Tasawuf

8 Juni 2008 at 2:11 PM Tinggalkan komentar


TASAWUF

Disarikan dari Pengajian Umum

yang disampaikan oleh:

Drs. H. Wahfiuddin M.BA.

pada tanggal 5 Maret 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Allah berfirman dalam An-Nisaa ayat 59:

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisaa: 59)

Secara harfiah, “uli” berasal dari kata “wala” yang artinya yang memiliki (yang menguasai). “al-amr” bermakna urusan (persoalan). Jamaknya adalah “umr”. “wa ilallahi turja’ul umur” (dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan). “al-amr” juga berasal dari kata “amara – ya’muru”. “amara” artinya memerintah, “al-amr” artinya perintah (kewenangan). Jadi, secara harfiah “ulil amri” adalah orang-orang yang menguasai persoalan, dan oleh karena itu mempunyai kewenangan.

Tugas Rasul

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 151 dijelaskan 3 (tiga) tugas Rasul. Hal yang sama juga terdapat pada Surah Al-Jumu’ah ayat 2, yaitu:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Q.S. Al-Jumu’ah: 2)

Pada ayat yang lain disebutkan:

Kamaa arsalnaa fiikum rasuulan minkum yatluu ‘alaikum aayaatinaa, wa yuzakkiikum, wa yu’allimukumul kitaaba wal hikmah, …

“Sebagaimana telah kami utus kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian juga (dari golongan manusia seperti kamu) dengan tiga tugas, membacakan kepadamu ayat-ayat kami, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepada kalian al-kitab (al-hikmah), …”

Pada ayat tersebut dinyatakan, bahwa Rasul itu bukan dari golongan jin ataupun malaikat, melainkan dari golongan manusia. Dan tugas Rasul tersebut adalah:

1.”yatlu” berasal dari kata “tala” atau ”tilawah” yaitu membacakan kepadamu ayat-ayat kami.

2. “zakka – yuzakki – tazkiyah” artinya mensucikan kamu.

3.“kitab” artinya ketentuan-ketentuan (bukan semata-mata buku). Banyak orang mengartikan “kitabullah” itu buku Allah. Kata-kata “kataba” sering diartikan menulis, padahal “kataba” lebih luas dari menulis, yaitu “menentukan”. Tidaklah memusibahi kita, kecuali apa yang Allah telah “kataba”, yaitu “yang Allah telah menentukan untuk kita”. Bentuk pasifnya yaitu “kutiba”. Kalimat “kutiba ‘alaikumushshiyam” bukan artinya “telah ditulis”, tetapi “telah ditetapkan untukmu”. Maka “kitabun” atau “kitab”, misalkan dalam konteks Surah An-Nisaa ayat 103: “…innash-shalaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaaban …” yang artinya:

innash shalaata : sesungguhnya shalat itu

kaanat ‘alal mu’miniina: adalah bagi orang-orang yang beriman

kitaaban : shalat adalah “kitab”, yaitu ketentuan

Makanya, ketika membaca “Alif lam mim. Zaalikal kitaab”, zaalikal kitab bukan artinya “inilah buku”, karena ketika ayat ini diturunkan, Al-Qur’an belum ada dalam bentuk buku, melainkan ayat Al-Qur’an masih dalam proses turun, kemudian dihafal. Setelah Rasulullah wafat, barulah Al-Qur’an ditulis dalam bentuk buku. Karena itu, makna “kitaab” bukanlah berarti “buku”, melainkan adalah berarti “ketentuan”.

Tugas Rasul seperti disebutkan pada ayat di atas (Surah Al-Baqarah ayat 151) yaitu “mengajarkan kepada kalian al-kitab, yaitu ketentuan-ketentuan, hukum-hukum”

wal hikmah”, yang berarti tujuan-tujuan dari hukum itu sendiri, atau manfaat-manfaat dari hukum. Misalkan, mengapa ada ketentuan bahwa harus bayar zakat? Hikmahnya (tujuannya) yaitu: “kaila yakuuna duulatan bainal aghniya-i minkum” yaitu dengan adanya zakat, maka akan mencegah harta berputar kepada segelintir orang kaya saja, supaya harta tersebut tersebar kepada orang-orang yang tak mampu. Mengapa ada shalat? Maka kemudian dijelaskan, bahwa “innash shalata tanha anil fahsya-i wal munkar”, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Apa hubungan shalat dengan tercegahnya orang dari perbuatan keji dan mungkar? Inilah, bahwa ada “kitab”nya atau ketentuannya dan ada “hikmah”nya atau tujuan (manfaat) dari ketentuan tersebut.

Selanjutnya:

…wa yu’allimukum maa lam takuunu ta’lamuun.

… dan menta’limkan kamu apa-apa yang kamu tidak bisa mengetahuinya (kecuali Rasul yang mengajarkannya).

Jadi, tugas Rasul itu ada 3 (tiga) — disingkat Tugas 3T —, yaitu:

1) Tilawah, yaitu membacakan ayat-ayat Allah.

2) Tazkiyah, yaitu mensucikan manusia. Mensucikan di sini bukanlah mensucikan tubuh, melainkan mensucikan ruh (tazkiyaturruh).

3) Ta’lim. Ta’limnya ada dua, yaitu ta’lim yang sifatnya “legal” ketentuan-ketentuan dan manfaatnya, dan menta’limkan apa-apa yang gaib bagi manusia (yang tidak bisa diketahui manusia), kecuali Rasul yang mengajarkannya.

Apa yang dimaksudkan dengan “menta’limkan apa-apa yang tidak kamu ketahui”?

Allah adalah “Al-‘Alim” yang artinya memiliki pengetahuan. “’alima” artinya mengetahui, sedangkan “’alim” artinya Maha Mengetahui.

Ilmu Allah dilepas di dua tempat. Pertama, ada ilmu Allah yang oleh Allah dilepas di alam semesta. Itulah ilmu yang mengatur “qaun”, yaitu kejadian-kejadian alam yang kita sebut sebagai hukum alam. Jadi, ilmu Allah yang ditempatkan di alam itulah yang menjadi takdir Allah yang mengendalikan peristiwa-peristiwa alam. Inilah ilmu yang “qauniyah”, yang juga disebut sebagai “hukum alam” atau “sunnatullah”. Kedua, ada ilmu yang dilepaskan oleh Allah berupa wahyu, yaitu ilmu Allah yang ada di dalam Al-Qur’an.

Lalu, bagaimana manusia memahami ilmu Allah yang di “qauniyah” dan ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an tersebut? Untuk mengetahuinya, maka manusia melakukan “abshara – yubshiru”, yaitu melakukan pengamatan, pencatatan, dan pengukuran (observasi). Maka didapatlah serangkaian data. Berdasarkan data-data itu, manusia mengembangkan hipotesa-hipotesa. Kemudian hipotesa itu dieksperimenkan dengan cara deduktif. Setelah itu hasilnya didapatlah konklusi (kesimpulan). Sehingga, ilmu Allah yang tadinya ada di alam, maka oleh manusia kemudian digali, diproses dengan scientific method dipindahkan ke dalam diri manusia.

Begitu juga ilmu Allah yang ada di Al-Qur’an. Diobservasi, maka didapatlah data. Misalkan, janganlah riba’. Riba’ itu bisa di dalam jual beli, bisa di dalam pinjam-meminjam. Kalau tidak boleh ada riba’, lalu bagaimana kita mengembangkan ekonomi tanpa riba’? kemudian dikembangkanlah hipotesa berupa bank yang non ribawi, asuransi yang non ribawi, perdagangan yang non ribawi. Tapi itu baru hipotesa. Kemudian dieksperimenlah secara deduktif, dan akhirnya didapatlah konklusi (kesimpulan) yang kemudian dinamakan “ekonomi syari’ah”.

Semua ilmu Allah yang ada di alam dan di Al-Qur’an yang digali oleh manusia, kemudian disebut sebagai “ilmu hushuli”, yaitu ilmu yang diikhtiarkan oleh manusia. Tapi jangan lupa, selain ada ilmu Allah yang dilepas di alam, ada juga ilmu Allah yang disampaikan berupa wahyu, dan ada juga ilmu Allah yang tetap ada pada Allah. Allah bisa memberikan ilmu tersebut kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Ilmu ini tidak dihasilkan dan tidak digali dari ikhtiar manusia, melainkan ilmu yang dihadiahkan begitu saja oleh Allah yang di Al-Qur’an disebut “milladunna ‘ilmu” atau yang biasa disebut “ilmu ladunni”, yaitu ilmu yang dihadirkan oleh Allah (ilmu hudhuri). Karena itu, ada orang-orang yang tidak pernah belajar melalui jalur akademis, tapi jika Allah mau, maka Allah akan berikan ilmu tersebut. Biasanya ilmu ini diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul.

Mengapa seorang Rasul mampu melakukan tugas-tugas 3T tersebut? Karena Rasul juga diberlakukan 3T oleh malaikat. Jadi apa-apa yang ditilawahkan oleh Rasul bukanlah buatan Rasul sendiri, melainkan Rasul sebelum juga telah ditilawahkan oleh Jibril. Rasul juga mendapatkan tazkiyah dari Jibril. Rasul juga dita’lim oleh Jibril. Karena itu Rasul kemudian bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’lim. Jibril bisa mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan kepada Rasul tak lain karena Jibril telah lebih dahulu ditilawah, ditazkiyah, dan dita’limkan oleh Allah.

Kemudian Rasul mentilawah, mentazkiyah, dan menta’limkan umat-umat pada masanya, yaitu generasi para sahabat. Tapi, tidak semua sahabat-sahabat Nabi menjalani 3T itu dengan sempurna, karena mereka (sahabat-sahabat itu) juga adalah manusia biasa. Bagi orang-orang yang bisa menjalani 3T ini dengan sempurna, maka ia akan bisa mendekati derajat kenabian, tetapi mereka tidaklah lantas disebut sebagai Nabi. Yang ini disebut sebagai derajat waliyullah, yang mereka ini patut menyandang sebagai pewaris para Nabi (warasatul anbiya).

athiullah wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum.

“taatilah Allah taatilah Rasul dan taati ulil amri.”

Jika kini sudah tidak ada Rasul, lantas siapakah yang akan ditaati? Yang akan ditaati itu adalah mereka yang kemudiam disebut sebagai pewaris para Rasul, yang silsilahnya jelas tersambung hingga kepada Rasul (musalsal). Taati ulil amri, maksudnya adalah ulil amri yang juga merupakan pewaris para Nabi. Ulil amri adalah orang yang menguasai persoalan.

Dalam bertasawuf, yang penting bukan zikir dan wiridnya, tetapi siapa mursyidnya. Ilmu pengetahuan dan keahlian boleh saja diketahui dan dikuasai, tapi harus jelas sumbernya dari mana. Bukannya Islam melarang orang untuk autodidak (belajar sendiri). Autodidak itu boleh, tapi untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, batang tubuh (inti) dari ilmu itu harus dipelajari dari sumber-sumber yang autentik.

Dalam tasawuf, hal ini begitu pentingnya. Sebab bukan soal wiridnya, melainkan siapa yang menjadi mursyidnya, yang membimbing ruh mendekati Allah. Menjadi suatu kewajaran bagi orang yang sudah melakukan olah rohani secara intens, yang kemudian ia bisa mencapai suatu tingkatan ketajaman-ketajaman ruhaniah, misalkan: ia bisa mengalami dan melihat apa-apa yang tidak bisa dialami dan dilihat oleh orang lain.

Begitu terlihat (kasyaf), yang itupun baru kasyaf tingkat rendah, orang tersebut kemudian bisa menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Maka di sinilah godaan akan bisa masuk. Apakah yang gaib-gaib itu dari malaikat atau dari Allah, atau justru itu mungkin dari iblis? Inilah kasus yang akhir-akhir ini sering muncul, seperti mengaku sebagai Nabi, dan sebagainya.

Karena itulah, dalam beragama begitu pentingnya kita memiliki mursyid yang bersilsilah dan autentik. Setelah bertemu dengan mursyid yang warasatul anbiya, yang waliyullah, yang sudah terlatih dan teruji dengan ibadah-ibadah yang ketat, yang pemahaman agamanya begitu mendalam, yang akhlaknya begitu baik, maka mursyid tersebut akan memberikan latihan-latihan. Apapun latihannya tersebut, maka akan menjadi baik. Ketika kita mengamalkannya, maka mursyid tersebut akan mengontrolnya.

Memang, tidak diingkari bahwa ada wirid dan bacaan tertentu yang membuat orang bisa menjadi begitu kharismatik, yang seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat menawan, dan banyak orang yang senang kepadanya. Maka jangan heran, banyak yang jatuh cinta kepadanya setelah mengamalkan suatu wirid. Yang ujung-ujungnya akan menjerumuskan kepada hal-hal yang semakin menjauhkan dari Allah. Namun jika ada mursyid, maka sang mursyid akan mengontrol dan mengingatkan jika ada sesuatu yang melenceng tersebut.

Apakah waliyullah dan warasatul anbiya itu masih ada sampai sekarang? Tentunya masih ada, karena telah tertulis di dalam Al-Qur’an, dan ayat tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Ciri seorang waliyullah tersebut adalah adalah:

Pertama, ketenteramannya yang luar biasa, terlihat dari akhlaknya yang mulia. Mengapa bisa seperti ini? Karena mereka sungguh beriman dan bertakwa. Dan orang-orang seperti ini selalu terpancar dari dirinya “al-busra”, yaitu kebahagiaan, keceriaan, semangat, dan optimisme.

Kedua, dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan, bahwa seorang waliyullah adalah orang yang begitu gemar beribadah, yaitu dengan melakukan yang wajib dan juga yang sunnah. Makanya kalau ada yang mengaku mursyid, tapi ibadahnya kendor, maka hati-hatilah. Karena kegemarannya beribadah itu, Allah mengatakan, “Aku mencintai dia, maka Aku akan menjadi pendengarannya saat dia mendengar.” Di sinilah yang kemudian terjadi “kharikul ‘adah”, yaitu orang tersebut diberikan Allah kemampuan melihat apa yang orang biasa tidak bisa melihatnya, kemampuan mendengar yang orang biasa tidak bisa mendengarnya, inilah orang-orang yang doa-doanya diperhatikan oleh Allah.

Ketiga, meskipun mereka memiliki “super natural power”, tapi para wali itu cenderung menyembunyikannya. Tidak mudah ia mempertontonkan kesaktian-kesaktiannya.

Keempat, ia memiliki tauhid yang murni dan kebergantungan yang total, yaitu hanya bergantung kepada Allah.

Kelima, ia sungguh-sungguh mewarisi akhlak dan tugas Rasul.

Itulah kriteria-kriteria seorang mursyid yang memang benar-benar waliyullah dan juga warasatul anbiya. [Aan]

Iklan

Entry filed under: Ceramah Agama Islam. Tags: , , .

Hakikat Fakir Pandangan Hidup Manusia Menurut Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 404,011 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: