Tafsir Al-Hujurat Ayat 1 – 5

13 Juni 2008 at 1:30 PM 2 komentar


TAFSIR AL-HUJURAT AYAT 1 – 5

Disarikan dari Pengajian Tafsir

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. K.H. Umar Shihab, M.A.

pada tanggal 23 April 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Al-Hujuraat: 1

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Hujuraat: 1)

Sebagian besar ayat yang dimulai dengan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw” adalah Madaniyah, yaitu ayat yang diturunkan di Madinah. Ayat ini menyangkut keadaan dan kehidupan Rasulullah dan tata cara menghadapi Rasulullah.

Surah ini disebut Al-Hujuraat, asal katanya adalah “hujrah” yang berarti kamar. Yang dimaksud dengan “kamar” ini adalah rumah-rumah Rasulullah yang begitu kecil, hingga disebut “hujrah“. Rumah Rasulullah itu kecil, berada di samping Masjid Nabawi. Sekarang malahan sudah masuk ke dalam lingkungan Masjid Nabawi, yaitu berada di depan Raudhah.

Menurut sebagian ulama tafsir, bahwa pada umumnya perintah yang didahului dengan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw” merupakan perintah yang wajib. Karena dalam Al-Qur’an ada kata-kata fi’il ‘amar, tapi bukan berarti wajib, melainkan berarti sunnah. Misalkan:

Maka bersembahyanglah kamu pada Hari Raya Idul Adha itu, dan berkurbanlah. (Q.S. Al-Kautsar: 2)

Perintah berkurban pada ayat tersebut adalah perintah berupa fi’il ‘amar, tetapi diterangkan bahwa hal itu adalah sunnah muakkad, bukanlah sesuatu yang wajib. Namun bila dikatakan “Yaa ayyuhalladziyna aamanuw“, maka hal itu menunjukkan suatu perintah yang wajib.

Selanjutnya pada ayat di atas (Al-Hujuraat: 1) terdapat kata “tuqaddimuw” yang berarti mendahului. Sehingga, “laa tuqaddimuw” berarti jangan mendahului. Di dalam kitab tafsir disebutkan, “Jangan mendahului mengambil keputusan sebelum adanya keputusan Allah dan Rasul-Nya.” Jadi, jika sudah ada keputusan Allah dan Rasul-nya, maka tidak menjadi persoalan. Ayat ini menyangkut keadaan ketika Rasululullah masih hidup. Pada masa itu, terkadang ada sahabat yang mengambil keputusan sebelum ditetapkan oleh Rasulullah atau sebelum diturunkannya ayat kepada Rasulullah.

bayna yadayillaah” menurut ulama tafsir maksudnya adalah “ayat-ayat Al-Qur’an”. “wa rasulihi” maksudnya adalah apa yang diterangkan oleh Rasul-Nya, dalam pengertian ini adalah penafsiran Al-Qur’an dan hadits-hadits yang ada.

Apakah ayat ini sudah tidak berlaku lagi sekarang? Rasulullah sudah wafat dan Al-Qur’an sudah lengkap. Jadi, apa yang dimaksud dengan “jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya” pada ayat ini?

Menurut sebagian ulama tafsir, maksud dari ayat ini adalah melarang untuk berandai-andai. Misalkan: seandainya saya menteri, seandainya saya kaya, dan sebagainya. Dan juga jangan mengkhayalkan diri kita pada sesuatu yang tidak mungkin. Juga jangan menetapkan sesuatu yang belum terjadi. Boleh saja misalkan seperti prakiraan (ramalan) cuaca yang ada landasan ilmiahnya. Tapi jika suatu ramalan yang tidak ada landasan ilmiahnya, maka sangat dilarang oleh Allah.

Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya, “Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok?”

Salah seorang muridnya menjawab, “Yang akan terjadi besok ialah matahari akan terbit dari sebelah timur.”

Imam Ghazali lalu berkata, “Tidak benar. Siapapun tak ada yang tahu bahwa besok matahari masih akan terbit.”

Lalu Imam Ghazali juga mengatakan, “Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali satu, bahwa kematian itu adalah pasti.”

Jadi, janganlah takut dengan kematian. Karena itu, jika ditanya tentang kematian, maka orang sufi akan berkata, bahwa kematian itu adalah sesuatu yang biasa saja.

Kemudian ayat ini diakhiri dengan menyebutkan sifat Allah, yaitu “sami’un ‘alim” (Maha Mendengar dan Maha Megetahui). Mengapa ayat ini diakhiri dengan “sami’un ‘alim“? Maksudnya, agar manusia mengetahui, jika ia mengkhayal, biasanya khayalan itu berasal dari dalam dirinya sendiri. Karena berasal dari dalam dirinya sendiri, maka dianggap tidak ada yang mengetahui khayalan tersebut selain dirinya. Di sinilah Allah mengingatkan, bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Al-Hujuraat: 2

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (Q.S. Al-Hujuraat: 2)

…laa tarfa’uw aswaatakum fawqa shawtinnabiy …“, artinya bahwa: jangan mengangkat suaramu lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi. Bagaimanakah maksud ayat ini, sedangkan kini Nabi sudah tidak ada?

Ada orientalis yang mengatakan, bahwa ada ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang tidak bisa diberlakukan lagi. Ia (orientalis) itu tidak memahami, bahwa ayat itu tujuannya bukan hanya untuk umat di zaman Nabi, tapi berlaku di sepanjang zaman.

Maksud pertama dari ayat di atas adalah, bahwa jangan mengeraskan suara kita jika sedang berziarah ke makam Nabi, termasuk juga untuk tidak menangis di makam Nabi.

Diriwayatkan, bahwa ketika Sayyidina Umar menjadi khalifah, ada orang di sekitar kuburan Rasulullah sedang bercengkerama dengan suara keras. Sayyidina Umar kemudian bertanya kepada orang itu, “Kamu dari mana?”

Dijawab oleh orang itu, “Dari luar kota.”

Lalu Sayyidina Umar berkata kepada orang itu, “Tidakkah kamu mengetahui, bahwa Al-Qur’an mengingatkan kita untuk jangan mengangkat suara lebih tinggi (lebih keras) dari suara Nabi?”

Orang itu kemudian terdiam dan berhenti berbicara, setelah itu keluar dari masjid setelah memberi salam kepada Rasulullah.

Diriwayatkan pula, bahwa Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar itu biasanya ketika berbicara dengan Nabi, maka suaranya lebih keras dari suara Nabi. Kemudian turun ayat ini, hingga semua orang ketika itu menjadi ketakutan. Setelah turunnya ayat ini, maka Sayyidina Umar jika berbicara kepada Nabi tidak lagi seperti biasanya. Karena takut bersuara keras, maka jika Sayyidina Umar sedang berbicara kepada Nabi, kadang-kadang Nabi mengangkat tangannya untuk mendengar suara Sayyidina Umar.

Maksud kedua yaitu, jangan mengangkat suara lebih keras jika ulama sedang berceramah. Ulama adalah pewaris Nabi. Sehingga mengganggu ulama yang sedang berceramah berarti sama saja dengan mengganggu Nabi. Bahkan jangan berbisik sekalipun atau bersikap yang itu dapat mengganggu.

Maksud ketiga yaitu, jangan mengangkat suaramu lebih tinggi dari suara orang yang lebih tua dari kamu. Di sini digambarkan, bahwa Rasulullah itu lebih tua, atau pemimpin, atau orang yang dituakan dan dihormati, maka jangan mengangkat suara lebih keras daripada orang-orang yang dihormati.

… wa la tajharu lahu bil qawli qajahri ba’dhikum liba’dhin …“, artinya: jangan memanggil Nabi seperti kamu memanggil sesamamu.

Sebenarnya Nabi tidak mau dikultuskan. Karena itu, ada seorang sahabat yang memberitahukan kepada Nabi, “Ya Rasulullah, kami ini memberi salam kepada sesama kami, bahkan kepada pembantu kami dengan kalimat: Assalamu’alaikum. Apakah kepada engkau juga diucapkan: Assalamu’alaikum?”

Rasulullah lalu berkata, “Tidak ada bedanya. Aku adalah makhluk Tuhan, aku adalah manusia yang mempunyai jiwa, orang lain pun sama denganku.”

Bedanya, jika kepada Nabi diucapkan shalawat, sedangkan kepada yang lain kita tidak mengucapkan shalawat. Jangankan manusia, Allah pun mengucapkan shalawat kepada Nabi.

Allah mengingatkan kita, bahwa janganlah memanggil nama Nabi seperti kita memanggil nama orang lain, misalkan hanya menyebut “Muhammad”. Jika ditujukan kepada Rasulullah, maka bisa kita panggil dengan “Sayyidina Muhammad”, atau “Nabiyullah Muhammad shallallahu alayhi wa sallam”. Mengenai hal ini, ada dua pendapat di kalangan ulama: ada yang mengatakan harus ada kata “Sayyidina”, namun ada juga yang mengatakan tidak perlu kata “Sayyidina”. Tapi yang jelas, jangan disamakan antara Muhammad yang lain dengan Nabi Muhammad SAW.

Ada dua keuntungan jika kita mengucapkan hal tersebut. Pertama, kita mendapat pahala, karena hal tersebut diperintahkan oleh Allah. Kedua, jika kita mendoakan Nabi, maka doa tersebut akan terpantul kepada kita.

Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seorang sahabat yang suaranya itu keras. Setelah turunnya ayat ini, maka ia menjadi takut, dan kemudian menjauh dari Nabi. Pada suatu ketika Nabi bertanya, manakah sahabat tersebut. Sahabat yang lain mengatakan, bahwa sahabat yang dimaksud oleh Nabi itu takut karena suaranya keras. Nabi pun menjelaskan, bahwa bukan hal itu yang dimaksud. Suara keras yang dimaksud adalah “mengganggu”.

Jadi, apapun yang kita lakukan jika itu kemudian mengganggu orang lain, maka hal tersebut akan menghapus amal kita, dan itu biasanya tidak kita sadari. Dalam hal ini bukan hanya kepada Nabi, tetapi kepada siapa saja. Bahkan bukan hanya terhadap orang yang dituakan, kepada anak kecil sekalipun jika perbuatan kita itu mengganggu, maka akan terhapuslah amal kita.

Apakah yang dimaksudkan dengan terhapusnya amal perbuatan? Yang dimaksud di sini adalah pahalanya. Dalam hal ini, ketika shalat sekalipun. Sebagian ulama mengatakan, bahwa jika shalat itu menganggu orang lain, maka pahala shalat itu tidak ia peroleh, melainkan hanya kewajiban shalatnyalah yang telah ia penuhi.

Al-Hujuraat: 3

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Hujuraat: 3)

Apakah maksud ayat ini? Maksudnya, bahwa mereka yang bersuara rendah di hadapan gurunya, berbicara dengan orang secara lemah lembut, dia tidak mengganggu orang lain, disebutkan oleh Allah bahwa mereka itu diuji hatinya. Kalau diuji, maka kemungkinannya hanya dua, yaitu lulus dan tidak lulus. Pada ayat di atas juga disebutkan, bahwa Allah menguji hati-hati mereka dengan ketaqwaan. Maksudnya, Allah memberikan ujian kepada mereka, apakah mereka itu taat kepada Al-Qur’an atau tidak.

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa ada seseorang datang ke rumah Rasulullah dengan berteriak-teriak. Tujuan orang itu adalah untuk bertemu dengan Rasulullah. Ketika bertemu dengan Abu Bakar, ia tidak mau berbicara dengan Abu Bakar. Begitu juga ketika bertemu dengan Umar, Utsman, dan Ali. Dalam riwayat lain juga dikatakan, bahwa Umar mengusir orang itu, karena caranya untuk bertemu dengan Rasulullah itu salah. Barangkali dalam kehidupan kita juga begitu. Misalkan ingin bertemu dengan seseorang, tapi karena waktunya tidak tepat, maka akhirnya tidak dapat bertemu.

Disebutkan pada ayat di atas, bahwa mereka yang tidak mengganggu itu, maka akan mendapatkan ampunan dan pahala yang sangat besar dari Allah. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan ampunan dan pahala yang besar dari Allah, maka alangkah baiknya kita jalankan akhlak ini. Dan insya Allah dalam kehidupan dengan sesama manusia, maka kita akan selalu hidup dalam kedamaian, dalam bertetangga misalkan. Bukan hanya damai dengan sesama manusia, tetapi juga damai dengan Allah, karena Allah akan memberikan ampunan kepada kita dan memberikan pahala yang besar.

Al-Hujurat: 4

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. (Q.S. Al-Hujuraat: 4)

Menurut riwayatnya, ada orang yang memanggil Nabi dengan suara yang keras. Digambarkan bahwa mereka itu tidak berakal. Dalam hal ini bukan berarti mereka itu orang bodoh, melainkan adalah orang-orang yang pintar, apalagi mereka mengajak Rasulullah untuk berdialog. Dalam riwayat ini disebutkan, bahwa Rasulullah tidak keluar, karena mereka itu datang dengan cara yang kasar.

Pada ayat ini disebutkan, bahwa mereka itu berteriak-teriak dari belakang rumah, walaupun sebenarnya mereka datang dari depan rumah. Hal ini dikarenakan pekerjaan seperti mereka ini hina, sehingga disebut di dalam Al-Qur’an sebagai “min waraa-il hujuraat” yang berarti di belakang rumah. Mestinya jika mereka datang dari depan, maka seharusnya dikatakan sebagai “amamal hujuraat“. Dalam ayat ini, Allah ingin menunjukkan kehinaan perbuatan yang seperti itu.

aksaruhum la ya’qilun“, ada ulama tafsir mengatakan “banyak di antara mereka”. Jadi, orang-orang yang memanggil Rasulullah itu banyak. Dan di antara yang banyak itu, persentasenya lebih banyak yang dianggap tidak berakal.

la ya’qilun” diartikan sebagai “tidak berakal”. Ada juga yang menganggap bahwa orang tidak berakal itu adalah orang gila. Ada juga yang menggangap bahwa tidak berakal itu adalah bodoh ataupun jahil. Jika ada yang mengatakan “jahiliyah“, berarti “kaum yang bodoh”, walaupun sebenarnya mereka itu pintar. Tapi karena tidak mau percaya kepada Allah, maka disebutlah sebagai “jahiliyah“.

Al-Hujurat: 5

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujuraat: 5)

wa law” artinya “sekiranya”. “law” itu menggambarkan “tidak”. “wa law annahum shabaruw” berarti “sekiranya mereka itu bersabar”. Maksudnya, “sekiranya mereka itu bersabar” adalah karena mereka itu tidak bersabar, sampai keluar Rasulullah kepada mereka, “la kaanaa khayrallahum” yaitu “akan baik bagi mereka”. Mereka itu datang untuk meminta dibebaskannya tawanan-tawanan mereka. Ada beberapa permintaan dari mereka sehingga mereka mendatangi Rasulullah. Karena caranya seperti itu, dikatakan bahwa sehingga Rasulullah kembali keluar kepada mereka. Apa yang mereka dapat? Dikatakan kemudian bahwa akan baik bagi mereka. Tapi kenyataannya tidak, karena Rasulullah tidak keluar, sehingga semua permintaannya tidak dipenuhi. Seandainya mereka datang dengan cara yang baik, mungkin ada dari permintaan mereka itu yang dipenuhi oleh Rasulullah.

Law annahum shabaruw: mereka sabar. Sabar yang seperti apa? Hattaa takhruja ilayhim, yaitu sehingga Rasulullah itu keluar. Karena Rasulullah itu pasti keluar. Kapan Rasulullah keluar dari rumah? Biasanya, Rasulullah keluar di waktu shubuh. Setelah Shalat Shubuh, Rasulullah kembali ke rumahnya. Sesudah sarapan pagi, maka beliau keluar lagi, ke masjid untuk menjelaskan tentang ajaran agama atau keluar ke tempat-tempat tertentu. Ketika Zhuhur, Rasulullah ke masjid lagi, setelah itu kembali ke rumah. Keluar lagi pada waktu sore untuk shalat Ashar ke masjid, setelah itu kembali ke rumah. Ketika akan Maghrib, pergi lagi ke masjid Maghrib hingga Isya’.

Di dalam riwayat disebutkan, biasanya Rasulullah itu pada umumnya tidak kembali ke rumah antara Maghrib dan Isya’. Walaupun ada ahli sejarah mengatakan, bahwa biasa juga Rasulullah kembali ke rumah antara Maghrib dan Isya’. Dalam hal ini, terutama pada saat-saat turun wahyu. Jika turun wahyu, Rasulullah tidak kembali ke rumahnya. Tapi jika tidak ada wahyu turun, Rasulullah kembali ke rumahnya. Pada umumnya ahli sejarah mengatakan, bahwa Rasulullah tidak kembali ke rumahnya antara Maghrib dan Isya’, karena ada dua hal yang dilakukan Rasulullah. Pertama, mengajarkan Al-Qur’an. Kedua, membacakan Al-Qur’an itu dalam waktu shalat. Karena itu, ada hadits yang ditolak oleh sebagian ulama, bahwa Rasulullah itu selalu membacakan ayat pendek pada waktu Shalat Maghrib. Ada juga pendapat lain yang mengatakan, bahwa Rasulullah itu setiap waktu shalat yang dijaharkan yaitu Maghrib, Isya’, dan Shubuh, maka Rasulullah membacakan ayat-ayat yang turun pada waktu itu. Jika turun 10 ayat, maka dibacakannya 10 ayat itu. Turun 20 ayat, maka dibacakannya 20 ayat tersebut. Sehingga para sahabat bisa menghafalnya, kemudian menuliskannya di pelepah kurma, batu-batu, ataupun kulit domba.

Jadi, kitapun demikian halnya jika mau bertemu dengan sesorang. Biarlah kita bersabar untuk menunggu orang tersebut. Karena itu, dianjurkan kita dalam berusaha harus bersabar. Ada pepatah Arab mengatakan, “Sesuatu pekerjaan yang baik itu perlu kesabaran.” Karena itu Allah mengatakan, “Dahulukanlah (minta tolonglah) agar kita sabar.”

… wallahu ghafururrahim … : sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kepada siapa Allah itu Maha Pengampun? Yaitu kepada orang yang sabar (innallaha ma’ash-shabirin). Tidak dikatakan bahwa Allah itu bersama orang yang pintar ataupun kaya, melainkan bersama orang yang sabar. Jadi kalau kita sabar, maka Allah akan mengampuni dan menyayangi kita. Mudah-mudahan kita tergolong sebagai orang-orang yang sabar.

Kesimpulan

Pertama, mari kita jangan mengandai-andai, jangan mengkhayal, dan jangan minta kepada peramal.

Kedua, jangan mengganggu pewaris nabi, jangan mengganggu orang lain, jangan mengangkat suara keras jika ada yang mau diminta, jangan membuat ulah sehingga orang lain tidak merasa senang kepada kita.

Ketiga, bagi mereka yang rendah suaranya, menjaga suaranya, menjaga sikapnya, menjaga tingkah lakunya di hadapan orang lain, mereka itu akan diberi ampun oleh Allah. Sedangkan mereka yang mengangkat suaranya di hadapan Nabi, atau di hadapan pewaris Nabi, ataupun kepada siapa saja, maka akan hilang pahala perbuatannya.

Keempat, orang diuji, yaitu mereka yang mau menjaga suaranya sehingga lemah lembut selalu, tidak keras.

Janganlah memanggil Nabi seperti kita memanggil orang lain selain Nabi. Bacalah selalu shalawat kepada Nabi, dan hargailah Nabi sebagai seorang yang termulia di antara seluruh manusia.

Kelima, bagi mereka yang diuji oleh Allah SWT, maka mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Keenam, mereka yang memanggil di luar kebiasaan dan di luar aturan, mereka itu digambarkan sebagai orang yang tak berakal, sebagai orang gila atau orang bodoh.

Ketujuh, jika mereka sabar, pasti akan mendapatkan keuntungan di dunia, dan mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah SWT.

Inilah bagian dari ajaran akhlak yang digambarkan dalam ayat-ayat ini. [Nafi]

Iklan

Entry filed under: Ceramah Agama Islam. Tags: , , , .

Kajian Tafsir Surah Al-Furqan (25): 63-77 Nasakh dan Mansukh

2 Komentar Add your own

  • 1. yulianto  |  28 Januari 2011 pukul 1:12 AM

    assalamu’alaikum, subhanallaah isi blognya syart dengan ilmu, afwan anaa minta tlg kalo bisa dipasangkan link blog anaa di blognya akhi, http://www.wahdah-banggai.blogspot.com.
    salam kenal dan salam ukhuwah, baarokallaahu fiik.
    (yulianto-sulawesi tengah)

    Suka

  • 2. Pujex Carlox's blog  |  2 Juni 2011 pukul 4:56 PM

    […] Tafsir Al-Hujurat Ayat 1 – 5 Suka Be the first to like this […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 415,082 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • "Waktu memang tak terkurung, melainkan ia bergerak sesuai dengan hukum sejarah. Walaupun ia tak lumpuh, tapi... fb.me/8OzEIo6eu 1 week ago
  • Di dalam kelas 4 Sekulah Dasar yang sunyi'-senyap, Cékgu Deraman dah ngasi' peringatan kepade muréd-muréd lam... fb.me/8LQHlLu5t 4 weeks ago
  • Nék Uwan : Cu'.., cammane carenye kalau nak nyekat (mblock) nomor talipon orang di Hénpon ni..? Cucu' : Entahlah... fb.me/1sIuT0YRw 1 month ago
  • Pembeli : Pak Mude, berape harge pisang ni sebuti'? (ceritenye ték nak mbeli Pisang Berangan) Penjual : Tige... fb.me/1eXHyTMdx 1 month ago
  • Anak : Yah, kamék nak betanya' ni. Ayah : Haaa, nak nanya' ape tu..? Ayah : Romah kite ni ade antu keee..?... fb.me/8RjltS0Md 1 month ago

%d blogger menyukai ini: