Cerpen: Penyanyi di Atas Kapal

6 Juni 2008 at 4:30 PM 2 komentar


PENYANYI DI ATAS KAPAL
Cerpen: Hanafi Mohan
( Cerpen ini telah dimuat di Tabloid MaJEMUK Edisi 31 – Maret-April 2008 )

Namanya Indah. Seorang biduan di atas kapal yang sebulan lalu aku tumpangi ketika pulang kampung. Suaranya begitu merdu, parasnya juga cantik.

“Jadi, kau berkenalan cukup dekat dengannya?” tanya Udin, teman seperjalananku.

“Bisa iya bisa tidak,” jawabku sekenanya, yang membuat Udin jadi penasaran. Sementara musik dangdut terus mengalun dengan iramanya yang khas, dinyanyikan seorang biduan yang cukup cantik, diiringi organ tunggal yang dimainkan oleh seorang pria.

“Bisa iya bisa tidak bagaimana maksud kau itu?”

Aku hanya tersenyum melihat Udin yang semakin penasaran.
***
Indah berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ya, bisa dikatakan dari keluarga menengah ke bawah. Orang tuanya hanya sanggup menyekolahkannya hingga tamat SMP saja. Ayahnya hanya seorang petani miskin di sebuah desa di Jawa Barat.

Indah memang hobi menyanyi. Tuhan telah menganugerahkan kepadanya suara yang cukup merdu. Tak jarang pada acara perkawinan di desanya, Indah diminta untuk menyanyi di depan panggung. Juga pada panggung 17 Agustusan ataupun perayaan-perayaan lainnya.

Suaranya yang lumayan merdu itu, ditambah lagi parasnya yang cantik, semakin menjadikan Indah begitu populer di desanya. Hingga suatu saat, ia memberanikan diri untuk bertaruh nasib ke Jakarta. Melalui seorang kenalan, Indah ditawarkan untuk menjadi penyanyi di sebuah kafe yang ada di Jakarta. Lumayan, penghasilannya selama bekerja di kafe tersebut walaupun tak terlalu besar, namun sudah cukup bisa membantu perekonomian keluarganya. Bahkan ia bisa menyekolahkan adik laki-lakinya hingga ke perguruan tinggi.

Sementara Udin begitu seriusnya mendengarkan ceritaku. Ditambah lagi alunan musik dangdut di atas kapal yang aku tumpangi menuju Jakarta, semakin menambah keasyikan pembicaraan kami.

“Demikian dekatkah kau dengan Indah, hingga perempuan tersebut mau menceritakan kisah hidupnya padamu?” Udin kembali bertanya.

“Ya, boleh dikatakan seperti itulah, Din.”

Sedari tadi Udin memang sudah begitu penasaran akan ceritaku. Sepertinya kini Udin semakin tambah penasaran akan jawabanku yang selalu menggantung.

Suatu saat, datanglah tawaran dari seorang rekannya untuk menjadi penyanyi di atas sebuah kapal penumpang. Tawaran yang memang benar-benar baru bagi Indah. Apalagi ia baru kali ini mendengar, bahwa di atas Kapal Penumpang ada pertunjukan musik juga. Ditambah lagi ia memang belum pernah naik kapal. Semua hal-hal baru itu semakin menambah ketertarikan Indah untuk menerima tawaran tersebut.

“Terus … terus …?” Udin semakin tak sabar untuk mendengarkan kelanjutan ceritaku.

Menurut penuturan Indah, sudah sekitar setahun ini ia menjadi penyanyi di atas kapal penumpang. Pernah kutanyakan kepadanya, mengapa ia begitu betah menjadi penyanyi di atas kapal. Menurutnya, bukan betah sih sebenarnya. Namun karena mencari pekerjaan itu memang tak mudah. Apalagi ia hanya tamatan SMP. Kiranya hanya suaranya itulah yang menjadi modal untuk mencari duit.

“Masa’ sih cuma suaranya saja?” kembali Udin menimpali.

“Maksud kau apa, Din?”

“Ya, seperti yang kau katakan, bahwa Indah juga memiliki wajah yang cantik.”

“Maksud kau, dia bisa saja menjual dirinya, begitu? Misalkan menjadi pe …”

“Bukan …, bukan itu maksudku.”

Indah tak seperti yang kukira. Mulanya aku mengira ia berprofesi ganda. Maksudnya, selain sebagai penyanyi yang menjual suaranya, juga sekaligus bisa menjual tubuhnya. Sudah jamak diketahui, bahwa penyanyi di atas kapal memang seperti itu.
***
Malam itu di kafe yang ada di kapal penumpang tersebut, kulihat Indah sedang bercengkerama dengan seorang lelaki. Sepertinya obrolan mereka begitu asyiknya. Aku tak jauh duduknya dari tempat duduk Indah bersama lelaki tersebut.

Sambil mendengarkan hiburan musik dangdut di kafe tersebut, suasana hatikupun terbawa oleh lagu-lagu tersebut. Sekali-sekali aku melihat ke arah tempat duduk Indah dan lelaki yang tak aku kenal tersebut. Masih seperti yang kulihat tadi, mereka sedang asyik bercengkerama.

Tak terasa sudah dua jam lebih aku berada di kafe. Cukup suntuk memang jika tak ada hiburan musik di atas kapal penumpang. Yah, untunglah masih ada orang-orang seperti Indah yang mau menghibur para penumpang kapal dengan lagu-lagu yang dinyanyikannya.

Aku pun berhenti sejenak dari ceritaku, karena pelayan kafe di kapal sedang menyuguhkan dua gelas kopi yang aku pesan tadi. Sedangkan Udin sepertinya terus menantikan kelanjutan ceritaku. Sambil menghisap rokok dalam-dalam, kemudian cerita aku lanjutkan.

Beberapa saat kemudian, kudengar ada suara gaduh dari arah tempat duduk Indah bersama lelaki tersebut. Kulihat Indah segera bergegas keluar dari kafe. Akupun berinisiatif mengikuti Indah dari belakang. Ternyata Indah menuju ke arah belakang kapal. Akupun terus mengikuti. Agak berjarak memang, sepertinya ia tak menyadari jika kuikuti dari belakang. Kulihat dia berdiri berpegangan pada pagar belakang kapal. Sepertinya ia sedang menangis. Awalnya tak ingin kumendekatinya. Mungkin ia sedang ingin sendirian. Tapi kulihat tangisannya tak kunjung berhenti. Melihat itu, ingin sekali kumenghiburnya. Tapi dengan cara apa? Bingung juga aku ketika itu. Sempat kuberpikir, tak terlalu pantas kiranya diriku mencampuri urusan orang lain.
***
Sementara, hari semakin beranjak malam. Penyanyi di kafe semakin bersemangat menyanyikan lagu-lagu dangdut. Dari lagu dangdut sendu, dangdut rancak, dangdut koplo, kadang juga diselingi lagu pop. Kulihat para pengunjung kafe berjoget dengan riangnya. Sedangkan aku terus bercerita kepada Udin mengenai kisah Indah. Dan Udin tetap mendengarkan ceritaku dengan khidmatnya.

Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk menghampiri Indah,

“Eh, Mas,” Indah agak sedikit terkejut ketika aku menghampirinya.

“Kok sendirian aja?” tanyaku kepada Indah.

“Iya Mas, lagi pengen sendirian.”

“Berarti kalau begitu saya mengganggu dong?”

“Nggak apa-apa kok, Mas.”

“Beneran nih nggak apa-apa?”

“Iya, beneran,” jawabnya dengan dihiasi senyuman. Tapi tetap saja kesedihan di wajahnya tak dapat disembunyikan.

Kapal terus berjalan menyusuri lautan yang hanya terlihat gelap. Seakan-akan kegelapan itu seirama dengan kesedihan yang menimpa Indah.

Kembali Indah memulai pembicaraan, “Mas, apakah memang sudah sepantasnya setiap perempuan untuk direndahkan dan dilecehkan? Apakah setiap lelaki memang ditakdirkan untuk melakukan semua itu?”

Aku masih belum mengerti arah pembicaraan Indah. Sengaja tak kujawab pertanyaannya itu. Kupikir, biarlah ia menumpahkan segala kesedihannya. Mungkin dengan begitu akan berkuranglah kesedihan yang melandanya.

“Mas, aku memang penyanyi. Seperti yang Mas lihat sendiri, profesi ini kujalani hanyalah untuk mencari nafkah, untuk membantu perekonomian keluargaku. Tak lebih dari itu,” kembali Indah berucap, kemudian untuk beberapa saat terdiam. Terlihat matanya berkaca-kaca.

“Sebagian orang mungkin menganggap rendah profesiku ini. Tak jarang pula ada yang menganggapku sebagai perempuan murahan. Namun, jauh dari semua prasangka itu, aku hanyalah seorang penyanyi,” beberapa saat Indah terdiam setelah mengucapkan itu semua.

Kiranya sudah puaslah Indah menumpahkan segala kesedihan dan keluh-kesahnya. Akupun berucap, “Indah, sabar saja ya menghadapi semuanya!”

“Mas, terima kasih ya sudah mau mendengarkan curhat-ku.”

Malampun semakin larut. Sedangkan kapal terus berjalan menyusuri lautan.
***
Udin masih terus setia mendengarkan ceritaku. Sementara musik di kafe tempat kami bercengkerama sudah berubah menjadi musik disko. Sebelum memulai lagi pembicaraan, kuseruput kopi yang terletak di atas meja tempat kami bercengkerama.

Udin kemudian berujar, “Andaikan kali ini Indah juga ikut berlayar, mungkin aku bisa berkenalan dengannya.”

Dalam benakku berkata, Din, sebenarnya Indah tak pernah ada. Cerita tentang Indah hanyalah karanganku belaka, agar kau tak mudah berburuk sangka kepada siapa saja, termasuk kepada penyanyi di atas kapal yang kita tumpangi kini. Karena berburuk sangka bukanlah perbuatan yang baik. [-,-]

Ciputat, Desember 2007 – Februari 2008

Entry filed under: Cerpen. Tags: , , .

Datangnya Alien di Kampungku Menyambut Lebaran di Pontianak dengan Letusan Meriam

2 Komentar Add your own

  • 1. thenafi  |  6 Juni 2008 pukul 4:43 PM

    Ini adalah Cerpenku yang pertama kali dimuat di Media Cetak.

    Selain Cerpenku yg pertama dimuat, juga merupakan tulisanku yang pertama kali dimuat di Media Cetak.

    Semoga ini menjadi Pemacu semangatku untuk terus berkarya.

    Insya Allah.

    Hanafi Mohan

    Mohon komentarnya, ya.

    Suka

  • 2. thenafi  |  18 Juni 2008 pukul 1:29 PM

    Alhamdulillah, udah banyak juga ternyata yg baca Cerpen-ku yg satu ini.

    kiranya menjadi kebahagiaan bagi seorang penulis ketika tulisannya sudah dibaca oleh orang lain, apalagi yg ngebacanya banyak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: