<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The Nafi&#039;s Story</title>
	<atom:link href="http://thenafi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thenafi.wordpress.com</link>
	<description>Aku dan Cerita-ceritaku</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 15:50:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='thenafi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/31e0f9da942875258648af43b5908ecd?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>The Nafi&#039;s Story</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://thenafi.wordpress.com/osd.xml" title="The Nafi&#039;s Story" />
	<atom:link rel='hub' href='http://thenafi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kata Kunci di Hari Ini (1)</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2011/10/26/kata-kunci-di-hari-ini-1/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2011/10/26/kata-kunci-di-hari-ini-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 11:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Ini Itu]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi komputer]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[blog pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Browser]]></category>
		<category><![CDATA[CMS]]></category>
		<category><![CDATA[FTP]]></category>
		<category><![CDATA[html]]></category>
		<category><![CDATA[http]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[IP Address]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Localhost]]></category>
		<category><![CDATA[network]]></category>
		<category><![CDATA[perangkat lunak]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[programming]]></category>
		<category><![CDATA[protocol]]></category>
		<category><![CDATA[protokol]]></category>
		<category><![CDATA[Server]]></category>
		<category><![CDATA[sistem]]></category>
		<category><![CDATA[situs]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[web browser]]></category>
		<category><![CDATA[web design]]></category>
		<category><![CDATA[Web Server]]></category>
		<category><![CDATA[Website]]></category>
		<category><![CDATA[world wide web]]></category>
		<category><![CDATA[www]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[1) Web / Website : Halaman informasi yang disediakan melalui jalur internet sehingga bisa diakses di seluruh dunia selama terkoneksi dengan jaringan internet. Website merupakan komponen atau kumpulan komponen yang terdiri dari teks, gambar, suara, dan animasi, sehingga merupakan media informasi yang menarik untuk dikunjungi. 2) Server : adalah sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=664&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2011/10/network-security-news1.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2011/10/network-security-news1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" title="Communications connectivity" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-668" /></a><strong>1) Web / Website :</strong> Halaman informasi yang disediakan melalui jalur internet sehingga bisa diakses di seluruh dunia selama terkoneksi dengan jaringan internet. Website merupakan komponen atau kumpulan komponen yang terdiri dari teks, gambar, suara, dan animasi, sehingga merupakan media informasi yang menarik untuk dikunjungi.<br />
<span id="more-664"></span><br />
<strong>2) Server :</strong> adalah sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah jaringan komputer. Server didukung dengan prosesor yang bersifat scalable dan RAM yang besar, juga dilengkapi dengan sistem operasi khusus yang disebut sebagai sistem operasi jaringan. Server juga menjalankan perangkat lunak administratif yang mengontrol akses terhadap jaringan dan sumber daya yang terdapat di dalamnya, seperti halnya berkas atau pencetak, dan memberikan akses kepada stasiun kerja anggota jaringan.</p>
<p><strong>3) CMS :</strong> <em>Content Management System</em> (CMS) atau biasa juga disebut sistem manajemen dokumen adalah sebuah aplikasi komputer yang digunakan untuk mengatur proses alur dokumen, di antaranya membuat dokumen baru, mereview/koreksi dokumen, publikasi dokumen, hapus dokumen, cari dan urutkan dokumen, serta berbagai fungsi lainnya. Sistem CMS umumnya digunakan untuk menyimpan, mengontrol, memilah, dan mempublikasikan dokumen seperti artikel berita, petunjuk/manual, brosur marketing. Isi yang diatur dapat berupa file komputer, media gambar, suara, video, dokumen elektronik, maupun isi dari suatu website. Sistem CMS saat ini sudah sangat berkembang dan umum digunakan dari web skala kecil, menengah, hingga atas. Dari blog pribadi hingga situs portal sudah menggunakan CMS. Dengan adanya sistem CMS, seseorang dapat melakukan update website dengan mudah dan terstruktur. Jadi apabila anda tidak mengerti masalah teknis website seperti html, web design, dan programming, menggunakan CMS merupakan suatu solusi efektif dan tepat.</p>
<p>- CMS adalah perangkat lunak yang memungkinkan seseorang untuk menambahkan dan/atau memanipulasi (mengubah) isi dari suatu situs Web.</p>
<p><strong>4) FTP :</strong> Protokol transfer berkas (Bahasa inggris: <em>File Transfer Protocol</em>) adalah sebuah protokol Internet yang berjalan di dalam lapisan aplikasi yang merupakan standard untuk pentransferan berkas (file) komputer antar mesin-mesin dalam sebuah Antarjaringan.</p>
<p><strong>5) Web Server :</strong> adalah software yang menjadi tulang belakang dari world wide web (www). Web Server menunggu permintaan dari <em>client</em> yang menggunakan browser seperti Netscape Navigator, Internet Explorer, Modzilla, dan program browser lainnya. Jika ada permintaan dari browser, maka web server akan memproses permintaan itu, kemudian memberikan hasil prosesnya berupa data yang diinginkan kembali ke browser.</p>
<p><strong>6) Localhost :</strong> Localhost merupakan istilah dalam komputer jaringan yang berarti “komputer ini”. Localhost adalah nama standard yang diberikan sebagai alamat <em>loopback network interface</em>. Localhost selalu menerjemahkan loopback IP Address 127.0.0.1 dalam IPv4, atau ::1 dalam IPv6. Localhost digunakan untuk mengantarkan web browser pada HTTP server yang terinstall di komputer lokal. Alamat http://localhost akan menampilkan website lokal pada komputer yang bersangkutan.</p>
<p>Jadi, kita membuat komputer kita sebagai localserver, kemudian menghostingkan web kita di dalamnya (localhost) untuk dijadikan tempat membangun website sementara dan kemudian dihostingkan secara online ke internet. Dengan menjadikan komputer kita sebagai localserver, kita dapat bekerja secara offline tanpa harus takut menghadapi masalah biaya, waktu, dan kenyamanan.</p>
<p><strong>7) Browser :</strong> Pengertian <em>browser</em> dalam dunia internet adalah software atau alat yang digunakan untuk menjelajahi internet. Pengertian browser tersebut sejalan dengan istilah “<em>browse</em>” dalam Bahasa Inggris yang artinya melihat-lihat atau membaca-baca. Arti <em>browser</em> oleh beberapa kalangan disamakan pula sebagai “perambah”. Beberapa browser cukup terkenal antara lain; Mozilla Firefox, Google Chrome, Microsoft Internet Explorer, Opera, Safari, dan beberapa yang lainnya.</p>
<p><em>*** Dikompilasi dari berbagai macam sumber.</em></p>
<p>- &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; -<br />
<strong><a href="http://hanafimohan.blogspot.com/">Hanafi Mohan</a></strong><br />
<em>Ciputat, 25 &#8211; 26 Oktober 2011</em><br />
- &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; - &#8211; -</p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong> <a href="http://www.sbi-secureit.com/news-network-security-auditing-search-engine-optimization.htm">http://www.sbi-secureit.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2011/10/26/kata-kunci-di-hari-ini-1/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/tentang-ini-itu/'>Tentang Ini Itu</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/aplikasi-komputer/'>aplikasi komputer</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/blog/'>blog</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/blog-pribadi/'>blog pribadi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/browser/'>Browser</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/cms/'>CMS</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/ftp/'>FTP</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/html/'>html</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/http/'>http</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/informasi/'>informasi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/internet/'>internet</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/ip-address/'>IP Address</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/jaringan/'>jaringan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/komputer/'>komputer</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/localhost/'>Localhost</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/network/'>network</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/perangkat-lunak/'>perangkat lunak</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/portal/'>portal</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/programming/'>programming</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/protocol/'>protocol</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/protokol/'>protokol</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/server/'>Server</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/sistem/'>sistem</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/situs/'>situs</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/software/'>software</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/web/'>web</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/web-browser/'>web browser</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/web-design/'>web design</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/web-server/'>Web Server</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/website/'>Website</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/world-wide-web/'>world wide web</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/www/'>www</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/664/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/664/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=664&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2011/10/26/kata-kunci-di-hari-ini-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2011/10/network-security-news1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Communications connectivity</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>6 Alasan Membeli Unit Link + 3 Catatan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2011/10/24/6-alasan-membeli-unit-link-3-catatan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2011/10/24/6-alasan-membeli-unit-link-3-catatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 07:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asep Sopyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[Asuransi jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Term-life]]></category>
		<category><![CDATA[Unit link]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu, tepatnya 15 Okt 2011, aku menandatangani formulir pengajuan asuransi jiwa tipe unit link. Bayar premi 500 ribu per bulan (6 juta setahun), rencana bayar 10 tahun, manfaat yang diperoleh untukku seorang laki-laki usia 31 tahun adalah: Jika meninggal dunia : 450 juta (sampai usia 100 tahun) Jika kecelakaan dengan akibat meninggal atau cacat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=660&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2011/10/baru-niyye.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2011/10/baru-niyye.jpg?w=150&#038;h=108" alt="" title="BARU NIYYE" width="150" height="108" class="alignleft size-thumbnail wp-image-661" /></a>Minggu lalu, tepatnya 15 Okt 2011, aku menandatangani formulir pengajuan asuransi jiwa tipe unit link. Bayar premi 500 ribu per bulan (6 juta setahun), rencana bayar 10 tahun, manfaat yang diperoleh untukku seorang laki-laki usia 31 tahun adalah:</p>
<ol>
<li>Jika meninggal dunia : 450 juta (sampai usia 100 tahun)</li>
<li>Jika kecelakaan dengan akibat meninggal atau cacat : 450 juta (sampai usia 65 tahun)</li>
<li>Jika sakit kritis (49 penyakit kritis) : 400 juta (sampai usia 70 tahun)</li>
<li>Payor (pembebasan premi dan dibayari premi oleh perusahaan jika terdiagnosis penyakit kritis atau mengalami cacat tetap total) sampai usia 65 tahun.</li>
</ol>
<p>Ada juga nilai tunai di akhir tahun kesepuluh sebesar Rp 50.525.000 (asumsi pertumbuhan 18%). Nilai tunai ini belum menyamai premi total yang kubayarkan selama 10 tahun (60 juta), karena aku mengambil porsi asuransi yang maksimal. Tak mengapa, karena memang tujuanku adalah proteksi, bukan investasi.</p>
<p>Kalau memang tujuannya proteksi, kenapa tidak ambil asuransi murni? Kan bisa lebih murah?<span id="more-660"></span></p>
<p>Alasannya, <em>pertama</em>, aku ingin asuransi yang menyediakan keempat manfaat di atas. Aku tidak tahu adakah asuransi murni (tradisional) yang menyediakan empat manfaat tsb sekaligus, dengan harga yang kompetitif.</p>
<p>Apakah keempatnya harus diambil? Menurutku, ya. Karena asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Bagaimana kalau kecelakaan tapi tidak mati, melainkan cacat? Kalau hanya mengambil asji murni, tentu UP-nya tidak cair. Sejauh ini tidak ada metode yang ampuh untuk mencegah kecelakaan. Berhati-hati saja tidak cukup, karena bisa saja penyebabnya kecerobohan orang lain. Satu-satunya cara menghindari kecelakaan adalah berdoa mengharap perlindungan dari Tuhan.</p>
<p>Tentang manfaat sakit kritis, sebetulnya aku pribadi yakin dengan pola hidupku yang sekarang ini, aku tidak akan mengalami sakit kritis, kecuali mungkin saat hendak meninggal. Tapi aku juga tahu potensi itu ada. Bapakku dulu meninggal dunia karena stroke, dan ibuku sekarang punya penyakit maag, asam urat, dan darah tinggi yang sering kumat. Mengambil manfaat sakit kritis adalah tindakan jaga-jaga, karena penyakit model begini biaya berobatnya mahal. Tentunya harapanku adalah tetap sehat sentosa selamanya.</p>
<p>Sedangkan manfaat payor menjamin bahwa rencana keuanganku, yakni mendapat proteksi jiwa sekaligus investasi, tetap berjalan apa pun yang terjadi, sekalipun sakit kritis, cacat total, dan tidak bisa bekerja.</p>
<p><em>Kedua</em>, aku ingin asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup, bukan sampai usia tertentu saja. Asuransi jiwa murni (<em>termlife</em>) paling banter hanya sampai 70 tahun, itu pun dengan premi yang sangat mahal selewat usia 50. Dengan unit link, aku punya keleluasaan apakah tetap sampai 100 tahun ataukah kubatalkan pada usia tertentu (misalnya 70 tahun). Dengan demikian, pada usia 70 tahun, seandainya masih hidup, aku bisa punya pilihan apakah akan mewariskan uang 450 juta (kemungkinan nanti nilainya tidak seheboh sekarang akibat inflasi) kepada keluargaku, ataukah membatalkan asuransi jiwaku dan mengambil hasil investasi yang ada (di ilustrasi nilainya mencapai 948 juta).</p>
<p>Pilihan semacam ini tidak akan kuperoleh di asuransi murni termlife. Memang, menurut teori para perencana keuangan, orang tua umur 70 tahun tidak butuh asuransi jiwa karena hartanya diasumsikan sudah bejibun berkat hasil investasinya sejak masa muda. Tapi punya pilihan tentu lebih menyenangkan. Jika untuk punya pilihan itu aku harus membayar lebih, ya oke-oke saja. Dengan mengambil unit link sekarang, aku bisa menikmati biaya asuransi atau <em>cost of insurance</em> (COI) yang jauh lebih murah di masa tua, dibanding termlife. Dan dana untuk membayar COI itu tidak usah dipikirkan karena akan tertutupi oleh hasil investasi (dengan asumsi kondisi ekonomi sehat, dan tentunya kita mengharapkan demikian. Jika kondisi ekonomi tidak sehat, bukan hanya unit link yang rugi; semua investasi juga rugi, dan asuransi murni juga bisa mengalami gagal bayar klaim).</p>
<p><em>Ketiga</em>, ada nilai tunai hasil investasi yang akan digunakan untuk merawat manfaat asuransi sampai masa berlakunya berakhir, atau jika butuh uang bisa diambil sebagian tanpa membatalkan manfaat asuransi.</p>
<p><em>Keempat</em>, belum tentu asuransi murni lebih murah daripada unit link. Memang jika hanya membandingkan unit link vs termlife murni+reksadana, unit link akan kalah, termasuk dalam jangka panjang. Namun jika unit link dibandingkan dengan termlife+(kecelakaan+sakit kritis+payor)+reksadana, aku yakin unit link lebih unggul, termasuk dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, unit link akan lebih tampak lagi keunggulannya. Menurutku, unit link dirancang untuk diambil dengan manfaat yang beragam, bukan satu manfaat saja. Dengan mengambil minimal 2 atau 3 manfaat tambahan, keunggulan unit link akan lebih tampak.</p>
<p><em>Kelima</em>, jelas unit link lebih praktis daripada mengambil asuransi terpisah dengan investasi. Kepraktisan adalah nilai lebih dari suatu produk, sebab bisa membantu kita menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. Jika untuk kepraktisan ini kita membayar sedikit lebih mahal, itu lumrah. Apalagi jika lebih murah.</p>
<p><em>Keenam</em>, dalam unit link ada agen yang sudah berkomitmen untuk melayani nasabah jika melakukan klaim, sedangkan dalam asuransi tradisional tidak ada. Ini juga nilai tambah yang tidak boleh diremehkan. Jika untuk fasilitas ini kita membayar lebih mahal, tak masalah. Apalagi jika lebih murah.</p>
<p>Kesimpulan: Aku yakin unit link masih lebih baik daripada asuransi murni, dengan catatan:</p>
<p>1. Manfaat proteksinya dimaksimalkan. Perbesar uang pertanggungan meninggal, kecelakaan, dan sakit kritis, sampai jumlah maksimal yang diizinkan oleh program unit link tersebut sesuai premi yang kita bayarkan.</p>
<p>O ya, di sini aku tidak mengambil manfaat kesehatan karena sementara ini aku masih punya kartu Jamsostek dari kantor istriku. Aku tidak tahu berapa plafonnya (kurasa tidak besar), tapi cukuplah untuk sekadar sakit biasa dan dirawat inap di kamar paling murah. Lagi pula pemakaiannya jarang, karena jika aku sakit, aku pilih dibekam saja daripada ke rumah sakit.</p>
<p>2. Tidak salah memilih produk. Mengapa? Karena unit link berbeda-beda dalam segi manfaat yang bisa diberikan dan biaya yang dikenakan. Sebelum memutuskan yang sekarang ini, aku telah melakukan survai terhadap 5 produk unit link (P, T, A, A, dan A). Insya Allah yang kuambil ini adalah yang terbaik (manfaat paling besar, biaya paling rendah).</p>
<p>3. Agennya berkualitas. Jika anda bertemu agen asuransi, tanya berapa lama dia sudah jadi agen. Semakin lama insya Allah semakin baik, tandanya sudah pengalaman. Tapi juga jangan terlalu tua. Kalau bisa seumuran, sebab dia akan melayani kita seumur hidup kita. Kalau dia meninggal lebih dulu, kita bisa kehilangan fasilitas dilayani agen, kecuali agen di atasnya mau menggantikan.</p>
<p>Lalu tanya pula apakah agen tsb sudah menjadi nasabah dari produk yang dia tawarkan. Jika belum, itu namanya parah. Nyuruh orang beli, dia sendiri tidak pake. Kebetulan agen yang kutemui (aku yang menemuinya, bukan dia menemuiku) sudah enam tahun jadi agen dan kariernya sudah di puncak. Umurnya kelihatannya masih muda, tidak beda jauh denganku. Dan tentunya dengan kekayaan yang dia miliki, dia juga telah menjadi nasabah dari produk yang dijualnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Itulah beberapa pertimbangan yang kuambil sebelum memutuskan membeli unit link. Sebelumnya aku sempat anti dengan unit link setelah membaca saran beberapa perencana keuangan yang menganjurkan pemisahan antara asuransi dan investasi. Tapi kupikir para penyedia unit link pun membaca kritik-kritik yang dialamatkan kepada produk mereka. Ada yang sudah memperbaiki produknya, sebagian lagi belum.</p>
<p>Dan aku memilih produk unit link yang kelihatannya telah disempurnakan untuk siap menghadapi kritik tsb. Salah satu cirinya, dulu produk ini mengenakan biaya akuisisi 195%, sekarang biaya akuisisinya 145% dan bisa turun menjadi 118,7% jika aku membayar premi rutin hingga 10 tahun (produk ini memberikan ekstra 5,26% untuk porsi investasi sejak tahun keenam).</p>
<p>Demikian sekadar sharing. Jadi kita tidak sekadar anti dengan unit link tanpa punya pertimbangan yang komprehensif menyangkut sisi kelebihan dan kelemahan suatu produk. Termlife murah, tapi tidak bisa seumur hidup. Unit link lebih mahal, tapi bisa seumur hidup. Selain itu termlife saja belum cukup; kita juga butuh asuransi kecelakaan dan sakit kritis. Unit link memberikan manfaat-manfaat tambahan yang biaya asuransinya akan lebih murah dibanding harus mengambil satu-satu secara terpisah. (Di sini saya belum punya perbandingan dalam bentuk angka, tapi saya yakin setidaknya dalam jangka panjang unit link lebih murah).</p>
<p>Kemudian dari segi investasi, memang reksadana bisa menghasilkan retur yang lebih maksimal. Tapi tentunya kita mengambil unit link bukan dengan tujuan investasi, melainkan proteksi. Hasil investasi yang ada itu fungsinya untuk membayar biaya-biaya asuransi, sehingga sebaiknya tidak kita ambil, kecuali disisakan sejumlah dana yang cukup untuk berkembang sendiri agar kita tidak lagi harus membayar premi. [Asep Sofyan, <a href="http://bermenschool.wordpress.com" target="_blank">http://bermenschool.wordpress.com</a>]</p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/asuransi/'>Asuransi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/asuransi-jiwa/'>Asuransi jiwa</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/term-life/'>Term-life</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/unit-link/'>Unit link</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/660/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=660&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2011/10/24/6-alasan-membeli-unit-link-3-catatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc68e2f1230e7d13f2c9166167168c50?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">asepoke</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2011/10/baru-niyye.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">BARU NIYYE</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijrah from Postgres to Oracle</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/12/08/hijrah-from-postgres-to-oracle/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/12/08/hijrah-from-postgres-to-oracle/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 12:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[coding]]></category>
		<category><![CDATA[Database]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hijriyah]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Information Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Oracle]]></category>
		<category><![CDATA[perangkat lunak]]></category>
		<category><![CDATA[Postgres]]></category>
		<category><![CDATA[PostgreSQL]]></category>
		<category><![CDATA[program komputer]]></category>
		<category><![CDATA[programming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Judulnya boleh-bolehlah pakai bahasa internasional, kata Grup Rock Jamrud yaitu &#8220;Asal British&#8220;. Tapi, perhatikanlah isinya, tetap saja bahasa dalam negeri punya, yaitu Al-Lughatul Indunisiyah (maksudnya yaitu Bahasa Indonesia). Urusan hijrah menghijrah ternyata bukan hanya di zaman Rasulullah, bukan hanya terminologi di kalangan umat Islam, bukan hanya simbol yang kosong dari nilai-nilai, bukan hanya sekedar kata-kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=604&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/12/migrasi_hijrah2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-613" title="Migrasi_Hijrah" src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/12/migrasi_hijrah2.jpg?w=240&#038;h=198" alt="" width="240" height="198" /></a>Judulnya boleh-bolehlah pakai bahasa internasional, kata Grup Rock <a href="http://dasenk.wordpress.com/2009/03/24/biografi-jamrud/">Jamrud</a> yaitu &#8220;<a href="http://www.iloveblue.com/lirik/lyric_artist_indonesia_barat_bali_song/1047.htm">Asal British</a>&#8220;. Tapi, perhatikanlah isinya, tetap saja bahasa dalam negeri punya, yaitu <em>Al-Lughatul Indunisiyah</em> (maksudnya yaitu Bahasa Indonesia).<br />
<span id="more-604"></span><br />
Urusan hijrah menghijrah ternyata bukan hanya di zaman Rasulullah, bukan hanya terminologi di kalangan umat Islam, bukan hanya simbol yang kosong dari nilai-nilai, bukan hanya sekedar kata-kata tanpa makna, bukan hanya berkaitan dengan aktivitas fisik. Yang pasti, hijrah telah merambah ke segenap sendi kehidupan kini, tak terkecuali di bidang <strong>ICT</strong> (<em>Information and Communication Technology</em>).</p>
<p>Menurut istilah dari Bapak Pimpinan kami yaitu “<strong>Migrasi</strong>” (<em>saudaranya &#8220;Transmigrasi&#8221;, sepupunya &#8220;Imigrasi&#8221;, yang pasti bukan kerabatnya &#8220;Migrain&#8221;</em>). Menurut temanku yaitu “Pindahan” (<em>maklum, yang ngucapinnya adalah orang yang nge-kos yang mungkin sering berkelana berpindah-pindah tempat tinggal</em>). Tapi aku sebagai kader Umat Islam dengan percaya diri menggunakan istilah &#8220;<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hijrah">Hijrah</a>&#8220;, walaupun hanya di dalam hati dan di dalam tulisan ini.</p>
<p><strong>Hijrah</strong> yang dimaksud yaitu berpindah dari flatform database <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/PostgreSQL">Postgres</a> ke flatform database <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Basis_data_Oracle">Oracle</a>. Dalam beberapa minggu ini, perpindahan tersebutlah yang sedang kukerjakan bersama temanku di tempat kerja kami. Perpindahan ini cukup membuat mata berkunang-kunang dan jari-jemari menjadi sengal (letih, pegal, dsb), setidak-tidaknya bagi diriku, karena dalam waktu yang cukup lama dan konstan harus rela menatap <strong>monitor flat</strong>, menari-narikan jari-jemari ini pada tuts <strong>keyboards</strong>, dan menggerak-gerakkan si mungil <strong>Mouse</strong> yang untung ada <strong>scrol</strong>-nya.</p>
<p>Perpindahan database ini juga tak mudah dilakukan bagi yang bukan ahli di bidangnya, karena memang ada ilmu <strong>IT</strong> (<em>Information Technology</em>) tertentu yang harus dikuasai, lengkap dengan teknik-teknik <strong>coding programming database</strong>-nya yang tidak sehari-dua hari dipelajari. Aku sendiri dalam pekerjaan ini masih bersifat membantu rekan kerjaku yang dulunya adalah adik tingkatku ketika kuliah (bahasa kerennya yaitu asisten), karena dia sendiri lebih terfokus pada <strong>coding programming</strong> database-nya.</p>
<p>Kalau di dalam dunia tulis-menulis, dia (<em>rekan kerjaku itu</em>) penulisnya, sementara aku adalah editornya. Kalau di dalam dunia IT, dia <strong>programmer</strong>-nya, sementara aku kini cukup berpuas diri menyandang predikat sebagai <strong>asisten programmer</strong>-nya. Lebih tepatnya yaitu asisten programmer yang harus belajar lagi dari awal, karena <strong>ilmu database</strong> ini telah bertahun-tahun yang lalu kupelajari dan kemudian tak pernah kusentuh-sentuh lagi alias tak pernah kuperdalami lagi. Demi profesionalisme pekerjaan dan demi memperdalami lagi ilmu yang telah lama tak kusentuh-sentuh, tak ada rasa malu dan tak ada gengsinya belajar dari adik tingkatku (yunior/adik kelas) ketika masa kuliah dulu.</p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Basis_data">Database</a> atau sering pula dieja <strong>basis data</strong>, adalah kumpulan informasi yang disimpan di dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program komputer untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut. Perangkat lunak yang digunakan untuk mengelola dan memanggil kueri (<em>query</em>) basis data disebut <strong>Sistem Manajemen Basis Data</strong> (<em>Database Management System</em>, DBMS)..</p>
<p><strong>Ilmu Database</strong> ini kupelajari dulu ketika semester awal kuliah (<em>aku sudah lupa tepatnya semester berapa</em>). Kalau tidak salah, kebetulan yang menjadi dosennya ketika itu adalah Bapak Pimpinan tempatku bekerja kini (ini pun berdasarkan informasi dari ingatan sekilas seorang teman akrabku sekelas dan seangkatan kuliah). Flatform database ini bermacam-ragam, tergantung kebutuhan dan besar-kecilnya space database yang di-<em>development</em>. Antara lain: <strong>SQL</strong>, <strong>MySQL</strong>, <strong>PostgreSQL</strong>, <strong>Oracle</strong>, dan beberapa yang lainnya. Nah, yang sedang kukerjakan bersama rekanku kini tak lain adalah Hijrah (Migrasi) dari <strong>PostgreSQL</strong> ke <strong>Oracle</strong>. Ini juga atas kemauan Bapak Pimpinan kami. Menurut rekanku itu, Oracle memang lebih &#8220;pas&#8221; untuk database yang memerlukan space yang besar, karena <a href="http://bakoelkomputer.info/virtualstore/blog/?p=129">Oracle memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan organisasi yang besar</a>. Oracle merupakan DBMS yang dirancang khusus untuk organisasi berukuran besar, bukan untuk ukuran kecil dan menengah. Kebutuhan organisasi berukuran besar tidaklah sama dengan organisasi yang kecil atau menengah yang tidak akan berkembang menjadi besar. Organisasi yang berukuran besar membutuhkan fleksibilitas dan skalabilitas agar dapat memenuhi tuntutan akan data dan informasi yang bervolume besar dan terus menerus bertambah besar. Bayangkan, ribuan mahasiswa serta sekian banyak dosen dan pegawai di almamaterku harus diorganisir datanya di dalam satu database. Tentunya memang selayaknya Oracle yang menjadi pilihan flatform database-nya, setidaknya untuk saat ini. Oh iya, menurut rekanku itu, selain space-nya lebih besar, Oracle juga lebih stabil dibandingkan <a href="http://wacanakomputer.wordpress.com/2009/12/11/sekilas-tentang-postgres/">PostgreSQL</a> (sering juga disebut &#8220;<strong>Postgres</strong>&#8220;).</p>
<p><strong>Hijrah</strong> yang digagas dan digerakkan oleh manusia paling agung sepanjang sejarah peradaban kehidupan di muka bumi ini memang selayaknya diapresiasi sedemikian rupa secara positif dan kreatif di berbagai lini kehidupan di negeri yang sedang merangkak dari keterpurukan ini, yang kebetulan negeri ini katanya menurut data statistik <strong>berpenduduk mayoritas Muslim</strong>, bahkan katanya <strong>berpenduduk beragama Islam terbesar (terbanyak) di seluruh dunia</strong>. Semoga <strong>Masyarakat Madani</strong> yang diidam-idamkan itu segera terwujud di <strong>Nusantara</strong> ini.</p>
<p>Puja puji syukur ke hadhirat Zat yang jiwa ini berada di tangan-Nya. Tak lupa, shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah Sang Revolusioner, Sang Penghulu Kaum <em>Mustadh&#8217;afin</em>, Nabi Muhammad T<em>haha Rasulillahi Shallallahu &#8216;Alayhi Wasallam</em>. <em>Allahumma Shalli Wasallim Wabarik &#8216;Alayka</em>. Tak lupa pula terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada guruku sekaligus Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan <a href="http://uinjkt.ac.id/index.php/fakultas/fst/info-fakultas.html">Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta</a>: <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=704186775">Bapak Drs. M. Tabah Rosyadi, MA.</a> yang telah memberikan peluang kepadaku untuk mengabdi di <a href="http://uinjkt.ac.id/">almamaterku tercinta</a> (<em>dulu aku biasa menyapanya dengan panggilan akrab &#8220;Abang&#8221;, karena beliau adalah senior dan alumni dari organisasi ekstra kampus yang pernah menjadi tempatku beraktualisasi ketika berstatus sebagai mahasiswa</em>), <a href="http://www.facebook.com/husniteja">Bapak Husni Teja Sukmana, Ph.D.</a> yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk belajar dan menimba pengalaman di <a href="http://puskom.uinjkt.ac.id/">instansi yang dipimpinnya</a> (<em>dari dulu hingga kini aku lebih akrab menyapanya &#8220;Bapak&#8221;, walaupun ku tahu beliau adalah senior dan alumni dari organisasi ekstra kampus tempatku beraktualisasi ketika menyandang predikat sebagai mahasiswa</em>), <a href="http://www.facebook.com/soevar">Supardi Salmoe, S.Kom.</a> yang telah mensharing banyak pengetahuan baru dalam bidang Database kepadaku (<em>maaf Bro jika ejaan nama loe salah tulis, maklum gw hanya nyontek dari nama yang loe pakai di FB dan YM</em>), para rekan sekerja yang selalu menghadirkan suasana kekeluargaan, <em>Allahyarham</em> (<em>Almarhum</em>) Bapak yang telah menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya, Emak dan segenap keluarga besarku di Kota Pontianak-Kalimantan Barat yang tak henti-hentinya memberikan support, dan kepada dia yang telah menjadi fajar hidupku yang selalu mengingatkan diri ini ketika tersalah langkah.</p>
<p>(<em>Kawan, jangan protes ya kalau paragraf di atas menjadi lebih mirip Ucapan Terima Kasih pada Kata Pengantar Skripsi. Maklumlah, jari jemari ini tak mau berhenti kalau lagi asyik menulis. Tapi, ya sudahlah, terlanjur ditulis, sayang pula rasanya kalau mesti dihapus</em>).</p>
<p>Begitulah sedikit cuap-cuap di <strong>Tahun Baru Hijriyah</strong> kali ini, yaitu tulisan yang campur-aduk antara sedikit wawasan <strong>keislaman</strong>, <strong>ke-IT-an</strong>, <strong>kebangsaan</strong>, dan sebagainya. Pokoknya dicampur-gaul aja kaya&#8217; gado-gado. Maklumlah, <strong>Blogger</strong> yang satu ini sudah lama tidak memposting tulisan di <strong>Blog</strong> tercintanya ini (<a href="http://thenafi.wordpress.com/">The Nafi&#8217;s Story</a>).</p>
<p><strong>&#8220;Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1432 H&#8221;</strong> bagi yang merayakannya. Gemakanlah selalu spirit <strong>Hijrah</strong>, demi perubahan ke arah yang lebih baik lagi bagi negeri tercinta ini, demi menegakkan misi dari ajaran yang menjadi <em>Rahmatan lil &#8216;Alamin</em>. &#8220;Damai di hati, damai di bumi, damailah selalu&#8221;. <em><em>Peace, Love, Unity, and Respect</em>.</em> []</p>
<p style="text-align:right;"><em>Hanafi Mohan<br />
Ciputat, Selasa 1 Muharram 1432 H / 7 Desember 2010 M<br />
<span style="text-decoration:underline;">20:00-23:28 WIB</span></em></p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong><br />
1) <a href="http://ugos.ugm.ac.id/layanan/content/migrasi">http://ugos.ugm.ac.id/</a><br />
2) <a href="http://ratib-alathos.webs.com/apps/blog/show/2994198-perjalanan-hijrah-rasulullah-saw">http://ratib-alathos.webs.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/12/08/hijrah-from-postgres-to-oracle/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/catatan-lepas/'>Catatan Lepas</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/blog/'>blog</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/blogger/'>Blogger</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/coding/'>coding</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/database/'>Database</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hijrah/'>hijrah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hijriyah/'>Hijriyah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/indonesia/'>indonesia</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/information-technology/'>Information Technology</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/islam/'>Islam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/komputer/'>komputer</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/migrasi/'>Migrasi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/muslim/'>Muslim</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/oracle/'>Oracle</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/perangkat-lunak/'>perangkat lunak</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/postgres/'>Postgres</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/postgresql/'>PostgreSQL</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/program-komputer/'>program komputer</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/programming/'>programming</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=604&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/12/08/hijrah-from-postgres-to-oracle/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/12/migrasi_hijrah2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Migrasi_Hijrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isra’ Mi’raj sebagai Simbol Perpindahan Misi Kenabian</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/isra%e2%80%99-mi%e2%80%99raj-sebagai-simbol-perpindahan-misi-kenabian/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/isra%e2%80%99-mi%e2%80%99raj-sebagai-simbol-perpindahan-misi-kenabian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 11:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Israil]]></category>
		<category><![CDATA[Baytul Maqdis]]></category>
		<category><![CDATA[Isra' Mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[khayra ummah]]></category>
		<category><![CDATA[Kriteria Kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[Masjidil Aqsha]]></category>
		<category><![CDATA[masjidil haram]]></category>
		<category><![CDATA[Misi Kenabian]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil ‘alamin]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[umat islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ummatan Wasathan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini kita sedang berada di bulan Rajab. Di bulan Rajab yang penuh keberkahan ini ada suatu peristiwa, yaitu Isra’ Mi’raj Rasulullah. Peristiwa ini bukan hanya suatu bukti kekuasaan Allah yang tiada batas, melainkan jika mencermati retorika penjelasan Al-Quran, maka yang bisa kita tangkap adalah suatu pesan dan kesan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan simbol [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=586&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini kita sedang berada di bulan Rajab. Di bulan Rajab yang penuh keberkahan ini ada suatu peristiwa, yaitu Isra’ Mi’raj Rasulullah. Peristiwa ini bukan hanya suatu bukti kekuasaan Allah yang tiada batas, melainkan jika mencermati retorika penjelasan Al-Quran, maka yang bisa kita tangkap adalah suatu pesan dan kesan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan simbol perpindahan misi kenabian. Perpindahan misi kenabian yang dimaksud yaitu dari yang sebelumnya diamanahkan kepada bani Israil kemudian berpindah kepada bangsa Arab (umat Islam).<br />
<span id="more-586"></span><br />
Hampir 2300 tahun misi kenabian dipercayakan kepada bani Israil (Israil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub). Tapi apakah kemudian yang terjadi? Mereka tega membunuh para nabi, memutarbalikkan, menyelewengkan, serta mengganti ayat-ayat al-Kitab. Karena itulah, peristiwa Isra’ Mi’raj ditandai dengan penaklukan Baytul Maqdis oleh Rasulullah dalam waktu sekejap di malam hari, di mana Nabi Musa (salah seorang pemimpin bani Israil) tidak bisa menaklukkannya kecuali setelah 40 tahun berputar-putar bersama bani Israil di sekeliling Baytul Maqdis.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa itu merupakan peristiwa pemindahan misi kenabian dari kalangan bani Israil kepada bangsa Arab yang berasal dari keturunan Ismail bin Ibrahim. Kita mengetahui, Ismail dan Ishaq adalah dua bersaudara. Dari Ishaq lahirlah Ya’qub yang melahirkan keturunan bani Israil, sedangkan Ismail melahirkan keturunan sampai kepada Nabi Muhammad. Maka peristiwa ini merupakan amanah bagi umat Islam agar umat Nabi Muhammad bisa mengejawantahkan dan mewujudkan misi kedamaian di tengah-tengah umat manusia ini. Allah berfirman:</p>
<p><em>Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.</em> (Q.S. al-Anbiyâ` [21]: 107)</p>
<p><strong>Kriteria Kepemimpinan</strong></p>
<p>Masing-masing kita adalah pemimpin. Ada yang menjadi pemimpin keluarga, pemimpin di dalam masyarakat, atau setidaknya menjadi pemimpin bagi diri kita. Seluruh organ tubuh kita akan dimintakan pertanggungjawaban. Demikianlah seorang pemimpin memang pasti akan dimintakan pertangjawaban terhadap apa yang dia pimpin.</p>
<p>Di dalam al-Quran banyak profil kepemimpinan yang ditampilkan. Dalam surah an-Naml ada kisah yang sangat populer yang kita kenal dengan Ratu Balqis, walaupun nama Balqis itu sendiri tak pernah disebut secara tegas di dalam al-Quran. Di dalam al-Quran hanya dijelaskan bahwa perempuan itu adalah seorang ratu yang berkuasa di negeri Saba. Ada juga seorang pemuda yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin bani Israil ketika Bani Israil menginginkan seorang pemimpin yang tangguh yang bisa mengayomi mereka, Allah pun memilihkan seorang yang bernama Thalut. Dalam kisah Nabi Yusuf kita juga bisa meneladani profil kepemimpinan seorang yang dipercayai untuk menjadi pengelola perbendaharaan negara, mengelola logistik negara di saat negeri itu mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dari tiga kisah yang ditampilkan oleh al-Quran ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran.</p>
<p>Pertama, bahwa seorang pemimpin harus mempunyai sifat yang bijak, serta juga harus memiliki keilmuan dan kecerdasan yang memadai. Kita lihat kisah Ratu Balqis (ratu Kerajaan Saba) ketika mendapatkan surat dari Nabi Sulaiman. Ratu Balqis dan kaumnya adalah penyembah matahari. Dari surat Nabi Sulaiman itu diketahui bahwa Nabi Sulaiman menyeru Ratu Balqis agar tunduk kepada Nabi Sulaiman dan mengikrarkan dirinya tunduk kepada Allah. Saat itu, apakah yang dilakukan oleh Ratu Balqis? Dalam surah an-Naml dikisahkan mengenai hal ini:</p>
<p><em>[29] Berkata ia (Balqis): &#8220;Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. [30] Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [31] Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri.” [32] Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku).”</em> (Q.S. an-Naml [27]: 29-32)</p>
<p>Dia panggil seluruh pembantunya, lalu dikatakannya bahwa ia telah mendapat surat dari Nabi Sulaiman. Setelah menyampaikan isi surat Nabi Sulaiman itu, kemudian dia ajak para pembantunya untuk bermusyawarah. Hal ini dilakukan karena dia adalah seorang pemimpin yang tak pernah memutuskan apapun, kecuali dia bermusyawarah dahulu dengan para pembantunya. Dia ajak para pembantunya untuk berdialog. Dia bukan tipe pemimpin yang otoriter.</p>
<p>Sekarang ini bukan zamannya lagi seorang pemimpin bersikap otoriter. Melalui cara dialog inilah sekarang bagaimana kepemimpinan itu bisa berjalan dengan baik. Seperti yang termaktub di surah An-Naml ayat 33 sampai 44, diceritakan bahwa para pembantunya menyarankan, karena kerajaan mereka (kerajaan Saba) memiliki kekuatan, maka mereka bisa saja melawan kerajaan Nabi Sulaiman. Dengan bijaknya Ratu Balqis memberikan pertimbangan, bahwa para raja itu kalau sudah masuk ke suatu negeri, maka yang akan terjadi hanya dua: mereka bisa membuat kerusakan di negeri itu ataupun mereka akan menguasai negeri itu dengan semena-mena. Ratu Balqis tentunya tidak menginginkan hal itu terjadi. Dia ternyata lebih memilih jalan damai. Ratu Balqis pun kemudian menyatakan untuk mengirimi hadiah saja kepada Nabi Sulaiman, setelah itu menunggu reaksi darinya.</p>
<p>Tapi ternyata Nabi Sulaiman bukan hanya seorang pemimpin, bukan hanya seorang raja, melainkan dia juga seorang nabi yang telah diberikan wahyu dan hikmah oleh Allah. Maka bagi dirinya hadiah sebesar apapun takkan menggoyahkannya untuk menjalankan misi kenabiannya.</p>
<p>Dalam perjalanan kisah ini ada suatu peristiwa yang menarik, yaitu ketika Nabi Sulaiman menginginkan agar singgasana Ratu Balqis dipindahkan ke hadapannya. Ifrit dari kalangan jin mengatakan bahwa dia bisa mendatangkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari kursinya.</p>
<p>Tapi ada yang lebih canggih lagi, dan ternyata itu dilakukan oleh seseorang yang dalam bahasa al-Quran dikatakan sebagai orang yang diberi ilmu pengetahuan tentang al-Kitab. Orang ini menyatakan bahwa dia lebih bisa melakukan hal tersebut lebih cepat dari yang dilakukan oleh Ifrit (jin), karena dirinya bisa mendatangkan singgasana itu sebelum Nabi Sulaiman mengedipkan matanya. Maka ketika Nabi Sulaiman mengedipkan matanya, singgasana tersebut sudah berada di hadapannya.</p>
<p>Peristiwa ini menunjukkan bahwa seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan yang luas, dia bisa menaklukkan dunia. Masa depan akan dimiliki oleh mereka yang berilmu. Lompatan kemajuan yang sekarang ini kita capai, 65 persennya perkembangan ilmu pengetahuan tersebut terjadi di abad 20. Karena terjadi lompatan yang begitu luar biasa dalam ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan keilmuan yang mendalam menjadi salah satu syarat yang mutlak bagi seorang yang akan menjadi pemimpin. Karena itulah yang menjadi salah satu alasan yang dikemukakan oleh Allah ketika Bani Israil mempertanyakan mengapa Thalut yang dipilih untuk menjadi pemimpin mereka. Thalut itu rakyat biasa, bukan keturunan orang yang terhormat, dan juga bukan seorang yang kaya raya. Di dalam al-Quran dinyatakan:</p>
<p><em>Nabi mereka mengatakan kepada mereka: &#8220;Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu&#8221;. Mereka menjawab: &#8220;Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?&#8221; (Nabi mereka) berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.&#8221; Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.</em> (Q.S. al-Baqarah [2]: 247)</p>
<p>Thalut bukan hanya cerdas secara keilmuan, tetapi dia juga diberikan kelebihan oleh Allah berupa ketahanan dan kekuatan fisik yang luar biasa. Karena memang yang bisa mengendalikan bani Israil saat itu adalah orang yang gagah perkasa. Kita cermati juga bahwa Nabi Musa (seorang nabi dari kalangan bani Israil) merupakan seorang nabi yang gagah perkasa. Tapi Nabi Muhammad juga seorang yang gagah perkasa melebihi Nabi Musa. Nabi Musa yang sangat gagah perkasa dikenal dalam sejarah, begitu beliau minta ditunjukkan zat Allah, dia meminta untuk dapat melihat Allah secara langsung. Tetapi begitu zat Allah tampak di sebuah bukit, bukit itu pun terguncang, lalu hancur luluh. Apakah kemudian yang terjadi dengan Nabi Musa? Di dalam al-Quran dinyatakan:</p>
<p><em>Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: &#8220;Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau&#8221;. Tuhan berfirman: &#8220;Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku&#8221;. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: &#8220;Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman&#8221;.</em> (Q.S. al-A’râf [7]: 143)</p>
<p>Ternyata Nabi Musa pingsan, karena dia tidak mampu menatap wajah Allah. Namun apakah yang dialami oleh Rasulullah ketika beliau dipersilakan untuk menyaksikan dan melihat langsung Allah di Sidratul Muntaha saat Mi’raj? Ternyata Rasulullah bisa melihat Allah secara langsung padahal malaikat Jibril pun tidak bisa melakukan hal tersebut. Dalam salah satu cerita mengenai peristiwa Mi’raj, ketika Rasulullah telah sampai ke langit yang ketujuh, kemudian akan menuju ke Sidratul Muntaha, malaikat Jibril yang dari awal selalu menemani beliau kemudian mengatakan kepada Rasulullah, bahwa kalau dia (Jibril) yang maju, maka dia akan terbakar. Tetapi kalau Rasulullah yang maju, maka Rasulullah akan bisa menembus itu.</p>
<p>Seorang pemimpin bukan hanya dituntut untuk memiliki keilmuan yang luas, tapi juga dituntut untuk memiliki ketahanan fisik yang tangguh. Itu juga terjadi ketika Nabi Yusuf meminta kepada penguasa Mesir saat itu setelah ia ditetapkan sebagai orang kepercayaan, seperti yang diceritakan di dalam al-Quran:</p>
<p><em>[54] Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” [55] Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”</em> (Q.S. Yûsuf [12]: 54-55)</p>
<p>Dalam ayat di atas, Yusuf meminta jabatan sebagai bendaharawan negara Mesir karena dia pandai menjaga dan berpengetahuan. Kalau begitu, bagaimanakah hukumnya seseorang yang meminta jabatan, sementara ada hadis yang menyatakan bahwa janganlah meminta jabatan: <em>Rasulullah Saw. berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, &#8220;Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadis yang lain juga menyatakan: <em>Diriwayatkan oleh Abu Musa r.a., ia berkata: Aku menemui Nabi Saw. bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla! Yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya.</em> (Shahih Muslim)</p>
<p>Apakah hal ini menunjukkan bahwa sikap Yusuf bertolak belakang dengan dua hadis di atas? Sebenarnya tidak kalau kita pahami secara mendalam. Hadis yang menyatakan jangan meminta jabatan, itu diucapkan oleh Rasulullah ketika ada seorang sahabat yang meminta jabatan tetapi orang tersebut bukanlah orang yang memiliki kapabilitas (kesanggupan, kemampuan, dan kecakapan). Sedangkan di dalam ayat mengenai Nabi Yusuf disebutkan, bahwa Nabi Yusuf adalah seorang yang memiliki kapabilitas, yaitu orang yang pandai menjaga amanah serta berpengetahuan.</p>
<p>Dikemukakan juga bahwa yang menyebabkan Nabi Yusuf dijebloskan ke penjara adalah karena dia tidak mengikuti keinginan istri sang penguasa untuk berselingkuh. Satu hal yang menyebabkan dia dikeluarkan dari penjara adalah karena dia berhasil memberikan takwil mimpi yang dialami oleh sang Raja. Raja itu bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dikalahkan dan dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus. Kemudian raja itu melihat ada tujuh tangkai gandum yang segar dan tujuh tangkai gandum yang kering. Raja memanggil para pembantunya dan menanyakan kepada mereka mengenai mimpinya itu. Ternyata jawaban mereka bahwa itu hanyalah mimpi belaka yang tak ada artinya.</p>
<p>Sedangkan menurut Nabi Yusuf yang memiliki kelebihan dan kecerdasan dalam menakwil mimpi, baginya mimpi itu adalah suatu ramalan mengenai yang akan terjadi di negeri itu. Nabi Yusuf menakwil mimpi itu bahwa nantinya akan datang tujuh tahun saat rakyat negeri itu menanam gandum dan memanennya. Maka kalau nanti memanen gandum tersebut, berhematlah, biarkan gandum itu di tangkainya, makan seperlunya, lalu sisanya disimpan. Cara menyimpannya pun seperti dijelaskan di dalam ayat tersebut yaitu biarkan gandum itu masih melekat di tangkainya. Karena gandum atau buah-buahan apapun kalau disimpan utuh dengan tangkainya, maka tangkai itu masih menyimpan sari-sari makanan yang bisa membuatnya tahan lama.</p>
<p>Seperti yang dikatakan oleh Nabi Yusuf, bahwa makanlah gandum itu seperlunya, berhemat, lalu sebagiannya disimpan. Sebab nanti akan datang tujuh tahun masa paceklik. Saat itulah gandum yang disimpan tersebut akan bermanfaat. Lalu setelah itu akan datang masa-masa tenang.</p>
<p>Ini merupakan suatu prediksi (ramalan) yang dilatari oleh kecerdasan dan kepandaian membaca tanda-tanda zaman. Seorang pemimpin harus memiliki kepekaan. Seorang pemimpin harus bisa membaca tanda-tanda zaman. Seorang pemimpin harus bisa membuat perencanaan yang matang.</p>
<p>Sebagai pemimpin bagi diri kita masing-masing, dalam surah al-Hasyr ayat 18 kita juga diperintahkan: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<p>Kehidupan kita di dunia ini hanya berkisar selama 60 hingga 70 tahun, bahkan mungkin ada yang hanya beberapa tahun. Karena itulah, jangan sampai kehidupan yang sebentar itu membuat kita sengsara selama-lamanya di akhirat kelak. Sebagai pemimpin bagi diri kita masing-masing, marilah kita buat perencanaan agar kehidupan kita di masa yang akan datang, bukan hanya ketika kita di dunia, melainkan juga kehidupan kita nantinya yang abadi dan kekal di akhirat juga berlanjut dengan kebahagiaan.</p>
<p>Dalam kisah Nabi Yusuf kita juga bisa melihat mengapa dia meminta jabatan tersebut. Dia katakan bahwa dirinya adalah seorang yang bisa memelihara dan menjaga amanah. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki integritas, bisa menjaga amanah, serta bisa mewujudkan kepercayan yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Kata “amanah” adalah sesuatu yang dipercayakan, atau sesuatu yang diberikan kepada orang lain untuk dijaga. Kita memberikan amanah itu tentunya karena ada rasa percaya. Kita takkan mungkin memberikan anak perempuan kita kepada orang lain untuk diperistri kalau kita kita tidak percaya kepada orang itu. Perkawinan adalah amanah, karena itulah tidak mungkin orangtua akan menyerahkan anak perempuannya kepada orang lain kalau tanpa didasari oleh amanah (kepercayaan).</p>
<p>Seorang pemimpin harus bisa menjaga amanah. Karena itulah, kepemimpinan adalah suatu tanggung jawab. Kepemimpinan adalah suatu kontrak sosial yang harus diwujudkan sesuai dengan keinginan orang yang memberikan kepercayaan itu.</p>
<p>Inilah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari keteladanan yang dikisahkan oleh al-Quran melalui kisah-kisah para pemimpin yang memiliki integritas, keilmuan, amanah, dan sikap bijak dalam kepemimpinannya.</p>
<p>Berkaitan dengan kepemimpinan, umat Islam mengemban amanah dan tanggung jawab yang besar di dunia ini untuk mewujudkan misi kedamaian yang juga menjadi misi semua agama. Hal ini tak lain karena umat Islam sudah dipilih oleh Allah untuk menjadi <em>khayra ummah</em> (umat terbaik). Allah berfirman:</p>
<p><em>Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.</em> (Q.S. Ali ‘Imrân [3]: 110)</p>
<p><strong>Ummatan Wasathan</strong></p>
<p>Pemindahan misi kenabian kepada kalangan bangsa Arab yang diwakili oleh Nabi Muhammad adalah suatu kepercayaan kepada Nabi Muhammad dan kepada para pengikutnya. Maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menampilkan diri dan menampilkan Islam sebagai agama yang <em>rahmatan lil ‘alamin</em>. Karena itulah, selain disebut sebagai <em>khayra umma</em>h, di dalam al-Quran juga disebutkan bahwa umat Islam merupakan ummatan wasathan. Allah berfirman:</p>
<p><em>Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.</em> (Q.S. al-Baqarah [2]: 143)</p>
<p>Jika dicermati, ayat di atas diturunkan berkaitan dengan peristiwa pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Hal ini ada relevansinya, bahwa umat Islam dikatakan sebagai ummatan wasathan karena ternyata umat-umat terdahulu (bani Israil: Yahudi dan Kristen) sudah tak bisa lagi dipercayakan untuk mengemban misi kenabian. Dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram ini merupakan suatu peralihan tanggung jawab kepada umat Islam. Maka umat Islam harus bisa menampilkan diri sebagai ummatan wasathan.</p>
<p><em>Ummatan wasathan</em> itu adalah umat yang terbaik, umat yang adil, umat yang menjaga keseimbangan, umat yang tidak berlebihan dalam beragama, umat yang berada di tengah.</p>
<p>Umat Islam dikatakan sebagai <em>ummatan wasathan</em> agar umat Islam bisa menjadi saksi atas umat-umat terdahulu. Atau paling tidak menjadi umat yang bisa disaksikan karena kebaikannya. Maka sebagai ummatan wasathan, umat Islam harus bisa menjadi saksi kebenaran yang diturunkan oleh Allah yang telah diselewengkan oleh umat-umat terdahulu. Sebagai ummatan wasathan, umat Islam juga harus bisa disaksikan oleh umat-umat yang lain sebagai kelompok yang terbaik. Karena itulah, mari kita wujudkan konsep <em>ummatan wasathan</em> ini dengan menampilkan prilaku yang bisa diksaksikan oleh umat-umat lain sebagai perilaku yang baik.</p>
<p>Itulah salah satu makna &#8220;<em>li takûnu syuhadâ</em>&#8220;, bahwa umat serta ajaran Nabi Muhammad nantinya akan menjadi saksi bagi umat-umat yang lain. Mewujudkan ummatan wasathan yaitu dengan cara menampilkan perilaku, sikap, tindakan yang baik, yang bisa mendatangkan kesan baik terhadap ajaran agama Islam. Kita akui bahwa sekarang ini justru konsep dan ajaran Islam yang sebenarnya tertutupi oleh ulah dan sikap umat Islam sendiri. Misalnya, al-Quran dan ajaran Islam mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan dan menjaga lingkungan, namun kebanyakan dari umat Islam tak terlalu mengindahkan hal tersebut.</p>
<p>Dalam salah satu ungkapan yang sering dinisbahkan kepada Imam Muhammad Abduh dinyatakan: <em>Al-Islamu mahjûbun bil muslimîn</em> (Islam ini tertutupi keindahan dan kebaikannya oleh sikap dan ulah umat Islam sendiri).</p>
<p>Karena itulah, mari kita raih kejayaan dan kebangkitan umat Islam dengan menampilkan ajaran Islam yang sebenarnya., yaitu ajaran Islam yang dituntunkan oleh al-Quran dan diteladankan oleh Rasulullah.</p>
<p>Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semuanya dan menjadi hikmah (pelajaran) yang bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Amin. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Dr. H. Mukhlis Hanafi, M.A., pada tanggal 12 Juli 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/isra%E2%80%99-mi%E2%80%99raj-sebagai-simbol-perpindahan-misi-kenabian/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/islamika/'>Islamika</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/islamika/mozaik-islam/'>Mozaik Islam</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/bani-israil/'>Bani Israil</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/baytul-maqdis/'>Baytul Maqdis</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/isra-miraj/'>Isra' Mi'raj</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/kepemimpinan/'>kepemimpinan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/khayra-ummah/'>khayra ummah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/kriteria-kepemimpinan/'>Kriteria Kepemimpinan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/masjidil-aqsha/'>Masjidil Aqsha</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/masjidil-haram/'>masjidil haram</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/misi-kenabian/'>Misi Kenabian</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/nabi-muhammad/'>nabi muhammad</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/pemimpin/'>pemimpin</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/rahmatan-lil-%e2%80%98alamin/'>rahmatan lil ‘alamin</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/rasulullah/'>rasulullah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/umat-islam/'>umat islam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/ummatan-wasathan/'>Ummatan Wasathan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/586/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=586&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/isra%e2%80%99-mi%e2%80%99raj-sebagai-simbol-perpindahan-misi-kenabian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terpesona di Sidratil Muntaha</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/terpesona-di-sidratil-muntaha/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/terpesona-di-sidratil-muntaha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 10:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Isra' Mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[Masjidil Aqsa]]></category>
		<category><![CDATA[Masjidil Aqsha]]></category>
		<category><![CDATA[masjidil haram]]></category>
		<category><![CDATA[mekkah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Sidratil Muntaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Isra’ Mi’raj adalah suatu peristiwa besar yang sekarang oleh sains dan teknologi diakui, karena ternyata memang demikianlah yang bisa terjadi bahwa Rasulullah benar-benar bergerak dari Mekkah ke Palestina, dan kemudian diteruskan ke Sidratil Muntaha hanya dalam waktu tidak sampai satu malam. Sudut pandang ilmiahnya bahwa ini adalah peristiwa fenomenal dan kontroversial. Fenomena sejarah bahwa peristiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=582&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Isra’ Mi’raj adalah suatu peristiwa besar yang sekarang oleh sains dan teknologi diakui, karena ternyata memang demikianlah yang bisa terjadi bahwa Rasulullah benar-benar bergerak dari Mekkah ke Palestina, dan kemudian diteruskan ke Sidratil Muntaha hanya dalam waktu tidak sampai satu malam. Sudut pandang ilmiahnya bahwa ini adalah peristiwa fenomenal dan kontroversial. Fenomena sejarah bahwa peristiwa ini belum pernah terjadi dan diyakini takkan pernah terjadi lagi.<br />
<span id="more-582"></span><br />
Pertama, bahwa peristiwa ini sangat fenomenal dari segi sejarah, karena sebelumnya tak pernah terjadi pada manusia. Sebelum Nabi Muhammad memang pernah terjadi pada benda. Benda tersebut bisa berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang jauh dalam orde sepersekian detik saja. Itulah peristiwa berpindahnya singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba ke Kerajaan Nabi Sulaiman. Waktu itu Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya yang ketika itu memang sengaja dikumpulkan olehnya. Nabi Sulaiman mengatakan kepada para stafnya untuk melakukan suatu kejutan terhadap Ratu Balqis yang ketika itu sedang menuju ke kerajaan Nabi Sulaiman. Ternyata Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu Balqis ke kerajaannya. Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya siapa yang bisa melakukan hal tersebut. Yang mengajukan diri pertama kali adalah Jin Ifrit. Ditanya oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia bisa memindahkannya. Dijawab oleh Jin Ifrit bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya dijamin singgasana itu sudah sampai di hadapannya. Tentunya hal ini sangat cepat, tapi ternyata Nabi Sulaiman belum puas akan hal tersebut.</p>
<p>Kemudian Nabi Sulaiman bertanya lagi kepada para stafnya siapa yang bisa lebih cepat melakukan hal tersebut. Yang mengajukan diri kemudian ternyata adalah seorang manusia, yaitu manusia yang menguasai ilmu dari al-Kitab. Orang itu kemudian ditanya oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia bisa melakukannya. Dijawab oleh orang itu bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip lagi. Ternyata memang benar adanya, sebelum Nabi Sulaiman berkedip, singgasana Ratu Balqis sudah berada di hadapannya. Satu kedipan mata berarti waktunya kurang dari satu detik. Berkaitan dengan Isra’ Mi’raj, ternyata perjalanan Nabi Muhammad tersebut terjadi dalam waktu tidak sampai satu kedipan mata pun.</p>
<p>Kedua, fenomenal dari segi sains. Untuk menjelaskan Isra’ Mi’raj, ternyata kita harus menggali ilmu-ilmu mutakhir. Kalau ilmu-ilmu lama mungkin tak cukup untuk menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj. Sehingga di zaman itu orang memersepsikan bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai Buraq. Buraq itu kemudian ada yang menggambarkan bentuknya seperti kuda yang bersayap, ada juga yang menggambarkan bahwa kepala buraq itu menyerupai manusia, bahkan ada juga yang menggambarkan kepala buraq itu berupa wanita cantik. Pemikiran seperti ini tentunya khas abad pertengahan, karena perjalanan tercepat ketika itu adalah dengan mengendarai kuda. Tapi kuda pun tak bisa secepat itu. Karena itu digambarkanlah kuda itu bersayap.</p>
<p>Dengan pendekatan secara saintifik dapatlah dijelaskan bahwa sebenarnya perpindahan Rasulullah dari satu tempat ke tempat lain pada peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi secara cahaya. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini tentunya kontroversial hampir 1500 tahun di kalangan agamawan maupun para saintis karena memang sulit menjelaskannya. Selalu ada yang tidak percaya, ragu-ragu, dan ada juga yang meyakininya sejak masa hidupnya Rasulullah hingga kini. Yang ragu-ragu sampai sekarang tentunya masih ada, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Ketika ditanya apakah perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Palestina itu dengan badannya atau bukan. Ada yang mengatakan bahwa itu hanya penglihatan saja. Ada juga yang mengatakan bahwa itu hanya ruh saja. Ada yang mengatakan itu hanya mimpi. Dan ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu memang dialami Nabi Muhammad dengan badannya.</p>
<p>Yang meyakini bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj itu dialami Nabi Muhammad dengan badannya adalah mengacu kepada Abu Bakar Shiddiq. Ketika itu Abu Bakar ditanya apakah dia meyakini peristiwa tersebut. Lalu ditanyakan oleh Abu Bakar kepada yang bertanya itu siapa yang menceritakan hal tersebut. Dijawab oleh yang bertanya kepada Abu Bakar itu bahwa yang menceritakan hal tersebut adalah Nabi Muhammad. Dikatakan oleh Abu Bakar, bahwa kalau Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia meyakininya, karena Nabi Muhammad tak pernah berbohong.</p>
<p>Cara Abu Bakar memersepsi mengenai Isra’ Mi’raj ini oleh sebagian kalangan dinyatakan bahwa beragama itu tak perlu berpikir. Padahal jika dicermati bahwa sebenarnya ketika itu Abu Bakar berpikir dahulu, karena ia menanyakan bahwa siapakah yang menceritakan hal tersebut. Kalau memang Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia meyakini kebenaran yang diceritakan oleh Nabi Muhammad itu. Tapi kalau yang menceritakannya bukan Nabi Muhammad tentunya Abu Bakar takkan langsung meyakini kebenaran cerita tersebut. Jadi dalam beragama memang kita harus berpikir, janganlah ikut-ikutan saja. Perintahnya sangat jelas di dalam al-Quran: <em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.</em> (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 36)</p>
<p><strong><br />
Logika Keputusasaan</strong></p>
<p>Selama ini dalam menceritakan Isra’ Mi’raj kalau kita sudah buntu, maka kita katakanlah bahwa kalau Allah menghendaki, maka semuanya bisa saja terjadi. Kita takkan mendapatkan pelajaran apa-apa dengan cara berpikir seperti ini. Padahal peristiwa apapun yang diturunkan oleh Allah, maka di dalamnya selalu ada pelajaran untuk kita. Allah berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,</em> (Q.S. Ali ’Imrân [3]: 190)</p>
<p>Kita diperintahkan untuk menjadi ulil albab, yaitu orang yang menggunakan akalnya memahami segala peristiwa, sehingga ada pelajaran dari setiap peristiwa tersebut.</p>
<p>Perjalanan Isra’ Mi’raj itu terdiri dari dua etape: satu etape mendatar (horisontal), sedangkan satunya lagi adalah etape vertikal ke langit ketujuh. Etape mendatarnya diceritakan di dalam surah al-Isrâ’ ayat pertama:</p>
<p><em>Maha Suci Allah, yang telah memerjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</em> (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 1)  </p>
<p>Tidak ada ayat lain lagi yang bercerita mengenai perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Palestina itu kecuali ayat ini. Kalau begitu bagaimanakah kita bisa melakukan rekonstruksi atas perjalanan tersebut? Jika ditelusuri kata demi kata dari ayat ini ternyata ada delapan kata kunci di ayat ini, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, ayat ini dimulai dengan kata “<em>subhânalladzî</em>”. Kata “<em>subhânallâh</em>” diajarkan kepada kita untuk diucapkan pada saat kita menemui peristiwa yang menakjubkan, yang memesona, yang hebat, yang luar biasa. Artinya, dengan memulai cerita itu menggunakan kata “<em>subhânalladzî</em>” sebenarnya Allah menginformasikan bahwa cerita yang akan diceritakan tersebut bukanlah cerita yang biasa, melainkan cerita tersebut adalah cerita yang luar biasa dan menakjubkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, yaitu kata “<em>asrâ</em>”. Penggunaan kata “<em>asrâ</em>” memiliki beberapa makna. Yang pertama bahwa itu adalah perjalanan berpindah tempat. Jadi penggunaan kata ini mengcounter pemahaman ataupun kesimpulan yang menyatakan bahwa pada perjalanan tersebut Rasulullah tidak berpindah tempat. Yang kedua maknanya bahwa pada perjalanan itu Rasulullah diperjalankan, bukanlah berjalan sendiri, dan bukan juga atas kehendak sendiri, karena peristiwa ini terlalu dahsyat untuk bisa dilakukan sendiri oleh Rasulullah.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, yaitu kata “<em>’abdihi</em>” yang artinya adalah hamba Allah. Hamba terhadap majikan adalah seorang yang tak berani membantah, taat, seluruh hidupnya diabdikan untuk majikannya, untuk Tuhannya. Yang bisa mengalami perjalanan hebat ini bukanlah manusia yang kualitasnya sembarangan, melainkan manusia yang kualitasnya sudah mencapai tingkatan hamba Allah, yaitu manusia seperti Nabi Muhammad. Karena itulah, kita mungkin tidak bisa menerima ketika Nabi Muhammad digambarkan mendapat perintah salat 50 waktu, kemudian beliau menawar perintah tersebut kepada Allah. Anjuran tawar-menawar itu datangnya dari Nabi Musa. Digambarkan bahwa tawar-menawar itu terjadi hingga sembilan kali Nabi Muhammad bolak-balik menemui Allah, yang akhirnya perintah salat fardu yang diterima Nabi Muhammad menjadi lima waktu saja sehari semalam.</p>
<p>Kita mungkin tak sampai hati membayangkan Nabi Muhammad yang begitu taat kepada Allah yang tak pernah membantah kalau mendapat wahyu dan perintah dari Allah yang dalam cerita versi ini digambarkan sampai sembilan kali tawar-menawar dengan Allah untuk mengurangi jumlah salat fardu yang diperintah-Nya. Digambarkan pada cerita versi ini bahwa Nabi Musa lebih superior dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga Nabi Muhammad dipingpong oleh Nabi Musa bolak-balik menemui Allah memohon agar jumlah salat fardu yang diperintahkan Allah itu dikurangi. Tentunya patut pula kita ingat bahwa Nabi Musa adalah nabinya bani Israil (sebetulnya juga nabinya umat Islam/umat Nabi Muhammad), tetapi orang-orang bani Israil tidak mau menerima Nabi Muhammad. Bagi bani Israil, Nabi Musa lebih hebat dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga dalam cerita versi ini Nabi Muhammad dipingpong saja. Jadi ini indikasinya adalah hadis Israiliyat.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, yaitu kata “<em>laylan</em>” yang artinya adalah perjalanan malam di waktu malam. Hal ini menunjukkan sebagai penegasan bahwa perjalanan malam itu tidak sepanjang malam, melainkan cuma sebagian kecil dari malam. Sehingga diriwayatkan di beberapa hadis, bahwa ketika Rasulullah berangkat dari rumah meninggalkan pembaringan, kemudian menuju ke Masjidil Haram, dan kemudian terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut. Ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, ternyata pembaringannya masih hangat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu beliau tidak lama meninggalkan rumahnya. Di hadis yang lain juga diceritakan, bahwa ketika Rasulullah meninggalkan rumahnya, beliau menyenggol tempat minumnya kemudian tumpah, dan ternyata ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, air dari tempat minum yang disenggolnya itu masih menetes. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah itu berlangsung dalam waktu yang sebentar dan cepat.</p>
<p>Bayangkanlah, perjalanan semalam saja masih sulit diterima, apalagi perjalanan yang hanya sekejap yang itu mungkin hanya beberapa menit, atau mungkin hanya beberapa detik. </p>
<p><strong>Kelima</strong>, <em>minal masjidil harâmi ilal masjidil aqsha</em> (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa). Mengapa perjalanan Rasulullah ini dari masjid ke masjid? Mengapa pula tidak dari rumahnya atau dari Gua Hira ke tujuan lain yang bukan masjid (dari tempat yang bukan masjid ke tempat lain yang bukan masjid juga)?</p>
<p>Patut diketahui, bahwa masjid adalah tempat yang menyimpan energi positif sangat besar. Dengan kamera aura yang bisa memfoto dan memvideokan sesuatu, jika ada orang yang sedang berzikir ataupun membaca al-Quran, ternyata orang tersebut memancarkan cahaya yang terang benderang. Berbeda halnya dengan orang yang sedang marah, depresi, ataupun stress, maka orang tersebut akan memancarkan cahaya berwarna merah. Warna aura ini bertingkat, yaitu dari merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, sampai warna putih. Setiap kita memancarkan energi. Akan terpancar energi dari setiap aktivitas yang kita lakukan, dan energi itu menancap di tempat kita berada ketika itu. Energi itu membekas, sehingga seluruh aktifitas kita akan terekam. Allah berfirman:</p>
<p><em>Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.</em> (Q.S. Qâf: 18)</p>
<p>Raqib dan Atid kemudian dijadikan sebagai nama malaikat yang mencatat amal kebaikan dan keburukan. Rekaman tersebut di ruang tiga dimensi, dan suatu ketika akan diputar lagi. Allah berfirman:</p>
<p><em>Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.</em> (Q.S. Qâf: 22)</p>
<p>Di pengadilan akhirat itu, manusia akan bisa melihat seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia.</p>
<p>Masjid mengandung energi positif sangat besar, terutama masjid yang sering digunakan sebagai tempat beribadah. Semakin sering, semakin banyak, dan semakin khusyuk, maka energinya akan semakin besar. Rasulullah berangkat dari masjid menuju ke masjid. Terminal keberangkatannya di masjid, terminal kedatangannya di masjid. Mengapa demikian? Karena hal ini berkaitan dengan suatu rahasia untuk berubahnya tubuh Rasulullah menjadi energi cahaya.</p>
<p>Di film <em>science fiction</em> (fiksi ilmiah) mungkin kita pernah melihat ada orang yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara memasukkan orang tersebut ke dalam tabung, kemudian tabung itu disinari, kemudian badan materialnya dilenyapkan menjadi energi, kemudian energi itu dipancarkan seperti gelombang radio, lalu ditangkap oleh antena penerima, kemudian energi yang diterima itu dimaterialkan lagi sehingga kembali lagi menjadi orang. Inilah yang dinamakan sebagai teleportasi. Hal ini diakui oleh para ilmuwan modern, namun teknologinya belum dikuasai dalam skala besar, kecuali di laboratorium-laboratorium tertentu. Ternyata materi itu bisa diubah menjadi energi cahaya, kemudian energi cahaya itu bisa diubah lagi menjadi benda materi. Hal ini sudah dibuktikan di laboratorium nuklir.</p>
<p>Mengapa Rasulullah ketika itu menjadi cahaya? Karena yang mendampingi beliau adalah malaikat Jibril yang tercipta dari cahaya. Digambarkan juga bahwa beliau menunggangi <em>barqun</em> (buraq) yang artinya kilat yang itu juga cahaya. Sehingga perjalanan itu akan setara, karena malaikat Jibril adalah cahaya, buraq adalah cahaya, dan Nabi Muhammad pun kemudian diubah menjadi cahaya. Apakah bisa dijelaskan? Jawabannya bisa, karena badan kita ternyata bisa lenyap berubah menjadi cahaya.</p>
<p>Karena Rasulullah sudah berubah menjadi cahaya di Masjidil Haram, maka dalam waktu hanya sepersekian detik, Rasulullah sudah berpindah ke Masjidil Aqsa. Mengapa bisa demikian? Karena kecepatan cahaya itu luar biasa tingginya. 1 detik cahaya bisa menempuh jarak 300 ribu kilometer. 300 ribu kilometer itu setara dengan 300 kali panjangnya Pulau Jawa. Jakarta-Banyuwangi itu jaraknya hanya 1000 kilometer. Jadi, kalau ada cahaya yang dilepaskan di Jakarta ditembakkan ke arah Banyuwangi, maka cahaya itu sudah berpindah ke Banyuwangi dalam waktu sepertigaratus detik. Keliling bumi adalah 40 ribu kilometer. Bagi cahaya itu tak ada apa-apanya, karena dalam waktu 1 detik cahaya bisa mengelilingi bumi 7,5 kali.</p>
<p>Malaikat adalah makhluk yang terbuat dari cahaya. Di dalam al-Quran, malaikat itu digambarkan memiliki sayap, mereka terbang melesat saling mendahului, karena kecepatan malaikat itu sangat tinggi. Kita kadang-kadang salah kaprah menganggap dan menggambarkan malaikat itu terlalu sederhana, termasuk dalam hal merekam amal manusia. Kita mungkin membayangkan malaikat Raqib dan Atid yang berada di pundak kanan dan kiri manusia itu duduk mengawasi kita seperti halnya kita mengawasi orang lain, lalu malaikat itu mencatat amal manusia seperti halnya manusia mencatat. Tentunya gambaran kita terhadap malaikat yang seperti ini begitu naifnya, karena sebenarnya malaikat itu begitu canggih dan begitu cepatnya yang itu di luar apa yang kita gambarkan selama ini. Dalam waktu 1 detik, maka malaikat bisa mengelilingi bumi sebanyak 7 setengah kali. Di dalam al-Quran dinyatakan: <em>Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.</em> (Q.S. Al-Ma’ârij: 4)</p>
<p>Dari ayat ini dapatlah diketahui, bahwa seharinya malaikat setara dengan 50 ribu tahunnya manusia di dunia. Artinya, kalau malaikat mengawasi manusia sehari (dalam hitungan malaikat), maka sebenarnya perjalanan manusia yang diawasi oleh malaikat adalah selama 50 ribu tahun. Jadi, pengawasan malaikat terhadap manusia bukanlah seperti yang kita gambarkan selama ini.</p>
<p>Malaikat Jibril cahaya, buraq adalah kilat yang juga cahaya, Nabi Muhammad diubah menjadi cahaya, maka tidak sampai satu detik, atau hanya 0,005 detik, Nabi Muhammad sudah berpindah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, atau tidak sampai sekedipan mata.  </p>
<p><strong>Keenam</strong>, <em>bâraknâ hawlahu</em> (yang telah Kami berkahi sekelilingnya). Allah memberkati sepanjang perjalanan itu, hal ini karena perjalanan itu memang membahayakan. Tubuh Nabi Muhammad ketika itu bukanlah dalam kondisi aslinya, meskipun hanya dalam waktu 0,005 detik. Sehingga kalau tidak dijaga maka akan membahayakan Nabi Muhammad.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, <em>linuriyahû min âyâtinâ</em> (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami). Jadi, meskipun hanya selama 0,005 detik, tetapi ketika itu Rasulullah ditunjukkan berbagai peristiwa. Mengapakah bisa seperti itu, sedangkan itu adalah waktu yang sangat singkat. Itulah yang disebut sebagai relativitas waktu, yaitu ada perbedaan waktu antara orang yang berkecepatan tinggi dengan orang yang berkecepatan rendah. Kita mengetahui, bahwa antara orang yang tidur dengan orang yang sadar (terjaga) itu waktunya berbeda. Misalnya, ada yang tiba-tiba terlelap tidur yang itu hanya sebentar (mungkin hanya beberapa detik), lalu yang tertidur itu dibangunkan. Yang tertidur itu pun terbangun, lalu ia bercerita baru saja ia bermimpi. Ceritanya itu begitu panjang, seakan-akan mimpinya itu sangat lama, padahal ia hanya tertidur beberapa detik saja. Begitupun dengan Rasulullah, meskipun perjalanan yang dialaminya itu hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi beliau ditampakkan berbagai macam peristiwa oleh Allah. Hal ini karena yang memerjalankan Rasulullah adalah Allah yang tak lain adalah zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kemahamendengaran dan kemahamelihatan Allah itu ditularkan kepada Nabi Muhammad, sehingga kemampuan Rasulullah untuk melihat dan mendengar menjadi lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p>Selanjutnya mengenai Mi’raj diceritakan pada surah an-Najm 14-18:</p>
<p><em>(14) (yaitu) di Sidratil Muntaha. (15) Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (16) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (17) Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (18) Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.</em> (Q.S. an-Najm: 14-18)</p>
<p>Di dekat Sidratil Muntaha, Rasulullah menyaksikan surga. Tentunya tidak sembarangan orang yang bisa menyaksikan surga, karena sudut padangnya harus tertinggi di alam semesta ini. Dari dunia tidak kelihatan, kalaupun kelihatan hanya sebagian. Jadi, kalau kita merasakan kebahagiaan, maka hal itu mungkin kita telah mendapatkan kebahagiaan surga, namun hanya sedikit sekali perbandingannya, mungkin bagaikan setetes air dibandingkan dengan samudera, itu pun setetes airnya dibagi lagi tak berhingga. Sebaliknya kalau kita menderita, maka itu adalah penderitaan neraka, namun skalanya tak berhingga.</p>
<p>Lantas ke manakah Rasulullah melanglang buana? Menyeberangi langit ataukah beliau langsung masuk ke Sidratil Muntaha yang kita tidak tahu di mana letaknya.</p>
<p>Betapa besarnya langit angkasa semesta. Apakah langit? Langit adalah seluruh ruangan alam semesta ini. Matahari dikelilingi oleh planet-planet, bumi tempat kita tinggal adalah termasuk salah satu planet yang mengitari matahari. Matahari yang tadinya kelihatan besar, semakin jauh kita lihat maka semakin kecil. Ketika matahari yang kita terlihat itu semakin kecil, maka biasanya kita tidak lagi menyebutnya matahari, melainkan kita menyebutnya bintang. Matahari itu ternyata demikian banyaknya, seluruh bintang-bintang itu sebenarnya adalah matahari. Diperkirakan jumlahnya trilyunan. Matahari-matahari (bintang-bintang) itu bergerombol membentuk galaksi. Galaksi adalah gerombolan matahari (bintang), di tengahnya ada matahari yang lebih besar, dan di sekitarnya ada sekitar 100 milyar matahari (bintang). Bintang-bintang itu bergerombol mengitari pusatnya membentuk suatu galaksi. Galaksi tempat bumi dan matahari kita berada adalah galaksi Bimasakti. Di sebelah galaksi Bimasakti ada galaksi Andromeda yang isinya diperkirakan juga 100 milyar matahari. Galaksi-galaksi itu diperkirakan trilyunan jumlahnya. Para ahli astronomi bahkan sampai kehabisan nama untuk menyebut galaksi karena saking banyaknya.</p>
<p>Galaksi-galaksi itu ternyata bergerombol-gerombol lagi membentuk gerombolan yang lebih besar yang dinamakan sebagai supercluster. Isinya diperkirakan 100 milyar galaksi. Apakah supercluster adalah benda terbesar dan terjauh di alam semesta, hingga kini belum ada yang mengetahuinya.</p>
<p>Jarak bumi ke matahari adalah 150 juta kilometer. Kalau dilewati cahaya maka dibutuhkan waktu 8 menit. Jadi, kalau kita melihat matahari terbit yang sinarnya sampai ke mata kita, maka cahaya yang sampai ke mata kita itu sebetulnya bukanlah matahari sekarang, melainkan matahari 8 menit yang lalu. Cahaya matahari itu berjalan selama 8 menit barulah sampai ke mata kita. Sementara bintang kembar (Alpha Century) jaraknya dari bumi adalah 4 tahun perjalanan cahaya. Kalau kita melihat bintang kembar pada malam hari, maka sebetulnya itu bukanlah cahaya bintang kembar saat itu, melainkan bintang 4 tahun yang lalu. Di belakangnya lagi ada bintang yang berjarak 10 tahun perjalanan cahaya. Bayangkanlah kalau kita mau menuju bintang berjarak 10 tahun cahaya menggunakan pesawat tercepat yang dimiliki manusia, misalnya menggunakan pesawat ulang alik yang kecepatannya 20 ribu kilometer per jam. Apakah yang kemudian terjadi? Ternyata dibutuhkan waktu 500 tahun untuk sampai ke bintang tersebut.</p>
<p>Ternyata bumi kita ini bukanlah benda besar di alam semesta, melainkan benda yang sangat kecil. Di belakang bintang berjarak 10 tahun cahaya ada bintang berjarak 100 tahun cahaya, di belakangnya lagi ada yang berjarak 1000 tahun cahaya, yang berjarak 1 juta tahun cahaya, dan juga yang berjarak 1 milyar tahun cahaya. Yang terjauh diketahui oleh ilmuwan Jepang yaitu yang berjarak 10 milyar tahun cahaya. Jadi, bumi kita ini hanyalah sebutir debu di padang pasir alam semesta raya.</p>
<p>Jadi, manusia adalah debunya bumi, bumi debunya tata surya, tata surya debunya galaksi Bimasakti, galaksi Bimasakti debunya supercluster, supercluster debunya langit pertama, karena langit itu ada tujuh (sab’a samawâti). Ilmu astronomi hanya mengetahui langit itu satu, tapi al-Quran mengatakan langit itu ada tujuh, karena menurut al-Quran bahwa langit yang kita kenal itu yang banyak bintang-bintangnya barulah langit dunia (langit pertama). Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, (Q.S. ash-Shâffât: 6)</p>
<p>Sudah sedemikian besarnya langit pertama, ternyata langit pertama adalah debunya langit kedua, karena langit kedua itu besarnya tak berhingga kali dibandingkan langit pertama. Langit ketiga besarnya tak berhingga kali dibandingkan langit kedua. Begitu seterusnya setiap naik ke langit selanjutnya selalu tak berhingga kali besarnya dibandingkan langit sebelumnya, hingga langit ketujuh tak berhingga kali dibandingkan langit keenam, serta tak berhingga pangkat tujuh dibandingkan langit pertama.</p>
<p>Jadi, langit pertama adalah debunya langit kedua, langit kedua debunya langit ketiga, seterusnya hingga langit ketujuh, dan seluruh langit yang tujuh beserta seluruh isinya hanyalah debu atau lebih kecil lagi di dalam kebesaran Allah. Beginilah cara al-Quran menggiring pemahaman kita tentang makna Allahu Akbar. Semestinya menurut al-Quran, bahwa belajar mengenal Allah itu adalah dari seluruh ciptaan-Nya. Dengan begitu kita akan mengetahui betapa Maha Besarnya Dia, betapa Maha Menyayangi, Maha Teliti, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, tak cukup hanya dari lafaznya, karena kita takkan mendapatkan rasa yang sesungguhnya.</p>
<p>Bayangkanlah betapa Rasulullah melakukan perjalanan menuju langit ketujuh. Sebetulnya Rasulullah berjalan ke langit ketujuh itu apakah melintasi ruang angkasa atau tidak?</p>
<p>Kalaupun badan Rasulullah diubah menjadi cahaya, maka dari bumi menuju bintang Alpha Century yang berjarak 4 tahun cahaya, maka Rasulullah membutuhkan waktu 4 tahun untuk sampai ke bintang Alpha Century, untuk menempuh yang berjarak 10 tahun cahaya dibutuhkan waktu 10 tahun, untuk menempuh yang berjarak 10 milyar tahun cahaya dibutuhkan 10 milyar tahun. Sepertinya Rasulullah tidak melewati ruang angkasa, melainkan ada ruangan langsung yang tidak ke sana (tidak ke ruang angkasa) tetapi memahami semua itu. Di manakah itu?</p>
<p>Ternyata langit kedua terhadap langit pertama tidak bertumpuk seperti kue lapis (dalam konteks Mi’rajnya Rasulullah). Sering kita berpendapat dari cerita-cerita klasik bahwa Nabi Muhammad dan malaikat Jibril menuju ke langit ketujuh dengan cara naik menggunakan tangga, kemudian bertemu langit yang digambarkan seperti langit-langit, kemudian di situ ada pintunya dan ada penjaganya. Lalu Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad ditanya mau ke mana oleh si penjaga langit. Dijawab oleh Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bahwa akan bertemu dengan Allah. Kalau begitu, berarti Allah itu jauh sekali. Padahal di dalam al-Quran digambarkan bahwa Allah itu dekat, dan Nabi Muhammad mengetahui itu. Allah berfirman: <em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,</em> (Q.S. Qâf: 16)</p>
<p>Bahkan dinyatakan juga di dalam al-Quran: <em>Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.</em> (Q.S. al-Baqarah [2]: 115)</p>
<p>Timur dan Barat milik Allah. Ke manapun kita menghadap, maka kita berhadapan dengan Allah, karena Allah sedang meliputi kita. Dan Rasulullah tahu persis akan hal itu. Jadi untuk bertemu Allah tak perlu ke Sidratil Muntaha. Dan memang Rasulullah ke Sidratil Muntaha bukanlah untuk menemui Allah, karena Allah sudah meliputi Rasulullah, juga meliputi kita semua di manapun kita berada.</p>
<p>Lantas di manakah langit kedua? Langit kedua ternyata tidak nun jauh di sana, tetapi di sini juga. Langit kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh di sini juga. Sidratil Muntaha, surga, dan Allah di sini juga. Kalau begitu mengapa pula bingung-bingung mencari Allah hingga jauh ke mana-mana, karena menghadap ke manapun kita selalu bertemu dengan Allah, dan Allah sudah lebih dekat daripada urat leher kita. Kalau begitu perjalanan Mi’raj itu seperti apa? Perjalanan Rasulullah dari langit pertama ke langit kedua adalah dengan cara masuk ke dimensi yang lebih tinggi. Hilang dari sini kemudian sudah berada di dimensi yang lebih tinggi yang itu tempatnya di sini juga.</p>
<p>Langit kedua adalah langitnya jin. Kalau begitu, jin itu sebenarnya hidup di angkasa atau di bumi? Jin itu ternyata hidup di bumi. Sehingga di al-Quran diceritakan, bahwa kalau jin dan manusia mau ke langit, maka itu bisa dilakukan, tetapi harus menggunakan kekuatan ataupun teknologi.</p>
<p>Jadi jin itu ada di sini. Tapi di mana jinnya? Jin itu ada di dimensi yang lebih tinggi. Dia bisa melihat kita dari tempat yang kita tidak bisa melihat mereka. Mungkin dapat digambarkan (dianalogikan) bahwa kalau kita disorot lampu, kemudian di belakang kita ada dinding, maka di permukaan dinding itu akan terlihat bayangan kita. Bayangan itu dengan kita sebenarnya adalah dua makhluk yang berbeda. Perbedaannya: Pertama, bahwa bayangan di dinding itu tidak mempunyai ketebalan, ia hanya menempel di permukaan dinding. Ukurannya hanya dua, yaitu panjang dan lebar, yang itu disebut sebagai makhluk dua dimensi. Sedangkan kita memiliki ukuran panjang, lebar, dan ketebalan, sehingga kita disebut sebagai makhluk tiga dimensi. Kedua, dunianya berbeda. Makhluk dua dimensi dunianya harus dua dimensi. Dalam hal ini yaitu permukaan dinding. Sedangkan makhluk tiga dimensi dunianya harus tiga dimensi, yaitu berupa ruangan. Sehingga kalau bayangan itu bergerak, maka ia hanya bisa ke kanan, kiri, atas, dan bawah. Sedangkan makhluk tiga dimensi bisa ke kanan, kiri, atas, bawah, serta maju dan mundur.</p>
<p>Ternyata ini ada dua makhluk yang berbeda eksistensinya dan berbeda ruang hidupnya. Di dinding ada bayangan, sedangkan di ruangan ada manusia. Jarak kita dengan bayangan itu cukup dekat. Bayangan itu hanya bergerak di dinding saja, dia tidak bisa terlepas dari dinding ataupun keluar menuju ruangan. Bayangan tidak bisa masuk ke ruangan karena bayangan itu terikat di permukaan dinding saja dan dia tidak mempunyai ketebalan. Yang bisa hidup di ruangan hanyalah yang memiliki ketebalan seperti kita.</p>
<p>Maka kalau bayangan itu makhluk hidup, dia akan bergerak ke sana ke mari di dinding, kita juga makhluk hidup dan bisa bergerak ke sana ke mari. Kita bisa melihat bayangan itu melakukan apa saja, tetapi bayangan itu tidak bisa melihat kita, karena bayangan itu tidak tahu bahwa ada ruangan yang mempunyai ketebalan. Yang diketahui oleh bayangan itu bahwa dunianya tidak mempunyai ketebalan. Kalau misalnya bayangan itu manusia, maka kita adalah jin. Jin bisa melihat segala yang dilakukan manusia. Jika jin saja bisa melihat segala yang dilakukan oleh manusia, apalagi malaikat yang berasal dari makhluk langit ketujuh, di arasy Allah, dan di akhirat.</p>
<p>Kalau kita ingin masuk ke dunia bayangan itu, caranya adalah dengan menempelkan sebagian tubuh kita ke dinding. Misalnya tangan kita ditempelkan di dinding, sehingga tangan kita yang menempel di dinding itu terlihat oleh bayangan tersebut. Bayangan itu mungkin heran melihat ada telapak tangan. Lalu kita katakan kepada bayangan itu untuk mengikuti kita. Kita lalu bergeser sepanjang dinding sambil menempelkan tangan ke dinding, lalu dikejar oleh bayangan itu. Ketika hampir tertangkap oleh bayangan itu, kita kemudian melepaskan tangan kita, sehingga hilanglah kita dari dunia bayangan tersebut. Tiba-tiba kita muncul di belakangnya. Kita tempelkan lagi tangan kita, kita menggeserkan tangan kita sepanjang dinding, kemudian bayangan itu mengejar kita lagi. Ketika hampir tertangkap oleh bayangan itu, maka kita pun kembali melepaskan tangan kita dari dinding, lalu tiba-tiba kita muncul di atasnya, muncul di bawahnya, dan seterusnya. Karena itulah, kalau jin mengganggu manusia, maka jin itu menempelkan sebagian badannya ke dunia manusia, sementara badannya masih berada di dunianya. Badannya yang masih berada di dalam ruangan dunianya itu tidak terlihat oleh manusia, padahal dia memiliki badan. Sehingga biasanya kalau menemui seperti ini manusia akan ketakutan. Padahal kita tak perlu takut dengan jin.</p>
<p>Kalau jin itu menampakkan seluruh badannya, maka manusia akan dapat melihatnya, tapi ketebalannya tak terlihat, karena yang manusia lihat hanyalah tubuh jin itu yang menempel di permukaan dunia kita. Kalau mau kita tangkap, maka dia masuk lagi ke ruangan dunianya. Manusia mungkin melihat jin itu di atas seperti terbang, padahal sebenarnya jin itu tidak terbang, karena badannya masih berada di ruangan dunianya. Kalau begitu, berarti jin itu sakti? Jin sebenarnya tidaklah sakti, sama saja seperti manusia, karena itu kita tidak perlu takut kepada jin. Namun saja, bahan dasarnya memang berbeda dari manusia. Allah berfirman: Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Q.S. al-Hijr: 27)</p>
<p>Ada dua dunia yang berbeda ruangannya, yaitu dunia jin dan dunia manusia. Kalau bayangan di dinding itu ingin keluar dari dunianya dan ingin masuk ke dunia kita, bagaimanakah caranya?</p>
<p>Jika kita membayangkan sistem tata surya kita, dari bumi kita menuju ke suatu bintang, berarti kita masih berada di langit pertama. Kemudian kita menuju ke bintang yang lain, ataupun berputar-butar di dalam tata surya kita berarti kita masih berada di langit pertama. Lantas kalau mau ke langit kedua, maka kita harus keluar dari ruangan tata surya kita yang tak lain keluar dari ruangan langit pertama. Selama kita ke manapun bermilyar-milyar tahun tetapi tetap berada di dalam ruangan tata surya kita, maka berarti kita masih berada di langit pertama. Sedangkan kalau kita mau ke langit kedua, maka kita harus keluar dari ruangan langit pertama ini kemudian memasuki ruangan langit kedua. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Rasulullah tidak bisa melakukannya sendirian, melainkan harus dibantu oleh makhluk dari alam yang lebih tinggi, yaitu malaikat Jibril (malaikat Jibril adalah makhluk dari langit ketujuh).</p>
<p>Sama halnya jika bayangan yang ada di dinding mau keluar dari dinding (dunianya), maka kita tempelkan punggung kita ke dinding sehingga diri kita dengan bayangan yang ada di dinding itu menjadi menempel. Kemudian kita katakan kepada bayangan itu untuk hinggap ke punggung kita. Karena bayangan itu sudah menempel dengan punggung kita, maka kita maju meninggalkan dinding untuk menuju ke tengah ruangan kita. Bayangan itu hilang dari dinding karena bayangan itu ada di punggug kita, dan kemudian bayangan itu melihat ke dunianya yang membuat bayangan itu terheran-heran melihat dunianya. Ternyata berbeda dilihat dari ruangan kita dan dilihat dari ruangan bayangan itu. Perbedaannya ada dua:</p>
<p>Pertama, jika di dinding ada bayangan A yang di sebelahnya ada bayangan B, ketika bayangan A melihat ke bayangan B, maka bentuk bayangan B yang dilihat oleh bayangan A adalah garis. Melihat ke atas garis, ke bawah garis, ke kanan garis, dan ke kiri garis. Tapi ketika bayangan A itu ke ruangan kita, kemudian melihat ke bayangan B yang masih berada di dinding, maka bentuk yang dilihatnya bukanlah garis.</p>
<p>Kedua, dari ruangan kita, si bayangan bisa melihat setiap sisi dinding sekaligus, semua dinding kelihatan oleh si bayangan. Ketika masih berada di dinding (dunianya), si bayangan hanya bisa mengetahui yang ada di sekitarnya (kanan, kiri, atas, dan bawah). Ketika berada di ruangan kita, si bayangan bisa melihat seluruh dunianya.</p>
<p>Langit tata surya kita seluruhnya akan terlihat ketika kita melihatnya dari ruangan yang bukan ruangan langit tata surya kita itu tanpa kita harus melakukan perjalanan ke langit. Begitulah yang dialami oleh Rasulullah. Ketika Rasulullah dibawa oleh Jibril naik ke langit kedua, maka Rasulullah terpesona untuk pertama kalinya, karena langit pertama dilihat dari langit kedua ternyata lebih indah dibandingkan ketika Rasulullah melihatnya dari langit pertama (langit pertama dilihat dari langit pertama). Dari langit kedua, seluruh alam semesta kelihatan oleh Rasulullah, padahal Rasulullah hanya menyelusup masuk ke dimensi yang lebih tinggi.</p>
<p>Lantas di manakah langit ketiga? Analoginya sama, jika permukaan dinding adalah langit kedua, maka ruangan kita adalah langit ketiga. Kemudian Rasulullah naik lagi ke dimensi yang lebih tinggi, sehingga terlihat oleh Rasulullah bahwa langit kedua lebih indah dilihat dari langit ketiga, pemandangannya tambah luas dibandingkan langit pertama dan langit kedua.</p>
<p>Langit keempatnya di mana? Analoginya sama, kalau permukaan dinding adalah langit ketiga, maka ruangan kita adalah langit ketiga. Rasulullah pun naik (masuk) ke dimensi yang lebih tinggi, sehingga di langit keempat Rasulullah terpesona lagi menyaksikan betapa indahnya ciptan Allah, yaitu langit pertama, langit kedua, dan langit ketiga dilihat dari langit keempat.</p>
<p>Begitu seterusnya naik ke langit kelima Rasulullah terpesona, naik ke langit keenam Rasulullah terpesona, dan naik ke langit ketujuh Rasulullah tidak tergambarkan lagi betapa terpesonanya menyaksikan alam semesta ciptaan Allah. Di dekat Sidratil Muntaha Rasululah menyaksikan keindahan yang tidak pernah tergambarkan sebelumnya yang diistilahkan sebagai surga. Ketika itu Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya yang penuh misteri. Pandangan Rasulullah tidak bisa dipalingkan, dan juga tidak bisa melampaui Sidratil Muntaha itu. Seperti orang yang terpaku dan terpesona. Mengapakah bisa demikian? Karena tak lain Rasulullah telah menyaksikan sebagian kecil ciptaan Allah yang luar biasa dahsyatnya. Itulah saat Rasulullah terpesona di sana. Apakah untuk bertemu dengan Allah? Ternyata bukanlah untuk bertemu dengan Allah. Lantas untuk apa? Jawabannya ada dua, yaitu:</p>
<p>Pertama, perjalanan Isra’ dan Mi’raj ternyata tujuannya adalah untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah, seperti yang disebutkan pada ayat pertama surah al-Isrâ’: &#8230; agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</p>
<p>Jadi, perjalanan Isra’ dari Mekkah ke Palestina itu adalah untuk menunjukkan sebagian kekuasaan Allah. Lantas kalau begitu mi’rajnya untuk apa?</p>
<p>Di dekat Sidratil Muntaha Rasulullah menyaksikan surga. Ketika itu Sidratil Muntaha diliputi sesuatu yang meliputinya. Pandangan beliau tidak bisa dipalingkan dan tidak bisa melampaui. Sungguh beliau menyaksikan tanda-tanda (atau sebagian kecil dari tanda-tanda) atau ciptaan Allah yang luar biasa hebatnya itu: <em>Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.</em> (Q.S. An-Najm: 18)</p>
<p>Jadi, Isra’ Mi’raj itu sebetulnya bertujuan membawa Rasulullah ke satu posisi yang paling tinggi untuk memahami betapa dahsyatnya ciptaan Allah. Untuk apakah semuanya itu? Yaitu untuk memotivasi Rasulullah. Mengapakah demikian? Karena sebelum Isra’ Mi’raj, Rasulullah sedang berada pada titik terendah perjuangannya yang paling sulit, yaitu ketika dijepit oleh orang kafir dan diembargo secara ekonomi. Di saat-saat itu justru Allah mewafatkan paman Rasulullah (Abi Thalib) dan mewafatkan istri Rasulullah (Khadijah). Hal ini bukannya tidak sengaja, melainkan disengaja oleh Allah, karena memang tak ada yang kebetulan di dalam kehidupan ini.</p>
<p>Semuanya itu justru terjadi pada saat Rasulullah berada pada titik nadir perjuangannya. Beliau berharap memindahkan front syi’arnya ke luar kota (yaitu ke Tha’if). Beliau berharap disambut baik oleh penduduk Tha’if, tapi malah yang terjadi beliau dilempari batu sampai berdarah-darah. Maka kemudian Allah memompa kembali semangat beliau, yaitu dengan cara Isra’ Mi’raj. “Muhammad, engkau adalah utusan Allah,” mungkin seperti itulah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.</p>
<p>Ketika Rasulullah kembali dari Isra’ Mi’raj, maka setahun kemudian terjadilah titik balik perjuangannya, yaitu beliau bersama pengikutnya hijrah ke Madinah, kemudian dari Madinah bisa menaklukkan kota Mekkah.</p>
<p>Demikianlah. Mudah-mudahan Allah memberikan barakah dan rahmat-Nya untuk kita semua. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Ir. H. Agus Mustofa pada tanggal 19 Juli 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/terpesona-di-sidratil-muntaha/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/islamika/'>Islamika</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/islamika/mozaik-islam/'>Mozaik Islam</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/ilmiah/'>ilmiah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/isra-miraj/'>Isra' Mi'raj</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/masjidil-aqsa/'>Masjidil Aqsa</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/masjidil-aqsha/'>Masjidil Aqsha</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/masjidil-haram/'>masjidil haram</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/mekkah/'>mekkah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/nabi-muhammad/'>nabi muhammad</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/palestina/'>palestina</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/rasulullah/'>rasulullah</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/sains-dan-teknologi/'>sains dan teknologi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/sidratil-muntaha/'>Sidratil Muntaha</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/582/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/582/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=582&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/07/09/terpesona-di-sidratil-muntaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Bangsa yang Ghafuurun Rahiim (Pengampun dan Penyayang)</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/03/10/indonesia-bangsa-yang-ghafuurun-rahiim-pengampun-dan-penyayang/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/03/10/indonesia-bangsa-yang-ghafuurun-rahiim-pengampun-dan-penyayang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 14:55:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Pengampun]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Penyayang]]></category>
		<category><![CDATA[pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu setelah mendengarkan Kajian Tafsir Alquran yang disampaikan oleh K.H. Husein Hamid Al-Athas di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada tanggal 25 Februari 2010, menarik kiranya beberapa hal yang disinggung oleh beliau berkaitan dengan kondisi negeri ini. Masih hangat di tengah-tengah kita kasus Bank Century, Cicak versus Buaya, Prita Mulyasari, dan beberapa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=567&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/03/3008887237_49375a7342_m.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/03/3008887237_49375a7342_m.jpg?w=455" alt="" title="3008887237_49375a7342_m"   class="alignleft size-full wp-image-573" /></a>Beberapa waktu yang lalu setelah mendengarkan Kajian Tafsir Alquran yang disampaikan oleh K.H. Husein Hamid Al-Athas di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada tanggal 25 Februari 2010, menarik kiranya beberapa hal yang disinggung oleh beliau berkaitan dengan kondisi negeri ini. Masih hangat di tengah-tengah kita kasus Bank Century, Cicak versus Buaya, Prita Mulyasari, dan beberapa yang lainnya berkenaan dengan penegakan hukum di negeri ini. Selain itu, masih sering pula kita dengar Fatwa Haram ini dan itu yang kontroversial, yang seringnya tak diindahkan oleh umat Islam sendiri, entah karena apa.<br />
<span id="more-567"></span><br />
Bagi yang sering berburu, tentunya tak asing lagi dengan binatang pemburu dan binatang hasil buruan. Seperti halnya binatang pemburu (misalkan anjing pemburu) yang setelah memburu kemudian hasil buruannya diberikan kepada tuannya. Hasil buruan itu diambil oleh si tuan, kemudian dipotong sedikit, lalu diberikan potongan yang sedikit itu kepada si anjing pemburu. Kira-kira nasibnya anjing pemburu kasihan atau tidak?</p>
<p>Apa yang dialami oleh anjing pemburu ini mungkin hampir mirip dengan yang dialami oleh para ulama dan pejabat di negeri ini. Mungkin tak sedikit para ustadz, kyai, ataupun ulama, serta para pejabat di negeri ini yang diberlakukan seperti anjing pemburu. Mereka disuruh berburu, memberikan fatwa, diperalat untuk berbagai macam tujuan. Ujung-ujungnya yang paling senang tentunya adalah si tuan yag menyuruh berburu, karena mereka yang mendapatkan keuntungan dunia. Sedangkan di akhirat nanti, ulamanya lah yang dituntut lebih dahulu, karena ulamanya yang tahu mengenai halal dan haram, mengenai yang haq dan yang bathil.</p>
<p>Sebelum si tuan (pejabat, konglomerat, dan sebagainya) yang telah memanfaatkan jasa si ulama untuk kepentingan dirinya (si tuan), maka ulamanya lah dahulu yang masuk ke jurang api neraka. Karena itulah, orang yang rugi adalah yang menjual akhiratnya untuk dunianya. Namun yang lebih rugi lagi adalah yang menjual akhiratnya untuk dunianya orang lain. Seperti halnya anjing pemburu, sekembalinya dari berburu, sudah capek memburu ke sana ke mari, kemudian hasil buruan diserahkan kepada tuannya. Namun alangkah sedihnya, si tuan hanya memberikan sedikit hasil buruan tersebut kepada si anjing. </p>
<p>Begitu juga yang terjadi pada para pejabat negeri ini yang dimanfaatkan oleh konglomerat. Si konglomerat minta tanda tangan dan dilancarkan urusannya kepada si pejabat dengan imbalan bahwa si pejabat nantinya akan mendapatkan mobil yang mahal dan mewah (mungkin seperti mobil Baby Benz). Senanglah si pejabat diiming-iming dengan hadiah yang mahal dan mewah seperti itu, sehingga muluslah urusan si pejabat.</p>
<p>Si pejabat memang mendapatkan yang dijanjikan oleh si konglomerat. Tapi si pejabat mungkin tidak tahu, lupa, pura-pura tidak tahu, atau mungkin pura-pura lupa bahwa yang didapatkan oleh si konglomerat tentunya lebih besar, bertrilyun-trilyun, dan tidak sebanding dengan imbalan yang diterimanya. Oleh si konglomerat, duit yang telah didapatkannya kemudian dibawa kabur ke luar negeri. Yang terjadi kemudian, si pejabat ditangkap, sedangkan konglomeratnya lari lenggang kangkung menyelamatkan diri ke luar negeri.</p>
<p>Sungguh pejabat yang seperti ini sangat bodoh luar biasa. Si pejabat mengatakan, &#8220;Sungguh luar biasa, Om Fulan kirimin saya Baby Benz.&#8221; Dia tak tahu, padahal uang negara yang telah digelontorkan kepada si konglomerat. Begitu datang penangkapan, si konglomerat lari ke luar negeri, kemudian si pejabat ditangkap.</p>
<p>Kita tentunya tahu bahwa Bangsa Indonesia ini punya watak pemaaf. Setelah beberapa tahun kemudian, si konglomerat kembali lagi ke negeri ini, kemudian mendeirikan lagi bank baru. Sungguh menakjubkan, ternyata nama si konglomerat sudah dibersihkan. Mereka (para pejabat) mengatakan, &#8220;<em>Innallaaha ghafuurun rahiim</em>. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Masa&#8217; sih kita nggak memaafkan orang yang berdosa?&#8221; Dulu kakek moyangnya mendirikan Bank Q, kemudian setelah itu dia dan anaknya melarikan diri ke luar negeri. Kemudian anaknya datang dan kembali lagi ke negeri ini mendirikan Bank X.</p>
<p>Seperti diketahui bersama, bahwa pendiri Bank Century itu sudah bermasalah bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Tapi kemudian para pejabat mengatakan, &#8220;Kita harus <em>ghafuurun rahiim</em>, karena Allah <em>ghafuurun rahiim</em>.&#8221;</p>
<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/03/titik-air1.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/03/titik-air1.jpg?w=455" alt="" title="titik air"   class="alignright size-full wp-image-574" /></a>Jadi, sungguh yang jadi korban kemudian adalah rakyat kecil. Mencuri 4 buah jagung, hukumannya yaitu masuk penjara selama 4 bulan. Sedangkan Kasus Skandal Bank Century tak jelas nasibnya, jangan-jangan sebentar lagi akan dipeti-eskan (dibekukan—tidak diselediki lagi karena dianggap tak ada kasus). Oleh karena itu, kalau nyolong (mencuri) jangan tanggung-tanggung. Kalau nyolong tanggung-tanggung, maka tak ada yang mau berbelas kasihan, tak ada yang mau memanggil dan mendekati kita. Tapi kalau nyolongnya besar, maka si perampok malahan di Kepolisian dicium tangannya, kamarnya indah, bebas keluar masuk kapanpun dia mau.</p>
<p>Makanya kalau mau nyolong jangan tanggung-tanggung. Kalau mau masuk neraka jangan tanggung-tanggung, toh di neraka nanti hidupnya pasti akan susah. Jangankan di akhirat, di dunia juga dirinya menjadi susah jika ketahuan telah mencuri, bahkan sampai dipukuli oleh massa. Kalau begitu keadaannya, maka sekalian saja nyolong 5 Trilyun, sehingga kalau masuk penjara bisa negosiasi.</p>
<p>Jadi betul-betul proses yang terjadi di Indonesia luar biasa. Nyolong 4 jagung hukumannya 4 bulan, nyolong coklat 2 biji hukumannya berat, tapi yang nyolong 6,7 Trilyun dibiarkan begitu saja. Kalau negara kita seperti ini, berarti kita telah mempermalukan diri kita. Oleh karena itu, kita ingin para pemimpin di atas bangkit menegakkan keadilan, sehingga kehormatan bangsa yang 250 juta penduduknya yang mayoritas beragama Islam ini kembali kehormatannya.</p>
<p>Tapi memang kita patut bersyukur. Alahmdulillah, bangsa kita ini pemaaf, berlapang dada, dan suka memberikan ampun. Kalau ditampar sekali pipi kanan, besok diserahkan lagi yang kanan. Kalau pipi kiri yang ditampar, maka besoknya diserahkan lagi yang kiri. <em>Innallaaha ghafuurun rahiim</em>. Kalau ini mental bangsa kita, bukannya berarti kita berbelas kasihan, melainkan kita siap menerima untuk dilecehkan dan dipermainkan.</p>
<p>Kita berharap, mudah-mudahan Presiden kita insya Allah mengeluarkan keputusan dan mengambil tindakan tegas. Siapapun yan berbuat salah haruslah dihukum, sedangkan yang benar diberikan apresiasi. Dan kita tidak ingin ceramah para ulama dipolitisir untuk mengangkat ataupun menjatuhkan seseorang.</p>
<p>Kalau seseorang merasa dirinya diawasi oleh Allah, insya Allah takkan ada hal-hal seperti ini. Mudah-mudahan para ustadz, kyai, dan ulama di negeri ini tidak dekat-dekat dengan para koruptor. Jika para ulama kemasukan makanan dari para koruptor dan pejabat beramasalah, maka besok-besoknya fatwa si ulama akan berubah dan disesuaikan dengan pesanan sponsor. Kalau si ulama sudah dimasuki setan, tentunya bukan hanya si ulama yang bermasalah, melainkan keluarganya dan orang-orang yang mengikutinya juga jadi bermasalah terkena imbasnya. <strong>[Hanafi Mohan-Ciputat, Rabu 10 Maret 2010]</strong></p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong><br />
1) <a href="http://kaliaja.blogspot.com/2008/11/tuhan-maha-pengampun.html">http://kaliaja.blogspot.com/</a><br />
2) <a href="http://snhadi.wordpress.com/2009/08/10/sambut-ramadhan-dengan-iman-pas-pasan/">http://snhadi.wordpress.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/03/10/indonesia-bangsa-yang-ghafuurun-rahiim-pengampun-dan-penyayang/#more-567">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/beriman-secara-lapang/'>Beriman secara Lapang</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/bangsa/'>bangsa</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/bank-century/'>Bank Century</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hukum/'>hukum</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/indonesia/'>indonesia</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/islam/'>Islam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/maha-pengampun/'>Maha Pengampun</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/maha-penyayang/'>Maha Penyayang</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/pejabat/'>pejabat</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/ulama/'>ulama</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/567/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/567/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=567&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/03/10/indonesia-bangsa-yang-ghafuurun-rahiim-pengampun-dan-penyayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/03/3008887237_49375a7342_m.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">3008887237_49375a7342_m</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/03/titik-air1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">titik air</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lingkungan Taat Beragama</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/14/lingkungan-taat-beragama/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/14/lingkungan-taat-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 12:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[Cine]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[kalimantan barat]]></category>
		<category><![CDATA[Kampong Tambelan]]></category>
		<category><![CDATA[Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[moderat]]></category>
		<category><![CDATA[Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[rasional]]></category>
		<category><![CDATA[religius]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Kapuas]]></category>
		<category><![CDATA[Tambelan Sampet]]></category>
		<category><![CDATA[Tambelan Sampit]]></category>
		<category><![CDATA[Tionghoa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah kampong bernama Kampong Tambelan (Kelurahan Tambelan Sampit, dalam ucapan orang Pontianak, &#8220;Sampit&#8221; diucapkan &#8220;Sampet&#8220;), di sinilah aku dilahirkan dan dibesarkan. Sebagian masyarakat Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat mengenal kampong yang satu ini sebagai kampong yang Islami atau kampong yang religius. Kampongku ini pas terletak di pesisir Sungai Kapuas. Karena masih berada di dekat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=561&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/kapuas.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/kapuas.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Kapuas" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-564" /></a>Di sebuah kampong bernama <em>Kampong Tambelan</em> (Kelurahan Tambelan Sampit, dalam ucapan orang Pontianak, &#8220;Sampit&#8221; diucapkan &#8220;<em>Sampet</em>&#8220;), di sinilah aku dilahirkan dan dibesarkan. Sebagian masyarakat Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat mengenal kampong yang satu ini sebagai kampong yang Islami atau kampong yang religius. Kampongku ini pas terletak di pesisir Sungai Kapuas. Karena masih berada di dekat dan di sekitar kawasan Kesultanan Pontianak yang berada di Kecamatan Pontianak Timur, maka adat resam budaya Melayu juga masih sangat kental di kampongku ini.<br />
<span id="more-561"></span><br />
Bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah Bahasa Melayu Pontianak. Diakui atau tidak, jika ingin menjumpai Bahasa Melayu Pontianak yang masih sangat kental, maka di pesisir Sungai Kapuas lah tempatnya, terutama di kampong-kampong yang dekat dengan kawasan Kesultanan Pontianak (di kawasan Kesultanan Pontianak terdapat Istana Qadriyah dan Masjid Jami&#8217; Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri). Bahkan tiap-tiap kampong punya logat bahasanya sendiri-sendiri. Bagi yang jeli, mungkin bisa membedakan antara logat orang-orang di kapong yang satu dengan orang-orang di kampong lainnya.</p>
<p>Karena dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan religius seperti ini, maka sedikit banyak aku juga dididik oleh keluarga dan lingkunganku dengan cara-cara yang religius. Entah cara religius yang kumaksudkan seperti apa, sungguh cukup sulit untuk mendeskripsikannya. Yang pasti, aku sungguh merasakan suasana religius tersebut semenjak masa anak-anak hingga dewasa. Strata sosial yang tertinggi di kampong kami mungkin adalah para ulama, ustadz, dan orang-orang yang memahami ilmu keislaman. </p>
<p>Perayaan hari-hari besar Islam mungkin yang paling meriah adalah di kampong kami. Tahun Baru Islam 1 Muharram (terutama pas Hari &#8216;Asyura 10 Muharram), Maulod (Maulid Nabi Muhammad), Isra&#8217; Mi&#8217;raj, Nisfu Sya&#8217;ban, Ramadhan (<em>Puase</em>), &#8216;Adhil Fithri (<em>Lebaran Ramdhan</em>), dan &#8216;Adhil Adha (Lebaran Haji). Semua perayaan itu dibaluti dengan tradisi Melayu yang begitu khas di kampongku yang mungkin sulit ditemui di kampong-kampong lain yang ada di Kota Pontianak.    </p>
<p>Sungguh pun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak praktek-praktek dan tradisi keagamaan yang sudah tak sesuai dengan napas zaman, bahkan mungkin bertentangan dengan Aqidah (Tawhid) dan dan Akhlak Islam. Agama lebih banyak diterjemahkan sebagai ibadah ritual. Kadang juga agama dijalankan secara sempit dan fanatik tak karuan. Masih banyak masyarakat kampongku yang beriman dan berislam secara kolot. Pandangan keagamaannya sungguh masih sangat sederhana.</p>
<p>Di waktu kecil dahulu aku pun sering mendengar ungkapan bahwa mencuri di rumah orang kafir itu dibolehkan. Tentunya ungkapan seperti ini sangatlah bertolak belakang dengan keyakinan keislaman yang kita anut. Anak-anak yang mendengar ini kemudian menerjemahkannya secara demonstratif. Ketika itu ada salah satu kedai (warung) milik orang keturunan <em>Cine</em>/Cina (Tionghoa) di kampong kami, sebut saja namanya Siango. Maka tak ayal lagi, jadilah kedai Siango sebagai sasaran untuk menjalankan pandangan keagamaan yang sungguh sangat salah itu. Ketika berbelanja, banyaklah anak-anak yang tidak membayar. Makan kue lima, bayarnya satu atau dua saja.</p>
<p>Ketika itu juga lagi musim-musimnya menjual lempengan-lempengan alumunium bekas. Kedai Siango adalah salah satu tempat untuk menjual alumunium bekas yang dimaksud. Beberapa teman-temanku ketika itu ada yang sangat kreatif, yaitu mencampurkan lempengan alumunium dengan pasir ataupun batu. Hal ini bisa dilakukan, karena Siango ataupun pembantu-pembantunya jarang memeriksa alumunium-alumunium yang dijual itu. Alumunium yang tadinya hanya beberapa ons, setelah ditambahkan batu mungkin menjadi agak lebih berat, sehingga duit yang didapatkan juga bisa lebih banyak. Ada juga yang kreatif dengan cara menjual alumunium yang sama berkali-kali. Caranya yaitu teman-temanku yang menjual alumunium itu yang membantu meletakkan alumunium yang dijualnya ke tempat penyimpanan. Hal ini karena Siango mungkin ketika itu lagi sibuk-sibuknya melayani pembeli, dan pembantu-pembantunya pun jarang memperhatikan yang seperti ini.</p>
<p>Lain lagi anjing yang dianggap sebagai najis <em>mughallazah</em>. Kalau ada anjing yang lagi berkeliaran, baik itu anjing liar, ataupun anjing milik orang-orang keturunan <em>Cine</em>/Cina (Tionghoa), maka jadilah anjing itu sebagai sasaran empuk untuk dilempari ataupun dipukuli, bahkan anjing itu dikerjai sampai sekarat. Bukankah anjing itu juga makhluk hidup seperti kita yang mempunyai hak yang sama untuk hidup di atas muka bumi ini? Sungguh tragis nasib hewan yang satu ini di kampongku ketika itu.</p>
<p>Keluargaku mungkin salah satu keluarga yang cukup moderat dan mempunyai pikiran dan pandangan keagamaan yang cukup maju ketika itu. Bayangkan, di kolong rumah panggung kami yang cukup luas itu kami memelihara hewan ternak seperti ayam. Selain itu, tak jarang juga ada anjing-anjing liar yang menjadikan kolong rumah kami sebagai tempat tidurnya. Entah mungkin karena tak pernah kami ganggu keberadaannya, maka betahlah anjing itu di bawah kolong rumah kami. Seakan-akan anjing itu adalah peliharaan kami. Selama ada anjing itu di bawah kolong rumah kami, maka amanlah rumah kami dari sergapan pencuri, amanlah pula ayam-ayam yang kami pelihara dari kejahatan pencurian. </p>
<p>Tentunya masih banyak pandangan-pandangan keliru lainnya yang dijalankan oleh masyarakat kampongku dalam beragama, terutama berkaitan dengan makhluk gaib. Biasanya pandangan-pandangan itu bukanlah berasal dari para ulama dan ustadz di kampongku yang mengerti ilmu keislaman, melainkan itu adalah pandangan-pandangan dari orang-orang awam yang sok-sok mengerti agama. Pandangan-pandangan sempit itu kemudian mereka sebarkan kepada kalangan keluarga terdekat mereka. Seakan-akan itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, padahal itu adalah pandangan yang keliru.</p>
<p>Begitulah kampongku yang religius, walaupun terkadang masih ada keyakinan-keyakinan yang keliru yang masih diyakini dan dijalankan oleh masyarakatnya dari dulu hingga kini. Lingkungan taat beragama itulah yang di hari-hari kemudian cukup memberikan nuansa dalam pemikiran keislamanku yang moderat dan rasional. <strong>[Hanafi Mohan – Ciputat, Minggu 14 Februari 2010]</strong></p>
<p><strong>Sumber gambar: </strong><a href="http://www.chip.co.id/gallery/showphoto.php?photo=1662">http://www.chip.co.id/gallery/</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/02/14/lingkungan-taat-beragama/">http://thenafi.wordpress.com/</a> </p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/beriman-secara-lapang/'>Beriman secara Lapang</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/agama/'>agama</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/cina/'>cina</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/cine/'>Cine</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/islam/'>Islam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/islami/'>Islami</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/kalimantan-barat/'>kalimantan barat</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/kampong-tambelan/'>Kampong Tambelan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/melayu/'>Melayu</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/moderat/'>moderat</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/pontianak/'>Pontianak</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/rasional/'>rasional</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/religius/'>religius</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/sungai-kapuas/'>Sungai Kapuas</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/tambelan-sampet/'>Tambelan Sampet</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/tambelan-sampit/'>Tambelan Sampit</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/tionghoa/'>Tionghoa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/561/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=561&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/14/lingkungan-taat-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/kapuas.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kapuas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijau Hitam Kian Pudar</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/06/hijau-hitam-kian-pudar/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/06/hijau-hitam-kian-pudar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 11:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[hijau]]></category>
		<category><![CDATA[Hijau Hitam]]></category>
		<category><![CDATA[Himpunan Mahasiswa Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hitam]]></category>
		<category><![CDATA[hmi]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[Milad HMI]]></category>
		<category><![CDATA[panji]]></category>
		<category><![CDATA[penindasan]]></category>
		<category><![CDATA[tirani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Puisi: Hanafi Mohan Tempo hari di jalanan itu, ada panji gagah berkibar Warnanya jelas terlihat, hijau dan hitam terang meradang Kata orang, itu panji keadilan Panji yang takkan pernah gentar, selalu tegar, lawan pendindasan dan tirani Hari ini di jalanan yang sama, panji itu berkibar lesu Entah dideru angin, entah disengat panas, entah ditimpa hujan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=553&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/panji-hijau-hitam-pudar.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/panji-hijau-hitam-pudar.jpg?w=455" alt="" title="panji hijau hitam pudar"   class="alignright size-full wp-image-558" /></a><strong>Puisi: Hanafi Mohan</strong></p>
<p>Tempo hari di jalanan itu,<br />
ada panji gagah berkibar<br />
Warnanya jelas terlihat,<br />
hijau dan hitam terang meradang</p>
<p>Kata orang, itu panji keadilan<br />
Panji yang takkan pernah gentar,<br />
selalu tegar,<br />
lawan pendindasan dan tirani<br />
<span id="more-553"></span><br />
Hari ini di jalanan yang sama,<br />
panji itu berkibar lesu<br />
Entah dideru angin,<br />
entah disengat panas,<br />
entah ditimpa hujan</p>
<p>Lihatlah panji itu<br />
Bukalah mata lebar-lebar<br />
Warnanya kini telah pudar, kusam, nan lusuh</p>
<p>Di mana kau Sang Hijau Hitam?<br />
Kembalilah gagah berkibar<br />
Pijarkan warnamu terang meradang. []</p>
<p><strong>~ Ciputat, Sabtu 6 Februari 2010 ~</strong></p>
<p><em>Puisi ini khusus dipersembahkan untuk memperingati Milad HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang ke-63 (5 Februari 1947 &#8211; 5 Februari 2010)</em></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/02/06/hijau-hitam-kian-pudar/#more-553">http://thenafi/wordpress.com/ </a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/puisi/'>Puisi</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hijau/'>hijau</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hijau-hitam/'>Hijau Hitam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/himpunan-mahasiswa-islam/'>Himpunan Mahasiswa Islam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hitam/'>hitam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hmi/'>hmi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/keadilan/'>keadilan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/milad-hmi/'>Milad HMI</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/panji/'>panji</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/penindasan/'>penindasan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/tirani/'>tirani</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=553&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/06/hijau-hitam-kian-pudar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/panji-hijau-hitam-pudar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">panji hijau hitam pudar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HMI 63 Tahun, Riwayatmu Kini</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/05/hmi-63-tahun-riwayatmu-kini/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/05/hmi-63-tahun-riwayatmu-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 02:38:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi Terpimpin]]></category>
		<category><![CDATA[Himpunan Mahasiswa Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hmi]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Lafran Pane]]></category>
		<category><![CDATA[nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[orde baru]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[1947, itulah angka tahun yang harus selalu kuingat pada beberapa kali kegiatan LK-I ketika aku menjadi pemateri sejarah perjuanganmu. Itulah tahun berdirimu, tepatnya pada tanggal 5 Februari yang kebetulan waktu itu bertempat di sebuah ruangan kuliah Sekolah Tinggi Islam (STI)-Yogyakarta yang kini bernama Universitas Islam Indonesia (UII). Lafran Pane, itulah pendirimu pertama kali yang kebetulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=545&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/hmis-flag-1.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/hmis-flag-1.jpg?w=455" alt="" title="HmIs-Flag-1"   class="alignleft size-full wp-image-548" /></a>1947, itulah angka tahun yang harus selalu kuingat pada beberapa kali kegiatan LK-I ketika aku menjadi pemateri sejarah perjuanganmu. Itulah tahun berdirimu, tepatnya pada tanggal 5 Februari yang kebetulan waktu itu bertempat di sebuah ruangan kuliah Sekolah Tinggi Islam (STI)-Yogyakarta yang kini bernama Universitas Islam Indonesia (UII). Lafran Pane, itulah pendirimu pertama kali yang kebetulan beliau tidak sendirian, melainkan bersama beberapa orang temannya.<br />
<span id="more-545"></span><br />
Pada hari ini, engkau tepat berusia 63 tahun. Sungguh usia yang tak muda lagi jika disamakan dengan usia manusia. Kini, entah sudah berapa ratus banyaknya jumlah cabangmu, dan entah sudah berapa ribu banyaknya jumlah komisariatmu di seantero nusantara. Di usia yang setua ini, entah berapa banyak pula alumnimu yang sudah menjadi pembesar negeri ini, kebanyakan memang menjadi politikus di hampir semua partai politik yang jumlah partainya juga tak sedikit. Di antara alumnimu juga ada yang menjadi cendekiawan, namun tak sedikit pula yang hanya menjadi masyarakat biasa dengan kedudukan yang biasa-biasa saja di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Di dalam riwayat Isra&#8217; Mi&#8217;raj dilukiskan mengenai pertemuan Rasulullah dengan seorang nenek tua. Nenek tua itu katanya sungguh cantik menawan menarik semua orang untuk mendekatinya. Tak lain dan tak bukan, nenek tua itu adalah gambaran dunia yang semakin tua semakin indah memukau membuat hampir semua manusia semakin mencintainya dan juga ingin memilikinya. Begitu juga dirimu, mungkin hampir sama dengan nenek tua di dalam riwayat Isra&#8217; Mi&#8217;raj itu. Di usiamu yang kini semakin renta, semakin banyak saja mahasiswa yang tertarik padamu, entah tertarik karena cinta, atau mungkin hanya tertarik karena ingin memanfaatkanmu demi kepentingan pribadi atau golongan.</p>
<p>Sungguh telah cukup banyak beban sejarah yang kau tanggung. Bahkan dalam perjalananmu dapat dikatakan bahwa dirimu tak lulus sejarah, kadermu terpecah belah ketika berhadapan dengan rezim Orde Baru beberapa puluh tahun silam. Karena buruk muka, cermin dibelah. Begitulah kata pepatah. Tapi ini bukanlah cermin yang dibelah, melainkan badanmulah yang dibelah dua menjadi Dipo dan MPO. Beberapa kali kepengurusan pusatmu (PB atau Pengurus Besar) juga sempat terbelah-belah, hingga menimbulkan dualisme kepemimpinan.</p>
<p>Di era Demokrasi Terpimpin, dirimu pernah ingin dibubarkan oleh pihak penguasa. Kala itu dirimu lulus sejarah. Di saat-saat genting tersebut untungnya banyak organisasi Islam di negeri ini yang membelamu karena dirimu dianggap sebagai aset umat dan aset bangsa ini. Di era Orde Baru kembali dirimu mengalami cobaan. Kali ini sungguh dirimu tak lulus sejarah. Engkau memang tidak dibubarkan, namun engkau terpecah menjadi dua badan (Dipo dan MPO).</p>
<p>Pasca Reformasi, kembali kau menghadapi deraan dan cobaan. Engkau menjadi common enemy bagi hampir semua organisasi mahasiswa. Kala itu engkau dikatakan sebagai bagian dari Orde Baru atau bagian dari GOLKAR atau entah apa lagi namanya. Darahmu habis, semangatmu sirna, berjiwa elitis, selalu dekat dengan birokrasi, rapuh dan keringnya intelektualitas kadermu, serta selalu yang dikedepankan adalah politik daripada intelektualitas. Hingga salah seorang alumnimu yang tak lain adalah Guru Bangsa ini pada titik nadir kekesalannya terhadapmu sampai-sampai mengeluarkan ucapan &#8220;Bubarkan HMI!&#8221;</p>
<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/hmi.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/hmi.jpg?w=455" alt="" title="hmi"   class="alignright size-full wp-image-549" /></a>Riwayatmu kini tentunya jauh berbeda dari riwayatmu dulu. Di masa-masa awal berdiri, engkau selalu berpartisipasi aktif dan memberikan andil dalam mempertahankan bangsa dan negara ini. Di kala itu, engkau juga terjun langsung mengerahkan perjuangan fisik menghalau penjajah yang ingin menguasai lagi negeri tercinta ini. Sungguh di masa itu ketika usiamu masih sangat muda, engkau bergumul habis-habisan berjuang mempertahankan kemerdekaan.</p>
<p>Di masa-masa setelah itu, engkau juga masih terus berjuang, bahkan perjuangan secara fisik melawan partai politik yang katanya anti agama. Sampai-sampai karena itu engkau juga terancam untuk dibubarkan oleh partai politik tersebut yang saat itu cukup berkuasa di negeri ini. Namun engkau kemudian terselamatkan, malahan belakangan partai politik itulah yang kemudian dibubarkan oleh Penguasa Orde Baru.</p>
<p>Pada era-era awal Orde Baru, engkau juga selalu berpartisipasi aktif mengajukan saran demi memajukan bangsa ini. Bukan hanya itu, engkau juga selalu mengedepankan gerakan kultural, bahkan sampai pada puncaknya yang begitu menawan. Wacana pemikiran dalam pembaharuan Islam yang kau lakukan ketika itu juga sangat memukau. Pertarungan wacana keislaman mungkin sudah menjadi keseharianmu ketika itu. Sungguh kami tersihir hingga kini jika mengenang masa lalumu yang gilang-gemilang itu. Namun sayang, mengapa pula kegilang-gemilangan itu di ujung-ujungnya mesti dibayar mahal dengan rekatnya dirimu kepada penguasa negeri ini. Karena begitu rekatnya dirimu dengan penguasa, akhir-akhirnya engkau juga kemudian harus membayar lebih mahal lagi berupa terbelahnya badanmu menjadi dua yang hingga kini sangat sulit menyatukannya kembali, walaupun kedua-dua badan tersebut saat ini azasnya sudah sama, yaitu sama-sama berazaskan Islam.</p>
<p>Sungguh kami di masa kini sangat merindukan dirimu mencapai lagi kegilang-gemilangan seperti halnya dirimu di masa silam yang selalu memancarkan sinar yang mencerahkan bagi seluruh persada nusantara.. Semoga pengharapan ini tak sekedar menjadi harapan hampa nan sunyi yang kemudian sirna ditelan bumi ataupun terbang melayang dibawa angin yang entah ke mana arah dan tujuannya.</p>
<p>Kami sadar sesadar-sadarnya bahwa tantangan yang engkau hadapi kini begitu beratnya. Kami juga mafhum jikalau tantangan di masa kini jauh berbeda dibandingkan tantangan yang dahulu kau hadapi. Namun tantangan tetaplah tantangan. Jika kini ada tantangan, tentunya dahulu juga ada tantangan. Mungkin model tantangannya saja yang berbeda. Bisa jadi tantangan dahulu lebih ringan dibandingkan tantangan yang ada sekarang. Atau jangan-jangan tantangan kini jauh lebih ringan dibandingkan tantangan dahulu. Entahlah, kami tak mau berandai-andai.</p>
<p>Akhirulkalam, Selamat Ulang Tahun yang ke 63 untuk HMI yang kucintai. Wahai Himpunan Mahasiswa Islam, masa depanmu masih terbentang panjang nan luas di hadapan. Berkibarlah selalu panji hijau hitamku. Umat dan bangsa menantikan karya nyatamu.</p>
<p>Yakin Usaha Sampai. Bahagia HMI. Jayalah selalu. <strong>[Hanafi Mohan - Ciputat, Jum'at - 5 Februari 2010]</strong></p>
<p><em>~Tulisan ini khusus dipersembahkan untuk memperingati Milad HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang ke-63 (5 Februari 1947 &#8211; 5 Februari 2010)~</em></p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong></p>
<p>1) <a href="http://pbhmi.org/patriotisme-konstruktif-bagi-hmi/">http://pbhmi.org/</a></p>
<p>2) <a href="http://hmikofah-cabangciputat.blogspot.com/2009/12/makna-lambang-hmi.html">http://hmikofah-cabangciputat.blogspot.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/02/05/hmi-63-tahun-riwayatmu-kini/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/catatan-lepas/'>Catatan Lepas</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/category/catatan-lepas/refleksi/'>Refleksi</a> Tagged: <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/demokrasi-terpimpin/'>Demokrasi Terpimpin</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/himpunan-mahasiswa-islam/'>Himpunan Mahasiswa Islam</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/hmi/'>hmi</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/kemerdekaan/'>kemerdekaan</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/lafran-pane/'>Lafran Pane</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/nusantara/'>nusantara</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/orde-baru/'>orde baru</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/ulang-tahun/'>ulang tahun</a>, <a href='http://thenafi.wordpress.com/tag/yogyakarta/'>Yogyakarta</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/545/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=545&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/02/05/hmi-63-tahun-riwayatmu-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/hmis-flag-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">HmIs-Flag-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/02/hmi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semakin Tak Berkualitasnya Fatwa Ulama</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/01/27/semakin-tak-berkualitasnya-fatwa-ulama/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/01/27/semakin-tak-berkualitasnya-fatwa-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 17:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[foto pre weeding]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Ulama Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[rebounding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Siapa pun tahu kalau urusan fatwa menfatwa, MUI (Majelis Ulama Indonesia) jagonya. Akhir-akhir ini begitu seringnya MUI mengeluarkan fatwa ini dan itu. Namun, yang penting bukanlah seberapa banyak dan seberapa seringnya mengeluarkan fatwa, melainkan seberapa berkualitasnya fatwa tersebut. Sebagian dari umat Islam di Indonesia mungkin ada yang mengatakan bahwa akhir-akhir ini fatwa ulama semakin tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=536&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/439461.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-541" title="43946" src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/439461.jpg?w=300&#038;h=270" alt="" width="300" height="270" /></a>Siapa pun tahu kalau urusan fatwa menfatwa, MUI (Majelis Ulama Indonesia) jagonya. Akhir-akhir ini begitu seringnya MUI mengeluarkan fatwa ini dan itu. Namun, yang penting bukanlah seberapa banyak dan seberapa seringnya mengeluarkan fatwa, melainkan seberapa berkualitasnya fatwa tersebut.<br />
<span id="more-536"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian dari umat Islam di Indonesia mungkin ada yang mengatakan bahwa akhir-akhir ini fatwa ulama semakin tak berkualitas saja. Hal ini bisa kita lihat dari semakin tak pedulinya umat Islam Indonesia terhadap fatwa-fatwa tersebut, bahkan ada yang sampai menentangnya. Yang terbaru adalah fatwa haram rebounding dan foto pre weeding. Kalau yang satu ini bukan MUI yang mengeluarkannya, melainkan salah satu pesantren di Jawa Timur. Namun bisa saja fatwa yang dikeluarkan pesantren di Jawa Timur tersebut akan menjadi referensi MUI untuk mengelurkan fatwa serupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita mungkin bertanya-tanya mengapa fatwa ulama semakin tak dihiraukan oleh umat Islam sendiri. Kiranya hal ini patut menjadi introspeksi bagi para ulama. Cukup ironis jika para ulama semakin ditinggalkan oleh umatnya. Atau jangan-jangan para ulama lah yang semakin menjauhkan diri dari umatnya dengan cara memasang tembok tinggi-tinggi sambil bersabda di atas menara gading.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin banyak masyarakat Indonesia yang tak mengerti akan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama. Bukan tidak mengerti isinya, melainkan tidak mengerti mengapa hal-hal semacam rebounding, foto pre weeding, rokok, facebook, ataupun ojek wanita (tentu masih banyak yang lainnya) repot-repot diurusi oleh ulama untuk difatwakan haram. Masyarakat pun kemudian berkata, masih banyak problem di masyarakat Indonesia yang perlu peran serta ulama untuk mengatasinya dibandingkan mengeluarkan fatwa haram ini dan itu yang ujung-ujungnya juga tidak dihiraukan oleh masyarakat. Kemiskinan, pengangguran, korupsi yang merajalela, adalah beberapa di antara sekian banyak problem yang hingga kini membelit Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah nanti setelah rebounding dan foto pre weeding, apa lagi yang akan diharamkan oleh para ulama kita. Yang diharapkan oleh masyarakat sebenarnya adalah kearifan para ulama dan peran serta lebih besar lagi dari para ulama dalam mengatasi problem yang dihadapi oleh masyarakat, bukan hanya jor-joran mengeluarkan fatwa haram ini dan itu. <strong>[Hanafi Mohan-Ciputat, Rabu 27 Januari 2010]<br />
</strong></p>
<p><strong><strong>Sumber gambar:</strong> <a href="http://www.inilah.com/berita/2008/08/15/43946/fatwa-mui-rokok-haram/">http://www.inilah.com/</a></strong></p>
<p><strong><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/01/27/semakin-tak-berkualitasnya-fatwa-ulama/">http://thenafi.wordpress.com/</a></strong></p>
<br />Posted in Beriman secara Lapang Tagged: fatwa ulama, foto pre weeding, haram, indonesia, Islam, Majelis Ulama Indonesia, MUI, rebounding <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/536/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/536/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=536&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/01/27/semakin-tak-berkualitasnya-fatwa-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/439461.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">43946</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ingatlah Selalu Dosa Kita dan Lupakanlah Kebaikan Kita</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2010/01/09/ingatlah-selalu-dosa-kita-dan-lupakanlah-kebaikan-kita/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2010/01/09/ingatlah-selalu-dosa-kita-dan-lupakanlah-kebaikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 17:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Husnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kebajikan]]></category>
		<category><![CDATA[riya']]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Doktor pernah menyatakan dalam salah satu kajian tasawuf yang disampaikannya di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada hari Rabu 16 Desember 2009. Begini yang disampaikannya itu: Sesungguhnya amal-amal perbuatan dosa maksiat itu nanti akan ditenggelamkan dan dihapuskan oleh perbuatan-perbuatan kebajikan. Ungkapan ini dikutipnya dari Al-Qur&#8217;an Surah Huud ayat 114. Kalau di masa muda catatan dosa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=522&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/3087217226_b223a09be4_o1.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/3087217226_b223a09be4_o1.jpg?w=150&#038;h=129" alt="" title="3087217226_b223a09be4_o" width="150" height="129" class="alignleft size-thumbnail wp-image-532" /></a>Seorang Doktor pernah menyatakan dalam salah satu kajian tasawuf yang disampaikannya di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta pada hari Rabu 16 Desember 2009. Begini yang disampaikannya itu:<em> Sesungguhnya amal-amal perbuatan dosa maksiat itu nanti akan ditenggelamkan dan dihapuskan oleh perbuatan-perbuatan kebajikan</em>. Ungkapan ini dikutipnya dari Al-Qur&#8217;an Surah Huud ayat 114.<br />
<span id="more-522"></span><br />
Kalau di masa muda catatan dosa kita padat, maka pada usia menjelang tua kita tenggelamkan semua itu, kita hapuskan dengan amal kebajikan. Itulah yang dinamakan sebagai <em>husnul khatimah</em>. Jadi, <em>husnul khatimah</em> itu bukanlah secara leterlek diartikan bahwa nanti pada akhir hayat kita harus bisa membaca syahadat, melainkan sesungguhnya <em>husnul khatimah</em> yaitu ketika pada masa tua kita gunakan untuk menghapus dosa dengan cara berbuat kebajikan.</p>
<p>Siapapun yang tidak memeriksa dirinya sendiri, kekallah penyesalannya, dan banyak perhatiannya di padang mahsyar pada hari kiamat.</p>
<p><em>Insya Allah</em> kalau kita selalu mengingat dosa-dosa masa lampau, maka perbuatan kita akan terkendali. Yang perlu dilupakan adalah amal kebajikan masa lampau kita. Karena kalau kita ingat-ingat kebajikan kita di masa lampau, maka itu nantinya bisa berubah memancing kita untuk <em>riya&#8217;</em>. <em>Riya&#8217;</em> itu menghapuskan kebajikan, seperti halnya kayu bakar yang dibakar oleh api, yaitu hangus dan tidak ada bekasnya seditikitpun.</p>
<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/7711.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/7711.jpg?w=150&#038;h=96" alt="" title="771" width="150" height="96" class="alignright size-thumbnail wp-image-533" /></a>Jadi, lupakanlah kebajikan kita, dan ingatlah keburukan kita di masa lampau. Keburukan mengingatkan kita untuk senantiasa dekat dengan Allah. Sedangkan jika kebajikan kita yang selalu diingat, maka seolah-olah kita tak pernah mau mengingat dosa kita. Orang yang seperti inilah nantinya akan menjadi angkuh pembawaannya, sehingga orang itu pun kurang bertaubat. Menurut pikirnya, mungkin ia tak perlu bertaubat, karena amalnya sudah banyak. Padahal tak ada artinya amal itu. Jangan-jangan di dalam hati kita itu sudah direduksi dengan ketidakikhlasan. Perbuatan yang tidak ikhlas kadang-kadang disengaja, kadang-kadang tidak disengaja.</p>
<p>Keburukan masa lampau itu boleh diingat, tapi dengan catatan bahwa jangan sampai dosa masa lalu tersebut membebani kita. Kalau kita dibebani oleh perbuatan masa lampau, maka seolah-olah kita tidak percaya diri dan kadang-kadang cenderung menjadi nekat. Akhir-akhir mungkin kita sering mendengar orang yang bunuh diri. Entah yang seperti ini fenomena apa. Bunuh diri bisa terjadi mungkin karena orangnya selalu mengingat dosa masa lampaunya yang itu kemudian membebani dirinya. Dengan demikian dia kemudian menjadi tidak percaya diri menjalani kehidupannya. Karena tidak percaya diri menjalani kehidupan ini, maka dia pun nekat membunuh dirinya sendiri agar ia tidak selalu dibebani oleh dosa masa lampaunya. <strong>[Hanafi Mohan, Ciputat, Sabtu 9 Januari 2009]</strong></p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong><br />
1. <a href="http://syamilamarlan.blogspot.com/2009/04/taubat-nasuha.html">http://syamilamarlan.blogspot.com/</a></p>
<p>2. <a href="http://curhati.wordpress.com/kesalahan-abadi/">http://curhati.wordpress.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2010/01/09/ingatlah-selalu-dosa-kita-dan-lupakanlah-kebaikan-kita/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Beriman secara Lapang Tagged: dosa, Husnul Khatimah, kebajikan, riya', Tasawuf <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/522/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/522/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=522&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2010/01/09/ingatlah-selalu-dosa-kita-dan-lupakanlah-kebaikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/3087217226_b223a09be4_o1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">3087217226_b223a09be4_o</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2010/01/7711.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">771</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai-Nilai Moral di Seputar Ibadah Haji</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 15:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[akidah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[nilai moral]]></category>
		<category><![CDATA[pola asuh]]></category>
		<category><![CDATA[sa'i]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[thawaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[Nilai-Nilai Moral Ibadah haji merupakan ibadah yang dilakukan oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad. Selama ini banyak yang beranggapan bahwa ibadah haji (terutama thawaf) baru dimulai pada masa Nabi Ibrahim. Ternyata menurut riwayat, Nabi Adam sudah thawaf di Ka&#8217;bah, namun ketika itu belum ada bentuk bangunan Ka&#8217;bahnya. Memang yang terekam di dalam Alquran bahwa Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=508&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/haji051208-07.jpg"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/haji051208-07.jpg?w=300&#038;h=204" alt="" title="HAJI" width="300" height="204" class="alignleft size-medium wp-image-512" /></a><strong>Nilai-Nilai Moral</strong></p>
<p>Ibadah haji merupakan ibadah yang dilakukan oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad. Selama ini banyak yang beranggapan bahwa ibadah haji (terutama thawaf) baru dimulai pada masa Nabi Ibrahim. Ternyata menurut riwayat, Nabi Adam sudah thawaf di Ka&#8217;bah, namun ketika itu belum ada bentuk bangunan Ka&#8217;bahnya. Memang yang terekam di dalam Alquran bahwa Nabi Ibrahim beserta puteranya yang membangun Ka&#8217;bah. Tetapi sejak manusia belum ada, tempat itu (Ka&#8217;bah) sudah dijadikan oleh Allah di bumi ini sebagai tempat suci:<br />
<span id="more-508"></span><br />
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Q.S. Ali Imraan: 96)</p>
<p>Jadi, Nabi Adam, bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa para malaikat biasa berthawaf di tempat suci itu. Nabi Adam juga sudah berthawaf di Ka&#8217;bah yang kita kenal sekarang ini. Barulah kemudian Nabi Ibrahim yang terekam di dalam Alquran yang membangun Ka&#8217;bah itu sebagai bangunan yang kokoh yang kita kenal sampai sekarang. Tentu pada saat itu yang dibangun oleh Nabi Ibrahim tidak seperti yang kita lihat kini.</p>
<p>Di dalam fiqh, ibadah haji disebut sebagai syar&#8217;uman qablana, yaitu ibadah-ibadah yang sudah dilakukan oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad. Contoh lainnya adalah Qurban yang sudah disyariatkan sejak masa Nabi Adam. </p>
<p>Selain thawaf, di dalam ibadah haji juga terdapat sa&#8217;i. Sa&#8217;i berasal dari kata as-sa&#8217;iyu yang jika diterjemahkan berarti kerja keras, yang selama ini kita pahami sebagai lari-lari kecil. Kata as-sa&#8217;iyu artinya adalah etos kerja. Nabi Ibrahim ketika itu berdoa, seperti yang disebutkan di dalam Alquran:</p>
<p>Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Q.S. Ibraahim: 37)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa sebelum Nabi Ibrahim, Baitullah itu sudah ada. Dari sinilah kata as-sa&#8217;iyu itu bermula, yaitu ketika perbekalan yang dimiliki oleh Hajar dengan anaknya (Ismail) sudah habis. Sebagai manusia biasa, Ismail yang masih bayi itu menangis, air susunya Hajar pun sudah tidak bisa keluar lagi karena sudah tidak ada asupan makanan ke dalam tubuhnya. Dalam situasi yang seperti itu, muncullah etos kerjanya (as-sa&#8217;iyu). Dia (Hajar) memandang ke sekelilingnya, di bukit Shafa dia memandang ke Marwa yang dilihatnya ada genangan air di sana. Dalam bahasa sehari-hari kita mengenalnya sebagai fatamorgana, yaitu gejala optis (penglihatan) yang tampak pada permukaan yang panas yang kelihatan seperti genangan air. Dia pun kemudian lari ke Marwa yang ternyata di sana terdapat air.</p>
<p>Dia pun kemudian berdiri di Marwa. Ketika memandang ke Shafa, dilihatnya ada genangan air di sana. Lagi-lagi, hal tersebut hanyalah fatamorgana. Lalu ia lari lagi menuju ke Shafa. Seterusnya seperti itu sampai tujuh kali. Andai saja Hajar hanya menangis menerima nasibnya begitu saja dan tidak mau bekerja keras, hampir dapat dipastikan tidak akan mendapatkan semburan air zamzam. Tapi karena sa&#8217;i-nya (kerja kerasnya), ia dan anaknya pun kemudian mendapat rahmat dari Allah.</p>
<p>Zamzam artinya adalah berkumpullah. Jadi, waktu air itu menyembur sedikit, lalu Hajar berkata: zamzam, zamzam (berkumpullah, berkumpullah). Sehingga air yang menyembur itu pun menjadi banyak.</p>
<p>Sebelum adanya mata air itu (zamzam), hanya Hajar dan anaknya (Ismail) yang masih kecil itu saja yang berada di lembah tersebut. Tetapi setelah adanya mata air zamzam, maka kafilah-kafilah yang melintasi lembah tersebut mesti singgah untuk mendapatkan air. Hajar dan Ismail pun kemudian menolong para kafilah yang singgah di lembah itu. Dari pertolongan yang diberikan oleh Hajar dan Ismail terhadap kafilah yang singgah itu, maka mereka pun mendapatkan semacam upah, yang kemudian dari hal tersebut mereka menjadi hidup makmur. Artinya, dengan adanya air zamzam, menjadi diberkahilah sekeliling Ka&#8217;bah.</p>
<p>Sebetulnya hal tersebut hampir tak masuk akal, karena orang-orang di Arab kalau menggali sumur, maka yang keluar itu adalah lumpur bercampur minyak, tidak ada air yang keluar. Tetapi pada kasus sumur zamzam, yang keluar adalah air mineral yang tidak perlu dimasak, bisa langsung diminum, dan air tersebut sangat tinggi kandungan mineralnya. Dalam suatu hadits dikatakan bahwa hal tersebut akan berlaku hingga akhir zaman. Hujan yang turun di sana hanya dua sampai kali kali saja dalam setahun. Tetapi air zamzam terus mengalir dan tak pernah habis hingga kini yang itu bisa melayani sekian banyak jamaah haji dari seluruh dunia.</p>
<p>Di dalam ibadah haji kita juga akan melihat betapa al-musaawah (persamaan) ketika semua orang berpakaian kurang lebih sama, tidak dibedakan antara orang yang berpangkat dengan orang awam. Hal ini karena Islam sangat menjunjung tinggi persamaan. Kita boleh berbeda-beda, tapi ketika menghadap Allah, maka tak ada perbedaan antara orang Arab dengan yang bukan Arab, kecuali ketakwaannya. Siapa yang dulu masuk masjid, maka boleh menempati shaf pertama.</p>
<p>Selain itu, juga ada nilai-nilai kesederhanaan. Orang-orang hanya memakai pakaian ihram. Walaupun di rumahnya mungkin ada pakaian yang terbuat dari sutera, tapi ketika melakukan ibadah haji tetap saja yang dipakai adalah pakaian yang sederhana. Dan ini dilambangkan, bahwa ketika manusia wafat, yang dikenakna juga pakaian yang sederhana, yaitu berupa kain kafan.</p>
<p>Di dalam ibadah haji juga terdapat nilai persahabatan (silaturahim). Kadang-kadang jika di rumah mungkin privasi kita begitu tinggi. Namun ketika melakukan ibadah haji, silaturahimlah yang lebih dikedepankan.</p>
<p>Terdapat pula nilai-nilai kesadaran moral di dalam ibadah haji. Mungkin banyak sekali kita dapatkan dari cerita para jamaah haji hal-hal yang aneh dan semacamnya. Ketika beribadah haji, ada hal-hal yang menjadi pelajaran untuk kita, bahwa memang ada pembalasan dari Allah jika kita tak ada kesadaran moral, bahkan hal terkecil sekalipun yang kita lakukan. Siapa yang berbuat seberat zarah, maka akan diperlihatkan hasilnya kepada orang tersebut di dunia ini. Ataupun kalau tidak, maka akan diperlihatkan hasilnya di akhirat. Karena itulah, ketakaburan, kesombongan, individualitas, dan sikap tercela lainnya mestinya dihilangkan pada saat melakukan ibadah haji.</p>
<p>Ibadah haji adalah ibadah yang memenuhi tiga kriteria, yaitu ibadah fisik, ibadah maaliyah, dan ibadah ruuhiyah. Sebagai perbandingan, bahwa salat adalah ibadah fisik, zakat adalah ibadah maaliyah, dan zikir adalah ibadah ruuhiyah. Dalam hal ini, haji mengumpulkan tiga kriteria ibadah tersebut. Sebagai ibadah fisik, karena memang ada beberapa rukun haji yang mesti dilakukan secara fisik dan tidak bisa diwakilkan, seperti wukuf dan thawaf. Sebagai ibadah maaliyah karena pada haji kita harus mengeluarkan dana (uang) untuk berangkat ke sana, sehingga haji itu mengumpulkan semua sisi-sisi aspek ibadah yang ada dalam Islam.</p>
<p><strong>Ibrah Li Ulil Albab (pelajaran bagi mereka yang berakal):<br />
</strong><br />
<strong>Pertama, akidah keluarga</strong></p>
<p>Nabi Ibrahim yang kita kenal sebagai pionir dari ibadah haji selalu yang diutamakannya adalah akidah keluarga. Hal ini tak lain karena kalau akidah kuat, maka ibadah-ibadah yang lain akan mengikuti.</p>
<p>Akidah penting dibina walaupun tidak terlihat wujudnya. Di dalam Alquran terekam banyak sekali ayat mengenai hal ini. Misalkan, menjelang akhir hayatnya para nabi, selalu yang dipesankan (diwasiatkan) adalah tentang akidah. Di dalam Alquran disebutkan, bahwa kalau maut sudah hampir datang kepada mereka, maka mereka pun akan mengumpulkan anak-cucunya. Mereka pun menanyakan kepada anak cucunya mengenai apa yang akan mereka sembah setelah dirinya meninggal dunia. Dan biasanya anak-cucunya selalu mengatakan, bahwa mereka adalah muslim yang selalu akan menyembah Allah dan akan selalu bertauhid.</p>
<p>Akidah berada di dalam diri kita. Jika kita melihat seseorang yang rajin beribadah serta selalu beramal kebaikan yang semuanya itu selalu tampil dalam kehidupannya sehari-hari, maka kita akan memastikan bahwa orang tersebut insya Allah akidahnya kuat. Sama halnya ketika kita melihat pohon yang rindang, daunnya lebat, buahnya ranum, maka kita akan memastikan insya Allah akar pohon tersebut pasti kuat.</p>
<p><strong>Kedua, tugas dakwah</strong></p>
<p>Nabi Ibrahim dalam tugas dakwahnya selalu mengundang orang untuk berhaji. Di dalam Alquran disebutkan:</p>
<p>Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (Q.S. Al-Hajj: 27)</p>
<p>Karena itulah, mungkin tak tepat jika ada yang mengatakan bahwa dirinya belum pergi haji karena ia belum mendapatkan panggilan, walaupun hartanya sudah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Karena seperti yang direkam oleh Alquran, bahwa Nabi Ibrahim sebenarnya sudah mengundang kita.</p>
<p><strong>Ketiga, layanan sosial</strong></p>
<p>Kalau kita melihat sejarahnya, bahwa Hajar dan Ismail memberikan layanan sosial berupa memberikan minum kepada orang-orang yang lewat di sekitar Baitullah, karena itu adalah bentuk kepekaan sosial.</p>
<p>Salah satu yang membedakan manusia dengan hewan adalah kepekaan sosial. Selama ini mungkin yang kita ketahui bahwa perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akalnya. Tapi kalau dalam psikologi, bukanlah akal yang membedakan manusia dengan hewan. Yang membedakan manusia dengan hewan yaitu memiliki kepekaan sosial dan adanya kesinambungan pekerjaan.</p>
<p>Pertama, manusia memiliki kepekaan sosial. Jika manusia tergerak hatinya untuk menolong sesamanya yang sedang ditimpa musibah, itu tak lain karena manusia mempunyai kepekaan sosial. Kedua, adanya kesinambungan pekerjaan. Kita ini hidup dari kecil, hingga pada suatu saat ada titik berhentinya manusia di dunia ini. Namun kita meyakini, sesudah titik itu, kita akan pindah ke suatu tempat yang abadi yang kita kenal sebagai akhirat. Karena kita mengetahui hal tersebut, maka setiap manusai selalu akan berusaha meningkatkan kehidupannya, baik itu secara ekonomi, maupun kehidupan moralnya. Misalkan, kehidupan manusia selalu terencana. Sedangkan kalau hewan, kehidupannya tidaklah terencana.</p>
<p><strong>Keempat, keteguhan ayah dan kepatuhan anak</strong></p>
<p>Moral ini juga sangat penting. Bayangkanlah, si anak (Ismail) yang masih kecil itu ditinggal oleh ayahnya (Nabi Ibrahim). Mungkin kira-kira belasan tahun lamanya Sang Ayah meninggalkan anaknya tersebut. Ketika Nabi Ibrahim bertemu lagi dengan Ismail, ternyata beliau kemudian diperintahkan oleh Allah (melalui mimpi yang benar) untuk mengurbankan anaknya (Ismail).</p>
<p>Karena ini menyangkut suatu kehidupan, maka tentunya tidak begitu saja Nabi Ibrahim memberitahu kepada Ismail, melainkan beliau tetap memberikan pandangan dan meminta pendapat kepada Ismail apakah ia akan menolak atau tidak. Karena memang tingkat kepatuhannya sangat tinggi, dan Hajar pun juga merupakan istri yang sangat setia, serta tahu persis siapa Ibrahim yang tak lain adalah suami yang sangat taat kepada Allah.</p>
<p>Setelah diberitahu ayahnya seperti itu, Ismail pun mempersilakan ayahnya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah tersebut. Ismail mengatakan bahwa insya Allah ia (Ismail) akan termasuk sebagai orang-orang yang sabar. </p>
<p><strong>Kelima, pola asuh</strong></p>
<p>Ada tiga jenis pola asuh, yaitu otoriter, sangat permisif (semua serba boleh), dan demokratis. Di dalam kehidupan sehari-hari, ketiga pola asuh ini harus ada. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim melakukan pola asuh yang otoriter berkaitan dengan akidah. Ia tidak memberikan pilihan kepada anaknya untuk memilih agamanya sendiri. Pola asuh yang demokratis diberlakukan Nabi Ibrahim jika itu berhubungan dengan masa depan anaknya.</p>
<p>Seperti yang terekam dalam Alquran, bahwa Nabi Ibrahim memberikan peluang kepada anaknya untuk memilih hobi yang disukainya sepanjang itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ismail mempunyai hobi berburu kambing gurun. Dalam hal ini Nabi Ibrahim mempersilakan saja anaknya untuk menggeluti hobinya sepanjang itu tidak mengganggu aktivitas ibadahnya.</p>
<p>Ada orang tua yang mendidik anaknya dengan sangat sayang, bahkan terlalu sayang. Karena terlalu sayangnya itu, apapun yang diminta anaknya pasti dipenuhinya. Ada juga orang tua yang terlalu sering memarahi anaknya. Hampir tidak ada hari tanpa memarahi anaknya. Ada juga orang tua yang mendidik anaknya serba boleh. Ada juga yang mendidik anaknya serba tidak boleh. Akibatnya, kalau ada anak yang dididik terlalu saying dan serba boleh, maka anak itu akan menjadi binal, sehingga dengan demikian akan susah dikendalikan. Sebaliknya ada anak yang dididik serba tidak boleh dan sering dimarahi. Jika dididik seperti ini, maka anaknya akan menjadi frustrasi. Ada pula anak yang diasuh denghan cara serba boleh, tapi sering juga dimarahi. Jika seperti ini, maka anak itu akan menjadi nakal. Sebaliknya, ada orang tua yang mendidik anaknya serba tidak boleh, karena terlalu sayangnya terhadap anaknya. Akhirnya anaknya akan menjadi sangat tergantung.</p>
<p>Pola asuh yang ideal adalah seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, yaitu pola asuh yang kompleks. Ada saatnya orang tua mengatakan boleh terhadap anaknya. Ada pula saatnya orang tua mengatakan tidak boleh terhadap anaknya. Serta ada juga saatnya orang tua menunjukkan perasaan marah terhadap anaknya ketika anak itu melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama atau tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.</p>
<p>Inilah sebagian kecil dari nilai-nilai moral yang ada di seputar haji dan qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Ibadah-ibadah ini kemudian diteruskan oleh Rasulullah. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Darwis Hude pada tanggal 1 November 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan</em></p>
<p><strong>Sumber gambar:</strong> <a href="http://matanews.com/2009/07/31/calhaj-banggai-berkurang/">http://matanews.com/</a></p>
<p><strong>Tulisan terkait:</strong><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/2008/12/12/ibadah-haji/">- Ibadah Haji</a><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/2008/12/10/menapaktilas-perjalanan-nabi-ibrahim/">- Menapaktilas Perjalanan Nabi Ibrahim</a><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/2008/12/09/makna-qurban/">- Makna Qurban</a><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/?s=provokator+haji">- Provokator Haji</a></p>
<p><strong>Tulisan ini dimuat di:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: akidah, dakwah, haji, Ibadah, ka'bah, nilai moral, pola asuh, sa'i, sosial, thawaf <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/508/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=508&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/26/nilai-nilai-moral-di-seputar-ibadah-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/haji051208-07.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">HAJI</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ya Allah, Berikanlah Petunjuk-Mu kepada Orang-orang Yahudi</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[arab]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[suri tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>
		<category><![CDATA[Yitzak Rabin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira setahun yang lalu, ketika pasukan Israel membombardir Gaza-Palestina, seorang alim duduk tafakur di atas sajadahnya. Ia berdoa semoga Allah selalu memberikan keselamatan, kedamaian, dan ketenangan kepada Bangsa Palestina yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan itu. Namun, ia juga berdoa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang Yahudi agar mereka sadar akan kekhilafannya selama ini. Ia mafhum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=496&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/damai-dengan-hati-nurani-2/" rel="attachment wp-att-502"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/damai-dengan-hati-nurani1.jpg?w=113&#038;h=150" alt="damai dengan hati nurani" title="damai dengan hati nurani" width="113" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-502" /></a>Kira-kira setahun yang lalu, ketika pasukan Israel membombardir Gaza-Palestina, seorang alim duduk tafakur di atas sajadahnya. Ia berdoa semoga Allah selalu memberikan keselamatan, kedamaian, dan ketenangan kepada Bangsa Palestina yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan itu. Namun, ia juga berdoa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang Yahudi agar mereka sadar akan kekhilafannya selama ini. Ia mafhum mengapa orang-orang Yahudi sampai melakukan semua itu. Hal tersebut tak lain karena orang-orang Yahudi tak menyadari atau mungkin tak mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu adalah suatu kesalahan, kezaliman, dan kejahatan kemanusiaan.<br />
<span id="more-496"></span><br />
Orang alim ini teringat kepada Rasulullah yang ketika itu sedang dizalimi oleh penduduk suatu negeri. Sontak saja Malaikat Jibril meminta Rasulullah agar berdoa kepada Allah untuk menimpakan azab kepada negeri tersebut. Niscaya jika Rasulullah berdoa untuk ditimpakan azab kepada negeri itu, maka Jibril bersedia memberikan bantuannya untuk menghancurkan, membinasakan, mengazab, dan menimpakan bencana ke negeri tersebut.</p>
<p>Rasulullah yang baik dan lembut hatinya itu kemudian mengatakan kepada Jibril, bahwa ia tak ingin berdoa seperti itu, serta tak ingin juga Jibril menimpakan azab kepada penduduk negeri tersebut. Rasulullah mengatakan, orang-orang yang menzaliminya itu tak lebih karena mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu adalah suatu kesalahan. Karena itulah, Rasulullah berdoa kepada Allah agar memberikan petunjuk kepada penduduk negeri yang telah menzaliminya itu.</p>
<p>Entah kini masihkah mampu Umat Islam berdoa seperti halnya doa orang alim tersebut. Entah kini masihkah ada Umat Islam yang meneladani akhlak Rasulullah yang dengan mudah memaafkan orang-orang yang menzaliminya, bahkan mendoakan suatu kebaikan untuk mereka.</p>
<p>Selama ini mungkin telah begitu sering kita mendengar para penceramah yang berpidato berapi-api. Dalam ceramahnya itu ia mengutuk habis-habisan kekejaman orang-orang Yahudi terhadap Bangsa Palestina. Bahkan Sang Penceramah mengajak para jamaahnya berdoa dan memohon kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang-orang Yahudi. Lantas ketika Allah telah menjatuhkan azabnya kepada orang-orang Yahudi, apakah ada keuntungannya bagi Umat Islam?</p>
<p>Sang Penceramah mungkin lupa, bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam ini, bukan hanya rahmat bagi manusia, terlebih lagi bukan hanya rahmat bagi Umat Islam. Bukankah orang-orang Yahudi itu manusia juga? Bukankah mereka itu juga merupakan bagian dari alam semesta ini?</p>
<p>Mungkin telah hilang dari ingatan Sang Penceramah, bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling luhur akhlaknya di muka bumi ini. Di mana pun Rasulullah berada, selalu kedamaian yang beliau bawa dan tebarkan. Ketika pembebasan Kota Mekah, tak ada satu pun nyawa yang melayang. Ketika dalam peperangan kaum muslimin melawan orang-orang musyrikin, Rasulullah selalu berpesan kepada pasukannya agar para tawanan perang dijamin keselamatannya dan diberlakukan secara baik.</p>
<p>Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin di akhir-akhir masa hidupnya selalu menyerukan perdamaian kepada bangsanya. Dengan indahnya Bill Clinton (Presiden Amerika Serikat ketika itu) mempertemukan Yitzak Rabin dan Yasser Arafat untuk melakukan perdamaian. Yasser Arafat pun tak segan-segan mendatangi keluarga Yitzak Rabin dan mengucapkan belasungkawa atas wafat dan terbunuhnya Perdana Menteri Israel itu. Para pemimpin negara-negara Arab pun berdatangan menghadiri upacara pemakaman Yitzak Rabin dan mengucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafat dan terbunuhnya pemimpin Israel tersebut.</p>
<p>Telah begitu banyak akhlak mulia dan suri tauladan yang dicontohkan oleh Rasulullah terhadap kita. Dan tak sedikit pula akhlak luhur yang telah ditunjukkan oleh para pemimpin dunia Islam dan juga dunia internasional demi kedamaian dunia ini. Mudah-mudahan Umat Islam kini, dan juga segenap umat manusia kini masih bisa meneladani akhlak mulia tersebut.</p>
<p>Alangkah indah dan damainya dunia ini andaikan seluruh umat manusia saling mendoakan kebaikan bagi sesama manusia, dan juga bagi alam semesta ini. Mungkin kita pernah mendengar statemen yang berbunyi &#8220;<em>Marilah kita mati bersama-sama di jalan Tuhan.</em>&#8221; Namun kebalikannya, seorang cendekiawan muslim pernah mengatakan &#8220;<em>Marilah kita hidup bersama-sama dengan damai di jalan Tuhan.</em>&#8221; Entah mana yang cenderung akan kita pilih: mati di jalan Tuhan atau hidup dengan damai di jalan Tuhan. Tentunya kita berharap agar dunia ini selalu diliputi oleh kedamaian. Semoga. <strong>[Hanafi Mohan-Ciputat, Minggu 1 November 2009, 15.37-16-57 WIB]</strong></p>
<p>Sumber Gambar: <a href="http://thepeace-ofwar.blogspot.com/2009_10_01_archive.html">http://thepeace-ofwar.blogspot.com/</a></p>
<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikalah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/"></p>
<p>http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Beriman secara Lapang Tagged: akhlak Rasulullah, arab, israel, Muslim, suri tauladan, Yahudi, Yasser Arafat, Yitzak Rabin <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=496&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/damai-dengan-hati-nurani1.jpg?w=113" medium="image">
			<media:title type="html">damai dengan hati nurani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiba-Tiba Menjadi Islam</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[terpaksa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Warisan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan agama, keyakinan, dan kepercayaan yang kita anut selama ini. Umat beragama apapun itu. Tak terkecuali mayoritas Umat Islam. Bahkan hal tersebut sudah kita warisi semenjak lahir. Jadi, ketika kita lahir, tiba-tiba kita sudah menjadi Islam. Hinggalah kita beranjak besar, remaja, dewasa, tua, hingga kematian menjemput. Tak terkecuali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=487&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur-2/" rel="attachment wp-att-491"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/10/2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur1.jpg?w=150&#038;h=125" alt="2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur" title="2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur" width="150" height="125" class="alignleft size-thumbnail wp-image-491" /></a>Warisan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan agama, keyakinan, dan kepercayaan yang kita anut selama ini. Umat beragama apapun itu. Tak terkecuali mayoritas Umat Islam. Bahkan hal tersebut sudah kita warisi semenjak lahir. Jadi, ketika kita lahir, tiba-tiba kita sudah menjadi Islam. Hinggalah kita beranjak besar, remaja, dewasa, tua, hingga kematian menjemput. Tak terkecuali aku.<br />
<span id="more-487"></span><br />
Semenjak lahir, disematkanlah berbagai macam simbol untuk menegaskan keislaman kita. Diazankan, diiqamatkan, diberi nama ala Islam yang cenderung kearab-araban, diaqiqahkan, dikhitan, dan entah apalagi hal serupa yang tak lain untuk menegaskan, bahwa kita ini Islam.</p>
<p>Tiba-tiba kita sudah menjadi Islam, dengan berbagai macam pernak-perniknya. Mengucap dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, percaya kepada rasul, percaya kepada kitabullah, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada qadha’ dan qadar. Yang kadang kita  pun tak mengerti, apa sebenarnya maksud semua itu akan diri dan kedirian kita. Yang pasti, kita harus meyakini dan menjalankannya, tanpa ada satupun ruang untuk kita bertanya akan semua hal tersebut.</p>
<p>Jika kita menyakini semua hal tersebut dengan seyakin-yakinnya, maka kita akan masuk surga, yaitu suatu tempat yang sangat indah yang disediakan oleh Tuhan untuk hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Namun sebaliknya, jika kita tidak meyakininya, maka kita akan dimasukkan ke dalam suatu tempat penyiksaan yang bernama neraka.</p>
<p>Setiap kita di waktu kecil mungkin pernah membayangkan pedihnya penyiksaan di neraka, dan nikmatnya surga. Jika kita teringat akan pedihnya siksa di neraka, maka kecutlah hati ini. Sehingga dengan begitu segala gerak-gerik kita pun terdorong oleh rasa takut. Panas, menggelegak, dan entah apa lagi bayangan ketakutan itu susul-menyusul mendera kita. Bayangan itu meneror pada saat masa-masa belia kita. Sepertinya tak ada lagi pemahaman yang selain itu. Melalui sekolah, melalui lingkungan, melalui bacaan, semuanya seakan-akan menggiring kita kepada pemahaman tersebut, semuanya seakan-akan bersatu dan bekerjasama untuk menakut-nakuti masa kecil kita.</p>
<p>Sebaliknya, kita juga diiming-imingi oleh manis, nikmat, dan indahnya surga. Yang satu ini tentunya tak begitu saja didapatkan. Berbuatlah kebaikan, taatlah kepada Tuhan, selalulah beramal shaleh, berbaktilah kepada kedua orang tua, pokoknya … bla…bla…bla…, kita dikondisikan untuk selalu menjadi orang baik, taat, serta rajin beramal-ibadah. Surga adalah hadiah dari kebaikan, ketaatan, dan amal ibadah yang kita lakukan itu.</p>
<p>Seperti inilah wajah keberagamaan kita. Seperti inilah keislaman yang kita anut. Agama ini kita warisi. Kebanyakan dari kita mungkin tidak memeluk dan menjalankannya secara sadar dan tulus. Atau secara sederhananya bahwa kita menganut agama ini dan juga menjalankan ritual-ritual di dalamnya lebih secara terpaksa. Kita mungkin jarang yang mau mengakui hal ini. Atau mungkin mayoritas kita meyakini adanya larangan mempertanyakan yang seperti ini.*** [<em>Hanafi Mohan</em>]   </p>
<p>Sumber: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/#more-487">http://thenafi.wordpress.com/</a> </p>
<br />Posted in Beriman secara Lapang Tagged: agama, Iman, Islam, keyakinan, neraka, simbol, surga, terpaksa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=487&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/10/2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir yang Serampangan mengenai Gempa Padang Tertulis Dalam Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 10:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[al-qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan berikut ini aku dapatkan dari tulisan pada link ini:http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520 yang ternyata tulisan tersebut juga mengambil tulisan dari link ini: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370 Terus terang, aku agak jengah dengan beberapa pernyataan dan tulisan mengenai Gempa Bumi Sumatera Barat yang dikait-kaitkan dengan Tafsir Alqur&#8217;an yang serampangan seperti yang tertulis di link tersebut di atas. Dan terus-terang, aku agak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=483&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tulisan berikut ini aku dapatkan dari tulisan pada link ini:</strong><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520">http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520<br />
</a><br />
<strong>yang ternyata tulisan tersebut juga mengambil tulisan dari link ini:</strong> <a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370">http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370</a></p>
<p><strong>Terus terang, aku agak jengah dengan beberapa pernyataan dan tulisan mengenai Gempa Bumi Sumatera Barat yang dikait-kaitkan dengan Tafsir Alqur&#8217;an yang serampangan seperti yang tertulis di link tersebut di atas. Dan terus-terang, aku agak terganggu dengan tulisan tersebut, karena sepertinya Al-Qur&#8217;an kini telah menjelma menjadi Kitab Suci Pertogelan ataupun Kitab Suci Primbon.</p>
<p>Berikut inilah tulisan yang aku maksud tersebut:</strong><br />
<span id="more-483"></span><br />
Pukul 17.16 waktu setempat, hari Kamis, 30 September 2009, Sumatera Barat diguncang dengan kekuatan 7,6 skala ricter (SR). Data terakhir menyebutkan, gempa di Padang sudah lebih dari 500 orang tewas yang sudah berhasil ditemukan dari reruntuhan. Diprediksi jumlah Korban tewas akan terus bertambah.</p>
<p>Betulkah gempa di Pariaman, Padang, Sumatera Barat itu sudah tertulis dalam al-Qur’an?? Menelisik waktu, tanggal serta bulan kejadian Gempa Padang, Sumatera Barat dengan mengkorelasikan ayat-ayat al-Quran. Dan hasilnya, Astagfirullah, aku berlindung dari azab dan murka-Mu, dalam dua ayat dari dua angka (waktu dan tangal-bulan) kejadaian gempa itu, Allah benar-benar membuktikan janji-Nya yang tertulis dalam al-Qur’an.</p>
<p>Pertama, dilihat dari waktu kejadian, yakni pukul 17.16 waktu setempat dikorelasikan dengan surat ke 17 (Al-Isra) ayat 16, dikutip dari al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama, terjemahannya adalah:</p>
<p>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami). Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (Surat 17 (Al-Isra) ayat 16).</p>
<p>Kedua, dilihat dari tanggal dan bulan kejadaian, atau Tanggal 30 Bulan ke 9 (September) terjadinya gempa dikorelasikan dengan surat ke 30 (Ar-Rum) ayat 9. Dikutip dari sumber yang sama, terjemah ayat tersebut adalah:</p>
<p>“Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri,” (surat 30:9)</p>
<p>Dan pada ayat selanjutnya atau ayat 10 surat yang sama , Allah berfirman: “Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu mengolok-oloknya,” (Surat 30:10).</p>
<p>Tidak bermaksud menjustifikasi, namun sekedar mengingatkan kembali, dalam lima tahun terakhir ini ada lima rentetan gempa bumi skala besar dengan menwaskan puluhan hingga ribuan orang. 26 Desember 2004, Gempa yang disertai badai Tsunami di Aceh dengan 133.029 korban tewas. 28 Maret 2005 Gempa Nias dan P Simeulue jumlah korban tewas 900 orang. Disusul dengan gempa di Selatan Yogyakarta pada 27 Mei 2006, 3.000 orang meninggal dunia.</p>
<p>Dua peristiwa gempa besar terjadi pada tahun September 2009, yakni di Tasikmalaya dengan korban tewas 85 orang. Dan terakhir Gempa mengguncang di Pariaman, Padang, Sumatera Barat, pukul 17.16 atau beberapa jam saja sebelum anggota DPR/MPR dilantik yang banyak menghabiskan dana belasan milyaran rupiah….</p>
<p>“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali (dalam setahun) atau dua kali (dalam setahun), namun mereka juga (tidak mau) bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran” [QS Attaubah (9): 126]. ###</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<p><strong>Sumber sebelumnya:</strong><br />
<a href="http://wedonotgoblog.blogspot.com/2009/10/belum-terlambat-untuk-taubat.html">wedonotgoblog.blogspot.com</a><br />
<a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520">recommended to read: Gempa Padang tertulis dalam AlQur&#8217;an</a><br />
<a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370">Gempa Padang Tertulis Dalam Al-Quran??</a></p>
<br />Posted in Catatan Lepas Tagged: al-qur'an, Gempa Bumi, Padang, Sumatera Barat, tafsir <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=483&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keistimewaan Ramadhan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 09:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[laylatul quran]]></category>
		<category><![CDATA[nuzulul quran]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah pernah mengungkapkan pesan yang merupakan doa agar kita pun mengikutinya, yaitu: Allahumma baarikna fi rajjab wa baarikna fi sya’ban wa baalikna ila ramadhan (Ya Allah, anugerahkanlah berkah kepada kami pada bulan Rajjab, dan anugerahkanlah berkah kepad akami pad abulan Sya’ban, serta sampaikanlah kami semuanya kepada bulan Ramadhan). Dari doa ini tersirat, bahwa Rasulullah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=476&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/ibeauty4/" rel="attachment wp-att-477"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/ibeauty4.jpg?w=455" alt="IBEAUTY4" title="IBEAUTY4"   class="alignleft size-full wp-image-477" /></a>Rasulullah pernah mengungkapkan pesan yang merupakan doa agar kita pun mengikutinya, yaitu:</p>
<p><em>Allahumma baarikna fi rajjab wa baarikna fi sya’ban wa baalikna ila ramadhan</em> (Ya Allah, anugerahkanlah berkah kepada kami pada bulan Rajjab, dan anugerahkanlah berkah kepad akami pad abulan Sya’ban, serta sampaikanlah kami semuanya kepada bulan Ramadhan).<br />
<span id="more-476"></span><br />
Dari doa ini tersirat, bahwa Rasulullah dan juga kita semuanya selalu mengharap agar dapat menemui Ramadhan setiap tahunnya. Ungkapan Rasulullah tersebut pasti bukan tanpa alasan. Seperti kita ketahui, bahwa bulan ini menjadi istimewa karena pada bulan inilah pertama kali Alquran diturunkan (nuzulul quran). Hal ini jelas diungkapkan di dalam Alquran:</p>
<p><em>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.</em> (Q.S. Al-Baqarah: 185)  </p>
<p>Pada ayat di atas ada kalimat “<em>unzila fiihil quraan</em>”. Dalam Alquran ketika berbicara tentang kitab suci ini dalam kaitan penurunannya, Allah menggunakan tiga istilah, yaitu: <em>nazzala</em> (menurunkan), <em>anzala</em> (menurunkan), dan <em>unzila</em> (diturunkan). Apakah perbedaan antara  <em>anzala</em> dan <em>nazzala</em>? Ternyata kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, <em>anzala</em> dan <em>nazzala</em> artinya sama-sama “menurunkan”. Dalam kaidah ilmu Sharaf, <em>nazzala</em> itu mengisyaratkan <em>li taksir</em> (untuk mengungkapkan peristiwa yang berulang-ulang). Sehingga kalau dikatakan: <em>nazzalal quran</em> (menurunkan Alquran secara berulang-ulang) ini artinya sesuai dengan yang diterima Rasulullah, karena Rasulullah tidak menerima Alquran  secara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit.</p>
<p>Dari sinilah kemudian ulama Alquran bersepakat, bahwa <em>anzala</em> dan <em>nazzala</em> walau artinya sama-sama menurunkan, tapi mempunyai perbedaan dalam cara penurunannya. <em>Anzala</em> artinya adalah Allah menurunkan sekaligus. Sedangkan <em>nazzala</em> artinya adalah Allah menurunkan sedikit demi sedikit (berangsur-angsur) ayat demi ayat secara berulang-ulang. Mengenai makna ini dapat dilihat pada ayat berikut ini:</p>
<p><em>Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur&#8217;an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.</em> (Q.S. Ali Imraan: 3)</p>
<p>Pada ayat di atas jelas tertulis bahwa ketika membicarakan Alquran, Allah mengungkapkan dengan kata <em>nazzala</em>. Tetapi ketika membicarakan Taurat dan Injil, Allah mengungkapkan dengan kata <em>anzala</em>. Ternyata di dalam sejarah Alquran juga diungkapkan, bahwa pewahyuan kepada Nabi Musa untuk menerima Taurat itu terjadi sekaligus. Dalam Surah Al-Baqarah diungkapkan:</p>
<p><em>Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.</em> (Q.S. Al-Baqarah: 51)</p>
<p>Jadi, Nabi Musa menerima Taurat itu sekaligus. Maka di dalam Alquran digunakan kata <em>anzala</em>. Sedangkan Rasulullah menerima Alquran secara sedikit demi sedikit, maka digunakanlah kata <em>nazzala</em>. Bagaimanakah kaitannya dengan penurunan Alquran pada bulan Ramadhan?</p>
<p>Ketika dikaitkan dengan kapankah diturunkannya Alquran, maka diungkapkan bahwa turunnya Alquran pada bulan Ramadhan, tepatnya yaitu pada <em>laylatul qadr</em>:</p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan.</em> (Q.S. Al-Qadr: 1)</p>
<p><em>Laylatul qadr</em> yang dimaksud yaitu seperti yang diungkapkan pada ayat berikut ini:</p>
<p><em>sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.</em> (Q.S. Ad-Dukhaan: 3)</p>
<p>Karena itulah, malam <em>qadr</em> (<em>laylatul qadr</em>) itu disebut juga sebagai malam yang penuh berkah.</p>
<p><strong>Tahap-Tahap Turunnya Alquran</strong></p>
<p>Para ulama mengisyaratkan bahwa Alquran itu turun dalam tiga tahap:</p>
<p><strong>Tahap pertama</strong>, Alquran diturunkan Allah ke <em>Lauh Mahfuzh</em>. Dalam salah satu ayat diungkapkan:</p>
<p><em>(21) Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur&#8217;an yang mulia, (22) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.</em> (Q.S. Al-Buruuj: 21-22)</p>
<p><strong>Tahap kedua</strong>, penurunan dari <em>Lauh Mahfuzh</em> ke <em>Baytul Izzah</em>. Di sinilah Alquran diturunkan sekaligus.</p>
<p><strong>Tahap ketiga</strong>, dari <em>Baytul Izzah</em> kepada Rasulullah secara bertahap yang awalnya adalah Surah Al-‘Alaaq ayat 1 sampai 5.</p>
<p>Sedangkan mengenai ayat Alquran yang terakhir turun, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hal itu. Ada yang mengatakan bahwa yang terakhir turun itu adalah Surah Al-Maidah ayat 3. Namun ayat ini setelah dilacak ternyata turun pada saat Rasulullah melaksanakan Haji Wadaa’. Setelah haji wadaa’ itu selesai, Rasulullah masih hidup 2 bulan 22 hari. Padahal, ternyata ada ayat yang turun sembilan hari sebelum Rasulullah wafat, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 261. </p>
<p>Sehingga kemudian para ulama bersepakat, bahwa Surah Al-Maidah ayat 3 adalah ayat terakhir yang berkaitan dengan hukum, karena ayat itu membicarakan mengenai hukum-hukum yang ditetapkan Allah. Sedangkan Surah Al-Baqarah ayat 261 merupakan ayat terakhir dari segi waktu turunnya.</p>
<p><em>Nuzuul</em> artinya adalah turun. <em>Nuzuulul quran</em> berarti turunnya Alquran. Apakah maknanya Alquran itu dikatakan turun? Yang turun bukanlah Alquran yang berbentuk buku, melainkan yang turun itu adalah ayat-ayat yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah. Karena itulah, Allah selalu memakai kata anzalna (Kami menurunkan). Dalam hal ini Alquran tidak diturunkan secara langsung oleh Allah kepada Rasulullah, melainkan melalui perantaraan Malaikat Jibril.</p>
<p><strong>Laylatul Qadr</strong></p>
<p>Mengapakah malam <em>Nuzulul Quran</em> selalu diperingati?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, karena hal itu merupakan titik tolak dari adanya sumber petunjuk yang mestinya diikuti dan dilaksanakan oleh umat Islam. Lebih-lebih lagi ketika Alquran mengenalkan dirinya sebagai hudan linnaas (sebagai petunjuk bagi manusia). Tetapi, kalau Alquran itu sendiri tidak dipahami dan tidak dilaksanakan, maka fungsinya sebagai petunjuk menjadi sia-sia, karena Alquran adalah benda mati, tidak mempunyai fungsi apa-apa, kecuali kalau kita yang meyakininya mau melaksanakan tuntunan-tuntunannya.</p>
<p>Sehingga dengan ungkapan: <em>Allahumma baalikna ila ramadhan</em> (Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan) antara lain adalah untuk mengingatkan kembali bahwa pada bulan ini (Ramadhan) Alquran pertama kali diturunkan dan itu merupakan petunjuk bagi manusia yang mesti dilaksanakan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, bahwa dalam bulan Ramadhan ini juga terjadi sesuatu yang selalu dinantikan umat Islam, yaitu yang disebut <em>Laylatul Qadr</em> (malam <em>qadr</em>). <em>Laylatul Qadr</em> yaitu malam yang penuh berkah, karena pada malam ini nilai ibadah yang dilakukan umat Islam sama dengan jumlah yang mereka kerjakan selama seribu bulan. Pada malam ini pula para malaikat turun untuk menyampaikan berkah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih mendapatkan <em>Laylatul Qadr</em>.</p>
<p>Tapi kemudian muncul persoalan, kapankah sebenarnya <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi? Jika kita mencermati Surah Al-Qadr, bahwa Alquran itu diturunkan pada <em>Laylatul Qadr</em>. <em>Laylatul Qadr</em> yang disebutkan pada surah Al-Qadr ini diyakini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.</p>
<p>Namun di sisi yang lain, Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk mendapatkan <em>Laylatul Qadr</em> pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah memberikan contoh dengan melaksanakan ibadah secara intensif yang disertai dengan i’tikaf di masjid. Mengenai hal ini, ummul mu’minin Aisyah pernah mengungkapkan suatu hadis yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari:</p>
<p><em>Aisyah r.a. istri Nabi mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri&#8217;tikaf sepeninggal beliau.</em> (Al-Hadits)</p>
<p>Dalam shahih Bukhari diriwayatkan lebih dari 40 hadis yang berbicara tentang <em>Laylatul Qadr</em>. Namun ternyata informasinya berbeda-beda. Ada hadis yang menyebutkan, bahwa <em>Laylatul Qadr</em> terjadi pada bulan Ramadhan tanpa disebutkan kapan waktunya (tanggal atau hari ke berapa dari bulan Ramadhan tersebut). Sehingga dengan demikian, <em>Laylatul Qadr</em> bisa turun di setiap saat selama bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan mensucikan diri, mengaktifkan ibadah, tekun membaca Alquran, karena siapa tahu <em>Laylatul Qadr</em> sudah turun pada awal-awal Ramadhan.</p>
<p>Ada juga hadis lain yang menyatakan, bahwa <em>Laylatul Qadr</em> terjadi di awal atau puluhan awal Ramadhan. Sehingga sejak inilah umat Islam pun melakukan ibadah-ibadah dalam rangka mensucikan batin. Ada pula yang mengatakan bahwa <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi pada pertengahan Ramadhan. Mungkin yang menjadi dasar bahwa <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan adalah salah satu ayat di dalam Surah Al-Anfaal:</p>
<p><em>Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. </em>(Q.S. Al-Anfaal: 41)</p>
<p>Dua pasukan besar yang dimaksud yaitu pasukan muslimin dari Madinah dan pasukan kafir dari Mekah. Pertemuan dua pasukan tersebut terjadi tepat pada tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika Perang Badar. Dan 17 Ramadhan pada 13 tahun sebelumnya Rasulullah menerima wahyu yang pertama. Sehingga dari di sinilah kemudian dianggap bahwa 17 Ramadhan adalah Nuzulul Quran yang pertama, dan itu terjadi tepat pada <em>Laylatul Qadr</em>.</p>
<p>Namun, sebagian besar dari 40 hadis shahih Bukhari tersebut menyatakan bahwa <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu dari malam 21 sampai malam 29. Sehingga dari sinilah Rasulullah pun menganjurkan umat Islam untuk beri’tikaf di masjid. Dan yang harus diingat juga, bahwa i’tikaf mesti dihayati sebagai sarana untuk mensucikan diri, karena ada orang yang sudah beri’tikaf, tetapi kemudian melalaikan yang wajib.</p>
<p>Karena itulah, jika ingin melaksanakan i’tikaf, tentunya harus didasari keimanan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah:</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan ibadah Ramadhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.”</em> (Muttafaq Alaihi)</p>
<p>Jadi, puasa yang kita laksanakan bukan karena merasa tidak enak terhadap tetangga ataupun malu dengan keluarga, melainkan betul-betul melaksanakannya karena Allah. Mungkin ada orang yang mau berpuasa agar menjadi sehat, bukan karena iman. Bisa jadi orang tersebut menjadi sehat, tetapi tidak akan mendapatkan balasan Allah dari imannya. Yang ia dapat sehatnya saja. Tapi kalau kita melakukan puasa dilandasi dengan keimanan, maka kita akan mendapatkan ridha Allah, dan juga akan mendapatkan kesehatan.</p>
<p><strong>Tujuan Berpuasa</strong></p>
<p>Puasa adalah suatu yang baik, maka di saat itu harus diisi pula dengan kegiatan-kegiatan yang baik sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Puasa merupakan bulan ibadah, karena itu kita pun harus mengisi waktu-waktunya dengan ibadah, baik itu ibadah mahdhah, maupun ibadah muamalah (sosial).</p>
<p>Ramadhan juga mempunyai makna “pembakaran”. Yang dibakar adalah semua dosa-dosa yang telah kita lakukan. Sehingga dengan begitu, dosa-dosa yang telah kita lakukan itu habis dibakar oleh ibadah kita di bulan Ramadhan. Karena ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di bulan ini, maka dosa-dosa yang telah kita lakukan menjadi terhapus dan diampuni oleh Allah. Tapi harus diingat juga, bahwa hal tersebut akan bermanfaat apabila kita tidak melanjutkan dan tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan itu. Kalau pada Ramadhan kali ini kita membakar dosa kita, tapi kemudian setelah Ramadhan kita mengulangi lagi dosa-dosa tersebut, maka hal ini menjadi tidak bermakna, bahkan seolah-olah kita mempermainkan Allah.</p>
<p>Ramadhan memiliki keistimewaan-keistimewaan tertentu disebabkan ada peristiwa-peristiwa yang selalu akan mengingatkan kita untuk lebih meningkatkan kualitas takwa. Sehingga tujuan seperti diungkapkan Allah, yaitu: “<em>la allakum tattaqun</em>” (semoga engkau menjadi orang yang lebih bertakwa) akan terwujud melalui ibadah puasa yang kita lakukan. Di dalam ungkapan Alquran, kata <em>tattaqun</em> itu berbeda dengan kata <em>muttaqun</em>. Kalau <em>al-muttaqun</em> atau <em>al-muttaqin</em> artinya adalah orang yang sudah benar-benar bertakwa. Sedangkan <em>tattaqun</em> artinya adalah orang yang takwanya meningkat. Secara umum, kita termasuk ke dalam golongan <em>tattaqun</em>, yaitu orang yang takwanya selalu meningkat lebih baik.</p>
<p>Ungkapan yang hampir serupa dengan <em>tattaquun</em> yaitu <em>yaa ayyuhallaziina aamanu</em> (wahai orang-orang yang beriman). <em>Aamanu</em> di sini memakai kata kerja, berbeda dengan kata <em>al-mu’minun</em>. <em>Al-mu’minun</em> artinya juga orang-orang yang beriman. Tapi kalau diterjemahkan, makna sebenarnya dari <em>al-mu’minun</em> yaitu orang-orang yang benar-benar beriman. <em>Aamanu</em> yaitu orang yang beriman tapi masih bisa berubah-ubah (imannya fluktuatif atau turun naik), yaitu kadang-kadang imannya kuat, ibadahnya rajin, di saat yang lain ketika malas, imannya pun menurun. Kalau al-mu’minun yaitu orang yang imannya selalu stabil. Cirinya antara lain disebutkan di dalam Alquran:</p>
<p><em>(1) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (2) (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, (3) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (4) dan orang-orang yang menunaikan zakat,</em> (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-4)</p>
<p>Bandingkanlah dengan diri kita, apakah salat kita selama ini sudah khusyu’ atau belum? Jika memang salat kita belum khusyu’, maka belumlah pantas kita menjadi orang yang disebut <em>mu’minun</em>, namun barulah disebut <em>aamanu</em>. Yang pasti, kita ingin meningkat menjadi <em>al-mu’minun</em>.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan ini kita semuanya juga mesti siap untuk berzakat, baik itu <em>zakat maal</em>, maupun <em>zakat fitrah</em>. Jangan sampai bagi yang berkecukupan secara materi ketika ditanya apakah sudah berzakat, lalu dikatakannya sudah berzakat yaitu 2,5 liter beras. Padahal itu barulah <em>zakat fitrah</em>, sedangkan <em>zakat maal</em>nya tak pernah dikeluarkan.</p>
<p>Dengan itu semuanya, semoga Ramadhan kita kali ini akan lebih baik dari yang telah lalu. Bahkan ketika sudah puluhan kali kita berpuasa di bulan Ramadhan, pernahkah ada Ramadhan yang berkesan dalam sanubari kita karena keutamaan ibadah yang kita lakukan? Kalau sudah ada, maka pada Ramadhan kali ini hal itu ditingkatkan kembali. Kalau belum ada, buatlah Ramadhan kali ini menjadi yang terbaik dalam nuansa kerohanian dan spiritual kehidupan kita. Sebagaimana ungkapan Allah di dalam Alquran:</p>
<p><em>Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.</em> (Q.S. Al-Hadiid: 16)</p>
<p>Buatlah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan yang terbaik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Sehingga sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwa siapa saja yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia beruntung.</p>
<p>Marilah kita menjadi orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah, yaitu termasuk orang yang beruntung. Caranya yaitu dengan menjadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelum-sebelumnya, diisi dengan memperbanyak salat sunnah (selain juga salat fardhu), banyak berzikir, banyak tadarrus, banyak berdoa, banyak i’tikaf, serta banyak melakukan kebaikan-kebaikan untuk sesama manusia. Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang fitri pada akhir Ramadhan kelak. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hamdani Anwar pada tanggal 23 Agustus 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/#more-476">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: laylatul quran, nuzulul quran, puasa, ramadhan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=476&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/ibeauty4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IBEAUTY4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Spirit Musyawarah</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[musyawarah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sering kita mendengar tentang tujuan puasa seperti yang termaktub pada Surah Al-Baqarah ayat 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, Tujuan puasa adalah untuk menciptakan orang-orang yang bertakwa. Kita sudah sering mendengarkan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa, baik di dalam surah Al-Baqarah, Ali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=466&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/halab-2/" rel="attachment wp-att-473"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/halab1.jpg?w=200&#038;h=300" alt="HALAB" title="HALAB" width="200" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-473" /></a>Sudah sering kita mendengar tentang tujuan puasa seperti yang termaktub pada Surah Al-Baqarah ayat 183:</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,<br />
<span id="more-466"></span><br />
Tujuan puasa adalah untuk menciptakan orang-orang yang bertakwa. Kita sudah sering mendengarkan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa, baik di dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, maupun surah-surah yang lain. Di antara yang disebut tentang ciri-ciri orang yang beriman dan bertakwa adalah yang terdapat di dalam Surah Asy-Syuura 38:</p>
<p>Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.</p>
<p>Dari ayat di atas dapatllah kita ketahui, bahwa ajaran Islam mencakup:<br />
- Persoalan akidah.<br />
- Melaksanakn shalat, dan di mana-manapun sering disebutkan mengenai shalat ini. Karena begitu pentingnya salat, sehingga ada hadis:</p>
<p>Ash-shalatu imaduddin fa man aqaamaha faqad aqaamaddin (salat itu adalah tiang agama, sehingga barang siapa yang melaksanakan salat, maka dia berarti menegakkan agama).</p>
<p>- Terkait dengan kebutuhan umat manusia dan terkait dengan kehidupan bersama, baik itu di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara, yaitu dengan melaksanakan musyawarah. Ini sudah dijelaskan di dalam Alquran maupun Hadis. Di dalam Alquran disebutkan: wa syawirhum fil amr (Nabi Muhammad juga disuruh untuk bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.)</p>
<p>- Terhadap benda, salah satu kriteria (ciri khas) orang yang bertakwa adalah orang yang mendermakan sebagian dari harta bendanya. Berulang kali dinyatakan di dalam Alquran: wa yanfiquuna fish-sharra wadh-dharra. Selain itu, di dalam hadis atau ayat yang lain juga dijelaskan mengenai hal ini.</p>
<p>Pada saat ini kita akan membahas tentang musyawarah, yang sebagian orang mengatakannya sebagai demokrasi. Tapi dalam hal ini kita tidak akan membicarakan demokrasi.</p>
<p>Musyawarah diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi, baik itu masalah-masalah yang normal saja, misalkan berkaitan dengan persoalan rumah tangga, ataupun persoalan yang lebih besar dan rumit seperti yang berkaitan dengan pengelolaan negara. Begitu pentingnya musyawarah, sehingga para pendiri negara ini juga memasukkan musyawarah ke dalam salah satu sila di dalam Pancasila, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Hal ini sungguh dipengaruhi oleh ajaran Islam, karena kata-kata musyawarah adalah bahasa Alquran, sehingga pengaruh ajaran Islam memang nampak sekali pada sila yang keempat pada Pancasila.</p>
<p>Musyawarah tidak hanya terkait dengan persoalan-persoalan yang akan direncanakan, tetapi juga dalam kondisi yang tidak normal, misalkan ketika adanya perbedaan pendapat pada suatu keluarga atau masyarakat. Sehingga alangkah baiknya jika terdapat perbedaan pendapat, maka bermusyawarahlah untuk menyelesaikannya.</p>
<p>Mengapa kita harus menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut melalui musyawarah? Tak dapat dipungkiri,  bahwa setiap manusia tidak akan memiliki pendapat dan kepentingan yang sama persis. </p>
<p>Perbedaan pendapat merupakan salah satu sumber konflik potensial. Karena itulah, alangkah lebih baiknya perbedaan pendapat tersebut diselesaikan dengan jalan musyawarah, sehingga konflik tersebut tidak akan terjadi dalam bentuk fisik. Begitu juga perbedaan-perbedaan pendapat di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun sayangnya, hal ini belum dilaksanakan sepenuhnya oleh Umat Islam. Buktinya, kita masih sering mendengar adanya pertengkaran, konflik, adu jotos, dan sebagainya, tak terkecuali misalkan di dalam PILKADA.</p>
<p>Ada dua tahap dalam menyelesaikan permasalahan itu melalui musyawarah:</p>
<p>Di dalam Alquran disebutkan, misalkan jika permasalahan keluarga, jika suami dan istri memiliki problem yang begitu sulit untuk diselesaikan, maka masing-masing pihak mengutus mediator. Hal ini juga bisa diterapkan pada konflik-konflik yang lain. Mediator-mediator itulah yang nantinya akan mencarikan jalan keluarnya, sehingga takkan terjadi konflik. Kalau hal tersebut ternyata tidak bisa diselesaikan dengan cara mediasi, maka barulah dibawa ke pengadilan . Dalam bahasa lain, mediasi juga disebut sebagai ishlah. </p>
<p>Innamal mu’minuna ikhwatun fa ashlihu bayna akhwaykum (sesama muslim itu adalah bersaudara, maka jika terjadi perbedaan pendapat di antara keduanya, maka Ishlakanlah keduanya).</p>
<p>Kalau tidak bisa dilakukan secara mediasi (ishlah), barulah dibawa ke pengadilan. Jika di dalam bahasa Alquran, mediasi disebut sebagai hakam, maka pengadilan adalah hakim. </p>
<p>Jika konflik tersebut tak bisa diselesaikan dengan cara ishlah, maka jalan selanjutnya adalah melalui pengadilan, bukan dengan cara adu fisik (kekerasan). Islam tak pernah menganjurkan menyelesaikan suatu permasalahan dengan cara kekerasan. </p>
<p>Melalui pengadilan lah permasalahan tersebut akan diputuskan, dan orang-orang yang terlibat konflik itu harus menerima keputusan dari pengadilan yang dimaksud. Tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu hakim yang memutuskan tersebut haruslah hakim yang berbuat adil. Bagi hakim yang tak bisa berbuat adil, maka ada hukumannya di hadapan Allah nanti. Ada tiga jenis hakim, dua masuk neraka, hanya satu yang masuk surga. Artinya, sangat berat untuk menjadi adil. </p>
<p>Ini adalah suatu mekanisme yang diajarkan oleh Islam untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi, untuk merencanakan masa depan kita, apakah itu urusan agama, ekonomi, politik, ataupun negara. Ketika terjadi perbedaan-perbedaan pendapat ataupun kepentingan, maka Islam sudah memberikan tuntunan yang jelas untuk menghadapinya, bukanlah dengan cara kekerasan. Karena itulah, jika ada yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan, maka tentunya anggapan itu adalah salah. </p>
<p>Dalam menyelesaikan masalah, misalkan jika kita melihat adanya kemaksiatan, maka kita harus bermusyawarah dahulu. Jadi semuanya bisa dilakukan dengan cara yang baik (bil maw’izatil hasanah), misalkan dengan cara musyawarah. Jadi, diubah dengan lisan, berarti maksudnya dengan cara musyawarah, bukanlah langsung dengan cara kekerasan dan main hakim sendiri. Kekerasan dan main hakim sendiri bukanlah ajaran yang baik. Di dalam Alquran sudah begitu jelasnya tuntunan untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini. Jika ada kemaksiatan, maka hal itu harus diselesaikan dengan cara musyawarah, diperingatkan dengan ucapan. Setelah itu, jika peringatan tersebut tidak diindahkan, barulah dengan tindakan, dan yang akan melakukannya adalah hakim, bukanlah dengan cara kekerasan, bertindak sendiri, dan main hakim sendiri. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Masykuri Abdilah pada tanggal 12 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://thenafi.wordpress.com/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: beriman, musyawarah, puasa, takwa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=466&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/halab1.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">HALAB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Pesan Moral di Dalamnya</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 10:50:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[pesan moral]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Ayat-ayat yang terkait dengan puasa tidak hanya Al-Baqarah ayat 183, melainkan jika kita perhatikan, ternyata ada tiga “la alla” di Surah Al-Baqarah, yaitu: ayat 183, 185, dan 187. Pertama: la allakum tattaqun, kedua: la allakum tasykurun, dan ketiga: la allahum yarsyudun. Ketiga-tiga ayat ini berkaitan dengan ramadan dan puasa. Bisa kita pahami, bahwa yang diinginkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=456&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/fine-2/" rel="attachment wp-att-460"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/fine1.jpg?w=455" alt="FINE" title="FINE"   class="alignleft size-full wp-image-460" /></a>Ayat-ayat yang terkait dengan puasa tidak hanya Al-Baqarah ayat 183, melainkan jika kita perhatikan, ternyata ada tiga “la alla” di Surah Al-Baqarah, yaitu: ayat 183, 185, dan 187. Pertama: la allakum tattaqun, kedua: la allakum tasykurun, dan ketiga: la allahum yarsyudun.<br />
<span id="more-456"></span><br />
Ketiga-tiga ayat ini berkaitan dengan ramadan dan puasa. Bisa kita pahami, bahwa yang diinginkan oleh ibadah puasa adalah tercapainya tiga sikap ataupun tiga bentuk keberagamaan, yang satu sama lain terkait, tetapi masing-masing ada tuntutan tersendiri, yaitu antara ketakwaan, sikap bersyukur, dan orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah. </p>
<p>Yang menarik dari Surah Al-Baqarah, bahwa pada dua “la alla” yang pertama (la allakum tattaqun dan la allakum tasykurun), kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang kedua jamak. Tetapi pada “la alla” yang ketiga (la allahum yarsyudun), kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang ketiga jamak.</p>
<p>“La allakum”, seolah-olah berhadapan dengan kita. Siapapun yang berpuasa, maka ada jaminan untuk menjadi orang yang bertakwa. Siapapun yang berpuasa, maka ada jaminan bisa menjadi orang yang pandai bersyukur. Tetapi yang ketiga (la allakum yarsyudun: agar menjadi orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah), ini kelihatannya agak jauh bisa kita capai, karena orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah hanyalah para nabi, aulia, dan para syuhada. Kita semua dalam perjalanan menjalani kehidupan ini bisa dipastikan tak pernah luput dari kekeliruan dan dosa, baik itu disengaja ataupun tidak.</p>
<p>Berkaitan dengan konteks takwa,  bahwa rumusan takwa adalah menjalankan seluruh perintah dan menghindari seluruh larangan. Tetapi, yang menarik dari ayat 183, justru orang yang menjalani ibadah puasa masih dituntut untuk melahirkan sikap ketakwaan. Dari redaksi ayat ini, tuntutan ibadah puasa tidak sekedar kemampuan menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan lainnya, di mana bagi orang yang beriman menahan makan dan minum dalam batas-batas tertentu bukanlah suatu persoalan. Orang yang tidak sanggup menjalani puasa itu lebih dikarenakan tidak berbasis iman. Menahan makan dan minum di siang hari sepertinya adalah pekerjaan yang ringan. Tetapi ada tuntutan “la allakum tattaqun” pada ayat ini, yaitu ada pesan moral yang diminta dari orang-orang yang berpuasa. </p>
<p>Apa yang dimaksud dengan pesan moral dari ibadah puasa? Mengenai hal ini, ada suatu riwayat yang menyebutkan:</p>
<p>Pada suatu ketika di Bulan Ramadan, Rasulullah mendengar ada seorang ibu yang mencaci-maki pembantunya. Caci-maki tersebut didengar oleh Rasulullah, sehingga sahabat diminta untuk memanggil wanita itu. Lalu Rasulullah menyuruhnya mengambil makanan. Setelah wanita itu datang menghadap Rasulullah, lalu beliau menyuruh wanita itu makan makanan yang telah disediakan itu. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku sedang berpuasa.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah berkata, “Banyak orang yang lapar, tetapi sedikit yang berpuasa. Allah tidak membutuhkan kalian menahan lapar dan haus di siang hari jika tak mampu menahan hawa nafsu.”</p>
<p>Dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa berpuasa bukanlah hanya sekedar menahan makan dan minum, melainkan ada tuntutan untuk menahan hawa nafsu. Di Bulan Ramadan ini, ekspresi kehidupan keagamaan kita kemudian meningkat.</p>
<p>Pada sebuah kitab dijelaskan, bahwa ada tiga pengandaian:</p>
<p><strong>Pengandaian Pertama</strong></p>
<p>Pada suatu ketika, ada seorang sahabat yang sedang berjalan. Di tengah jalan, ia melihat ada seorang pengemis yang meminta-minta. Sahabat itu sebenarnya hanya memiliki uang yang cukup untuk berbuka puasa. Setelah dipertimbangkan, sahabat itu kemudian memberikan seluruh uangnya kepada peminta-minta itu. Ternyata ia bermimpi, Allah memberikan balasan yang luar biasa. Ia berkata, seandaikan ia memberikan uang lebih besar lagi, pasti Allah akan melipat-gandakan lebih besar, karena peristiwa ini terjadi di Bulan Ramadan.</p>
<p><strong>Pengandaian Kedua</strong></p>
<p>Seorang sahabat ketika ia berjalan, tiba-tiba ia melihat ada seorang yang kedinginan di tengah jalan karena kehujanan. Melihat hal tersebut, diberikannya pakaian yang dipakainya kepada orang yang kedinginan itu. Sahabat tersebut kemudian bermimpi diberikan anugerah kenikmatan yang luar biasa. Lalu sahabat tersebut berkata, “Seandainya yang aku berikan itu bukan pakaian bekas, melainkan pakaian baru, tentunya Allah akan memberikan balasan yang luar biasa.” Mengapa? Karena hal ini terjadi di Bulan Ramadan.</p>
<p><strong>Pengandaian Ketiga</strong></p>
<p>Ada seorang tua yang tak bisa ke masjid karena harus dipapah. Untuk bisa berjamaah, rumahnya relatif jauh. Anaknya tidak ada yang menuntunnya. Tiba-tiba ada seorang pemuda mengantarkan orang tua tersebut ke masjid. Kemudian pemuda tersebut bermimpi mendapatkan balasan kenikmatan yang luar biasa dari Allah. Pemuda tersebut kemudian berkata, “Seandainya orang tua tersebut aku tuntun dari tempat yang lebih jauh dan bisa kulakukan setiap hari, maka nikmat yang akan diberikan oleh Allah tentunya akan sangat luar biasa besarnya.”</p>
<p>Pada Bulan Ramadan ini, sering kali kita menemui hal-hal yang seperti ini. Namun sering kali kita tidak terpanggil untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan itu. Bulan Ramadan ini merupakan bulan yang subur untuk melakukan seluruh kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan kemanusiaan.</p>
<p>Ketika Imam Al-Ghazali wafat, beliau dimimpikan oleh salah seorang sahabatnya, bahwa Imam Al-Ghazali diberikan balasan kenikmantan yang luar biasa di alam kuburnya. Terjadilah dialog dalam mimpi itu. Sahabat tersebut bertanya kepada Imam Al-Ghazali, “Apakah sebabnya sehingga Allah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepadamu?”</p>
<p>“Bukan karena Kitab Ihya Ulumuddin yang aku tulis, bukan karena aku ulama besar, dan bukan pula karena aku tokoh sufi, tetapi yang menyebabkan Allah memberikan kenikmatan kepadaku, bahwa pada suatu saat aku menulis kitab dengan tinta, lalu ada seekor lalat yang hinggap di ujung tinta tersebut hingga lalat tersebut kenyang, setelah itu barulah aku menggerakkan tinta tersebut,” jawab Imam Al-Ghazali di dalam mimpi itu.</p>
<p>Artinya, bahwa yang dituntut dari ibadah yang kita lakukan apapun bentuknya, maka harus ada ketulusan hati, ada perhatian terhadap kehidupan sosial, termasuk terhadap binatang yang menjijikkan sekalipun. </p>
<p>Dalam suatu hadis digambarkan, bahwa ada seorang ibu yang masuk neraka karena perlakuan ibu tersebut yang kasar terhadap seekor kucing. Kucing tersebut diikatnya dan dimasukkan ke dalam kamar dan tidak diberi makan, sehingga kucing tersebut kelaparan, dan kemudian mati.</p>
<p>Dalam hal ini, Islam ingin memberitahukan kepada umatnya, bahwa sebagai orang yang beriman, tidak cukup hanya melakukan hal-hal yang bersifat lahiriyah, melainkan yang lebih utama adalah ketulusan batin untuk memperhatikan lingkungan, termasuk juga terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Siapapun yang bersikap tidak baik terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka yang akan marah adalah yang menciptakan binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut (yaitu Allah), apalagi jika kita bersikap tidak baik terhadap sesama manusia.</p>
<p>Karena itulah, di balik semangat menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan, janganlah lupa untuk selalu berhati-hati di manapun kita berada, karena tingkat kejahatan di bulan Ramadan ini cukup meningkat. Perampokan, pencurian, bahkan pembunuhan bisa terjadi kapan dan di mana saja. Misalnya, karena hanya memikirkan lebaran, sehingga sering kali kita melupakan untuk saling bertenggang rasa. Itulah sebabnya, di Bulan Ramadan ini banyak orang-orang yang mati konyol, padahal dia pergi demi mencari nafkah untuk keluarganya, demi suksesnya ramadan. Karena itulah, kita harus selalu waspada. Ke manapun orang beriman pergi, maka ia akan selalu membawa ketakwaan, baik ketakwaan ritual maupun ketakwaan sosial. Insya Allah kita akan hidup selamat dalam bimbingan Allah SWT.</p>
<p>Mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan ramadan ini dengan sebaik-baiknya, hingga tuntas dan berakhir ramadan nanti, dan seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah. Kebaikan-kebaikan kita apapun bentuknya mudah-mudahan menjadi ciri ketakwaan kita di hadapan Allah SWT. Sekianlah, mudah-mudahan Allah menguatkan kita semua untuk bias beribadah di Bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrozi, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: moral, pesan moral, puasa, ramadan, ramadhan, takwa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=456&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/fine1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FINE</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beribadah Puasa di Negeri yang Pada Suatu Musim Matahari Tak Pernah Tenggelam</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 10:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Leningrad]]></category>
		<category><![CDATA[Moscow]]></category>
		<category><![CDATA[musim panas]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[St. Petersburg]]></category>
		<category><![CDATA[tropis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya pulang dari Amerika belasan jam di dalam pesawat. Di dalam pesawat, saya pun sambil membaca buku berjudul &#8220;Agama dan Sains&#8220;. Di sebelah saya ada seorang non Muslim, dia mengajak saya berdiskusi, dan kemudian saya iyakan. Dalam diskusi itu, orang non Muslim tersebut menyatakan, bahwa menurutnya Islam kok sepertinya hanya cocok untuk orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=448&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/leningrad_34/" rel="attachment wp-att-449"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad_34.jpg?w=150&#038;h=112" alt="leningrad_34" title="leningrad_34" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-449" /></a>Suatu ketika saya pulang dari Amerika belasan jam di dalam pesawat. Di dalam pesawat, saya pun sambil membaca buku berjudul &#8220;<em>Agama dan Sains</em>&#8220;. Di sebelah saya ada seorang non Muslim, dia mengajak saya berdiskusi, dan kemudian saya iyakan. Dalam diskusi itu, orang non  Muslim tersebut menyatakan, bahwa menurutnya Islam kok sepertinya hanya cocok untuk orang-orang yang ada di negara tropis.<br />
<span id="more-448"></span><br />
Saya tidak marah, tidak tersinggung, namun hanya ingin tahu mengapa dia berkesimpulan bahwa Islam hanya cocok untuk orang-orangg di negara tropis. Dia  pun berargumentasi, karena dia melihat bahwa ibadahnya orang Islam itu dikaitkan dengan pergerakan matahari di negara tropis. Shubuh (matahari belum terbit), Dzuhur (matahari tergelincir sedikit), Ashar, Maghrib, Isya, balik lagi ke Shubuh. Menurutnya, itu kan pergerakan matahari tropis. Kalau di Eropa Utara atau New Zealand ke selatan, pergerakan matahari tidak seperti itu (tidak seperti di negara-negara tropis).</p>
<p>Saya manggut-manggut, saya katakan bahwa benar juga yang dia katakan. Karena saya pernah suatu ketika ke Eropa, yaitu ke Belgia. Bahwa di Belgia jam 9 malam matahari belum tenggelam, jam 10 malam matahari barulah tenggelam, dan saya baru Shalat Maghrib jam 10 malam. Kalau kita ke utara lagi ke sebuah negara yg bernama Finlandia, di musim panas matahari terbit (bersinar) terus 23 jam. Jadi malamnya hanya satu jam. Shalat Maghrib, Isya’, dan Shubuh cuma bisa kita lakukan selama 1 jam. Kalau begitu, kapan kita bisa melakukan salat tahajjud?</p>
<p>Ketika saya menulis buku yang berjudul “<em>Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari</em>”, saya kontak-kontakan (Email, SMS, dans sebagainya) dengan teman saya yang bekerja di kedutaan Moscow. Teman saya itu bercerita, bahwa ada lagi yang lebih seru, yaitu di utaranya Moscow. Ada kota yang bernama Leningrad (sekarang diganti namanya menjad St. Petersburg). Di kota itu pada musim panas mataharinya tidak tenggelam (terbit ataupun bersinar terus): jam 10 malam terang, jam 11 malam, 12 malam terang, jam 1 pagi ya tetap terang.</p>
<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/leningrad/" rel="attachment wp-att-450"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad.jpg?w=150&#038;h=120" alt="leningrad" title="leningrad" width="150" height="120" class="alignright size-thumbnail wp-image-450" /></a>Teman saya itu bertanya, kalau begitu di kota itu kapan waktunya kita bisa melakukan Shalat Maghrib dan Isya’? Lebih pusing kalau di Bulan Ramadhan, kapan buka puasanya? Kawan saya itu mengatakan, bahwa menurut “fiqh tropis”, berpuasalah kalian sebelum matahari terbit, dan berbukalah kalian sesudah matahari tenggelam. Tapi ini kan mataharinya tidak tenggelam? Kalau begitu kapan kita Shalat Tahajjud ketika matahari masih terang itu? Ya&#8230; salat tahajjudnya waktu terang itu, karena sebetulnya itu adalah malam, namun saja mataharinya masih bersinar.</p>
<p>Pada buku saya yang berjudul “<em>Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari</em>” menjawab pertanyaan orang non Muslim tadi, yaitu apakah Islam hanya cocok untuk orang-orang di negara tropis. Saya jawab di buku itu, bahwa Islam tidak hanya cocok untuk orang-orang di negara tropis, melainkan cocok untuk semua manusia di manapun manusia itu berada. Bagaimanakah kemudian seharusnya kita mengatur waktu-waktu ibadah internasional kita, karena selama ini kita lebih berpatokan pada negara-negara tropis. Sehingga teman saya yang bersekolah di Eropa Utara mengatakan, bahwa jangan-jangan orang-orang di Eropa Utara itu tak mau masuk Islam karena takut melaksanakan puasa selama 24 jam. Kalau sudah seperi ini, salah siapakah kemudian?</p>
<p>Namun, pasti di dalam Alquran ada solusinya, dan kemudian saya temukan dan saya tuliskan di dalam buku “<em>Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari</em>”. Apalagi bagi Astronot, dia keluar dari bumi kita, dia bisa melihat matahari terus dan takkan melihat malam. Apakah kemudian Islam tidak cocok untuk Astronot? Tentunya tidak, melainkan Islam tetap cocok bagi siapa saja. Di buku-buku yang saya tulis, tentunya saya bukanlah sedang ingin mendangkalkan keimanan, justru saya ingin memberikan suatu sudut pandang baru dari sudut pandang kekinian dan sudut pandang masa depan, yaitu bagaimana seharusnya Islam itu diperkenalkan dan disyi’arkan ke seluruh permukaan bumi. []</p>
<p>(<em>dikutip dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Ir. H. Agus Mustofa pada tanggal 19 Juli 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan</em>)</p>
<p>Sumber tulisan: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/">thenafi.wordpress.com</a></p>
<br />Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: fiqh, Leningrad, Moscow, musim panas, puasa, St. Petersburg, tropis <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=448&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad_34.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">leningrad_34</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">leningrad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wahabisme: Pembaru Militan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 17:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi T - Z]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[abad modern]]></category>
		<category><![CDATA[jazirah arabia]]></category>
		<category><![CDATA[militan]]></category>
		<category><![CDATA[pembaru]]></category>
		<category><![CDATA[pembaruan]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Bahwa dari waktu ke waktu senantiasa ada usaha pembaruan, atau penyegaran, atau pemurnian pemahaman umat kepada agamanya, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan sistem Islam dalam sejarah. Nabi sendiri dalam sebuah hadis mengisyaratkan kepada adanya hal itu. Maka dari sudut tinjauan ini adalah suatu kejadian wajar saja bahwa pada abad ke 18 Jazirah Arab telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=444&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/panama_dream_job/" rel="attachment wp-att-445"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/07/panama_dream_job.gif?w=150&#038;h=150" alt="panama_dream_job" title="panama_dream_job" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-445" /></a>Bahwa dari waktu ke waktu senantiasa ada usaha pembaruan, atau penyegaran, atau pemurnian pemahaman umat kepada agamanya, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan sistem Islam dalam sejarah. Nabi sendiri dalam sebuah hadis mengisyaratkan kepada adanya hal itu. Maka dari sudut tinjauan ini adalah suatu kejadian wajar saja bahwa pada abad ke 18 Jazirah Arab telah menyaksikan usaha pembaruan yang militan, <span id="more-444"></span>yang dilancarkan oleh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab (1115-1206 H/1703-1792 M), yang melahirkan apa yang dinamakan gerakan Wahabi. Selain merupakan hampir satu-satunya gerakan pembaruan keagamaan yang paling sukses secara politik, yaitu setelah bergabung dengan kekuatan dinasti Sa’ud, pembaruan di Jazirah ini juga sangat menarik karena ia dilancarkan tanpa sedikit pun ada persinggungan dengan kemodernan dari Barat. Jadi pandangan tentang perlunya pembaruan di kalangan umat ketika dunia Islam berhadapan dengan Abad Modern, setelah adanya percontohan dari Jazirah Arabia itu, dapat dinilai sebagai keharusan lebih mendesak disebabkan keseriusan tantangan yang ditimbulkan oleh dampak modernisasi. ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.<br />
</em><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Ensi T - Z, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: abad modern, jazirah arabia, militan, pembaru, pembaruan, Wahabisme <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=444&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/07/panama_dream_job.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">panama_dream_job</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qurratu A&#8217;yun</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 10:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi Q - S]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>
		<category><![CDATA[tawakkal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Qurratu a‘yun adalah suatu inti atau esensi kebahagiaan. Misalnya, tujuan dari rumah tangga ialah untuk menciptakan sakînah, yang dalam bahasa lain ialah qurratu a‘yun. Seperti ungkapan doa, Dan mereka yang berdoa, “Tuhan, jadikanlah istri-istri kami dan keturunan kami cendera mata (sebagai penyenang hati—NM) bagi kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang yang bertakwa (Q., 25:74). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=435&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/pict1115/" rel="attachment wp-att-436"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/pict1115.jpg?w=150&#038;h=112" alt="PICT1115" title="PICT1115" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-436" /></a>Qurratu a‘yun adalah suatu inti atau esensi kebahagiaan. Misalnya, tujuan dari rumah tangga ialah untuk menciptakan sakînah, yang dalam bahasa lain ialah qurratu a‘yun. Seperti ungkapan doa, Dan mereka yang berdoa, “Tuhan, jadikanlah istri-istri kami dan keturunan kami cendera mata (sebagai penyenang hati—NM) bagi kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang yang bertakwa (Q., 25:74).<br />
<span id="more-435"></span><br />
Esensi kebahagiaan adalah surga. Di dalam surga setidaknya ada sakinah. Banyak sekali gambaran mengenai surga. Tetapi rupanya yang paling menarik bagi Nabi adalah di dalam surat Al-Sajdah ketika disebutkan, Tiada seorang pun tahu cendera mata apa yang masih tersembunyi bagi mereka sebagai balasan atas amal kebaikan yang mereka lakukan (Q., 32:17).</p>
<p>Itulah surga. Surga itu tidak ada seorang pun yang tahu. Bagaimana dengan gambaran di dalam Al-Quran?. Itu semuanya adalah simbol, metafora, gambaran-gambaran populer. Karena itu, Nabi kemudian menyampaikan sebuah hadis qudsi (firman Allah tetapi kalimatnya dari Nabi), “Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan kalau kamu mau (kata Nabi), bacalah (ayat al-Qur’an itu), tidak seorang pun mengetahui esensi kebahagiaan yang dirahasiakan baginya sebagai balasan untuk amal perbuatan baiknya (HR Bukhari).</p>
<p>Di dalam surga kita akan merasa aman, salâm, dan sebagainya. Dalam suatu stadium tingkat tertinggi yang bersifat ruhani, sebetulnya itu tidak bisa digambarkan. Itu hanya bisa dialami. Untuk mengalaminya pun perlu usaha yang sungguh-sungguh, yang dalam bahasa Arab disebut juhd-un. Dari perkataan juhd-un (usaha yang sungguh-sungguh) diambil perkataan jihâd (jihad). Jihad tidak hanya berarti fisik seperti perang, tetapi juga jihâd-u ‘l-nafs, jihad melawan diri sendiri atau ijtihâd menggunakan seluruh kemampuan pikiran. Bahkan juga mujâhadah, atau spiritual exercise, olah ruhani. Jadi tidak hanya olahraga, olah jasmani, juga tidak hanya olah jiwa, olah nafsani, tetapi juga olah ruhani. Maka, sebetulnya kebahagiaan ialah dalam kelapangan ini, yang sebetulnya tempat di mana terletak adanya rahmat Allah kepada kita. Ketika Allah memuji Nabi Muhammad sebagai orang yang lapang dada, maka itu dikaitkan dengan rahmat Allah. Karena rahmat dari Allah jugalah maka engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati tegar niscaya mereka menjauhi kamu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun buat mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan. Maka jika engkau sudah mengambil keputusan bertawakallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang tawakal (Q., 3:159). ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.</em></p>
<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/#more-435">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<br />Posted in Ensi Q - S, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: jiwa, kebahagiaan, kebaikan, surga, takwa, tawakkal <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=435&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/pict1115.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">PICT1115</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obyektifitas Makna dan Tujuan Hidup</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 16:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi O - P]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Nazi]]></category>
		<category><![CDATA[obyektifitas makna]]></category>
		<category><![CDATA[rasional]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana menguji dan mengetahui bahwa konsep tentang tujuan dan makna hidup mengandung kebenaran obyektif dan universal? Terhadap pertanyaan ini, Paul Edwards menawarkan jawaban bahwa kita barangkali harus membedakan antara makna dan tujuan hidup yang bisa disepakati oleh umat manusia secara rasional dan dengan ketulusan pengertian dan makna serta tujuan hidup yang hanya secara sepintas saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=427&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/img_2770-1-2/" rel="attachment wp-att-432"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/img_2770-11.jpg?w=112&#038;h=150" alt="IMG_2770-1" title="IMG_2770-1" width="112" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-432" /></a>Bagaimana menguji dan mengetahui bahwa konsep tentang tujuan dan makna hidup mengandung kebenaran obyektif dan universal? Terhadap pertanyaan ini, Paul Edwards menawarkan jawaban bahwa kita barangkali harus membedakan antara makna dan tujuan hidup yang bisa disepakati oleh umat manusia secara rasional dan dengan ketulusan pengertian dan makna serta tujuan hidup yang hanya secara sepintas saja nampak rasional dan penuh pengertian. <span id="more-427"></span>Membaca buku Hitler, Mein Kampf, seseorang bisa saja mendapat kesan sepintas kerasionalan pandangan hidup Nazi, yakni secara sepintas lalu. Tetapi dalam penghadapannya kepada keseluruhan rasionalitas dan nilai kemanusiaan yang agung, Mein Kampf tentu tidak akan dapat bertahan.</p>
<p>Dengan perkataan lain, sepanjang menyangkut makna dan tujuan hidup manusia, taruhan yang amat menentukan ialah suara hati nurani. Makna dan tujuan hi¬dup yang benar ialah yang di¬topang oleh pertimbangan hati nurani yang tulus. Jika dunia mengutuk Nazisme, itu bukan karena orang-orang Nazi tidak mempunyai makna dan tujuan hidup (justru mereka dikenal fanatik berjuang untuk memenuhi makna dan tujuan hidup mereka), tetapi karena makna dan tujuan hidup mereka itu tidak dapat bertahan terhadap ujian hati nurani universal. Atas dasar itu, dapat dipastikan bahwa Nazisme, sebagai sumber makna dan tujuan hidup, adalah sesat. Demikian pula pandangan banyak orang tentang berbagai sistem ideologi yang lain, lebih-lebih tentang kultus.</p>
<p>Namun perkaranya tidak berhenti di sini. Kalau memang hati nurani merupakan sumber pertimbangan tentang otentik-tidak-nya suatu pandangan makna dan tujuan hidup, dan kenyataan bahwa masing-masing ideologi pun bisa mendapatkan jalan untuk dirasionalisasikan sesuai dengan hati nurani (setidak-tidaknya, begitulah menurut masing-masing para pendukungnya), maka dalam praktik hati nurani pun tidak universal. Di sini kita memasuki suatu daerah pembahasan yang amat pelik, karena berhadapan dengan masalah kedirian kita yang paling mendalam, yaitu hakikat yang untuk mudahnya kita sebut kalbu – banyak  nama digunakan untuk menyebut hakikat kedirian yang paling mendalam itu. Dalam bahasa Arab, selain qalb juga digunakan dlamîr, fu‘âd, lubb, nafs dengan variasi tekanan maknanya. Hadîts Nabi menyebutkan “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, bila ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan bila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad.  Ingatlah, segumpal daging itu ialah kalbu.” ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.</em></p>
<br />Posted in Ensi O - P, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: Nazi, obyektifitas makna, rasional, tujuan hidup <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=427&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/img_2770-11.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2770-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cabang-Cabang Iman</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/26/cabang-cabang-iman/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/26/cabang-cabang-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 15:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi A - E]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Ada sabda Rasul yang sangat terkenal bahwa iman itu bercabang-cabang. Iman itu selain berupa keyakinan tauhid, juga mewujud dalam tindakan menyingkirkan duri dari tengah jalan. Coba kita renungkan. Ketika kita membungkukkan badan menyingkirkan duri di tengah jalan, kelihatannya sederhana. Tetapi di balik itu ada hal yang sangat prinsip, yaitu perhatian kepada sesama manusia. Kita tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=424&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sabda Rasul yang sangat terkenal bahwa iman itu bercabang-cabang. Iman itu selain berupa keyakinan tauhid, juga mewujud dalam tindakan menyingkirkan duri dari tengah jalan. Coba kita renungkan. Ketika kita membungkukkan badan menyingkirkan duri di tengah jalan, <span id="more-424"></span>kelihatannya sederhana. Tetapi di balik itu ada hal yang sangat prinsip, yaitu perhatian kepada sesama manusia. Kita tidak rela orang lain celaka terkena duri itu. Oleh karena itu dalam sebuah Hadis disebutkan, <em>Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ketika ditanya, “Apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga?” Nabi menjawab, “Takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur”. Lalu ditanya, “Apa yang banyak menyebabkan manusia masuk neraka?” Nabi menjawab, “Dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan” (HR Ibnu Majah).</em> ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.</em></p>
<br />Posted in Ensi A - E, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: Iman, keyakinan, neraka, surga <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/424/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=424&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/26/cabang-cabang-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Value Judgement Penggunaan Kekayaan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/20/value-judgement-penggunaan-kekayaan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/20/value-judgement-penggunaan-kekayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 05:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi T - Z]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[negara beradab]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini banyak buku dan karya yang dibuat oleh orang-orang yang mencoba menjelaskan cara-cara mewujudkan keadilan sosial itu. Tetapi, George Bernarnd Shaw menasihatkan agar kita tidak membaca sebaris pun buku-buku dan karangan-karangan itu, sebelum kita mendiskusikan dengan kawan-kawan terdekat kita sendiri. Kemudian mengambil kesimpulan sebaik mungkin tentang bagaimana seharusnya kekayaan nasional dibagi di antara seluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=417&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/05/20/value-judgement-penggunaan-kekayaan/dsc_0846r-2/" rel="attachment wp-att-421"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/05/dsc_0846r1.jpg?w=140&#038;h=150" alt="DSC_0846R" title="DSC_0846R" width="140" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-421" /></a>Saat ini banyak buku dan karya yang dibuat oleh orang-orang yang mencoba menjelaskan cara-cara mewujudkan keadilan sosial itu. Tetapi, George Bernarnd Shaw menasihatkan agar kita tidak membaca sebaris pun buku-buku dan karangan-karangan itu, sebelum kita mendiskusikan dengan kawan-kawan terdekat kita sendiri. Kemudian mengambil kesimpulan sebaik mungkin tentang bagaimana seharusnya kekayaan nasional dibagi di antara seluruh rakyat di dalam suatu negara beradab dan terhormat.<br />
<span id="more-417"></span><br />
Hal demikian itu terjadi, karena setiap pikiran tentang pelaksanaan cita-cita itu tidak lebih daripada pikiran. Dan pikiran-pikiran orang-orang lain belum tentu lebih baik daripada pikiran-pikiran kita sendiri, dan begitu pula sebaliknya. Berapakah kita harus memperoleh bagian dari harta kekeyaan yang ada ini, dan berapa pula yang harus diperoleh oleh tetangga kita? Bagaimana jawaban Anda sendiri? </p>
<p>Karena menjawab pertanyaan tersebut bukanlah suatu hal yang mudah, maka kita harus terlebih dahulu membersihkan benak kita dari gambaran yang tertanam sejak masa kanak-kanak, bahwa lembaga-lembaga di mana kita hidup sekarang ini, termasuk cara-cara yang sah dalam membagikan pendapatan dan mengizinkan seseorang memiliki harta, adalah sesuatu yang memang sudah semestinya terjadi secara alamiah sebagaimana halnya udara di sekeliling kita. Hal itu tidaklah demikian, karena pola-pola yang melembaga itu kita dapati di mana-mana—kemudian kita anggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya bahwa hal-hal itu memang telah ada dan harus ada untuk selama-lamanya—timbul  dengan sendirinya.</p>
<p>Hal ini merupakan suatu kekeliruan yang berbahaya. Lembaga-lembaga itu sepenuhnya dapat diubah. Dan memang, mereka berada dalam proses perubahan terus menerus sepanjang masa. Banyak sekali dari pola-pola itu yang akan tidak diikuti atau ditaati oleh ‘orang-orang baik’ sekalipun, jika tidak ada polisi yang dapat segera dihubungi, dan ancaman hukuman penjara yang selalu terbayang. </p>
<p>Salah satu hal yang dapat kita pikirkan perubahannya ialah pola-pola dan value judgement tentang bagaimana kita menggunakan kekayaan kita. Sekalipun, dan justru, kekayaan itu adalah milik sah kita sendiri. Sebagai contoh sederhana kita memiliki kekayaan sebesar seribu rupiah (di sini harus dianggap bahwa mempunyai seribu rupiah sudah termasuk kaya), maka menurut rasa keadilan sosial, kekayaan sebesar itu dapatkah kita pergunakan untuk belanja kita sendiri dan keluarga kita, seluruhnya atau kurang dari seribu rupiah? Atau bagaimana jika suatu cara lain dapat diperoleh? </p>
<p>Di atas telah disebutkan tentang value judgement. Memang, suatu pola penggunaan harta menyangkut tata nilai seseorang. Hal itu tidak selalu berhubungan dengan persoalan benar-salah, tetapi terutama menyangkut rasa tata hormat dan tidak terhormat, bahagia dan tidak bahagia. Umpamanya, jika kita berpandangan bahwa kehormatan dan kebahagiaan terletak pada kekayaan yang nampak dan dapat dilihat orang lain (lebih-lebih jika mampu menerbitkan rasa iri hati pada mereka), maka sudah tentu pola penggunaan harta yang kita anut ialah pola penggunaan harta yang maksimal. Bahkan mungkin kita akan berusaha menunjukan keka¬yaan lebih dari kemampuan kita sendiri, sehingga pengeluaran menjadi lebih besar dari pada pemasukan, sekalipun menurut ukuran masyarakat, sebetulnya kita termasuk kaya dan mampu. Pola penggunanan harta yang amat konsumtif itu, oleh para ahli, disebut (dalam istilah asing) demonstration effect. Mereka mensinyalir bahwa hal itu merupakan halangan terbesar dalam usaha mewujudkan masyarakat “adil dan mamkmur”. Dan memang, kita tidak sulit untuk mengetahui ketidakbenaran pola itu, sebab tidak sesuai dengan ‘hati nurani’ kita sendiri. Sayangnya, dalam masyarakat terdapat kecenderungan yang mendorong semakin kuatnya pola demonstration effect itu, khususnya bagi mereka yang untuk pertama kalinya menikmati apa artinya merdeka yang berupa keleluasaan dan fasilitas-fasilitas. Dan juga anak muda memahami sinyalemen para ahli itu, karena demonstration effect akan mendorong seseorang untuk memperkaya diri sendiri dengan merugikan orang lain. </p>
<p>Tetapi, tidakkah berarti bahwa hal sebaliknya sama sekali adalah baik. Sebab kepelitan, dalam bentuknya yang ekstrim, tidak kurang berbahayanya bagi cita-cita masyarakat adil dan makmur. Jika kita pelit pada diri sendiri, tentunya kita akan lebih pelit lagi kepada orang-orang lain khususnya kepada pihak yang paling memerlukan perhatian dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, yaitu kaum tak mampu. Dan usaha-usaha di bidang sosial, jika semua orang kaya menganut pola ini, akan tidak berjalan, seperti panti-panti asuhan, rumah-rumah perawatan orang sakit, wisma penyantunan orang-orang cacat, dan lain-lain. Dengan demikian, kekayaan yang ada di tangan orang-orang penganut demonstration effect akan kehilangan fungsi sosialnya, karena habis untuk menuruti nafsu pamernya sendiri. Begitu pula, harta itu pun akan kehilangan fungsi sosialnya di tangan orang-orang pelit, karena harta itu disimpannya rapat-rapat untuk memuaskan nafsu menghitung-hitung harta dan menumpuk-numpuknya, seakan-akan ia akan hidup kekal dengan hartanya itu.</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.<br />
</em></p>
<br />Posted in Ensi T - Z, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: keadilan sosial, kekayaan, negara beradab, rakyat <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/417/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=417&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/20/value-judgement-penggunaan-kekayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/05/dsc_0846r1.jpg?w=140" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0846R</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar, Menunda Kesenangan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/16/sabar-menunda-kesenangan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/16/sabar-menunda-kesenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 19:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi Q - S]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[kesenangan]]></category>
		<category><![CDATA[mengalah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sikap hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[Mundur selangkah untuk dapat maju beberapa langkah adalah suatu hal yang dilakukan dalam kehidupan dan merupakan kenyataan sehari-hari kegiatan kita. Ungkapan itu sendiri sebetulnya mengacu kepada suatu sikap hidup yang amat penting untuk dipahami dengan baik, yaitu sikap hidup berpikir dan bertindak stategis. Tetapi meskipun “dalil” itu nampak mudah diucapkan, namun sebenarnya tidak semua orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=413&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/05/16/sabar-menunda-kesenangan/_dsc6822/" rel="attachment wp-att-414"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/05/dsc6822.jpg?w=300&#038;h=237" alt="_DSC6822" title="_DSC6822" width="300" height="237" class="alignleft size-medium wp-image-414" /></a>Mundur selangkah untuk dapat maju beberapa langkah adalah suatu hal yang dilakukan dalam kehidupan dan merupakan kenyataan sehari-hari kegiatan kita. Ungkapan itu sendiri sebetulnya mengacu kepada suatu sikap hidup yang amat penting untuk dipahami dengan baik, yaitu sikap hidup berpikir dan bertindak stategis.<br />
<span id="more-413"></span><br />
Tetapi meskipun “dalil” itu nampak mudah diucapkan, namun sebenarnya tidak semua orang dengan mudah melaksanakan. Karena “mundur selangkah” dapat mengesankan suatu kekalahan, maka orang yang tinggi hati biasanya tidak mau melakukannya, sebab kuatir dinilai sebagai orang yang kalah. Padahal, dengan tidak mau “mengalah” secara taktis (sementara) itu dia justru terancam akan mengalami kekalahan strategis yang lebih besar.</p>
<p>Dalam sebuah tembang Jawa disebutkan ungkapan, Dedalane guna kalawan sakti wani ngalah duwue weksane. Terjemahnya, secara sedikit bebas, ialah “Jalan menuju kemenangan dan ketangguhan ialah sikap berani mengalah namun akhirnya memperoleh keunggulan”. Ini adalah isyarat agar dalam hidup ini kita mengenali mana bagian dari kegiatan kita yang bernilai alat (instrumental) dan mana pula yang bernilai tujuan (intrinsik), mana yang jangka pendek (taktis) dan mana pula yang jangka panjang (strategis). Selanjutnya, kita hendaknya menyadari bahwa yang instrumental dan taktis selalu sekunder kedudukannya dibanding yang intrinsik dan strategis. Sedangkan yang intrinsik dan strategi adalah primer.</p>
<p>Jika menyadari hal itu, maka kita akan mampu mengambil sikap yang tepat dan tenang dalam menghadapi situasi-situasi yang menghendaki agar kita bersedia mengorbankan hal yang sekunder untuk mempertahankan dan menjamin tercapainya hal yang primer. Dengan tenang dan penuh perhitungan kita akan mundur selangkah (mengalah atau “kalah” dalam jangka pendek), agar supaya dapat maju beberapa langkah (yang akan membawa kemenangan dalam jangka panjang).</p>
<p>Jika kita tidak sepenuhnya menyadari persoalan itu, maka kemungkinan besar kita terjembab ke dalam sikap-sikap mendahulukan “gengsi” yang semu, yang akan membuat tindakan kita menjadi emosional, seperti yang dapat disaksikan pada banyak orang yang dalam hidup sehari-hari tidak mau mengalah sama sekali. Kita tahu bahwa dari sudut lain sikap itu juga bisa dipadang sebagai kekanak-kanakan.</p>
<p>Oleh karena itu menarik sekali merenungkan mengapa agama selalu mengajarkan sifat dan watak kesabaran. “Sabar” (Arab: shabr) artinya tabah menderita, yakni, sanggup menunda kesenangan sementara (seperti kesenangan karena merasa “menang” dalam hal-hal sekunder) karena kita berharap dan yakin akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar dan lama. Jadi sama dengan makna tembang Jawa tadi, dan senafas dengan semangat pepatah Indonesia. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.</p>
<p>Disebabkan sangat pentingnya sikap hidup yang penuh kedewasaan itu, maka Kitab Suci memperingatkan kita semua agar tidak tertipu oleh hal-hal yang bersifat segera, sambil melupakan hal-hal yang akan kita temui di belakang hari (Q., 75: 20 dan Q., 76: 27). Dan bahwa takwa kepada Allah itu terkait erat dengan sikap hidup memandang jauh ke depan, tidak hanya untuk di sini dan kini saja (Q., 59: 18). ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.<br />
</em></p>
<br />Posted in Ensi Q - S, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: kesenangan, mengalah, sabar, sikap hidup <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/413/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&amp;blog=3836764&amp;post=413&amp;subd=thenafi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/05/16/sabar-menunda-kesenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/05/dsc6822.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">_DSC6822</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
