Archive for 8 Juni 2008

Tasawuf

TASAWUF

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Drs. H. Wahfiuddin M.BA.

pada tanggal 5 Maret 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Allah berfirman dalam An-Nisaa ayat 59:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Secara harfiah, “uli” berasal dari kata “wala” yang artinya yang memiliki (yang menguasai). “al-amr” bermakna urusan (persoalan). Jamaknya adalah “umr”. “wa ilallahi turja’ul umur” (dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan). “al-amr” juga berasal dari kata “amara – ya’muru”. “amara” artinya memerintah, “al-amr” artinya perintah (kewenangan). Jadi, secara harfiah “ulil amri” adalah orang-orang yang menguasai persoalan, dan oleh karena itu mempunyai kewenangan.

Tugas Rasul

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 151 dijelaskan 3 (tiga) tugas Rasul. Hal yang sama juga terdapat pada Surah Al-Jumu’ah ayat 2, yaitu:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Q.S. Al-Jumu’ah: 2)

Pada ayat yang lain disebutkan:

Kamaa arsalnaa fiikum rasuulan minkum yatluu ‘alaikum aayaatinaa, wa yuzakkiikum, wa yu’allimukumul kitaaba wal hikmah, …

“Sebagaimana telah kami utus kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian juga (dari golongan manusia seperti kamu) dengan tiga tugas, membacakan kepadamu ayat-ayat kami, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepada kalian al-kitab (al-hikmah), …”

Pada ayat tersebut dinyatakan, bahwa Rasul itu bukan dari golongan jin ataupun malaikat, melainkan dari golongan manusia. Dan tugas Rasul tersebut adalah:

1.”yatlu” berasal dari kata “tala” atau ”tilawah” yaitu membacakan kepadamu ayat-ayat kami.

2. “zakka – yuzakki – tazkiyah” artinya mensucikan kamu.

3.“kitab” artinya ketentuan-ketentuan (bukan semata-mata buku). Banyak orang mengartikan “kitabullah” itu buku Allah. Kata-kata “kataba” sering diartikan menulis, padahal “kataba” lebih luas dari menulis, yaitu “menentukan”. Tidaklah memusibahi kita, kecuali apa yang Allah telah “kataba”, yaitu “yang Allah telah menentukan untuk kita”. Bentuk pasifnya yaitu “kutiba”. Kalimat “kutiba ‘alaikumushshiyam” bukan artinya “telah ditulis”, tetapi “telah ditetapkan untukmu”. Maka “kitabun” atau “kitab”, misalkan dalam konteks Surah An-Nisaa ayat 103: “…innash-shalaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaaban …” yang artinya:

innash shalaata : sesungguhnya shalat itu

kaanat ‘alal mu’miniina: adalah bagi orang-orang yang beriman

kitaaban : shalat adalah “kitab”, yaitu ketentuan

Makanya, ketika membaca “Alif lam mim. Zaalikal kitaab”, zaalikal kitab bukan artinya “inilah buku”, karena ketika ayat ini diturunkan, Al-Qur’an belum ada dalam bentuk buku, melainkan ayat Al-Qur’an masih dalam proses turun, kemudian dihafal. Setelah Rasulullah wafat, barulah Al-Qur’an ditulis dalam bentuk buku. Karena itu, makna “kitaab” bukanlah berarti “buku”, melainkan adalah berarti “ketentuan”.

Tugas Rasul seperti disebutkan pada ayat di atas (Surah Al-Baqarah ayat 151) yaitu “mengajarkan kepada kalian al-kitab, yaitu ketentuan-ketentuan, hukum-hukum”

wal hikmah”, yang berarti tujuan-tujuan dari hukum itu sendiri, atau manfaat-manfaat dari hukum. Misalkan, mengapa ada ketentuan bahwa harus bayar zakat? Hikmahnya (tujuannya) yaitu: “kaila yakuuna duulatan bainal aghniya-i minkum” yaitu dengan adanya zakat, maka akan mencegah harta berputar kepada segelintir orang kaya saja, supaya harta tersebut tersebar kepada orang-orang yang tak mampu. Mengapa ada shalat? Maka kemudian dijelaskan, bahwa “innash shalata tanha anil fahsya-i wal munkar”, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Apa hubungan shalat dengan tercegahnya orang dari perbuatan keji dan mungkar? Inilah, bahwa ada “kitab”nya atau ketentuannya dan ada “hikmah”nya atau tujuan (manfaat) dari ketentuan tersebut.

Selanjutnya:

…wa yu’allimukum maa lam takuunu ta’lamuun.

… dan menta’limkan kamu apa-apa yang kamu tidak bisa mengetahuinya (kecuali Rasul yang mengajarkannya).

Jadi, tugas Rasul itu ada 3 (tiga) — disingkat Tugas 3T —, yaitu:

1) Tilawah, yaitu membacakan ayat-ayat Allah.

2) Tazkiyah, yaitu mensucikan manusia. Mensucikan di sini bukanlah mensucikan tubuh, melainkan mensucikan ruh (tazkiyaturruh).

3) Ta’lim. Ta’limnya ada dua, yaitu ta’lim yang sifatnya “legal” ketentuan-ketentuan dan manfaatnya, dan menta’limkan apa-apa yang gaib bagi manusia (yang tidak bisa diketahui manusia), kecuali Rasul yang mengajarkannya.

Apa yang dimaksudkan dengan “menta’limkan apa-apa yang tidak kamu ketahui”?

Allah adalah “Al-‘Alim” yang artinya memiliki pengetahuan. “’alima” artinya mengetahui, sedangkan “’alim” artinya Maha Mengetahui.

Ilmu Allah dilepas di dua tempat. Pertama, ada ilmu Allah yang oleh Allah dilepas di alam semesta. Itulah ilmu yang mengatur “qaun”, yaitu kejadian-kejadian alam yang kita sebut sebagai hukum alam. Jadi, ilmu Allah yang ditempatkan di alam itulah yang menjadi takdir Allah yang mengendalikan peristiwa-peristiwa alam. Inilah ilmu yang “qauniyah”, yang juga disebut sebagai “hukum alam” atau “sunnatullah”. Kedua, ada ilmu yang dilepaskan oleh Allah berupa wahyu, yaitu ilmu Allah yang ada di dalam Al-Qur’an.

Lalu, bagaimana manusia memahami ilmu Allah yang di “qauniyah” dan ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an tersebut? Untuk mengetahuinya, maka manusia melakukan “abshara – yubshiru”, yaitu melakukan pengamatan, pencatatan, dan pengukuran (observasi). Maka didapatlah serangkaian data. Berdasarkan data-data itu, manusia mengembangkan hipotesa-hipotesa. Kemudian hipotesa itu dieksperimenkan dengan cara deduktif. Setelah itu hasilnya didapatlah konklusi (kesimpulan). Sehingga, ilmu Allah yang tadinya ada di alam, maka oleh manusia kemudian digali, diproses dengan scientific method dipindahkan ke dalam diri manusia.

Begitu juga ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an. Diobservasi, maka didapatlah data. Misalkan, janganlah riba’. Riba’ itu bisa di dalam jual beli, bisa di dalam pinjam-meminjam. Kalau tidak boleh ada riba’, lalu bagaimana kita mengembangkan ekonomi tanpa riba’? kemudian dikembangkanlah hipotesa berupa bank yang non ribawi, asuransi yang non ribawi, perdagangan yang non ribawi. Tapi itu baru hipotesa. Kemudian dieksperimenlah secara deduktif, dan akhirnya didapatlah konklusi (kesimpulan) yang kemudian dinamakan “ekonomi syari’ah”.

Semua ilmu Allah yang ada di alam dan di Al-Qur’an yang digali oleh manusia, kemudian disebut sebagai “ilmu hushuli”, yaitu ilmu yang diikhtiarkan oleh manusia. Tapi jangan lupa, selain ada ilmu Allah yang dilepas di alam, ada juga ilmu Allah yang disampaikan berupa wahyu, dan ada juga ilmu Allah yang tetap ada pada Allah. Allah bisa memberikan ilmu tersebut kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Ilmu ini tidak dihasilkan dan tidak digali dari ikhtiar manusia, melainkan ilmu yang dihadiahkan begitu saja oleh Allah yang di Al-Qur’an disebut “milladunna ‘ilmu” atau yang biasa disebut “ilmu ladunni”, yaitu ilmu yang dihadirkan oleh Allah (ilmu hudhuri). Karena itu, ada orang-orang yang tidak pernah belajar melalui jalur akademis, tapi jika Allah mau, maka Allah akan berikan ilmu tersebut. Biasanya ilmu ini diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul.

Mengapa seorang Rasul mampu melakukan tugas-tugas 3T tersebut? Karena Rasul juga diberlakukan 3T oleh malaikat. Jadi apa-apa yang ditilawahkan oleh Rasul bukanlah buatan Rasul sendiri, melainkan Rasul sebelum juga telah ditilawahkan oleh Jibril. Rasul juga mendapatkan tazkiyah dari Jibril. Rasul juga dita’lim oleh Jibril. Karena itu Rasul kemudian bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’lim. Jibril bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan kepada Rasul tak lain karena Jibril telah lebih dahulu ditilawah, ditazkiyah, dan dita’limkan oleh Allah.

Kemudian Rasul mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan umat-umat pada masanya, yaitu generasi para sahabat. Tapi, tidak semua sahabat-sahabat Nabi menjalani 3T itu dengan sempurna, karena mereka (sahabat-sahabat itu) juga adalah manusia biasa. Bagi orang-orang yang bisa menjalani 3T ini dengan sempurna, maka ia akan bisa mendekati derajat kenabian, tetapi mereka tidaklah lantas disebut sebagai Nabi. Yang ini disebut sebagai derajat waliyullah, yang mereka ini patut menyandang sebagai pewaris para Nabi (warasatul anbiya).

athiullah wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum.

“taatilah Allah taatilah Rasul dan taati ulil amri.”

Jika kini sudah tidak ada Rasul, lantas siapakah yang akan ditaati? Yang akan ditaati itu adalah mereka yang kemudiam disebut sebagai pewaris para Rasul, yang silsilahnya jelas tersambung hingga kepada Rasul (musalsal). Taati ulil amri, maksudnya adalah ulil amri yang juga merupakan pewaris para Nabi. Ulil amri adalah orang yang menguasai persoalan.

Dalam bertasawuf, yang penting bukan zikir dan wiridnya, tetapi siapa mursyidnya. Ilmu pengetahuan dan keahlian boleh saja diketahui dan dikuasai, tapi harus jelas sumbernya dari mana. Bukannya Islam melarang orang untuk autodidak (belajar sendiri). Autodidak itu boleh, tapi untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, batang tubuh (inti) dari ilmu itu harus dipelajari dari sumber-sumber yang autentik.

Dalam tasawuf, hal ini begitu pentingnya. Sebab bukan soal wiridnya, melainkan siapa yang menjadi mursyidnya, yang membimbing ruh mendekati Allah. Menjadi suatu kewajaran bagi orang yang sudah melakukan olah rohani secara intens, yang kemudian ia bisa mencapai suatu tingkatan ketajaman-ketajaman ruhaniah, misalkan: ia bisa mengalami dan melihat apa-apa yang tidak bisa dialami dan dilihat oleh orang lain.

Begitu terlihat (kasyaf), yang itupun baru kasyaf tingkat rendah, orang tersebut kemudian bisa menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Maka di sinilah godaan akan bisa masuk. Apakah yang gaib-gaib itu dari malaikat atau dari Allah, atau justru itu mungkin dari iblis? Inilah kasus yang akhir-akhir ini sering muncul, seperti mengaku sebagai Nabi, dan sebagainya.

Karena itulah, dalam beragama begitu pentingnya kita memiliki mursyid yang bersilsilah dan autentik. Setelah bertemu dengan mursyid yang warasatul anbiya, yang waliyullah, yang sudah terlatih dan teruji dengan ibadah-ibadah yang ketat, yang pemahaman agamanya begitu mendalam, yang akhlaknya begitu baik, maka mursyid tersebut akan memberikan latihan-latihan. Apapun latihannya tersebut, maka akan menjadi baik. Ketika kita mengamalkannya, maka mursyid tersebut akan mengontrolnya.

Memang, tidak diingkari bahwa ada wirid dan bacaan tertentu yang membuat orang bisa menjadi begitu kharismatik, yang seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat menawan, dan banyak orang yang senang kepadanya. Maka jangan heran, banyak yang jatuh cinta kepadanya setelah mengamalkan suatu wirid. Yang ujung-ujungnya akan menjerumuskan kepada hal-hal yang semakin menjauhkan dari Allah. Namun jika ada mursyid, maka sang mursyid akan mengontrol dan mengingatkan jika ada sesuatu yang melenceng tersebut.

Apakah waliyullah dan warasatul anbiya itu masih ada sampai sekarang? Tentunya masih ada, karena telah tertulis di dalam Al-Qur’an, dan ayat tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Ciri seorang waliyullah tersebut adalah adalah:

Pertama, ketenteramannya yang luar biasa, terlihat dari akhlaknya yang mulia. Mengapa bisa seperti ini? Karena mereka sungguh beriman dan bertakwa. Dan orang-orang seperti ini selalu terpancar dari dirinya “al-busra”, yaitu kebahagiaan, keceriaan, semangat, dan optimisme.

Kedua, dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan, bahwa seorang waliyullah adalah orang yang begitu gemar beribadah, yaitu dengan melakukan yang wajib dan juga yang sunnah. Makanya kalau ada yang mengaku mursyid, tapi ibadahnya kendor, maka hati-hatilah. Karena kegemarannya beribadah itu, Allah mengatakan, “Aku mencintai dia, maka Aku akan menjadi pendengarannya saat dia mendengar.” Di sinilah yang kemudian terjadi “kharikul ‘adah”, yaitu orang tersebut diberikan Allah kemampuan melihat apa yang orang biasa tidak bisa melihatnya, kemampuan mendengar yang orang biasa tidak bisa mendengarnya, inilah orang-orang yang doa-doanya diperhatikan oleh Allah.

Ketiga, meskipun mereka memiliki “super natural power”, tapi para wali itu cenderung menyembunyikannya. Tidak mudah ia mempertontonkan kesaktian-kesaktiannya.

Keempat, ia memiliki tauhid yang murni dan kebergantungan yang total, yaitu hanya bergantung kepada Allah.

Kelima, ia sungguh-sungguh mewarisi akhlak dan tugas Rasul.

Itulah kriteria-kriteria seorang mursyid yang memang benar-benar waliyullah dan juga warasatul anbiya. [Aan]

8 Juni 2008 at 2:11 PM Tinggalkan komentar

Hakikat Fakir

HAKIKAT FAKIR

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 27 Februari 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Sesungguhnya, kefakiran dan kemiskinan itu tidak identik dengan kefakiran dan kemiskinan harta. Jika kita merasa fakir dan miskin di hadapan kebesaran dan kekayaan Allah SWT, itulah yang dinamakan “al-faqr”. Orang yang merasakan seperti ini bisa saja hartanya banyak. Dan sebaliknya, orang yang angkuh bisa saja dia miskin. Sudah miskin harta, angkuh lagi di hadapan Allah SWT.

Sebaik-baiknya yang kita inginkan adalah bahagia di dunia dan di akhirat. Kalau kita harus memilih, maka lebih baik bahagia di akhirat, daripada bahagia di dunia saja. Dan lebih jelek lagi, jika di dunia tidak bahagia, di akhirat pun tidak bahagia.

Ada 5 (lima) hal keadaan fakir:

Pertama, jika ia diberikan harta, maka ia tidak akan menyukainya, dan ia akan merasa tersiksa dengan harta tersebut dan tidak mau mengambilnya. Ia selalu menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan pada harta tersebut. Inilah yang disebut dengan “zuhud”. Sedangkan orang yang memiliki sifat tersebut dinamakan “zahid”.

Hal ini sungguh sangat berat untuk kita jalani. Jika ada orang yang ketika diberikan harta kepadanya, kemudian ia tidak menyukai harta tersebut, ia merasa tersiksa akan harta itu, dan kemudian dia tidak mau mengambilnya. Mengapa? Karena kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, kemudian tiba-tiba mendapatkan lagi harta dari orang lain, sehingga ia sebetulnya merasa tidak terlalu senang dan juga merasa tersiksa akan harta tersebut. Untuk apa harta yang ia dapatkan lagi tersebut lebih dari apa yang ia butuhkan. Jangan-jangan nanti harta tersebut akan memberatkannya dalam perjalanan menuju Allah SWT.

Jarang sekali yang bisa melakukan ini. Pada umumnya adalah kebalikannya, yaitu sudah dapat harta banyak, kemudian berdoa lagi agar hartanya bertambah banyak.

Memang tidak gampang untuk menjadi zahid. Apabila kita sudah mampu merasakan hal seperti ini, maka kita sudah terpilih menjadi orang yang zahid. Sebenarnya juga tidak terlalu berat untuk menjadi zahid, jika kita sudah membiasakan diri untuk bersikap dekat kepada Allah. Yang kita butuhkan sebenarnya bukan harta Tuhan, bukan rahmat Tuhan, bukan rizki Tuhan, melainkan Tuhannya itu sendiri yang kita butuhkan.

“Ambil harta itu, yang saya butuhkan adalah Engkau ya Allah.” Bahkan ada yang mengatakan, “Ambil surga itu, yang sangat saya butuhkan adalah Engkau ya Allah.” Dia lupa kenikmatan surga itu seperti apa, yang penting “aku memiliki-Mu, aku bersama-Mu ya Allah. ” Ia lupakan surga itu sendiri.

Kita masih awam, sehingga belum sampai kepada tingkatan seperti itu. Tapi tidak mustahil, misalkan kita dapat rizki, dapat promosi untuk jabatan baru, maka kita ucapkan, “Terima kasih ya Allah, saya bersyukur kepada-Mu. Tapi sesungguhnya bukan ini yang paling saya butuhkan. Yang saya butuhkan Engkau ya Allah.”

Pada orang yang seperti ini, ketika rizkinya banyak, dia tidak terlalu bahagia, melainkan Allah sebenarnya yang ia butuhkan. Orang yang seperti ini tidak akan pernah mabuk dengan pemberian Tuhan, melainkan Tuhan itulah yang ia butuhkan. Sebaliknya, jika yang diberikan kebalikannya, seperti: miskin, sakit, kematian, maka yang ia ucapkan adalah, “Tidak apa-apa ya Allah, yang penting aku dekat dengan-Mu, yang penting Engkau tidak menjauhiku.”

Jika kita mampu berprinsip seperti ini, insya Allah, surga akan datang lebih awal menjemput kita. Karena ketika diberikan kekayaan, kita kemudian menjadi tidak mabuk akan kekayaan tersebut. Jadi, seandainya harta itu, atau jabatan itu diambil oleh Tuhan, maka kita tidak terlalu merasa kecewa. Mengapa? Karena memang bukan itu yang paling kita butuhkan, melainkan Tuhan-lah yang paling kita butuhkan.

Jadi, yang disebut dengan zuhud itu adalah, bahwa jika lebih daripada kecukupannya, maka itu akan menjadi beban pada dirinya sendiri. Persoalannya, definisi cukup itu berapa?

Tingkat kecukupan antara orang kaya dengan orang miskin tentunya berbeda. Tidak pernah ada orang yang merasa cukup. Bagi orang yang dekat dengan Tuhan, pasti dia mampu mendefinisikan apa pengertian cukup itu. Jika kita tidak tahu batas kecukupan tersebut, merupakan pertanda bahwa ada masalah diri kita dengan Allah.

Orang yang merasa kelaparan saja bisa merasa cukup, “Ya Allah, terima kasih. Mungkin ini yang terbaik pilihan-Mu. Karena jika aku kekenyangan, maka aku tidak bisa khusyu’ dengan-Mu.”

Kita tentunya bercita-cita menjadi orang yang seperti ini. Karena untuk menjadi orang yang zuhud itu tidak mesti harus melarat. Jika kita sudah mampu bersikap agar harta yang yang kita miliki tersebut tidak membebani kita, maka hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan kita sebagai seorang zahid.

Misalkan: walaupun hartanya banyak, depositonya banyak, sahamnya di mana-mana, tapi ia merasa tidak terbebani. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ia selalu berzakat, bahkan juga berwakaf. Alangkah kikirnya bagi seorang yang kaya, jika pengeluarannya hanyalah zakat. Kelewatan kikir bagi orang tersebut, karena hanya 2,5 persen yang ia keluarkan untuk zakat. Sudah selayaknya ia juga mengeluarkan shadaqah, infaq, jariyah, hadiah kepada pembantu yang akan pulang kampung misalnya, ada ujrah (upah yang meningkat) yang diberikan kepada karyawannya. Meningkatkan gaji karyawan, kelebihan dari standardnya itu adalah shadaqah. Hal-hal ini menjadikan seseorang tidak terbebani oleh harta bendanya tersebut.

Bagaimanakah caranya agar kita tidak terbebani, walaupun harta yang kita miliki begitu banyaknya? Tidak bermasalah bagi kita, walaupun Tuhan akan menjemput kematian kita hari ini. Karena semua harta yang kita miliki sudah beres dan bersih. Lebih dari sekedar zakat yang kita keluarkan, bahkan misalkan sudah ada wasiat, bahwa jika kita meninggal, maka sepertiga dari harta kita diikhlaskan untuk fi sabilillah, dan tiga perempatnya untuk keluarga. Sebagai catatan, bahwa di dalam Fiqh Islam juga tidak dibenarkan berwasiat lebih dari sepertiga itu.

Kedua, bahwa ia tidak menyukai harta dengan kesenangan yang dapat menggembirakannya karena dapat meraihnya.

Jika yang pertama adalah orang yang tidak suka dengan harta, sedangkan yang kedua ini ia masih mencari harta. Bahkan ia tidak membenci harta, malahan masih mencari dan menyukainya. Ketika ia diberi harta, maka ia akan zuhud. Jika ia mendapat harta, maka ia akan merasa, bahwa harta tersebut bukan mutlak miliknya, melainkan hanya titipan Allah lewat dirinya. Orang yang memiliki sikap ini disebut sebagai orang yang rela, bukan zuhud. Pada orang yang zuhud (pada yang pertama), memang ada unsur ketidaksukaan lagi kepada harta yang sudah lebih dari batas standard hidupnya.

Ketiga (ini kebanyakan di antara kita), yaitu bila wujud harta itu lebih dicintainya daripada ketidaksenangannya kepada harta.

Maksudnya, cinta terhadap harta lebih dominan dibandingkan tidak senang terhadap harta tersebut (yang hal ini adalah normal), namun tidak sampai menggerakkan orang tersebut untuk mencarinya. Yaitu, tidak semua daftar keinginannya itu akan diburu dan dikejar-kejarnya (ada pembatasan diri). Ia hanya akan mengambil apa yang pantas menjadi haknya. Tetapi jika ia diberikan harta dengan bersih, ataupun gratis tanpa usaha, maka ia juga akan mengambilnya, sepanjang harta tersebut halal.

Pada yang pertama (seperti disebutkan di atas), jika ia mendapatkan harta seperti ini, maka dia akan merasa terbebani. Sedangkan yang ketiga ini, baginya tidak ada urusan hal tersebut (tidak terbebani). Baginya, mendistribusikan harta tersebut lebih mudah dibandingkan untuk memperolehnya. Ia senang jika mendapatkan harta dan keuntungan dengan tiba-tiba tersebut. Inilah kebanyakan di antara kita. Akan tetapi, apabila memerlukan sesuatu usaha dalam mencarinya, maka ia tidak berbuat. Jadi, ada pembatasan-pembatasan diri. Orang yang seperti ini disebut sebagai “orang yang menerima”.

Keempat, ia meninggalkan mencari harta karena kelemahan dan ketidakmampuannya.

Pada yang keempat ini, hidupnya habis untuk mencari harta. Nanti, ketika sudah loyo, sudah tidak ada energi lagi, barulah ia akan berhenti mencari harta. Ketika ia mencari harta, maka ia akan mencarinya dengan kesenangan, meskipun harus berusaha dan bersusah-payah dalam mencarinya. Namun, ketika ia diajak untuk shalat berjamaah misalkan, maka akan banyak sekali alasannya. Orang yang seperti ini di dalam bahasa tasawuf disebut sebagai “orang yang rakus.”

Kelima, ia tidak memiliki harta, padahal ia sangat memerlukannya.

Contoh yang kelima ini adalah orang yang lapar, ataupun orang yang menggelandang di jalanan tanpa memiliki tempat tinggal. Orang seperti ini disebut sebagai “orang yang terdesak.” Ia miskin karena terpaksa, tidak ada jalan lain.

Keterpaksaan seseorang itu menjadi miskin bukanlah disebut al-faqr. “Al-Faqr” itu sebetulnya punya potensi untuk kaya, tapi ia tidak mencapainya, karena ia ingin lebih memprioritaskan dirinya dekat kepada Tuhan.

Kedahagaan itu seperti minum air laut, yang hal tersebut tidak akan menghentikan haus. Dalam hal ini, perlu adanya sikap “al-qana’ah” (tahu diri). Memang, cobaan itu banyak sekali. Misalkan: biasanya ketika pensiun, maka semakin banyak peluang rizki. Itu sebenarnya adalah godaan. Itu adalah cara iblis untuk men-su-ul khatimahkan seseorang. Ketika semakin tua semakin bagus rizkinya, akhirnya semakin tidak punya waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tentunya kita tidak ingin seperti ini. Alangkah lebih baiknya kita regenerasikan kepada generasi penerus kita.

Biasanya, jarang sekali ada yang mau mendelegasikan usahanya, kekayaannya kepada anak-anaknya, sepanjang orang tersebut masih kuat. Sementara anaknya ke sana ke mari mencari kerja. Mengapa tidak ada kepercayaan dalam hal ini? Apakah karena terlalu banyak kekhawatiran, atau karena di alam bawah sadarnya memang sudah disetel oleh iblis dengan berbagai kekhawatiran?

Kadang-kadang, bukan anak kita yang tidak siap, melainkan kita yang terlalu rakus sebagai orang tua. Terlalu besar kekhawatiran kita, padahal itu hanya bisikan iblis. Kita mau menangani semuanya, yang kemudian kita tidak ada waktu lagi untuk beribadah. Suatu waktu ketika ajal menjemput, kita hanya bisa menyesal.

Ketahuilah, bahwa zuhud itu adalah suatu derajat yang merupakan kesempurnaan bagi orang-orang yang baik. Kesempurnaan akhlak seseorang tersebut adalah ketika muncul padanya perasaan zuhud.

Salah satu ciri-ciri dari orang yang zuhud itu adalah “low profile”. Antara orang miskin dengan orang kaya, standard low profile-nya juga berbeda. Bukanlah low profile kalau sesungguhnya orang tersebut sebenarnya pantas untuk memiliki lima lembar pakaian, tapi ia tetap memiliki satu lembar pakaian dengan maksud untuk ber-zuhud. Siapa tahu misalkan pakaiannya itu terpercik najis, maka pakaian mana lagi yang akan ia pakai untuk shalat?

Orang yang ingin ber-zuhud itu sudah semestinya mengantisipasi segala kemungkinan, sehingga kuantitas dan kualitas ibadahnya kepada Allah menjadi tidak berkurang. Antisipasi seperti ini perlu, bagi seorang yang mempunyai perencanaan. Jika akhirat mempunyai perencanaan, maka dunia pun tentunya harus ada perencanaan.

Rasulullah bersabda: “a-‘uzubika minal faqri (Aku berlindung kepada Engkau dari kefakiran).”

Doa Rasulullah tersebut adalah memohon agar tidak menjadi miskin “kere”, bukan miskin seperti yang didefinisikan di atas. Bahkan Allah mengatakan, “qadal faqru ayyakuna kufran (hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran).”

Deislamisasi itukan seringnya terjadi di daerah-daerah miskin. Bahwa kadang-kadang karena kefakiran dan kemiskinan, maka orang tersebut pindah agama. Hadits ini memang semestinya menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kita tidak mau memperbaiki perekonomian kita, yang akhirnya Umat Islam akan menjadi sengsara.

Rasulullah bersabda, “ahyani miskinan wa amitni miskinan (Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin).” Hadits ini jangan dipertentangkan dengan hadits yang pertama tadi, karena maksudnya berbeda. Hadits yang ini maksudnya adalah miskin di depan Tuhan, sekalipun hartanya banyak.

Kefakiran yang Rasulullah mohon perlindungan dari Allah seperti dalam sabdanya yang pertama di atas adalah kefakiran orang-orang yang terdesak, yang terpaksa miskin karena keadaan. Sedangkan kemiskinan pada sabda yang kedua yang dimaksudkan di atas adalah pengakuan kemiskinan dan kehinaan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah besabda: “Ilaqallaha faqiran wa la talqahu ghaniyyan (Bertemulah kepada Allah dalam keadaan fakir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya).”

Maksudnya adalah, bertemu kepada Allah dalam keadaan merasa miskin dihadapan-Nya. Karena memang tidak mungkin kita bisa berhadapan langsung dengan Tuhan dengan merasa kaya. Itu artinya ada keangkuhan. Contohnya, lebih bagus mana perut dalam keadaan berpuasa, atau dalam keadaan kekenyangan?

Innalaha yuhibbul faqir al-mutha’affif abbal a’yal (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang fakir yang menjaga kehormatan diri, yang menjadi bapak keluarga).”

Maksudnya ialah, seorang yang miskin tidak akan mendemonstrasikan kemiskinannya supaya mendapat perhatian dan bantuan dari orang lain.

Rasulullah bersabda: “Orang-orang fakir dari ummatku masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka, dengan selisih waktu 500 tahun.”

Jadi, orang-orang miskin masuk surga duluan 500 tahun, baru kemudian orang kaya. 500 tahun akhirat itu, satu hari di sana perbandingannya sama dengan 5000 tahun di dunia. Tetapi tentunya kita berhusnudz-dzan, bahwa penantiannya itu bukanlah di neraka, karena akan diperiksa semua kekayaannya lebih teliti lagi.

Jadi, hal ini mungkin sangat penting bagi kita. Marilah kita mencoba memelihara, jangan sampai kita merasa kaya di depan Allah. Ber-tawadhu’lah kita kepada-Nya, karena Allah Maha Tahu. [Aan]

8 Juni 2008 at 2:01 PM Tinggalkan komentar

Tips Menjadi Orang yang Paling Bahagia

TIPS MENJADI ORANG YANG PALING BAHAGIA

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 25 Februari 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Kita tidak meragukan, bahwa semua orang pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi pertanyaannya: Bagaimanakah merasakan kebahagiaan itu lebih lama di dalam diri kita? Apa kiat-kiatnya agar kita bisa mempertahankan perasaan bahagia tersebut?

Mempertahankan rasa kebahagiaan memang tidak gampang. Ada orang yang bekerja keras, namun yang ia dapat bukan kebahagiaan dan ketenangan, melainkan kekeringan hidup. Ini merupakan pertanda, bahwa tidak secara otomatis orang yang bekerja keras akan mendapatkan kebahagiaan. Ada orang yang kehidupannya terlihat sangat santai, tetapi justru pada saat yang bersamaan, rasa bahagia itu langgeng di dalam dirinya.

Jadi, kebahagiaan tidak diukur dengan banyaknya materi yang kita kumpulkan, sehatnya badan kita, ataupun shalehnya keturunan-keturunan kita. Tetapi sesungguhnya, kebahagiaan dan kesejahteraan yang paling puncak adalah ketenangan jiwa kita.

Ada beberapa tips yang dihimpun para ulama setelah memperdalami Al-Qur’an dan Hadits. Tips menjadi orang yang paling bahagia tersebut adalah:

Pertama, keimanan menghapuskan keresahan.

Tidak ada kebahagiaan tanpa iman yang kuat. Tanpa keimanan, orang-orang yang tidak memiliki prinsip keyakinan di dalam jiwanya hanya akan mencapai kamuflase kehidupan. Sehingga, yang bisa menancapkan kebahagiaan di dalam diri kita adalah keimanan. Keimanan seperti apakah yang dimaksud tersebut?

Keimanan menghapuskan keresahan dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah. Tauhid dan ibadah itu muaranya adalah kebahagiaan dan ketenangan. Pertanyaannya: Bagaimana mewujudkan keimanan yang bisa mengundang kebahagiaan? Bagaimana melakukan ibadah yang bisa menghasilkan ketenangan?

Keimanan memang kepada Allah SWT. Ibadah memang semata-mata untuk Allah, tidak dimaksudkan untuk untuk membahagiakan diri kita sendiri. Maksudnya, kita beribadah bukan karena ingin bahagia. Orang yang beriman dan beribadah karena mendambakan suatu kebahagiaan dan ketenangan, maka seolah-olah kebahagiaan dan ketenangan tersebut merupakan tuhan keduanya selain Allah SWT.

Iman dan ibadah itu tujuannya kepada Allah SWT, akan tetapi dampak dari keimanan dan ibadah tersebut adalah ketenangan. Bukan tujuan kita beriman dan beribadah supaya kita bahagia dan hidup tenang. Jika kita beriman dan beribadah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, berarti kita telah merendahkan posisi ibadah kita (misalkan shalat) hanya menjadi meditasi. Tujuan dari meditasi adalah untuk mencapai ketenangan batin, dan juga kebahagiaan rohani. Bagi Umat Islam, tujuan kita beribadah bukanlah untuk memperoleh ketenangan batin, melainkan ketenangan batin itu hanya sebagai akibat, bukanlah merupakan suatu tujuan.

Jika ada orang beribadah hanya untuk memperoleh ketenangan duniawi dan juga ketenangan batin, maka belumlah ia dapat disebut sebagai seorang mukhlishin (orang yang ikhlash).

Orang yang beriman dan beribadah hanya dengan tujuan kebahagiaan, maka dia pasti akan memperoleh kebahagiaan serta ketenangan tersebut. Tetapi, kebahagiaan dan ketenangan yang ia dapatkan itu tidaklah permanen. Yang bisa mempermanenkan kebahagiaan dan ketenangan tersebut adalah ibadah yang lillahi ta’ala.

Seringkali kita putus asa, misalkan kita sudah sering Shalat Tahajjud dan Puasa Sunnat, tetapi mengapa hati kita tak pernah bisa tenteram, serta tak pernah merasakan bahagia? Hal ini karena ibadah yang telah dilakukan tersebut hanya bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin, bukan untuk memperoleh ridha Allah SWT.

Kita bukan menyembah ketenangan batin, karena tujuan kita beribadah bukanlah untuk mendapatkan ketenangan batin tersebut. Tujuan kita beribadah adalah untuk memohon ridha Allah SWT. Adapun nantinya setelah melakukan ibadah tersebut kita kemudian mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan, maka itu merupakan bonus dari penghambaan diri kita kepada Allah SWT. Kita jangan pernah kecewa jika setelah beribadah ternyata kebahagiaan dan ketenangan tersebut tidak pernah muncul di dalam hati kita.

Apakah yang menyebabkan kebahagiaan tersebut? Kita mungkin bisa mengatakan, ibadah. Tetapi, ibadah yang sangat intensif dan berkualitas itu sebenarnya dipicu oleh ketenangan batin. Misalkan, jika kita sedang mengalami stress, cemas, takut, atau sedang sakit, apakah kita bisa beribadah dengan baik? Apakah ada ketenangan dalam beribadah tersebut? Jawabannya, tidak ada. Jadi, kedua-duanya adalah saling tunjang-menunjang. Ibadah yang baik akan melahirkan ketenangan batin. Ketenangan batin akan melahirkan kualitas ibadah yang baik.

Dalam hal ini, yang patut diperhatikan adalah permulaan niat kita (innamal a’malu bin-niat), yaitu: Innash-shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, bukanlah li tatma innil qulub (untuk ketenangan jiwa).

Jika ada orang yang beribadah hanya bertujuan untuk ketenangan batinnya, maka ia telah menurunkan kualitas ibadahnya menjadi seperti meditasi. Sedangkan meditasi bisa dilakukan oleh orang yang tidak bertuhan sekalipun. Yang penting, ketika meditasi tersebut ia bisa memfokuskan perhatiannya, misalkan dengan membayang-bayangkan suatu tempat yang indah dan tenang. Ketika bermeditasi, orang tersebut bagaikan sedang “fly” setelah minum obat penenang ataupun mengkonsumsi narkotika. Sehingga, jika efek dari obat tersebut habis, maka kembali ia mengalami ketidaktenangan.

Jadi, tips untuk menjadi orang yang paling bahagia adalah: beriman dan beribadah semata-mata hanya karena Allah SWT. Bukanlah tujuan kita untuk memperoleh kebahagiaan, ketenangan, serta ketenteraman batin, melainkan semua itu hanyalah efek samping dari penyembahan (ibadah) kita kepada Tuhan. Akan tetapi, Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Adil.

Kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya memang diniatkan sebagai suatu tujuan, dibandingkan dengan kebahagiaan yang diperoleh karena sebelumnya diniatkan hanya karena Allah SWT, maka kebahagiaan yang pertama tidak permanen, sedangkan kebahagiaan yang kedua adalah permanen. Pada yang kedua tersebut (yang diniatkan karena Allah SWT), bahkan kita akan merasakan suatu ketenangan walaupun ibadah tersebut dilakukan ketika sedang sakit. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena ibadah yang kita lakukan hanyalah karena Allah SWT.

Ubahlah paradigma kita! Jika selama ini kita mungkin pernah mendengar para penceramah yang mengatakan: ala bi dzikrillah tatmainnil qulub (ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, maka kita akan mendapatkan ketenangan batin). Sehingga muncullah di pikiran kita, bahwa untuk mendapatkan ketenangan batin, maka kita harus menyembah Tuhan. Hal tersebut tentunya salah.

Janganlah motivasi ketenangan batin tersebut yang membuat kita beribadah kepada Allah SWT, melainkan kita beribadah adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Ridha Allah itulah nantinya yang akan melahirkan kebahagiaan yang permanen. Tanpa ridha dari Allah, maka kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang permanen tersebut.

Jika selama ini kebahagiaan itu tidak permanen, mungkin karena motivasi kita beriman dan beribadah bukanlah untuk mendapatkan ridha-Nya, melainkan kita terlalu egois. Belum apa-apa, kita sudah mengharapkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Shalat Tahajjud yang rakaatnya panjang-panjang, serta puasa dan ibadah-ibadah lainnya, dilakukan dengan diboboti pamrih-pamrih yang sangat individual. Jadi, mana untuk Tuhan? Semuanya hanya untuk dirinya sendiri. Pura-pura saja sujud, pura-pura saja rakaat shalatnya banyak, tapi tujuannya bukan untuk Allah, melainkan hanya untuk egoisme dirinya sendiri. Padahal, aqimish-shalata li dzikri (dirikanlah shalat untuk menghayati dan mengingat Aku).

Seharusnya Shalat Tahajjud tersebut diniatkan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dan terindah kepada Tuhan. “Inilah kadoku kepada-Mu ya Allah, sebagai tanda syukur terima kasihku kepada-Mu. Kuberikan ibadahku yang sangat tulus kepada-Mu, tanpa diembel-embeli oleh tujuan-tujuan jangka pendekku.” Kalau perlu tanpa berdo’a, karena Tuhan Maha Tahu. Dia lebih tahu apa yang kita inginkan. Yang penting, munajatnya yang paling panjang, bukan doanya. Selama ini mungkin kita tak pernah bermunajat, yang ada adalah doa, yaitu daftar keinginan.

Kedua, karena adanya keimanan dan keyakinan yang sangat kuat tersebut, maka tingkat tawakkal kita menjadi bertambah.

Semakin ma’rifat kita menjadi klop, maka semakin keimanan kita itu mencapai sasaran. Semakin ibadah kita hanya bertujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT, maka perasaan pasrah diri (tawakkal) pasti akan terwujud di dalam diri kita.

Jika perasaan tawakkal itu muncul, maka yang lalu telah berlalu, dan yang telah pergi biarlah pergi. Biarkanlah masa lampau itu berlalu, dan juga jangan membebani kita lagi. Karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Ada, Maha Adil, dan Maha Kuasa, maka kita serahkan diri kita kepada-Nya. Orang yang sudah beriman seperti ini, itulah orang yang telah mencapai ma’rifah yang sesungguhnya.

Jangan dipikirkan yang telah berlalu, karena telah pergi dan telah selesai. Orang yang selalu terbebani masa lampaunya, berarti ia telah meragukan Allah sebagai Maha Pemaaf. “Fa iza ‘azamta fa tawakkal ala-llah”. Setelah kita melakukan yang perfect dan terbaik untuk Allah, maka kemudian ber-tawakkal-lah kita kepada Allah. Tetapi jika kita telah melakukan dosa yang begitu banyak, lalu kemudian kita ber-tawakkal kepada Allah tanpa sebelumnya didahului dengan bertaubat, maka itu bukanlah disebut menyembah Tuhan, melainkan sebaliknya, yaitu mengejek dan menghina Tuhan.

Kalau sudah seperti itu, maka akan muncul sikap penerimaan Qadha’. “Qadha’” adalah garis tangan. Karena garis tangan kita memang sudah seperti ini, maka mau diapakan lagi. Kita sudah berusaha, tapi tetap saja seperti ini. Namun, jika kita tak pernah berusaha, namun berpasrah saja dengan garis tangannya itu, maka ini bukanlah dinamakan garis tangan, melainkan kemalasan.

Yakinlah, bahwa doa dan ibadah akan mampu mengubah takdir. Misalkan tertulis di Lauhul Mahfudz, bahwa hari ini kita akan mati. Kemudian lewat dari waktu kematian tersebut, ternyata kita tidak mati. Apakah ini berarti bahwa Lauhul Mahfudz tersebut salah? Jawabannya, Lauhul Mahfudz tidaklah salah. Karena di atas Lauhul Mahfudz masih ada Allah SWT. Malaikat hanya bisa mengetahui sampai Lauhul Mahfudz, tetapi tidak ada yang bisa memahami isi dari pengetahuan Tuhan.

Misalkan pada sebuah doa disebutkan: “Allahumma thawwil umurana (Ya Allah, panjangkanlah umur kami!)” Berkaitan dengan doa tersebut, bukankah telah ditetapkan di Lauhul Mahfudz, bahwa kita lahir pada tanggal sekian bulan sekian, kemudian akan wafat pada tanggal sekian bulan sekian. Yang ada di Lauhul Mahfudz itu adalah catatan formal, sedangkan catatan de facto-nya hanyalah Allah yang tahu.

Terimalah qadha’ yang telah pasti dan rizki yang telah dibagi itu dengan hati yang terbuka. Segala sesuatu itu ada ukurannya. Karena itu, enyahkanlah kegelisahan.

Jika kita sudah bersusah payah mencari rizki, tetapi kemudian rizki yang didapatkan hanya itu saja, maka mungkin itulah yang terbaik untuk kita. Memang sedikit, tapi itulah intinya berkah yang kita dapatkan. Untuk apa kita mendapatkan banyak, tapi tanpa berkah. Mana yang lebih baik, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Maunya kita, yaitu banyak tapi berkah. Seandainya ada pilihan, sedikit tapi berkah, atau banyak tapi tidak berkah? Tentunya kita akan memilih sedikit tapi berkah. Buat apa banyak tapi tidak berkah, kalau kemudian kita dimasukkan ke penjara.

Berikutnya, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram, dosa akan diabaikan, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan.

Orang yang selalu merasakan beban hidupnya menjadi semakin berat, maka orang tersebut adalah orang yang tidak ikhlas. Orang yang ikhlas tidak akan pernah merasakan kelebihan beban di dalam hidupnya. Mengapa? Karena ia akan mengembalikan semuanya kepada Allah. Orang yang selalu merasakan kelelahan di dalam hidupnya juga merupakan gejala tidak ikhlas. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi hamba di muka bumi ini. Sepertinya ia tidak ikhlas menjadi khalifah di atas dunia ini.

Berikutnya, janganlah kita menanti ucapan terima kasih dari sesama. Jika ada orang yang berbuat sesuatu dan kemudian menanti terima kasih, itu pasti ia tidak ikhlas. Melelahkan hidup seperti itu. Cukuplah pahala dari zat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Tak ada yang harus kita lakukan terhadap orang yang iri dan dengki kepada kita. Biarkan orang tersebut sibuk sendiri. Jangan kita layani orang-orang yang dengki dan iri terhadap kita tersebut. Yang penting, hidup kita lurus (shiratal mustaqim), jalan terus kita menuju Allah, biarkanlah orang tersebut berurusan dengan-Nya. [Hans]

8 Juni 2008 at 1:17 PM 12 komentar


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 501.425 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: