: Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.

Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.

Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.

Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?

Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.

Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara. Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah, teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.

Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini. Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah normal

Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]

Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar fidyah saja.

Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.

Ternyata bukan hanya ini.

Allah ar-rahman, apakah kita bisa bersikap ar-rahman kepada orang lain? Allah ar-rahim, apakah kita bisa bersikap ar-rahim kepada orang lain?

Rahman adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan, termasuk juga merahmati orang-orang kafir.

Rahim, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.

Malik, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.

Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.

Quddus artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal: benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.

Allah itu quddus, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.

Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni. Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.

‘Alim, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).

Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang acaranya baik-baik.

Ghaniy, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.

Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf.

Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh. Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi, sehingga dia tidak mau meminta-minta.

Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu untuk meminta.

Selain ghaniy, ada juga mughniy. Mughniy artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi kekayaan.

Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.

Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya. Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.

Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah tersebut.

Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“, yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya pun baik dan benar.

Di sini, yang jadi karim itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu karim. Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?

Allah karim, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna, itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa sampai kepada takwa.

Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.

“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu, yaitu: pertama, syahadat laa ilaa ha illallah. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”

Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:

Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.

Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.

Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.

Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu, kecuali Dia (Allah).

Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:

Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.

Perbaharui imanmu dari saat ke saat.

Wa kaifa nujaddid?

Bagaimana kami memperbaharui iman kami?

Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.

Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.

Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan laa ilaa ha illallah.Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.

Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:

Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.

Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.

Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat laa ilaa ha illallah. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.

Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada kita.

Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?

Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.

Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.

Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita ambil yang mudah saja.

Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka, supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di luar.

Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?

Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:

{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.

Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?

Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka. Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.

Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.

Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.

Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.

Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.

Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?

Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah. Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah. Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.

Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini, permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga, jauhkanlah aku dari neraka.”

Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?

Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”

Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga. Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut. Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada kita.

Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya. Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.

Rasulullah bersabda:

Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.

Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.

Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi diri. Itulah esensi dari puasa. []

18 September 2008 at 6:58 AM 8 komentar

Puasa

PUASA

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Drs. H. Wahfiudin, M.BA., pada tanggal 20 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ayat yang menegaskan mengenai perintah berpuasa di Bulan Ramadhan adalah:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Pada Al-Baqarah ayat 183 hanya memerintahkan kewajiban puasa, namun tanpa menyebutkan waktu yang pasti mengenai kewajiban puasa tersebut. Sedangkan pada Al-Baqarah ayat 185 secara tegas menyebutkan bahwa kewajiban berpuasa tersebut adalah di Bulan Ramadhan.

Pada Al-Baqarah ayat 185 menyebutkan:

…fa man syahida min kumusy-syahra fal yashumhu …

… siapa yang menyaksikan di antara kamu datangnya bulan itu (Bulan Ramadhan), maka berpuasalah ….

Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan menurut penanggalan hijriyah. Ramadhan berasal dari kata “ramadha” (panas yang menghanguskan), sebab sebelum kedatangan Islam, penghitungan kalender itu berdasarkan pada matahari. Sehingga Bulan Ramadhan waktu itu setara dengan September. Dan memang kita ketahui, bahwa musim panas di Jazirah Arabia adalah pada bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Pada Bulan Juni, Juli, dan Agustus adalah puncak musim panas. Sehingga setelah Juni, Juli, Agustus terbakar oleh sinar matahari, maka September adalah sedang panas-panasnya. Siangnya begitu panjang. Pukul setengah empat sudah masuk waktu Shubuh. Matahari membakar batu. Ketika maghrib, matahari terbenam. Batu yang terbakar terkena sinar matahari seharian, kemudian mulai dingin. Tapi belum dingin betul, pagi lalu muncul lagi. Kemudian terkena panas lagi. Begitulah berbulan-bulan. Karena itulah, bulan yang panas menghanguskan disebut sebagai Bulan Ramadhan.

Setelah Ramadhan, maka masuklah Bulan Syawwal. Syawwal berasal dari kata “syawwala”. Biasanya di gurun-gurun pasir itu ada sumur (oase). Maka air di sumur itu setelah bulan-bulan yang panas itu lalu diangkat. Karena airnya habis ditimba, maka sumur itu menjadi kering. Syawwala artinya sumur yang sudah mengering karena airnya diangkat.

Pada Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, bahwa puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum Umat Nabi Muhammad.

Di Injil-Kitab Jeremia (36) ayat 9 disebutkan:

Adapun dalam tahun yang kelima pemerintahan Yoyakin bin Yosia, Raja Yahuda, dalam bulan yang kesembilan, orang telah memaklumkan puasa di hadapan Tuhan bagi segenap rakyat di Yerusalem. (Injil)

Jadi, sudah ada perintah puasa untuk umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) melalui nabi-nabi yang diutus kepada umat tersebut. Bahkan Nabi Musa, dia naik ke gunung yang begitu tinggi, tembus ke awan, lalu tinggallah ia di atas gunung selama 40 hari 40 malam untuk melakukan ibadah i’tikaf. Karena itulah, di dalam dunia Islam ada kelompok-kelompok tarikat yang mempunyai tradisi suluk (khalwat) selama 40 hari. Inilah tradisi Nabi Musa. Di dalam Alquran, mengenai hal ini dijelaslan pada Surah Al-A’raf ayat 142, bahwa Nabi Musa digembleng selama 30 hari, kemudian lulus, lalu Allah tambahkan 10 hari lagi, sehingga menjadi 40 hari.

Nabi Isa pun digembleng 40 hari 40 malam. Seperti yang tertulis di Injil, bahwa Nabi Isa kemudian dibawa oleh roh (Jibril) ke padang gurun untuk diuji. Maka, setelah berpuasa 40 hari 40 malam, akhirnya laparlah Nabi Isa.

Dari hal ini, dapatlah kita ketahui, bahwa umat-umat terdahulu (sebelum Umat Nabi Muhammad) juga berpuasa. Di dalam Injil Lukas juga disebutkan mengenai Puasa Senin-Kamis. Yang menarik, adalah bagaimana sikap berpuasa seperti yang tertulis di Injil Matius:

Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram wajahmu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat, bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya, yaitu dikagumi oleh orang. (Injil)

Pesan moral yang ada di Injil sebenarnya sama dengan pesan moral di Agama Islam, yaitu kalau sedang berpuasa, janganlah ditunjuk-tunjukkan bahwa kita sedang berpuasa.

Di dalam Hadits Qudsi, Rasulullah menyampaikan pesan:

Allah tabara wa ta’ala berkata: setiap amal (perbuatan) keturunan Adam untuk si anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberikan ganjarannya langsung. (Hadits Qudsi)

Pesan hadits qudsi ini adalah, bahwa setiap orang yang berbuat baik, maka orang tersebut bisa mengira-ngira ganjaran yang akan ia peroleh. Tetapi puasa, maka ganjarannya tidak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu, dan itu adalah rahasia manusia dengan Allah.

Kembali kepada Injil Matius, juga disebutkan:

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu (oleh Tuhan) yang ada di tempat tersembunyi. (Injil)

Puasa itu adalah urusan kita dengan Tuhan saja, jadi tak usah terlalu dinampak-nampakkan. Jika di hari-hari biasa (selain Bulan Ramadhan) kita bisa beraktivitas normal seperti biasanya, maka di Bulan Ramadhan pun selayaknya kita juga harus tetap beraktivitas seperti biasanya, masuk bekerja seperti biasanya tanpa harus terlambat, bekerja seperti biasanya tanpa harus bermalas-malasan.

Janganlah karena puasa kemudian menjadikan kita selalu minta keringanan. Sesungguhnya puasa itu bukanlah sesuatu yang akan mencelakakan kita, melainkan adalah sesuatu yang akan menggembleng kita. Dan orang takkan mati karena puasa.

Keistimewaan Ramadhan

Karena banyaknya keistimewaan Ramadhan (bulan rahmat, pengampunan, dan sebagainya), menurut Rasulullah:

Kalaulah orang mengetahui kebaikan-kebaikan yang ada pada Bulan Ramadan, niscaya mereka akan menginginkan agar Ramadan berlangsung sepanjang tahun. (Al-Hadits)

Rasulullah juga memberikan pesan:

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Allah yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah, hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang paling utama. Saat demi saatnya adalah saat-saat yang paling utama. Inilah puncak segala bulan, penghulu segala bulan. (Al-Hadits)

Jika kita cermati lagi pesan Rasulullah tersebut, bahwa Ramadhan adalah bulan yang malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama.

Kita sering kali menganggap bahwa Ramadhan itu yang istimewa hanya siangnya saja. Ternyata kita lupa, bahwa malamnya pun istimewa. Memang, siangnya istimewa karena siangnya kita melakukan ibadah “shiyam” (puasa). Namun janganlah dilupakan, bahwa pada malam harinya pun kita dianjurkan untuk melakukan ibadah “qiyam” (shalat). Secara sederhana menurut terminologi fiqh, bahwa perbanyaklah ibadah di waktu malam, janganlah perbanyak tidur.

Malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Inilah yang sering diabaikan. Di siang harinya karena berpuasa, maka kita begitu mengistimewakan siang hari Ramadhan. Tapi setelah berbuka puasa, maka biasanya aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang sia-sia. Padahal malam di Bulan Ramadhan adalah malam-malam yang istimewa. Malam yang mana? Yaitu sejak Maghrib, itu sudah istimewa, yaitu kita berbuka puasa, kemudian Shalat Tarawih, kemudian membaca Alquran, tidur, apalagi di waktu “sahur”.

Sahur adalah nama waktu, yaitu sepertiga malam yang terakhir, kira-kira pukul setengah 2 sampai setengah 5. Sepertiga malam yang terakhir inilah yang disebut sebagai waktu “sahur”.

Sahur, jamaknya adalah “as-har”. “Wa bil as-haari hum yastaghfirun” (di waktu-waktu sahur, mereka terus memohon ampun kepada Allah). Mengapakah dianjurkan untuk memohon ampun di waktu sahur? Sebab di dalam hadis juga dijelaskan: di waktu sahur (sepertiga malam yang terakhir), Allahu yanzilu ilas-sama’iddunya (Allah turun ke langit yang terdekat dengan bumi, dan Allah mencari-cari orang yang berdoa di waktu sahur, dan Allah akan sangat malu untuk tidak mengabulkan doa orang yang berdoa di waktu sahur).

Maka, ketika Nabi ditanya, “Kapan saat berdoa yang paling baik?”

Nabi lalu mengatakan, “Di penghujung salat fardhu, wa fi jaufil laylil akhirah (di penghujung malam yang terakhir)”.

Maka perbanyaklah berdoa di waktu-waktu yang istimewa ini.

Yang istimewa dari Sahur adalah waktunya, bukanlah makannya (makan sahur). Mengapa? Karena di waktu sahur itulah doa-doa didengarkan dan diperhatikan. Oleh sebab itu, bangun di waktu sahur jangan hanya untuk makan. Kalau ada pesan Rasulullah yang berbunyi: Tasahharu fa inna fissahuri barakah (Bersahurlah kalian, sesungguhnya pada sahur ada keberkahan).

Keberkahan itu pada waktu sahurnya, bukan pada makan sahurnya. Kita sering mengartikan, bahwa keberkahan itu pada makan sahurnya. Sehingga, kitapun makan banyak-banyak pada saat sahur. Bukanlah ini yang dimaksud. Rasulullah mengatakan: Kalaupun yang kamu minum hanya seteguk air, maka itu sudah cukup.

Jadi, kalau memang banyak keberkahan di waktu sahur, mengapa kita tidak makan minum banyak-banyak, mengapa dikatakan oleh Rasulullah, bahwa seteguk air saja cukup.

Keberkahan itu bukan pada makan sahurnya, melainkan pada waktu sahurnya itu sendiri. Jadi makna: tasahharu (bersahurlah kalian), ternyata bukanlah makan sahur, tapi bangun di waktu sahur. Dan isilah waktu sahur jangan hanya dengan makan, melainkan sempatkanlah untuk Salat Tahajjud. Sesuai dengan namanya, yaitu tahajjada (bangun dan bangkit dari tidur), sehingga kalau kita sudah tidur, lalu bangun dan bangkit, maka itulah yang dinamakan sebagai tahajjud.

Setelah bangun dan bangkit itu, lalu bersegeralah untuk shalat. Sehingga salat yang dilakukan itu kemudian disebut sebagai shalat tahajjud. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa shalat tahajjud hanya bisa dilaksanakan setelah terlebih dahulu tidur, maka memang benar adanya. Bagaimana bisa disebut sebagai shalat tahajjud (salat bangkit dari tidur), jika tidak tidur terlebih dahulu. Tetapi, bukan berarti nilainya rendah jika kita melakukan salat malam (salat sunnat) tanpa terlebih dahulu tidur, misalkan bagi orang yang bekerja pada malam hari, sehingga untuk melakukan salat sunnat pada malam hari ia tanpa terlebih dahulu tidur. Cuma, shalat sunnat yang dilakukan tanpa terlebih dahulu tidur, maka tidak dinamakan sebagai salat tahajjud.

Perbedaannya hanyalah pada nama shalatnya. Yang satu disebut tahajjud, sedangkan yang satunya lagi tidak disebut sebagai tahajjud. Lantas disebut sebagai salat apa? Sebut saja sebagai shalat lail (shalat malam). Tetapi berkenaan dengan pahala, sebenarnya sama saja. Substansinya, sama-sama dilakukan pada waktu yang istimewa (sepertiga malam/waktu sahur).

Jadi, sesuai dengan pesan Rasulullah tersebut di atas, bahwa biasanya kita terlalu mengistimewakan siangnya, tetapi lalai memanfaatkan malamnya. Di siang kita shiyam, di malam hari kita qiyam, terutama di waktu sahur. Bangun di waktu Sahur jangan hanya untuk makan sahur, tapi lakukan juga salat dua rakaat, lakukan doa bersama karena di waktu tersebut adalah saat doa dimustajabah oleh Allah.

Di siang hari kita melakukan ibadah lahiriah, yaitu berhenti makan dan minum, berhenti seks, berhenti dari membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan bisa mengurangi keberkahan puasa. Selain berpuasa secara lahiriah, kita juga berpuasa secara ruhaniah, yaitu:

- fa la yarfus (ngomong yang mengarah kepada syahwat),

- wa la yaskhaf (membenar-benarkan yang salah), dalam hal ini kita tidak melakukan hal yang salah itu, melainkan kita hanya membenarkan tindakan yang salah, maka ini juga tidak boleh kita lakukan. Ini sebenarnya sikap mental,

- wa la yajhal (jangan bersikap bodoh/kasar) .

Di malam hari ada ibadah yang secara lahiriah misalkan mengurangi tidur, kemudian ditambah dengan ibadah ruhaniahnya, seperti: shalat malam, berzikir, berdoa, wirid, baca Alquran.

Khutbah Rasulullah ketika menyambut Ramadhan:

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu-tamu Allah dan dimuliakan-Nya. Di bulan ini, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmua menjadi ibadah (ini yang seirng disalah-pahami), amal kebajikanmu diterima, doa-doamu dikabulkan. Maka memohonlah kepada Allah Tuhanmu, dengan niat yang tulus dan hati nurani yang suci, agar Allah membimbingmu mampu melakukan puasa dan membaca kitabnya (perbanyaklah membaca Alquran di Bulan Ramadhan). Celakalah orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat nanti, karena itu bersedekahlah kepada fakir-miskin, muliakanlah para orang tuamu, sayangilah mereka yang muda, kuatkanlah hubungan silaturahim.

Nampak sekali, bahwa dari khutbah Rasulullah tersebut, bahwa hubungan manusia dengan Allah, maka nilai tertingginya adalah takwa. Sedangkan hubungan manusia dengan sesama manusia, maka nilai tertingginya adalah adil. Dalam hal ini, takwa dan adil itu tidak bisa dipisahkan.

I’dilu (adillah kalian), wa akrabu littaqwa (karena keadilan sangat dekat pada ketakwaan).

Hubungan antar manusia, nilai tertingginya adalah adil. Janganlah kita merusakkan hubungan antar manusia. Sebab, ketika kita merusakkan keadilan, berarti kita telah merusakkan hubungan antar manusia. Jika sudah seperti ini, maka kita menjadi tidak takwa kepada Allah, meskipun shalat yang kita lakukan bagus, juga puasa, zakat, dan haji yang telah kita lakukan begitu bagus.

Jadi, antara hubungan kita dengan Allah, janganlah dipisahkan dengan hubungan kita antar sesama manusia. Terutama dengan tetangga, kalau ada perbedaan pendapat antara kita, kalau ada konflik antara sesama manusia, maka belajarlah untuk memaafkan. Belajar untuk menyingkirkan dendam, marah, dan kecewa. Apapun yang pernah diperbuat oleh tetangga, kalau kita sulit memaafkannya, kitapun kemudian berkata:

Ya Allah, sebagaimana aku selalu mengharap maaf dan ampunan darimu, maka jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang mudah memaafkan orang lain.

Kita selalu mengharapkan maaf dan ampunan dari Allah, maka sudah selayaknyalah kita juga harus mau memaafkan orang lain. Dan ini adalah hal yang mudah dikatakan, tapi sulit untuk dilakukan. Sebagai manusia biasa, tentunya kadang-kadang ada problem, tapi kita selalu berusaha untuk memaafkan. Dan ternyata setelah kita bisa memaafkan, maka hidup ini menjadi nikmat dan lapang.

Maka di Bulan Ramadhan ini, lakukanlah puasa, qiyamullail, baca Alquran, yang itu semuanya adalah untuk membaguskan hubungan kita dengan Allah. Tapi jangan lupa, hubungan kita dengan manusia bagaimana? Urusan takwa dan ibadah kepada Allah jangan pernah dipisahkan dengan hubungan antar manusia.

Jagalah lidah kita, kendalikan pandangan kita dari yang tidak halal untuk dipandang.. Kendalikan pendengaran kita dari yang tidak halal untuk didengar. Kasihilah anak-anak yatim, agar nanti anak-anak yatim kita juga dikasihi orang. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa kita. Angkatlah kedua tangan kita untuk berdoa di dalam shalat kita, karena itulah saat yang paling utama.

Jadi janganlah ragu, terutama ketika rakaat-rakaat terakhir untuk mengangkat tangan, berdoa kepada Allah. Qunut bukan hanya bisa dilakukan ketika salat shubuh, melainkan juga bisa kita lakukan pada shalat-shalat yang lain.

Saat kita sedang shalat, saat itulah Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan tatapan penuh kasih, menjawab orang-orang yang menyeru-Nya, menyahut orang-orang yang memanggil-Nya, mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Nya.

Wahai manusia, sesungguhnya diri-dirimu tergadai oleh amal kebajikanmu.

Diri kita mau dimasukkan ke neraka oleh Allah. Tapi kita shalat, kita puasa, kita beribadah. Kalau begitu dimasukkan ke surga saja. Ketika mau dimasukkan ke surga, ternyata shalat kita banyak yang bolong, banyak tidak khusyu’nya. Maka tergadailah kita. Sudah melakukan amal kebajikan, tapi amal kebajikan tidak meloloskan kita ke dalam surga, karena dalam amal kebajikan itu banyak cacatnya: ada ujub, ada riya’. Karena itu, perbanyaklah istighfar. Sehingga yang tadinya amal kebajikan itu membebani kita, mau masuk ke surga tapi tertahan, maka beristighfarlah, supaya kekurangan-kekurangan dari ibadah-ibadah tersebut dihapuskan.

Punggung-punggungmu telah payah menanggung beban. Maka ringankanlah dengan sujud yang panjang.

Ketahuilah, Allah taala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya, bahwa Ia takkan mengazab orang-orang yang salat dan bersujud, takkan menggentarkan mereka, takkan menakutkan mereka dengan neraka di hari mereka berdiri di hadapan Allah nanti.

Wahai manusia, siapa di antaramu yang memberi makan buka puasa kepada orang-orang beriman yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah ada ganjaran yang setara dengan ganjaran pembebasan seorang budak, dan ampunan atas dosa-dosanya.

Jadi, sangat dianjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang sedang berbuka puasa.

Di tengah khutbah itu, tiba-tiba seorang sahabat menyela, “Ya Rasulullah, tak semua orang di antara kami sanggup memberi makan buka puasa pada orang lain. Kami juga miskin.”

Maka Rasulullah seperti tidak mendengar selaan itu. Rasul terus melanjutkan khutbahnya:

Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan sebiji kurma. Lindungilah dirimu dari api neraka, walau hanya dengan seteguk air.

Jadi, semua itu bisa dilakukan dengan seminimal mungkin.

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, maka dia akan berhasil melewati Shiratal Mustaqim di hari ketika kaki-kaki lain tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan para pembantunya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pertanggungjawabannya di hari kiamat nanti. Siapa yang menahan kejahatannya di bulan ini, maka Allah akan menahan murkanya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memuliakan anak yatim di bulan ini, maka Allah akan memuliakannya di hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang menghubungkan tali persaudaraan di bulan ini, maka Allah akan menghubungkannya dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang memutuskan kekeluargaan di bulan ini, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan Allah. Siapa yang melakukan shalat sunnat di bulan ini, maka Allah akan menetapkan pembebasan dari api neraka untuknya. Siapa yang melakukan shalat fardhu, maka baginya ada ganjaran seperti 70 kali shalat fardhu di bulan lain. Siapa yang memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, maka Allah akan memberatkan timbangan pada hari ketika timbangan-timbangan ringan. Siapa yang membaca satu ayat Alquran di bulan ini, ganjarannya setara dengan mengkhatamkan Alquran di bulan lain.

Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga telah terbuka untukmu. Maka memohonlah kepada Tuhanmu, agar Ia tak pernah menutupnya lagi bagimu. Pintu-pintu neraka telah tertutup, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar Ia tidak pernah membukanya lagi bagimu. Setan-setan telah terbelenggu, maka memohonlah kepada Tuhanmu agar mereka tak pernah lagi bisa menguasaimu.

Di tengah khutbah Rasulullah itu, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib lalu berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, perbuatan apa yang paling utama di bulan ini?”

Nabi pun menjawab, “Ya Abal Hasan, perbuatan yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan oleh Allah.”

Dalam hal ini, kalaupun tidak berbuat baik, setidaknya janganlah berbuat yang haram. Tidak berbuat haram saja, desah nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah. Tapi kalau kita melakukan ibadah, melakukan juga yang haram, maka semua amal ibadah kita akan menjadi rusak.

Demikianlah, Ramadhan adalah bulan kebangkitan rohani kita. []

13 September 2008 at 8:15 AM 2 komentar

Tingkatan Zuhud Dihubungkan dengan Hal yang Disukai

TINGKATAN ZUHUD DIHUBUNGKAN DENGAN HAL YANG DISUKAI

Disarikan dari Pengajian Tasawuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 13 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada petuah-petuah para pendahulu kita (termasuk juga sahabat), dan juga ada hadis Rasulullah yang menyatakan:

Apabila kamu melihat seseorang hamba yang telah diberinya diam dan zuhud, dekatilah hamba itu. Sesungguhnya dia akan mengajarkanmu ilmu hikmah. (Al-Hadits).

Jika ada di antara kita, orang tersebut tidak banyak maunya, tidak cerewet, tidak neko-neko, pandangannya lurus. Lantas orang itu juga menampilkan penampilan zuhud. Sesungguhnya orang itu mempunyai uang, memiliki kekuasaan, tetapi orang tersebut tidak mau menampilkan diri sebagaimana halnya orang yang kaya dan berkedudukan. Rasulullah mengatakan, bahwa dekatilah orang tersebut, karena orang tersebut akan memberi hikmah.

Apakah hikmah?

Hikmah yaitu suatu informasi yang langsung menembus hati kita. Sekalipun orang itu bukan sarjana, juga bukan tokoh masyarakat, tapi apabila orang itu menampilkan dua kriteria ini (pendiam dan zuhud), maka orang seperti ini adalah kekasih Tuhan.

Seorang guru pernah mengatakan, jika pergi ke suatu kampung, carilah masjid yang paling tua di kampung itu. Datanglah lebih awal ke masjid tersebut, misalkan jauh sebelum salat maghrib. Kemudian carilah orang yang paling pertama masuk ke masjid tersebut. Orang tersebut biasanya duduk tafakkur dan juga tidak berkata-kata. Orang yang datang paling awal itu biasanya juga pulang paling akhir. Jika mendapati orang seperti ini, maka dekatilah ia, mintalah orang itu untuk mendoakan kita.

Orang yang seperti ini biasanya bukanlah orang sembarangan. Insya Allah orang seperti ini sudah mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi menurut orang-orang di sekitar tempat itu, bahwa pekerjaan orang tersebut memang seperti itulah adanya. Maka, bersahabatlah dengan orang tersebut, karena dia bukanlah orang sembarangan.

Jika engkau menginginkan dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah di dunia ini. (di akhirat tentunya sudah tidak ada lagi zuhud). Rasulullah telah menjadikan sifat zuhud sebagai sebab dicintai oleh Allah. Jika ingin dicintai oleh Allah, maka berzuhudlah.

Apakah zuhud?

Zuhud adalah menghindari diperbudak oleh dunia (bukanlah membenci dunia). Orang yang dicintai oleh Allah adalah orang yang berada pada tingkatan derajat yang paling tinggi. Siapakah itu? Yaitu orang-orang yang menampilkan penampilan zuhud. Pemahaman sebaliknya (mafhum mukhalafah), bahwa orang yang mencintai dunia itu mendatangkan kemurkaan Allah.

Orang yang berorientasi kepada dunia, seolah-olah hidupnya hanya untuk menikmati dunia, menggenggam dunia, maka orang yang seperti ini tidak akan dicintai oleh Tuhan. Kita mencari-cari dunia, bukanlah kita segala-galanya untuk dunia. Dunia adalah kendaraan menuju akhirat, bukanlah kita yang sebaliknya dinaiki dunia.

Hadis lain mengatakan:

Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya. Maka lisannyapun berkata dengan hikmah. Allah mengenalkan kepadanya akan penyakit dunia dan obatnya sekaligus. Lalu Allah akan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat ke dalam negeri kesejahteraan (surga).

Bagi orang yang zuhud, ada vibrasi positif yang mengalir di dalam diri orang tersebut, sehingga ucapan-ucapan orang yang seperti itu adalah hikmah, seperti tidak ada satu katapun yang mubazir yang keluar darinya, tak ada sepotong katapun yang sia-sia keluar dari mulut orang tersebut.

Ada orang yang berbicara selama dua jam, tetapi tidak ada yang bisa ditangkap, atau hanya sedikit sekali. Ada juga orang yang pendek bicaranya, tapi padat maknanya, mengiang-ngiang di telinga kita, dan tidak akan pernah terlupakan. Itulah ciri-ciri kekasih Tuhan.

Ada orang yang kiaiy besar, profesor doktor, sangat ilmiah, menarik pembawaannya, tetapi ketika kita pulang ke rumah, maka terlupakanlah semua yang disampaikan orang itu. Atau mungkin kita ingat, tapi tidak mempunyai daya tukik untuk mencegah kita melakukan dosa dan maksiat.

Tetapi sebaliknya, orang yang sudah terinstalasi ke dalam dirinya hikmah dari Allah, maka setiap kali kita akan melakukan dosa dan maksiat, maka terbayang-bayanglah wajah orang itu.

Rasulullah bersabda:

Celakalah bagi dunia, celakalah bagi dinar dan dirham. (Al-Hadits)

Maksudnya, jangan sampai mata uang itu yang membuat kita kalap, membuat kita buta, dan yang membuat kita terlena.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Allah telah melarang kami menyimpan emas dan perak. Maka apakah yang seharusnya kami simpan?”

Dijawab oleh Rasulullah, “Salah seorang dari kamu hendaknya selalu membuat lisannya selalu berzikir, membuat hatinya untuk bersyukur, dan isteri yang shalihah yang membantunya untuk urusan akhirat.”

Mungkin banyak para isteri yang justeru mengajak para suaminya untuk menuntut dunia. Dan tidak sadar menjauhkan suaminya dari akhirat.

Firman Allah:

Perbekalan masa depan di rumah abadi (syurga) nanti adalah at-taqwa. (Al-Qur’an)

Umar ibn Khattab berkata: “Berzuhud terhadap dunia itu menenangkan hati dan jasad.

Kalau ada di antara kita yang tidak tenang, selalu gelisah, kering, walaupun sedang banyak uang, itu tandanya kita kurang zuhud.

Zuhud itu menenteramkan batin,

Bilal (sahabat, yang kemudian menjadi muazzinnya Rasulullah) berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk berzuhud terhadap dunia. Akan tetapi kita malah menyukainya.

Ada orang yang di dalam pikirannya itu selalu uang. Untuk hal-hal yang tidak mendatangkan keuntungan materil baginya, maka ia takkan melakukannya.

Sengaja untuk menghindarkan akhirat, memburu dunia, maka dalam hal ini sebenarnya Tuhan sudah memalingkan perhatian orang tersebut ke dunia saja, dan hilang akan akhiratnya.

Tingkat Zuhud

Zuhud yang pertama, yaitu jika seorang yang berzuhud kepada dunia, tapi orang ini menyukai dunia, hatinya cenderung kepada dunia. Ini adalah tingkatan zuhud yang standard.

Zuhud yang kedua, yaitu ketika seseorang yang meninggalkan dunia dengan ringan, gampang sekali meninggalkan urusan dunia, karena dianggapnya hina dan dihubungkannya kepada apa yang diinginkan. Tak ada artinya dunia ini jika dibandingkan dengan kemulian akhirat.

Tingkatan ini sebenarnya juga masih ada kelemahan, karena kadang-kadang juga masih riya’. Ada orang yang meriya’kan zuhudnya. Orang yang seperti ini, pasti bukanlah contoh zuhud.

Zuhud yang ketiga, yaitu seorang yang berzuhud dengan ringan, tanpa beban, dia berzuhud dengan kezuhudannya. Inilah tingkatan yang paling tinggi.

Orang yang zuhud, tidak memandang kepada zuhudnya, kecuali ia memandang kepada yang dizuhudkannya. Orang yang zuhud sejati, dia tidak sadar bahwa dirinya itu zahid (zuhud).

Kalau ada orang yang menyadari dirinya berbuat baik, maka ini memang baik, tapi belumlah yang terbaik. Yang kita cari adalah kita tidak sadar kalau kita sudah melakukan kebaikan. Kita sudah tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Karena kalau seseorang masih sadar kalau dia sudah melakukan kebaikan, maka suatu waktu nanti dia akan riya’.

Tingkatan Zuhud yang dihubungkan dengan hal yang disukai

Tingkatan paling rendah, zuhudnya karena takut akan siksaan.

Tingkatan menengah, zuhudnya karena mengharapkan pahala. Ia lupakan neraka, tapi ia memohon surga. Maka ia melakukan perbuatan baik karena diiming-imingi oleh surga.

Tingkatan tertinggi, zuhudnya karena suka kepada Allah, bukan takut neraka, bukan ingin surga. Dia takut, dan dia mencintai Tuhannya. Berharap bertemu dengan Allah, hatinya tidak peduli lagi dengan kenikmatan-kenikmatan dan azab. Inilah zuhudnya orang-orang yang mencintai Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang ma’rifah.

Tidak ada orang yang mencintai khusus kepada Allah, kecuali orang-orang yang mengenali Tuhannya. Tidak mungkin jiwa kita akan mampu mengenali Tuhan kalau kita ini berlumuran dosa.

Tiga cara mendekati Tuhan

Pertama, ketika kita sudah melakukan dosa, maka cara masuk yang paling baik untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan beristighfar. Ketika beristighfar, maka di situ terbayanglah ketakutan kita terhadap Allah yang Maha penyiksa. Maka pada saat itu nyali kita menjadi kecil, dan kita menjadi sangat kecil dan takut kepada Tuhan. Inilah cara masuk yang paling bagus untuk dekat kepada Allah.

Kedua, dia tidak berdosa, tetapi orang itu ditimpa musibah: anaknya meninggal, suami atau isterinya tiba-tiba sakit keras. Ada musibah, maka ia pasti ingat Tuhan. Pada posisi seperti ini juga merupakan jalan masuk untuk menuju Tuhan.

Pasti kita ingat Tuhan pada saat melakukan dosa. Jika ada orang yang sudah tidak ingat lagi dengan Tuhan ketika dia melakukan dosa, maka jenis orang seperti ini merupakan jenis orang yang dibenci oleh Tuhan.

Ketika kita melakukan dosa, ternyata kita masih takut, masih ingat Tuhan, masih bertobat, maka itu adalah tanda-tanda bahwa kita masih di dalam lingkup cinta Tuhan. Tapi kalau sudah tidak ada lagi panggilan istighfar setelah kita melakukan dosa dan maksiat, maka memang sudah mati orang itu secara spiritualnya, sekalipun biologisnya masih hidup.

Ketika ditimpa musibah kemudian kita dekat dengan Tuhan, maka itu adalah undangan. Yang menjadi persoalan adalah bagi orang yang sudah dekat dengan Tuhan, yang maqamnya sudah tinggi, tidak ada musibah yang bisa mengingatkan dirinya lebih dekat dengan Tuhan. Tidak pernah lagi mau melakukan dosa, sehingga tidak ada pemancing yang sangat kuat untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan.

Seperti inilah yang dialami oleh umat Islam secara umum. Soal isi perut tidak ada masalah, deposito sudah cukup, tanpa kerjaan, sudah pensiun, tapi insya Allah tujuh turunan takkan terlantar. Pakaian, kendaraan, rumah, semuanya tidak ada maslah. Fasilitas primer, sekunder, dan luxury nya pun sudah lengkap. Orang yang seperti ini membutuhkan metode untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Biasanya orang yang terfasilitasi seluruh kehidupannya, maka sulit untuk intensif dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan biasanya karena ada gelombang besar kehidupan yang menimpanya. Jadi Tuhan itu identik dengan Maha Penolong. Ketika kita sudah tidak membutuhkan pertolongan karena kita sudah merasa cukup, maka pada saat itu kita menjadi susah untuk dekat dengan Tuhan. Cara yang paling tepat untuk orang yang seperti ini ialah lewat pintu ar-raja’.

Hati-hatilah orang yang tenang karena dunianya lengkap, biasanya jiwa orang itu tidak akrab dengan Tuhan. Jangan pernah membiarkan hubungan kita dengan Tuhan biasa-biasa saja. Apakah kita akan terus membiarkan diri kita biasa-biasa saja dengan Tuhan? Yang kita inginkan adalah hubungan intensif itu sendiri. Dan intensitas kehidupan kedekatan dengan Tuhan itu memang harus diupayakan. Musibah tidak ada masalah. Dosa tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pada saat kita stabil.

Orang stabil membutuhkan apa yang disebut dengan ar-raja’, yaitu rasa harap yang sangat dalam terhadap Tuhan.

Ar-raja’ adalah sesuatu yang tidak permanen, sifatnya masih keluar-masuk. Ada pula yang disebut dengan hal (fluktuatif/berubah-ubah). Yang kita inginkan adalah permanen. Kalau itu sudah permanen, maka itulah yang disebut sebagai maqam.

Pada umumnya, situasi batin kita sebagai orang awam barulah setingkat hal, yaitu misalkan kalau lagi lagi mood, maka dekatlah dengan Tuhan. Padahal yang kita rindukan adalah, sedetik pun kita takkan pernah mau berpisah dengan Tuhan.

Apa lagi yang seharusnya kita lakukan setelah fase ar-raja’ ini?

Yang kita inginkan adalah yang disebut sebagai fase mahabbah. Inilah yang abadi. Kalau kita menjadi pencinta sejati terhadap Tuhan, maka hati ini takkan pernah menjadi gersang. Semua penderitaan itu terasa nikmat.

Permasalahannya adalah ketika kita berada dalam keadaan normal. Ini adalah ujian yang paling berat. Pada umumnya, kita tidak pernah ada yang resah, karena fasilitas hidup kita sudah lengkap. Kalau kita hidup pada batas normal seperti ini, maka jangan sampai hidup kita nanti sepanjang itu pula berjauhan jarak dengan Tuhan, kita hanya mengingat Tuhan pada saat shalat lima waktu, itupun mungkin hanya separuh dari salat itu kita mengingat Tuhan.

Kalau perut kekenyangan, terlalu banyak makan daging, kalorinya berlebihan, energi berpikirnya segar, biasanya Tuhan itu berjarak. Tuhan itu lebih gampang muncul di perut lapar ketimbang perut kekenyangan. Hidup yang paling berarti di dunia ini adalah selalu dekat dengan Tuhan.

Jadi, ada empat situasi batin yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dosa dan maksiat, musibah, hajat yang sangat besar, dan situasi normal.

Kita mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai dosa, apalagi bagi orang yang sudah sering mendapatkan siraman rohani, intensif mengikuti pengajian, karena secepatnya kita akan beristighfar jika melakukan dosa, walaupun hanya dosa kecil.

Kita juga tidak mengkhawatirkan kalau ada musibah, karena kita pasti akan mengembalikan segalanya kepada Tuhan.

Kita juga tak terlalu khawatir jika ada kebutuhan yang sangat besar, walaupun dibutuhkannya begitu darurat. Kita tak perlu meragukannya, karena kita pasti akan meminta bantuan kepada Allah.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita sedang tidak dalam keadaan membutuhkan apa-apa dalam kehidupan ini (kehidupan kita normal). Ini yang harus dicermati. Jika dalam keadaan seperti ini, apakah yang harus kita lakukan?

Dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan adalah:

- Ar-raja’, yaitu kita jangan mau kehilangan Tuhan. Kalau sepanjang hari ini kita belum ingat Tuhan, sedangkan kita selalu berzikir, shalat, dan ibadah lainnya, tapi ingat kepada Tuhan begitu dangkalnya, tentunya ini merupakan suatu permasalahan. Kedangkalan ingatan kita terhadap Tuhan merupakan pertanda, bahwa Tuhan itu jauh. Bukan Tuhan jauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauhkan diri kita dengan-Nya. Cepatlah mengembalikan posisi batin itu. Kembalilah akrab dengan Tuhan.

Dalam situasi normal, jangan pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat rawatib. Jangan hanya ketika ada masalah saja kita baru melakukan shalat sunnat rawatib. Jangan pula pernah meninggalkan shalat-shalat sunnat yang lain, termasuk juga jangan mengurangi jumlah rakaat salat dhuha, salat tahajjud, dan salat-salat sunnat lainnya yang biasa kita lakukan. []

13 September 2008 at 8:01 AM 1 komentar

Sya’ban Gerbang Ramadhan

SYA’BAN GERBANG RAMADHAN

Disarikan dari Kuliah Dhuha yang disampaikan oleh KH. Adi Warman Kariem pada tanggal 17 Agustus 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada periode Mekkah, ayat yang mewajibkan untuk berpuasa di Bulan Ramadhan itu belum turun, yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Jadi, pada periode Mekkah, belum ada kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, karena ayat mengenai perintah tesebut (ayat di atas) belum turun. Tapi, meskipun dalam periode Mekkah tersebut belum ada kewajiban untuk berpuasa di Bulan Ramadhan, namun Rasulullah dan para sahabat telah terbiasa berpuasa. Ada dua jenis puasa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam ketika itu (periode Mekkah), yaitu: pertama, puasa setiap tanggal 13, 14, dan 15 (setiap bulannya), yang biasa disebut sebagai puasa hari putih. Kedua, puasa pada tanggal 10 Muharram. Inilah dua jenis puasa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan umat Islam ketika itu. Hampir-hampir seperti wajib, tapi sebetulnya tak ada kewajiban untuk puasa jenis ini, sehingga kita menyebutnya sebagai puasa sunnah.

Ketika Rasullah dan umat Islam hijrah ke Madinah, barulah ayat yang memerintahkan untuk melaksanakan puasa di Bulan Ramadhan itu turun. Ayat tersebut turun pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Karena itulah, Sya’ban merupakan gerbangnya Ramadhan.

Pada Bulan Rajjab, maka kita berdoa, “Allahumma bariklana fi Rajjab wa Sya’ban, wa balikna Ramadhan.” (Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajjab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan).

Banyak sekali hadits yang menceritakan keistimewaan Bulan Rajjab dan Sya’ban. Salah satunya adalah:

Pada Bulan Sya’ban itu (tepatnya yaitu ketika Nisfu Sya’ban), maka Allah akan turun ke langit dunia. Allah akan melihat, siapa saja hamba-Nya yang meminta ampun, maka Allah akan memberikan ampunan kepada semuanya. (Al-Hadits)

Dalam redaksi yang lain juga disebutkan:

Allah akan turun ke langit dunia, maka Allah memberikan ampunan semua hamba-Nya, kecuali dua jenis manusia: pertama, orang yang mensyirikkan Allah. Kedua, orang yang dalam hatinya ada permusuhan dengan orang lain. (Al-Hadits)

Sebenarnya tidak ada keraguan mengenai malam Nisfu Sya’ban. Yang yang menjadi perbedaan pendapat adalah apa yang kita lakukan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.

Pada tahun kedua hijriyah, muncul beberapa kewajiban. Selain kewajiban mengenai puasa di Bulan Ramadhan, juga muncul kewajiban untuk membayar zakat fitrah. Sedangkan perintah mengenai kewajiban zakat maal baru muncul pada tahun kedelapan hijriyah.

Mengapa Bulan Sya’ban menjadi begitu penting? Karena, jika kita tidak mempersiapkan diri (dalam arti ruh kita) untuk menghadapi Ramadhan, maka ketika Ramadhan habis, ternyata kita tidak mendapatkan apa-apa, karena ruh kita belum siap untuk berhubungan dengan Allah.

Allah tidaklah menilai berapa rakaat kita salat tarawih, berapa banyak kita mengkhatamkan Alquran, berapa malam dan berapa lama kita salat tahajjud, bahkan Allah juga tidak menilai berapa banyak zakat dan sedekah yang kita bayar, melainkan yang dinilai oleh Allah adalah keikhlasan kita dalam mencari keridhaan-Nya.

Karena itulah, sudah semestinya kita bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi datangnya Bulan Ramadhan. Bagi yang mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh menghadapi Bulan Ramadhan, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, bahwa barangsiapa yang senang, atau sekedar senang saja dengan datangnya Bulan Ramadhan, maka syurga adalah balasannya.

Senang yang dimaksud adalah bagi orang-orang yang memang sudah sejak Bulan Rajjab, atau setidaknya sejak Bulan Sya’ban sudah mempersiapkan dirinya (dalam arti ruhnya) untuk menghadapi datangnya Bulan Ramadhan.

Allah berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-‘Ankabuut: 69)

Kuncinya di sini adalah kesungguhan diri kita mempersiapkan datangnya Bulan Ramadhan. Jika diibaratkan, maka Nisfu Sya’ban adalah lampu kuning, yang menandakan bahwa sebentar lagi Ramadhan akan menjelang. Kalau sudah lampu kuning, tinggal setengah bulan lagi Ramadhan, sedangkan kelakuan kita masih seperti sebelum-sebelumnya: hati belum dibersihkan dan dipersiapkan, sehingga ketika Bulan Ramadhan datang, ternyata kita belum apa-apa. Ramadhan kemudian berlalu begitu saja tanpa ada kesan, melainkan sekedar “illal ju’ wal athas” (sekedar tidak makan, sekedar tidak minum).

Ingatlah ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya (Ismail). Allah mengatakan:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Hajj: 37)

Allah tidak membutuhkan darah kambing, tidak membutuhkan daging kambing, tidak membutuhkan kulit kambing, melainkan kitalah (manusia) yang membutuhkan semua itu. Allah hanya sekedar mengecek, apakah manusia mau “sami’na wa ’atha’na”. Apakah manusia siap melaksanakan apa yang dikatakan-Nya.

Kesungguhan Nabi Ibrahim inilah yang kemudian oleh Allah dibalas. Karena Nabi Ibrahim sungguh-sungguh memberikan yang terbaik yang dimilikinya. Karena kesungguhannya untuk selalu memberikan yang terbaik, maka anak yang ditunggu-tunggunya (Ismail) yang diperintahkan untuk dikurbankan, kemudian Allah ganti dan Allah balas dengan yang terbaik.

Lihatlah bagaimana kesungguhan Siti Hajar. Waktu itu ia ditinggal di lembah Bakkah (Mekkah), yang ketika itu belum ada apa-apanya selain hanya lembah yang sunyi. Bayangkanlah, ketika itu Siti Hajar ditinggal sendirian oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya ditemani anaknya (Ismail) yang masih kecil.

Ia (Siti Hajar) bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Hai Ibrahim, engkau meninggalkanku di sini apakah karena kehendakmu atau karena perintah Allah? Kalau kehendakmu sendiri, aku tak mau, sama saja engkau sudah menelantarkan isteri dan anakmu. Tapi kalau ini merupakan perintah Allah, maka aku akan mentaatinya.”

Siti Hajar waktu itu tidak membawa cangkul, tidak membawa alat mengebor untuk menemukan air. Apakah yang dilakukan Siti Hajar? Yang dilakukannya adalah selalu memberikan yang terbaik dan selalu bersungguh-sungguh. Yang bisa dilakukan oleh Siti Hajar hanyalah berlari dari Shafa ke Marwa. Ternyata air yang dicari itu tidak ada. Kemudian ia kembali lagi berlari ke Shafa, walaupun ia tahu sebelumnya bahwa di Shafa juga tidak ada air, namun ia tetap mencarinya. Begitu seterusnya beberapa kali bolak-balik berlari antara Shafa dan Marwa. Tapi ia terus bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan air tersebut. Menurutnya, bahwa mustahil Allah akan menelantarkan dia dan anaknya.

Akhirnya, ternyata yang menemukan zam-zam adalah Ismail (anaknya), bukanlah Siti Hajar. Artinya, jika kita beribadah kepada Allah, jika kita sungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka janganlah egois. Bisa saja Siti Hajar berkata, “Yang capek berlari aku, tapi mengapa Ismail (anakku) yang mendapatkannya.”

Ternyata Siti Hajar tidak berkata seperti itu. Terserah Allah akan memberikan rezeki lewat mana. Bayangkanlah jika para pejuang yang dahulunya berjuang melawan penjajah, tapi mereka (para pejuang itu) egois, maunya merdeka secepatnya pada saat itu juga.

Yang Allah minta bukanlah hasil, melainkan usaha yang kita lakukan. Yang menikmati kemerdekaan adalah kita sekarang, sedangkan para pejuang yang dahulunya berjuang ternyata tidak merasakan hasil dari perjuangannya. Mereka juga mungkin tidak tahu ratusan tahun kemudian barulah negeri ini merdeka. Dalam Bahasa Arab disebut “Man jadda wa jada” (siapa yang mau sungguh-sungguh, maka dialah yang mendapatkan hasilnya).

Kesungguhan inilah yang membedakan orang-orang yang beriman yang oleh Rasulullah dikatakan:

Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya Bulan Ramadan, balasannya adalah surga jannatun na’im. (Al-Hadits)

Tapi, jika kita tidak bersungguh-sungguh mempersiapkan diri, maka kita bukanlah termasuk yang disebutkan oleh Rasulullah itu.

Ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka yang dihitung oleh Allah bukanlah banyaknya rakaat shalat tarawih, bukanlah banyaknya khataman Alquran, dan bukan pula panjangnya bacaan Alquran ketika shalat tarawih, melainkan yang dinilai oleh Allah adalah kesungguhan dan keikhlasan kita berjuang di jalan-Nya.

Kesungguhan seperti ini juga dilakukan oleh para sahabat Rasulullah. Dalam suatu kesempatan, ketika Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya, ada seorang pemuda yang lewat di depan mereka. Pemuda itu badannya tegap, masih muda, kuat, dan tangkas. Maka sahabat yang hadir ketika itu mengatakan kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, jika pemuda tersebut mengikuti kita berjihad, sepertinya cocok dan pas sekali.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Apabila pemuda tadi keluar dari rumahnya demi berusaha mencari rezeki untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka itulah yang dinamakan fi sabilillah. Jika ia keluar dari rumahnya sungguh-sungguh untuk mencari rezeki di jalan Allah, maka itulah yang dinamakan fi sabilillah. Kalau pemuda ini keluar dari rumahnya sungguh-sungguh mencari rezeki dan berusaha untuk memberi makan orang tuanya yang sudah tua, maka itulah yang dianamakan fi sabilillah. Apabila pemuda ini keluar dari rumahnya untuk kemegahan dirinya, untuk riya’, agar dipuji oleh orang lain, maka itulah yang dinamakan fi sabilisy-syaithan.”

Dalam hal ini, sebenarnya adalah persoalan ruh. Perbuatannya sama, sama-sama bekerja, sama-sama berusaha sungguh-sungguh, tapi yang Allah nilai bukanlah perbuatan fisiknya, melainkan keikhlasannya hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Rezeki itu adalah rahasia Allah. Setiap orang sudah ditentukan banyak dan sedikitnya rezeki yang ia dapatkan.

Diriwayatkan, bahwa suatu ketika Sayyidina Ali naik keledai, lalu datang ke masjid. Dilihatnya di depan masjid ada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk. Melihat itu, Sayyidina Ali bermaksud untuk menitipkan keledainya itu kepada pemuda tersebut. Niat Sayyidina Ali, bahwa nanti setelah selesai shalat, maka beliau akan memberi sedekah kepada pemuda tersebut sebanyak satu dinar. Kemudian masuklah Sayyidina Ali ke dalam masjid untuk shalat, setelah sebelumnya menitipkan keledainya kepada pemuda tersebut.

Ketika Sayyidina Ali selesai shalat, lalu keluar dari masjid, ternyata si pemuda tersebut sudah tidak ada. Keledainya masih ada, tapi cangkang keledainya sudah tidak ada. Sehingga Sayyidina Ali berprasangka, jangan-jangan si pemuda yang dititipi keledai tersebut malahan bukan menjaga keledai, melainkan mencuri cangkang keledai. Lalu Sayyidina Ali pun memanggil seorang temannya untuk pergi ke pasar mencari pemuda yang dimaksud. Sayyidina Ali menitipkan satu dinar kepada temannya itu untuk membeli cangkang keledai tersebut dari pemuda yang dimaksud.

Ketika temannya Sayyidina Ali itu pergi ke pasar, ternyata benar, ia menemukan pemuda tersebut sedang menjual cangkang keledai yang dimaksud seharga satu dinar. Lalu temannya Sayyidina Ali itu pun membeli cangkang keledai yang dimaksud dari pemuda tersebut. Ketika temannya Sayyidina Ali itu kembali menghadap Sayyidina Ali, ia pun menceritakan apa yang sudah ditemuinya di pasar, bahwa benarlah apa yang disangkakan oleh Sayyidina Ali.

Mendengar ini, Sayyidina Ali berkata, “Subhanallah, ternyata pemuda tersebut memilih untuk mendapatkan satu dinar yang haram dibandingkan satu dinar yang halal.”

Jika si pemuda tersebut sabar sedikit saja, tentunya ia akan mendapatkan satu dinar yang halal. Namun karena ia tidak sabar, maka ia mendapatkan satu dinar yang haram. Pertanyaannya, apakah rezekinya itu bertambah? Ternyata rezeki yang ia dapatkan dari cara yang haram tersebut tidak bertambah. Memang sudah dari sananya mendapatkan rezekinya sebanyak itu, maka sebanyak itu jugalah yang akan ia dapatkan, walau dengan cara apapun ia lakukan. (kisah ini dikutip dari Buku “La Tahzan”).

Masih dari Buku “La Tahzan”, juga dikisahkan:

Ada dua kelompok nelayan: satu kelompok selalu berbuat maksiat terus, sedangkan kelompok yang satunya lagi selalu tekun beribadah. Tapi tangkapan ikan pada kelompok nelayan yang selalu berbuat maksiat itu ternyata jauh kebih banyak dibandingkan dengan kelompok nelayan yang tekun beribadah. Jadi, kelompok nelayan yang tekun beribadah mulai pusing dihadapkan pada kenyataan tersebut. Mengapa seperti ini, mereka sudah tekun beribadah, tapi rezekinya sedikit, sedangkan yang suka mengerjakan maksiat malahan mendapatkan rezeki yang melimpah. Akhirnya, nelayan-nelayan yang tekun beribadah itu merundingkan hal tersebut sesama mereka. Mereka merundingkan untuk mencoba melakukan maksiat kecil-kecilan, siapa tahu ada perubahan akan rezeki yang mereka dapatkan. Akhirnya diputuskanlah, kemudian mereka mencoba melakukan maksiat kecil-kecilan.

Ternyata benar, setelah mereka melakukan maksiat, tangkapan ikan mereka menjadi melimpah ruah. Di antara tangkapan ikan yang banyak itu, ada satu ikan yang besar. Ketika dibelah perutnya, ternyata di dalam perutnya ditemukan mutiara yang nilainya tak terhingga. Pada saat itu, nelayan-nelayan tersebut berdecak keheranan akan hasil tangkapan mereka tersebut. Mereka lalu mengira, jangan-jangan ini bukan rezeki dari Allah, melainkan karena bantuan setan. Kemudian mereka merundingkan lagi akan hal tersebut. Akhirnya mereka sepakat untuk membuang mutiara tersebut, karena mereka beranggapan bahwa mutiara tersebut tidak halal untuk mereka ambil. Kemudian atas kesadaran mereka, para nelayan tersebut pun insaf, lalu bertobat, dan taat lagi kepada Allah.

Setelah taat lagi kepada Allah, mereka beralih dari tempat semula mereka mendapatkan ikan yang melimpah ruah sebelumnya, berpindah ke tempat lain. Setelah taat lagi kepada Allah, dan pencarian ikan pun mereka lakukan di tempat lain, ternyata tangkapan mereka masih tetap banyak.

Jadi dalam hal ini hanyalah persoalan waktu, bukanlah persoalan mengerjakan maksiat atau tidak. Sudah dari sananya seperti itu, maka seperti itu saja. Walaupun mereka kini kembali tekun beribadah, ternyata tangkapannya tetap banyak. Di antara tangkapan yang banyak itu, ditemukan lagi ikan yang besar, lalu ikan itu dibelah perutnya Ternyata di dalam perut ikan tersebut didapat lagi mutiara yang sebelumnya sudah mereka buang itu. Jadi, kalau memang sudah rezeki, walaupun kita buang, maka rezeki tersebut akan kembali lagi.

Dalam berbisnis, usaha, bekerja, maka janganlah pernah berpikiran untuk melakukan yang haram. Karena yang haram itu takkan pernah bisa untuk menambah rezeki kita.

Siapa saja yang mau menjadi kasirnya Allah, maka dia akan dipilih oleh Allah untuk menjadi kasir-Nya. Kalau kita mendapatkan rezeki, lalu rezeki itu kita simpan untuk diri kita sendiri, maka Allah mengatakan, bahwa kita tidak cocok menjadi kasir-Nya. Tetapi jika kita mendapatkan rezeki dari Allah, kemudian rezeki itu kita berikan lagi kepada orang lain, maka kita cocok menjadi kasirnya Allah.

Kewajiban puasa turunnya pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Kewajiban zakat turun pada tahun kedua hijriyah juga. Tapi pada periode Mekkah, apakah Rasulullah dan umat Islam ketika itu tidak memberi sedekah dan infak? Ternyata Rasulullah dan umat Islam ketika itu memberi sedekah dan infak.

Sebelum turun ayat yang mewajibkan zakat, maka turunlah ayat:

(1) Alif Laam Miim. (2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Q.S. Al-Baqarah: 1 – 3)

Jadi, pada periode Mekkah memang tidak ada perintah untuk berzakat. Yang ada adalah perintah untuk menafkahkan sebagian rezeki kepada orang yang membutuhkan. Karena ayat inilah, ketika itu para sahabat selalu berlomba-lomba untuk memberikan sedekah. Ada yang datang untuk mensedekahkan sepertiga dari hartanya, kemudian ada lagi yang ingin menyedekahkan setengah dari hartanya, setelah itu ada lagi yang ingin menyedekahkan dua pertiga dari hartanya, kemudian Abu Bakar Shiddiq mengatakan, bahwa ia ingin menyedekahkan seluruh hartanya.

Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang akan kau tinggalkan untuk anak dan istrimu?”

“Cukuplah Allah dan Rasul-Nya,” jawab Abu Bakar.

Jadi, waktu itu para sahabat memiliki semangat untuk bersedekah habis-habisan. Kemudian turunlah ayat yang memerintahkan kewajiban zakat. Pesan yang ingin disampaikan oleh ayat yang memerintahkan kewajiban zakat ini adalah agar para sahabat tidak usah habis-habisan untuk bersedekah. Yang wajib untuk dizakatkan hanya 2,5 persen.

Tentunya berbeda dengan keadaan kita kini. Bagi kita kini mungkin ada saja alasan yang dibuat-buat untuk menghindari kewajiban membayar zakat, misalkan: nisabnya belum sampailah, haulnya masih kurang, dan alasan-alasan lainnya.

Tapi kalau kita “wa mimmaa razaqnaa hum yunfiquun”, maka Allah mengatakan bahwa kita cocok menjadi kasir-Nya. Allah akan menitipkan rezeki-Nya bukan hanya untuk kita saja, melainkan untuk kita, juga untuk orang lain.

Teladanilah Rasulullah dalam hal ini. Jika di luar Bulan Ramadhan, beliau sangat gemar bersedekah. Ketika Bulan Rajjab, maka sedekahnya bertambah. Ketika Bulan Sya’ban, sedekahnya bertambah lagi. Dan ketika Bulan Ramadhan, maka sedekahnya akan bertambah, dan bertambah lagi. Inilah rahasianya jika kita ingin menambah rezeki.

Rezeki kita takkan pernah habis, karena menurut Allah kita cocok untuk menjadi kasir-Nya. Jika kita mendapatkan rezeki, lalu kita memberikan lagi rezeki tersebut kepada orang lain, maka Allah akan terus menambah rezeki kita. Tetapi, jika ketika kita mendapat rezeki, lalu hanya kita makan untuk diri kita sendiri, maka oleh Allah mungkin hanya diberi sebesar itu saja, karena hanya untuk kita makan sendiri. Sedangkan jika rezeki yang kita dapatkan tersebut juga kita berikan kepada orang lain, maka oleh Allah rezeki tersebut akan terus ditambah, karena rezeki tersebut bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi dititipkan juga untuk diberikan kepada orang lain.

Terlepas dari apa yang kita lakukan pada malam Nisfu Sya’ban, maka sudah tak dapat disangkal lagi bahwa Malam Nisfu Sya’ban itu memang memiliki keutamaan. Jika kita tidak sungguh-sungguh mempersiapkan (terutama ruh kita) untuk menghadapi Bulan Ramadhan, maka nantinya kita tidak terasa, tahu-tahu Ramadan sudah habis, kita hanya “illal ju’ wal athas”, hanya mendapatkan lapar dan haus.

Sya’ban gerbangnya Ramadhan. Sebentar lagi Ramadhan akan datang. Siapkanlah diri kita baik-baik dengan sungguh-sungguh. Allah tidak melihat berapa rakaat shalat tarawih kita, berapa kali kita khatam Alquran, berapa banyak uang yang kita sedekahkan, melainkan yang Allah lihat adalah bagaimana kita melakukan segala perintah-Nya sungguh-sungguh hanya untuk mencari keridhaan Allah. []

13 September 2008 at 7:49 AM 2 komentar

Adab Kesopanan Faqir dalam Perbuatan

ADAB KESOPANAN FAQIR DALAM PERBUATAN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 29 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Begitu indahnya menjadi seorang faqir (miskin) yang tawadhu’ dan penuh percaya diri. Begitu indah pula menjadi orang kaya yang tawadhu’ dan merahmati yang lain. Jika orang kaya mengasihi yang miskin, dan orang miskin mengerti akan orang kaya, maka ini berarti takkan ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Di dalam Islam, kesenjangan ditolerir. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin itu tidak apa-apa. Yang tak diperbolehkan di dalam masyarakat Islam adalah jika terjadinya jarak psikologis antara yang kaya dan yang miskin. Bukan suatu jaminan bahwa keadilan sosial itu otomatis melahirkan masyarakat yang aman dan damai. Dan bukan secara otomatis pula bahwa kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin itu pasti menimbulkan ketegangan. Di dalam Islam, jika para orang kaya memberikan zakat, infaq, dan shadaqah kepada fakir miskin, pasti fakir miskin itu tidak ada perasaan cemburu, dendam, bahkan yang terjadi adalah rasa mengasihi dan menyayangi orang kaya tersebut. Tapi sebaliknya juga, seorang fakir miskin yang mengerti dan memahami diri terhadap orang kaya, maka itu juga akan membuat orang kaya tersebut lebih akrab terhadap orang miskin tersebut. Janganlah sudah fakir miskin, tapi juga angkuh, yang hal itu hanya akan semakin membuat jarak antara si kaya dengan si miskin.

Karena itulah, isu di dalam Al-Qur’an bukanlah problem antara si kaya dengan si miskin, tetapi jarak psikologis antara si kaya dengan si miskin itu perlu dijembatani dengan cara menjalin hubungan spiritual antara si kaya dengan si miskin. Hubungan spiritual itu ditandai dengan adanya rukun Islam yang memerintahkan untuk membayar zakat. Membayar zakat itu adalah mata rantai spiritual yang menjembatani antara si kaya dengan si miskin. Dibandingkan dengan pajak (jizyah), aspek spiritualitas keagamaannya tidak sedalam dibandingkan dengan zakat, walaupun mungkin manfaatnya sama. Jika zakat diniatkan sebagai Rukun Islam, sedangkan pajak (jizyah) tidak diniatkan sebagai Rukun Islam. inilah perbedaannya.

Karena itulah, bahasa agama memang yang paling melekat pada diri si miskin dan si kaya. Kalau orang kaya diminta untuk mengeluarkan shadaqah atau zakatnya sebanyak sepuluh ribu yang kemudian dikeluarkannya sebanyak seratus ribu, maka hal itu adalah sesuatu yang biasa saja. Tapi kalau orang kaya diminta untuk mengeluarkan pajak yang semestinya dikeluarkan sebesar satu milyar, tapi kemudian ia hanya mengeluarkan sebanyak satu juta, itupun kalau ada. Mengapa? Karena tidak ada paksaan batin dan tidak ada keridhaan batin dalam hal mengeluarkan pajak. Inilah hebatnya rambu-rambu bahasa agama.

Tidak ada yang memaksa pada malam-malam akhir ramadhan itu untuk membayar zakat fitrah, bahkan berkali-kali, tapi kita merasa tulus untuk melaksanakannya. Berbanding terbalik dengan pajak yang untuk mengeluarkannya begitu sangat berat.

Jika seseorang dimotivasi oleh rasa agama, maka ketulusan yang akan lahir, kejujuran yang akan muncul, dan kedamaian yang akan terwujud di dalam masyarakat. Tanpa hendak mempertentangkan antara pajak dengan zakat, tapi biasanya bahasa-bahasa agama itu lebih gampang untuk mengikhlaskan seseorang ketimbang kita menggunakan istilah-istilah lainnya.

Bagaimana adab kesopanan fakir miskin dalam perbuatan kita?

Hendaknya tidak lemah dalam beribadah disebabkan karena kefakiran. Sekalipun kita ditakdirkan Allah untuk menjadi fakir miskin, tetapi jangan sampai mengendorkan mujahadah dan perjuangan kita mendekati Tuhan. Justru sebaliknya, bahwa kemiskinan itu kadang-kadang meringankan badan seseorang untuk melakukan mujahadah.

Perut yang lapar lebih gampang utnuk khusyu’ dibandingkan dengan perut yang kekenyangan. Perut yang kekenyangan biasanya selalu berdekatan dengan tempat tidur, tapi perut yang kelaparan selalu dekat dan berlama-lamaan dengan sajadah. Karena itulah, pada bulan suci ramadhan begitu nyamannya beribadah. Mengapa? Karena perut kita kosong. Tapi juga jangan sampai perut terlalu kosong, karena juga akan membuat badan ini terlalu lemah hingga tidak bisa melakukan ibadah dengan baik. Jadi yang paling baik itu adalah seperti yang pernah disampaikan oleh Rasulullah, bahwa komponen perut itu dibagi tiga; sebagiannya air, sebagiannya makanan, dan sebagiannya lagi adalah udara. Udara itu maksudnya bahwa perut itu jangan terlalu penuh.

Hendaknya seseorang itu tidak lemah, tidak menjadi kendor dalam beribadah disebabkan kefakirannya. Para orang kaya tidak mesti menunggu dirinya menjadi fakir untuk merasakan dirinya sebagai fakir. Kefakiran itu bukan monopoli orang miskin. Orang kaya pun juga bisa berperasaan fakir. Seorang yang kaya raya pun jika berhadapan dengan Tuhannya, maka dia pun menjadi fakir miskin. Apalah artinya kumpulan hartanya dibandingkan dengan kekayaan Allah SWT. Kekayaan yang melimpah itu tidak sampai sangat ekstrim perbedaannya dengan keterbatasan yang dimiliki oleh si fakir miskin.

Sekaya-kayanya seseorang itu tidak ada yang memiliki gunung emas. Sekaya-kayanya seseorang itu juga tidak ada yang menguasai satu planet. Sekaya-kayanya seseorang itu juga tidak jauh berbeda dengan fakir miskin dibandingkan dengan kekayaan Allah SWT. Sekaya-kayanya manusia dibandingkan dengan semiskin-miskinnya manusia, maka jaraknya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan Allah SWT.

Orang yang dekat dengan Tuhan, maka dia menikmati ketinggian dan kekayaan Allah, hingga dirinya menjadi fakir miskin. Suatu yang biasa saja jika seorang fakir merasa fakir di hadapan Allah. Tetapi sesuatu yang lebih mulia jika seorang kaya merasa fakir di hadapan Allah. Orang kaya yang merasa fakir dan merasa tidak mempunyai arti apa-apa di mata Allah, maka inilah yang disebut sebagai orang fakir. Jadi, kefakiran di dalam bahasa tasawuf itu tidak sama persis dengan kefakiran di dalam bahasa ekonomi kita.

Kita tidak boleh memandang enteng orang miskin. Bisa saja orang tersebut miskin, tetapi ia percaya diri, beradab, sopan, dan selalu dekat dengan Tuhan, maka sesungguhnya itu bukanlah miskin di mata Allah.

Rasulullah pernah menyatakan, bahwa satu dirham itu lebih besar nilainya di mata Tuhan daripada seratus dirham. Para sahabat terbingung-bingung dengan pernyataan Rasulullah ini. Kemudian para sahabat pun menanyakan kepada Rasulullah maksud dari pernyataannya itu. Rasulullah kemudian mengatakan, bahwa seorang fakir miskin yang hanya memiliki dua dirham kemudian menyumbangkannya sebesar satu dirham, maka di mata Tuhan nilainya lebih besar dibandingkan seorang kaya yang memiliki seratus ribu dirham yang hanya menyumbangkannya sebesar seratus dirham.

Jadi, kita tidak mungkin bisa mencemburui orang kaya karena kekayaannya. Dan orang kaya pun tidak boleh angkuh dan bangga di depan kemiskinannya orang miskin. Siapa tahu kemiskinan yang ia lihat itu adalah kemiskinan yang disengaja oleh yang bersangkutan. Siapa tahu kekayaan yang dipakai itu adalah kekayaan yang tidak disyukuri.

Manakah yang lebih baik antara menjadi orang miskin yang bersabar dan bersyukur tanpa dosa dan maksiat, dengan menjadi kaya raya tanpa bersyukur dan penuh dengan dosa maksiat?

Karena itulah, para orang kaya janganlah merasa bangga karena kekayaannya, sementara ia kurang bersyukur. Di dalam bahasa tasawuf terdapat ungkapan, “lain syukur lain tahmid”. Jika mendapat rizki lalu mengucap “alhamdulillah“, maka itu belumlah dapat dikatakan sebagai bersyukur, melainkan barulah “bertahmid” memuji-muji nama Tuhan. Nanti bisa disebut bersyukur kalau mengeluarkan zakat, infaq, dan shadaqahnya.

La insyakartum la azidannakum” (apabila kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan), Tuhan tidak mengatakan “La inhamidtum la azidannakum” (apabila kalian memuji Aku, maka akan Aku tambahkan). Kata “syukur” dengan “hamida” itu adalah berbeda. Introspeksilah diri kita, jangan sampai kita baru sebatas bertahmid, tapi belum bersyukur, yang itu berarti bahwa hutang kita belum terpenuhi di mata Allah SWT.

Yang dimaksud dengan “syukur” itu adalah memberikan haknya orang lain yang dititipkan melalui pemberian-Nya terhadap kita. Misalkan, gaji kita setiap bulannya adalah sebesar lima juta rupiah. Tidak seratus persen semuanya adalah halal untuk kita. Ada titipan Tuhan di situ 2,5% yang harus dizakatkan. Jika kita konsumsi seluruhnya, maka ada api neraka yang kita telan ke dalam perut ini. “kullu lahmin nabatha min haramin fannaru awlabihi” (semua barang yang haram masuk ke dalam perut menjadi daging, hanya api neraka yang bisa membersihkannya). Na’uzubillahi min zalik.

Karena itu, sisihkanlah 2,5% dari setiap penghasilan kita untuk zakat. Kalau bisa jangan digabung dengan duit yg lain, tapi langsung disisihkan. Hal ini dilakukan agar duit yang seharusnya dizakatkan tersebut tidak bercampur dengan duit yang lain, sehingga kita bisa terhindar dari memakan duit haram yang nantinya akan menjadi api neraka di dalam perut kita ini. Lebih baik pengeluaran kita untuk shadaqah itu lebih besar dibandingkan lebih sedikit dari itu.

Umat Islam yang paling pelit ialah orang yang hanya mengeluarkan zakat. Alangkah kikirnya sebagai seorang muslim kalau pengeluarannya hanya zakat. Zakat itu adalah standard minimum yang harus dikeluarkan bagi seorang muslim. Di dalam Islam itu ada 27 konsep untuk pengeluaran, antara lain: shadaqah, infaq, jariyah, hibah, waqaf, wasiat, luqathah, fay, ghanimah, dan masih banyak lagi.

Seorang Direktorat Zakat pernah mengatakan, bahwa Bangsa Indonesia ini seharusnya mengandalkan zakat sebagai sokoguru perekonomian umat. Saya jawab, bahwa tidak seperti itu seharusnya. Karena zakat itu hanyalah pengeluaran yang paling kecil. Karena itulah menurut aliran Syi’ah, ada yang dinamakan khumush, yaitu seperlima, ada juga ushr sebesar sepersepuluh, yang itu semua adalah untuk para imam (ulama) mereka. Sehingga ulama mereka itu tidak usah bekerja lagi, melainkan hanya membaca kitab saja, memberikan pengajian, yang akhirnya para ulamanya itu memang benar-benar bisa memfokuskan dirinya pada bidang keagamaan dan pencerahan umat. Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan nasib para ulama di negara kita.

Ekspektasi (pengharapan) masyarakat Indonesia terhadap ulama begitu besarnya, tetapi pengeluaran umat terhadap ulamanya begitu sedikitnya, bahkan tidak ada. Akhirnya, apa yang terjadi? Pilu hati kita sekarang ini, karena begitu banyaknya desa-desa terpencil yang ditinggalkan para ustadz (ulama)nya. Mengapa ini bisa terjadi? Karena ustadz itu juga adalah manusia biasa. Mereka mempunyai keluarga yang harus dinafkahi, sementara uangnya untuk khutbah dan mengajarkan agama kepada masyarakat itu tidak ada. Apalagi ia juga menyewa tanah, karena dia pendatang misalkan. Jadi, “lillahi ta’ala” sekarang ini terevaluasi oleh keadaan. Sudahlah, “lillahi ta’ala” saja, tapi dengan konsekuensi nafkah keluarga tidak terpenuhi secara maksimal, bahkan tidak bisa menyekolahkan anaknya.

Sistem di dalam masyarakat Indonesia ini masih sangat memandang rendah posisi ulama. Sungguh berbeda keadaannya dengan keadaan di negara tetangga kita, yaitu Brunei Darussalam. Di sana, ulama itu setara dengan Eselon 1. Karena itulah, jika ada fatwa, maka fatwa itu tidak hanya satu lembar, melainkan ada draft akademiknya hingga berpuluh-puluh halaman, yang pembahasannya begitu mendalam. Mengapa? Karena ulama tersebut memang digaji untuk menulis dan memberikan fatwa.

Di satu sisi, umat kita itu begitu pintarnya menyorot ulama. “Ah …, ulama kita itu pintarnya hanya bicara halal dan haram.” Mengapa ulama kita hanya bisa bicara halal dan haram? Karena untuk membicarakan mengenai sunnah, mubah, makruh, yang hal tersebut berada pada sisi antara halal dan haram itu memerlukan ilmu. Ilmu itu perlu energi, perlu biaya, dan keperluan lain-lainnya.

Di satu sisi umat kita menuntut kedalaman pemahaman seorang ulama, tapi pada sisi lain ulama tidak pernah diberikan alat pengasah “gergaji” itu. Akhirnya, gergaji yang dipakai ulama kita itu menjadi tumpul, karena tak pernah diasah. Untuk mengasah gergaji ini perlu biaya. Akhirnya Sang Ulama seperti kaset berjalan, ketika khutbah di satu masjid, setelah itu khutbah di masjid yang lain, biasanya materinya persis sama. Mengapa bisa seperti ini? Karena hanya itu yang mampu ia baca. Untuk membuat suatu persiapan baru, perlu buku baru, sedangkan ia tak punya uang untuk beli buku baru tersebut, apalagi kini harga buku memang mahal. Ternyata barulah kita menyadari, bahwa selama ini kita sudah berlaku tidak adil terhadap ulama. Di satu sisi ulama itu tidak boleh salah, sedangkan di sisi lainnya kita tidak pernah memperhatikan kesejahteraannya.

Di dalam suatu hadits disebutkan: “Kalau Tuhan akan menarik berkahnya di suatu daerah, maka yang paling pertama akan ditarik adalah ulamanya.” Cermatilah kini, bahwa para ulama sudah banyak yang wafat. Kalau sarjana mati satu, maka akan tumbuh seribu sarjana yang baru. Tapi jika seorang ulama tersohor yang wafat, maka harus memerlukan waktu beberapa tahun hingga munculnya ulama baru yang juga kompeten.

Perhatikanlah kini, ternyata para ulama kita sudah banyak yang meninggalkan pondok pesantren. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena tidak ada kehidupan di pondok pesantren yang serba gratis, sehingga Sang Ulama harus mengalih haluan untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

Karena itulah, menjadi tugas kita bersama untuk peduli terhadap kesejahteraan para ulama. Ulama lah yang bisa menyadarkan hati ini jika ada musibah, yang bisa membuat para orang kaya itu bersyukur, dan mengajak untuk mengingat Tuhan. Jika moralitas masyarakat dan bangsa kita semakin bobrok seperti sekarang ini, maka salah satu faktornya adalah karena tidak adanya energi baru bagi para ulama inim yang kemudian memuncak hingga tidak ada regenerasi ulama.

Ada sekitar enam ribu orang penyuluh agama kita, yang setiap penyuluh itu negara hanya mampu menggaji Rp. 40.000,- per-bulan. Tak ada penghasilan lain selain daripada itu. Pernah di antara penyuluh itu bercerita kepada saya, “Pak Nasar, kalau saya tinggalkan desa ini, orang di desa ini tidak bisa Shalat Jum’at, tidak ada anak-anak yang bisa mengaji.”

Tak ada artinya keikhlashan yang kita miliki di perkotaan ini dibandingkan mereka. Kalau ada yang meninggal, maka merekalah yang diandalkan untuk mengurus jenazah tersebut, dari memandikan hingga menguburkan. Bahkan ketika dirinya sakit pun, mereka tak peduli. Mereka hanya berobat dengan obat generik melalui bidan-bidan desa.

Mungkin berbeda lagi dengan ulama-ulama yang popular itu. Mereka banyak uang, bahkan ada yang menetapkan tarif. Yang paling ironis adalah mereka bisa melakukan pembatalan sepihak hanya karena ada tawaran lebih tinggi dari itu. Nah, yang seperti inilah menurut Imam Al-Ghazali termasuk Ulama Su’.

Jangan kita lihat kedalaman ilmunya, tapi kemanfaatannya di dalam masyarakat kita. Orang-orang seperti itu (para ulama yang tulus dan ikhlas) mewaqafkan betul hidupnya untuk ummat ini.

Sekarang anak-anak tidak tertarik menghafal Al-Qur’an, mungkin karena sekarang masyarakat tidak lagi menghargai para penghafal Al-Qur’an. Coba bayangkan, kita kesulitan mencari imam-imam shalat Tarawih, karena tak ada yang hafal Al-Qur’an. Bagaimana orang bisa tertarik menghafal Al-Qur’an, jika kesejahteraan mereka tidak terlalu diperhatikan ketika menjadi imam Shalat Tarawih satu bulan penuh misalkan. Walaupun sebenarnya mereka memang tulus melakukan itu, tetapi kesadaran kitalah untuk menghargai jerih payah mereka.

Itulah kenyataannya, betapa para pahlawan penegak panji-panji Islam ini tidak mendapatkan perhatian, baik itu dari pemerintah ataupun dari umat Islam sendiri. Anggaran Negara untuk mereka begitu sangat tidak memadai. Guru umum dan guru agama bedanya begitu mencolok. Jika tunjangan untuk guru umum itu sebesar 2 juta, tapi guru agama hanya mendapat tunjangan sebesar 500 ribu. Padahal keringat yang mereka (guru agama) keluarkan biasanya lebih banyak.

Kalau sudah seperti ini, tak tertarik orang untuk menjadi guru agama sekarang ini, karena penghargaan masyarakat terhadap guru agama begitu minimnya. Tapi di sisi lain, masyarakat kita itu ekspektasinya besar sekali terhadap ulama dan guru agama ini. Ada saja ungkapan misalkan; “Bahwa ini gara-gara guru agamanya tidak benar.” Patut kita bertanya, yang tidak benar itu guru agamanya atau sebenarnya kitalah (umat ini) yang tidak benar, atau memang sistemnya yang amburadul?

Jumlah muballigh itu 1 berbanding 2.300 orang. Jadi sekarang ini, satu ustadz harus menceramahi 2.300 orang. Bandingkanlah dengan pendeta. 1 pendeta hanya mendakwahi 200 orang. Pendetanya banyak umatnya sedikit. Sebaliknya, banyaknya umat Islam tidak sebanding dengan jumlah muballighnya yang begitu sedikit. Bagaimana mungkin pendalaman ajaran agama kita di masyarakat bisa begitu mendalam jika keadaannya seperti ini. Ini suatu contoh, betapa susahnya mengurus umat. Tapi kita tentunya jangan pesimistis akan hal ini. Kita harus optimis, mulailah dari diri kita sendiri. Insya Allah, di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan. []

16 Juni 2008 at 3:55 AM 6 komentar

Kiat Mengatasi Kesulitan

KIAT MENGATASI KESULITAN

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 19 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Selama ini kita sudah terjebak dalam suatu pandangan hidup yang sangat menyesatkan, sehingga kita tidak pernah merasa puas dan tak pernah bersyukur, kecuali hanya sedikit. Hal ini dikarenakan definisi kesuksesan hidup yang kita anut adalah definisi yang sangat membebani diri kita sendiri. Padahal kita bisa mendefinisikan kebahagiaan itu dengan sederhana. Beberapa pandangan yang keliru tentang kesuksesan, antara lain: pertama, sukses bukan sekedar menjadi kaya. Kedua, sukses bukan berarti tanpa kesulitan. Ketiga, sukses tidak datang secara kebetulan (keberuntungan). Kesuksesan adalah bagaimana menjalani kehidupan dengan menjadi diri sendiri, serta berfungsi dan melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi dan kapasitas pribadi masing-masing.

Ada delapan bidang kesuksesan dalam hidup ini. Pertama, kepribdaian yang utuh. Kedua, keluarga yang sakinah. Ketiga, karir yang meningkat. Keempat, keuangan yang stabil. Kelima, kesehatan yang prima. Keenam, kerohanian yang meningkat. Ketujuh, komunitas sosial yang akrab. Dan kedelapan, kemampuan pembelajaran.

Kekhawatiran hari ini akan menambah kesusahan hari esok. Tapi orang yang bersemangat dapat menanggung kesusahannya sendiri.

Hal ini saja misalkan jika kita pahami, maka nantinya akan memberikan perubahan yang mendasar pada diri kita.

Akhir-akhir ini kita lihat, bahwa cara orang mengekspresikan kekecewaannya bisa merusak atau mengancam akidahnya sendiri. Misalnya berkenaan dengan kenaikan harga BBM. Belum secara resmi diumumkan kenaikan harga BBM, kebanyakan orang panik, seolah-olah yang menentukan kehidupannya itu bukanlah Allah, melainkan adalah harga BBM, dan kenaikan-kenaikan harga kebutuhan lainnya. Hal ini bukanlah cara yang arif bagi seorang muslim. Hanya dicoba dengan kenaikan harga, tapi sepertinya akidahnya menjadi rusak, lupa akan Tuhannya, seolah-olah tak ada lagi hari esok dengan kenaikan harga BBM dan meningkatnya harga-harga kebutuhan sehari-hari. Panik, seolah-olah ia lupa bahwa Allah ada di belakangnya. Allah SWT tak mungkin akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Kekecewaan apapun yang kita alami, jangan sampai kita meninggalkan Allah SWT. Jangan pernah putus asa dengan rahmat Allah.

Ketika badai dan gelombang kehidupan menerpa, apa yang akan terjadi pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, citra diri bangsa, dan dunia global? Bagaimana caranya orang beriman mengatasi persoalan kehidupannya ketika ia mengalami badai kehidupan?

Orang arif memberikan solusi, bahwa orang yang sanggup bertahan di tengah kesulitan hidup adalah orang yang berhasil mengatasi setiap tantangan. Apakah sebenarnya yang diperlukan ketika kita menghadapi tantangan? Kiatnya adalah sebagai berikut:

Pertama, hadapilah badai kehidupan dengan mengupayakan penenangan diri.

Sebesar apapun problem yang kita hadapi, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah menenangkan diri sendiri. Orang arif mengatakan, bahwa menenangkan diri adalah separuh dari penyelesaian masalah itu sendiri. Jadi, jika menghadapi masalah kehidupan, maka janganlah panik, bimbang, dan frustasi, dan jangan pula menempuh jalan pintas, karena sesungguhnya itu adalah jalan setan.

Bagaimanakah caranya menenangkan diri sendiri? Mengingat Allah pastilah akan menenangkan diri sendiri. Tapi sebaliknya, jika kita langsung panik, maka itu akan semakin memperparah persoalan. Rasulullah bersabda: “Apabila bala’ itu muncul, maka mata ini buta.” Jika orang melakukan dosa, maka mata batinnya yang buta. Jika orang kecelakaan, maka mata fisiknya yang tidak melihat.

Tawakkal dan penyerahan diri penuh kepada Allah SWT. Tawakkal terdiri dari empat tingkat: Pertama, tawakkalnya orang kafir. Kedua, tawakkalnya orang awam. Ketiga, tawakkalnya orang khawas. Dan keempat, tawakkalnya orang khawasul khawas.

Tawakkalnya orang kafir adalah tidak percaya akan tawakkal tersebut. Tawakkalnya orang awam mungkin seperti kebanyakan kita, yaitu setelah kita berusaha, kemudian kita serahkan segalanya kepada Allah SWT, kita yang berbuat Allah yang menentukan, kemudian barulah kita pasrah.

Tawakkalnya orang khawas adalah tawakkal yang benar-benar pasrah kepada Allah SWT. Dia tidak peduli lagi akan semuanya, asalkan Tuhannya tidak hilang. Tawakkal jenis ini sulit sekali untuk dilakukan.

Orang yang selalu bertawakkal tidak pernah merasa overloaded dalam menjalani kehidupannya. Mungkin pernah suatu saat kita mengalami memuncaknya problem kehidupan, sehingga sepertinya hidup ini membosankan, hambar, kering, dan tidak ada manfaatnya. Biasanya orang seperti ini karena merasakan suatu gejolak batin yang sangat luar biasa. Hal ini merupakan pertanda bahwa iman telah meninggalkan hati orang yang bersangkutan.

Orang yang selalu bertawakkal tidak akan pernah merasakan kelebihan beban. Ada orang-orang yang begitu padat kegiatan hariannya. Tapi tak sedikitpun ada perasaan lesu di wajahnya, dan semua agendanya terselesaikan. Orang yang seperti inilah yang disebut sebagai orang yang beriman. Orang yang beriman adalah orang yang selalu mengerjakan pekerjaannya dua kali. Satu kali dalam bentuk niat (blue print), dan yang kedua adalah implementasi. Seperti inilah orang yang mempunyai visi, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk misi, bahkan kemudian ke dalam bentuk kerja. Seperti inilah cara kerja Nabi Muhammad.

Orang yang mengerjakan pekerjaannya tanpa niat, tanpa program, maka sebetulnya orang seperti ini adalah orang awam, sekalipun dia sarjana. Dan sebaliknya, orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan niat, kemudian diturunkan ke dalam bentuk visi misi, kemudian diimplementasikan ke dalam bentuk program kerja yang jelas, maka itulah sesungguhnya orang yang dikategorikan sebagai penerima amanah atau orang yang beriman.

Kalau ada yang ditimpa musibah, maka dekatilah Tuhan melalui pintu-pintu ibadah sunnat, zikir, wirid, dan pendekatan-pendekatan keagamaan lainnya. Kalau semua ini dilakukan, maka tidak mungkin Tuhan takkan menghargai hamba-Nya.

Tidak ada orang yang gagal setelah menjalani proses-proses serius yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya sendiri. Artinya, orang yang gagal adalah karena adanya mata rantai yang putus di dalam dirinya. Salah satu mata rantai yang tak boleh putus adalah doa yang sangat tulus kepada Allah SWT. Jangan hanya mengandalkan pekerjaan saja, tapi tanpa diiringi do’a, yang ini adalah sikap egois, seakan-akan tak membutuhkan Tuhan. Perencanaannya bagus misalkan, tapi tak semua perencanaan manusia itu akan terwujud, pasti ada saja kekurangannya.

Kedua, mereka mampu memandang kesulitan dan tantangan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai batu loncatan keberhasilan.

Ada orang yang semua kesulitan dianggapnya sebagai suatu penghalang. Bedakan antara penghalang dan tantangan. Orang yang mempunyai iman tidak pernah merasa hal itu adalah penghalang, melainkan penghalang itu diturunkan kualitasnya menjadi tantangan, kemudian diturunkan lagi kualitasnya menjadi rutinitas. Orang yang seperti ini tidak pernah merasa lelah dalam menjalani kehidupannya. Mengapa? Karena ia ikhlas dalam menjalani kehidupan, sehingga hidupnya menjadi ringan. Jika ada yang merasa kelelahan dalam menjalani kehidupannya, maka dapat dipastikan di dalam dirinya itu tidak ikhlas. Dan orang yang seperti ini, lama-kelamaan akidahnya akan bisa terusik, tidak ikhlas menjadi hamba, tidak ikhlas menjadi khalifah Tuhan.

Ada orang yang sedikit saja menghadapi persoalan, maka akan mandeklah dia. Padahal persoalan tersebut bisa dilalui dengan baik. Orang yang terbiasa melewati jalan yang mulus, jika ada kerikil sedikit, maka akan menjadi permasalahan baginya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang biasa menghadapi penderitaan. Bagi orang yang terbiasa menderita, maka suatu persoalan takkan dianggapnya sebagai penghalang, karena hal itu tak ada artinya dibandingkan dengan penderitaan masa lampaunya.

Dalam proses mencari Tuhan pun seperti ini. Jika ada problem, maka anggaplah hal tersebut sebagai pemicu untuk dekat kepada Tuhan. Malahan jika tanpa adanya problem, kadang kita menjadi berjarak dengan Tuhan. Apakah kenikmatan ataukah kekecewaan hidup yang sering mendekatkan diri kita kepada Allah? Berapa persentase kekecewaan hidup itu mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya, dan berapa pula persentase kenikmatan hidup itu mendekatkan dirinya kepada Tuhan? Jangan-jangan kenikmatan hidup itu lebih mendekatkan dirinya kepada setan.

Janganlah menganggap enteng cobaan Tuhan. Jangan pula menganggap cobaan tersebut sebagai bentuk kebencian Tuhan terhadap kita, tetapi anggaplah sebagai surat cinta Tuhan kepada kita. Tuhan merindukan kita, maka diberikan-Nya cobaan kepada kita.

Tantangan demi tantangan akhirnya menjadikan kita semakin terlatih dan semakin dewasa, untuk selanjutnya menang menghadapi kesulitan hidup. Kalau orang yang ditempa oleh tantangan demi tantangan, maka tantangan itu adalah rutin baginya. Bahkan mungkin tantangan tersebut dianggapnya bagaikan menguntai mata tasbih, yaitu sebagai sarananya untuk berzikir mengingat Allah. Tantangan demi tantangan akhirnya menjadikan kita semakin terlatih, yang kemudian kita akan mendapatkan kemudahan hidup karena hal tersebut.

Sikap positif memberikan kita keterbukaan hati untuk belajar dari pengalaman. Apakah yang dimaksud dengan sikap positif? Sikap positif adalah husnudz dzan, yaitu selalu berprasangka baik, tidak pernah berprasangka buruk terhadap Tuhan, juga tidak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain. Tapi pada saat yang lain juga harus ada kewaspadaan.

Ketiga, memiliki sikap karakter yang benar.

Ada orang yang kalau dia ditimpa musibah, maka karakter dirinya muncul. Sehingga kita tak pernah membayangkan bahwa orang itu sedang mendapatkan musibah. Dia tetap menjalani kehidupannya dengan baik. Raut mukanya begitu terlihat polos dan tulus. Dia mampu menyembunyikan bahwa dirinya sebetulnya sedang mengalami problem. Baginya, problem tersebut hanyalah rutinitas. Salah satu hikmah berzikir dan berwirid adalah untuk menjalani penderitaan hari demi hari dalam kehidupan. Barangsiapa yang betah menyelesaikan wirid-wiridnya, maka orang itu pun juga akan betah dan mampu menyelesaikan problem yang dihadapinya. Tapi bagi orang yang tak terlatih bertasbih, maka biasanya akan kesulitan menghadapi problem kehidupannya.

Untuk meraih kemenangan dalam mengatasi kesulitan hidup, dibutuhkan sikap (karakter) yang tepat. Beberapa kualitas karakter jika dikembangkan, maka akan menjadi seperti senjata yang ampuh dalam menghadapi musuh. Di antaranya adalah daya tahan. Jika karakter kita bagus, maka daya tahan kita juga akan bagus, kreatif, dan ada pengharapan. Jika tidak mempunyai karakter, biasanya seseorang itu tidak mempunyai prinsip, daya tahannya kurang, kreativitasnya lemah, harapannya juga kosong. Biasanya orang yang seperti ini akan terombang-ambing oleh ganasnya kehidupan.

Membangun karakter (character building) tidak dipelajari di bangku sekolah, bahkan juga tidak diberikan di bangku kuliah. Yang ada adalah latihan-latihan, yang konklusinya adalah pengokohan karakter individu.

Kiat mengatasi kesulitan hidup

Kiat pertama, mengetahui gambaran besar.

Dalam hal ini, harus ada mapping (pemetaan) terhadap suatu persoalan. Jangan sampai kita tidak mengenali persoalannya. Misalkan, baru isu-isu, kita langsung meluap-luap. Kita jangan langsung bereaksi terhadap sebuah informasi jika informasi tersebut belum jelas.

Dalam menghadapi suatu persoalan, janganlah mengedepankan ketakutannya terlebih dahulu. Dalam hal ini, kita jangan melihat kekecilan diri kita sendiri, padahal setiap kita memiliki potensi. Ketika menghadapi problem yang besar, janganlah kekecilan diri kita yang dikedepankan. Semestinya dengan problem yang besar itu, kita kemudian mengatakan bahwa kita ini masih hidup. Kalau Tuhan mau mematikan kita, mungkin takkan datang problem tersebut. Semua garis hidup ini ada di tangan Allah. Sejarah masih bergulir dan belum selesai buat kita. Hari ini kita jatuh sampai ke tempat yang paling rendah, tapi dunia belum kiamat, kita masih hidup, sejarah masih bergulir, siapa tahu besok kita akan melenting melebihi yang lainnya.

Marilah kita bercermin. Dengan bercermin, kita bukan hanya melihat wajah kita, tapi dengan bercermin itu kita bagaikan bercermin di cermin Ilahi. Dengan bercermin kita mungkin bisa berkata, muka boleh tidak tampan, tapi hati dan jiwa kita harus teguh. Justeru karena cermin itu misalkan menampilkan yang kecewa dari luarannya, maka dalamnya harus unggul. Kalau kita sudah jelek rupa, kemudian juga jelek hati dan pikiran, maka kita tidak lagi memiliki apa-apa.

Kecenderungan budaya Timur adalah karakternya tidak ingin dikritik. Kalau dikritik, maka disangka diejek, dihina, dan sebagainya. Jarang sekali orang yang dikritik itu kemudian mengucapkan terima kasih kepada orang yang mengkritiknya. Dalam hal ini, bagi penggeritik juga harus santun dalam kritikannya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengkritik ataupun menasehati, yang itu bisa dilakukan dengan cara yang baik dan santun, tanpa harus menggurui. Barangsiapa yang gampang menyalahkan orang lain, maka orang tersebut perlu banyak belajar lagi mengenai akhlak di dalam Islam, walaupun ia sebenarnya terpelajar, sarjana, atau mungkin seorang profesor. Seorang yang terpelajar itu ialah orang yang tak mau menyalahkan orang lain. Dalam memberikan pesan, seorang terpelajar akan memberikan pesan itu dengan cara yang baik dan santun.

Karena tidak melihat gambaran besar atau gambaran utuh dari masalah yang dihadapinya, sehingga nantinya akan terjadi salah kaprah. Di Indonesia ini misalkan, ada kecenderungan bahwa Umat Islam terlalu gampang menarik kesimpulan. Terlalu gampang menyimpulkan sesuatu tanpa pernah melakukan penelitian yang lebih mendalam. Kalau seseorang itu dianggap jelek, maka semua pada orang tersebut jelek, walaupun ada sisi-sisi kebaikan dari orang tersebut. Sebaliknya, jika memuji seseorang, maka seseorang itu seakan-akan tidak ada kelemahannya. Padahal manusia itu tak ada yang sempurna. Yang lebih baik adalah, terimalah kebaikan dan keburukan orang tersebut secara selektif dan objektif. Kita bukan malaikat, melainkan hanya manusia biasa.

Kiat kedua, memandang kesulitan sebagai tantangan, bukan halangan.

Tantangan demi tantangan akhirnya membuat seseorang itu menjadi terlatih. Memandang setiap kesulitan bukanlah sebagai halangan, melainkan adalah suatu tantangan dan kesempatan untuk belajar dan menang. Dengan demikian, ada pengalaman dalam kehidupan, sehingga tidak mungkin kita akan jatuh pada lubang yang sama di dalam kehidupan ini. Jika ada orang yang jatuh pada lubang yang sama, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut tak pernah belajar dari pengalaman.

Memiliki persepsi yang positif terhadap setiap tantangan yang ada, maka akan memberikan dampak yang positif pula. Jadi, tidak pernah salah paham dengan kekecewaan yang dihadapi, walaupun sebetulnya itu menyakitkan. Tapi bagi yang bersangkutan, bahwa hal tersebut adalah tantangan, dan juga merupakan cobaan. Para pebisnis yang cepat putus asa, maka ia juga takkan pernah menjadi kaya. Yang tak diperkenankan adalah gambling (spekulatif). Karena itu, spekulatif diharamkan.

Ada tiga hal yang berbahaya bagi seseorang. Yang pertama adalah orang yang didikte oleh pemikiran spekulatif. Dia ingin potong kompas dalam mencapai kekayaan. Tidak ingin bersusah payah, tapi ingin mendapatkan untung yang banyak. Yang kedua adalah orang yang mistik, seolah-olah hidupnya selalu mengandalkan mistik, mendatangi dukun, minta wirid ke ustadz, dan sejenisnya. Semestinya, sebagai seorang yang positif, kita harus menampilkan nilai-nilai sikap objektif-positif pada diri sendiri. Yang ketiga adalah spiritualisasi kehidupan, yaitu tingkat rasionalnya itu kurang. Setiap kali persoalan-persoalan muncul, maka seakan-akan tak ada lagi hal yang dilakukan selain hanya dengan berdoa. Padahal belum dilakukan usaha-usaha yang rasional. Yang baik adalah, kita berusaha dahulu, kemudian usaha tersebut diiringi dengan do’a.

Jadi, spiritualisasi dalam menyelesaikan persoalan juga tidak dibenarkan di dalam Islam. Memang, setiap muncul persoalan kita harus meminta kepada Allah. Tapi tidak benar juga jika hanya dengan beredo’a untuk menyelesaikan persoalan tersebut tanpa adanya usaha-usaha yang dilakukan. Jika hanya dengan berdoa, namun tak pernah melakukan usaha-usaha yang nyata, yang ini sebenarnya gambling (spekulatif) juga. Do’a itu tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan. Do’a yang kita harapkan menyelesaikan persoalan adalah didahului dengan usaha yang nyata.

Memiliki persepsi yang positif terhadap setiap tantangan yang ada akan memberikan dampak yang positif pula. Jadi, berpandangan positif (positive thinking) pasti akan banyak manfaatnya untuk ketegaran mental (spiritual) kita. Jika ada orang yang mentalnya jatuh, maka perhatikanlah orang itu. Biasanya orang seperti ini suka berburuk sangka terhadap orang lain. Ada orang misalkan, bahwa sebaik apapun pekerjaan orang lain, maka pasti akan ditanggapinya dengan negatif. Jangan-jangan kita juga sering seperti ini.

Yang positif dari orang lain, sekalipun adalah bawahan kita, maka akuilah bahwa bawahan kita itu memang hebat. Ada orang yang tak mau mengagumi orang lain, apalagi prestasi itu muncul dari bawahannya. Orang yang seperti ini kemungkimam besar hidupnya tak pernah tenteram. Mengapa? Karena tidak mau melihat orang lain sukses. Dia ingin dirinya saja yang sukses. Begitu mendengarkan orang lain sukses, apalagi musuhnya misalkan, maka ia akan merasa tidak tenang.

Kiat ketiga, mengenal titik kritis pribadi kita

Ini adalah suatu pekerjaan berat, karena kita tak pernah mau mengintrospeksi diri kita sendiri. Seakan-akan setiap yang kita lakukan itu selalu benar. Kalau seperti ini, maka ketenteraman di dalam diri kita takkan pernah muncul.

Karena tidak sadar akan titik kelemahan tersebut, biasanya membuat kita selalu jatuh di lubang yang sama. Begitu juga jika tidak mau mengakui kesalahan, maka kesalahan bertubi-tubi akan kita dapatkan setiap saat. Tetapi jika kita mengakui bahwa diri kita bersalah, maka insya Allah kita tidak akan jatuh di lubang yang sama. Sebaliknya, sikap waspada dan latihan penguasaan diri membuat kita akan berhasil dan menang melewati masa-masa sulit dalam kehidupan kita.

Semua kesalahan-kesalahan itu kita terima sebagai suatu kenyataaan hidup. Begitu muncul di hadapan kita, sejarah berulang, tapi kita tak akan melewati lagi tempat yang sama.

Kiat keempat, mengatur prioritas hidup kita

Salah satu kelemahan kita adalah tidak cerdas mengatur prioritas kehidupan. Semuanya seakan-akan sama pentingnya. Semestinya kita memprioritaskan dalam hidup ini, mana yang penting, mana yang tidak. Kriteria penting dan tidak penting jangan diukur berdasarkan spontanitas emosional kita pada saat itu. Perlu untuk mengatakan tidak untuk hal-hal tertentu, dan iya untuk hal-hal yang tertentu pula. Sehingga memang ketegasan itu diperlukan dalam hidup ini. Orang yang tidak tegas, maka dia akan mengiyakan semuanya. Kadang-kadang kita terlalu baik, sehingga kemudian kita menjadi korban dari keterlalu-baikan kita itu.

Apa yang dikerjakan justeru membawa masalah baru dan bukan solusi untuk pemecahannya. Prioritas yang diatur secara tepat dan seimbang merupakan tindakan bijaksana untuk mengatasi tantangan dan kesulitan hidup. Di sinilah hebatnya Rasulullah SAW. Beliau selalu bertanya kepada para sahabatnya untuk mencari pemecahan masalah yang sedang dihadapi ketika itu. Beliau bukanlah tipe pemimpin yang otoriter. Di dalam kisah-kisah Al-Qur’an, salah satu kunci kesuksesan orang-orang hebat itu adalah selalu bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Orang-orang besar biasanya tidak spontan langsung mengambil suatu keputusan, melainkan mereka selalu meminta pertimbangan dari orang-orang yang ada di dekatnya. Mereka terbiasa untuk berdialog. Jika ada orang yang tidak mau berdialog, maka orang tersebut biasanya berjiwa kerdil dan tak mungkin bisa menjadi orang besar. Ciri-ciri orang besar adalah selalu mau berdialog dan meminta pandangan dari orang-orang di sekitarnya, sekalipun terhadap bawahannya.

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Nabi Muhammad pernah meminta pendapat dari para sahabat mengenai tindakan yang akan diambil terhadap para tawanan perang. Nabi Muhammad berkata, “Wahai para sahabat, tawanan perang ini sebaiknya diapakan?” Lalu berkatalah Umar ibn Khattab, “Interupsi Rasulullah. Menurut hukum adat, bahwa laki-laki dibunuh sedangkan perempuannya diperbudak.” Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menginterupsi, “Interupsi Rasulullah. Menurut pendapat saya tidak seperti itu. Para tawanan ini adalah orang-orang hebat. Lebih baik kita memberikan pembebasan bersyarat kepada mereka. Kemudian mereka ditugaskan untuk mencerdaskan masyarakat Madinah ini yang buta keterampilan.” Lalu Rasulullah menjawab, “Oke, saya setuju pendapat Abu Bakar.”

Tidak ada orang yang besar tanpa mentradisikan di dalam dirinya, dalam sikapnya, serta dalam kepemimpinannya untuk selalu berdialog. Dialog di sini mungkin adalah musyawarah. Tapi musyawarah tidak identik dengan demokrasi. Demokrasi biasanya yang menang adalah yang mayoritas. Sedangkan pada musyawarah, bisa saja pendapat yang minoritas lah yang disetujui, mungkin karena pendapat minoritas itu lebih maslahat, lebih arif, dan bijaksana.

Kiat kelima, bergabung dengan komunitas yang membangun

Kalau kita ditimpa musibah, jatuh, pailit, dan sebagainya, Islam dalam hal ini menganjurkan untuk memiliki motivasi yang kuat dan sikap mental yang positif, membangun keyakinan dan harapan untuk bersikap pantang menyerah, serta meraih tujuan yang sukses, caranya adalah dengan bergabung ke dalam komunitas yang selalu berpikir positif. Tapi kalau sudah pailit, kemudian bergabung dengan orang-orang yang berjiwa kerdil, maka kemungkinan besar akan sulit sekali untuk bangun dari kegagalan tersebut. Biasanya juga orang yang gagal itu akan memilih bergabung bersama dengan orang yang gagal pula. Jika ini yang dilakukan, maka sama saja orang tersebut sudah terkubur hidup-hidup sebelum ia wafat.

Islam menganjurkan, bahwa ketika kita mengalami kegagalan, maka datanglah kepada orang yang berpandangan positif, kemudian berkonsultasilah dengan orang tersebut, maka kita akan hidup kembali. Pada umumnya, orang-orang yang mengalami kegagalan itu jatuh ke lembah yang paling dalam. Hal ini dikarenakan mereka akan mencari orang-orang yang senasib dengannya. Mestinya kan harus dibalik. Kali ini mungkin kita jatuh, tapi teman-teman lama kita masih banyak yang bisa membantu kita. Tapi kalau kita mencari teman yang senasib dengan kita, yaitu sama-sama orang yang mengalami kegagalan, maka yakinlah, kita akan semakin terperosok ke lubang kegagalan yang lebih dalam.

Bergabunglah dengan orang-orang yang positif. Berkonsultasilah dengan orang-orang yang tepat. Kalau kita sudah jatuh, maka berhati-hatilah dalam berkonsultasi. Kadang juga ketika berkonsultasi dengan orang yang tepat, mungkin bisa saja semakin tambah merontokkan kita. Sudah jatuh, diberikan pandangan lagi, yang itu bisa memeras kita jauh lebih jatuh lagi. Karena itu, berhati-hatilah dalam memilih orang yang akan dijadikan sebagai tempat berkonsultasi. Dalam hal ini, lihatlah dulu orangnya. Karena orang itu satu sisi mungkin bisa meningkatkan, tapi mungkin juga menjebloskan lebih dalam lagi. Alangkah lebih baiknya, sebelum berkonsultasi dengan siapa saja, maka serahkanlah diri kita kepada Allah SWT. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. Wala hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim. [nAvy]

16 Juni 2008 at 3:50 AM 7 komentar

Hakikat Kesuksesan

HAKIKAT KESUKSESAN

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 12 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada lima langkah untuk mengembangkan hidup yang memiliki tujuan, yaitu: eksplorasi diri, determinasi diri, aktivitas diri, kolaborasi diri, dan evaluasi diri.

Pada point evaluasi diri, jika kita ingin jujur, maka hal yang paling sering dihindari adalah sebuah pujian. Pujian ini sering menganggu iman seseorang. Karena itu, biasakanlah diri untuk tahan dari berbagai pujian. Jangan sampai karena pujian, subjektifitas kita menonjol, sehingga nanti kita salah dalam menentukan langkah. Manusiawi jika seseorang itu dipuji dan pujian itu harus disyukuri. Sampaikanlah kepada yang memuji kita itu, bahwa yang pantas untuk dipuji hanyalah Allah SWT, karena apa yang ada pada diri kita sesungguhnya bersumber dari-Nya. Dengan hal ini akan membuat kita berhenti dari keangkuhan.

Kita takut untuk dinilai, sering enggan untuk melakukan evaluasi, karena takut melihat kegagalan. Jadi, orang yang tak ingin melihat kegagalannya sendiri, itu pertanda akan melakukan pembiaran terhadap kegagalannya juga.

Ciri-ciri orang yang melanggengkan kegagalan adalah: takut dikritik dan tidak mau mengevaluasi diri, bahkan tidak ingin mendengarkan kritikan orang lain. Dia hanya ingin mendengarkan pujian dari orang lain, tapi tidak ingin mendengarkan kritikan dari orang lain. Padahal sesungguhnya, mungkin kita lebih membutuhkan kritikan daripada pujian. Jika ada yang mengkritik kita, itu menandakan orang tersebut mencintai kita. Siapa tahu orang yang mengkritik itu adalah penyambung lidah daripada kehendak Allah SWT untuk memperbaiki diri kita. Jangan melihat orang yang mengkritik kita itu seperti setan, tapi anggaplah ia bagaikan malaikat utusan Tuhan untuk memberikan perbaikan terhadap diri kita. Lebih perlu diwaspadai adalah orang yang hanya suka memuji daripada mengkritik. Yang penting kritikan itu juga jangan sampai berlebihan, melainkan kritiknya adalah bil maw’izatil hasanah, yaitu kritikan yang baik dan cenderung konstruktif.

Dibutuhkannya evaluasi dan penilaian, agar kita dapat mengetahui sejauh mana kekurangan ataupun keberhasilan kita. Evaluasi diri bukan hanya menunjukkan kelemahan, evaluasi juga menunjukkan kelebihan-kelebihan. Tak ada orang yang kesalahannya 100%, dan juga tak ada orang yang benarnya 100%. Pasti di balik kesalahan ada terselip kelebihan-kelebihan. Pasti di balik kelebihan ada terselip kesalahan dan kekeliruan. Tidak ada yang sempurna selain daripada Allah SWT.

Pemahaman Kesuksesan

Apakah yang dimaksud dengan kesuksesan? Jika definisi kesuksesan yang kita pahami terlalu materialistis, maka jalan hidup yang kita tempuh akan keliru. Karena itu, kita perlu mendefinisikan apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kesuksesan tersebut. Jika kesuksesan itu ukurannya adalah nafsu, keinginan, dan biologi, maka terlalu rendah nilai kesuksesan itu. Dalam hal ini, kita tidak memberikan tempat untuk kesuksesan rohani.

Kesuksesan bagaikan pohon yang ditanam di tepi sungai. Memiliki sumber air yang tak pernah habis. Maka ia akan menghasilkan buah-buah keberhasilan pada musimnya. Biasanya kalau orang sukses, tapi penuh kemawasdirian, akan berlangganan kesuksesan itu. Tapi biasanyan kalau orang itu gagal, tidak mau mengevaluasi diri, maka orang itu akan berlangganan dengan kegagalan. Banyak orang yang kita lihat sukses dan selalu sukses. Sementara ada juga orang yang selalu gagal. Dalam hal ini, kita tentunya jangan menyalahkan Tuhan.

Beberapa pandangan yang keliru mengenai kesuksesan

Orang sering mendefinisikan kesuksesan itu hanya kekayaan. Jadi kalau orang tidak kaya, berarti orang itu gagal. Sukses bukan sekedar menjadi kaya. Kesuksesan juga bisa dalam hal membina kepribadian, sukses menjalin komunikasi dengan relasi, sukses untuk mencegah dirinya dari dosa dan maksiat. Begitu banyaknya cabang-cabang kesuksesan.

Sukses bagi seorang seniman tentunya berbeda dengan sukses bagi seorang pedagang. Sukses bagi seorang pegawai tentunya berbeda dengan kesuksesan seorang petani. Bagi seorang seniman misalkan, kesuksesannya adalah ketika menciptakan suatu puisi yang sangat indah melalui suatu proses yang mendalam, hingga ia melahirkan puisi-puisi yang indah, walaupun puisinya itu begitu pendeknya. Bagi seorang pegawai, kesuksesannya mungkin adalah promosi jabatan ataupun kenaikan gajinya.

Keliru juga jika dikatakan bahwa kesuksesan itu adalah berhasil tanpa kesulitan. Kalau seperti ini bukan sukses namanya. Kesuksesan adalah berbanding lurus dengan tingkat penderitaannya. Sukses itu bukannya tanpa tetesan keringat, seolah-olah kesuksesan tersebut diperoleh secara gratis. Kesuksesan yang didapat dengan mudah ini bisa saja malahan tidak berkah. Rasulullah mengingatkan, jika ingin mencicipi keberkahan, maka perolehlah dengan tetesan keringat. Karena itu Rasulullah juga mengatakan, bayarlah pegawai kalian sebelum keringatnya kering.

Sukses juga bukan datang karena keberuntungan. Jika ada orang yang sukses tanpa keringat, maka kesuksesan seperti ini adalah kesuksesan yang tidak normal. Segala sesuatu yang datangnya begitu gampang, maka kepergiannya juga akan begitu cepat. Karena itu, ilmu yang diperoleh melalui proses yang sangat mendalam, maka ilmu tersebut akan menjadi begitu melekat pada diri orang tersebut. Tetapi ilmu yang begitu gampang diperoleh, maka akan dengan gampang juga hilangnya.

Jadi, janganlah mudah puas dengan sesuatu yang didapat dengan mudah, gratis, gampang, yang diperoleh tanpa kesulitan, melainkan apa yang didapat itu adalah sesuatu yang tidak normal, sehingga menjadikan keberkahannya kurang.

Memahami arti kesuksesan

Jika kita mendefinisikan kesuksesan dengan hal-hal yang materil semisal harta dan jabatan, maka kearifan di dalam diri kita tidak akan muncul. Sukses ialah menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri. Tidak usah kriteria orang lain yang kita gunakan. Jika orang lain bisa membangun rumah mewah, kita tentunya tidak usah mengukur kesuksesan dengan kesukesan yang diraih orang tersebut, melainkan yang terbaik adalah menjadi diri kita sendiri. Kita tidak harus sukses dengan rumah mewah, karena kemampuan yang ada pada kita tidak bisa mencapai yang seperti itu. Kita harus berbahagia dengan standar diri kita sendiri. Merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah (qana’ah), itulah kesuksesan kita yang merupakan kebahagiaan puncak.

Berfungsi dan melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi dan kapasitas pribadi masing-masing. Jika pendidikan kita hanya SMP, sedangkan tetangga kita itu sarjana, maka sangat tidak bijaksana jika kita tetap memaksakan diri kita seperti mereka. Dalam hal ini, buatlah seolah-olah kita harus punya nilai plus ukuran diri kita sendiri. Misalkan, sementara banyak orang yang tak bisa menyekolahkan anaknya, maka kita patut bersyukur, bahwa kita bisa menyekolahkan anak kita hingga tamat SMA, yang itu merupakan kesukesan tersendiri bagi kita.

Kesuksesan adalah kemampuan untuk mewujudkan agar segala sesuatu menjadi lebih baik secara utuh dan holistik dari seluruh aspek kehidupan kita. Bukan rumah bersusun yang membuat orang itu bahagia, melainkan kebahagiaan batin inilah yang paling utama. Kebahagiaan itu tidak bisa dibeli, tidak bisa ditebus dengan apapun, kecuali kita harus melaluinya dengan proses yang sangat panjang dan mendalam. Kenyamanan bisa dibeli di hotel bintang lima, kelezatan bisa dibeli di restoran paling mahal, tapi kebahagiaan tak bisa dibeli, melainkan kebahagiaan tersebut hanya bisa didapatkan melalui proses olah batin kita sendiri. Sebegitu banyak orang yang mendambakan kebahagiaan batin, tapi tidak berhasil. Mengapa? Karena metode yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan batin itu adalah metode materialistik. Disangkanya dengan membayar begitu mahal, ikut suatu training motivasi misalkan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang diharapkannya. Memang ketika baru-baru selesai dari training tersebut ada kelihatan hasilnya. Tapi setelah tiga bulan misalkan, kebahagiaan tersebut kemudian hilang lagi. Tentunya kita tidak menginginkan yang seperti ini, melainkan yang kita inginkan adalah keabadian kebahagiaan itu.

Jadi, jangan pernah merasa cukup dan puas dengan training pendek. Al-Qur’an diturunkan 23 tahun lamanya. Rasulullah mengajarkan Islam itu 23 tahun lamanya. Tidak mungkin hanya dengan sekejap saja. Kebahagiaan adalah harus dicapai dengan proses yang berliku-liku, yang proses itu tak pernah mengenal henti, kalau perlu hingga akhir hayat kita. Belajar itu bukan hanya ketika masa-masa muda misalkan. Karena itulah, ilmu mendidik itu dikritik. Di dalam dunia pendidikan dikenal suatu teori yang dinamakan Paedagogi (ilmu mendidik anak). Ternyata di dalam Islam mengkritisi teori ini. Islam menganjurkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Bukankah Al-Qur’an turun memerintahkan orang untuk belajar (iqra’/bacalah) ketika Rasulullah sudah berumur 40 tahun, dan wahyu itu diterima oleh Rasulullah hingga akhir hayatnya, yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran Rasulullah yang dituntun oleh wahyu, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Kemudian di dunia pendidikan juga dikenal teori Andragogi, yaitu metode pendidikan untuk seumur hidup, dan metode inilah yang sesuai dgn ajaran Islam. Jadi, kepuasan intelektual itu takkan pernah berhenti dan tidak mengenal usia.

Delapan bidang kesuksesan

Menurut ajaran Islam, ada delapan bidang kesuksesan. Orang akan dinilai sukses jika delapan hal ini dipenuhi.

Pertama, kepribadian yang utuh.

Sekalipun banyak uang, mendapat warisan dari orang tua, banyak rumah, tapi jika yang bersangkutan itu idiot, setengah sadar, dan gila, tentunya ia tidak mendapat kebahagiaan yang dimaksud. Jadi, karunia dasar yang Tuhan berikan kepada kita adalah dalam bentuk kepribadian yang utuh. Apakah yang dimaksud dengan kepribadian yang utuh? Kepribadian yang utuh bukanlah kepribadian yang pecah (split personality). Kepribadian yang pecah adalah kepribadian yang tidak memiliki pendirian. Orang yang seperti ini susah khusyu’ di dalam shalat dan biasanya munafik. Orang yang tidak memiliki pendirian sebetulnya adalah tipe orang yang tidak sadar dan tidak normal.

Menurut Psikolog, bahwa hampir semua orang itu mengalami gangguan jiwa. Namun tingkatannya ada yang parah dan ada juga yang tidak terlalu parah. Orang yang berusia di atas 30 tahun biasanya berpotensi untuk mengalami gangguan kejiwaan, karena jarak antara yang diharapkan dengan yang menjadi kenyataan begitu jauhnya. Dia menginginkan seratus, tapi kemampuan pada dirinya hanya bisa mencapai sepuluh. Akhirnya, jika harapan-harapan itu terlalu banyak, sedangkan kenyataan yang didapatkan jauh di bawah yang diharapkan, maka hal-hal tersebut kemudian berakumulasi, sehingga orang tersebut menjadi selalu tertekan, bahkan kadang memori jangka pendeknya menjadi lemah. Bertumpuknya akumulasi kekecewaan ini biasanya dikarenakan tidak mendapatkan pemecahan. Makanya, pemecahan yang terbaik adalah dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kepribadian yang utuh merupakan rahmat Allah yang paling berharga di dalam diri kita. Tak ada gunanya pencapaian yang telah kita raih jika kepribadian kita rusak dan bermasalah, sehingga semua pencapaian yang telah kita raih itu akan menjadi sia-sia.

Kedua, keluarga.

Tidak gampang sukses membina keluarga. Uang, pangkat, dan kekayaan tidak otomatis menjamin suatu keluarga menjadi bahagia. Kebahagiaan keluarga itu diciptakan, bukan tiba-tiba langsung turun dari atas langit. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang dibina.

Memang kita akui, bahwa tidak mungkin ada keluarga yang seperti keluarga surga. Pasti setiap keluarga itu ada kelemahan-kelemahannya. Namun jangan sampai membiarkan keluarganya itu berada dalam suatu kondisi yang tidak penting. Misalkan, suatu masalah di dalam keluarga sebenarnya bisa dipecahkan, tapi karena yang berada di dalam rumah tangga itu masing-masing emosi dan sama-sama keras, maka akan sulitlah terbinanya kebahagiaan. Karena itulah, suatu kebahagiaan tersendiri jika melampaui usia 50 tahun kita tidak pernah mengalami proses-proses yang mengarah kepada kehancuran keluarga.

Persoalan keluarga juga kadang berdampak sangat luas sekali, misalkan berdampak ke pekerjaan. Jika ia seorang pimpinan, maka yang menjadi sasaran kekesalan adalah stafnya. Jika ia seorang staf, maka ia selalu ditegur oleh atasannya, karena gairah kerjanya tidak ada. Endapan-endapan negatif dari permasalahan keluarga tersebut akan mengikuti di manapun kita berada, termasuk di pekerjaan.

Ketiga, kesuksesan juga bisa diukur melalui karir seseorang.

Misalkan, di manapun ia ditempatkan, maka di situ ada kemajuan. Orang seperti ini biasanya diperebutkan oleh berbagai tempat pekerjaan. Sementara ada orang yang setengah mati membawa map untuk melamar kerja, sementara juga ada orang yang diperebutkan oleh tempat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi.

Jika riwayat hidup seseorang sungguh bagus dari ia kecil, termasuk juga prestasinya, insya Allah orang itu nantinya di era keterbukaan seperti sekarang ini pasti akan diperebutkan. Jadi, jika seseorang berprestasi, maka pekerjaanlah yang berebutan mencari dirinya. Tapi sebaliknya jika tidak memiliki prestasi, maka dialah yang mengejar pekerjaan. Karena itulah, karir dan prestasi ini memang harus dibina sejak dini.

Keempat, kesuksesan juga bisa diukur dari keuangan.

Bukan rahasia lagi, bahwa siapa saja yang memiliki uang, maka kemudahan-kemudahan hidup akan diperolehnya. Sebaliknya, siapa saja yang tidak mempunyai uang dan tidak mempunyai potensi lain selain uang, maka kesulitan hidup akan selalu bersamanya. Karena itulah, uang begitu pentingnya. Tapi yang paling penting lagi adalah berkah dari uang itu sendiri. Uang yang berkah tidak mesti harus banyak, melainkan cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kita, bukan seluruh keinginan kita.

Kelima, kesehatan juga menjadi unsur terpenting dari kesuksesan.

Walaupun kita memiliki segalanya, tapi jika selalu sakit-sakitan, tentunya akan sulit sekali kita merasakan kebahagiaan. Rahasia kesuksesan Nabi Muhammad salah satunya adalah kesehatan. Nabi Muhammad adalah salah seorang yang paling sehat di masanya. Rahasia kesehatan Nabi Muhammad adalah makan pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Nabi Muhammad juga suka berpuasa.

Dalam hal makanan, ternyata sebagian penyakit itu berasal dari meja makan. Mengapa? Dahulunya mungkin penyumbang kematian terbesar adalah penyakit berbahaya seperti malaria, tipes, cacar, dan sebagainya. Sekarang, penyumbang kematian terbesar adalah penyakit jantung, kolesterol tinggi, asam urat, yang semuanya ini diperoleh di atas meja makan.

Rasulullah menganjurkan untuk tidak meniup makanan yang akan dimakan, sekalipun itu panas. Belakangan para dokter bersepakat betapa tidak bolehnya meniup makanan. Rahasia kesehatan Rasulullah juga adalah dalam hal pengobatan secara alami (herba). Nabi Muhammad juga suka berolahraga. Misalkan dalam hal ini, Rasulullah jika pergi ke masjid, jalur yang digunakan untuk pergi ke masjid berbeda dengan jalur ketika beliau pulang dari masjid.

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Rasulullah pernah menantang seorang pegulat tradisional Arab (mungkin seperti sumo) yang pegulat tersebut begitu kelewat sombong dan sering berkata-kata bahwa tak ada lagi yang bisa mengalahkannya di atas bumi ini. Pegulat tersebut badannya besar dan tinggi, sedangkan Rasulullah tidak sebesar pegulat tersebut. Begitu adu tanding dengan Rasulullah, hanya dengan beberapa gerakan, maka pegulat tersebut kalah (KO) pada pertandingan itu, padahal Rasulullah tidak sebesar pegulat tersebut, tetapi Rasulullah memang sehat. Di dalam hadits juga disebutkan, bahwa badannya Rasulullah itu padat, tidak gemuk, namun tidak juga kurus. Kukunya tergunting rapat, jenggotnya tercukur rapi, pokoknya tipe ideal pada waktu itu, dan juga parasnya tidak termakan usia.

Karena itu, kesehatan begitu pentingnya. Hampir tidak ada dalam setiap riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah itu sakit gigi. Rahasianya adalah Rasulullah selalu bersiwak. Jadi, sehatnya Rasulullah itu karena ia rajin berolahraga, selalu menjaga makanan, sering berpuasa, dan juga mencegah kemungkinan-kemungkinan adanya penyakit.

Keenam, adalah kerohanian.

Percuma pencapaian-pencapaian yang telah kita raih, jika tidak ada kebahagiaan rohani. Begitu nikmatnya setelah menyelesaikan ibadah, dan begitu tidak nikmatnya setelah melakukan dosa. Bagi orang yang masih memiliki iman, jika setelah melakukan dosa, maka ia akan merasa begitu berat dan menyesal. Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki keimanan, maka setelah melakukan dosa itu ia tidak memiliki beban sama sekali. Orang yang tidak memiliki penyesalan setelah melakukan dosa, maka orang seperti inilah yang telah dikunci pintu ketenteraman hatinya oleh Allah.

Firman Allah:

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. Al-Baqarah: 7)

Ketujuh, berkomunikasi di dalam masyarakat.

Walaupun seseorang memiliki kepribadian yang bagus, keluarga yang bahagia, begitu juga karir, keuangan, kesehatan, dan kerohanian yang bagus, tapi terisolasi di dalam masyarakat, maka ini juga merupakan penderitaan tersendiri. Fitrahnya manusia adalah ingin mencintai orang banyak dan ingin dicintai orang banyak.

Komunitas sosial begitu pentingnya karena adalah sarana untuk beramal shaleh. Tidak mungkin seseorang bisa masuk surga hanya dengan bermodalkan keshalehan individu, tapi akan bisa masuk surga jika keshalehan individu dan keshalehan sosialnya berbanding lurus.

Firman Allah:

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr: 3)

Jadi, yang memasukkan seseorang itu ke dalam surga bukan hanya keimanannya (amanu), tapi juga amal shalehnya (wa amilush shalihati), yang amal shalehnya itu dapat dirasakan oleh orang lain. Sebaliknya, hanya dengan bermodalkan amal shaleh pun juga tidak akan memasukkan orang ke dalam surga jika ia tidak beriman. Jadi, memang antara keimanan dan amal shaleh itu harus seimbang dan berbanding lurus.

Kedelapan, kemampuan pembelajaran.

Menuntut ilmu juga merupakan suatu kepuasan tersendiri. Sekalipun semua hal di atas terpenuhi, tapi jika ilmu kita kosong, maka segala pencapaian yang kita raih juga tidak ada artinya apa-apa. Di dalam Islam selalu diingatkan akan hal ini, bahwa menuntut ilmu itu tak ada henti-hentinya sepanjang hayat kita. Bahkan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah adalah pesan mengenai pentingnya menuntut ilmu (iqra’ bismirabbika)

Kesuksesan kita terukur dari satu hingga delapan ini. Inilah perbedaannya dengan orang-orang sekuler. Mereka tidak perlu kerohanian, tidak ada urusan mereka akan kepribadian yang utuh, dan mereka juga tidak mementingkan untuk berkomunikasi di dalam masyarakat. Karena itulah, individualisme begitu dominan di negara-negara barat (negara yang berfaham sekuler). Tak perlu bagi mereka untuk saling mengenal dengan tetangga. Tetapi di dalam Islam, hubungan baik kita dengan masyarakat sekitar sangat perlu untuk dijaga.

Jadi, inilah delapan bidang kesuksesan di dalam hidup kita: kepribadian yang utuh, keluarga yang sakinah, karir yang terus meningkat, keuangan yang stabil, kesehatan yang prima, kerohanian yang tangguh, komunitas sosial yang ideal, dan juga kemampuan pembelajaran yang senantiasa kita pertahankan. Jika semuanya kita miliki, maka itulah pilihan-pilihan Allah untuk kita di dunia, dan insya Allah kita juga akan berbahagia di akhirat. [4An]

16 Juni 2008 at 3:43 AM 2 komentar

Makna Qana’ah

MAKNA QANA’AH

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 7 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada suatu ungkapan:

Idra’ ilallahi laa tadra’ ilannaas waqna’ bi ahsin fa innal ‘izza laa finnaas.

“Rendah dirilah kalian kepada Allah, dan jangan rendah diri kepada manusia. Merasa cukuplah kamu dengan tanpa berharap kepada manusia, karena kemuliaan itu tidak dengan berharap kepada manusia.”

Yang dimaksudkan di sini bukanlah untuk memutuskan tali silaturahim, tapi yang dimaksudkan adalah untuk tidak mengandalkan jalan hidup hanya kepada manusia dan melepaskan diri dengan Tuhan.

Rendah diri yang paling bagus itu adalah rendah diri yang ditujukan kepada Allah SWT, bukan mempertuhankan manusia, walau sehebat apapun manusia tersebut.

Wastaghni ankullizi qurban wa dirahmi. Innal ghaniyu manistaghna ‘aninnaas.

“Merasa cukuplah kamu dari setiap kerabat dan sanak saudara. Sesungguhnya orang kaya itu adalah orang yang tidak bergantung kepada manusia.”

Jadi, dalam hal ini ada kemandirian. Kalau ada orang yang nasibnya selalu digantungkan kepada orang lain dan sama sekali menafikan peran Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa, maka seluruh jalan pikirannya adalah bagaimana menarik simpati orang itu tapi tidak lagi bagaimana khusyu’ terhadap Allah SWT.

Tanda-tanda bagi orang yang sangat mencintai dunia, yaitu:

Orang yang mencintai dunia, melampaui cintainya kepada Tuhannya, maka orang ini sulit untuk memperoleh ketenangan.

Orang yang betul-betul mencintai Tuhannya, tidak mensyarikatkan Tuhan dengan makhluk apapun, maka orang itu nantinya akan mengalahkan seluruh kepentingan-kepentingan untuk isi dunia ini demi untuk Tuhannya.

Ciri-ciri orang yang masih mencintai dunia, maka lihatlah dalam kesehariannya. Apakah energi yang kita gunakan selama dalam satu hari lebih banyak untuk dunia atau untuk Tuhan? Kemungkinan kebanyakan kita lebih memfokuskan energi untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Paling yang kita gunakan untuk mengingat Tuhan itu hanya sedikit waktu saja. Dan ini adalah hal yang manusiawi.

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa cinta kepada Tuhan sudah tidak lagi menjadi faktor pengikat yang luar biasa.

Kesehariannya mungkin bisa saja adalah bekerja, dan hal-hal duniawi lainnya, namun semua ingatannya selalu tertuju kepada Tuhan. Semua pekerjaannya selalu lillahi ta’ala, meskipun pada saat yang bersamaan menyelesaikan urusan pekerjaannya. Sehingga, jika bertabrakan antara waktu kerja dengan waktu ibadah, maka apapun yang terjadi, ia akan menghentikan pekerjaannya itu.

Yang harus menjadi fokus utama kita adalah pengabdian kepada Allah, sedangkan yang lainnya hanyalah sebagai pendukung. Kecuali jika dalam keadaan darurat, misalkan ketika sedang shalat, kita melihat anak kita yang masih kecil merangkak keluar rumah yang kemungkinan akan terjatuh jika dibiarkan. Maka dalam hal ini alangkah lebih baiknya kita batalkan shalat dahulu, kemudian menyelamatkan anak tersebut. Setelah anak itu dirasa aman, barulah kita melakukan shalat lagi. Dalam keadaan darurat seperti ini, jika kita tetap melakukan shalat dengan mengabaikan anak tersebut sehingga ia terjatuh misalkan, maka kita dikatakan sebagai al-ghulu, yaitu beragama secara fanatik buta dan berlebih-lebihan.

Apakah sebenarnya darurat itu?

Dalam Islam ada tiga kepentingan. Pertama, kepentingan darurat (daruriyah). Kedua, kepentingan mendesak (hajjiyah). Dan ketiga, kepentingan sekunder (tahsiniyah).

Dalam hal ini, kita harus bisa memilah antara kepentingan tersebut jika berhubungan dengan ibadah atau perintah agama lainnya.

Ada kaidah: dar-ul mafasidu muqaddamul ‘ala jaddul mas’alih (menolak bahaya itu lebih utama daripada melakukan sesuatu yang bermanfaat).

Seorang muslim yang baik adalah seorang yang mempunyai kriteria dan sudah mampu menjalankan kriteria itu dengan baik, mampu memilah kebutuhannya sendiri. Kemampuan kita untuk membuat perhitungan-perhitungan dan kalkulasi-kalkulasi kebutuhan, maka inilah yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali di sini. Orang yang menginginkan di luar daripada kebutuhan daruriyatnya, maka orang tersebut sudah cukup. Apalagi kebutuhan tahsiniyatnya sudah terpenuhi, maka ini adalah lebih dari cukup. Kalau masih menginginkan lagi, maka ini biasanya lebih mengarah pada dosa. Orang seperti ini biasanya tak pernah puas akan kebutuhannya.

Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa orang yang miskin itu hakikatnya adalah orang yang tak pernah merasa puas. Sedangkan orang yang kaya hakikatnya adalah orang yang merasa qana’ah.

Al-Ghina ghinan nafs (Orang yang paling banyak kebutuhannya, maka itulah orang miskin. Sedangkan orang yang tidak banyak kebutuhannya, maka itulah orang kaya).

Dalam definisi tasawuf, orang yang paling banyak kebutuhannya sesungguhnya adalah orang miskin. Sedangkan jika orang itu sudah tak banyak lagi kebutuhannya, maka sesungguhnya orang tersebut sudah menjadi orang kaya.

Menurut Abul Qasim Al-Junaidi, Ibrahim bin Ahmad, Al-Khawash, dan kebanyakan ulama berpendapat, bahwa keutamaan fakir melebihi kaya.

Ada orang yang mengatakan, bahwa baginya yang telah dimilikinya tersebut sudah lebih cukup ketimbang Tuhan memberikan kekayaan yang lebih dari itu.

Jadi ternyata, tidak semua doa orang itu sama. Ada orang yang selalu berdoa menginginkan kekayaan. Tapi ada juga orang yang tidak mau meminta kekayaan, ia takut nantinya jangan-jangan kekayaannya itu akan memisahkan dirinya dengan Tuhan. Ini menyangkut sesuatu yang sangat mendasar, karena menyangkut pandangan hidup kita.

Menurut Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Atha’, bahwa orang kaya yang bersyukur itu lebih utama daripada orang fakir yang bersabar.

Diriwayatkan dari Rasulullah, bahwa ketika itu para fakir (golongan pekerja) mengadu kepada Rasulullah mengenai orang-orang kaya yang menjadi saudagar mereka yang memiliki banyak keutamaan. Mereka orang-orang fakir itu menanyakan, “Ya Rasulullah, kami juga ingin seperti yang Rasulullah gambarkan itu, yaitu orang kaya menyumbang dan sebagainya, tapi kami tak bisa menyumbang, karena tak memiliki harta.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah, “Maukah kalian jika aku beritahukan rahasianya, jika kalian mengamalkan ini, pasti di surga akan lebih mulia daripada orang-orang kaya itu?”

Lalu para orang faqir itu mengatakan, bahwa mereka mau diberitahu rahasia yang ditawarkan oleh Rasulullah itu. Rasulullah pun mengatakan rahasia tersebut, bahwa siapapun yang membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu akbar 33 kali setiap usai shalat fardhu, maka pahalanya nanti akan lebih hebat daripada pahalanya orang kaya yang memberi shadaqah.

Setelah diberitahu hal ini, para orang fakir (para pekerja) itu asyik berzikir setelah selesai shalat fardhu. Sehingga kemudian, para saudagar yang mempekerjakan para pekerja tersebut heran dengan kelakuan para pekerjanya yang seharusnya langsung bekerja setelah selesai shalat, tapi kini mereka (para pekerja) itu asyik dengan zikir mereka di masjid. Belakangan setelah mengetahui hal yang dilakukan para pekerjanya itu, para pemilik modal ini kemudian melakukan hal yang sama. Bahkan lebih asyik lagi dibandingkan dengan para pekerjanya, karena mereka (para pemilik modal itu) tidak harus bekerja membanting tulang seperti halnya para pekerja mereka.

Kemudian para orang fakir (para pekerja) mengajukan keberatan kepada Rasulullah, karena mereka tidak bisa lagi kompetitip dengan bos (saudagar) mereka.

Rasulullah kemudian menyatakan “zaalika fadhlullahi yu’tihimayyasya’” (yang demikian itu adalah anugerah Allah yang dianugerahkan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya).

Jadi, orang kaya yang shaleh yang suka bershadaqah merupakan pilihan Tuhan.

Hadits ini mengajarkan kita, bahwa lebih baik menjadi orang kaya yang bersyukur dibandingkan menjadi orang fakir yang sabar.

Disebutkan juga pada riwayat tersebut, bahwa utusan orang fakir yang datang menghadap Rasulullah itu kemudian berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya orang-orang kaya dapat menjalankan kebaikan. Mereka menjalankan ibadah haji dan umrah, membantu orang sakit dengan harta. Yang semua itu merupakan simpanan amal bagi mereka. Sedangkan kami ini tidak mampu untuk menjalankan semua itu.”

Meskipun sudah dijawab oleh Rasulullah sebelumnya bahwa Allah memberikan keutamaan kepada orang kaya yang pemurah, tapi para orang fakir tersebut tak pernah putus asa, bahwa mereka juga ingin seperti orang-orang kaya tersebut. Orang miskin seperti inilah yang disukai oleh Allah SWT. Kemudian Rasulullah memberikan solusi. Setelah itu, para orang fakir tersebut menanyakan lagi hal yang hampir serupa. Kemudian dijawab oleh Allah seperti tersebut di dalam Al-Qur’an, bahwa yang membedakan kemudian, meskipun orang kaya membaca subhanallah, wal hamdulillah, wallahu akbar, tapi usahakanlah anda bisa lebih khusyu’ lagi dari orang-orang kaya itu sendiri. Menjadi orang miskin itu tidak selamanya akan terkalahkan oleh orang kaya, sekalipun orang kaya itu pemurah, Karena pada umumnya orang kaya itu sulit berkonsentrasi karena terlalu banyak memikirkan hartanya, apalagi misalkan jika manajemennya adalah manajemen tradisional.

Jadi, apabila orang kaya membaca subhanallah, walhamdulillah, wallahu akabar, dan orang fakir pun membaca seperti itu, niscaya orang kaya itu tidak disamakan dengan orang fakir, meskipun orang kaya itu mengeluarkan infaq kepadanya sepuluh ribu dirham dan ditambah juga dengan seluruh amal kebajikannya. Jika ada kesungguhan orang miskin ingin memperbaiki kualitas hidupnya di mata Allah, maka Allah akan memberikan pointnya lebih tinggi kepada orang miskin dibandingkan kepada orang kaya, walaupun sama-sama khusyu’. Tapi mengapa orang miskin bisa mendapatkan point lebih tinggi daripada orang kaya? Karena, jika orang kaya khusyu’, maka tidak ada masalah dengan keluarganya. Sedangkan bagi orang miskin yang khusyu’, bahwa di sisi lain mereka juga selanjutnya harus membanting tulang untuk menafkahi keluarganya.

Dalam hal ini, tidak perlu kita mempertajam jarak psikologis antara kaya dan miskin. Inilah ajaran agama yang sesungguhnya. Jika bahasa agama kita seperti ini, maka orang miskin tak perlu lagi mencurigai orang kaya. Dan orang kaya pun tidak usah merasa angkuh dan memandang enteng terhadap orang miskin. Kalau sudah seperti ini, berarti kemiskinan dan kekayaan itu kedua-duanya adalah pilihan.

Setelah mendengarkan hadits di atas, utusan kaum fakir itu kemudian kembali dan memberitahukan kepada orang-orang miskin lainnya, bahwa Rasulullah mengatakan, walaupun sama-sama berzikir, tetapi yang mendapat point lebih besar adalah orang miskin. Menurut Rasulullah, bahwa yang penting adalah yang paling ikhlash. Jika sama-sama ikhlash, maka manakah yang paling khusyu’ di antara keikhlasan tersebut. Karena itulah, kekayaan dan kemiskinan jangan dipertentangkan. Jangan memandang enteng si miskin karena miskinnya, karena siapa tahu kemiskinannya itu mengangkat derajatnya di hadapan Tuhan. Jangan pula kagum sekagum-kagumnya terhadap orang kaya, karena siapa tahu karena kekayaannya itu justru Tuhan jauh dengannya. Dengan demikian, kaya dan miskin itu di hadapan Allah mempunyai timbangan yang sama.

Tujuan akhir dari perjalanan dunia ini adalah mencintai Allah dan menjinakkan hati kepada-Nya.

Apakah kita mampu untuk menjinakkan jiwa kita? Sepanjang yang menjadi dominasi di dalam pikiran kita sehari-hari bukanlah Tuhan, maka itu merupakan pertanda bahwa masih ada yang kita cintai selain dari Tuhan. Ukurlah tingkat kualitas cinta kita terhadap Tuhan. Apakah yang lebih banyak menyita perhatian kita Selama 24 jam? Apakah Tuhan atau mungkin makhluk Tuhan? Sepanjang kita lebih mengedepankan ciptaan Tuhan, maka hal itu merupakan pertanda bahwa kita belum mencintai Tuhan secara proporsional dan ideal, meskipun hal ini belum tentu berdosa. Mencintai harta itu bukan dosa. Mencintai makhluk Tuhan itu bukan dosa. Yang berdosa adalah ketika pada saat mengambil dan mencintainya itu tidak menurut prosedur syar’i.

Tidak ada yang salah jika orang itu cinta kepada kemewahan, harta, dan sebagainya. Dalam hal ini, tidak ada yang salah jika mencita-citakan sesuatu yang baik semisal harta dan kemewahan. Yang salah adalah jika pada saat memperolehnya adalah dengan cara yang tidak dibenarkan oleh agama.

Tujuan itu tidak akan tercapai kecuali setelah mengenal kepada-Nya, dan tidak berpaling daripada-Nya. Kefakiran dan kekayaan itu kadang-kadang termasuk di antara hal-hal yang dapat memalingkan daripada-Nya.

Karena tidak dapat mencintai Allah sekaligus mencintai dunia, maka apa yang seharusnya kita lakukan?

Orang yang mencintai sesuatu itu selalu disibukkan dengan yang dicintainya. Baik pada waktu ia berpisah dengannya, maupun pada saat ia bersama dengannya. Kelebihan dari mencintai Tuhan adalah bahwa Tuhan akan selalu menemani kita kapan dan di manapun. Kelemahan dari mencintai dunia bahwa berangsur-angsur kita ditinggalkan oleh yang kita cintai itu.

Dunia itu mengasyikkan bagi orang-orang yang lalai. Orang yang terhalang dari dunia itu disibukkan untuk mencarinya. Dan orang-orang yang mampu atas dunia itu disibukkan dengan memeliharanya dan bersenang-senang.

Mencintai Tuhan itu takkan pernah membuat seseorang rugi, baik di dunia, maupun di akhirat. Jika kita mencintai Tuhan dengan semaksimal mungkin, maka kita tak perlu takut tidak mendapatkan jodoh misalkan. Karena kekasih kita yang paling puncak sudah kita miliki. Mau meminta apalagi jika ternyata kita sudah memiliki yang menciptanya. Ini merupakan hiburan bagi yang belum mendapatkan jodoh. Jika masih ada semacam perasaan gelisah karena belum mendapatkan jodoh, maka hal itu menandakan bahwa cintanya terhadap Tuhan belumlah maksimal. Jika orang itu benar-benar mencintai Tuhan, maka yang lainnya itu hanyalah mengikuti.

Jika ingin dipuji orang, maka tinggalkan orang, dapatkan Tuhannya. Karena jika orang tersebut dikejar-kejar, maka orang tersebut akan semakin jauh. Tapi jika kita mengejar Tuhannya, maka nantinya akan ada cahaya batin (inner beauty) yang muncul.

Inilah berkahnya dekat dengan Tuhan. Ketika kita mengejar-ngejar sesuatu itu, maka hal itu akan semakin jauh. Tapi begitu kita lepaskan semuanya dan dekat dengan Tuhan, malahan semuanya akan berdatangan.

Janganlah menyedot energi mencintai makhluk Tuhan, karena makhluk itu akan semakin liar dan semakin jauh. Pusatkanlah perhatian untuk merangkul Tuhan Sang Pencipta semuanya, maka yang lainnya insya Allah akan mengikuti. Ini adalah rahasia sufistik. Jika kita mencintai Tuhan, maka otomatis yang lainnya juga akan mencintai kita, karena di sini kita menjadi magnet. Dan keuntungannya begitu banyak jika kita mencintai Tuhan. Kalau mencintai puncaknya (yaitu Tuhan), maka kita akan selalu tenang. Namun jika yang kita cintai adalah makhluknya (harta, manusia, dan sebagainya), maka Tuhannya lepas, sedangkan hartanya belum tentu didapat.

Sabda Rasulullah: Laisal ghina an kasratil ‘arad innamal ghina ghinan nafs (Tidaklah kaya itu dari banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya jiwa). [H.R. Muttafaqun 'Alaih]

Jiwa yang kaya adalah lebih penting daripada memiliki harta yang banyak. Tetapi, sering kali menjadi prasyarat untuk memiliki jiwa yang kaya itu adalah terpenuhinya basic need kita. Bagaimana mungkin bisa hidup tenang, jika kebutuhan pokok kita tidak ada.

Menurut teori Maslow (terlepas dari berbagai macam kritik atas teori ini), bahwa tak mungkin orang bisa memelihara keamanan dirinya sendiri jika basic neednya tidak terpenuhi.

Hanya orang yang kenyang yang bisa memperhitungkan keamanan dirinya. Sebaliknya, jika tidak ada keamanan diri, tidak peduli nyawanyapun akan dipertaruhkan.

Setelah terpenuhinya basic need dan keamanan dirinya, biasanya orang seperti ini perlu bersosialisasi di masyarakat. Karena ada kepuasan tersendiri jika ia bisa berbuat sesuatu di masyarakat. Seseorang itu butuh dicintai, dan juga butuh mencintai. Jangan dikira bahwa kebutuhan kita itu hanya untuk dicintai. Tetapi kebutuhan untuk mencintai juga ada. Caranya adalah dengan bersosialisasi di masyarakat. Hal ini baru bisa dipikirkan jika anak tangga pertama (basic need) dan anak tangga kedua (keamanan) terpenuhi.

Setelah itu kemudian juga dibutuhkan aktualisasi diri. Ia tidak mempedulikan berapapun biaya yang harus dikeluarkan. Ia tidak mempedulikan hal ini, asalkan ia mendapatkan kepuasan diri dengan bisa mengaktualisasikan dirinya di dalam masyarakat.

Kelemahan teori ini adalah tidak berlaku bagi orang yang beriman. Bagi orang yang beriman, setinggi apapun tingkatan sosial mereka, maka ia akan tetap dekat dengan Tuhan, tetap sujud di atas tempat yang paling rendah.

Inilah hebatnya menjadi orang yang beriman. Bagi yang kaya maka tak akan merasa kaya, sedangkan yang miskin maka tak akan merasa terhina.

Hal ini membuktikan, bahwa Teori Maslow itu hanya cocok bagi orang yang tidak beriman. Dengan demikian, beruntunglah kita karena memiliki iman. Orang yang beriman itu panjang umurnya. Mengapa? Karena stressnya kurang. Kalau mau memperpanjang umur, maka kuatkanlah iman. Karena itulah, orang yang beriman itu adalah iman-aman-amanah. Iman itu Bahasa Arab artinya aman. Aman itu artinya iman. Orang yang aman pasti punya iman. Dan orang yang beriman pasti amanah. Mu’minun artinya adalah orang yang merasa aman. Mu’minun asalnya berarti orang yang beriman. Jadi, orang yang beriman itu adalah orang yang merasa aman. Adakah iman di hati kita? Rasakanlah ketenangan itu. Jika hati ini tidak tenang, maka kemungkinan kita tidak beriman.

Orang yang beriman adalah orang yang selalu merasa aman walau apapun yang akan terjadi pada dirinya. Inilah saya, inilah garisan tangan saya.

Kita kembalikan semuanya kepada Tuhan, Innalillahi wa inna ilayhi raji’un.

Dalam hal ini, innalillahi … mestinya bukanlah ucapan yang dialamatkan untuk kesedihan, melainkan sebetulnya dialamatkan untuk kebahagiaan. Jika ada keluarga kita yang meninggal, maka kita mengucapkan innalillahi … yang berarti kita harus berbahagia, jangan bersedih. []

16 Juni 2008 at 3:38 AM 2 komentar

Ayat-Ayat Fitnah

AYAT-AYAT FITNAH

Disarikan dari Kuliah Dhuha

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Quraish Shihab

pada tanggal 4 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada saat ini, tidak sedikit kesalah-pahaman tentang ajaran Islam. Bukan saja oleh Non-Muslim, bahkan Muslim-pun sering kali salah paham mengenai ajaran Islam. Beberapa bulan yang lalu, seperti kita ketahui telah tersebar film berjudul “Fitna”. Berbagai macam reaksi ditunjukkan oleh kaum muslimin menanggapi film ini. Al-Qur’an memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad berkaitan dengan sikap orang yang tidak senang kepada Islam (sikap kaum musyrikin yang melecehkan Islam). “Jika orang musyrik mengganggu kamu, maka ambil yang mudah, jangan persulit.”

Ayat ini seakan-akan berpesan, bahwa jangan menanyakan suatu persoalan yang pintar kepada orang yang bodoh. Jangan meminta sesuatu yang baik kepada orang yang jahat. Terhadap orang yang membenci kita, maka jangan berharap orang tersebut akan mencintai kita. Karena setiap bejana hanya bisa mengeluarkan apa yang ada di dalam bejana tersebut.

Mari kita jangan salah paham dengan ajaran agama kita. Sekaligus mari kita mengikuti tuntunan Allah yang berkaitan dengan pelecehan terhadap agama Islam. Jangan kita mengira, bahwa pelecehan ini adalah yang terakhir. Allah berfirman:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Q.S. Ali Imran: 186)

Dulu kita pernah mendengar Ayat-Ayat Setan oleh Salman Rusdi. Kemudian juga ada karikatur Nabi Muhammad. Dan belakangan ini adalah film “Fitna”. Ini yang populer, sedangkan yang tidak populer mungkin lebih banyak dari ini. Berkaitan dengan Film “Fitna”, sebenarnya bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang disebutkan di dalam film ini? Kemudian, bagaimana tuntunan Tuhan jika hal seperti ini terjadi lagi? Ada beberapa ayat Al-Qur’an di dalam film “Fitna” ini yang akan kita cermati.

Sebenarnya apakah yang dimaksud produser film ini dengan kata “fitna”? Apalagi ini juga di dalam Bahasa Belanda. Di dalam agama, terkadang apa yang ada di dalam hati yang ingin kita sembunyikan, tetapi apa yang hendak kita sembunyikan itu tiba-tiba muncul di mulut tanpa kita sadari.

Berkaitan dengan Film “Fitna” ini, sebenarnya orang ini (pembuat Film “Fitna”) mau memfitnah Islam, tapi Tuhan ingin menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya. Maka ia pun membuat film “Fitna” ini, yang di film tersebut semuanya berisi fitnah. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, bahwa suatu hari nanti kulit, tangan, dan semua organ tubuh kita akan bisa bicara. Lalu kita berkata kepada organ tubuh kita itu, “Mengapa kami bicara? Siapa yang menjadikan kamu bisa bicara?” Lalu dijawablah oleh organ tubuh kita itu, “Allah yang menjadikan saya bisa bicara.” Jadi, apa yang tersembunyi di dalam hati kita, itu nantinya akan berbicara dan bersaksi.

Ayat Pertama (pada Film “Fitna”):

Ditayangkan di film tersebut, yang di situ ada ayat Al-Qur’an yang mungkin dibaca oleh seorang Qari’ Internasional. Semuanya dibaca, tapi ada yang dipotong. Contoh dari yang ditayangkan di film tersebut adalah ayat sebagai berikut:

Kalau kamu bertemu dengan orang-orang kafir, maka penggal batang lehernya, sampai kalau sudah terjadi mandi darah, ikat dia …. (Q.S. Muhammad: 4)

Kemudian setelah ayat itu dibacakan, ditayangkanlah lima orang berdiri memakai baju hitam, lalu ada satu orang memakai baju merah, yang kemudian orang yang pakai baju merah ini dipenggal batang lehernya oleh lima orang berpakaian merah. Itulah Islam, menurut film tersebut. Apakah ini fitnah?

Ayat ini sebenarnya tidak berbicara mengenai setiap orang kafir yang kita temui, melainkan ayat ini berbicara mengenai orang-orang kafir yang memusuhi (yang memerangi) Islam. Sehingga secara harfiah, ayat ini sebenarnya menyatakan “kalau kamu bertemu dengan orang-orang kafir itu dalam peperangan ….”

Dulu (dan mungkin sampai sekarang), ada orang-orang yang menyiksa ketika membunuh. Al-Qur’an menginginkan, kalaupun kamu berperang dan mesti membunuh, maka bunuhlah dia secepat mungkin supaya tidak tersiksa. Yang ini hanya bisa dilakukan dengan memenggal kepala, sampai mereka lumpuh tidak bisa bergerak. Kalau ketika berperang, mereka ini sudah tidak bisa berperang lagi, maka ikat mereka. Dulu, kalau berperang memang pasti ada yang mati. Tapi kalau sekarang, bisa saja terjadi suatu peperangan namun tidak banyak yang mati, atau boleh jadi tidak mati, melainkan langsung kalah, misalkan dengan memutus jalur logistik.

Pada masa Rasulullah, kaum Muslimin pernah berperang dengan orang Yahudi Bani Quraizah. Orang Yahudi tersebut kemudian kalah, lalu ditawan dan diikat. Mengapa diikat? Karena dulu tidak ada rumah tahanan. Biasanya tahanan ini dititipkan di rumah sahabat Rasulullah. Tawanan ini ditahan, karena kalau ia kembali, maka ia bisa menyerbu kembali. Pernah Rasulullah menitipkan satu tawanan pada Sayyidina Ali. Kemudian turun ayat, memuji Sayyidina Ali, memuji peraturan yang diberlakukannya. Ayat tersebut berbunyi:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Q.S. Al-Insan: 8)

Waktu Rasulullah menahan kelompok Bani Quraizah, mereka ini diikat di tengah panas terik matahari. Nabi berkata, “Jangan kumpulkan dua kepanasan terhadap mereka, yaitu panasnya mereka kalah dan panasnya terik matahari. Biarkan mereka beristirahat.”

Hal-hal seperti inilah (keagungan ajaran Islam) yang telah disembunyikan. Pada ayat tersebut, ia (pembuat film “Fitna”) tidak membaca lanjutan ayatnya, yaitu:

… Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti …. (Q.S. Muhammad: 4)

Rasulullah berkata kepada para tawanan perang, “Jika kamu (tawanan) mau bebas, maka ajarlah orang Islam untuk baca-tulis.” Tidak ada dikatakan untuk membunuh mereka (tawanan). Justru kalimat seperti ini tidak dibaca, karena hal ini adalah keistimewaan Al-Qur’an (dan juga Islam).

Ayat kedua (pada Film “Fitna”):

… Itu orang-orang kafir, setiap kulit mereka hangus terbakar, Allah akan mengganti kulit baru, supaya dibakar lagi, sehingga dia tidak pernah terhenti dari siksa …. (Q.S. An-Nisaa: 56)

Tujuan disitirnya ayat ini sepertinya adalah untuk menggambarkan, bahwa penyiksaan terhadap orang kafir adalah penyiksaan yang tiada hentinya. Kalau perlu bakar dia (orang kafir) itu sampai kulitnya hangus. Habis dibakar, kemudian sembuh, lalu setelah itu diganti lagi.

Di sini ingin digambarkan, bahwa Islam kejam, karena Tuhannya memang kejam. Itulah sebabnya, di antara mereka ini ada yang mengatakan, bahwa yang teroris itu bukan Umat Islam, melainkan yang teroris adalah Al-Qur’an. Jadi yang salah itu bukan Islam, melainkan adalah Al-Qur’an. Dia ingin menggambarkan, bahwa Islam itu “teror”, Islam itu “kejam”, karena Tuhannya “kejam”.

Ayat di atas (yang ditampilkan pada film tersebut) sebenarnya berbicara mengenai siksaan di hari kiamat. Kalau nantinya di akhirat kita memperoleh surga, maka itu tak lain adalah anugerah Allah, bukan karena amalan manusia. Shalat dilakukan adalah untuk kepentingan kita. Kita berzakat adalah untuk kepentingan kita yaitu misalkan agar harta kita tidak dirampok dan harta tersebut menjadi berkah, serta kita juga disenangi oleh orang. Jadi tidak usah lagi mengharap sesuatu di akhirat. Kalaupun kita mendapatkan sesuatu di akhirat, itu merupakan anugerah dari Allah.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada satu orang pun di antara kamu yang masuk surga karena amalnya.” Kemudian ditanya oleh sahabat, “Kamu juga tidak masuk surga karena amalmu?” Dijawab oleh Rasulullah, “Kecuali kalau Allah menganugerahkan (melimpahkan) rahmat-Nya kepadaku.

Apakah hanya Islam yang mengancam dengan api neraka, atau agama lain juga sama, yaitu mengancam dengan api neraka? Nabi Isa pun yang kita kenal sebagai nabi yang penuh kasih sayang, juga mengancam dengan api neraka. Di dalam Perjanjian Baru tertulis jelas hal tersebut. Jadi bukan hanya Agama Islam.

Salah satu cara pendidikan adalah reward dan punishment. Dan salah satu cara pendidikan adalah ancaman. Bisa jadi karena rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, kemungkinan nanti neraka itu tidak ada. Bisa jadi neraka itu hanya ancaman. Itu sebabnya, dalam pandangan ahlussunnah wal jama’ah (Asy’ariyah), karena surga dan neraka itu hak prerogatif Allah, bisa saja Dia memasukkan orang yang berdosa ke surga. Ada orang-orang yang justru menjadi baik karena diancam. Jadi, janganlah pernah menyangka bahwa Allah itu kejam. Bersangka baiklah kepada Allah.

Ayat ketiga (pada Film “Fitna”):

Perangilah mereka sampai tidak ada penganiayaan, dan agama seluruhnya adalah milik Allah …. (Q.S. Al-Baqarah: 193)

Begitulah kira-kira terjemahan mereka. Mereka ingin mengatakan, bahwa Allah memerintahklan Rasulullah dan Umat Islam memerangi siapapun, sampai Agama Islam menguasai dunia. Di film “Fitna” digambarkan mengenai hal ini. Ada satu orang yang berpidato dengan mengacungkan pedang lalu berkata “Allahu akbar … Allahu akbar …,” dan kemudian berkata, “Islam harus menguasai dunia.”

Apakah memang Islam menghendaki tersebarnya agama dengan pedang? Tentunya tidak. Jadi, apa arti dari ayat ini, “Perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, tidak ada penganiayaan, dan agama seluruhnya tunduk kepada apa yang ditetapkan Allah.”

Kata “ad-din” memiliki banyak arti. Jika dikatakan “Maliki yaummiddin“, maka “ad-din” yang dimaksud artinya adalah pembalasan. Jika dikatakan “Al-yauma akmaltulakum dinakum,” maka “ad-din” yang dimaksud artinya adalah agama.

Ad-din” juga berarti kepatuhan. “Perangi orang yang memerangi kamu sampai tidak ada penganiayaan, dan kepatuhan hanya kepada Allah.” Bukan artinya “Agama Islam sampai tersebar”, melainkan “semua harus patuh kepada Allah”.

Berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah, di dalam Al-Qur’an disebutkan juga bahwa Allah melarang kita untuk menghancurkan rumah ibadah agama lain, dan juga melarang kita untuk mencaci berhala-berhala (sesembahan) agama lain. Dalam firman-Nya disebutkan:

Jangan memaki sembahan-sembahan mereka itu, karena kalau kamu memaki mereka, maka mereka akan balik memaki kamu …. (Q.S. Al-An’am: 108)

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan:

… Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

(Q.S. Al-Hajj: 40)

Jadi, merupakan tindakan yang salah jika ada Umat Islam yang menghancurkan rumah ibadah agama lain. Kalau begitu, apakah Allah memang mengizinkan manusia beragama selain agama Islam? Apakah Allah juga meridhai kekufuran? Dan apakah Allah mengizinkan kekufuran? Kalau Allah tidak mengizinkan, maka kekufuran itu tidak terjadi. Ada perbedaan antara “izin” dengan “restu”. “Restu” adalah izin plus suka. Sedangkan “izin” adalah mempersilakan, tapi tidak menyetujui.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai hal ini:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” …. (Q.S. Al-Kahfi: 29)

Dalam ayat yang lain disebutkan pula:

Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. Al-Kafirun: 6)

Jadi kalau kita membiarkan orang menganut agama yang ia pilih, apakah itu sesuai dengan kepatuhan kita kepada Allah? Ketika Allah berfirman “Lakum dinukum waliyyadin,” maka yang mau memilih agama dan kepercayaan yang ia anut, apakah itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak? Harus dibedakan antara “izin”, “kehendak”, atau “restu”. Apakah hal di atas merupakan kehendak Allah atau bukan? Apakah ada yang terjadi di bumi dan alam ini yang tidak sesuai dengan kehendak Allah? Tentunya tidak ada yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Tak dapat kita pungkiri, bahwa di bumi ini pasti ada kekufuran. Apakah Allah mengizinkan orang untuk berlaku kufur? Jadi dalam hal ini, kita tidak bisa mengancam seseorang bahwa ia harus masuk Islam. Adanya rumah ibadah agama lain apakah itu karena izin Allah? Ya, tentunya karena izin Allah, bukan hanya izin dari pemerintah. Kita tentunya harus patuh kepada Allah. Jika Allah mengizinkan hal-hal tersebut, kemudian kita mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak boleh, apakah kita dapat dikatakan patuh? Dalam hal ini berarti kita sudah tidak patuh kepada Allah.

Hal inilah yang dimaksud oleh ayat ketiga tersebut di atas. Yang penting jangan menganiaya orang. “Fitnah” itu di dalam Al-Qur’an artinya “menganiaya”.

… dan fitnah (menganiaya) itu lebih besar dosanya daripada membunuh. (Q.S. Al-Baqarah: 191)

Kembali kepada konteks ayat di atas, “Perangi mereka yang memerangi kamu sampai batas tidak ada lagi penganiayaan.”

Kemudian muncullah pertanyaan, apakah kita menganiaya saudara-saudara kita yang non muslim jika kita larang mereka beragama? Jika hal ini dilakukan, berarti kita sudah menganiaya mereka, kita tidak patuh kepada Allah. Jika kita menghalang-halangi dan menakut-nakuti orang untuk menjalankan agamanya berarti kita sudah menganiaya mereka.

Dalam hal ini, kepatuhan hanyalah kepada Allah. Berarti kita sudah patuh kepada Allah jika kita mengizinkan orang lain menganut agama dan kepercayaannya, walaupun itu berbeda dengan kepercayaan kita. Karena itu, kita harus memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk melaksanakan ajaran agamanya, melaksanakan kepercayaannya, tetapi dengan syarat bahwa dia tidak melakukan penganiayaan.

Oleh sebab itulah, pada Al-Baqarah: 193 ayatnya ditutup dengan:

… Kalau mereka sudah berhenti dalam penganiayaan, tidak ada permusuhan dari Allah kecuali terhadap orang yang berlaku aniaya. (Q.S. Al-Baqarah: 193)

Dalam hal ini, bagi Umat Islam, jika lawannya sudah berhenti melakukan aniaya, maka ia harus menghentikan perlawanan terhadap lawannya itu. Kalau Umat Islam masih melakukan perlawanan, atau mengutik-utik mengganggu lawannya itu, maka Allah akan marah kepada orang Islam, karena ketika itu ia telah berlaku aniaya.

Bagaimana petunjuk Al-Qur’an jika ada yang melecehkan Islam?

Jika hal ini terjadi, apakah mereka yang melecehkan Islam itu akan kita perangi? Dalam firman-Nya, Allah mengingatkan: “Kamu pasti akan diuji menyangkut harta kamu, menyangkut jiwa kamu. Kamu pasti akan mendengar dari orang-orang, sebagian dari orang Yahudi, sebagian dari orang Nasrani, sebagian dari orang yang tak beragama, gangguan yang banyak.

Petunjuknya dari lanjutan ayat tersebut, yaitu: “Kamu dituntut sabar dan bertakwa, karena itu adalah sesuatu amalan yang perlu ditekadkan, itu sesuatu yang sangat terpuji.

“Sabar” berarti menahan emosi atau menahan gejolak nafsu pada saat kita kuasa untuk melampiaskannya. Sedangkan “takwa” pada dasarnya adalah menghindar dari sesuatu yang buruk. Allah memerintahkan kita untuk mencari yang selamat.

Berkaitan dengan Film “Fitna”, tentunya kita harus pahami, mengapa mereka melecehkan Islam. Hal ini bisa dikarenakan mereka tidak tahu. Kalau mereka tidak tahu, kemudian kita beritahu, kemungkinan nantinya mereka tidak akan melecehkan. Kalau dia sudah tahu, tapi memang bermaksud untuk melecehkan, maka hati-hatilah, perhitungkan langkah kita.

Walaupun kita mampu, tapi kemudian akan berdampak buruk, maka jangan lakukan. Itulah arti sebenarnya dari “takwa”, hindari, perhitungkan langkah kita. Kalau kita menghindari, dan kita sudah sabar dalam arti sudah kuat, maka orang yang mau melecehkan itu akhirnya menjadi tidak berani melecehkan.

Mengapa ada orang yang berani melecehkan Islam? Karena mereka tidak takut. Mengapa ada negara yang takut diboikot ekonominya oleh Umat Islam? Dalam kasus ini Denmark sudah rugi besar setelah pemboikotan dari Umat Islam (berkaitan dengan kasus karikatur Nabi Muhammad). Padahal dalam hal ini kita (Umat Islam) tidak menganggu mereka. Kita hanya tidak mau membeli barang mereka.

Menurut petunjuk agama, jika ada yang melecehkan Islam, maka pergunakanlah langkah yang tepat untuk menghadapinya, yaitu kita harus benar, harus kuat, kemudian perhitungkanlah langkah tersebut, jangan sampai langkah itu membawa bencana untuk kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita membakar kedutaan negara lain, ataupun membakar benderanya, karena bukan mereka yang salah. Berkaitan dengan kasus Film “Fitna”, ini adalah kesalahan satu orang. Karena kalau kita merusak kedutaan negara lain atau membakar bendera negara tersebut misalkan, maka mereka pun bisa melakukan hal tersebut kepada kita.

Jadi, perhitungkan langkah kita, lihat apa yang paling maslahat. Ucapkan selamat tinggal, sambil menunggu, sehingga mungkin saja nantinya mereka akan insaf dan tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut. Kalau mereka masih terus melakukan hal tersebut, boleh jadi kemudian kita sudah kuat, sehingga dia tidak berani lagi untuk melakukan itu. Inilah petunjuk agama, yang sudah sepantasnya untuk kita jalankan.

Patut diingat, bahwa ini bukan yang terakhir. Allah yang berkata demikian. Karena itu, turun petunjuk-petunjuk-Nya. Dan ini adalah salah satu petunjuk yang harus menjadi pegangan untuk kita. Kita perkuat diri kita, ilmu, teknologi, ekonomi, persatuan dan kesatuan. Perkuat hal tersebut, sehingga jika ada orang yang ingin mengganggu, maka mereka tidak akan berani. [Aan]

13 Juni 2008 at 2:02 PM 2 komentar

Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman

TURUNNYA NABI ISA DI AKHIR ZAMAN

Disarikan dari Kuliah Dhuha

yang disampaikan oleh:

Dr. H. Zamiril Ali Husein, M.A.

pada tanggal 27 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasululah SAW, “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada pada-Nya, sesungguhnya suatu ketika kelak akan turut Isa bin Maryam AS. Isa bin Maryam itu akan berada di tengah-tengah kamu di akhir zaman nanti. Ia akan menjadi hakim yang seadil-adilnya. Dia akan menghancurkan salib-salib dan mengadili para rahib Nasrani. Kemudian dia akan membunuh babi-babi. Akan dihapuskan semua kemungkaran. Di situ orang-orang sudah tidak ada lagi yang menipu orang lain. Semua akan berkata jujur. Dan terjadilah kekayaan yang melimpah ruah, sehingga tidak seorang pun lagi nanti yang bersedia menerima pemberian orang lain.” (H.R. Imam Muslim)

Hadits ini kita angkat agar kita mengerti, bahwa Nabi Isa AS (rasul ke-24 menurut keyakinan umat Islam) akan turun di akhir zaman nanti, yang sejarah kelahirannya diceritakan oleh Allah SWT di dalam Q.S. Ali Imran ayat 59:

Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Q.S. Ali Imran: 59)

Selanjutnya pada Q.S. An-Nisaa ayat 157 disebutkan:

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. (Q.S. An-Nisaa ayat 157)

Bahkan ternyata di dalam Matius pasal 26 ayat 57 – 74, disebutkan bahwa yang disalib itu adalah Yudas Iskariot. Di dalam Injil juga diceritakan, bahwa pada malam gelap itu Yudas melaporkan, bahwa Al-Masih (Isa) yang menjadi Raja Dunia itu sudah ada di taman itu. Tapi ketika malam gelap tidak diketahui siapakah sebenarnya yang ditangkap. Kemudian diseretlah orang yang disangka sebagai Nabi Isa itu ke pengadilan.

Di dalam Injil – Matius ayat 27 – 31 disebutkan: Ketika diseret itu, maka ditanyailah Petrus, “Apakah kamu kenal dengan orang yang akan diadili ini?” Petrus mengatakan, bahwa ia tidak kenal. Kemudian Petrus ditanyai lagi, “Bukankah kamu pernah bersama dia sebagai muridnya?” lalu Petrus berkata, “Iya, tapi bukan dia.”

Maka pada waktu itu Petrus berkata, “Aku bersumpah dan berjanji, bahwa aku tidak kenal orang itu.” Ketika itu berkokoklah ayam.

Di dalam Injil – Matius pasal 26 ayat 47 – 56 juga disebutkan: Bahwa pada saat itu, Isa hilang pada malam tersebut. Beberapa hari kemudian ia baru muncul. Dan dia mengatakan, “Sesungguhnya aku bukan di kayu salib itu. Tetapi aku sudah dijanjikan oleh Allah akan terangkat dari diri kalian.”

Di Injil juga diterangkan, bahwa sesungguhnya Nabi Isa pergi meninggalkan murid-muridnya, sampai Nabi Isa tiba di pinggir Laut Tiberias, dan di sana kemudian Nabi Isa menghilang.

Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisaa ayat 158:

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisaa: 158)

Banyak terjadi perbedaan pendapat dalam hal ini. Misalkan aliran Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah) menganggap, bahwa yang akan lahir di kemudian hari itu bukanlah Isa, melainkan Mirza Ghulam Ahmad. Dan dialah (Mirza Ghulam Ahmad) yang dinamakan Al-Masih Al-Maw’ud. Dan beberapa waktu yang lalu di Indonesia juga ada pengakuan dari Ahmad Moshadeq, bahwa dialah (Ahmad Moshadeq) sebagai Al-Masih Al-Maw’ud. Aliran Syi’ah Ismailiyah dan Syi’ah Imamiyah menganggap, bahwa yang lahir itu nanti adalah Al-Mahdi (Imam Mahdi), bukanlah Al-Masih.

Dalam hal ini, hadits Rasulullah seperti tersebut di awal memberikan ketenangan kepada kita, agar kita tidak bermusuhan satu sama lain, dan kita akan hidup berdampingan dengan damai.

Patut kita ketahui, bahwa hingga hari ini, jiwa orang-orang tersebut penuh dengan keraguan dan kebimbangan.

Firman Allah pada Q.S. Ali Imran ayat 151:

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. (Q.S. Ali Imran: 151)

Menurut para ulama tafsir, bahwa peristiwa Nabi Isa (seperti juga ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an) adalah kelanjutan dari peristiwa Ashabul Kahfi.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi ayat 10-12:

(10) (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

(11) Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,

(12) Kemudian kami bangunkan mereka, agar kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).

(Q.S. Al-Kahfi: 10-12)

Menurut para ahli tafsir, ketika tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi itu masuk ke dalam goa, waktu itu mereka (pemuda Ashabul Kahfi) tertidur lama. Para ahli sejarah mengatakan, tertidurnya tujuh pemuda Ashabul Kahfi itu adalah selama 305 tahun (menurut perhitungan tahun matahari). Menurut para ahli tafsir, Nabi Isa pun kini sedang tertidur.

Rasulullah bersabda:

Ketika malam Isra’ dan Mi’raj, aku ditakdirkan oleh Allah dengan segala kekuasaan, mendapat perintah shalat. Lalu aku berhadapan dengan Allah. Ketika aku berkata, “Attahiyatul mubarakatush shalawatuth thayyibatulillah.” Allah menjawab, “Assalamu‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh.” Lalu aku berkata, “Assalamu‘alaina wa ‘ala ibadillahish shalihin.” Lalu Allah berfirman, “Asyhaduanlaailaaha illallah wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah.” Lalu Allah berfirman, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.” Lalu aku berkata, “Wa ‘ala ali Muhammad. Kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Kamaa barakta ‘ala Ibrahim, wa ‘ala ali Ibrahim. Fil alamina innaka hamidun majid.” (diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik,)

Jadi dalam dialog antara Rasulullah dengan Allah tersebut di atas, terlihat bahwa Rasulullah begitu mementingkan orang lain. Ketika Rasulullah selesai melaksanakan Isra’ Mi’raj, maka dia ditanya oleh para sahabat, “Apakah doamu kepada Allah, ya Rasulullah?” Dijawab oleh Rasulullah, “Doaku hanya meminta kepada Allah, Ya Allah tolong diringankan umatku, tidak seperti umat-umat terdahulu.”

Telah terbukti di dalam sejarah umat-umat terdahulu, misalkan umat Nabi Nuh, sedikit saja melakukan kesalahan, maka langsung diberikan bencana banjir yang begitu besar, begitu juga umat-umat nabi yang lainnya. Lihatlah di sekitar kita sekarang ini, betapa banyaknya kemaksiatan yang terjadi. Tapi Allah belum menurunkan bencana seperti halnya bencana yang ditimpakan kepada umat-umatnya para nabi sebelum Nabi Muhammad, yang hal ini dikarenakan doanya Nabi Muhammad. Karena itu, sudah selayaknya kita sebagai umat Nabi Muhammad untuk selalu bershalawat kepadanya. Hingga menjelang ajalnya pun, Rasulullah selalu mengatakan, “Ummatiummati … wahai umatku … wahai umatku.” Jadi, betapa Rasulullah begitu mencintai umatnya.

Kemudian lanjutan dari hadits riwayat Imam Muslim di atas adalah:

Nabi Muhammad berkata: “Isa bertemu kepada Umat Muhammad,”

Maksudnya mungkin Nabi Isa tidak turun di kalangan Umat Islam, tapi turun di kalangan Umat Nasrani, kemudian mengadili mereka (Umat Nasrani).

Selanjutnya, Nabi Muhammad berkata:

Akan senantiasa hingga ada Hari Kiamat, di mana Isa Alaihissalam itu pergi ke kalangan Umat Islam, lalu Nabi Isa dipersilakan untuk menjadi Imam oleh Umat Islam. Namun Isa menolak dengan dua tangan, katanya “Nabimu (Muhammad) adalah lebih mulia dari aku. Aku sebenarnya hanya mengikuti ajaran Muhammad. Dan aku membawa ajaran Muhammad ini di tengah-tengah umatku. Inilah yang paling benar hingga Hari Kiamat.”

Jadi, begitulah Umat Nabi Muhammad diberi kemuliaan oleh Allah. Karena itu, kita tidak usah ragu dan kita juga beristiqamah, karena Islam-lah agama yang paling benar. Dan juga kita tanamkan hal ini kepada anak-anak kita. Orang yang beristiqamah itu tidak akan pernah terombang-ambing.

Diceritakan dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah mengumpulkan para sahabat. Rasulullah berkata:

“Wahai para sahabatku, sesungguhnya di dekat hari-hari akhir nanti akan lahir di kalanganmu berbagai macam perbedaan pendapat. Di antara mereka ada yang akan menyesatkan kamu. Maka berpegang teguhlah kamu kepada Al-Qur’an dan Sunnahku. Dan gigitlah jubahmu itu dengan gerahammu, karena di kemudian hari nanti tidak sedikit orang yang akan menyesatkan kamu. Sekiranya kamu berpegang teguh kepada Allah dan Rasul, serta para ulama-ulama yang membawa kebenaran, maka selamatlah engkau hingga akhir hayatmu.”

Nanti malaikat akan turun dan berkata, “Tenang, serta jangan ragu dan bimbang. Sesungguhnya Allah akan memberikan pertolongan kepada orang yang beristiqamah.”

Istiqamah adalah menguatkan tekad dan pendirian. Karena itulah, dari sekarang kita berusaha untuk beristiqamah. Selain itu, anak-anak kita juga harus dididik untuk selalu beristiqamah.

Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 92:

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (Q.S. An-Nahl: 92)

Jadi menurut ayat ini, bahwa Umat Islam sudah kokoh, jangan mau diobrak-abrik dan dipecah-pecah. Sekarang kita ini sedang terpecah-pecah. Kekerasan terjadi di mana-mana hanya karena sedikit perbedaan pendapat. Ingat, kita ini adalah umat yang satu (ummatan wahidah). Apabila kekerasan terjadi, maka ingatlah firman Allah pada Q.S. Ali Imran ayat 159:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran: 159)

Apa yang telah disebutkan pada ayat di atas, maka begitulah seharusnya persaudaraan di antara sesama muslim.

Pada suatu hari, ada seseorang yang datang kepada Rasulullah. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, apa yang akan Tuan terangkan kepada kami?”

Nabi berkata, “Tahukah kamu, siapakah orang yang paling termiskin di akhirat kelak?”

Dijawab oleh orang itu, “Yang dikatakan orang yang paling miskin di dunia ini adalah orang yang tidak mempunyai harta, tidak mempunyai dinar, dan tidak mempunyai dirham.”

Rasulullah pun berkata, “Tidak, orang yang paling miskin di kalangan umatku adalah mereka yang datang di Hari Kiamat yang dia itu membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, akan tetapi dia itu selama hidupnya suka menganiaya orang. Pahalanya tersebut kemudian diserahkan kepada Allah, lalu Allah melelang pahalanya tersebut, lalu ditanyakan, siapakah orang yang pernah dianiaya oleh orang tersebut. Apabila orang-orang yang sudah dianiayainya itu datang, maka diberikanlah pahala shalat, puasa, dan zakatnya itu kepada orang yang pernah dianiayainya itu. Jika masih ada yang melapor, maka kejahatan orang yang pernah dianiayainya itu akan dipikulkan kepadanya. Jika masih ada lagi yang melapor, maka dia itu terpaksa dilemparkan ke neraka.” (Dari Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar, dan Abdullah ibn Mas’ud, dirawikan oleh Tarmizi, Nasa’i, Muslim, Darul Quthni, dan Ibnu Hibban)

Maksud dari hadits ini adalah agar kita berbuat baik kepada Allah (hablumminallah) dan berbuat baik kepada manusia (hablumminannas). Karena itu, sesama Umat Islam tidak boleh bermusuhan lebih daripada tiga hari. Karena itu saling bermaafanlah. Apabila bertemu sesama muslim, maka ucapkanlah “Assalamu’alaikum”. Karena itu pula, setelah shalat berjamaah, kita diajurkan untuk saling bersalaman. Jika kita diberikan kebaikan, maka doakanlah orang tersebut agar ia diberi pahala yang melimpah. Jika kita diberi keburukan, maka doakan juga, agar orang tersebut diberi kesadaran. Begitulah sikap yang dianjurkan kepada sesama Umat Islam. Rasululullah pernah bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antaramu hingga ia mencintai saudaranya bagaikan mencintai dirinya sendiri.”

Sabar sebagai pengendalian diri, dan shalat sebagai jalan untuk menuju kepada Allah. Sabar untuk pergaulan dengan sesama manusia, sedangkan shalat untuk pergaulan kita kepada Allah.

Apapun yang terjadi terhadap perselisihan pendapat tentang Nabi Isa, maka kita terima, bahwa perselisihan tersebut adalah sebagai suatu rahmat. [Navy]

13 Juni 2008 at 1:46 PM 12 komentar

Nasakh dan Mansukh

NASAKH DAN MANSUKH

Disarikan dari Pengajian Tarikh Tasyri

yang disampaikan oleh:

Dr. H.M. Masyhoeri M. Naim, M.A.

pada tanggal 24 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Tahap-tahap Perkembangan Tasyri Islam

Secara global, kronologis pertumbuhan dan perkembangan Tasyri’ Islam melalui enam tahap:

Tahap pertama, yaitu tahap pertumbuhan pertama kali ketika Islam dibawa dan diperkenalkan oleh Rasulullah SAW. Tahap ini berakhir hingga wafatnya Rasulullah SAW.

Tahap kedua, yaitu tahap pada kehidupan sahabat-sahabat besar. Tahap ini berakhir dengan berakhirnya masa kekhalifahan empat khulafaur rasyidin.

Tahap ketiga, yaitu tahap sahabat-sahabat kecil dan tabi’in-tabi’in besar. Tahap ini berakhir dengan wafatnya sahabat yang terakhir, yaitu Ibnu Thufail (pada tahun 101 setelah hijrahnya Rasulullah).

Tahap keempat, yaitu tahap ketika Ilmu Fiqh menjadi sebuah disiplin ilmu yang mandiri sebagaimana juga ilmu-ilmu yang lainnya.

Tahap kelima, adalah tahap ketika perkembangan Ilmu Fiqh itu mencapai puncak keemasannya. Tahap ini berakhir dengan berakhirnya kekhalifahan Abbasiyah dan masuknya tentara Mongol membumihanguskan kerajaan-kerajaan Islam.

Tahap keenam, adalah masa ketika Ilmu Fiqh mengalami keredupan (kejumudan) sampai hari ini.

Kajian kita kali ini masih berada pada sekitar tahap pertama. Secara umum, kajian kali ini terkait tentang sumber hukum Islam yang dijadikan pegangan orang-orang muslim ketika itu. Sumber hukum Islam yang dijadikan pegangan oleh orang-orang Islam di waktu itu, baik oleh Rasulullah maupun sahabat-sahabatnya, maka yang pertama dari sumber hukum Islam itu adalah Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah landasan utama bagi Agama Islam, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan Allah yang wajib untuk kita pegangi. Ada banyak ayat-ayat yang menyampaikan persoalan ini, begitu juga sabda Rasulullah.

Firman Allah pada Surat Al-Imran ayat 103:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imraan: 103)

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa kita diperintahkan untuk berpegang teguh kepada ketentuan-ketentuan Allah, dan kita jangan bercerai-berai dalam menyikapi ketentuan Allah itu.

Sabda Rasulullah:

Aku tinggalkan kepada kalian dua persoalan yang kalau kalian memegang dua hal ini, maka jaminan kalian tidak akan pernah tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku (petunjuk-petunjuk dariku).

Dua dalil di atas kiranya sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan, bahwa Al-Qur’an merupakan sesuatu yang tidak boleh tidak harus menjadi falsafah hidup dan pegangan kita dalam meniti kehidupan di dunia ini. Persoalannya, apakah di dalam Al-Qur’an itu semuanya layak dipegangi? Atau ternyata ada beberapa bagian di dalam Al-Qur’an yang ternyata oleh Allah dinyatakan tidak berlaku? Karena itulah kita perlu untuk mengetahui lebih dalam lagi, sehingga kita bisa lebih mengenali Al-Qur’an.

Berkaitan dengan hal tersebut, kajian-kajian seperti ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita lakukan, sehingga walaupun semangat kita untuk selalu memegangi Al-Qur’an tersebut adalah suatu keharusan, tetapi kita tidak terjebak oleh keadaan di mana kita memegangi sebuah kondisi atau ketentuan yang sudah disampaikan oleh Allah bahwa ketentuan tersebut sudah kadaluwarsa dan tidak bisa lagi dijadikan pegangan. Di dalam bahasa Fiqh hal ini disebut sebagai ayat-ayat yang mansukhah, yaitu ayat-ayat yang dianulir. Oleh karena itulah, kita perlu menyibak pengertian nasakh dan mansukh tersebut.

Nasakh dan Mansukh

Secara umum dari sisi etimologi, bahwa nasakh berarti mengangkat atau menghilangkan, di samping juga ada pengertian nasakh yang berarti menyalin (nasakh tu kitab = saya menyalin kitab). Tapi secara umum, terutama berkaitan dengan permasalahan ini, nasakh berarti mengubah, mengangkat, atau mengganti ketentuan yang ada. Sehingga, nasakh di dalam persepsi kajian Ilmu Fiqh adalah mengganti hukum-hukum yang sudah ada dengan hukum baru yang datang setelah itu. Karena itu, untuk mengetahui nasakh dan mansukh ini, maka harus diketahui mana ayat-ayat yang dianulir dan mana ayat-ayat yang ditetapkan untuk menggantikan posisi ayat yang pertama. Dalam hal ini, persyaratan yang menggantikan itu harus yang datang kemudian. Karena itulah, juga harus diketahui kapan ayat tersebut turun.

Pada prinsipnya, nyaris menjadi suatu kesepakatan seluruh Umat Islam sejak zaman Rasulullah hingga kini, bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang sudah kadaluwarsa (mansukh). Dalam hal ini, kecuali satu orang yang tidak menyetujui, yaitu Abu Muslim Al-Isfahani. Beliau ini menentang habis-habisan terjadinya nasakh dan mansukh di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, kalau ada suatu ayat, kemudian ayat tersebut dinyatakan kadaluwarsa, berarti ada hukum Allah yang memang tidak layak pakai. Dan Allah sangat mustahil menentukan sebuah ketentuan yang tidak layak pakai.

Seberapapun hujjah dalil yang disampaikan Abu Muslim Al-Isfahani, tetapi realita menjelaskan kepada kita, bahwa banyak ayat-ayat yang masa berlakunya sudah tidak lagi ditetapkan sebagai hukum Islam sejak Rasulullah masih ada. Nasakh dan mansukh ini bukanlah persoalan logika, bukan hasil dari pemikiran manusia, bukan pula hasil pemikiran sahabat, bahkan juga bukan hasil pemikiran Rasulullah, tetapi memang Allah lah yang menyampaikan bahwa suatu ayat tersebut hanya sampai ketika itulah berlakunya, kemudian diganti dengan ayat yang lain.

Persoalannya adalah, apakah gunanya nasakh dan mansukh ini? Apakah Allah itu sama dengan manusia, yang Dia tidak mengerti bahwa sekarang ini kondisinya begini, nantinya ketika kondisi tersebut berbeda, maka peraturan tersebut akan diganti? Padahal semua yang terjadi ini, bahkan sebelum alam ini terjadi, Allah sudah menentukan, bahwa nanti akan begini, dan nantinya lagi akan begini. Lantas mengapa Allah menentukan, seolah-olah Allah tidak mengetahui akan terjadi perubahan nantinya? Hal ini tentunya persoalan yang layak untuk kita cari jawabannya.

Hikmah terjadinya Nasakh dan Mansukh

Pada prinsipnya, hikmah atau manfaat dari terjadinya nasakh dan mansukh adalah justru semakin mengukuhkan kebesaran Allah dalam banyak hal, yaitu:

Yang pertama, mengukuhkan keberadaan Allah, bahwa Allah takkan pernah terikat dengan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan logika manusia. Sehingga jalan pikiran manusia takkan pernah bisa mengikat Allah SWT. Allah mampu melakukan apa saja, sekalipun menurut manusia hal tersebut tidak logis. Tetapi Allah akan menunjukkan, bahwa kehendak-Nya lah yang akan terjadi, bukan kehendak kita. Sehingga diharapkan dari keberadaan nasakh dan mansukh ini akan mampu meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, bahwa Dia-lah yang Maha Menentukan.

Yang kedua, dengan nasakh dan mansukh ini diharapkan pula kita akan mempunyai prediksi dan pengertian bahwa Allah itu memang adalah zat yang Maha Bijak, Maha Kasih, Maha Sayang, bahkan “arhamurrahimin“, yaitu lebih kasih daripada yang berhati kasih dan lebih sayang daripada siapa saja yang berhati sayang. Mengapa? Karena memang pada kenyataannya hukum-hukum nasakh dan mansukh tersebut semuanya demi untuk kemaslahatan dan kebaikan kita.

Dua poin ini layak untuk kita potret, kemudian kita tancapkan sedalam-dalamnya pada akidah kita. Sementara itu, untuk lebih memperkuat keimanan kita, juga terdapat hikmah lain dari keberadaan nasakh dan mansukh ini. Bahwasanya wajar bahwa sesuatu yang “makhluk” itu adalah “al-hadits“, yang itu berbeda dari “al-khaliq” yang adalah “al-qadim“. Sebab persepsi yang diajarkan kepada kita, bahwa Al-Khaliq yang sifatnya qadim artinya tidak akan pernah mengalami perubahan. Al-Qidam (Dia yang tak pernah ada awalnya), wal-abad (dan dia takkan pernah berakhir, takkan pernah terjadi perubahan), yang hal ini mulai dari dulu hingga sampai kapanpun tanpa diketahui awal dan akhirnya, itulah Allah. Berbeda dengan kita, yang asalnya tidak ada, kemudian ada, dan kemudian tidak ada lagi, yang ini semuanya melalui proses.

Di sinilah letak luar biasanya Allah dalam menentukan hukum ini, yaitu disesuaikan dengan kondisi manusia yang menjadi obyek hukum itu sendiri. Ketika seseorang berusia remaja, maka tentunya hukum yang diberlakukan kepadanya berbeda dengan ketika dia masih anak-anak. Untuk itulah, Allah menyesuaikan dengan hal tersebut. Hal ini bukan berarti Allah tidak mampu. Karena jika Allah menginginkan untuk menciptakan sesuatu maka Dia tidak akan repot-repot. Di dalam banyak ayat disebutkan, misalkan di ujung Surat Yasin:

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Q.S. Yaasin: 82)

Jangankan hitungan hari, jam, menit, ataupun detik, Allah tak memerlukan semua hitungan itu. Langsung Dia berkata maka akan langsung terjadilah apa yang diinginkan-Nya itu. Tetapi realita memberitahukan, bahwa Allah menciptakan bumi dan planet-planet ini melalui proses. Ada yang dikatakan enam hari, ada yang lebih dari itu. Hal ini berarti, bahwa Allah ingin menunjukkan kepada manusia, bahwasanya sesuatu itu harus berproses, walaupun Allah mampu melakukan tanpa melalui proses tersebut. Dalam hal ini, termasuk juga ketika Allah menciptakan suatu hukum yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Patut diingat, bahwa hukum yang membumi kepada manusia (hukum yang merakyat) adalah hukum yang komunikatif dengan rakyat yang diatur oleh hukum tersebut. Sedangkan hukum yang tidak merakyat, maka dapat dipastikan bahwa hukum tersebut tak akan pernah terealisasi dengan baik. Hukum yang baik adalah hukum yang secara kondisional menyesuaikan dan sesuai dengan kondisi yang diterapi hukum tersebut. Allah dalam hal ini mencontohkan hal-hal seperti berikut, bahwa perbedaan-perbedaan waktu yang pasti akan terjadi di dalam kehidupan ini. Kondisi di zaman sekarang tidak pernah sama dengan kondisi di zaman Rasulullah, sehingga memerlukan hal-hal yang baru. Inilah hikmah dari adanya perubahan-perubahan hukum sesuai dengan perubahan kondisi dan perubahan waktu. Karena itulah, nasakh dan mansukh merupakan bagian dari kebijakan Allah SWT yang layak untuk kita syukuri.

Kategori Nasakh

Secara umum, nasakh di dalam Al-Qur’an ada tiga kategori. Pertama, yaitu nasakh di mana ayatnya diubah dan hukumnya juga diubah. Maksudnya, secara tekstual ayat tersebut diganti, dan hukumnya juga diganti. Kedua, ayatnya diganti, tetapi hukumnya masih tetap berlaku. Ketiga, ayatnya masih ada di dalam Al-Qur’an, tetapi hukumnya kemudian dinyatakan sudah kadaluwarsa. Jenis ketiga ini yang paling banyak di dalam Al-Qur’an.

Contoh untuk kategori pertama (nasakh dalam sisi tekstual/ayatnya, sedangkan hukumnya masih berlaku), yaitu:

Menurut suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa ada satu ayat di Surah Al-Ahzab yang menyatakan, jika ada orang berzina, sedangkan orang tersebut sudah atau pernah menikah, maka orang tersebut harus dirajam. Ayat ini kemudian diangkat oleh Allah dan dihapus keberadaannya, sehingga tekstualnya menjadi tidak ada tapi hukumnya masih tetap berlaku. Mengapa bisa demikian? Karena diganti oleh ayat lain pada Surat An-Nuur ayat 2, yaitu:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nuur: 2)

Maksud ayat ini (An-Nuur: 2) adalah, bahwa jika ada yang berzina, maka hukumannya adalah dicambuk sebanyak 100 kali. Ini di antara hukum-hukum yang realitas terjadi, sehingga terlalu sulit untuk mengingkari adanya nasakh dan mansukh di dalam ayat tersebut. Ayatnya sudah tidak ada, tetapi hukumnya masih tetap diberlakukan oleh Rasulullah, bahkan hingga akhir zaman nanti.

Untuk kategori kedua, yaitu yang lafaz dan hukumnya dua-duanya dicabut. Contohnya adalah sebagai berikut:

Sayyidatuna Aisyah menyatakan, bahwa Rasulullah pernah mendiktekan ayat Al-Qur’an kepada mereka ketika itu, bahwa orang yang menyusui dan disusui akan mempunyai hubungan nasab sebagaimana ibu dan anak kandung minimal sepuluh kali. Tetapi ternyata ayat ini dicabut oleh Allah, termasuk juga hukumnya. Sebagai gantinya, sekali saja menyusui sepanjang itu sudah mengenyangkan, maka sudah dianggap memiliki hubungan nasab. Yang jelas hukum yang sepuluh kali itu dicabut.

Untuk kategori ketiga, yaitu hukumnya dinasakh sedangkan lafaznya tetap ada. Dan ini yang paling banyak terjadi di dalam ayat-ayat yang dinasakh itu. Contohnya adalah Al-Baqarah ayat 180:

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 180)

Ayat ini menyatakan, bahwa ketika mendekati kematian, maka kita harus membuat wasiat. Ternyata kemudian ayat ini dianulir oleh Allah, kemudian hukumnya diganti sebagaimana pada An-Nisaa ayat 11-12 disebutkan:

Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa`atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisaa: 11)

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari`at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (Q.S. An-Nisaa: 12)

An-Nisaa ayat 11-12 berbicara tentang pembagian warisan, tidak ada lagi kewajiban untuk berwasiat. Ketika meninggalkan dunia ini, maka harta-harta tesebut harus dibagi sesuai dengan ketentuan ayat 11-12 Surat An-Nisaa ini. [nAvY]


13 Juni 2008 at 1:34 PM 10 komentar

Tafsir Al-Hujurat Ayat 1 – 5

TAFSIR AL-HUJURAT AYAT 1 – 5

Disarikan dari Pengajian Tafsir

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. K.H. Umar Shihab, M.A.

pada tanggal 23 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Al-Hujuraat: 1

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Hujuraat: 1)

Sebagian besar ayat yang dimulai dengan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw” adalah Madaniyah, yaitu ayat yang diturunkan di Madinah. Ayat ini menyangkut keadaan dan kehidupan Rasulullah dan tata cara menghadapi Rasulullah.

Surah ini disebut Al-Hujuraat, asal katanya adalah “hujrah” yang berarti kamar. Yang dimaksud dengan “kamar” ini adalah rumah-rumah Rasulullah yang begitu kecil, hingga disebut “hujrah“. Rumah Rasulullah itu kecil, berada di samping Masjid Nabawi. Sekarang malahan sudah masuk ke dalam lingkungan Masjid Nabawi, yaitu berada di depan Raudhah.

Menurut sebagian ulama tafsir, bahwa pada umumnya perintah yang didahului dengan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw” merupakan perintah yang wajib. Karena dalam Al-Qur’an ada kata-kata fi’il ‘amar, tapi bukan berarti wajib, melainkan berarti sunnah. Misalkan:

Maka bersembahyanglah kamu pada Hari Raya Idul Adha itu, dan berkurbanlah. (Q.S. Al-Kautsar: 2)

Perintah berkurban pada ayat tersebut adalah perintah berupa fi’il ‘amar, tetapi diterangkan bahwa hal itu adalah sunnah muakkad, bukanlah sesuatu yang wajib. Namun bila dikatakan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw“, maka hal itu menunjukkan suatu perintah yang wajib.

Selanjutnya pada ayat di atas (Al-Hujuraat: 1) terdapat kata “tuqaddimuw” yang berarti mendahului. Sehingga, “laa tuqaddimuw” berarti jangan mendahului. Di dalam kitab tafsir disebutkan, “Jangan mendahului mengambil keputusan sebelum adanya keputusan Allah dan Rasul-Nya.” Jadi, jika sudah ada keputusan Allah dan Rasul-nya, maka tidak menjadi persoalan. Ayat ini menyangkut keadaan ketika Rasululullah masih hidup. Pada masa itu, terkadang ada sahabat yang mengambil keputusan sebelum ditetapkan oleh Rasulullah atau sebelum diturunkannya ayat kepada Rasulullah.

bayna yadayillaah” menurut ulama tafsir maksudnya adalah “ayat-ayat Al-Qur’an”. “wa rasulihi” maksudnya adalah apa yang diterangkan oleh Rasul-Nya, dalam pengertian ini adalah penafsiran Al-Qur’an dan hadits-hadits yang ada.

Apakah ayat ini sudah tidak berlaku lagi sekarang? Rasulullah sudah wafat dan Al-Qur’an sudah lengkap. Jadi, apa yang dimaksud dengan “jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya” pada ayat ini?

Menurut sebagian ulama tafsir, maksud dari ayat ini adalah melarang untuk berandai-andai. Misalkan: seandainya saya menteri, seandainya saya kaya, dan sebagainya. Dan juga jangan mengkhayalkan diri kita pada sesuatu yang tidak mungkin. Juga jangan menetapkan sesuatu yang belum terjadi. Boleh saja misalkan seperti prakiraan (ramalan) cuaca yang ada landasan ilmiahnya. Tapi jika suatu ramalan yang tidak ada landasan ilmiahnya, maka sangat dilarang oleh Allah.

Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya, “Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok?”

Salah seorang muridnya menjawab, “Yang akan terjadi besok ialah matahari akan terbit dari sebelah timur.”

Imam Ghazali lalu berkata, “Tidak benar. Siapapun tak ada yang tahu bahwa besok matahari masih akan terbit.”

Lalu Imam Ghazali juga mengatakan, “Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali satu, bahwa kematian itu adalah pasti.”

Jadi, janganlah takut dengan kematian. Karena itu, jika ditanya tentang kematian, maka orang sufi akan berkata, bahwa kematian itu adalah sesuatu yang biasa saja.

Kemudian ayat ini diakhiri dengan menyebutkan sifat Allah, yaitu “sami’un ‘alim” (Maha Mendengar dan Maha Megetahui). Mengapa ayat ini diakhiri dengan “sami’un ‘alim“? Maksudnya, agar manusia mengetahui, jika ia mengkhayal, biasanya khayalan itu berasal dari dalam dirinya sendiri. Karena berasal dari dalam dirinya sendiri, maka dianggap tidak ada yang mengetahui khayalan tersebut selain dirinya. Di sinilah Allah mengingatkan, bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Al-Hujuraat: 2

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (Q.S. Al-Hujuraat: 2)

…laa tarfa’uw aswaatakum fawqa shawtinnabiy …“, artinya bahwa: jangan mengangkat suaramu lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi. Bagaimanakah maksud ayat ini, sedangkan kini Nabi sudah tidak ada?

Ada orientalis yang mengatakan, bahwa ada ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang tidak bisa diberlakukan lagi. Ia (orientalis) itu tidak memahami, bahwa ayat itu tujuannya bukan hanya untuk umat di zaman Nabi, tapi berlaku di sepanjang zaman.

Maksud pertama dari ayat di atas adalah, bahwa jangan mengeraskan suara kita jika sedang berziarah ke makam Nabi, termasuk juga untuk tidak menangis di makam Nabi.

Diriwayatkan, bahwa ketika Sayyidina Umar menjadi khalifah, ada orang di sekitar kuburan Rasulullah sedang bercengkerama dengan suara keras. Sayyidina Umar kemudian bertanya kepada orang itu, “Kamu dari mana?”

Dijawab oleh orang itu, “Dari luar kota.”

Lalu Sayyidina Umar berkata kepada orang itu, “Tidakkah kamu mengetahui, bahwa Al-Qur’an mengingatkan kita untuk jangan mengangkat suara lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi?”

Orang itu kemudian terdiam dan berhenti berbicara, setelah itu keluar dari masjid setelah memberi salam kepada Rasulullah.

Diriwayatkan pula, bahwa Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar itu biasanya ketika berbicara dengan Nabi, maka suaranya lebih keras dari suara Nabi. Kemudian turun ayat ini, hingga semua orang ketika itu menjadi ketakutan. Setelah turunnya ayat ini, maka Sayyidina Umar jika berbicara kepada Nabi tidak lagi seperti biasanya. Karena takut bersuara keras, maka jika Sayyidina Umar sedang berbicara kepada Nabi, kadang-kadang Nabi mengangkat tangannya untuk mendengar suara Sayyidina Umar.

Maksud kedua yaitu, jangan mengangkat suara lebih keras jika ulama sedang berceramah. Ulama adalah pewaris Nabi. Sehingga mengganggu ulama yang sedang berceramah berarti sama saja dengan mengganggu Nabi. Bahkan jangan berbisik sekalipun atau bersikap yang itu dapat mengganggu.

Maksud ketiga yaitu, jangan mengangkat suaramu lebih tinggi dari suara orang yang lebih tua dari kamu. Di sini digambarkan, bahwa Rasulullah itu lebih tua, atau pemimpin, atau orang yang dituakan dan dihormati, maka jangan mengangkat suara lebih keras daripada orang-orang yang dihormati.

… wa la tajharu lahu bil qawli qajahri ba’dhikum liba’dhin …“, artinya: jangan memanggil Nabi seperti kamu memanggil sesamamu.

Sebenarnya Nabi tidak mau dikultuskan. Karena itu, ada seorang sahabat yang memberitahukan kepada Nabi, “Ya Rasulullah, kami ini memberi salam kepada sesama kami, bahkan kepada pembantu kami dengan kalimat: Assalamu’alaikum. Apakah kepada engkau juga diucapkan: Assalamu’alaikum?”

Rasulullah lalu berkata, “Tidak ada bedanya. Aku adalah makhluk Tuhan, aku adalah manusia yang mempunyai jiwa, orang lain pun sama denganku.”

Bedanya, jika kepada Nabi diucapkan shalawat, sedangkan kepada yang lain kita tidak mengucapkan shalawat. Jangankan manusia, Allah pun mengucapkan shalawat kepada Nabi.

Allah mengingatkan kita, bahwa janganlah memanggil nama Nabi seperti kita memanggil nama orang lain, misalkan hanya menyebut “Muhammad”. Jika ditujukan kepada Rasulullah, maka bisa kita panggil dengan “Sayyidina Muhammad”, atau “Nabiyullah Muhammad shallallahu alayhi wa sallam”. Mengenai hal ini, ada dua pendapat di kalangan ulama: ada yang mengatakan harus ada kata “Sayyidina”, namun ada juga yang mengatakan tidak perlu kata “Sayyidina”. Tapi yang jelas, jangan disamakan antara Muhammad yang lain dengan Nabi Muhammad SAW.

Ada dua keuntungan jika kita mengucapkan hal tersebut. Pertama, kita mendapat pahala, karena hal tersebut diperintahkan oleh Allah. Kedua, jika kita mendoakan Nabi, maka doa tersebut akan terpantul kepada kita.

Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seorang sahabat yang suaranya itu keras. Setelah turunnya ayat ini, maka ia menjadi takut, dan kemudian menjauh dari Nabi. Pada suatu ketika Nabi bertanya, manakah sahabat tersebut. Sahabat yang lain mengatakan, bahwa sahabat yang dimaksud oleh Nabi itu takut karena suaranya keras. Nabi pun menjelaskan, bahwa bukan hal itu yang dimaksud. Suara keras yang dimaksud adalah “mengganggu”.

Jadi, apapun yang kita lakukan jika itu kemudian mengganggu orang lain, maka hal tersebut akan menghapus amal kita, dan itu biasanya tidak kita sadari. Dalam hal ini bukan hanya kepada Nabi, tetapi kepada siapa saja. Bahkan bukan hanya terhadap orang yang dituakan, kepada anak kecil sekalipun jika perbuatan kita itu mengganggu, maka akan terhapuslah amal kita.

Apakah yang dimaksudkan dengan terhapusnya amal perbuatan? Yang dimaksud di sini adalah pahalanya. Dalam hal ini, ketika shalat sekalipun. Sebagian ulama mengatakan, bahwa jika shalat itu menganggu orang lain, maka pahala shalat itu tidak ia peroleh, melainkan hanya kewajiban shalatnyalah yang telah ia penuhi.

Al-Hujuraat: 3

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Hujuraat: 3)

Apakah maksud ayat ini? Maksudnya, bahwa mereka yang bersuara rendah di hadapan gurunya, berbicara dengan orang secara lemah lembut, dia tidak mengganggu orang lain, disebutkan oleh Allah bahwa mereka itu diuji hatinya. Kalau diuji, maka kemungkinannya hanya dua, yaitu lulus dan tidak lulus. Pada ayat di atas juga disebutkan, bahwa Allah menguji hati-hati mereka dengan ketaqwaan. Maksudnya, Allah memberikan ujian kepada mereka, apakah mereka itu taat kepada Al-Qur’an atau tidak.

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seseorang datang ke rumah Rasulullah dengan berteriak-teriak. Tujuan orang itu adalah untuk bertemu dengan Rasulullah. Ketika bertemu dengan Abu Bakar, ia tidak mau berbicara dengan Abu Bakar. Begitu juga ketika bertemu dengan Umar, Utsman, dan Ali. Dalam riwayat lain juga dikatakan, bahwa Umar mengusir orang itu, karena caranya untuk bertemu dengan Rasulullah itu salah. Barangkali dalam kehidupan kita juga begitu. Misalkan ingin bertemu dengan seseorang, tapi karena waktunya tidak tepat, maka akhirnya tidak dapat bertemu.

Disebutkan pada ayat di atas, bahwa mereka yang tidak mengganggu itu, maka akan mendapatkan ampunan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah, maka alangkah baiknya kita jalankan akhlak ini. Dan insya Allah dalam kehidupan dengan sesama manusia, maka kita akan selalu hidup dalam kedamaian, dalam bertetangga misalkan. Bukan hanya damai dengan sesama manusia, tetapi juga damai dengan Allah, karena Allah akan memberikan ampunan kepada kita dan memberikan pahala yang besar.

Al-Hujurat: 4

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (Q.S. Al-Hujuraat: 4)

Menurut riwayatnya, ada orang yang memanggil Nabi dengan suara yang keras. Digambarkan bahwa mereka itu tidak berakal. Dalam hal ini bukan berarti mereka itu orang bodoh, melainkan adalah orang-orang yang pintar, apalagi mereka mengajak Rasulullah untuk berdialog. Dalam riwayat ini disebutkan, bahwa Rasulullah tidak keluar, karena mereka itu datang dengan cara yang kasar.

Pada ayat ini disebutkan, bahwa mereka itu berteriak-teriak dari belakang rumah, walaupun sebenarnya mereka datang dari depan rumah. Hal ini dikarenakan pekerjaan seperti mereka ini hina, sehingga disebut di dalam Al-Qur’an sebagai “min waraa-il hujuraat” yang berarti di belakang rumah. Mestinya jika mereka datang dari depan, maka seharusnya dikatakan sebagai “amamal hujuraat“. Dalam ayat ini, Allah ingin menunjukkan kehinaan perbuatan yang seperti itu.

aksaruhum la ya’qilun“, ada ulama tafsir mengatakan “banyak di antara mereka”. Jadi, orang-orang yang memanggil Rasulullah itu banyak. Dan di antara yang banyak itu, persentasenya lebih banyak yang dianggap tidak berakal.

la ya’qilun” diartikan sebagai “tidak berakal”. Ada juga yang menganggap bahwa orang tidak berakal itu adalah orang gila. Ada juga yang menggangap bahwa tidak berakal itu adalah bodoh ataupun jahil. Jika ada yang mengatakan “jahiliyah“, berarti “kaum yang bodoh”, walaupun sebenarnya mereka itu pintar. Tapi karena tidak mau percaya kepada Allah, maka disebutlah sebagai “jahiliyah“.

Al-Hujurat: 5

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujuraat: 5)

wa law” artinya “sekiranya”. “law” itu menggambarkan “tidak”. “wa law annahum shabaruw” berarti “sekiranya mereka itu bersabar”. Maksudnya, “sekiranya mereka itu bersabar” adalah karena mereka itu tidak bersabar, sampai keluar Rasulullah kepada mereka, “la kaanaa khayrallahum” yaitu “akan baik bagi mereka”. Mereka itu datang untuk meminta dibebaskannya tawanan-tawanan mereka. Ada beberapa permintaan dari mereka sehingga mereka mendatangi Rasulullah. Karena caranya seperti itu, dikatakan bahwa sehingga Rasulullah kembali keluar kepada mereka. Apa yang mereka dapat? Dikatakan kemudian bahwa akan baik bagi mereka. Tapi kenyataannya tidak, karena Rasulullah tidak keluar, sehingga semua permintaannya tidak dipenuhi. Seandainya mereka datang dengan cara yang baik, mungkin ada dari permintaan mereka itu yang dipenuhi oleh Rasulullah.

Law annahum shabaruw: mereka sabar. Sabar yang seperti apa? Hattaa takhruja ilayhim, yaitu sehingga Rasulullah itu keluar. Karena Rasulullah itu pasti keluar. Kapan Rasulullah keluar dari rumah? Biasanya, Rasulullah keluar di waktu shubuh. Setelah Shalat Shubuh, Rasulullah kembali ke rumahnya. Sesudah sarapan pagi, maka beliau keluar lagi, ke masjid untuk menjelaskan tentang ajaran agama atau keluar ke tempat-tempat tertentu. Ketika Zhuhur, Rasulullah ke masjid lagi, setelah itu kembali ke rumah. Keluar lagi pada waktu sore untuk shalat Ashar ke masjid, setelah itu kembali ke rumah. Ketika akan Maghrib, pergi lagi ke masjid Maghrib hingga Isya’.

Di dalam riwayat disebutkan, biasanya Rasulullah itu pada umumnya tidak kembali ke rumah antara Maghrib dan Isya’. Walaupun ada ahli sejarah mengatakan, bahwa biasa juga Rasulullah kembali ke rumah antara Maghrib dan Isya’. Dalam hal ini, terutama pada saat-saat turun wahyu. Jika turun wahyu, Rasulullah tidak kembali ke rumahnya. Tapi jika tidak ada wahyu turun, Rasulullah kembali ke rumahnya. Pada umumnya ahli sejarah mengatakan, bahwa Rasulullah tidak kembali ke rumahnya antara Maghrib dan Isya’, karena ada dua hal yang dilakukan Rasulullah. Pertama, mengajarkan Al-Qur’an. Kedua, membacakan Al-Qur’an itu dalam waktu shalat. Karena itu, ada hadits yang ditolak oleh sebagian ulama, bahwa Rasulullah itu selalu membacakan ayat pendek pada waktu Shalat Maghrib. Ada juga pendapat lain yang mengatakan, bahwa Rasulullah itu setiap waktu shalat yang dijaharkan yaitu Maghrib, Isya’, dan Shubuh, maka Rasulullah membacakan ayat-ayat yang turun pada waktu itu. Jika turun 10 ayat, maka dibacakannya 10 ayat itu. Turun 20 ayat, maka dibacakannya 20 ayat tersebut. Sehingga para sahabat bisa menghafalnya, kemudian menuliskannya di pelepah kurma, batu-batu, ataupun kulit domba.

Jadi, kitapun demikian halnya jika mau bertemu dengan sesorang. Biarlah kita bersabar untuk menunggu orang tersebut. Karena itu, dianjurkan kita dalam berusaha harus bersabar. Ada pepatah Arab mengatakan, “Sesuatu pekerjaan yang baik itu perlu kesabaran.” Karena itu Allah mengatakan, “Dahulukanlah (minta tolonglah) agar kita sabar.”

… wallahu ghafururrahim … : sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kepada siapa Allah itu Maha Pengampun? Yaitu kepada orang yang sabar (innallaha ma’ash-shabirin). Tidak dikatakan bahwa Allah itu bersama orang yang pintar ataupun kaya, melainkan bersama orang yang sabar. Jadi kalau kita sabar, maka Allah akan mengampuni dan menyayangi kita. Mudah-mudahan kita tergolong sebagai orang-orang yang sabar.

Kesimpulan

Pertama, mari kita jangan mengandai-andai, jangan mengkhayal, dan jangan minta kepada peramal.

Kedua, jangan mengganggu pewaris nabi, jangan mengganggu orang lain, jangan mengangkat suara keras jika ada yang mau diminta, jangan membuat ulah sehingga orang lain tidak merasa senang kepada kita.

Ketiga, bagi mereka yang rendah suaranya, menjaga suaranya, menjaga sikapnya, menjaga tingkah lakunya di hadapan orang lain, mereka itu akan diberi ampun oleh Allah. Sedangkan mereka yang mengangkat suaranya di hadapan Nabi, atau di hadapan pewaris Nabi, ataupun kepada siapa saja, maka akan hilang pahala perbuatannya.

Keempat, orang diuji, yaitu mereka yang mau menjaga suaranya sehingga lemah lembut selalu, tidak keras.

Janganlah memanggil Nabi seperti kita memanggil orang lain selain Nabi. Bacalah selalu shalawat kepada Nabi, dan hargailah Nabi sebagai seorang yang termulia di antara seluruh manusia.

Kelima, bagi mereka yang diuji oleh Allah SWT, maka mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Keenam, mereka yang memanggil di luar kebiasaan dan di luar aturan, mereka itu digambarkan sebagai orang yang tak berakal, sebagai orang gila atau orang bodoh.

Ketujuh, jika mereka sabar, pasti akan mendapatkan keuntungan di dunia, dan mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah SWT.

Inilah bagian dari ajaran akhlak yang digambarkan dalam ayat-ayat ini. [Nafi]

13 Juni 2008 at 1:30 PM 2 komentar

Kajian Tafsir Surah Al-Furqan (25): 63-77

KAJIAN TAFSIR SURAH AL-FURQAN (25): 63-77

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

pada tanggal 22 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada sebelas sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki sebelas sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang akan mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT. Rahmat-rahmat Allah yang paling besar tersebut yaitu kedudukan atau derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh mereka di surga kelak.

Orang-orang yang beriman itu harus melaksanakan seluruh kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka. Apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban tersebut, maka mereka akan mendapatkan siksaan yang amat pedih dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila mereka menunaikan kewajiban-kewajiban yang diberikan tersebut, maka mereka akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman setelah menunaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang termaktub pada Surah al-Furqaan ayat 63-77, sebelas sifat yang dimaksud tersebut adalah:

Pertama, sifat tawadhu’.

Tawadhu’ adalah lawan dari sifat takabbur. Tawadhu’ adalah sifat yang selalu merendah, merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah. Jika orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang memiliki sifat takabbur adalah orang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Di dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang di dalam dirinya terdapat sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah akan mengharamkan surga baginya.

Takabbur adalah orang yang menganggap dirinya besar, padahal dia tidak besar. Orang yang mengaku memiliki banyak hal, tapi sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa. Padahal kata Allah, bahwa apa yang mereka miliki itu tidak ada maknanya sedikitpun. Karena itulah, mereka menambahkan sifat di dalam dirinya dengan apa yang tidak mereka miliki. Untuk menjadikan diri kita tawadhu’ adalah dengan berpandangan bahwa apa yang kita miliki tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Allah SWT.

Sifat sombong adalah sifat yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki sifat sombong. Hanya saja, ada orang yang membiarkan kesombongannya menjadi subur, dan ada juga yang bisa menahan kesombongannya, sehingga kesombongannya tidak pernah muncul.

Firman Allah pada Surah Al-Furqaan ayat 63:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Q.S. Al-Furqaan: 63)

Pada ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ‘ibaadurrahman itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tawadhu’, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang yang berilmu, orang yang kaya, ataupun orang yang memegang jabatan tinggi.

Pertanyaannya, mampukah kita bersikap tawadhu’? Harus diingat, bahwa sikap takabbur itu akan muncul kapanpun dan di manapun. Jika kita tidak berhati-hati, maka sikap tersebut akan menjadi subur, akan berkembang dengan sendirinya karena kondisi dan keadaan di mana kita hidup. Karena itulah, menurut Rasulullah, sombong terhadap orang yang sombong itu adalah sebuah kebajikan sedekah. Mengapa? Karena kalau kita menahan kesombongan seseorang, sebenarnya kita mendekatkan orang tersebut kepada surga. Karena, jika ada kesombongan di dalam hati seseorang, maka diharamkan kepadanya untuk mendapatkan surga. Jika kita sombong terhadap orang yang sombong sehingga orang tersebut menjadi tidak sombong, maka sebenarnya kita telah menjauhkannya dari neraka dan mendekatkannya kepada surga.

Kedua, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib).

Maksudnya adalah, bahwa orang tersebut senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, walaupun orang lain selalu mengejeknya dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan. Artinya, bahwa ‘ibaadurrahman adalah orang-orang yang senantiasa mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik, senantiasa bersikap dengan sikap yang baik, senantiasa menimbulkan kebajikan-kebajiikan walaupun di tengah orang-orang yang tidak mau berbuat kebajikan kepadanya.

Biasanya, jika mendengar ada orang yang mengejek kita, maka kita akan membalasnya dengan ucapan-ucapan yang lebih kasar dibandingkan orang yang mengejek kita tersebut. Kalau ada yang memaki kita, maka kita akan membalasnya lebih dari satu kali makian. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita sebanyak sekali, maka kita akan membalasnya lebih dari sekali. Itulah fitrah manusia.

Dalam ayat ini disebutkan, bahwa jika ada orang-orang yang bodoh yang menyapa dia, kalau ada orang-orang yang mengejek dia dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan baginya, maka dia akan menyampaikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang yang mengejeknya itu. Tapi secara fitri, hal ini tak mudah untuk dilakukan. Malahan sebaliknya, seringkali perbuatan kebajikan dibalas dengan kejahatan (air susu dibalas dengan air tuba).

Rasulullah menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang-orang yang apabila diputuskan hubungan silaturahmi, maka ia tidak akan memutuskan hubungan tersebut. Misalkan: ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, tapi kita tetap mendatangi rumah orang tersebut. Hal ini tak mudah untuk dilakukan, karena biasanya jika ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, maka kita akan semakin menjauhi orang tersebut.

Rasulullah juga menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang suka memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadanya.

Ketiga, yaitu orang beriman yang suka tahajjud di malam hari.

Firman Allah pada Al-Furqaan ayat 64:

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S. Al-Furqaan: 64)

Bangun di malam hari setelah tidur, untuk kemudian melakukan shalat tahajjud bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi apabila kita membiasakan diri, maka secara otomatis pada saatnya kita akan terbangun, sehingga hal seperti ini mudah saja untuk dilakukan. Mengapa tahajjud ini penting? Karena jika ibadah dilakukan di tempat yang sepi, maka konsentrasi kita akan lebih terpusat, dibandingkan ibadah di tengah keramaian.

Menurut pandangan para ulama, shalat tahajjud merupakan shalat sunnat muakkad, yaitu shalat sunnat yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah. Shalat sunnat tahajjud biasa dilakukan paling tidak dua raka’at, umumnya dilakukan delapan raka’at, ditambah dengan witir tiga raka’at. Begitu besar pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat tahajjud, karena tidak banyak orang yang mampu melakukan shalat tahajjud itu pada setiap malamnya.

Keempat, yaitu merasa takut akan siksa Allah SWT.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 65-66:

(65) Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal“.

(66) Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (Q.S. Al-Furqaan: 65-66)

Orang yang senantiasa takut terhadap azab Allah, maka akan menyebabkannya selalu mematuhi dan mentaati perintah-perintah Allah dan senantiasa meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an digambarkan, bahwa di saat menghadapi sakaratul maut, maka bagi mereka yang belum memiliki persiapan menghadapi alam kubur dan alam akhirat itu lalu meminta kepada Allah untuk menunda kematiannya, karena mereka belum banyak melakukan ibadah kepada Allah. Lalu Allah menjawab, “Apabila ajal mendatangi seseorang, maka ajal tersebut tak bisa diundur dan tidak juga bisa dipercepat.”

Jika kita selalu mengingat akan azab Allah, maka pada saat itulah keinginan kita akan muncul untuk melakukan ibadah kepada-Nya. Patut diingat, bahwa azab yang kita terima tak pernah ada habisnya. Dimulai pada saat kita menjalani sakaratul maut, kemudian berlanjut ketika berada di dalam kubur. Kemudian terus berlanjut hingga ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar. Menurut riwayat, bahwa di padang mahsyar nanti matahari itu sejengkal di atas kepala, dan manusia pada saat itu kondisinya berbeda-beda. Ada yang selalu merasa dingin dan sejuk, walaupun matahari berada di atas kepalanya. Ada juga yang merasa badannya terbakar, karena dibakar oleh matahari.

Pendeknya, ketika di padang mahsyar, maka manusia sudah merasakan alam atau suasana yang berbeda sesuai dengan amal kebajikannya. Bagi yang mendapatkan siksaan, maka siksaan tersebut akan terus berlanjut. Ketika berada di dalam neraka, siksaan tersebut takkan pernah ada habisnya. Setelah kulitnya terbakar oleh api neraka, kemudian kulit tersebut diganti lagi dengan yang baru. Setelah itu dibakar lagi, kemudian diganti lagi, dan begitu seterusnya tak pernah berhenti.

Seorang muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap siksaan Allah SWT. Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka kita akan menjadi orang yang senantiasa patuh terhadap perintah-Nya.

Kelima, yaitu sederhana (moderat) di dalam berinfaq.

Firman Allah pada Al-Furqan ayat 67:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al-Furqan: 67)

Pada ayat di atas dengan jelas menyebutkan, apabila manusia atau orang yang beriman yang ingin membelanjakan sesuatu, maka ketika membelanjakan tersebut dia tidak boleh terlalu boros, dan juga tidak boleh terlalu kikir.

Di dalam ayat lain Allah menyebutkan:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Israa': 26)

Jadi, tidak boleh ada sikap boros, dan tidak boleh juga kikir, melainkan berada di tengah-tengah (moderat). Kalau kita berbelanja, maka belanjalah sesuai dengan keperluan. Kalau bersedekah, jangan sampai memberikan sedekah terlalu banyak. Hanya karena bangga dengan pahala bersedekah sehingga kita bersedekah terlalu banyak, sedangkan kita lupa akan kebutuhan kita sendiri.

Allah juga mengingatkan, bahwa orang-orang yang bersifat boros itu adalah saudara-saudaranya syaitan, seperti yang termaktub pada Surah Al-Israa’ ayat 27 berikut ini:

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Israa': 27)

Tetapi jangan juga karena mengingat akan kebutuhan kita, lalu kita tidak mau mengeluarkan apa yang kita miliki, hingga zakat sekalipun tidak mau dikeluarkan. Itulah orang yang kikir sebenarnya. Dalam hal ini, kita harus bersikap moderat, tidak kikir dan tidak juga boros, namun berada di antara keduanya (moderat).

Pada Surah Al-Israa’ ayat 29 juga disebutkan:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al-Israa': 29)

Jadi, jangan juga kita membelanjakan sesuatu sampai habis, dan jangan pula kita enggan membelanjakan apa yang ada pada diri kita. Hal ini tak mudah dilaksanakan, karena pada umumnya manusia itu bersifat konsumtif. Sifat konsumtif yang tak bisa ditahan yang kemudian menjadi-jadi, itulah yang disebut pemborosan. Tapi kalau menahannya juga menjadi-jadi, itulah yang dinamakan kikir. Di dalam hadits Nabi juga disebutkan, bahwa: “Urusan yang terbaik adalah urusan yang di tengah-tengah.”

Keenam, menjauhkan diri dari sifat syirik.

(68) Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya).

(69) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

(70) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(71) Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

(Q.S. Al-Furqan: 68-71)

Syirik itu pada hakikatnya adalah sifat yang senantiasa menyekutukan Allah. Seseorang yang menganggap bahwa selain Allah itu ada tuhan yang lain lagi, maka dapat dikategorikan sebagai syirik. Kalau seseorang melakukan penyembahan terhadap Allah, tapi dalam suasana yang lain dia juga melakukan penyembahan terhadap yang selain Allah, maka itu juga dapat disebut sebagai syirik. Menurut ulama, syirik yang seperti ini dinamakan syirik akbar (syirik besar). Syirik akbar adalah syirik yang berupa menyekutukan Allah SWT dengan sembahan atau penyembahan yang selain dari Allah.

Kemudian ada juga yang dinamakan syirik asghar (syirik kecil). Menurut para ulama, syirik asghar salah satunya adalah riya’. Mengapa? Karena ketika beribadah, yang ia harapkan bukanlah keridhaan Allah, tetapi karena sesuatu yang selain dari Allah. Ibadah yang dilakukannya bukanlah diniatkan untuk Allah, tetapi karena yang selain Allah. Kalau ada seseorang yang melakukan shalat bukan karena Allah, tetapi karena yang lain, maka inilah yang disebut sebagai syirik asghar.

Berkaitan dengan syirik akbar, di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan, bahwa mereka yang syirik itu apabila mati, maka dosa karena syiriknya tersebut tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Dosa tersebut takkan pernah diampunkan oleh Allah, jika saat ia meninggal dunia tak pernah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa syiriknya itu. Karena itu, banyak sekali hal-hal yang menjauhkan seseorang dari surga, salah satu di antaranya adalah syirik.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An-Nisaa: 48)

Ketujuh, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT.

Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik, melakukan pembunuhan terhadap orang lain juga merupakan perbuatan dosa besar. Berkaitan dengan ini, ada juga orang yang melakukan pembunuhan, tetapi pembunuhan itu atas perintah hukum. Pembunuhan jenis ini tidak dikategorikan sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Misalnya, ada seseorang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain, lalu dia itu diadili oleh hakim, dan hakim memutuskan bahwa dia akan juga dibunuh dengan hukum qishash. Maka mereka yang melakukan eksekusi hukuman mati terhadap orang yang dikenai hukum qishash tersebut tidaklah dikategorikan dalam rangka membunuh sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, karena eksekusi hukuman mati tersebut berdasarkan perintah hukum.

Dalam kaitan dengan hukum qishash ini, ada ketentuan-ketentuan tertentu yang berlaku. Misalnya: dalam sebuah negara, jika negara memutuskan berdasarkan keputusan pengadilan bahwa si A akan dihukum qishash, maka itu tidak dianggap sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Tetapi jika ada sekelompok orang di dalam sebuah negara yang mereka (orang-orang itu) memberlakukan hukuman qishash kepada seseorang tanpa adanya keputusan pengadilan yang sah, maka hal ini dikategorikan bukanlah pelaksanaan hukuman qishash yang sesuai dengan tuntunan syari’ah. Karena itu, bagi mereka yang memberlakukan pembunuhan seperti ini, maka mereka telah melakukan pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh.

Berkaitan dengan ini, Allah mengingatkan, bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang, maka seolah-olah dia itu telah membunuh semua manusia, seperti termaktub pada ayat berikut ini:

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maidah: 32)

Kedelapan, menjauhkan diri dari perbuatan berzina.

Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik dan membunuh, melakukan perzinahan juga merupakan perbuatan dosa besar. Karena itu, bagi pelakunya akan diberikan siksaan yang berlipat ganda oleh Allah di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 69: (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

Tetapi pada Surah Al-Furqaan ayat 70 dan 71 memberikan kabar gembira kepada kita: [70] kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [71] Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Furqan: 70-71)

Yang dimaksud pada ayat tersebut, jika sudah pernah terjadi hal-hal yang seperti itu (syirik, pembunuhan, dan zina), maka Allah membukakan pintu taubat, lalu bertaubatlah kepada Allah. Tapi pernyataan ini jangan dipelintir. Kalau begitu syirik dulu, baru kemudian bertaubat, karena Allah pasti akan mengampuni. Kalau begitu membunuh dulu, nantikan Allah akan membukakan pintu taubat. Kalau begitu berzinah dulu, nanti malam shalat lail kemudian berdo’a, minta ampun dan bertaubat, maka Allah akan mengampuni. Tentunya bukan ini sebenarnya yang dimaksud.

Itulah sebabnya, bagi manusia yang bersalah, apabila dia bertaubat, maka kesalahannya itu akan dihapuskan oleh Allah SWT. Setelah dosa dan kesalahannya dihapuskan oleh Allah SWT, maka kalau bertaubat lagi, maka akan ada tumpukan pahala dari taubatnya yang akan diberikan oleh Allah. Jika ia bertaubat lagi, sedangkan dosanya sudah tidak ada lagi, maka pahala bertaubatnya akan ditambahkan lagi oleh Allah SWT. Karena itulah, tindakan bertaubat dan beristighfar itu tidak hanya dilakukan setelah kita melakukan perbuatan-perbuatan dosa, tetapi kalau memungkinkan di sepanjang kehidupan kita selalulah kita bertaubat.

Perbuatan zina adalah perbuatan dosa besar yang menurut Rasulullah, bahwa orang yang berzina itu tidak layak kalau diundang untuk menghadiri sebuah majelis. Ini merupakan siksaan sosial.

Kesembilan, menjauhkan diri dari bersaksi palsu.

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Q.S. Al-Furqaan: 72)

Saksi palsu bisa muncul kapan saja. Hal ini biasanya terjadi apabila dengan menjadi saksi palsu itu maka akan mendapatkan keuntungan. Sekarang ini banyak sekali terjadi orang yang memberikan kesaksian palsu. Misalkan: sebenarnya kasus tersebut seharusnya dimenangkan oleh pihak A, tapi hakim kemudian memberikan kemenangan kepada pihak B, karena semua saksi memberatkan pihak A. Dalam hal ini, mereka yang menjadi saksi palsu itu sudah melakukan dosa besar. Menjadi saksi palsu itu membahayakan kemaslahatan di dalam masyarakat.

Kesepuluh, senang menerima nasehat yang baik.

Dikatakan oleh Al-Qur’an:

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Q.S. Al-Furqaan: 73)

Jadi, orang yang termasuk kategori orang beriman yang mendapat gelar ‘ibaadurrahman itu adalah orang yang senantiasa menerima nasehat-nasehat yang baik yang diberikan oleh orang lain, orang yang senantiasa mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari orang-orang yang memberikan pelajaran-pelajaran yang baik. Termasuk di dalam hal ini adalah orang yang senang mencari ilmu adalah orang yang senang menerima nasehat.

Kesebelas, senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah.

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqaan: 74)

Bukan hanya berdoa untuk dirinya, juga berdoa untuk keluarganya, untuk anak cucunya agar menjadi orang-orang yang baik dan orang-orang yang shaleh di belakang hari. Orang-orang yang seperti ini dikatakan oleh Al-Qur’an adalah orang-orang yang akan mendapatkan ganjaran yang paling tinggi di surga nanti yang akan diberikan oleh Allah SWT, seperti termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 75-77:

(75) Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

(76) mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

(77) Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.

(Q.S. Al-Furqaan: 75-77)

Kesebelas hal ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi marilah kita melatih diri dan membiasakan untuk memiliki kesebelas sifat dan sikap ini, seperti yang diungkapkan Al-Qur’an pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 ini. [hAns]


13 Juni 2008 at 1:19 PM 15 komentar

Pembinaan Karakter

PEMBINAAN KARAKTER

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 21 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pembinaan karakter kini memang menjadi suatu yang krisis. Hampir setiap orang sulit sekali untuk mempertahankan karakter aslinya. Pada umumnya banyak di antara kita begitu gampang berubah. Sedikit saja mendapat pengaruh dari luar, maka faktor internalnya menjadi berubah. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan. Jika sudah seperti ini, kiranya menjadi sulit untuk menyebarkan suatu kebaikan jika kita sendiri tidak memiliki pendirian yang tangguh.

Ada beberapa hal yang menyebabkan karakter seseorang itu menjadi gampang berubah, walaupun misalkan ibadah orang tersebut sangat baik, hubungan dengan sesama manusia juga baik, tetapi sering kali orang tersebut merasakan dirinya sangat lemah. Orang itu merasakan bahwa dirinya sangat lemah (tidak kuat) menghadapi suatu perubahan. Jika situasi sosial berubah, maka dirinya juga menjadi terpengaruh akan perubahan tersebut. Bahkan, perubahan cuaca pun kadang ikut mempengaruhi orang tersebut.

Ada lima karakter yang pada umumnya sering mempengaruhi pandangan hidup manusia, yaitu: karena rasa bersalah, rasa dendam, rasa takut, materi, dan pengakuan diri.

Pertama, seseorang berubah karena rasa bersalahnya (terpengaruh oleh rasa bersalahnya).

Ciri-cirinya adalah: jika ia telah melakukan dosa, apalagi dosa yang dilakukannya itu adalah dosa besar, maka ia seperti dikejar dan dihantui oleh perasaan bersalahnya. Perasaan berdosa ini biasanya membuat seseorang dalam bertindak menjadi sangat kaku, bahkan hidupnya cenderung pasrah, tidak ada semangat, dan tidak ada kreativitas.

Jangan pernah memandang enteng dosa, karena dosa bisa membuat seseorang itu menjadi tidak produktif, tidak kreatif, jalan pikirannya buntu, dan kehilangan semangat hidup. Karena itu, semua perbuatan dosa dilarang oleh Allah. Dosa itu bisa dipahami melalui pikiran, melalui kata hati, dan melalui firman Tuhan dan hadits Rasulullah. Walaupun kita tidak pernah membaca Al-Qur’an atau Hadits sekalipun, tetapi kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan itu bertentangan dengan nilai kebenaran. Misalkan perbuatan zina, mencuri, ataupun membunuh, tanpa kita membaca ayat Al-Qur’an pun, kita bisa mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak benar. Sehingga, jika perbuatan dosa tersebut kita lakukan, maka pasti ada sesuatu yang salah di dalam diri kita. Perasaan bersalah ini tak mungkin akan hilang jika tanpa adanya penyadaran diri (taubat). Dosa tidak akan membuat seseorang itu produktif di dalam perjalanan hidupnya.

Kedua, seseorang berubah karena rasa dendamnya. Rasa dendamnya itu mempengaruhinya dalam setiap mengampil keputusan ataupun kesimpulan.

Orang seperti ini ciri-cirinya adalah nekat. Ia selalu melihat objek yang didendaminya itu seperti iblis. Dia pernah sakit hati terhadap sesuatu, karena itu ia dendam. Terhadap orang yang didendaminya itu, kiranya tak ada positifnya sekalipun. Maka kehidupan yang dilaluinya selalu penuh dengan benci, marah, dan dendam. Orang seperti ini takkan pernah bisa produktif. Jika ada orang yang bekerja karena dimotivasi oleh dendam, yakinlah maka rekan kerjanya akan gerah, apalagi malaikat.

Jangan pernah kita didikte atau mengambil suatu keputusan karena dimotivasi oleh perasaan dendam. Dendam ini dilarang oleh Allah, karena dendam itulah nantinya yang akan membakar energi orang tersebut. Ia akan loyo, akan jatuh sakit, dan juga akan hilang segala-galanya. Mengapa? Karena dendam di dalam dirinya itulah yang membuat orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagi orang yang menyimpan rasa dendam yang sangat mendalam, maka segala yang dilakukannya sehari-hari selalu tidak enak, seakan-akan setiap saat selalu penuh dengan wajah orang yang didendaminya itu. Bahkan mungkin ketika ia tidur dan bermimpi. Bahayanya, jika seseorang yang mengambil kesimpulan dan keputusan karena dimotivasi oleh dendam, maka kesimpulan dan keputusan yang dihasilkan tersebut akan sangat riskan.

Orang seperti ini biasanya agresif, dan menganggap orang yang didendaminya itu seperti setan. Ia anarkis dan destruktif. Jika konstruktif adalah bersifat permanen dan positif, maka destruktif lebih cenderung goyah dan meruntuhkan (menghancurkan). Karena itu, jangan pernah kita didikte di dalam mengambil suatu keputusan dengan perasaan dendam. Akibatnya bukan hanya kita yang merasakannya, bahkan keluarga dan orang yang ada di sekitar kita akan merasakan dampaknya.

Ketiga, dipengaruhi oleh rasa takut. Apapun keputusannya, selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya.

Orang seperti ini biasanya penakut, misalkan takut terhadap hujan lebat sehingga badannya akan bergetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena takut. Mendengar halilintar ia menjadi takut. Mendengarkan orang berteriak saja, maka jantungnya akan berdebar-debar. Orang seperti ini biasanya pernah mengalami trauma, dan traumanya itu tidak terselesaikan. Sehingga di dalam bertindak, ia akan selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya itu. Orang seperti ini cenderung menjadi statis, tidak mau mengambil resiko, yang akhirnya orang ini menjadi kerdil. Orang seperti ini juga biasanya sering keliru dalam mengambil suatu tindakan. Jika kita terlalu didikte oleh perasaan takut, maka kita tidak bisa berbuat secara normal.

Keempat, terpengaruh karena materi atau kedudukan atau pangkatnya.

Orang seperti ini biasanya kelihatan egois. Sepertinya hanya dialah yang paling hebat. Tindakan-tindakan seperti ini cenderung juga menimbulkan kerugian terhadap dirinya sendiri, bahkan juga terhadap orang lain. Karena itu, jika kita mendapakan rezeki dari Allah, baik itu berupa materi (harta) atau dalam bentuk jabatan (kedudukan), maka jangan sampai materi dan jabatan tersebut membuat kita terpengaruh dalam mengambil suatu tindakan.

Ciri-ciri orang yang seperti ini, yaitu tidak ada lagi orang yang mampu mengerem pembicaraannya. Juga terlihat di dalam perbuatannya, seakan-akan dialah yang paling hebat. Selain itu juga dalam bentuk kebijakan, misalkan bahwa kebijakannya itu selalu diarahkan pada dirinya sendiri. Orang seperti ini cenderung tidak demokratis. Orang seperti ini biasanya menempuh kehidupan yang serba gampang, tidak ingin repot, dan kurang hati-hati. Mengapa? Karena kekuasaan ada di tangannya, yang ini bisa merugikan dirinya dan juga orang lain.

Kelima, terpengaruh karena pengakuan atas dirinya sendiri (aktualisasi diri).

Karena ingin mengaktualisasi dirinya tersebut di dalam masyarakat, sehingga ia tak pernah mempedulikan seberapa besarpun pengorbanan yang telah dan akan ia berikan, demi popularitas, yang penting dirinya terkenal.

Kelima karakter ini tidak sejalan dengan tuntunan di dalam Agama Islam. Misalkan orang yang bekerja dengan penuh rasa berdosa, maka ia akan seperti orang yang linglung, tidak pernah fokus, tak pernah ada semangat di dalam bekerja, karena ada kerusakan di dalam sistem batinnya. Karena itu, kita dilarang untuk melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, maka kita akan semakin tidak fokus, karena ada kerusakan di dalam sistem batin kita. Sebaliknya, jika tidak ada salah yang kita lakukan, sekalipun pangkat kita rendah, sekalipun kita rakyat biasa, tetapi tetap ada keberanian pada diri kita. Bagi orang yang tidak pernah bersalah, ia berani karena ia benar, dan ia takut karena ia salah.

Begitu juga dengan rasa takut. Rasa takut itu pasti akan mengganggu kehidupan seseorang. Ada saatnya kita takut dan ada saatnya kita berani. Kapankah kita takut? Di dalam Bahasa Arab, jika “khasya” adalah takut kepada Allah, sedangkan “khawfun” adalah takut kepada makhluk Allah. Seseorang itu lebih tepat untuk khasya dibandingkan khawfun. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan kita kepada hantu atau syaitan. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan akan terbongkarnya aib kita di dalam masyarakat. Ketika ada aib pada diri kita, kita lebih takut aib tersebut diketahui oleh orang lain dibandingkan kita takut kepada Allah.

Selain lima karakter tersebut di atas, maka ada karakter yang keenam, yaitu orang yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Inilah yang kita harapkan. Sehingga nilai keagamaan tersebut akan mewarnai kehidupan kita.

Jadi ada lima hal yang jangan sampai menjangkiti diri kita seperti tersebut di atas, yaitu rasa bersalah, dendam, takut, materi, dan aktualisasi diri yang berlebihan. Untuk mengobatinya adalah dengan cara kita harus kembali kepada Agama Islam sebagai pandangan hidup kita (way of life). [N4viY]

13 Juni 2008 at 1:12 PM 1 komentar

Menjadi Orang Tua bagi Anak Usia 14 – 21 Tahun

MENJADI ORANG TUA BAGI ANAK USIA 14 – 21 TAHUN

Disarikan dari Ceramah Ahad

yang disampaikan oleh:

Hj. Neno Warisman

pada tanggal 13 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Anak adalah rahasia kesuksesan kita, yaitu jika kita betul-betul sudah menyiapkan anak kita, sehingga tauhid dan akidah si anak menjadi lurus.

Ada sebuah cerita tentang seorang pemuda yang akan dihukum mati. Pemuda ini memohon satu permintaan, yaitu sebelum dia dihukum mati, dia memohon dapat mencium ibunya, dan permohonan itu dikabulkan. Setelah dia mencium ibunya, maka ia kembali lagi ke tempat hukuman mati tersebut. Beberapa saat kemudian, pemuda ini memohon lagi untuk mendapatkan kesempatan satu kali lagi, yaitu untuk mencium lidah ibunya. Maka pemuda itu diberikan izin kembali, dan kemudian dia mencium lidah ibunya, dan dalam waktu yang begitu cepat, pemuda ini menggigit lidah ibunya sampai putus. Na’uzubillahi min zalik.

Apakah gerangan yang menjadi alasan bagi sang pemuda hingga tega menggigit lidah ibunya tersebut? Mungkin dapat dikatakan ini adalah anak ahli neraka. Sudah mau dihukum mati karena keburukan akhlaknya, masih saja melakukan keburukan yang lain.

Hendaklah kita belajar dari apa yang terjadi di alam ini. Semua fenomena ini diberikan kepada kita untuk kemudian menjadi pemikiran kita, dan juga menjadi dorongan hidayah bagi kita.

Pemuda tersebut mengatakan, “Belajarlah dari apa yang aku lakukan, wahai para Ibu. Selama aku tumbuh menjadi remaja, ibuku tidak meluruskanku.”

Dari cerita ini, dapatlah kita ambil hikmahnya, yaitu sesungguhnya anak-anak pada dasarnya menyukai kelurusan.

Dari hasil sebuah penelitian yang sudah cukup lawas dan bisa menjadi suatu acuan bagi kita, yaitu bagaimana anak-anak kita digoda oleh sebuah ghazwul fiqr, yaitu penjajahan pola pikir yang luar biasa di usia 14 – 21 tahun. Karena pada usia ini, ia sudah membangun dunianya sendiri. Ia sudah tidak hidup di dunia anak-anak yang masih lengket dengan ibunya. Ia sudah mau meluncur bagai anak panah yang melesat, dan dia berkata, “Aku mau melakukan apa yang ingin aku lakukan.” Dia sudah membangun dunianya sendiri.

Salah satu hal yang menjadi konsentrasi dan kepedulian kita yang utama adalah bagaimana tarbiyah jinsiyah (pendidikan seksualitas)-nya kita lakukan, yang hari ini kita ditantang betul untuk menjadi Ayah dan Ibu. Apakah kita mau menjadi orang tua yang sukses lahir dan batin, atau kita sukses lahir saja. Kalau kita mencari akhirat, sudah pasti dunia akan mengikuti kita. Tapi jika hanya mencari dunia, sudah pasti akhirat meninggalkan kita.

Menurut penelitian tersebut (pada tahun 1987), tempat jima’ (senggama) remaja yang hamil, mereka melakukannya di sekolah 28%, di taman 4,9%, di mobil 4%, di hotel 11,2%, di tempat parkir 2,78%, dan yang tertinggi dilakukan adalah di rumah yaitu 83% lebih.

Jadi dari data penelitian ini (tahun 1987), sudah begitu parahnya kehidupan anak-anak kita, sedangkan waktu itu siaran televisi di Indonesia masih begitu sedikitnya (hanya satu, yaitu TVRI). Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta dengan ghazwal fiqr (penjajahan pola pikir)-nya, yang dipasok terus menerus kepada anak-anak kita, sehingga mereka meyakini, bahwa yang mereka lihat itu adalah suatu hal yang benar. Bukankah dua kemampuan utama yang diberikan kepada setiap bayi adalah pendengaran dan penglihatan. Sayyid Qutb mengatakan, bahwa dari pendengaran dan penglihatan inilah masuknya berbagai macam faham dan ideologi.

Jadi, hal ini memiliki korelasi dengan kenyataan, bahwa anak-anak kita di usia 18 tahun adalah yang terbanyak mengunjungi pelacuran. Mengapa? Ternyata barulah kita ketahui, bahwa Indonesia (dan ini di Jawa Timur) merupakan lokalisasi pelacuran yang paling besar di Asia Tenggara, yaitu dengan jumlah PSK-nya pada tahun 1987 yaitu sebanyak 7.500 orang. Itu baru di salah satu tempat. Kini belum dilakukan lagi penelitian serupa, tapi sekarang sudah bisa disinyalir (dengan jangka waktu sebelas tahun dari tahun 1987 hingga sekarang), apalagi dengan perkembangan teknologi kini yang sudah begitu laju melesatnya, yang di satu sisi teknologi tersebut memberikan dampak positif, namun di sisi lainnya juga membawa dampak negatif.

Anak adalah amanat dari Allah. Apakah kita mau memiliki generasi yang hebat? Semuanya tergantung dari kita semua.

Seorang ahli mengatakan, bahwa yang nomor satu atau paling fundamental (mendasar) dari hubungan kita dengan anak kita yang berumur 14 – 21 tahun adalah cuma dua agendanya, yaitu harus kita tinggalkan cara kita yang dulu yang disebut concrete movement menjadi hidden movement. Kalau kita masih menggunakan cara concrete movement, maka dijamin anak kita tidak akan terlalu senang dilakukan seperti itu. Hidden movement adalah memberikan contoh, yaitu bagaimana kita sebagai orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak kita secara perlahan-lahan, yang di dalamnya terdapat perhatian yang begitu spesial kepada anak kita.

Ada beberapa poin yang harus kita siapkan untuk bergaul dengan sukses kepada anak kita:

Pertama-tama, kita lihat dulu tiga citraan, apakah kita dapat mengkonfirmasi citraan anak kita itu terhadap dirinya sendiri. Gambaran dia terhadap dirinya yang kita bangun selama ini dari 0 sampai 14 tahun itu sesuai tidak dengan citraan dia yang ada di luar? Gambaran dia yang kita bangun itu apakah lebih baik atau lebih buruk dari citraan dia terhadap yang dipasok oleh luar. Misalnya dalam hal pacaran. Apakah gambaran dia itu bahwa dirinya memang wajar dan sepatutnya untuk punya pacar? Apakah dia seperti itu? Dia berurusan dengan gambaran kita. Apakah kita setuju dengan pacaran? Dan apakah dia membawakan dirinya ke luar seperti itu juga? Ini menjadi pertanyaan kita. Apakah dia setuju dan yakin bahwa ujian akhir nasional itu merupakan tolok ukur kecerdasannya? Apakah dunia luar memang memasok pikiran seperti itu? Dan bagaimana kita menganggap ujian akhir nasional itu untuk dia?

Secara gampangnya, lagi-lagi konsep diri yang kita bangun dalam hubungan keseharian kita kepada anak kita itu akan membawa sikap-sikap dia di masyarakat ataupun di dalam rumah, dan akan membawa kepada dia satu sikap yang lahir berupa keyakinan diri untuk dia membawakan misi hidupnya sebagai hamba Allah kelak yang akan menjadi manusia dewasa. Ini dilakukan menjelang dia dewasa (sekitar usia 14, 15, 16 tahun).

Apa yang harus kita lakukan sebagai konsekuensi dari citraan-citraan (jati diri) anak kita?

Yang pertama, kita memberikan pemahaman (menemani dia untuk memahami dirinya sendiri), bahwa dia (jiwa, fisik, dan ruhaninya) itu berubah. Kita menemani dan memahami dia, sehingga kita tidak complain dan tidak bingung. Kalau kita sudah memahami anak kita, berarti komunikasi kita dengan anak kita itu dapat dikatakan jernih, tidak ada kesal yang berlebihan, dan juga tidak ada marah. Sehingga kita dapat melihat sikapnya, apakah dia itu bengal, frustasi, dan sebagainya. Pada usia 14 – 21 tahun ini kita percaya bahwa dia sudah membangun dunianya sendiri, yang dunianya itu berbeda sama sekali dengan dunia kita.

Yang kedua, kita mempersiapkan si anak agar dirinya siap menjadi anggota sosial dari masyarakat. Kita mencoba untuk menerjunkan dia menjadi salah satu anggota masyarakat yang mengerti bahwa dia memang hidup di antara masyarakat.

Yang ketiga, kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi wirausahawan. Dalam hal ini, tidak harus kita mempersiapkannya menjadi pebisnis. Tapi dengan cara ini, bagaimana kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi manusia yang mandiri.

Yang keempat, kita memanggil anak-anak kita dengan panggilan calon ayah ataupun calon ibu. Dalam hal ini, sebenarnya kita mempersiapkan anak kita itu untuk menjadi suami ataupun istri yang baik yang tidak akan menyusahkan istri atau suaminya nanti. Ini penting, karena memang kelak anak-anak kita akan menjadi orang tua seperti kita, yang nantinya mereka akan menurunkan generasi-generasi penerus bangsa ini. Yang harus ditanamkan untuk mempersiapkan mereka menjadi suami atau istri yang baik itu antara lain: Pertama, agar mereka menjaga pandangannya. Kedua, tidak ikhtilaf (tidak bercampur baur) antara laki-laki dengan perempuan. Ketiga, jangan bersentuh kulit laki-laki dengan perempuan.

Dan yang harus selalu diingat, bahwa dari sekarang kita juga harus mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi mujahid-mujahid. Jangan sampai umat Islam seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, yaitu: “banyak, tetapi seperti buih”. Karena itu, marilah kita tanamkan kepada anak-anak kita agar memiliki kesadaran untuk membangun agama, bangsa dan negara ini. [44n]

13 Juni 2008 at 1:00 PM Tinggalkan komentar

Hikmah di Balik Penciptaan Syaitan

HIKMAH DI BALIK PENCIPTAAN SYAITAN

Disarikan dari Pengajian Ahad

yang disampaikan oleh:

Prof. KH. Ali Mustafa Ya’qub, M.A.

pada tanggal 6 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ketika Allah akan menciptakan khalifah di bumi (yaitu manusia), maka para malaikat protes kepada Allah. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 disebutkan:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesunggunya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Khalifah artinya adalah “pengganti dari yang tidak ada”. Oleh karena itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq disebut sebagai “Khalifah Rasul”, karena menggantikan posisi Rasulullah SAW setelah Rasulullah wafat. Umar bin Khattab juga disebut sebagai “khalifah”, karena menggantikan posisi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena itu, jangan sekali-kali kita menyebut “Khalifah Allah”. Al-Qur’an ataupun Hadits tak pernah menyebutkan “Khalifah Allah”. Khalifah Allah berarti pengganti Allah. Kalau begitu Allah ke mana kalau digantikan. Al-Qur’an hanya menyebutkan: “Aku (Tuhan) akan membuat pengganti di bumi”.

Menurut para ahli tafsir, berdasarkan riwayat dari Abdullah ibnu Abbas, memang sebelum diciptakannya makhluk yang bernama manusia, bahwa dunia pernah didiami oleh makhluk yang bernama “Banul Jan”. Makhluk itu berbuat kerusakan, yang kemudian Allah akan menciptakan penggantinya lagi.

Dari persepsi pemahaman malaikat sepeti disebutkan pada ayat di atas, malaikat sepertinya “protes”. Malaikat mengatakan, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah kemudian mengatakan, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita “bertanya” kepada Allah. Mengapa kita sudah taat, tapi masih diberi musibah dan bencana?

Jadi, apa sebenarnya hikmah di balik Allah menciptakan syaitan?”

Ada 3 (tiga) kategori makhluk. Yang pertama disebut “malaikat”, yang kedua disebut “manusia”, dan yang ketiga disebut “Jin”. Ketiga-tiganya ini memiliki karakter yang berbeda.

Malaikat diciptakan oleh Allah hanya memiliki sifat untuk selalu taat kepada Allah. Allah menerangkan karakter malaikat ini, bahwa malaikat tidak pernah durhaka kepada Allah dan selalu mengerjalan apa yang diperintahkan.

Manusia ada yang taat kepada Allah, dan juga ada yang tidak taat kepada Allah. Yang taat disebut mu’min, yang tidak taat disebut kafir.

Jin memiliki watak seperti manusia, yaitu ada yang taat dan juga ada yang tidak taat.

Pertanyaannya, di mana syaitan?

Secara bahasa, “syaitan” berarti adalah sesuatu yang tidak mau mengikuti aturan. Dalam istilah, “syaitan” adalah makhluk Allah yang tidak mau taat terhadap perintah-perintah Allah, baik dia itu berupa jin, maupun berupa manusia.

Malak” (jama’nya malaikat) berarti memiliki watak yang taat. “Jin” artinya tutup, karena tidak terlihat. “Manusia” atau “Insan” terambil dari kata “nisiyan”, yang artinya lupa.

Al-Qur’an menegaskan:

Wa kazalika ja’alna liqulli nabiyyin ‘aduwwan syayaatiinal insi wal jin.

“Dan demikianlah setiap Nabi kami ciptakan musuh-musuh berupa syaitan yang terdiri dari manusia dan jin.”

Jadi semakin jelaslah, bahwa syaitan itu dapat berupa manusia, dan dapat juga berupa jin. Sedangkan “iblis” yang kita kenal selama ini, artinya sama dengan arti “syaitan”, yaitu makhluk yang tidak taat kepada Allah. Iblis bukan nama, melainkan sebutan untuk sifat seorang jin yang tidak taat terhadap perintah Allah. Nama sebenarnya dari iblis tersebut adalah “Haris”. Iblis itu sifatnya, nama dirinya adalah “Haris” yang berarti “penjaga”. Mengapa disebut “Haris”? Konon karena mendapat tugas untuk menjaga surga. Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam, maka semua malaikat kemudian sujud. Jin yang bernama “Haris” yang kemudian dikenal sebagai “Iblis” kemudian tidak mau taat.

Setelah itu, Iblis kemudian terkutuk dan tidak boleh tinggal di surga. Iblis kemudian meminta kepada Allah agar tidak dimatikan sampai waktu kiamat. Permintaan atau doa iblis itu ternyata dikabulkan oleh Allah.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah Iblis adalah makhluk yang percaya kepada Allah? Mungkin dapat dikatakan, bahwa Iblis itu memang percaya kepada Allah. Dan kalau “percaya” itu diterjemahkan dengan kata “mu’min”, maka dapatlah dikatakan bahwa Iblis itu mu’min.

Allah bertanya kepada Iblis, “Mengapa kamu tidak mau sujud kepada Adam ketika kamu Aku perintahkan?”

Iblis pun menjawab, “Saya lebih hebat dari Adam. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakan Adam dari tanah.”

Menurut Iblis, bahwa api itu lebih baik dari tanah. Makanya kemudian Iblis mengganggap bahwa ia tidak pantas untu tunduk kepada makhluk yang terbuat dari tanah.

Watak dari api adalah selalu meninggi dan selalu ke atas. Ini menunjukkan bahwa api merupakan watak sombong. Karena itu, watak Iblis adalah sombong. Dari kesombongannya itulah yang kemudian menyebabkan ketidak-taatan.

Berbeda dengan tanah, bahwa di manapun tanah umumnya selalu diposisikan pada bagian yang paling bawah. Jadi, watak tanah itu antara lain adalah merendahkan diri dan tidak arogan. Watak tanah yang kedua, bahwa biarpun dilemparkan kotoran, maka tanah akan selalu memberikan yang terbaik, menghasilkan buah-buahan yang lezat, dan sebagainya. Karena itu, manusia seharusnya mempunyai watak tanah ini.

Seperti disebutkan di atas, bahwa Iblis itu percaya kepada Allah. Tapi, percaya kepada Allah namun tidak taat kepada Allah, maka hal tersebut tidak akan berarti apa-apa. Yang menyelamatkan manusia nantinya adalah percaya dan taat kepada Allah.

Selanjutnya, bahwa doa (permintaan) iblis ternyata dikabulkan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an dikisahkan permintaan iblis ini:

Rabbi ‘anzirni ila yaumi yub’atsu.

“Wahai Tuhanku, berilah kami masa tangguh jangan Kamu matikan, sampai manusia nanti dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat!”

Permintaan iblis ini memang dikabulkan, tapi tidak pas seratus persen. iblis meminta kepada Allah agar tidak dimatikan sampai manusia dibangkitkan dari kubur, yang berarti hari kiamat. Padahal, sesudah manusia dibangkitkan dari kubur, maka tidak ada lagi kematian. Yang ada adalah hidup kekal selama-lamanya.

Maka, Allah mengabulkan doa iblis tidak persis iblis diberi umur panjang sampai pada hari manusia dibangkitkan, tapi hanya sampai pada waktu yang ditentukan. Jadi, iblis diberi “kelebihan” untuk tidak mati, yang kelebihan inilah kemudian digunakan iblis untuk merayu dan menggoda manusia. Pengalaman iblis dalam menggoda manusia sejak zaman Nabi Adam hingga hari yang ditentukan tersebut sungguh luar biasa. Jangankan orang biasa, Nabi saja bisa tergoda.

Kalau begitu, apa hikmahnya Allah menciptakan iblis (syaitan) ini? Karena ternyata, syaitan ini di dunia membuat kemungkaran dan kemaksiatan. Menurut manusia, alangkah lebih baiknya misalkan jika syaitan itu tidak diciptakan, sehingga dunia ini akan baik semuanya. Seandainya tidak ada iblis, mungkin kejahatan tidak akan pernah ada di dunia ini.

Hikmah penciptaan syaitan antara lain:

Pertama, bahwa seandainya tidak ada Syaitan, maka tidaklah dapat diketahui manakah manusia yang baik dengan yang tidak baik. Karena tanpa adanya syaitan, maka tidak ada kriteria antara baik dengan tidak baik.

Lebih bagus mana antara malaikat dengan manusia? Ada pendapat yang mengatakan, bahwa manusia lebih bagus daripada malaikat. Karena manusia ketika taat kepada Allah, maka ketaatannya itu terjadi setelah ia melawan syaitan. Ketika manusia taat, hal ini dilalui setelah manusia berhasil melumpuhkan syaitan. Sedangkan malaikat ketika taat kepada Allah, tidak berperang melawan syaitan. Ketaatan malaikat karena wataknya memang taat. Karena itu di kalangan malaikat, mungkin tidak ada istilah malaikat yang baik dengan yang tidak baik.

Manusia mempunyai karakter untuk tidak puas dengan pemberian yang ada. Manusia memiliki kreatifitas untuk berusaha. Ketika usahanya itu berhasil dan mendapatkan hasil yang maksimal, maka di situlah manusia merasa puas. Karena itu, manusia tak ingin seperti orang yang berada di dalam penjara, yang selalu terkekang kebebasannya.

Kedua, seandainya Allah tidak menciptakan syaitan dan kemudian Allah akan memasukkan manusia ke dalam surga, maka kriteria apa yang digunakan oleh Allah untuk menentukan bahwa yang ini mendapat tingkatan surga yang tinggi, sedangkan yang lainnya mendapatkan tingkatan surga yang rendah. Tentunya kriteria tersebut tidak ada, yang akhirnya semuanya mendapat tingkatan surga yang sama. Padahal amal yang dilakukan manusia berbeda-beda. Ada yang amal ibadahnya tinggi, dan ada juga yang amal ibadahnya rendah. Lantas di mana keadilan Tuhan jika manusia dengan amal ibadah yang berbeda-beda, tapi dimasukkan ke dalam tingkatan surga yang sama? Inilah hikmah diciptakannya syaitan, maka manusia kemudian bervariasi dalam menjalankan amal ibadahnya. Di sinilah letak keadilan Tuhan.

Bahwa dalam mewujudkan keadilan Tuhan terhadap manusia, tanpa adanya syaitan, maka manusia tidak akan mendapatkan godaan. Apabila Tuhan kemudian memberikan surga kepada manusia dan surga itu sama, maka di sinilah tidak ada keadilan Tuhan, sedangkan amal ibadah masing-masing manusia berbeda-beda.

Ketiga, bahwa manusia memiliki ketidak-puasan hanya untuk menerima. Ketidak-puasan itu diwujudkan dalam bentuk tinggi rendahnya amal dan ketaatan manusia setelah manusia melakukan perlawanan terhadap syaitan. [Aan]

13 Juni 2008 at 12:54 PM 1 komentar

Fakir Miskin

FAKIR MISKIN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 2 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hamba yang sangat dipuji Allah adalah hamba yang merasa miskin di hadapan kebesaran Allah. Sedangkan hamba yang tidak terpuji adalah mereka yang merasa kaya di hadapan Allah. Sebagai seorang yang beriman, sedapat mungkin kita selalu merasa faqir dan juga selalu merasa miskin di hadapan kebesaran Allah SWT.

Salah satu tanda-tanda keangkuhan dan kesombongan seseorang, bahwa ia selalu merasa kaya, sekalipun ia sedang menghadap kepada Allah. Pada saat kita sedang sujud di hadapan Allah, maka lupakanlah kekayaan dan semua yang kita miliki. Hamba yang paling cepat mendaki ke langit menuju ke haribaan Allah adalah hamba yang merasa miskin dan merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah.

Kita sangat sadar, bahwa semua yang kita peroleh itu hanya titipan Allah. Titipan itu hanyalah sementara. Ketika kita meninggal, maka yang mengantar kita sampai di pemakaman hanya kain kafan. Semewah apapun seseorang, maka tidak akan ada hartanya yang mengantar sampai ke liang kubur.

Ketika di liang kubur, sama saja antara orang kaya dengan orang miskin. Memang ada yang dipeti-matikan dengan peti yang sangat mewah, tapi peti mewah itu tak akan memberikan arti apa-apa bagi seseorang. Karena itu, kita dianjurkan untuk tidak menggunakan peti mati, kecuali dalam keadaan terpaksa dan kondisi tertentu yang mengharuskan menggunakan peti mati.

Jadi, kita tidak ada arti apa-apa di hadapan kebesaran Allah SWT. Karena itu, siapapun yang ingin dicintai Allah, maka selalulah ia merasa miskin, terutama ketika menghadap-Nya. Bahkan kalau perlu kita pun merasa miskin di hadapan manusia.

Firman Allah:

Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 273)

Maksudnya, bahwa ada orang yang dia itu menjadi miskin karena dia melakukan misi ketuhanan. Kalau dia mencari nafkah (rezeki), dia mungkin akan menjadi kaya. Tapi jika ia mencari nafkah tersebut, kemungkinan umatnya akan ketinggalan, serta tidak mendapatkan apa-apa. Hal inilah yang diwanti-wanti oleh Allah SWT. Jadi sesungguhnya kemiskinannya itu adalah kemiskinan yang sudah diperhitungkan.

Di beberapa pulau di Indonesia yang sudah ditinggalkan ustadz, yang kemudian beberapa Jum’at berturut-turut tidak bisa lagi Shalat Jum’at. Bukan karena tidak ada umat, dan bukan pula tidak ada masjid, melainkan tidak ada lagi yang bisa meyampaikan khutbah di tempat itu. Akhirnya, ada beberapa anak muda yang sangat produktif yang kemudian terpanggil untuk datang ke tempat tersebut. Dia kemudian menjadi guru ngaji, dan juga menjadi ustadz di sana. Karena hal tersebut, dia tidak ada lagi waktu untuk mencari nafkah, sehingga dengan sendirinya orang seperti ini termasuk sebagai orang miskin. Inilah antara lain yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas, yang mana orang-orang seperti ini sangat patut untuk dibantu.

Sabda Rasulullah:

Ittaqillaha faqiran la talqi ghaniyyan.

“Bertemulah kepada Tuhanmu dalam keadaan faqir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya.”

Orang miskin di mata Tuhan itu penting, dan tidak ada bedanya dengan orang kaya, asalkan orang miskin itu termasuk miskin yang taat. Ini tidak berarti bahwa orang kaya itu tidak mempunyai tempat di mata Tuhan, meskipun banyak rintangan bagi orang kaya itu. Sehingga orang kaya yang pemurah lebih tinggi martabatnya di mata Tuhan dibandingkan orang miskin yang taat. Jadi sesungguhnya, yang dimaksudkan bukanlah tinggalkan dunia, melainkan carilah dunia tapi jangan pernah lupakan akhirat.

Suatu pepatah mengatakan (pepatah Imam Syafi’i):

I’mallidunyaka ka-annaka ta’i syu-abada wa’malli akhiratika ka-annakatamuutughada.

“Carilah duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Maksudnya, jika kita membayangkan kehidupan abadi, maka pasti kita akan bekerja optimal mencari dunia ini. Tetapi jika kita membayangkan besok akan mati maka kita akan menshadaqahkan harta kita dan ibadah kita pasti mencapai puncaknya. Jadi, jangan dipertentangkan antara dunia dengan akhirat. Karena dunia adalah pintu masuk ke akhirat.

Addunya mir-atul akhirat.

“Pencerminan akhirat kita itu adalah apa yang kita rasakan di dunia ini.”

Jadi, untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk neraka atau surga, maka lihatlah apa yang kita lakukan di dunia ini.

Rasulullah bersabda:

Innallaha yuhibbul faqiiral muta’affif abal a’yal.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang fakir yang menjaga kehormatan diri yang menjadi bapak keluarga.”

Dia merasa fakir, tetapi kefakiran dan kemiskinannya itu terhormat. Ada orang miskin tapi tidak terhormat. Maka jadilah orang miskin yang terhormat. Dia memang miskin secara harta, tapi dia kaya dengan hati. Dia dekat selalu dengan Tuhannya, dia selalu merindukan Nabinya, dia selalu rajin berkomunikasi dengan Al-Qur’an, dan dia tidak pernah terlepas dari mengingat Tuhan.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata: “Terkutuklah orang yang memuliakan seseorang karena kekayaannya, dan meremehkan seseorang karena kefakirannya.”

Jangan-jangan kebanyakan dari kita adalah seperti ini, yang selalu memandang seseorang dari kekayaannya. Jika orang tersebut kaya, maka kita akan memuliakannya, tapi jika orang tersebut miskin maka kita akan meremehkannya.

Rasulullah bersabda:

Yadkhulu fuqaraa-u ummatil jannata qabla aghniyaa-iha bi khamsimi-atin ‘amin.

“Orang-orang faqir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya di antara mereka dengan selisih waktu 500 tahun.”

Tuballiman bidahilal islami wa qaana’isyuhu qafafan waqana ‘abidin.

“Berbahagialah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Islam dan kehidupannya merasa cukup dan tidak menjadi beban orang lain dan puas dengan yang ada.”

Inilah yang dinamakan qana’ah. Orang yang paling kaya ialah orang yang merasa puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Sedangkan orang yang miskin ialah orang yang selalu merasa tidak punya apa-apa.

Orang yang miskin adalah orang yang banyak maunya, sekalipun hartanya banyak. Orang kaya yang paling hina adalah orang kaya yang suka meminta-minta. Kalau orang miskin meminta-minta mungkin masih dapat dikatakan wajar, tapi jika orang kaya suka meminta-minta, sungguh terhinalah orang seperti ini, dan rendah martabatnya di mata Allah.

Kalau memohon banyak kepada Allah, itulah yang terpuji. Tapi jika meminta kepada makhluk Tuhan, itulah yang tidak terpuji. [Aan]

13 Juni 2008 at 12:45 PM Tinggalkan komentar

Pandangan Hidup Manusia Menurut Islam

Manusia Sebagai Khalifatullah

Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat.

(lebih…)

13 Juni 2008 at 12:32 PM 17 komentar

Tasawuf

TASAWUF

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Drs. H. Wahfiuddin M.BA.

pada tanggal 5 Maret 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Allah berfirman dalam An-Nisaa ayat 59:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Secara harfiah, “uli” berasal dari kata “wala” yang artinya yang memiliki (yang menguasai). “al-amr” bermakna urusan (persoalan). Jamaknya adalah “umr”. “wa ilallahi turja’ul umur” (dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan). “al-amr” juga berasal dari kata “amara – ya’muru”. “amara” artinya memerintah, “al-amr” artinya perintah (kewenangan). Jadi, secara harfiah “ulil amri” adalah orang-orang yang menguasai persoalan, dan oleh karena itu mempunyai kewenangan.

Tugas Rasul

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 151 dijelaskan 3 (tiga) tugas Rasul. Hal yang sama juga terdapat pada Surah Al-Jumu’ah ayat 2, yaitu:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Q.S. Al-Jumu’ah: 2)

Pada ayat yang lain disebutkan:

Kamaa arsalnaa fiikum rasuulan minkum yatluu ‘alaikum aayaatinaa, wa yuzakkiikum, wa yu’allimukumul kitaaba wal hikmah, …

“Sebagaimana telah kami utus kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian juga (dari golongan manusia seperti kamu) dengan tiga tugas, membacakan kepadamu ayat-ayat kami, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepada kalian al-kitab (al-hikmah), …”

Pada ayat tersebut dinyatakan, bahwa Rasul itu bukan dari golongan jin ataupun malaikat, melainkan dari golongan manusia. Dan tugas Rasul tersebut adalah:

1.”yatlu” berasal dari kata “tala” atau ”tilawah” yaitu membacakan kepadamu ayat-ayat kami.

2. “zakka – yuzakki – tazkiyah” artinya mensucikan kamu.

3.“kitab” artinya ketentuan-ketentuan (bukan semata-mata buku). Banyak orang mengartikan “kitabullah” itu buku Allah. Kata-kata “kataba” sering diartikan menulis, padahal “kataba” lebih luas dari menulis, yaitu “menentukan”. Tidaklah memusibahi kita, kecuali apa yang Allah telah “kataba”, yaitu “yang Allah telah menentukan untuk kita”. Bentuk pasifnya yaitu “kutiba”. Kalimat “kutiba ‘alaikumushshiyam” bukan artinya “telah ditulis”, tetapi “telah ditetapkan untukmu”. Maka “kitabun” atau “kitab”, misalkan dalam konteks Surah An-Nisaa ayat 103: “…innash-shalaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaaban …” yang artinya:

innash shalaata : sesungguhnya shalat itu

kaanat ‘alal mu’miniina: adalah bagi orang-orang yang beriman

kitaaban : shalat adalah “kitab”, yaitu ketentuan

Makanya, ketika membaca “Alif lam mim. Zaalikal kitaab”, zaalikal kitab bukan artinya “inilah buku”, karena ketika ayat ini diturunkan, Al-Qur’an belum ada dalam bentuk buku, melainkan ayat Al-Qur’an masih dalam proses turun, kemudian dihafal. Setelah Rasulullah wafat, barulah Al-Qur’an ditulis dalam bentuk buku. Karena itu, makna “kitaab” bukanlah berarti “buku”, melainkan adalah berarti “ketentuan”.

Tugas Rasul seperti disebutkan pada ayat di atas (Surah Al-Baqarah ayat 151) yaitu “mengajarkan kepada kalian al-kitab, yaitu ketentuan-ketentuan, hukum-hukum”

wal hikmah”, yang berarti tujuan-tujuan dari hukum itu sendiri, atau manfaat-manfaat dari hukum. Misalkan, mengapa ada ketentuan bahwa harus bayar zakat? Hikmahnya (tujuannya) yaitu: “kaila yakuuna duulatan bainal aghniya-i minkum” yaitu dengan adanya zakat, maka akan mencegah harta berputar kepada segelintir orang kaya saja, supaya harta tersebut tersebar kepada orang-orang yang tak mampu. Mengapa ada shalat? Maka kemudian dijelaskan, bahwa “innash shalata tanha anil fahsya-i wal munkar”, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Apa hubungan shalat dengan tercegahnya orang dari perbuatan keji dan mungkar? Inilah, bahwa ada “kitab”nya atau ketentuannya dan ada “hikmah”nya atau tujuan (manfaat) dari ketentuan tersebut.

Selanjutnya:

…wa yu’allimukum maa lam takuunu ta’lamuun.

… dan menta’limkan kamu apa-apa yang kamu tidak bisa mengetahuinya (kecuali Rasul yang mengajarkannya).

Jadi, tugas Rasul itu ada 3 (tiga) – disingkat Tugas 3T –, yaitu:

1) Tilawah, yaitu membacakan ayat-ayat Allah.

2) Tazkiyah, yaitu mensucikan manusia. Mensucikan di sini bukanlah mensucikan tubuh, melainkan mensucikan ruh (tazkiyaturruh).

3) Ta’lim. Ta’limnya ada dua, yaitu ta’lim yang sifatnya “legal” ketentuan-ketentuan dan manfaatnya, dan menta’limkan apa-apa yang gaib bagi manusia (yang tidak bisa diketahui manusia), kecuali Rasul yang mengajarkannya.

Apa yang dimaksudkan dengan “menta’limkan apa-apa yang tidak kamu ketahui”?

Allah adalah “Al-‘Alim” yang artinya memiliki pengetahuan. “’alima” artinya mengetahui, sedangkan “’alim” artinya Maha Mengetahui.

Ilmu Allah dilepas di dua tempat. Pertama, ada ilmu Allah yang oleh Allah dilepas di alam semesta. Itulah ilmu yang mengatur “qaun”, yaitu kejadian-kejadian alam yang kita sebut sebagai hukum alam. Jadi, ilmu Allah yang ditempatkan di alam itulah yang menjadi takdir Allah yang mengendalikan peristiwa-peristiwa alam. Inilah ilmu yang “qauniyah”, yang juga disebut sebagai “hukum alam” atau “sunnatullah”. Kedua, ada ilmu yang dilepaskan oleh Allah berupa wahyu, yaitu ilmu Allah yang ada di dalam Al-Qur’an.

Lalu, bagaimana manusia memahami ilmu Allah yang di “qauniyah” dan ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an tersebut? Untuk mengetahuinya, maka manusia melakukan “abshara – yubshiru”, yaitu melakukan pengamatan, pencatatan, dan pengukuran (observasi). Maka didapatlah serangkaian data. Berdasarkan data-data itu, manusia mengembangkan hipotesa-hipotesa. Kemudian hipotesa itu dieksperimenkan dengan cara deduktif. Setelah itu hasilnya didapatlah konklusi (kesimpulan). Sehingga, ilmu Allah yang tadinya ada di alam, maka oleh manusia kemudian digali, diproses dengan scientific method dipindahkan ke dalam diri manusia.

Begitu juga ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an. Diobservasi, maka didapatlah data. Misalkan, janganlah riba’. Riba’ itu bisa di dalam jual beli, bisa di dalam pinjam-meminjam. Kalau tidak boleh ada riba’, lalu bagaimana kita mengembangkan ekonomi tanpa riba’? kemudian dikembangkanlah hipotesa berupa bank yang non ribawi, asuransi yang non ribawi, perdagangan yang non ribawi. Tapi itu baru hipotesa. Kemudian dieksperimenlah secara deduktif, dan akhirnya didapatlah konklusi (kesimpulan) yang kemudian dinamakan “ekonomi syari’ah”.

Semua ilmu Allah yang ada di alam dan di Al-Qur’an yang digali oleh manusia, kemudian disebut sebagai “ilmu hushuli”, yaitu ilmu yang diikhtiarkan oleh manusia. Tapi jangan lupa, selain ada ilmu Allah yang dilepas di alam, ada juga ilmu Allah yang disampaikan berupa wahyu, dan ada juga ilmu Allah yang tetap ada pada Allah. Allah bisa memberikan ilmu tersebut kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Ilmu ini tidak dihasilkan dan tidak digali dari ikhtiar manusia, melainkan ilmu yang dihadiahkan begitu saja oleh Allah yang di Al-Qur’an disebut “milladunna ‘ilmu” atau yang biasa disebut “ilmu ladunni”, yaitu ilmu yang dihadirkan oleh Allah (ilmu hudhuri). Karena itu, ada orang-orang yang tidak pernah belajar melalui jalur akademis, tapi jika Allah mau, maka Allah akan berikan ilmu tersebut. Biasanya ilmu ini diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul.

Mengapa seorang Rasul mampu melakukan tugas-tugas 3T tersebut? Karena Rasul juga diberlakukan 3T oleh malaikat. Jadi apa-apa yang ditilawahkan oleh Rasul bukanlah buatan Rasul sendiri, melainkan Rasul sebelum juga telah ditilawahkan oleh Jibril. Rasul juga mendapatkan tazkiyah dari Jibril. Rasul juga dita’lim oleh Jibril. Karena itu Rasul kemudian bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’lim. Jibril bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan kepada Rasul tak lain karena Jibril telah lebih dahulu ditilawah, ditazkiyah, dan dita’limkan oleh Allah.

Kemudian Rasul mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan umat-umat pada masanya, yaitu generasi para sahabat. Tapi, tidak semua sahabat-sahabat Nabi menjalani 3T itu dengan sempurna, karena mereka (sahabat-sahabat itu) juga adalah manusia biasa. Bagi orang-orang yang bisa menjalani 3T ini dengan sempurna, maka ia akan bisa mendekati derajat kenabian, tetapi mereka tidaklah lantas disebut sebagai Nabi. Yang ini disebut sebagai derajat waliyullah, yang mereka ini patut menyandang sebagai pewaris para Nabi (warasatul anbiya).

athiullah wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum.

“taatilah Allah taatilah Rasul dan taati ulil amri.”

Jika kini sudah tidak ada Rasul, lantas siapakah yang akan ditaati? Yang akan ditaati itu adalah mereka yang kemudiam disebut sebagai pewaris para Rasul, yang silsilahnya jelas tersambung hingga kepada Rasul (musalsal). Taati ulil amri, maksudnya adalah ulil amri yang juga merupakan pewaris para Nabi. Ulil amri adalah orang yang menguasai persoalan.

Dalam bertasawuf, yang penting bukan zikir dan wiridnya, tetapi siapa mursyidnya. Ilmu pengetahuan dan keahlian boleh saja diketahui dan dikuasai, tapi harus jelas sumbernya dari mana. Bukannya Islam melarang orang untuk autodidak (belajar sendiri). Autodidak itu boleh, tapi untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, batang tubuh (inti) dari ilmu itu harus dipelajari dari sumber-sumber yang autentik.

Dalam tasawuf, hal ini begitu pentingnya. Sebab bukan soal wiridnya, melainkan siapa yang menjadi mursyidnya, yang membimbing ruh mendekati Allah. Menjadi suatu kewajaran bagi orang yang sudah melakukan olah rohani secara intens, yang kemudian ia bisa mencapai suatu tingkatan ketajaman-ketajaman ruhaniah, misalkan: ia bisa mengalami dan melihat apa-apa yang tidak bisa dialami dan dilihat oleh orang lain.

Begitu terlihat (kasyaf), yang itupun baru kasyaf tingkat rendah, orang tersebut kemudian bisa menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Maka di sinilah godaan akan bisa masuk. Apakah yang gaib-gaib itu dari malaikat atau dari Allah, atau justru itu mungkin dari iblis? Inilah kasus yang akhir-akhir ini sering muncul, seperti mengaku sebagai Nabi, dan sebagainya.

Karena itulah, dalam beragama begitu pentingnya kita memiliki mursyid yang bersilsilah dan autentik. Setelah bertemu dengan mursyid yang warasatul anbiya, yang waliyullah, yang sudah terlatih dan teruji dengan ibadah-ibadah yang ketat, yang pemahaman agamanya begitu mendalam, yang akhlaknya begitu baik, maka mursyid tersebut akan memberikan latihan-latihan. Apapun latihannya tersebut, maka akan menjadi baik. Ketika kita mengamalkannya, maka mursyid tersebut akan mengontrolnya.

Memang, tidak diingkari bahwa ada wirid dan bacaan tertentu yang membuat orang bisa menjadi begitu kharismatik, yang seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat menawan, dan banyak orang yang senang kepadanya. Maka jangan heran, banyak yang jatuh cinta kepadanya setelah mengamalkan suatu wirid. Yang ujung-ujungnya akan menjerumuskan kepada hal-hal yang semakin menjauhkan dari Allah. Namun jika ada mursyid, maka sang mursyid akan mengontrol dan mengingatkan jika ada sesuatu yang melenceng tersebut.

Apakah waliyullah dan warasatul anbiya itu masih ada sampai sekarang? Tentunya masih ada, karena telah tertulis di dalam Al-Qur’an, dan ayat tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Ciri seorang waliyullah tersebut adalah adalah:

Pertama, ketenteramannya yang luar biasa, terlihat dari akhlaknya yang mulia. Mengapa bisa seperti ini? Karena mereka sungguh beriman dan bertakwa. Dan orang-orang seperti ini selalu terpancar dari dirinya “al-busra”, yaitu kebahagiaan, keceriaan, semangat, dan optimisme.

Kedua, dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan, bahwa seorang waliyullah adalah orang yang begitu gemar beribadah, yaitu dengan melakukan yang wajib dan juga yang sunnah. Makanya kalau ada yang mengaku mursyid, tapi ibadahnya kendor, maka hati-hatilah. Karena kegemarannya beribadah itu, Allah mengatakan, “Aku mencintai dia, maka Aku akan menjadi pendengarannya saat dia mendengar.” Di sinilah yang kemudian terjadi “kharikul ‘adah”, yaitu orang tersebut diberikan Allah kemampuan melihat apa yang orang biasa tidak bisa melihatnya, kemampuan mendengar yang orang biasa tidak bisa mendengarnya, inilah orang-orang yang doa-doanya diperhatikan oleh Allah.

Ketiga, meskipun mereka memiliki “super natural power”, tapi para wali itu cenderung menyembunyikannya. Tidak mudah ia mempertontonkan kesaktian-kesaktiannya.

Keempat, ia memiliki tauhid yang murni dan kebergantungan yang total, yaitu hanya bergantung kepada Allah.

Kelima, ia sungguh-sungguh mewarisi akhlak dan tugas Rasul.

Itulah kriteria-kriteria seorang mursyid yang memang benar-benar waliyullah dan juga warasatul anbiya. [Aan]

8 Juni 2008 at 2:11 PM Tinggalkan komentar

Hakikat Fakir

HAKIKAT FAKIR

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 27 Februari 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesungguhnya, kefakiran dan kemiskinan itu tidak identik dengan kefakiran dan kemiskinan harta. Jika kita merasa fakir dan miskin di hadapan kebesaran dan kekayaan Allah SWT, itulah yang dinamakan “al-faqr”. Orang yang merasakan seperti ini bisa saja hartanya banyak. Dan sebaliknya, orang yang angkuh bisa saja dia miskin. Sudah miskin harta, angkuh lagi di hadapan Allah SWT.

Sebaik-baiknya yang kita inginkan adalah bahagia di dunia dan di akhirat. Kalau kita harus memilih, maka lebih baik bahagia di akhirat, daripada bahagia di dunia saja. Dan lebih jelek lagi, jika di dunia tidak bahagia, di akhirat pun tidak bahagia.

Ada 5 (lima) hal keadaan fakir:

Pertama, jika ia diberikan harta, maka ia tidak akan menyukainya, dan ia akan merasa tersiksa dengan harta tersebut dan tidak mau mengambilnya. Ia selalu menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan pada harta tersebut. Inilah yang disebut dengan “zuhud”. Sedangkan orang yang memiliki sifat tersebut dinamakan “zahid”.

Hal ini sungguh sangat berat untuk kita jalani. Jika ada orang yang ketika diberikan harta kepadanya, kemudian ia tidak menyukai harta tersebut, ia merasa tersiksa akan harta itu, dan kemudian dia tidak mau mengambilnya. Mengapa? Karena kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, kemudian tiba-tiba mendapatkan lagi harta dari orang lain, sehingga ia sebetulnya merasa tidak terlalu senang dan juga merasa tersiksa akan harta tersebut. Untuk apa harta yang ia dapatkan lagi tersebut lebih dari apa yang ia butuhkan. Jangan-jangan nanti harta tersebut akan memberatkannya dalam perjalanan menuju Allah SWT.

Jarang sekali yang bisa melakukan ini. Pada umumnya adalah kebalikannya, yaitu sudah dapat harta banyak, kemudian berdoa lagi agar hartanya bertambah banyak.

Memang tidak gampang untuk menjadi zahid. Apabila kita sudah mampu merasakan hal seperti ini, maka kita sudah terpilih menjadi orang yang zahid. Sebenarnya juga tidak terlalu berat untuk menjadi zahid, jika kita sudah membiasakan diri untuk bersikap dekat kepada Allah. Yang kita butuhkan sebenarnya bukan harta Tuhan, bukan rahmat Tuhan, bukan rizki Tuhan, melainkan Tuhannya itu sendiri yang kita butuhkan.

“Ambil harta itu, yang saya butuhkan adalah Engkau ya Allah.” Bahkan ada yang mengatakan, “Ambil surga itu, yang sangat saya butuhkan adalah Engkau ya Allah.” Dia lupa kenikmatan surga itu seperti apa, yang penting “aku memiliki-Mu, aku bersama-Mu ya Allah. ” Ia lupakan surga itu sendiri.

Kita masih awam, sehingga belum sampai kepada tingkatan seperti itu. Tapi tidak mustahil, misalkan kita dapat rizki, dapat promosi untuk jabatan baru, maka kita ucapkan, “Terima kasih ya Allah, saya bersyukur kepada-Mu. Tapi sesungguhnya bukan ini yang paling saya butuhkan. Yang saya butuhkan Engkau ya Allah.”

Pada orang yang seperti ini, ketika rizkinya banyak, dia tidak terlalu bahagia, melainkan Allah sebenarnya yang ia butuhkan. Orang yang seperti ini tidak akan pernah mabuk dengan pemberian Tuhan, melainkan Tuhan itulah yang ia butuhkan. Sebaliknya, jika yang diberikan kebalikannya, seperti: miskin, sakit, kematian, maka yang ia ucapkan adalah, “Tidak apa-apa ya Allah, yang penting aku dekat dengan-Mu, yang penting Engkau tidak menjauhiku.”

Jika kita mampu berprinsip seperti ini, insya Allah, surga akan datang lebih awal menjemput kita. Karena ketika diberikan kekayaan, kita kemudian menjadi tidak mabuk akan kekayaan tersebut. Jadi, seandainya harta itu, atau jabatan itu diambil oleh Tuhan, maka kita tidak terlalu merasa kecewa. Mengapa? Karena memang bukan itu yang paling kita butuhkan, melainkan Tuhan-lah yang paling kita butuhkan.

Jadi, yang disebut dengan zuhud itu adalah, bahwa jika lebih daripada kecukupannya, maka itu akan menjadi beban pada dirinya sendiri. Persoalannya, definisi cukup itu berapa?

Tingkat kecukupan antara orang kaya dengan orang miskin tentunya berbeda. Tidak pernah ada orang yang merasa cukup. Bagi orang yang dekat dengan Tuhan, pasti dia mampu mendefinisikan apa pengertian cukup itu. Jika kita tidak tahu batas kecukupan tersebut, merupakan pertanda bahwa ada masalah diri kita dengan Allah.

Orang yang merasa kelaparan saja bisa merasa cukup, “Ya Allah, terima kasih. Mungkin ini yang terbaik pilihan-Mu. Karena jika aku kekenyangan, maka aku tidak bisa khusyu’ dengan-Mu.”

Kita tentunya bercita-cita menjadi orang yang seperti ini. Karena untuk menjadi orang yang zuhud itu tidak mesti harus melarat. Jika kita sudah mampu bersikap agar harta yang yang kita miliki tersebut tidak membebani kita, maka hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan kita sebagai seorang zahid.

Misalkan: walaupun hartanya banyak, depositonya banyak, sahamnya di mana-mana, tapi ia merasa tidak terbebani. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ia selalu berzakat, bahkan juga berwakaf. Alangkah kikirnya bagi seorang yang kaya, jika pengeluarannya hanyalah zakat. Kelewatan kikir bagi orang tersebut, karena hanya 2,5 persen yang ia keluarkan untuk zakat. Sudah selayaknya ia juga mengeluarkan shadaqah, infaq, jariyah, hadiah kepada pembantu yang akan pulang kampung misalnya, ada ujrah (upah yang meningkat) yang diberikan kepada karyawannya. Meningkatkan gaji karyawan, kelebihan dari standardnya itu adalah shadaqah. Hal-hal ini menjadikan seseorang tidak terbebani oleh harta bendanya tersebut.

Bagaimanakah caranya agar kita tidak terbebani, walaupun harta yang kita miliki begitu banyaknya? Tidak bermasalah bagi kita, walaupun Tuhan akan menjemput kematian kita hari ini. Karena semua harta yang kita miliki sudah beres dan bersih. Lebih dari sekedar zakat yang kita keluarkan, bahkan misalkan sudah ada wasiat, bahwa jika kita meninggal, maka sepertiga dari harta kita diikhlaskan untuk fi sabilillah, dan tiga perempatnya untuk keluarga. Sebagai catatan, bahwa di dalam Fiqh Islam juga tidak dibenarkan berwasiat lebih dari sepertiga itu.

Kedua, bahwa ia tidak menyukai harta dengan kesenangan yang dapat menggembirakannya karena dapat meraihnya.

Jika yang pertama adalah orang yang tidak suka dengan harta, sedangkan yang kedua ini ia masih mencari harta. Bahkan ia tidak membenci harta, malahan masih mencari dan menyukainya. Ketika ia diberi harta, maka ia akan zuhud. Jika ia mendapat harta, maka ia akan merasa, bahwa harta tersebut bukan mutlak miliknya, melainkan hanya titipan Allah lewat dirinya. Orang yang memiliki sikap ini disebut sebagai orang yang rela, bukan zuhud. Pada orang yang zuhud (pada yang pertama), memang ada unsur ketidaksukaan lagi kepada harta yang sudah lebih dari batas standard hidupnya.

Ketiga (ini kebanyakan di antara kita), yaitu bila wujud harta itu lebih dicintainya daripada ketidaksenangannya kepada harta.

Maksudnya, cinta terhadap harta lebih dominan dibandingkan tidak senang terhadap harta tersebut (yang hal ini adalah normal), namun tidak sampai menggerakkan orang tersebut untuk mencarinya. Yaitu, tidak semua daftar keinginannya itu akan diburu dan dikejar-kejarnya (ada pembatasan diri). Ia hanya akan mengambil apa yang pantas menjadi haknya. Tetapi jika ia diberikan harta dengan bersih, ataupun gratis tanpa usaha, maka ia juga akan mengambilnya, sepanjang harta tersebut halal.

Pada yang pertama (seperti disebutkan di atas), jika ia mendapatkan harta seperti ini, maka dia akan merasa terbebani. Sedangkan yang ketiga ini, baginya tidak ada urusan hal tersebut (tidak terbebani). Baginya, mendistribusikan harta tersebut lebih mudah dibandingkan untuk memperolehnya. Ia senang jika mendapatkan harta dan keuntungan dengan tiba-tiba tersebut. Inilah kebanyakan di antara kita. Akan tetapi, apabila memerlukan sesuatu usaha dalam mencarinya, maka ia tidak berbuat. Jadi, ada pembatasan-pembatasan diri. Orang yang seperti ini disebut sebagai “orang yang menerima”.

Keempat, ia meninggalkan mencari harta karena kelemahan dan ketidakmampuannya.

Pada yang keempat ini, hidupnya habis untuk mencari harta. Nanti, ketika sudah loyo, sudah tidak ada energi lagi, barulah ia akan berhenti mencari harta. Ketika ia mencari harta, maka ia akan mencarinya dengan kesenangan, meskipun harus berusaha dan bersusah-payah dalam mencarinya. Namun, ketika ia diajak untuk shalat berjamaah misalkan, maka akan banyak sekali alasannya. Orang yang seperti ini di dalam bahasa tasawuf disebut sebagai “orang yang rakus.”

Kelima, ia tidak memiliki harta, padahal ia sangat memerlukannya.

Contoh yang kelima ini adalah orang yang lapar, ataupun orang yang menggelandang di jalanan tanpa memiliki tempat tinggal. Orang seperti ini disebut sebagai “orang yang terdesak.” Ia miskin karena terpaksa, tidak ada jalan lain.

Keterpaksaan seseorang itu menjadi miskin bukanlah disebut al-faqr. “Al-Faqr” itu sebetulnya punya potensi untuk kaya, tapi ia tidak mencapainya, karena ia ingin lebih memprioritaskan dirinya dekat kepada Tuhan.

Kedahagaan itu seperti minum air laut, yang hal tersebut tidak akan menghentikan haus. Dalam hal ini, perlu adanya sikap “al-qana’ah” (tahu diri). Memang, cobaan itu banyak sekali. Misalkan: biasanya ketika pensiun, maka semakin banyak peluang rizki. Itu sebenarnya adalah godaan. Itu adalah cara iblis untuk men-su-ul khatimahkan seseorang. Ketika semakin tua semakin bagus rizkinya, akhirnya semakin tidak punya waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tentunya kita tidak ingin seperti ini. Alangkah lebih baiknya kita regenerasikan kepada generasi penerus kita.

Biasanya, jarang sekali ada yang mau mendelegasikan usahanya, kekayaannya kepada anak-anaknya, sepanjang orang tersebut masih kuat. Sementara anaknya ke sana ke mari mencari kerja. Mengapa tidak ada kepercayaan dalam hal ini? Apakah karena terlalu banyak kekhawatiran, atau karena di alam bawah sadarnya memang sudah disetel oleh iblis dengan berbagai kekhawatiran?

Kadang-kadang, bukan anak kita yang tidak siap, melainkan kita yang terlalu rakus sebagai orang tua. Terlalu besar kekhawatiran kita, padahal itu hanya bisikan iblis. Kita mau menangani semuanya, yang kemudian kita tidak ada waktu lagi untuk beribadah. Suatu waktu ketika ajal menjemput, kita hanya bisa menyesal.

Ketahuilah, bahwa zuhud itu adalah suatu derajat yang merupakan kesempurnaan bagi orang-orang yang baik. Kesempurnaan akhlak seseorang tersebut adalah ketika muncul padanya perasaan zuhud.

Salah satu ciri-ciri dari orang yang zuhud itu adalah “low profile”. Antara orang miskin dengan orang kaya, standard low profile-nya juga berbeda. Bukanlah low profile kalau sesungguhnya orang tersebut sebenarnya pantas untuk memiliki lima lembar pakaian, tapi ia tetap memiliki satu lembar pakaian dengan maksud untuk ber-zuhud. Siapa tahu misalkan pakaiannya itu terpercik najis, maka pakaian mana lagi yang akan ia pakai untuk shalat?

Orang yang ingin ber-zuhud itu sudah semestinya mengantisipasi segala kemungkinan, sehingga kuantitas dan kualitas ibadahnya kepada Allah menjadi tidak berkurang. Antisipasi seperti ini perlu, bagi seorang yang mempunyai perencanaan. Jika akhirat mempunyai perencanaan, maka dunia pun tentunya harus ada perencanaan.

Rasulullah bersabda: “a-‘uzubika minal faqri (Aku berlindung kepada Engkau dari kefakiran).”

Doa Rasulullah tersebut adalah memohon agar tidak menjadi miskin “kere”, bukan miskin seperti yang didefinisikan di atas. Bahkan Allah mengatakan, “qadal faqru ayyakuna kufran (hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran).”

Deislamisasi itukan seringnya terjadi di daerah-daerah miskin. Bahwa kadang-kadang karena kefakiran dan kemiskinan, maka orang tersebut pindah agama. Hadits ini memang semestinya menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kita tidak mau memperbaiki perekonomian kita, yang akhirnya Umat Islam akan menjadi sengsara.

Rasulullah bersabda, “ahyani miskinan wa amitni miskinan (Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin).” Hadits ini jangan dipertentangkan dengan hadits yang pertama tadi, karena maksudnya berbeda. Hadits yang ini maksudnya adalah miskin di depan Tuhan, sekalipun hartanya banyak.

Kefakiran yang Rasulullah mohon perlindungan dari Allah seperti dalam sabdanya yang pertama di atas adalah kefakiran orang-orang yang terdesak, yang terpaksa miskin karena keadaan. Sedangkan kemiskinan pada sabda yang kedua yang dimaksudkan di atas adalah pengakuan kemiskinan dan kehinaan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah besabda: “Ilaqallaha faqiran wa la talqahu ghaniyyan (Bertemulah kepada Allah dalam keadaan fakir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya).”

Maksudnya adalah, bertemu kepada Allah dalam keadaan merasa miskin dihadapan-Nya. Karena memang tidak mungkin kita bisa berhadapan langsung dengan Tuhan dengan merasa kaya. Itu artinya ada keangkuhan. Contohnya, lebih bagus mana perut dalam keadaan berpuasa, atau dalam keadaan kekenyangan?

Innalaha yuhibbul faqir al-mutha’affif abbal a’yal (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang fakir yang menjaga kehormatan diri, yang menjadi bapak keluarga).”

Maksudnya ialah, seorang yang miskin tidak akan mendemonstrasikan kemiskinannya supaya mendapat perhatian dan bantuan dari orang lain.

Rasulullah bersabda: “Orang-orang fakir dari ummatku masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka, dengan selisih waktu 500 tahun.”

Jadi, orang-orang miskin masuk surga duluan 500 tahun, baru kemudian orang kaya. 500 tahun akhirat itu, satu hari di sana perbandingannya sama dengan 5000 tahun di dunia. Tetapi tentunya kita berhusnudz-dzan, bahwa penantiannya itu bukanlah di neraka, karena akan diperiksa semua kekayaannya lebih teliti lagi.

Jadi, hal ini mungkin sangat penting bagi kita. Marilah kita mencoba memelihara, jangan sampai kita merasa kaya di depan Allah. Ber-tawadhu’lah kita kepada-Nya, karena Allah Maha Tahu. [Aan]

8 Juni 2008 at 2:01 PM Tinggalkan komentar

Tips Menjadi Orang yang Paling Bahagia

TIPS MENJADI ORANG YANG PALING BAHAGIA

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 25 Februari 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Kita tidak meragukan, bahwa semua orang pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi pertanyaannya: Bagaimanakah merasakan kebahagiaan itu lebih lama di dalam diri kita? Apa kiat-kiatnya agar kita bisa mempertahankan perasaan bahagia tersebut?

Mempertahankan rasa kebahagiaan memang tidak gampang. Ada orang yang bekerja keras, namun yang ia dapat bukan kebahagiaan dan ketenangan, melainkan kekeringan hidup. Ini merupakan pertanda, bahwa tidak secara otomatis orang yang bekerja keras akan mendapatkan kebahagiaan. Ada orang yang kehidupannya terlihat sangat santai, tetapi justru pada saat yang bersamaan, rasa bahagia itu langgeng di dalam dirinya.

Jadi, kebahagiaan tidak diukur dengan banyaknya materi yang kita kumpulkan, sehatnya badan kita, ataupun shalehnya keturunan-keturunan kita. Tetapi sesungguhnya, kebahagiaan dan kesejahteraan yang paling puncak adalah ketenangan jiwa kita.

Ada beberapa tips yang dihimpun para ulama setelah memperdalami Al-Qur’an dan Hadits. Tips menjadi orang yang paling bahagia tersebut adalah:

Pertama, keimanan menghapuskan keresahan.

Tidak ada kebahagiaan tanpa iman yang kuat. Tanpa keimanan, orang-orang yang tidak memiliki prinsip keyakinan di dalam jiwanya hanya akan mencapai kamuflase kehidupan. Sehingga, yang bisa menancapkan kebahagiaan di dalam diri kita adalah keimanan. Keimanan seperti apakah yang dimaksud tersebut?

Keimanan menghapuskan keresahan dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah. Tauhid dan ibadah itu muaranya adalah kebahagiaan dan ketenangan. Pertanyaannya: Bagaimana mewujudkan keimanan yang bisa mengundang kebahagiaan? Bagaimana melakukan ibadah yang bisa menghasilkan ketenangan?

Keimanan memang kepada Allah SWT. Ibadah memang semata-mata untuk Allah, tidak dimaksudkan untuk untuk membahagiakan diri kita sendiri. Maksudnya, kita beribadah bukan karena ingin bahagia. Orang yang beriman dan beribadah karena mendambakan suatu kebahagiaan dan ketenangan, maka seolah-olah kebahagiaan dan ketenangan tersebut merupakan tuhan keduanya selain Allah SWT.

Iman dan ibadah itu tujuannya kepada Allah SWT, akan tetapi dampak dari keimanan dan ibadah tersebut adalah ketenangan. Bukan tujuan kita beriman dan beribadah supaya kita bahagia dan hidup tenang. Jika kita beriman dan beribadah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, berarti kita telah merendahkan posisi ibadah kita (misalkan shalat) hanya menjadi meditasi. Tujuan dari meditasi adalah untuk mencapai ketenangan batin, dan juga kebahagiaan rohani. Bagi Umat Islam, tujuan kita beribadah bukanlah untuk memperoleh ketenangan batin, melainkan ketenangan batin itu hanya sebagai akibat, bukanlah merupakan suatu tujuan.

Jika ada orang beribadah hanya untuk memperoleh ketenangan duniawi dan juga ketenangan batin, maka belumlah ia dapat disebut sebagai seorang mukhlishin (orang yang ikhlash).

Orang yang beriman dan beribadah hanya dengan tujuan kebahagiaan, maka dia pasti akan memperoleh kebahagiaan serta ketenangan tersebut. Tetapi, kebahagiaan dan ketenangan yang ia dapatkan itu tidaklah permanen. Yang bisa mempermanenkan kebahagiaan dan ketenangan tersebut adalah ibadah yang lillahi ta’ala.

Seringkali kita putus asa, misalkan kita sudah sering Shalat Tahajjud dan Puasa Sunnat, tetapi mengapa hati kita tak pernah bisa tenteram, serta tak pernah merasakan bahagia? Hal ini karena ibadah yang telah dilakukan tersebut hanya bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin, bukan untuk memperoleh ridha Allah SWT.

Kita bukan menyembah ketenangan batin, karena tujuan kita beribadah bukanlah untuk mendapatkan ketenangan batin tersebut. Tujuan kita beribadah adalah untuk memohon ridha Allah SWT. Adapun nantinya setelah melakukan ibadah tersebut kita kemudian mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, maka itu merupakan bonus dari penghambaan diri kita kepada Allah SWT. Kita jangan pernah kecewa jika setelah beribadah ternyata kebahagiaan dan ketenangan tersebut tidak pernah muncul di dalam hati kita.

Apakah yang menyebabkan kebahagiaan tersebut? Kita mungkin bisa mengatakan, ibadah. Tetapi, ibadah yang sangat intensif dan berkualitas itu sebenarnya dipicu oleh ketenangan batin. Misalkan, jika kita sedang mengalami stress, cemas, takut, atau sedang sakit, apakah kita bisa beribadah dengan baik? Apakah ada ketenangan dalam beribadah tersebut? Jawabannya, tidak ada. Jadi, kedua-duanya adalah saling tunjang-menunjang. Ibadah yang baik akan melahirkan ketenangan batin. Ketenangan batin akan melahirkan kualitas ibadah yang baik.

Dalam hal ini, yang patut diperhatikan adalah permulaan niat kita (innamal a’malu bin-niat), yaitu: Innash-shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, bukanlah li tatma innil qulub (untuk ketenangan jiwa).

Jika ada orang yang beribadah hanya bertujuan untuk ketenangan batinnya, maka ia telah menurunkan kualitas ibadahnya menjadi seperti meditasi. Sedangkan meditasi bisa dilakukan oleh orang yang tidak bertuhan sekalipun. Yang penting, ketika meditasi tersebut ia bisa memfokuskan perhatiannya, misalkan dengan membayang-bayangkan suatu tempat yang indah dan tenang. Ketika bermeditasi, orang tersebut bagaikan sedang “fly” setelah minum obat penenang ataupun mengkonsumsi narkotika. Sehingga, jika efek dari obat tersebut habis, maka kembali ia mengalami ketidaktenangan.

Jadi, tips untuk menjadi orang yang paling bahagia adalah: beriman dan beribadah semata-mata hanya karena Allah SWT. Bukanlah tujuan kita untuk memperoleh kebahagiaan, ketenangan, serta ketenteraman batin, melainkan semua itu hanyalah efek samping dari penyembahan (ibadah) kita kepada Tuhan. Akan tetapi, Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Adil.

Kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya memang diniatkan sebagai suatu tujuan, dibandingkan dengan kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya diniatkan hanya karena Allah SWT, maka kebahagiaan yang pertama tidak permanen, sedangkan kebahagiaan yang kedua adalah permanen. Pada yang kedua tersebut (yang diniatkan karena Allah SWT), bahkan kita akan merasakan suatu ketenangan walaupun ibadah tersebut dilakukan ketika sedang sakit. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena ibadah yang kita lakukan hanyalah karena Allah SWT.

Ubahlah paradigma kita! Jika selama ini kita mungkin pernah mendengar para penceramah yang mengatakan: ala bi dzikrillah tatmainnil qulub (ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, maka kita akan mendapatkan ketenangan batin). Sehingga muncullah di pikiran kita, bahwa untuk mendapatkan ketenangan batin, maka kita harus menyembah Tuhan. Hal tersebut tentunya salah.

Janganlah motivasi ketenangan batin tersebut yang membuat kita beribadah kepada Allah SWT, melainkan kita beribadah adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Ridha Allah itulah nantinya yang akan melahirkan kebahagiaan yang permanen. Tanpa ridha dari Allah, maka kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang permanen tersebut.

Jika selama ini kebahagiaan itu tidak permanen, mungkin karena motivasi kita beriman dan beribadah bukanlah untuk mendapatkan ridha-Nya, melainkan kita terlalu egois. Belum apa-apa, kita sudah mengharapkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Shalat Tahajjud yang rakaatnya panjang-panjang, serta puasa dan ibadah-ibadah lainnya, dilakukan dengan diboboti pamrih-pamrih yang sangat individual. Jadi, mana untuk Tuhan? Semuanya hanya untuk dirinya sendiri. Pura-pura saja sujud, pura-pura saja rakaat shalatnya banyak, tapi tujuannya bukan untuk Allah, melainkan hanya untuk egoisme dirinya sendiri. Padahal, aqimish-shalata li dzikri (dirikanlah shalat untuk menghayati dan mengingat Aku).

Seharusnya Shalat Tahajjud tersebut diniatkan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dan terindah kepada Tuhan. “Inilah kadoku kepada-Mu ya Allah, sebagai tanda syukur terima kasihku kepada-Mu. Kuberikan ibadahku yang sangat tulus kepada-Mu, tanpa diembel-embeli oleh tujuan-tujuan jangka pendekku.” Kalau perlu tanpa berdo’a, karena Tuhan Maha Tahu. Dia lebih tahu apa yang kita inginkan. Yang penting, munajatnya yang paling panjang, bukan doanya. Selama ini mungkin kita tak pernah bermunajat, yang ada adalah doa, yaitu daftar keinginan.

Kedua, karena adanya keimanan dan keyakinan yang sangat kuat tersebut, maka tingkat tawakkal kita menjadi bertambah.

Semakin ma’rifat kita menjadi klop, maka semakin keimanan kita itu mencapai sasaran. Semakin ibadah kita hanya bertujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, maka perasaan pasrah diri (tawakkal) pasti akan terwujud di dalam diri kita.

Jika perasaan tawakkal itu muncul, maka yang lalu telah berlalu, dan yang telah pergi biarlah pergi. Biarkanlah masa lampau itu berlalu, dan juga jangan membebani kita lagi. Karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Ada, Maha Adil, dan Maha Kuasa, maka kita serahkan diri kita kepada-Nya. Orang yang sudah beriman seperti ini, itulah orang yang telah mencapai ma’rifah yang sesungguhnya.

Jangan dipikirkan yang telah berlalu, karena telah pergi dan telah selesai. Orang yang selalu terbebani masa lampaunya, berarti ia telah meragukan Allah sebagai Maha Pemaaf. “Fa iza ‘azamta fa tawakkal ala-llah”. Setelah kita melakukan yang perfect dan terbaik untuk Allah, maka kemudian ber-tawakkal-lah kita kepada Allah. Tetapi jika kita telah melakukan dosa yang begitu banyak, lalu kemudian kita ber-tawakkal kepada Allah tanpa sebelumnya didahului dengan bertaubat, maka itu bukanlah disebut menyembah Tuhan, melainkan sebaliknya, yaitu mengejek dan menghina Tuhan.

Kalau sudah seperti itu, maka akan muncul sikap penerimaan Qadha’. “Qadha’” adalah garis tangan. Karena garis tangan kita memang sudah seperti ini, maka mau diapakan lagi. Kita sudah berusaha, tapi tetap saja seperti ini. Namun, jika kita tak pernah berusaha, namun berpasrah saja dengan garis tangannya itu, maka ini bukanlah dinamakan garis tangan, melainkan kemalasan.

Yakinlah, bahwa doa dan ibadah akan mampu mengubah takdir. Misalkan tertulis di Lauhul Mahfudz, bahwa hari ini kita akan mati. Kemudian lewat dari waktu kematian tersebut, ternyata kita tidak mati. Apakah ini berarti bahwa Lauhul Mahfudz tersebut salah? Jawabannya, Lauhul Mahfudz tidaklah salah. Karena di atas Lauhul Mahfudz masih ada Allah SWT. Malaikat hanya bisa mengetahui sampai Lauhul Mahfudz, tetapi tidak ada yang bisa memahami isi dari pengetahuan Tuhan.

Misalkan pada sebuah doa disebutkan: “Allahumma thawwil umurana (Ya Allah, panjangkanlah umur kami!)” Berkaitan dengan doa tersebut, bukankah telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, bahwa kita lahir pada tanggal sekian bulan sekian, kemudian akan wafat pada tanggal sekian bulan sekian. Yang ada di Lauhul Mahfudz itu adalah catatan formal, sedangkan catatan de facto-nya hanyalah Allah yang tahu.

Terimalah qadha’ yang telah pasti dan rizki yang telah dibagi itu dengan hati yang terbuka. Segala sesuatu itu ada ukurannya. Karena itu, enyahkanlah kegelisahan.

Jika kita sudah bersusah payah mencari rizki, tetapi kemudian rizki yang didapatkan hanya itu saja, maka mungkin itulah yang terbaik untuk kita. Memang sedikit, tapi itulah intinya berkah yang kita dapatkan. Untuk apa kita mendapatkan banyak, tapi tanpa berkah. Mana yang lebih baik, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Maunya kita, yaitu banyak tapi berkah. Seandainya ada pilihan, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Tentunya kita akan memilih sedikit tapi berkah. Buat apa banyak tapi tidak berkah, kalau kemudian kita dimasukkan ke penjara.

Berikutnya, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram, dosa akan diabaikan, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan.

Orang yang selalu merasakan beban hidupnya menjadi semakin berat, maka orang tersebut adalah orang yang tidak ikhlas. Orang yang ikhlas tidak akan pernah merasakan kelebihan beban di dalam hidupnya. Mengapa? Karena ia akan mengembalikan semuanya kepada Allah. Orang yang selalu merasakan kelelahan di dalam hidupnya juga merupakan gejala tidak ikhlas. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi hamba di muka bumi ini. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi khalifah di atas dunia ini.

Berikutnya, janganlah kita menanti ucapan terima kasih dari sesama. Jika ada orang yang berbuat sesuatu dan kemudian menanti terima kasih, itu pasti ia tidak ikhlas. Melelahkan hidup seperti itu. Cukuplah pahala dari zat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Tak ada yang harus kita lakukan terhadap orang yang iri dan dengki kepada kita. Biarkan orang tersebut sibuk sendiri. Jangan kita layani orang-orang yang dengki dan iri terhadap kita tersebut. Yang penting, hidup kita lurus (shiratal mustaqim), jalan terus kita menuju Allah, biarkanlah orang tersebut berurusan dengan-Nya. [Hans]

8 Juni 2008 at 1:17 PM 12 komentar


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
http://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 307,758 hits
Juli 2014
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Negeri Pontianak dgn segenap jati dirinya menandakan berbagai peristiwa, peringatan, serta perayaan melalui ragam bebunyian. #LebarRamadhan 2 days ago
  • Silaturrahim saat Lebar Ramdhan biasanya kami sebut "Raye-Raye". #LebarRamdhan 2 days ago
  • Oleh kerananya, masyarakat Negeri Pontianak juga biasa menyebut Hari Raye 'Aidil Fithri dengan sebutan "Lebar Ramdhan". #LebarRamdhan 2 days ago
  • 'Aidil Fithri dirayakan setelah sebulan Ummat Islam menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. #LebarRamdhan 2 days ago
  • Raye2 RT @s_u_k_m_a__: Kcubung pandan dr Kalimantan. Cantik disanding dgn berlian. Brhubung Senin sdh Lebaran. Salah & khilaf mohon dimaafkn 3 days ago

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: