Datangnya Alien di Kampungku

Datangnya Alien di Kampungku

Oleh: Hanafi Mohan

Ketika kelas 2 SD, aku masuk ke sekolah agama (madrasah) di kampungku. Sekolahnya siang hingga sore hari. Jadi, pagi hingga siang hari bersekolah di SD, sedangkan siang hingga sore seklah di madrasah.

Namanya adalah Madrasah diniyah awaliyah Haruniyah (MDA) Haruniyah. Sekolah agama ini dikelola oleh pamanku (Al-Mukarram Al-Ustadz H.M Yunus Mohan). Di madrasah ini, kami anak-anak Melayu mendapatkan ilmu yang berbeda dari yang kami dapatkan di SD. Ada ilmu Fiqih, Al-Qur’an dan Tajwid, Hadits, Tarikhul Islam, Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Bahasa Inggris, dan Nasyid (kesenian).

Di SD kami belum mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris, karena pelajaran ini baru didapatkan ketika SMP. Maka di madrasah kami telah dahulu mendapatkan pelajaran ini.

Yang mengajar Bahasa Inggris adalah Pak Taufik Ibrahim. Spesialiasi sebenarnya bukanlah Bahasa Inggris, tetapi ia adalah lulusan Jurusan Teknik Mesin. Pengalamannya bekerja di kapal, sehingga menjadikannya bisa berbahasa Inggris, dan dia juga pernah menjadi santri Pesantren Gontor, namun tidak sampai selesai. Dan memang untuk menguasai ilmu mesin juga harus bisa berbahasa Inggris.

Pak Taufik adalah guru yang sangat kreatif. Padahal ia bukanlah lulusan sekolah guru dan sejenisnya. Tapi metode yang ia gunakan untuk membuat kami keluar dari kebutaan terhadap bahasa Internasional yang satu ini patut diacungi jempol. Belajar tidak hanya di dalam kelas, tapi tak jarang juga keluar kelas. Pernah juga ia membawakan seorang native speaker untuk berbicara dengan kami. Ya, seorang turis, kami waktu itu menyebutnya “orang barat”. Bagiku ketika itu adalah pertama kalinya melihat tampang orang barat yang hanya pernah aku lihat di televisi. Orangnya tinggi, mungkin bagi kami seperti raksasa.

Gemparlah kampungku ketika itu dikunjungi orang barat. Bagaikan orang barat itu seperti makhluk asing yang datang dari luar angkasa, yang belakangan aku ketahui dari film-film bahwa orang barat biasa menyebut makhluk luar angkasa dengan sebutan alien, yang belakangan juga ketika kuliah baru kuketahui arti sebenarnya dari alien, yaitu asing atau orang asing, bukanlah makhluk luar angkasa. []

Kolam Renang di Lapangan Bola

Kolam Renang di Lapangan Bola

Oleh: Hanafi Mohan

Masa SD adalah masa yag menyenangkan bagiku (dan mungkin juga bagi teman-temanku). Seakan-akan kami tak punya beban kehidupan selain daripada harus belajar tekun, dan yang pasti belajar tersebut membuat kepala kami pusing. Sehingga waktu yang kami sukai dan kami tunggu-tunggu adalah ketika lonceng istirahat berdentang sebanyak tiga kali yang menandakan waktu istirahat. Ketika istirahat, maka kami akan bermain di lapangan sekolah dengan berbagai macam permainan. Main bola, gelasen (galah hadang/galah panjang), main guli (kelerang/gundu), dan masih banyak lagi permainan lainnya. Kalau sudah jemu dengan lapangan sekolah, maka kami akan menjadikan hutan dekat sekolah sebagai tempat alternatif untuk bermain permainan yang lebih menantang, seperti main perang-perangan. Selain waktu istirahat, jam pelajaran olah raga juga ditunggu-tunggu, karena waktu luang untuk bermainnya agak lebih panjang.

Kalau Pontianak sedang mengalami air pasang yang memang rutin setiap tahun itu, maka kami begitu bergembira, karena bisa bermain air dengan riang-gembira di lapangan SD yang dipenuhi air. Lapangan sepak bola SD kami memang multifungsi. Bisa untuk bermain bola, senam pagi, upacara bendera, dan kalau lagi air pasang bisa menjadi kolam renang. Karena tak terlalu terawat, lebih seringnya lapangan ini menjadi taman bunga di depan sekolah kami. Jauh dari yang dibayangkan, taman bunga ini isinya bukanlah bunga-bunga yang berbau harum semerbak dengan warnanya yang indah menawan, tapi tak lain isinya adalah semak-belukar dengan rumputnya yang miang dan berduri., yang kalau hujan tanahnya menjadi becek, kemudian menjadi tempat yang paling indah bagi kodok untuk bertelur. []

Sekolah di Masa Kecil

Sekolah di Masa Kecil

Oleh: Hanafi Mohan

SD Negeri 11 Pontianak Timur, itulah sekolah yang pertama kali kumasuki selama hidupku (tahun 1988). Guru-guru yang begitu menawan ada di sekolah dasar kampungku ini. Kepala sekolahnya adalah Pak Kasdi, yang beberapa tahun kemudian digantikan diganti oleh Ibu Zaleha.

Guru kelas 1 adalah Ibu Maemunah (kalau tak salah), yang beberapa bulan atau mungki setahun kemudian diganti oleh Ibu Siti Hawa.

Ibu Maemunah adalah guru yang cukup garang menurutku aku dan teman-temanku ketika itu. Sedangkan Ibu Siti Hawa adalah guru yang tak terlalu garang, walaupun mungkin ada juga hal-hal yang tak kami sukai darinya.

Melalui tangan dingin mereka lah, kami para anak Melayu yang buta aksara ini lambat-laun menjadi bisa membaca, menulis, dan berhitung. Begitu besar jasa mereka kepada kami, yang mungkin hingga kini tak pernah bisa kami balas.

Pada kelas berikutnya, semakin bertambahlah guru kami. Ada Ibu Selvi yang mengajar Bahasa Indonesia, Ibu Nurhayati yang mengajar Matematika dan IPA (dan mungkin masih banyak lagi mata pelajaran yang ia ajar, karena seorang guru SD biasanya memang memegang lebih dari satu mata pelajaran), Ibu Netty mengajar Agama Islam, Pak Raqib yang mengajar Olahraga, dan beberapa guru lainnya yang aku sudah lupa nama-namanya, beberapa guru juga ada yang dipindahkan ke sekolah lain yang kemudian diganti oleh guru yang baru. Ada satu lagi yang tak pernah kulupa, yaitu pembantu sekolah kami yang biasa dipanggil Pak Dolah. Orangnya lucu, kadang juga suka ngomel, tapi dia baik, kami biasa membantu pekerjaannya (atau lebih tepatnya dialah yang minta dibantu). Yang pasti hal-hal yang bisa kami kerjakan, seperti mengangkat meja dan bangku, lemari, mencuci gelas dan piring.

Walaupun Pak Dolah hanya seorang pembantu sekolah, tapi ia sudah kami anggap sebagai guru dan orang tua kami. Melalui mulutnya, kami diberi nasehat yang begitu berarti bagi kehidupan kami. Ia juga sering bercerita mengenai anaknya yang sudah berhasil menjadi sarjana. Melalui Pak Dolah, semangat kami terlecuti untuk menjadi orang yang berpendidikan tinggi, yang berguna bagi umat dan bangsa, dan juga bagi orang tua kami. []

Bahasanya Para Pujangga

Bahasanya Para Pujangga

Oleh: Hanafi Mohan

Jika di Pontianak, kita seakan-akan sedang berada di Malaysia. Suasana ini tak lain karena masyarakat kota ini berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Melayu (tepatnya Bahasa Melayu Pontianak).

Ada seorang temanku yang berasal dari Provinsi Bangka Belitung, yang suatu ketika ia pernah ke Pontianak untuk suatu urusan. Dia terkejut ketika itu. Katanya, seakan-akan dia sedang berada di kampungnya sendiri di Kepulauan Bangka Belitung. Selain masyarakat Pontianak berkomunikasi dengan menggunakna Bahasa Melayu seperti halnya orang-orang di Kepulauan Bangka Belitung, alamnya juga hampir sama dengan Bangka Belitung. Begitulah kesan temanku itu.

Entah mengapa, rata-rata daerah berkebudayaan Melayu memiliki alam yang hampir serupa. Ada sungai-sungai yang panjang dan lebar, dekat dengan laut, bahkan hasil buminya pun hampir sama. Buah-buahan yang banyak dijumpai di Sumatera dan sekitarnya, juga akan banyak dijumpai di Kalimantan. Seakan-akan Tuhan telah menganugerahkan kepada orang Melayu tempat-tempat dengan alam seperti ini, yaitu alam yang begitu menawan.

Dengan alam seperti ini, maka terciptalah Bahasa Melayu yang indah itu. Tiap-tiap daerah berkebudayaan Melayu memiliki dialek yang berbeda-beda pula, begitu pula Pontianak dengan dialek Melayu-nya yang begitu kental dan berirama. Seakan-akan setiap orang Melayu ketika berbicara bagaikan seorang penyair, karena pengucapannya yang berirama dan mengalun itu.

Inilah bahasanya para pujangga. Karena memang Bangsa Melayu adalah bangsa pujangga, yang dari rahim budaya dan adat resamnya telah melahirkan para pujangga, penyair, dan sastrawan besar di nusantara ini.

Tak salah jika Prof. Dr. Allesandro Balsani (dari Italia) menyebutkan, bahwa Bahasa Melayu adalah bahasa terindah di Asia, sedangkan Bahasa Italia merupakan bahasa terindah di Eropa. []

Khatulistiwa di Sisi Sungai

Khatulistiwa di Sisi Sungai

Oleh: Hanafi Mohan

Pontianak adalah kota dengan panas sinar matahari yang begitu menyengat pada siang hingga sore harinya. Dan Dingin menusuk ke tulang sum-sum pada malam hingga subuh harinya. Kota Khatulistiwa adalah julukannya, karena kota ini pas dilalui oleh garis equator (garis lintas matahari pada nol derajat). Kota ini juga lekat dengan keberadaan Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia itu. Selain Kapuas, juga ada Sungai Landak yang merupakan anak sungai dari Sungai Kapuas.

Secara keseluruhan, wilayah kota ini terbagi menjadi tiga wilayah. Pemisah ketiga ketiga wilayah tersebut adalah Sungai Kapuas dan Landak. Pertemuan dua sungai ini disebut sebagai Simpang Tiga yang tak jauh dari situ terdapat Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Qadriah yang kedua-keduanya merupakan situs bersejarah peninggalan Kesultanan Pontianak.

Keunikan kota ini terletak pada pesisir sungainya yang disitu akan didapati kehidupan masyarakat Pontianak yang begitu khas. Ada rumah-rumah tradisional Melayu, pasar di tepi sungai, jembatan Kapuas dan Landak, kafe terapung, pelabuhan, alun-alun, feri penyeberangan sungai, sampan, spid, kapal, bandong, rakit, tongkang, industri karet, industri kayu, industri pasir, dan masih banyak lagi, yang semuanya tumpah-ruah di sungai dan sekitarnya. []