Nabi adalah Failasuf

zak-muhammad-on-brass-plateAgama diturunkan untuk mendukung kecenderungan manusia yang hanîf sesuai dengan firman Allah dalam Q., 30: 30. Karena itu, hanîf diterjemahkan sebagai kecintaan kepada kebenaran—suatu sikap yang biasanya dimiliki oleh para failasuf. Pertanyaan yang muncul ialah, apakah failasuf bisa disebut nabi. Baca entri selengkapnya »

Madina

Sejarah mencatat bahwa kota hijrah Nabi adalah sebuah lingkungan oase yang subur sekitar empat ratus kilometer sebelah utara Makkah. Kota itu dihuni orang-orang Arab pagan atau musyrik dari suku-suku utama Aws dan Khazraj, dan orang-orang Yahudi (berbahasa Arab) dari suku-suku utama Bani Nazhîr, Bani Qaynuqâ dan Bani Qurayzhah. Kota oase itu agaknya sudah berdiri sejak zaman kuna yang cukup jauh, dengan Yatsrib atau, menurut catatan ilmu bumi Potelemius, Yethroba sebagai namanya.

Yang sangat menarik perhatian dari sudut pemikiran politik ialah tindakan Nabi Saw. untuk mengganti nama kota itu menjadi Madinah. Tindakan Nabi itu bukanlah perkara kebetulan. Baca entri selengkapnya »

Madani

Dalam Hijrah, di antara tindakan pertama Rasulullah Saw. segera setelah tiba di Yatsrîb ialah mengubah nama kota itu menjadi Madînah, atau, lengkapnya, Madînat al-Nabî, “Kota Nabi”. Ini bisa dibandingkan dengan perbuatan Raja Constantin dari Byzantium yang memberi nama Constantinopel (Constantinopolis, “Kota Konstantin”) kepada kota yang didirikannya. Tetapi Nabi tidaklah bermaksud untuk sekedar mengabadikan nama beliau seperti maksud raja Eropa itu. Baca entri selengkapnya »

Lahirnya Ilmu-ilmu Klasik Islam

Mengapa Islam sekarang ini menjadi “Islam fiqih”, memang ada sejarahnya sendiri. Ciri umat Islam klasik ialah dari segi lahiriah—kesuksesan dalam politik. Begitu Rasulullah wafat, seluruh Jazirah Arabia sudah menyatakan tunduk kepada Madinah. Baca entri selengkapnya »

Lahirnya Humanisme di Barat

Ketika buku-buku Ibn Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, lalu disebut sebagai Latin Averoesm atau Averoesme Latin, rupanya pembagian antara khawâs dan awam ini bagi orang-orang Eropa begitu impresif, sehingga mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa Ibn Rusyd sebetulnya membela adanya dua kebenaran, yaitu kebenaran falsafi dan kebenaran agama, dan kedua-duanya tidak perlu dipersatukan. Akibatnya ialah mereka betul-betul membedakan antara ilmu dan agama. Itulah permulaan dari sekularisme yang sampai sekarang masih bertahan di Barat. Baca entri selengkapnya »