<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The Nafi's Story</title>
	<atom:link href="http://thenafi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thenafi.wordpress.com</link>
	<description>Aku dan Cerita-ceritaku</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Nov 2009 07:47:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='thenafi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/31e0f9da942875258648af43b5908ecd?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>The Nafi's Story</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Ya Allah, Berikanlah Petunjuk-Mu kepada Orang-orang Yahudi</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 07:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[arab]]></category>
		<category><![CDATA[israel]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[suri tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>
		<category><![CDATA[Yitzak Rabin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[Kira-kira setahun yang lalu, ketika pasukan Israel membombardir Gaza-Palestina, seorang alim duduk tafakur di atas sajadahnya. Ia berdoa semoga Allah selalu memberikan keselamatan, kedamaian, dan ketenangan kepada Bangsa Palestina yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan itu. Namun, ia juga berdoa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang Yahudi agar mereka sadar akan kekhilafannya selama ini. Ia mafhum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=496&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/damai-dengan-hati-nurani-2/" rel="attachment wp-att-502"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/damai-dengan-hati-nurani1.jpg?w=113&#038;h=150" alt="damai dengan hati nurani" title="damai dengan hati nurani" width="113" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-502" /></a>Kira-kira setahun yang lalu, ketika pasukan Israel membombardir Gaza-Palestina, seorang alim duduk tafakur di atas sajadahnya. Ia berdoa semoga Allah selalu memberikan keselamatan, kedamaian, dan ketenangan kepada Bangsa Palestina yang sedang mengalami tragedi kemanusiaan itu. Namun, ia juga berdoa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang Yahudi agar mereka sadar akan kekhilafannya selama ini. Ia mafhum mengapa orang-orang Yahudi sampai melakukan semua itu. Hal tersebut tak lain karena orang-orang Yahudi tak menyadari atau mungkin tak mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu adalah suatu kesalahan, kezaliman, dan kejahatan kemanusiaan.<br />
<span id="more-496"></span><br />
Orang alim ini teringat kepada Rasulullah yang ketika itu sedang dizalimi oleh penduduk suatu negeri. Sontak saja Malaikat Jibril meminta Rasulullah agar berdoa kepada Allah untuk menimpakan azab kepada negeri tersebut. Niscaya jika Rasulullah berdoa untuk ditimpakan azab kepada negeri itu, maka Jibril bersedia memberikan bantuannya untuk menghancurkan, membinasakan, mengazab, dan menimpakan bencana ke negeri tersebut.</p>
<p>Rasulullah yang baik dan lembut hatinya itu kemudian mengatakan kepada Jibril, bahwa ia tak ingin berdoa seperti itu, serta tak ingin juga Jibril menimpakan azab kepada penduduk negeri tersebut. Rasulullah mengatakan, orang-orang yang menzaliminya itu tak lebih karena mereka tidak mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu adalah suatu kesalahan. Karena itulah, Rasulullah berdoa kepada Allah agar memberikan petunjuk kepada penduduk negeri yang telah menzaliminya itu.</p>
<p>Entah kini masihkah mampu Umat Islam berdoa seperti halnya doa orang alim tersebut. Entah kini masihkah ada Umat Islam yang meneladani akhlak Rasulullah yang dengan mudah memaafkan orang-orang yang menzaliminya, bahkan mendoakan suatu kebaikan untuk mereka.</p>
<p>Selama ini mungkin telah begitu sering kita mendengar para penceramah yang berpidato berapi-api. Dalam ceramahnya itu ia mengutuk habis-habisan kekejaman orang-orang Yahudi terhadap Bangsa Palestina. Bahkan Sang Penceramah mengajak para jamaahnya berdoa dan memohon kepada Allah agar menimpakan azab kepada orang-orang Yahudi. Lantas ketika Allah telah menjatuhkan azabnya kepada orang-orang Yahudi, apakah ada keuntungannya bagi Umat Islam?</p>
<p>Sang Penceramah mungkin lupa, bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam ini, bukan hanya rahmat bagi manusia, terlebih lagi bukan hanya rahmat bagi Umat Islam. Bukankah orang-orang Yahudi itu manusia juga? Bukankah mereka itu juga merupakan bagian dari alam semesta ini?</p>
<p>Mungkin telah hilang dari ingatan Sang Penceramah, bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling luhur akhlaknya di muka bumi ini. Di mana pun Rasulullah berada, selalu kedamaian yang beliau bawa dan tebarkan. Ketika pembebasan Kota Mekah, tak ada satu pun nyawa yang melayang. Ketika dalam peperangan kaum muslimin melawan orang-orang musyrikin, Rasulullah selalu berpesan kepada pasukannya agar para tawanan perang dijamin keselamatannya dan diberlakukan secara baik.</p>
<p>Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin di akhir-akhir masa hidupnya selalu menyerukan perdamaian kepada bangsanya. Dengan indahnya Bill Clinton (Presiden Amerika Serikat ketika itu) mempertemukan Yitzak Rabin dan Yasser Arafat untuk melakukan perdamaian. Yasser Arafat pun tak segan-segan mendatangi keluarga Yitzak Rabin dan mengucapkan belasungkawa atas wafat dan terbunuhnya Perdana Menteri Israel itu. Para pemimpin negara-negara Arab pun berdatangan menghadiri upacara pemakaman Yitzak Rabin dan mengucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafat dan terbunuhnya pemimpin Israel tersebut.</p>
<p>Telah begitu banyak akhlak mulia dan suri tauladan yang dicontohkan oleh Rasulullah terhadap kita. Dan tak sedikit pula akhlak luhur yang telah ditunjukkan oleh para pemimpin dunia Islam dan juga dunia internasional demi kedamaian dunia ini. Mudah-mudahan Umat Islam kini, dan juga segenap umat manusia kini masih bisa meneladani akhlak mulia tersebut.</p>
<p>Alangkah indah dan damainya dunia ini andaikan seluruh umat manusia saling mendoakan kebaikan bagi sesama manusia, dan juga bagi alam semesta ini. Mungkin kita pernah mendengar statemen yang berbunyi &#8220;<em>Marilah kita mati bersama-sama di jalan Tuhan.</em>&#8221; Namun kebalikannya, seorang cendekiawan muslim pernah mengatakan &#8220;<em>Marilah kita hidup bersama-sama dengan damai di jalan Tuhan.</em>&#8221; Entah mana yang cenderung akan kita pilih: mati di jalan Tuhan atau hidup dengan damai di jalan Tuhan. Tentunya kita berharap agar dunia ini selalu diliputi oleh kedamaian. Semoga. <strong>[Hanafi Mohan-Ciputat, Minggu 1 November 2009, 15.37-16-57 WIB]</strong></p>
<p>Sumber Gambar: <a href="http://thepeace-ofwar.blogspot.com/2009_10_01_archive.html">http://thepeace-ofwar.blogspot.com/</a></p>
<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikalah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/"><br />
http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
Posted in Beriman secara Lapang Tagged: akhlak Rasulullah, arab, israel, Muslim, suri tauladan, Yahudi, Yasser Arafat, Yitzak Rabin <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/496/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/496/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=496&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/11/02/ya-allah-berikanlah-petunjuk-mu-kepada-orang-orang-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/11/damai-dengan-hati-nurani1.jpg?w=113" medium="image">
			<media:title type="html">damai dengan hati nurani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiba-Tiba Menjadi Islam</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beriman secara Lapang]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[terpaksa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Warisan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan agama, keyakinan, dan kepercayaan yang kita anut selama ini. Umat beragama apapun itu. Tak terkecuali mayoritas Umat Islam. Bahkan hal tersebut sudah kita warisi semenjak lahir. Jadi, ketika kita lahir, tiba-tiba kita sudah menjadi Islam. Hinggalah kita beranjak besar, remaja, dewasa, tua, hingga kematian menjemput. Tak terkecuali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=487&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur-2/" rel="attachment wp-att-491"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/10/2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur1.jpg?w=150&#038;h=125" alt="2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur" title="2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur" width="150" height="125" class="alignleft size-thumbnail wp-image-491" /></a>Warisan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan agama, keyakinan, dan kepercayaan yang kita anut selama ini. Umat beragama apapun itu. Tak terkecuali mayoritas Umat Islam. Bahkan hal tersebut sudah kita warisi semenjak lahir. Jadi, ketika kita lahir, tiba-tiba kita sudah menjadi Islam. Hinggalah kita beranjak besar, remaja, dewasa, tua, hingga kematian menjemput. Tak terkecuali aku.<br />
<span id="more-487"></span><br />
Semenjak lahir, disematkanlah berbagai macam simbol untuk menegaskan keislaman kita. Diazankan, diiqamatkan, diberi nama ala Islam yang cenderung kearab-araban, diaqiqahkan, dikhitan, dan entah apalagi hal serupa yang tak lain untuk menegaskan, bahwa kita ini Islam.</p>
<p>Tiba-tiba kita sudah menjadi Islam, dengan berbagai macam pernak-perniknya. Mengucap dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, percaya kepada rasul, percaya kepada kitabullah, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada qadha’ dan qadar. Yang kadang kita  pun tak mengerti, apa sebenarnya maksud semua itu akan diri dan kedirian kita. Yang pasti, kita harus meyakini dan menjalankannya, tanpa ada satupun ruang untuk kita bertanya akan semua hal tersebut.</p>
<p>Jika kita menyakini semua hal tersebut dengan seyakin-yakinnya, maka kita akan masuk surga, yaitu suatu tempat yang sangat indah yang disediakan oleh Tuhan untuk hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Namun sebaliknya, jika kita tidak meyakininya, maka kita akan dimasukkan ke dalam suatu tempat penyiksaan yang bernama neraka.</p>
<p>Setiap kita di waktu kecil mungkin pernah membayangkan pedihnya penyiksaan di neraka, dan nikmatnya surga. Jika kita teringat akan pedihnya siksa di neraka, maka kecutlah hati ini. Sehingga dengan begitu segala gerak-gerik kita pun terdorong oleh rasa takut. Panas, menggelegak, dan entah apa lagi bayangan ketakutan itu susul-menyusul mendera kita. Bayangan itu meneror pada saat masa-masa belia kita. Sepertinya tak ada lagi pemahaman yang selain itu. Melalui sekolah, melalui lingkungan, melalui bacaan, semuanya seakan-akan menggiring kita kepada pemahaman tersebut, semuanya seakan-akan bersatu dan bekerjasama untuk menakut-nakuti masa kecil kita.</p>
<p>Sebaliknya, kita juga diiming-imingi oleh manis, nikmat, dan indahnya surga. Yang satu ini tentunya tak begitu saja didapatkan. Berbuatlah kebaikan, taatlah kepada Tuhan, selalulah beramal shaleh, berbaktilah kepada kedua orang tua, pokoknya … bla…bla…bla…, kita dikondisikan untuk selalu menjadi orang baik, taat, serta rajin beramal-ibadah. Surga adalah hadiah dari kebaikan, ketaatan, dan amal ibadah yang kita lakukan itu.</p>
<p>Seperti inilah wajah keberagamaan kita. Seperti inilah keislaman yang kita anut. Agama ini kita warisi. Kebanyakan dari kita mungkin tidak memeluk dan menjalankannya secara sadar dan tulus. Atau secara sederhananya bahwa kita menganut agama ini dan juga menjalankan ritual-ritual di dalamnya lebih secara terpaksa. Kita mungkin jarang yang mau mengakui hal ini. Atau mungkin mayoritas kita meyakini adanya larangan mempertanyakan yang seperti ini.*** [<em>Hanafi Mohan</em>]   </p>
<p>Sumber: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/#more-487">http://thenafi.wordpress.com/</a> </p>
Posted in Beriman secara Lapang Tagged: agama, Iman, Islam, keyakinan, neraka, simbol, surga, terpaksa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=487&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/29/tiba-tiba-menjadi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/10/2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir yang Serampangan mengenai Gempa Padang Tertulis Dalam Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 10:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[al-qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan berikut ini aku dapatkan dari tulisan pada link ini:http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520

yang ternyata tulisan tersebut juga mengambil tulisan dari link ini: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370
Terus terang, aku agak jengah dengan beberapa pernyataan dan tulisan mengenai Gempa Bumi Sumatera Barat yang dikait-kaitkan dengan Tafsir Alqur&#8217;an yang serampangan seperti yang tertulis di link tersebut di atas. Dan terus-terang, aku agak terganggu dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=483&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Tulisan berikut ini aku dapatkan dari tulisan pada link ini:</strong><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520">http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520<br />
</a><br />
<strong>yang ternyata tulisan tersebut juga mengambil tulisan dari link ini:</strong> <a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370">http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370</a></p>
<p><strong>Terus terang, aku agak jengah dengan beberapa pernyataan dan tulisan mengenai Gempa Bumi Sumatera Barat yang dikait-kaitkan dengan Tafsir Alqur&#8217;an yang serampangan seperti yang tertulis di link tersebut di atas. Dan terus-terang, aku agak terganggu dengan tulisan tersebut, karena sepertinya Al-Qur&#8217;an kini telah menjelma menjadi Kitab Suci Pertogelan ataupun Kitab Suci Primbon.</p>
<p>Berikut inilah tulisan yang aku maksud tersebut:</strong><br />
<span id="more-483"></span><br />
Pukul 17.16 waktu setempat, hari Kamis, 30 September 2009, Sumatera Barat diguncang dengan kekuatan 7,6 skala ricter (SR). Data terakhir menyebutkan, gempa di Padang sudah lebih dari 500 orang tewas yang sudah berhasil ditemukan dari reruntuhan. Diprediksi jumlah Korban tewas akan terus bertambah.</p>
<p>Betulkah gempa di Pariaman, Padang, Sumatera Barat itu sudah tertulis dalam al-Qur’an?? Menelisik waktu, tanggal serta bulan kejadian Gempa Padang, Sumatera Barat dengan mengkorelasikan ayat-ayat al-Quran. Dan hasilnya, Astagfirullah, aku berlindung dari azab dan murka-Mu, dalam dua ayat dari dua angka (waktu dan tangal-bulan) kejadaian gempa itu, Allah benar-benar membuktikan janji-Nya yang tertulis dalam al-Qur’an.</p>
<p>Pertama, dilihat dari waktu kejadian, yakni pukul 17.16 waktu setempat dikorelasikan dengan surat ke 17 (Al-Isra) ayat 16, dikutip dari al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama, terjemahannya adalah:</p>
<p>“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami). Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (Surat 17 (Al-Isra) ayat 16).</p>
<p>Kedua, dilihat dari tanggal dan bulan kejadaian, atau Tanggal 30 Bulan ke 9 (September) terjadinya gempa dikorelasikan dengan surat ke 30 (Ar-Rum) ayat 9. Dikutip dari sumber yang sama, terjemah ayat tersebut adalah:</p>
<p>“Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri,” (surat 30:9)</p>
<p>Dan pada ayat selanjutnya atau ayat 10 surat yang sama , Allah berfirman: “Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu mengolok-oloknya,” (Surat 30:10).</p>
<p>Tidak bermaksud menjustifikasi, namun sekedar mengingatkan kembali, dalam lima tahun terakhir ini ada lima rentetan gempa bumi skala besar dengan menwaskan puluhan hingga ribuan orang. 26 Desember 2004, Gempa yang disertai badai Tsunami di Aceh dengan 133.029 korban tewas. 28 Maret 2005 Gempa Nias dan P Simeulue jumlah korban tewas 900 orang. Disusul dengan gempa di Selatan Yogyakarta pada 27 Mei 2006, 3.000 orang meninggal dunia.</p>
<p>Dua peristiwa gempa besar terjadi pada tahun September 2009, yakni di Tasikmalaya dengan korban tewas 85 orang. Dan terakhir Gempa mengguncang di Pariaman, Padang, Sumatera Barat, pukul 17.16 atau beberapa jam saja sebelum anggota DPR/MPR dilantik yang banyak menghabiskan dana belasan milyaran rupiah….</p>
<p>“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali (dalam setahun) atau dua kali (dalam setahun), namun mereka juga (tidak mau) bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran” [QS Attaubah (9): 126]. ###</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
<p><strong>Sumber sebelumnya:</strong><br />
<a href="http://wedonotgoblog.blogspot.com/2009/10/belum-terlambat-untuk-taubat.html">wedonotgoblog.blogspot.com</a><br />
<a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=157365884520">recommended to read: Gempa Padang tertulis dalam AlQur&#8217;an</a><br />
<a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2517370">Gempa Padang Tertulis Dalam Al-Quran??</a></p>
Posted in Catatan Lepas Tagged: al-qur'an, Gempa Bumi, Padang, Sumatera Barat, tafsir <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=483&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/10/15/tafsir-yang-serampangan-mengenai-gempa-padang-tertulis-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keistimewaan Ramadhan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 09:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[laylatul quran]]></category>
		<category><![CDATA[nuzulul quran]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah pernah mengungkapkan pesan yang merupakan doa agar kita pun mengikutinya, yaitu:
Allahumma baarikna fi rajjab wa baarikna fi sya’ban wa baalikna ila ramadhan (Ya Allah, anugerahkanlah berkah kepada kami pada bulan Rajjab, dan anugerahkanlah berkah kepad akami pad abulan Sya’ban, serta sampaikanlah kami semuanya kepada bulan Ramadhan).

Dari doa ini tersirat, bahwa Rasulullah dan juga kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=476&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/ibeauty4/" rel="attachment wp-att-477"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/ibeauty4.jpg?w=72&#038;h=72" alt="IBEAUTY4" title="IBEAUTY4" width="72" height="72" class="alignleft size-full wp-image-477" /></a>Rasulullah pernah mengungkapkan pesan yang merupakan doa agar kita pun mengikutinya, yaitu:</p>
<p><em>Allahumma baarikna fi rajjab wa baarikna fi sya’ban wa baalikna ila ramadhan</em> (Ya Allah, anugerahkanlah berkah kepada kami pada bulan Rajjab, dan anugerahkanlah berkah kepad akami pad abulan Sya’ban, serta sampaikanlah kami semuanya kepada bulan Ramadhan).<br />
<span id="more-476"></span><br />
Dari doa ini tersirat, bahwa Rasulullah dan juga kita semuanya selalu mengharap agar dapat menemui Ramadhan setiap tahunnya. Ungkapan Rasulullah tersebut pasti bukan tanpa alasan. Seperti kita ketahui, bahwa bulan ini menjadi istimewa karena pada bulan inilah pertama kali Alquran diturunkan (nuzulul quran). Hal ini jelas diungkapkan di dalam Alquran:</p>
<p><em>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.</em> (Q.S. Al-Baqarah: 185)  </p>
<p>Pada ayat di atas ada kalimat “<em>unzila fiihil quraan</em>”. Dalam Alquran ketika berbicara tentang kitab suci ini dalam kaitan penurunannya, Allah menggunakan tiga istilah, yaitu: <em>nazzala</em> (menurunkan), <em>anzala</em> (menurunkan), dan <em>unzila</em> (diturunkan). Apakah perbedaan antara  <em>anzala</em> dan <em>nazzala</em>? Ternyata kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, <em>anzala</em> dan <em>nazzala</em> artinya sama-sama “menurunkan”. Dalam kaidah ilmu Sharaf, <em>nazzala</em> itu mengisyaratkan <em>li taksir</em> (untuk mengungkapkan peristiwa yang berulang-ulang). Sehingga kalau dikatakan: <em>nazzalal quran</em> (menurunkan Alquran secara berulang-ulang) ini artinya sesuai dengan yang diterima Rasulullah, karena Rasulullah tidak menerima Alquran  secara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit.</p>
<p>Dari sinilah kemudian ulama Alquran bersepakat, bahwa <em>anzala</em> dan <em>nazzala</em> walau artinya sama-sama menurunkan, tapi mempunyai perbedaan dalam cara penurunannya. <em>Anzala</em> artinya adalah Allah menurunkan sekaligus. Sedangkan <em>nazzala</em> artinya adalah Allah menurunkan sedikit demi sedikit (berangsur-angsur) ayat demi ayat secara berulang-ulang. Mengenai makna ini dapat dilihat pada ayat berikut ini:</p>
<p><em>Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur&#8217;an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.</em> (Q.S. Ali Imraan: 3)</p>
<p>Pada ayat di atas jelas tertulis bahwa ketika membicarakan Alquran, Allah mengungkapkan dengan kata <em>nazzala</em>. Tetapi ketika membicarakan Taurat dan Injil, Allah mengungkapkan dengan kata <em>anzala</em>. Ternyata di dalam sejarah Alquran juga diungkapkan, bahwa pewahyuan kepada Nabi Musa untuk menerima Taurat itu terjadi sekaligus. Dalam Surah Al-Baqarah diungkapkan:</p>
<p><em>Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.</em> (Q.S. Al-Baqarah: 51)</p>
<p>Jadi, Nabi Musa menerima Taurat itu sekaligus. Maka di dalam Alquran digunakan kata <em>anzala</em>. Sedangkan Rasulullah menerima Alquran secara sedikit demi sedikit, maka digunakanlah kata <em>nazzala</em>. Bagaimanakah kaitannya dengan penurunan Alquran pada bulan Ramadhan?</p>
<p>Ketika dikaitkan dengan kapankah diturunkannya Alquran, maka diungkapkan bahwa turunnya Alquran pada bulan Ramadhan, tepatnya yaitu pada <em>laylatul qadr</em>:</p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan.</em> (Q.S. Al-Qadr: 1)</p>
<p><em>Laylatul qadr</em> yang dimaksud yaitu seperti yang diungkapkan pada ayat berikut ini:</p>
<p><em>sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.</em> (Q.S. Ad-Dukhaan: 3)</p>
<p>Karena itulah, malam <em>qadr</em> (<em>laylatul qadr</em>) itu disebut juga sebagai malam yang penuh berkah.</p>
<p><strong>Tahap-Tahap Turunnya Alquran</strong></p>
<p>Para ulama mengisyaratkan bahwa Alquran itu turun dalam tiga tahap:</p>
<p><strong>Tahap pertama</strong>, Alquran diturunkan Allah ke <em>Lauh Mahfuzh</em>. Dalam salah satu ayat diungkapkan:</p>
<p><em>(21) Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur&#8217;an yang mulia, (22) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.</em> (Q.S. Al-Buruuj: 21-22)</p>
<p><strong>Tahap kedua</strong>, penurunan dari <em>Lauh Mahfuzh</em> ke <em>Baytul Izzah</em>. Di sinilah Alquran diturunkan sekaligus.</p>
<p><strong>Tahap ketiga</strong>, dari <em>Baytul Izzah</em> kepada Rasulullah secara bertahap yang awalnya adalah Surah Al-‘Alaaq ayat 1 sampai 5.</p>
<p>Sedangkan mengenai ayat Alquran yang terakhir turun, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hal itu. Ada yang mengatakan bahwa yang terakhir turun itu adalah Surah Al-Maidah ayat 3. Namun ayat ini setelah dilacak ternyata turun pada saat Rasulullah melaksanakan Haji Wadaa’. Setelah haji wadaa’ itu selesai, Rasulullah masih hidup 2 bulan 22 hari. Padahal, ternyata ada ayat yang turun sembilan hari sebelum Rasulullah wafat, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 261. </p>
<p>Sehingga kemudian para ulama bersepakat, bahwa Surah Al-Maidah ayat 3 adalah ayat terakhir yang berkaitan dengan hukum, karena ayat itu membicarakan mengenai hukum-hukum yang ditetapkan Allah. Sedangkan Surah Al-Baqarah ayat 261 merupakan ayat terakhir dari segi waktu turunnya.</p>
<p><em>Nuzuul</em> artinya adalah turun. <em>Nuzuulul quran</em> berarti turunnya Alquran. Apakah maknanya Alquran itu dikatakan turun? Yang turun bukanlah Alquran yang berbentuk buku, melainkan yang turun itu adalah ayat-ayat yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah. Karena itulah, Allah selalu memakai kata anzalna (Kami menurunkan). Dalam hal ini Alquran tidak diturunkan secara langsung oleh Allah kepada Rasulullah, melainkan melalui perantaraan Malaikat Jibril.</p>
<p><strong>Laylatul Qadr</strong></p>
<p>Mengapakah malam <em>Nuzulul Quran</em> selalu diperingati?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, karena hal itu merupakan titik tolak dari adanya sumber petunjuk yang mestinya diikuti dan dilaksanakan oleh umat Islam. Lebih-lebih lagi ketika Alquran mengenalkan dirinya sebagai hudan linnaas (sebagai petunjuk bagi manusia). Tetapi, kalau Alquran itu sendiri tidak dipahami dan tidak dilaksanakan, maka fungsinya sebagai petunjuk menjadi sia-sia, karena Alquran adalah benda mati, tidak mempunyai fungsi apa-apa, kecuali kalau kita yang meyakininya mau melaksanakan tuntunan-tuntunannya.</p>
<p>Sehingga dengan ungkapan: <em>Allahumma baalikna ila ramadhan</em> (Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan) antara lain adalah untuk mengingatkan kembali bahwa pada bulan ini (Ramadhan) Alquran pertama kali diturunkan dan itu merupakan petunjuk bagi manusia yang mesti dilaksanakan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, bahwa dalam bulan Ramadhan ini juga terjadi sesuatu yang selalu dinantikan umat Islam, yaitu yang disebut <em>Laylatul Qadr</em> (malam <em>qadr</em>). <em>Laylatul Qadr</em> yaitu malam yang penuh berkah, karena pada malam ini nilai ibadah yang dilakukan umat Islam sama dengan jumlah yang mereka kerjakan selama seribu bulan. Pada malam ini pula para malaikat turun untuk menyampaikan berkah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih mendapatkan <em>Laylatul Qadr</em>.</p>
<p>Tapi kemudian muncul persoalan, kapankah sebenarnya <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi? Jika kita mencermati Surah Al-Qadr, bahwa Alquran itu diturunkan pada <em>Laylatul Qadr</em>. <em>Laylatul Qadr</em> yang disebutkan pada surah Al-Qadr ini diyakini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.</p>
<p>Namun di sisi yang lain, Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk mendapatkan <em>Laylatul Qadr</em> pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah memberikan contoh dengan melaksanakan ibadah secara intensif yang disertai dengan i’tikaf di masjid. Mengenai hal ini, ummul mu’minin Aisyah pernah mengungkapkan suatu hadis yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari:</p>
<p><em>Aisyah r.a. istri Nabi mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri&#8217;tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri&#8217;tikaf sepeninggal beliau.</em> (Al-Hadits)</p>
<p>Dalam shahih Bukhari diriwayatkan lebih dari 40 hadis yang berbicara tentang <em>Laylatul Qadr</em>. Namun ternyata informasinya berbeda-beda. Ada hadis yang menyebutkan, bahwa <em>Laylatul Qadr</em> terjadi pada bulan Ramadhan tanpa disebutkan kapan waktunya (tanggal atau hari ke berapa dari bulan Ramadhan tersebut). Sehingga dengan demikian, <em>Laylatul Qadr</em> bisa turun di setiap saat selama bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan mensucikan diri, mengaktifkan ibadah, tekun membaca Alquran, karena siapa tahu <em>Laylatul Qadr</em> sudah turun pada awal-awal Ramadhan.</p>
<p>Ada juga hadis lain yang menyatakan, bahwa <em>Laylatul Qadr</em> terjadi di awal atau puluhan awal Ramadhan. Sehingga sejak inilah umat Islam pun melakukan ibadah-ibadah dalam rangka mensucikan batin. Ada pula yang mengatakan bahwa <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi pada pertengahan Ramadhan. Mungkin yang menjadi dasar bahwa <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan adalah salah satu ayat di dalam Surah Al-Anfaal:</p>
<p><em>Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. </em>(Q.S. Al-Anfaal: 41)</p>
<p>Dua pasukan besar yang dimaksud yaitu pasukan muslimin dari Madinah dan pasukan kafir dari Mekah. Pertemuan dua pasukan tersebut terjadi tepat pada tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika Perang Badar. Dan 17 Ramadhan pada 13 tahun sebelumnya Rasulullah menerima wahyu yang pertama. Sehingga dari di sinilah kemudian dianggap bahwa 17 Ramadhan adalah Nuzulul Quran yang pertama, dan itu terjadi tepat pada <em>Laylatul Qadr</em>.</p>
<p>Namun, sebagian besar dari 40 hadis shahih Bukhari tersebut menyatakan bahwa <em>Laylatul Qadr</em> itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu dari malam 21 sampai malam 29. Sehingga dari sinilah Rasulullah pun menganjurkan umat Islam untuk beri’tikaf di masjid. Dan yang harus diingat juga, bahwa i’tikaf mesti dihayati sebagai sarana untuk mensucikan diri, karena ada orang yang sudah beri’tikaf, tetapi kemudian melalaikan yang wajib.</p>
<p>Karena itulah, jika ingin melaksanakan i’tikaf, tentunya harus didasari keimanan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah:</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah Radliyallaahu &#8216;anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan ibadah Ramadhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.”</em> (Muttafaq Alaihi)</p>
<p>Jadi, puasa yang kita laksanakan bukan karena merasa tidak enak terhadap tetangga ataupun malu dengan keluarga, melainkan betul-betul melaksanakannya karena Allah. Mungkin ada orang yang mau berpuasa agar menjadi sehat, bukan karena iman. Bisa jadi orang tersebut menjadi sehat, tetapi tidak akan mendapatkan balasan Allah dari imannya. Yang ia dapat sehatnya saja. Tapi kalau kita melakukan puasa dilandasi dengan keimanan, maka kita akan mendapatkan ridha Allah, dan juga akan mendapatkan kesehatan.</p>
<p><strong>Tujuan Berpuasa</strong></p>
<p>Puasa adalah suatu yang baik, maka di saat itu harus diisi pula dengan kegiatan-kegiatan yang baik sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Puasa merupakan bulan ibadah, karena itu kita pun harus mengisi waktu-waktunya dengan ibadah, baik itu ibadah mahdhah, maupun ibadah muamalah (sosial).</p>
<p>Ramadhan juga mempunyai makna “pembakaran”. Yang dibakar adalah semua dosa-dosa yang telah kita lakukan. Sehingga dengan begitu, dosa-dosa yang telah kita lakukan itu habis dibakar oleh ibadah kita di bulan Ramadhan. Karena ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di bulan ini, maka dosa-dosa yang telah kita lakukan menjadi terhapus dan diampuni oleh Allah. Tapi harus diingat juga, bahwa hal tersebut akan bermanfaat apabila kita tidak melanjutkan dan tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang pernah kita lakukan itu. Kalau pada Ramadhan kali ini kita membakar dosa kita, tapi kemudian setelah Ramadhan kita mengulangi lagi dosa-dosa tersebut, maka hal ini menjadi tidak bermakna, bahkan seolah-olah kita mempermainkan Allah.</p>
<p>Ramadhan memiliki keistimewaan-keistimewaan tertentu disebabkan ada peristiwa-peristiwa yang selalu akan mengingatkan kita untuk lebih meningkatkan kualitas takwa. Sehingga tujuan seperti diungkapkan Allah, yaitu: “<em>la allakum tattaqun</em>” (semoga engkau menjadi orang yang lebih bertakwa) akan terwujud melalui ibadah puasa yang kita lakukan. Di dalam ungkapan Alquran, kata <em>tattaqun</em> itu berbeda dengan kata <em>muttaqun</em>. Kalau <em>al-muttaqun</em> atau <em>al-muttaqin</em> artinya adalah orang yang sudah benar-benar bertakwa. Sedangkan <em>tattaqun</em> artinya adalah orang yang takwanya meningkat. Secara umum, kita termasuk ke dalam golongan <em>tattaqun</em>, yaitu orang yang takwanya selalu meningkat lebih baik.</p>
<p>Ungkapan yang hampir serupa dengan <em>tattaquun</em> yaitu <em>yaa ayyuhallaziina aamanu</em> (wahai orang-orang yang beriman). <em>Aamanu</em> di sini memakai kata kerja, berbeda dengan kata <em>al-mu’minun</em>. <em>Al-mu’minun</em> artinya juga orang-orang yang beriman. Tapi kalau diterjemahkan, makna sebenarnya dari <em>al-mu’minun</em> yaitu orang-orang yang benar-benar beriman. <em>Aamanu</em> yaitu orang yang beriman tapi masih bisa berubah-ubah (imannya fluktuatif atau turun naik), yaitu kadang-kadang imannya kuat, ibadahnya rajin, di saat yang lain ketika malas, imannya pun menurun. Kalau al-mu’minun yaitu orang yang imannya selalu stabil. Cirinya antara lain disebutkan di dalam Alquran:</p>
<p><em>(1) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (2) (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, (3) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (4) dan orang-orang yang menunaikan zakat,</em> (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-4)</p>
<p>Bandingkanlah dengan diri kita, apakah salat kita selama ini sudah khusyu’ atau belum? Jika memang salat kita belum khusyu’, maka belumlah pantas kita menjadi orang yang disebut <em>mu’minun</em>, namun barulah disebut <em>aamanu</em>. Yang pasti, kita ingin meningkat menjadi <em>al-mu’minun</em>.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan ini kita semuanya juga mesti siap untuk berzakat, baik itu <em>zakat maal</em>, maupun <em>zakat fitrah</em>. Jangan sampai bagi yang berkecukupan secara materi ketika ditanya apakah sudah berzakat, lalu dikatakannya sudah berzakat yaitu 2,5 liter beras. Padahal itu barulah <em>zakat fitrah</em>, sedangkan <em>zakat maal</em>nya tak pernah dikeluarkan.</p>
<p>Dengan itu semuanya, semoga Ramadhan kita kali ini akan lebih baik dari yang telah lalu. Bahkan ketika sudah puluhan kali kita berpuasa di bulan Ramadhan, pernahkah ada Ramadhan yang berkesan dalam sanubari kita karena keutamaan ibadah yang kita lakukan? Kalau sudah ada, maka pada Ramadhan kali ini hal itu ditingkatkan kembali. Kalau belum ada, buatlah Ramadhan kali ini menjadi yang terbaik dalam nuansa kerohanian dan spiritual kehidupan kita. Sebagaimana ungkapan Allah di dalam Alquran:</p>
<p><em>Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.</em> (Q.S. Al-Hadiid: 16)</p>
<p>Buatlah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan yang terbaik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Sehingga sesuai dengan pesan Rasulullah, bahwa siapa saja yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia beruntung.</p>
<p>Marilah kita menjadi orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah, yaitu termasuk orang yang beruntung. Caranya yaitu dengan menjadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelum-sebelumnya, diisi dengan memperbanyak salat sunnah (selain juga salat fardhu), banyak berzikir, banyak tadarrus, banyak berdoa, banyak i’tikaf, serta banyak melakukan kebaikan-kebaikan untuk sesama manusia. Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang fitri pada akhir Ramadhan kelak. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hamdani Anwar pada tanggal 23 Agustus 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/#more-476">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: laylatul quran, nuzulul quran, puasa, ramadhan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=476&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/11/keistimewaan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/ibeauty4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IBEAUTY4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Spirit Musyawarah</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[musyawarah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sering kita mendengar tentang tujuan puasa seperti yang termaktub pada Surah Al-Baqarah ayat 183:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Tujuan puasa adalah untuk menciptakan orang-orang yang bertakwa. Kita sudah sering mendengarkan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa, baik di dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, maupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=466&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/halab-2/" rel="attachment wp-att-473"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/halab1.jpg?w=200&#038;h=300" alt="HALAB" title="HALAB" width="200" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-473" /></a>Sudah sering kita mendengar tentang tujuan puasa seperti yang termaktub pada Surah Al-Baqarah ayat 183:</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,<br />
<span id="more-466"></span><br />
Tujuan puasa adalah untuk menciptakan orang-orang yang bertakwa. Kita sudah sering mendengarkan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa, baik di dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, maupun surah-surah yang lain. Di antara yang disebut tentang ciri-ciri orang yang beriman dan bertakwa adalah yang terdapat di dalam Surah Asy-Syuura 38:</p>
<p>Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.</p>
<p>Dari ayat di atas dapatllah kita ketahui, bahwa ajaran Islam mencakup:<br />
- Persoalan akidah.<br />
- Melaksanakn shalat, dan di mana-manapun sering disebutkan mengenai shalat ini. Karena begitu pentingnya salat, sehingga ada hadis:</p>
<p>Ash-shalatu imaduddin fa man aqaamaha faqad aqaamaddin (salat itu adalah tiang agama, sehingga barang siapa yang melaksanakan salat, maka dia berarti menegakkan agama).</p>
<p>- Terkait dengan kebutuhan umat manusia dan terkait dengan kehidupan bersama, baik itu di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara, yaitu dengan melaksanakan musyawarah. Ini sudah dijelaskan di dalam Alquran maupun Hadis. Di dalam Alquran disebutkan: wa syawirhum fil amr (Nabi Muhammad juga disuruh untuk bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.)</p>
<p>- Terhadap benda, salah satu kriteria (ciri khas) orang yang bertakwa adalah orang yang mendermakan sebagian dari harta bendanya. Berulang kali dinyatakan di dalam Alquran: wa yanfiquuna fish-sharra wadh-dharra. Selain itu, di dalam hadis atau ayat yang lain juga dijelaskan mengenai hal ini.</p>
<p>Pada saat ini kita akan membahas tentang musyawarah, yang sebagian orang mengatakannya sebagai demokrasi. Tapi dalam hal ini kita tidak akan membicarakan demokrasi.</p>
<p>Musyawarah diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi, baik itu masalah-masalah yang normal saja, misalkan berkaitan dengan persoalan rumah tangga, ataupun persoalan yang lebih besar dan rumit seperti yang berkaitan dengan pengelolaan negara. Begitu pentingnya musyawarah, sehingga para pendiri negara ini juga memasukkan musyawarah ke dalam salah satu sila di dalam Pancasila, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Hal ini sungguh dipengaruhi oleh ajaran Islam, karena kata-kata musyawarah adalah bahasa Alquran, sehingga pengaruh ajaran Islam memang nampak sekali pada sila yang keempat pada Pancasila.</p>
<p>Musyawarah tidak hanya terkait dengan persoalan-persoalan yang akan direncanakan, tetapi juga dalam kondisi yang tidak normal, misalkan ketika adanya perbedaan pendapat pada suatu keluarga atau masyarakat. Sehingga alangkah baiknya jika terdapat perbedaan pendapat, maka bermusyawarahlah untuk menyelesaikannya.</p>
<p>Mengapa kita harus menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut melalui musyawarah? Tak dapat dipungkiri,  bahwa setiap manusia tidak akan memiliki pendapat dan kepentingan yang sama persis. </p>
<p>Perbedaan pendapat merupakan salah satu sumber konflik potensial. Karena itulah, alangkah lebih baiknya perbedaan pendapat tersebut diselesaikan dengan jalan musyawarah, sehingga konflik tersebut tidak akan terjadi dalam bentuk fisik. Begitu juga perbedaan-perbedaan pendapat di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun sayangnya, hal ini belum dilaksanakan sepenuhnya oleh Umat Islam. Buktinya, kita masih sering mendengar adanya pertengkaran, konflik, adu jotos, dan sebagainya, tak terkecuali misalkan di dalam PILKADA.</p>
<p>Ada dua tahap dalam menyelesaikan permasalahan itu melalui musyawarah:</p>
<p>Di dalam Alquran disebutkan, misalkan jika permasalahan keluarga, jika suami dan istri memiliki problem yang begitu sulit untuk diselesaikan, maka masing-masing pihak mengutus mediator. Hal ini juga bisa diterapkan pada konflik-konflik yang lain. Mediator-mediator itulah yang nantinya akan mencarikan jalan keluarnya, sehingga takkan terjadi konflik. Kalau hal tersebut ternyata tidak bisa diselesaikan dengan cara mediasi, maka barulah dibawa ke pengadilan . Dalam bahasa lain, mediasi juga disebut sebagai ishlah. </p>
<p>Innamal mu’minuna ikhwatun fa ashlihu bayna akhwaykum (sesama muslim itu adalah bersaudara, maka jika terjadi perbedaan pendapat di antara keduanya, maka Ishlakanlah keduanya).</p>
<p>Kalau tidak bisa dilakukan secara mediasi (ishlah), barulah dibawa ke pengadilan. Jika di dalam bahasa Alquran, mediasi disebut sebagai hakam, maka pengadilan adalah hakim. </p>
<p>Jika konflik tersebut tak bisa diselesaikan dengan cara ishlah, maka jalan selanjutnya adalah melalui pengadilan, bukan dengan cara adu fisik (kekerasan). Islam tak pernah menganjurkan menyelesaikan suatu permasalahan dengan cara kekerasan. </p>
<p>Melalui pengadilan lah permasalahan tersebut akan diputuskan, dan orang-orang yang terlibat konflik itu harus menerima keputusan dari pengadilan yang dimaksud. Tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu hakim yang memutuskan tersebut haruslah hakim yang berbuat adil. Bagi hakim yang tak bisa berbuat adil, maka ada hukumannya di hadapan Allah nanti. Ada tiga jenis hakim, dua masuk neraka, hanya satu yang masuk surga. Artinya, sangat berat untuk menjadi adil. </p>
<p>Ini adalah suatu mekanisme yang diajarkan oleh Islam untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi, untuk merencanakan masa depan kita, apakah itu urusan agama, ekonomi, politik, ataupun negara. Ketika terjadi perbedaan-perbedaan pendapat ataupun kepentingan, maka Islam sudah memberikan tuntunan yang jelas untuk menghadapinya, bukanlah dengan cara kekerasan. Karena itulah, jika ada yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan, maka tentunya anggapan itu adalah salah. </p>
<p>Dalam menyelesaikan masalah, misalkan jika kita melihat adanya kemaksiatan, maka kita harus bermusyawarah dahulu. Jadi semuanya bisa dilakukan dengan cara yang baik (bil maw’izatil hasanah), misalkan dengan cara musyawarah. Jadi, diubah dengan lisan, berarti maksudnya dengan cara musyawarah, bukanlah langsung dengan cara kekerasan dan main hakim sendiri. Kekerasan dan main hakim sendiri bukanlah ajaran yang baik. Di dalam Alquran sudah begitu jelasnya tuntunan untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini. Jika ada kemaksiatan, maka hal itu harus diselesaikan dengan cara musyawarah, diperingatkan dengan ucapan. Setelah itu, jika peringatan tersebut tidak diindahkan, barulah dengan tindakan, dan yang akan melakukannya adalah hakim, bukanlah dengan cara kekerasan, bertindak sendiri, dan main hakim sendiri. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Masykuri Abdilah pada tanggal 12 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://thenafi.wordpress.com/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: beriman, musyawarah, puasa, takwa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=466&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/08/466/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/halab1.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">HALAB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Pesan Moral di Dalamnya</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 10:50:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[pesan moral]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Ayat-ayat yang terkait dengan puasa tidak hanya Al-Baqarah ayat 183, melainkan jika kita perhatikan, ternyata ada tiga “la alla” di Surah Al-Baqarah, yaitu: ayat 183, 185, dan 187. Pertama: la allakum tattaqun, kedua: la allakum tasykurun, dan ketiga: la allahum yarsyudun.

Ketiga-tiga ayat ini berkaitan dengan ramadan dan puasa. Bisa kita pahami, bahwa yang diinginkan oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=456&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/fine-2/" rel="attachment wp-att-460"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/fine1.jpg?w=188&#038;h=163" alt="FINE" title="FINE" width="188" height="163" class="alignleft size-full wp-image-460" /></a>Ayat-ayat yang terkait dengan puasa tidak hanya Al-Baqarah ayat 183, melainkan jika kita perhatikan, ternyata ada tiga “la alla” di Surah Al-Baqarah, yaitu: ayat 183, 185, dan 187. Pertama: la allakum tattaqun, kedua: la allakum tasykurun, dan ketiga: la allahum yarsyudun.<br />
<span id="more-456"></span><br />
Ketiga-tiga ayat ini berkaitan dengan ramadan dan puasa. Bisa kita pahami, bahwa yang diinginkan oleh ibadah puasa adalah tercapainya tiga sikap ataupun tiga bentuk keberagamaan, yang satu sama lain terkait, tetapi masing-masing ada tuntutan tersendiri, yaitu antara ketakwaan, sikap bersyukur, dan orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah. </p>
<p>Yang menarik dari Surah Al-Baqarah, bahwa pada dua “la alla” yang pertama (la allakum tattaqun dan la allakum tasykurun), kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang kedua jamak. Tetapi pada “la alla” yang ketiga (la allahum yarsyudun), kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang ketiga jamak.</p>
<p>“La allakum”, seolah-olah berhadapan dengan kita. Siapapun yang berpuasa, maka ada jaminan untuk menjadi orang yang bertakwa. Siapapun yang berpuasa, maka ada jaminan bisa menjadi orang yang pandai bersyukur. Tetapi yang ketiga (la allakum yarsyudun: agar menjadi orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah), ini kelihatannya agak jauh bisa kita capai, karena orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah hanyalah para nabi, aulia, dan para syuhada. Kita semua dalam perjalanan menjalani kehidupan ini bisa dipastikan tak pernah luput dari kekeliruan dan dosa, baik itu disengaja ataupun tidak.</p>
<p>Berkaitan dengan konteks takwa,  bahwa rumusan takwa adalah menjalankan seluruh perintah dan menghindari seluruh larangan. Tetapi, yang menarik dari ayat 183, justru orang yang menjalani ibadah puasa masih dituntut untuk melahirkan sikap ketakwaan. Dari redaksi ayat ini, tuntutan ibadah puasa tidak sekedar kemampuan menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan lainnya, di mana bagi orang yang beriman menahan makan dan minum dalam batas-batas tertentu bukanlah suatu persoalan. Orang yang tidak sanggup menjalani puasa itu lebih dikarenakan tidak berbasis iman. Menahan makan dan minum di siang hari sepertinya adalah pekerjaan yang ringan. Tetapi ada tuntutan “la allakum tattaqun” pada ayat ini, yaitu ada pesan moral yang diminta dari orang-orang yang berpuasa. </p>
<p>Apa yang dimaksud dengan pesan moral dari ibadah puasa? Mengenai hal ini, ada suatu riwayat yang menyebutkan:</p>
<p>Pada suatu ketika di Bulan Ramadan, Rasulullah mendengar ada seorang ibu yang mencaci-maki pembantunya. Caci-maki tersebut didengar oleh Rasulullah, sehingga sahabat diminta untuk memanggil wanita itu. Lalu Rasulullah menyuruhnya mengambil makanan. Setelah wanita itu datang menghadap Rasulullah, lalu beliau menyuruh wanita itu makan makanan yang telah disediakan itu. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku sedang berpuasa.”</p>
<p>Kemudian Rasulullah berkata, “Banyak orang yang lapar, tetapi sedikit yang berpuasa. Allah tidak membutuhkan kalian menahan lapar dan haus di siang hari jika tak mampu menahan hawa nafsu.”</p>
<p>Dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa berpuasa bukanlah hanya sekedar menahan makan dan minum, melainkan ada tuntutan untuk menahan hawa nafsu. Di Bulan Ramadan ini, ekspresi kehidupan keagamaan kita kemudian meningkat.</p>
<p>Pada sebuah kitab dijelaskan, bahwa ada tiga pengandaian:</p>
<p><strong>Pengandaian Pertama</strong></p>
<p>Pada suatu ketika, ada seorang sahabat yang sedang berjalan. Di tengah jalan, ia melihat ada seorang pengemis yang meminta-minta. Sahabat itu sebenarnya hanya memiliki uang yang cukup untuk berbuka puasa. Setelah dipertimbangkan, sahabat itu kemudian memberikan seluruh uangnya kepada peminta-minta itu. Ternyata ia bermimpi, Allah memberikan balasan yang luar biasa. Ia berkata, seandaikan ia memberikan uang lebih besar lagi, pasti Allah akan melipat-gandakan lebih besar, karena peristiwa ini terjadi di Bulan Ramadan.</p>
<p><strong>Pengandaian Kedua</strong></p>
<p>Seorang sahabat ketika ia berjalan, tiba-tiba ia melihat ada seorang yang kedinginan di tengah jalan karena kehujanan. Melihat hal tersebut, diberikannya pakaian yang dipakainya kepada orang yang kedinginan itu. Sahabat tersebut kemudian bermimpi diberikan anugerah kenikmatan yang luar biasa. Lalu sahabat tersebut berkata, “Seandainya yang aku berikan itu bukan pakaian bekas, melainkan pakaian baru, tentunya Allah akan memberikan balasan yang luar biasa.” Mengapa? Karena hal ini terjadi di Bulan Ramadan.</p>
<p><strong>Pengandaian Ketiga</strong></p>
<p>Ada seorang tua yang tak bisa ke masjid karena harus dipapah. Untuk bisa berjamaah, rumahnya relatif jauh. Anaknya tidak ada yang menuntunnya. Tiba-tiba ada seorang pemuda mengantarkan orang tua tersebut ke masjid. Kemudian pemuda tersebut bermimpi mendapatkan balasan kenikmatan yang luar biasa dari Allah. Pemuda tersebut kemudian berkata, “Seandainya orang tua tersebut aku tuntun dari tempat yang lebih jauh dan bisa kulakukan setiap hari, maka nikmat yang akan diberikan oleh Allah tentunya akan sangat luar biasa besarnya.”</p>
<p>Pada Bulan Ramadan ini, sering kali kita menemui hal-hal yang seperti ini. Namun sering kali kita tidak terpanggil untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan itu. Bulan Ramadan ini merupakan bulan yang subur untuk melakukan seluruh kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan kemanusiaan.</p>
<p>Ketika Imam Al-Ghazali wafat, beliau dimimpikan oleh salah seorang sahabatnya, bahwa Imam Al-Ghazali diberikan balasan kenikmantan yang luar biasa di alam kuburnya. Terjadilah dialog dalam mimpi itu. Sahabat tersebut bertanya kepada Imam Al-Ghazali, “Apakah sebabnya sehingga Allah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepadamu?”</p>
<p>“Bukan karena Kitab Ihya Ulumuddin yang aku tulis, bukan karena aku ulama besar, dan bukan pula karena aku tokoh sufi, tetapi yang menyebabkan Allah memberikan kenikmatan kepadaku, bahwa pada suatu saat aku menulis kitab dengan tinta, lalu ada seekor lalat yang hinggap di ujung tinta tersebut hingga lalat tersebut kenyang, setelah itu barulah aku menggerakkan tinta tersebut,” jawab Imam Al-Ghazali di dalam mimpi itu.</p>
<p>Artinya, bahwa yang dituntut dari ibadah yang kita lakukan apapun bentuknya, maka harus ada ketulusan hati, ada perhatian terhadap kehidupan sosial, termasuk terhadap binatang yang menjijikkan sekalipun. </p>
<p>Dalam suatu hadis digambarkan, bahwa ada seorang ibu yang masuk neraka karena perlakuan ibu tersebut yang kasar terhadap seekor kucing. Kucing tersebut diikatnya dan dimasukkan ke dalam kamar dan tidak diberi makan, sehingga kucing tersebut kelaparan, dan kemudian mati.</p>
<p>Dalam hal ini, Islam ingin memberitahukan kepada umatnya, bahwa sebagai orang yang beriman, tidak cukup hanya melakukan hal-hal yang bersifat lahiriyah, melainkan yang lebih utama adalah ketulusan batin untuk memperhatikan lingkungan, termasuk juga terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Siapapun yang bersikap tidak baik terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka yang akan marah adalah yang menciptakan binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut (yaitu Allah), apalagi jika kita bersikap tidak baik terhadap sesama manusia.</p>
<p>Karena itulah, di balik semangat menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan, janganlah lupa untuk selalu berhati-hati di manapun kita berada, karena tingkat kejahatan di bulan Ramadan ini cukup meningkat. Perampokan, pencurian, bahkan pembunuhan bisa terjadi kapan dan di mana saja. Misalnya, karena hanya memikirkan lebaran, sehingga sering kali kita melupakan untuk saling bertenggang rasa. Itulah sebabnya, di Bulan Ramadan ini banyak orang-orang yang mati konyol, padahal dia pergi demi mencari nafkah untuk keluarganya, demi suksesnya ramadan. Karena itulah, kita harus selalu waspada. Ke manapun orang beriman pergi, maka ia akan selalu membawa ketakwaan, baik ketakwaan ritual maupun ketakwaan sosial. Insya Allah kita akan hidup selamat dalam bimbingan Allah SWT.</p>
<p>Mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan ramadan ini dengan sebaik-baiknya, hingga tuntas dan berakhir ramadan nanti, dan seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah. Kebaikan-kebaikan kita apapun bentuknya mudah-mudahan menjadi ciri ketakwaan kita di hadapan Allah SWT. Sekianlah, mudah-mudahan Allah menguatkan kita semua untuk bias beribadah di Bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. []</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrozi, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.</em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="http://thenafi.wordpress.com/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: moral, pesan moral, puasa, ramadan, ramadhan, takwa <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=456&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/09/01/puasa-dan-pesan-moral-di-dalamnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/09/fine1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FINE</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beribadah Puasa di Negeri yang Pada Suatu Musim Matahari Tak Pernah Tenggelam</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 10:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islamika]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Leningrad]]></category>
		<category><![CDATA[Moscow]]></category>
		<category><![CDATA[musim panas]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[St. Petersburg]]></category>
		<category><![CDATA[tropis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya pulang dari Amerika belasan jam di dalam pesawat. Di dalam pesawat, saya pun sambil membaca buku berjudul &#8220;Agama dan Sains&#8220;. Di sebelah saya ada seorang non Muslim, dia mengajak saya berdiskusi, dan kemudian saya iyakan. Dalam diskusi itu, orang non  Muslim tersebut menyatakan, bahwa menurutnya Islam kok sepertinya hanya cocok untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=448&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/leningrad_34/" rel="attachment wp-att-449"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad_34.jpg?w=150&#038;h=112" alt="leningrad_34" title="leningrad_34" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-449" /></a>Suatu ketika saya pulang dari Amerika belasan jam di dalam pesawat. Di dalam pesawat, saya pun sambil membaca buku berjudul &#8220;<em>Agama dan Sains</em>&#8220;. Di sebelah saya ada seorang non Muslim, dia mengajak saya berdiskusi, dan kemudian saya iyakan. Dalam diskusi itu, orang non  Muslim tersebut menyatakan, bahwa menurutnya Islam kok sepertinya hanya cocok untuk orang-orang yang ada di negara tropis.<br />
<span id="more-448"></span><br />
Saya tidak marah, tidak tersinggung, namun hanya ingin tahu mengapa dia berkesimpulan bahwa Islam hanya cocok untuk orang-orangg di negara tropis. Dia  pun berargumentasi, karena dia melihat bahwa ibadahnya orang Islam itu dikaitkan dengan pergerakan matahari di negara tropis. Shubuh (matahari belum terbit), Dzuhur (matahari tergelincir sedikit), Ashar, Maghrib, Isya, balik lagi ke Shubuh. Menurutnya, itu kan pergerakan matahari tropis. Kalau di Eropa Utara atau New Zealand ke selatan, pergerakan matahari tidak seperti itu (tidak seperti di negara-negara tropis).</p>
<p>Saya manggut-manggut, saya katakan bahwa benar juga yang dia katakan. Karena saya pernah suatu ketika ke Eropa, yaitu ke Belgia. Bahwa di Belgia jam 9 malam matahari belum tenggelam, jam 10 malam matahari barulah tenggelam, dan saya baru Shalat Maghrib jam 10 malam. Kalau kita ke utara lagi ke sebuah negara yg bernama Finlandia, di musim panas matahari terbit (bersinar) terus 23 jam. Jadi malamnya hanya satu jam. Shalat Maghrib, Isya’, dan Shubuh cuma bisa kita lakukan selama 1 jam. Kalau begitu, kapan kita bisa melakukan salat tahajjud?</p>
<p>Ketika saya menulis buku yang berjudul “<em>Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari</em>”, saya kontak-kontakan (Email, SMS, dans sebagainya) dengan teman saya yang bekerja di kedutaan Moscow. Teman saya itu bercerita, bahwa ada lagi yang lebih seru, yaitu di utaranya Moscow. Ada kota yang bernama Leningrad (sekarang diganti namanya menjad St. Petersburg). Di kota itu pada musim panas mataharinya tidak tenggelam (terbit ataupun bersinar terus): jam 10 malam terang, jam 11 malam, 12 malam terang, jam 1 pagi ya tetap terang.</p>
<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/leningrad/" rel="attachment wp-att-450"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad.jpg?w=150&#038;h=120" alt="leningrad" title="leningrad" width="150" height="120" class="alignright size-thumbnail wp-image-450" /></a>Teman saya itu bertanya, kalau begitu di kota itu kapan waktunya kita bisa melakukan Shalat Maghrib dan Isya’? Lebih pusing kalau di Bulan Ramadhan, kapan buka puasanya? Kawan saya itu mengatakan, bahwa menurut “fiqh tropis”, berpuasalah kalian sebelum matahari terbit, dan berbukalah kalian sesudah matahari tenggelam. Tapi ini kan mataharinya tidak tenggelam? Kalau begitu kapan kita Shalat Tahajjud ketika matahari masih terang itu? Ya&#8230; salat tahajjudnya waktu terang itu, karena sebetulnya itu adalah malam, namun saja mataharinya masih bersinar.</p>
<p>Pada buku saya yang berjudul “<em>Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari</em>” menjawab pertanyaan orang non Muslim tadi, yaitu apakah Islam hanya cocok untuk orang-orang di negara tropis. Saya jawab di buku itu, bahwa Islam tidak hanya cocok untuk orang-orang di negara tropis, melainkan cocok untuk semua manusia di manapun manusia itu berada. Bagaimanakah kemudian seharusnya kita mengatur waktu-waktu ibadah internasional kita, karena selama ini kita lebih berpatokan pada negara-negara tropis. Sehingga teman saya yang bersekolah di Eropa Utara mengatakan, bahwa jangan-jangan orang-orang di Eropa Utara itu tak mau masuk Islam karena takut melaksanakan puasa selama 24 jam. Kalau sudah seperi ini, salah siapakah kemudian?</p>
<p>Namun, pasti di dalam Alquran ada solusinya, dan kemudian saya temukan dan saya tuliskan di dalam buku “<em>Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari</em>”. Apalagi bagi Astronot, dia keluar dari bumi kita, dia bisa melihat matahari terus dan takkan melihat malam. Apakah kemudian Islam tidak cocok untuk Astronot? Tentunya tidak, melainkan Islam tetap cocok bagi siapa saja. Di buku-buku yang saya tulis, tentunya saya bukanlah sedang ingin mendangkalkan keimanan, justru saya ingin memberikan suatu sudut pandang baru dari sudut pandang kekinian dan sudut pandang masa depan, yaitu bagaimana seharusnya Islam itu diperkenalkan dan disyi’arkan ke seluruh permukaan bumi. []</p>
<p>(<em>dikutip dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Ir. H. Agus Mustofa pada tanggal 19 Juli 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan</em>)</p>
<p>Sumber tulisan: <a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/">thenafi.wordpress.com</a></p>
Posted in Islamika, Mozaik Islam Tagged: fiqh, Leningrad, Moscow, musim panas, puasa, St. Petersburg, tropis <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/448/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=448&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/08/21/beribadah-puasa-di-negeri-yang-pada-suatu-musim-matahari-tak-pernah-tenggelam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad_34.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">leningrad_34</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/08/leningrad.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">leningrad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wahabisme: Pembaru Militan</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 17:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi T - Z]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[abad modern]]></category>
		<category><![CDATA[jazirah arabia]]></category>
		<category><![CDATA[militan]]></category>
		<category><![CDATA[pembaru]]></category>
		<category><![CDATA[pembaruan]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Bahwa dari waktu ke waktu senantiasa ada usaha pembaruan, atau penyegaran, atau pemurnian pemahaman umat kepada agamanya, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan sistem Islam dalam sejarah. Nabi sendiri dalam sebuah hadis mengisyaratkan kepada adanya hal itu. Maka dari sudut tinjauan ini adalah suatu kejadian wajar saja bahwa pada abad ke 18 Jazirah Arab telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=444&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/panama_dream_job/" rel="attachment wp-att-445"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/07/panama_dream_job.gif?w=150&#038;h=150" alt="panama_dream_job" title="panama_dream_job" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-445" /></a>Bahwa dari waktu ke waktu senantiasa ada usaha pembaruan, atau penyegaran, atau pemurnian pemahaman umat kepada agamanya, adalah sesuatu yang telah menyatu dengan sistem Islam dalam sejarah. Nabi sendiri dalam sebuah hadis mengisyaratkan kepada adanya hal itu. Maka dari sudut tinjauan ini adalah suatu kejadian wajar saja bahwa pada abad ke 18 Jazirah Arab telah menyaksikan usaha pembaruan yang militan, <span id="more-444"></span>yang dilancarkan oleh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab (1115-1206 H/1703-1792 M), yang melahirkan apa yang dinamakan gerakan Wahabi. Selain merupakan hampir satu-satunya gerakan pembaruan keagamaan yang paling sukses secara politik, yaitu setelah bergabung dengan kekuatan dinasti Sa’ud, pembaruan di Jazirah ini juga sangat menarik karena ia dilancarkan tanpa sedikit pun ada persinggungan dengan kemodernan dari Barat. Jadi pandangan tentang perlunya pembaruan di kalangan umat ketika dunia Islam berhadapan dengan Abad Modern, setelah adanya percontohan dari Jazirah Arabia itu, dapat dinilai sebagai keharusan lebih mendesak disebabkan keseriusan tantangan yang ditimbulkan oleh dampak modernisasi. ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.<br />
</em><br />
<a href="http://thenafi.wordpress.com/">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
Posted in Ensi T - Z, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: abad modern, jazirah arabia, militan, pembaru, pembaruan, Wahabisme <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=444&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/07/15/wahabisme-pembaru-militan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/07/panama_dream_job.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">panama_dream_job</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qurratu A&#8217;yun</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 10:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi Q - S]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>
		<category><![CDATA[tawakkal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Qurratu a‘yun adalah suatu inti atau esensi kebahagiaan. Misalnya, tujuan dari rumah tangga ialah untuk menciptakan sakînah, yang dalam bahasa lain ialah qurratu a‘yun. Seperti ungkapan doa, Dan mereka yang berdoa, “Tuhan, jadikanlah istri-istri kami dan keturunan kami cendera mata (sebagai penyenang hati—NM) bagi kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang yang bertakwa (Q., 25:74).

Esensi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=435&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/pict1115/" rel="attachment wp-att-436"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/pict1115.jpg?w=150&#038;h=112" alt="PICT1115" title="PICT1115" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-436" /></a>Qurratu a‘yun adalah suatu inti atau esensi kebahagiaan. Misalnya, tujuan dari rumah tangga ialah untuk menciptakan sakînah, yang dalam bahasa lain ialah qurratu a‘yun. Seperti ungkapan doa, Dan mereka yang berdoa, “Tuhan, jadikanlah istri-istri kami dan keturunan kami cendera mata (sebagai penyenang hati—NM) bagi kami, dan jadikanlah kami teladan bagi orang yang bertakwa (Q., 25:74).<br />
<span id="more-435"></span><br />
Esensi kebahagiaan adalah surga. Di dalam surga setidaknya ada sakinah. Banyak sekali gambaran mengenai surga. Tetapi rupanya yang paling menarik bagi Nabi adalah di dalam surat Al-Sajdah ketika disebutkan, Tiada seorang pun tahu cendera mata apa yang masih tersembunyi bagi mereka sebagai balasan atas amal kebaikan yang mereka lakukan (Q., 32:17).</p>
<p>Itulah surga. Surga itu tidak ada seorang pun yang tahu. Bagaimana dengan gambaran di dalam Al-Quran?. Itu semuanya adalah simbol, metafora, gambaran-gambaran populer. Karena itu, Nabi kemudian menyampaikan sebuah hadis qudsi (firman Allah tetapi kalimatnya dari Nabi), “Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Dan kalau kamu mau (kata Nabi), bacalah (ayat al-Qur’an itu), tidak seorang pun mengetahui esensi kebahagiaan yang dirahasiakan baginya sebagai balasan untuk amal perbuatan baiknya (HR Bukhari).</p>
<p>Di dalam surga kita akan merasa aman, salâm, dan sebagainya. Dalam suatu stadium tingkat tertinggi yang bersifat ruhani, sebetulnya itu tidak bisa digambarkan. Itu hanya bisa dialami. Untuk mengalaminya pun perlu usaha yang sungguh-sungguh, yang dalam bahasa Arab disebut juhd-un. Dari perkataan juhd-un (usaha yang sungguh-sungguh) diambil perkataan jihâd (jihad). Jihad tidak hanya berarti fisik seperti perang, tetapi juga jihâd-u ‘l-nafs, jihad melawan diri sendiri atau ijtihâd menggunakan seluruh kemampuan pikiran. Bahkan juga mujâhadah, atau spiritual exercise, olah ruhani. Jadi tidak hanya olahraga, olah jasmani, juga tidak hanya olah jiwa, olah nafsani, tetapi juga olah ruhani. Maka, sebetulnya kebahagiaan ialah dalam kelapangan ini, yang sebetulnya tempat di mana terletak adanya rahmat Allah kepada kita. Ketika Allah memuji Nabi Muhammad sebagai orang yang lapang dada, maka itu dikaitkan dengan rahmat Allah. Karena rahmat dari Allah jugalah maka engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati tegar niscaya mereka menjauhi kamu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun buat mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan. Maka jika engkau sudah mengambil keputusan bertawakallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang tawakal (Q., 3:159). ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.</em></p>
<p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/#more-435">http://thenafi.wordpress.com/</a></p>
Posted in Ensi Q - S, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: jiwa, kebahagiaan, kebaikan, surga, takwa, tawakkal <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=435&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/28/qurratu-ayun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/pict1115.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">PICT1115</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obyektifitas Makna dan Tujuan Hidup</title>
		<link>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/</link>
		<comments>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 16:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hanafi Mohan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ensi O - P]]></category>
		<category><![CDATA[Ensiklopedi Cak Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Nazi]]></category>
		<category><![CDATA[obyektifitas makna]]></category>
		<category><![CDATA[rasional]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thenafi.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana menguji dan mengetahui bahwa konsep tentang tujuan dan makna hidup mengandung kebenaran obyektif dan universal? Terhadap pertanyaan ini, Paul Edwards menawarkan jawaban bahwa kita barangkali harus membedakan antara makna dan tujuan hidup yang bisa disepakati oleh umat manusia secara rasional dan dengan ketulusan pengertian dan makna serta tujuan hidup yang hanya secara sepintas saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=427&subd=thenafi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/img_2770-1-2/" rel="attachment wp-att-432"><img src="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/img_2770-11.jpg?w=112&#038;h=150" alt="IMG_2770-1" title="IMG_2770-1" width="112" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-432" /></a>Bagaimana menguji dan mengetahui bahwa konsep tentang tujuan dan makna hidup mengandung kebenaran obyektif dan universal? Terhadap pertanyaan ini, Paul Edwards menawarkan jawaban bahwa kita barangkali harus membedakan antara makna dan tujuan hidup yang bisa disepakati oleh umat manusia secara rasional dan dengan ketulusan pengertian dan makna serta tujuan hidup yang hanya secara sepintas saja nampak rasional dan penuh pengertian. <span id="more-427"></span>Membaca buku Hitler, Mein Kampf, seseorang bisa saja mendapat kesan sepintas kerasionalan pandangan hidup Nazi, yakni secara sepintas lalu. Tetapi dalam penghadapannya kepada keseluruhan rasionalitas dan nilai kemanusiaan yang agung, Mein Kampf tentu tidak akan dapat bertahan.</p>
<p>Dengan perkataan lain, sepanjang menyangkut makna dan tujuan hidup manusia, taruhan yang amat menentukan ialah suara hati nurani. Makna dan tujuan hi¬dup yang benar ialah yang di¬topang oleh pertimbangan hati nurani yang tulus. Jika dunia mengutuk Nazisme, itu bukan karena orang-orang Nazi tidak mempunyai makna dan tujuan hidup (justru mereka dikenal fanatik berjuang untuk memenuhi makna dan tujuan hidup mereka), tetapi karena makna dan tujuan hidup mereka itu tidak dapat bertahan terhadap ujian hati nurani universal. Atas dasar itu, dapat dipastikan bahwa Nazisme, sebagai sumber makna dan tujuan hidup, adalah sesat. Demikian pula pandangan banyak orang tentang berbagai sistem ideologi yang lain, lebih-lebih tentang kultus.</p>
<p>Namun perkaranya tidak berhenti di sini. Kalau memang hati nurani merupakan sumber pertimbangan tentang otentik-tidak-nya suatu pandangan makna dan tujuan hidup, dan kenyataan bahwa masing-masing ideologi pun bisa mendapatkan jalan untuk dirasionalisasikan sesuai dengan hati nurani (setidak-tidaknya, begitulah menurut masing-masing para pendukungnya), maka dalam praktik hati nurani pun tidak universal. Di sini kita memasuki suatu daerah pembahasan yang amat pelik, karena berhadapan dengan masalah kedirian kita yang paling mendalam, yaitu hakikat yang untuk mudahnya kita sebut kalbu – banyak  nama digunakan untuk menyebut hakikat kedirian yang paling mendalam itu. Dalam bahasa Arab, selain qalb juga digunakan dlamîr, fu‘âd, lubb, nafs dengan variasi tekanan maknanya. Hadîts Nabi menyebutkan “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, bila ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan bila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad.  Ingatlah, segumpal daging itu ialah kalbu.” ***</p>
<p><strong>Sumber:</strong><br />
<em>Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality &amp; Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.</em></p>
Posted in Ensi O - P, Ensiklopedi Cak Nur Tagged: Nazi, obyektifitas makna, rasional, tujuan hidup <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thenafi.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thenafi.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thenafi.wordpress.com&blog=3836764&post=427&subd=thenafi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thenafi.wordpress.com/2009/06/14/obyektifitas-makna-dan-tujuan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/396fdd24a9d789659f10702e505934b3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Hanafi Mohan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thenafi.files.wordpress.com/2009/06/img_2770-11.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2770-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>