Tawakal itu bertingkat-tingkat, yaitu: Pertama, tawakalnya orang awam seperti kita kebanyakan. Kedua, tawakalnya orang khawas yang sudah jauh anak tangganya ke atas. Dan yang ketiga, tawakalnya khawasul khawas, yaitu orang yang sudah mencapai pada tingkat puncak.
Baca entri selengkapnya »
Ikhtiar, Tawakal, dan Pasrah (Kajian Kitab Ihya Ulumuddin)
27 Februari 2009 pada 3:58 PM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: ikhtiar, pasrah, rezeki, tawakal
Pengertian Tawakal
25 Februari 2009 pada 3:58 PM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: ikhtiar, keyakinan, pasrah, tafakkur, tawakal
Tingkatan-tingkatan tawakal antara lain: tawakal level awwam, tawakal khawas, tawakal khawasul khawas.
Tawakal berasal dari kata “wakal” yang berarti “mewakilkan”. “Tawakkal” berarti memberikan perwakilan, kepasrahan, dan penyerahan diri kita kepada Allah. “Tawakkal” ialah menyamakan yang ada pada diri manusia, banyak ataupun sedikit.
Baca entri selengkapnya »
Kitabuttawhid wa Tawakkal
25 Februari 2009 pada 3:54 PM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: tauhid, tawakal, tawakkal, tawhid
Selama ini kita tawakkalnya setengah-setengah. Dalam bertawakkal ini kita tanggung, sehingga Tuhan pun tanggung menerima kehadiran kita. Satu sisi kita berharap kepada Tuhan, tapi pada sisi lain kita meragukan Tuhan. Selama ini kita mungkin sering bertanya, apakah Tuhan akan membantu kita? Dari sikap ini, akhirnya kita sibuk mencari penolong-penolong selain Allah.
Baca entri selengkapnya »
Bersikap Zuhud terhadap Rumah [Kajian Kitab Ihya Ulumuddin]
25 Februari 2009 pada 3:46 PM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: Ihya Ulumuddin, rumah, zuhud
Sesungguhnya, jangan pernah ada yang mubazzir dari rumah dan diri kita. Misalkan, kita memiliki tanah yang begitu luas, sementara ada orang yang menanam di pinggir jalan, berdiam di bawah jembatan, dan sebagainya. Mengapa kita tidak efektifkan penggunaan tanah kita tersebut? Sementara ada orang yang ingin menanam, tapi tidak memiliki lahan. Tapi memang dalam hal ini biasanya kita serba-salah. Begitu orang tersebut kita berikan kesempatan untuk menggarap tanah kita, maka suatu waktu ketika kita memerlukan tanah tersebut, biasanya susah sekali untuk mengeluarkan orang itu. Dalam hal ini, Tuhan Maha tahu. Kita serahkan kepada-Nya.
Baca entri selengkapnya »
Bershalawat; Menciptakan Kelapangan di Dalam Dada
25 Februari 2009 pada 3:43 PM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: rasulullah, shalawat
Bershalawat dapat menghilangkan keresahan dan kesuntukan. Jika kita sedang suntuk, pengap, tidak ada gairah hidup, maka banyak-banyaklah bershalawat kepada Rasulullah Saw. Bershalawat kepada Rasulullah artinya meminta agar perhatian Rasulullah kepada kita.
Baca entri selengkapnya »
Tangga-Tangga Agar Kita Mendapatkan Cinta dari Allah (lanjutan)
7 Februari 2009 pada 11:06 AM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: cinta, fitrah manusia, Ibnu Qayyim
Tangga ke empat
Menurut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa kecintaan kita kepada Allah Swt harus diprioritaskan, harus diutamakan dibandingkan cinta kita kepada diri kita sendiri, bahkan harus diutamakan daripada cinta kita kepada makhluk.
Baca entri selengkapnya »
Bershalawat; Menciptakan Kelapangan di Dalam Dada
7 Februari 2009 pada 11:01 AM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: beriman, Ibnu Taimiyah, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali, rasulullah, shalawat
Bershalawat dapat menghilangkan keresahan dan kesuntukan. Jika kita sedang suntuk, pengap, tidak ada gairah hidup, maka banyak-banyaklah bershalawat kepada Rasulullah Saw. Bershalawat kepada Rasulullah artinya meminta agar perhatian Rasulullah kepada kita.
Baca entri selengkapnya »
Adab Syeikh terhadap Murid dan Adab Mereka di Dalam Melaksanakan Semua Hak Rububiyah Ketuhanan
4 Februari 2009 pada 12:19 PM (Islamika, Tasawwuf)
Tags: adab, ketuhanan, murid, rububiyah, syeikh
Marilah kita mengingat kembali kata-kata hikmah yang dirumuskan oleh para ulama kita: “Janganlah engkau menadahkan tanganmu untuk menerima pemberian makhluk, kecuali jika engkau melihat bahwa yang memberi adalah pelindungmu. Jika engkau seperti ini, maka ambillah apa yang sesuai dengan ilmu.”














