Fakir Miskin

13 Juni 2008 at 12:45 PM Tinggalkan komentar


FAKIR MISKIN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.

pada tanggal 2 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Hamba yang sangat dipuji Allah adalah hamba yang merasa miskin di hadapan kebesaran Allah. Sedangkan hamba yang tidak terpuji adalah mereka yang merasa kaya di hadapan Allah. Sebagai seorang yang beriman, sedapat mungkin kita selalu merasa faqir dan juga selalu merasa miskin di hadapan kebesaran Allah SWT.

Salah satu tanda-tanda keangkuhan dan kesombongan seseorang, bahwa ia selalu merasa kaya, sekalipun ia sedang menghadap kepada Allah. Pada saat kita sedang sujud di hadapan Allah, maka lupakanlah kekayaan dan semua yang kita miliki. Hamba yang paling cepat mendaki ke langit menuju ke haribaan Allah adalah hamba yang merasa miskin dan merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Allah.

Kita sangat sadar, bahwa semua yang kita peroleh itu hanya titipan Allah. Titipan itu hanyalah sementara. Ketika kita meninggal, maka yang mengantar kita sampai di pemakaman hanya kain kafan. Semewah apapun seseorang, maka tidak akan ada hartanya yang mengantar sampai ke liang kubur.

Ketika di liang kubur, sama saja antara orang kaya dengan orang miskin. Memang ada yang dipeti-matikan dengan peti yang sangat mewah, tapi peti mewah itu tak akan memberikan arti apa-apa bagi seseorang. Karena itu, kita dianjurkan untuk tidak menggunakan peti mati, kecuali dalam keadaan terpaksa dan kondisi tertentu yang mengharuskan menggunakan peti mati.

Jadi, kita tidak ada arti apa-apa di hadapan kebesaran Allah SWT. Karena itu, siapapun yang ingin dicintai Allah, maka selalulah ia merasa miskin, terutama ketika menghadap-Nya. Bahkan kalau perlu kita pun merasa miskin di hadapan manusia.

Firman Allah:

Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 273)

Maksudnya, bahwa ada orang yang dia itu menjadi miskin karena dia melakukan misi ketuhanan. Kalau dia mencari nafkah (rezeki), dia mungkin akan menjadi kaya. Tapi jika ia mencari nafkah tersebut, kemungkinan umatnya akan ketinggalan, serta tidak mendapatkan apa-apa. Hal inilah yang diwanti-wanti oleh Allah SWT. Jadi sesungguhnya kemiskinannya itu adalah kemiskinan yang sudah diperhitungkan.

Di beberapa pulau di Indonesia yang sudah ditinggalkan ustadz, yang kemudian beberapa Jum’at berturut-turut tidak bisa lagi Shalat Jum’at. Bukan karena tidak ada umat, dan bukan pula tidak ada masjid, melainkan tidak ada lagi yang bisa meyampaikan khutbah di tempat itu. Akhirnya, ada beberapa anak muda yang sangat produktif yang kemudian terpanggil untuk datang ke tempat tersebut. Dia kemudian menjadi guru ngaji, dan juga menjadi ustadz di sana. Karena hal tersebut, dia tidak ada lagi waktu untuk mencari nafkah, sehingga dengan sendirinya orang seperti ini termasuk sebagai orang miskin. Inilah antara lain yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas, yang mana orang-orang seperti ini sangat patut untuk dibantu.

Sabda Rasulullah:

Ittaqillaha faqiran la talqi ghaniyyan.

“Bertemulah kepada Tuhanmu dalam keadaan faqir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya.”

Orang miskin di mata Tuhan itu penting, dan tidak ada bedanya dengan orang kaya, asalkan orang miskin itu termasuk miskin yang taat. Ini tidak berarti bahwa orang kaya itu tidak mempunyai tempat di mata Tuhan, meskipun banyak rintangan bagi orang kaya itu. Sehingga orang kaya yang pemurah lebih tinggi martabatnya di mata Tuhan dibandingkan orang miskin yang taat. Jadi sesungguhnya, yang dimaksudkan bukanlah tinggalkan dunia, melainkan carilah dunia tapi jangan pernah lupakan akhirat.

Suatu pepatah mengatakan (pepatah Imam Syafi’i):

I’mallidunyaka ka-annaka ta’i syu-abada wa’malli akhiratika ka-annakatamuutughada.

“Carilah duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi, carilah akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Maksudnya, jika kita membayangkan kehidupan abadi, maka pasti kita akan bekerja optimal mencari dunia ini. Tetapi jika kita membayangkan besok akan mati maka kita akan menshadaqahkan harta kita dan ibadah kita pasti mencapai puncaknya. Jadi, jangan dipertentangkan antara dunia dengan akhirat. Karena dunia adalah pintu masuk ke akhirat.

Addunya mir-atul akhirat.

“Pencerminan akhirat kita itu adalah apa yang kita rasakan di dunia ini.”

Jadi, untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk neraka atau surga, maka lihatlah apa yang kita lakukan di dunia ini.

Rasulullah bersabda:

Innallaha yuhibbul faqiiral muta’affif abal a’yal.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang fakir yang menjaga kehormatan diri yang menjadi bapak keluarga.”

Dia merasa fakir, tetapi kefakiran dan kemiskinannya itu terhormat. Ada orang miskin tapi tidak terhormat. Maka jadilah orang miskin yang terhormat. Dia memang miskin secara harta, tapi dia kaya dengan hati. Dia dekat selalu dengan Tuhannya, dia selalu merindukan Nabinya, dia selalu rajin berkomunikasi dengan Al-Qur’an, dan dia tidak pernah terlepas dari mengingat Tuhan.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata: “Terkutuklah orang yang memuliakan seseorang karena kekayaannya, dan meremehkan seseorang karena kefakirannya.”

Jangan-jangan kebanyakan dari kita adalah seperti ini, yang selalu memandang seseorang dari kekayaannya. Jika orang tersebut kaya, maka kita akan memuliakannya, tapi jika orang tersebut miskin maka kita akan meremehkannya.

Rasulullah bersabda:

Yadkhulu fuqaraa-u ummatil jannata qabla aghniyaa-iha bi khamsimi-atin ‘amin.

“Orang-orang faqir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya di antara mereka dengan selisih waktu 500 tahun.”

Tuballiman bidahilal islami wa qaana’isyuhu qafafan waqana ‘abidin.

“Berbahagialah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Islam dan kehidupannya merasa cukup dan tidak menjadi beban orang lain dan puas dengan yang ada.”

Inilah yang dinamakan qana’ah. Orang yang paling kaya ialah orang yang merasa puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Sedangkan orang yang miskin ialah orang yang selalu merasa tidak punya apa-apa.

Orang yang miskin adalah orang yang banyak maunya, sekalipun hartanya banyak. Orang kaya yang paling hina adalah orang kaya yang suka meminta-minta. Kalau orang miskin meminta-minta mungkin masih dapat dikatakan wajar, tapi jika orang kaya suka meminta-minta, sungguh terhinalah orang seperti ini, dan rendah martabatnya di mata Allah.

Kalau memohon banyak kepada Allah, itulah yang terpuji. Tapi jika meminta kepada makhluk Tuhan, itulah yang tidak terpuji. [Aan]

Iklan

Entry filed under: Ceramah Agama Islam. Tags: , , .

Pandangan Hidup Manusia Menurut Islam Hikmah di Balik Penciptaan Syaitan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 427,222 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • أمتي، أمتي يقولها لنا يوم القيامة أمتي، أمتي يقولها شفاعة أنا لها، أنا لها 2 days ago
  • Mari...mari tikam yang nak cepat kaya. fb.me/1tVskMDtG 1 month ago
  • Di beberapa kampong di Borneo Barat yang berada di sempadan administratif indonesia-Malaysia, bukan lagi bendera... fb.me/w5Pg6Pyf 2 months ago
  • Untuk menegakkan nasionalisme itu memerlukan pendukung yang teramat banyak pula tentunya. Segala macam cara pun... fb.me/3iqVa7gAu 2 months ago
  • Jikalau terbiasa dengan tradisi "mudzakarah", menghargai pandangan yang berbeda itu seumpama tarikan dan hembusan nafas insani. 2 months ago

%d blogger menyukai ini: