Pembinaan Karakter

13 Juni 2008 at 1:12 PM 1 komentar


PEMBINAAN KARAKTER

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 21 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Pembinaan karakter kini memang menjadi suatu yang krisis. Hampir setiap orang sulit sekali untuk mempertahankan karakter aslinya. Pada umumnya banyak di antara kita begitu gampang berubah. Sedikit saja mendapat pengaruh dari luar, maka faktor internalnya menjadi berubah. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan. Jika sudah seperti ini, kiranya menjadi sulit untuk menyebarkan suatu kebaikan jika kita sendiri tidak memiliki pendirian yang tangguh.

Ada beberapa hal yang menyebabkan karakter seseorang itu menjadi gampang berubah, walaupun misalkan ibadah orang tersebut sangat baik, hubungan dengan sesama manusia juga baik, tetapi sering kali orang tersebut merasakan dirinya sangat lemah. Orang itu merasakan bahwa dirinya sangat lemah (tidak kuat) menghadapi suatu perubahan. Jika situasi sosial berubah, maka dirinya juga menjadi terpengaruh akan perubahan tersebut. Bahkan, perubahan cuaca pun kadang ikut mempengaruhi orang tersebut.

Ada lima karakter yang pada umumnya sering mempengaruhi pandangan hidup manusia, yaitu: karena rasa bersalah, rasa dendam, rasa takut, materi, dan pengakuan diri.

Pertama, seseorang berubah karena rasa bersalahnya (terpengaruh oleh rasa bersalahnya).

Ciri-cirinya adalah: jika ia telah melakukan dosa, apalagi dosa yang dilakukannya itu adalah dosa besar, maka ia seperti dikejar dan dihantui oleh perasaan bersalahnya. Perasaan berdosa ini biasanya membuat seseorang dalam bertindak menjadi sangat kaku, bahkan hidupnya cenderung pasrah, tidak ada semangat, dan tidak ada kreativitas.

Jangan pernah memandang enteng dosa, karena dosa bisa membuat seseorang itu menjadi tidak produktif, tidak kreatif, jalan pikirannya buntu, dan kehilangan semangat hidup. Karena itu, semua perbuatan dosa dilarang oleh Allah. Dosa itu bisa dipahami melalui pikiran, melalui kata hati, dan melalui firman Tuhan dan hadits Rasulullah. Walaupun kita tidak pernah membaca Al-Qur’an atau Hadits sekalipun, tetapi kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan itu bertentangan dengan nilai kebenaran. Misalkan perbuatan zina, mencuri, ataupun membunuh, tanpa kita membaca ayat Al-Qur’an pun, kita bisa mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak benar. Sehingga, jika perbuatan dosa tersebut kita lakukan, maka pasti ada sesuatu yang salah di dalam diri kita. Perasaan bersalah ini tak mungkin akan hilang jika tanpa adanya penyadaran diri (taubat). Dosa tidak akan membuat seseorang itu produktif di dalam perjalanan hidupnya.

Kedua, seseorang berubah karena rasa dendamnya. Rasa dendamnya itu mempengaruhinya dalam setiap mengampil keputusan ataupun kesimpulan.

Orang seperti ini ciri-cirinya adalah nekat. Ia selalu melihat objek yang didendaminya itu seperti iblis. Dia pernah sakit hati terhadap sesuatu, karena itu ia dendam. Terhadap orang yang didendaminya itu, kiranya tak ada positifnya sekalipun. Maka kehidupan yang dilaluinya selalu penuh dengan benci, marah, dan dendam. Orang seperti ini takkan pernah bisa produktif. Jika ada orang yang bekerja karena dimotivasi oleh dendam, yakinlah maka rekan kerjanya akan gerah, apalagi malaikat.

Jangan pernah kita didikte atau mengambil suatu keputusan karena dimotivasi oleh perasaan dendam. Dendam ini dilarang oleh Allah, karena dendam itulah nantinya yang akan membakar energi orang tersebut. Ia akan loyo, akan jatuh sakit, dan juga akan hilang segala-galanya. Mengapa? Karena dendam di dalam dirinya itulah yang membuat orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagi orang yang menyimpan rasa dendam yang sangat mendalam, maka segala yang dilakukannya sehari-hari selalu tidak enak, seakan-akan setiap saat selalu penuh dengan wajah orang yang didendaminya itu. Bahkan mungkin ketika ia tidur dan bermimpi. Bahayanya, jika seseorang yang mengambil kesimpulan dan keputusan karena dimotivasi oleh dendam, maka kesimpulan dan keputusan yang dihasilkan tersebut akan sangat riskan.

Orang seperti ini biasanya agresif, dan menganggap orang yang didendaminya itu seperti setan. Ia anarkis dan destruktif. Jika konstruktif adalah bersifat permanen dan positif, maka destruktif lebih cenderung goyah dan meruntuhkan (menghancurkan). Karena itu, jangan pernah kita didikte di dalam mengambil suatu keputusan dengan perasaan dendam. Akibatnya bukan hanya kita yang merasakannya, bahkan keluarga dan orang yang ada di sekitar kita akan merasakan dampaknya.

Ketiga, dipengaruhi oleh rasa takut. Apapun keputusannya, selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya.

Orang seperti ini biasanya penakut, misalkan takut terhadap hujan lebat sehingga badannya akan bergetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena takut. Mendengar halilintar ia menjadi takut. Mendengarkan orang berteriak saja, maka jantungnya akan berdebar-debar. Orang seperti ini biasanya pernah mengalami trauma, dan traumanya itu tidak terselesaikan. Sehingga di dalam bertindak, ia akan selalu dipengaruhi oleh rasa takutnya itu. Orang seperti ini cenderung menjadi statis, tidak mau mengambil resiko, yang akhirnya orang ini menjadi kerdil. Orang seperti ini juga biasanya sering keliru dalam mengambil suatu tindakan. Jika kita terlalu didikte oleh perasaan takut, maka kita tidak bisa berbuat secara normal.

Keempat, terpengaruh karena materi atau kedudukan atau pangkatnya.

Orang seperti ini biasanya kelihatan egois. Sepertinya hanya dialah yang paling hebat. Tindakan-tindakan seperti ini cenderung juga menimbulkan kerugian terhadap dirinya sendiri, bahkan juga terhadap orang lain. Karena itu, jika kita mendapakan rezeki dari Allah, baik itu berupa materi (harta) atau dalam bentuk jabatan (kedudukan), maka jangan sampai materi dan jabatan tersebut membuat kita terpengaruh dalam mengambil suatu tindakan.

Ciri-ciri orang yang seperti ini, yaitu tidak ada lagi orang yang mampu mengerem pembicaraannya. Juga terlihat di dalam perbuatannya, seakan-akan dialah yang paling hebat. Selain itu juga dalam bentuk kebijakan, misalkan bahwa kebijakannya itu selalu diarahkan pada dirinya sendiri. Orang seperti ini cenderung tidak demokratis. Orang seperti ini biasanya menempuh kehidupan yang serba gampang, tidak ingin repot, dan kurang hati-hati. Mengapa? Karena kekuasaan ada di tangannya, yang ini bisa merugikan dirinya dan juga orang lain.

Kelima, terpengaruh karena pengakuan atas dirinya sendiri (aktualisasi diri).

Karena ingin mengaktualisasi dirinya tersebut di dalam masyarakat, sehingga ia tak pernah mempedulikan seberapa besarpun pengorbanan yang telah dan akan ia berikan, demi popularitas, yang penting dirinya terkenal.

Kelima karakter ini tidak sejalan dengan tuntunan di dalam Agama Islam. Misalkan orang yang bekerja dengan penuh rasa berdosa, maka ia akan seperti orang yang linglung, tidak pernah fokus, tak pernah ada semangat di dalam bekerja, karena ada kerusakan di dalam sistem batinnya. Karena itu, kita dilarang untuk melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, maka kita akan semakin tidak fokus, karena ada kerusakan di dalam sistem batin kita. Sebaliknya, jika tidak ada salah yang kita lakukan, sekalipun pangkat kita rendah, sekalipun kita rakyat biasa, tetapi tetap ada keberanian pada diri kita. Bagi orang yang tidak pernah bersalah, ia berani karena ia benar, dan ia takut karena ia salah.

Begitu juga dengan rasa takut. Rasa takut itu pasti akan mengganggu kehidupan seseorang. Ada saatnya kita takut dan ada saatnya kita berani. Kapankah kita takut? Di dalam Bahasa Arab, jika “khasya” adalah takut kepada Allah, sedangkan “khawfun” adalah takut kepada makhluk Allah. Seseorang itu lebih tepat untuk khasya dibandingkan khawfun. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan kita kepada hantu atau syaitan. Ketakutan kita kepada Allah itu harus lebih dominan dibandingkan ketakutan akan terbongkarnya aib kita di dalam masyarakat. Ketika ada aib pada diri kita, kita lebih takut aib tersebut diketahui oleh orang lain dibandingkan kita takut kepada Allah.

Selain lima karakter tersebut di atas, maka ada karakter yang keenam, yaitu orang yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Inilah yang kita harapkan. Sehingga nilai keagamaan tersebut akan mewarnai kehidupan kita.

Jadi ada lima hal yang jangan sampai menjangkiti diri kita seperti tersebut di atas, yaitu rasa bersalah, dendam, takut, materi, dan aktualisasi diri yang berlebihan. Untuk mengobatinya adalah dengan cara kita harus kembali kepada Agama Islam sebagai pandangan hidup kita (way of life). [N4viY]

Iklan

Entry filed under: Ceramah Agama Islam. Tags: , .

Menjadi Orang Tua bagi Anak Usia 14 – 21 Tahun Kajian Tafsir Surah Al-Furqan (25): 63-77

1 Komentar Add your own

  • 1. Pujex Carlox's blog  |  2 Juni 2011 pukul 4:56 PM

    […] Pembinaan Karakter Tafsir Al-Hujurat Ayat 1 – 5 Suka Be the first to like this post. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 410,374 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: