Adab Kesopanan Faqir dalam Perbuatan

16 Juni 2008 at 3:55 AM 6 komentar


ADAB KESOPANAN FAQIR DALAM PERBUATAN

Disarikan dari Pengajian Tasawuf

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 29 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Begitu indahnya menjadi seorang faqir (miskin) yang tawadhu’ dan penuh percaya diri. Begitu indah pula menjadi orang kaya yang tawadhu’ dan merahmati yang lain. Jika orang kaya mengasihi yang miskin, dan orang miskin mengerti akan orang kaya, maka ini berarti takkan ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Di dalam Islam, kesenjangan ditolerir. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin itu tidak apa-apa. Yang tak diperbolehkan di dalam masyarakat Islam adalah jika terjadinya jarak psikologis antara yang kaya dan yang miskin. Bukan suatu jaminan bahwa keadilan sosial itu otomatis melahirkan masyarakat yang aman dan damai. Dan bukan secara otomatis pula bahwa kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin itu pasti menimbulkan ketegangan. Di dalam Islam, jika para orang kaya memberikan zakat, infaq, dan shadaqah kepada fakir miskin, pasti fakir miskin itu tidak ada perasaan cemburu, dendam, bahkan yang terjadi adalah rasa mengasihi dan menyayangi orang kaya tersebut. Tapi sebaliknya juga, seorang fakir miskin yang mengerti dan memahami diri terhadap orang kaya, maka itu juga akan membuat orang kaya tersebut lebih akrab terhadap orang miskin tersebut. Janganlah sudah fakir miskin, tapi juga angkuh, yang hal itu hanya akan semakin membuat jarak antara si kaya dengan si miskin.

Karena itulah, isu di dalam Al-Qur’an bukanlah problem antara si kaya dengan si miskin, tetapi jarak psikologis antara si kaya dengan si miskin itu perlu dijembatani dengan cara menjalin hubungan spiritual antara si kaya dengan si miskin. Hubungan spiritual itu ditandai dengan adanya rukun Islam yang memerintahkan untuk membayar zakat. Membayar zakat itu adalah mata rantai spiritual yang menjembatani antara si kaya dengan si miskin. Dibandingkan dengan pajak (jizyah), aspek spiritualitas keagamaannya tidak sedalam dibandingkan dengan zakat, walaupun mungkin manfaatnya sama. Jika zakat diniatkan sebagai Rukun Islam, sedangkan pajak (jizyah) tidak diniatkan sebagai Rukun Islam. inilah perbedaannya.

Karena itulah, bahasa agama memang yang paling melekat pada diri si miskin dan si kaya. Kalau orang kaya diminta untuk mengeluarkan shadaqah atau zakatnya sebanyak sepuluh ribu yang kemudian dikeluarkannya sebanyak seratus ribu, maka hal itu adalah sesuatu yang biasa saja. Tapi kalau orang kaya diminta untuk mengeluarkan pajak yang semestinya dikeluarkan sebesar satu milyar, tapi kemudian ia hanya mengeluarkan sebanyak satu juta, itupun kalau ada. Mengapa? Karena tidak ada paksaan batin dan tidak ada keridhaan batin dalam hal mengeluarkan pajak. Inilah hebatnya rambu-rambu bahasa agama.

Tidak ada yang memaksa pada malam-malam akhir ramadhan itu untuk membayar zakat fitrah, bahkan berkali-kali, tapi kita merasa tulus untuk melaksanakannya. Berbanding terbalik dengan pajak yang untuk mengeluarkannya begitu sangat berat.

Jika seseorang dimotivasi oleh rasa agama, maka ketulusan yang akan lahir, kejujuran yang akan muncul, dan kedamaian yang akan terwujud di dalam masyarakat. Tanpa hendak mempertentangkan antara pajak dengan zakat, tapi biasanya bahasa-bahasa agama itu lebih gampang untuk mengikhlaskan seseorang ketimbang kita menggunakan istilah-istilah lainnya.

Bagaimana adab kesopanan fakir miskin dalam perbuatan kita?

Hendaknya tidak lemah dalam beribadah disebabkan karena kefakiran. Sekalipun kita ditakdirkan Allah untuk menjadi fakir miskin, tetapi jangan sampai mengendorkan mujahadah dan perjuangan kita mendekati Tuhan. Justru sebaliknya, bahwa kemiskinan itu kadang-kadang meringankan badan seseorang untuk melakukan mujahadah.

Perut yang lapar lebih gampang utnuk khusyu’ dibandingkan dengan perut yang kekenyangan. Perut yang kekenyangan biasanya selalu berdekatan dengan tempat tidur, tapi perut yang kelaparan selalu dekat dan berlama-lamaan dengan sajadah. Karena itulah, pada bulan suci ramadhan begitu nyamannya beribadah. Mengapa? Karena perut kita kosong. Tapi juga jangan sampai perut terlalu kosong, karena juga akan membuat badan ini terlalu lemah hingga tidak bisa melakukan ibadah dengan baik. Jadi yang paling baik itu adalah seperti yang pernah disampaikan oleh Rasulullah, bahwa komponen perut itu dibagi tiga; sebagiannya air, sebagiannya makanan, dan sebagiannya lagi adalah udara. Udara itu maksudnya bahwa perut itu jangan terlalu penuh.

Hendaknya seseorang itu tidak lemah, tidak menjadi kendor dalam beribadah disebabkan kefakirannya. Para orang kaya tidak mesti menunggu dirinya menjadi fakir untuk merasakan dirinya sebagai fakir. Kefakiran itu bukan monopoli orang miskin. Orang kaya pun juga bisa berperasaan fakir. Seorang yang kaya raya pun jika berhadapan dengan Tuhannya, maka dia pun menjadi fakir miskin. Apalah artinya kumpulan hartanya dibandingkan dengan kekayaan Allah SWT. Kekayaan yang melimpah itu tidak sampai sangat ekstrim perbedaannya dengan keterbatasan yang dimiliki oleh si fakir miskin.

Sekaya-kayanya seseorang itu tidak ada yang memiliki gunung emas. Sekaya-kayanya seseorang itu juga tidak ada yang menguasai satu planet. Sekaya-kayanya seseorang itu juga tidak jauh berbeda dengan fakir miskin dibandingkan dengan kekayaan Allah SWT. Sekaya-kayanya manusia dibandingkan dengan semiskin-miskinnya manusia, maka jaraknya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan Allah SWT.

Orang yang dekat dengan Tuhan, maka dia menikmati ketinggian dan kekayaan Allah, hingga dirinya menjadi fakir miskin. Suatu yang biasa saja jika seorang fakir merasa fakir di hadapan Allah. Tetapi sesuatu yang lebih mulia jika seorang kaya merasa fakir di hadapan Allah. Orang kaya yang merasa fakir dan merasa tidak mempunyai arti apa-apa di mata Allah, maka inilah yang disebut sebagai orang fakir. Jadi, kefakiran di dalam bahasa tasawuf itu tidak sama persis dengan kefakiran di dalam bahasa ekonomi kita.

Kita tidak boleh memandang enteng orang miskin. Bisa saja orang tersebut miskin, tetapi ia percaya diri, beradab, sopan, dan selalu dekat dengan Tuhan, maka sesungguhnya itu bukanlah miskin di mata Allah.

Rasulullah pernah menyatakan, bahwa satu dirham itu lebih besar nilainya di mata Tuhan daripada seratus dirham. Para sahabat terbingung-bingung dengan pernyataan Rasulullah ini. Kemudian para sahabat pun menanyakan kepada Rasulullah maksud dari pernyataannya itu. Rasulullah kemudian mengatakan, bahwa seorang fakir miskin yang hanya memiliki dua dirham kemudian menyumbangkannya sebesar satu dirham, maka di mata Tuhan nilainya lebih besar dibandingkan seorang kaya yang memiliki seratus ribu dirham yang hanya menyumbangkannya sebesar seratus dirham.

Jadi, kita tidak mungkin bisa mencemburui orang kaya karena kekayaannya. Dan orang kaya pun tidak boleh angkuh dan bangga di depan kemiskinannya orang miskin. Siapa tahu kemiskinan yang ia lihat itu adalah kemiskinan yang disengaja oleh yang bersangkutan. Siapa tahu kekayaan yang dipakai itu adalah kekayaan yang tidak disyukuri.

Manakah yang lebih baik antara menjadi orang miskin yang bersabar dan bersyukur tanpa dosa dan maksiat, dengan menjadi kaya raya tanpa bersyukur dan penuh dengan dosa maksiat?

Karena itulah, para orang kaya janganlah merasa bangga karena kekayaannya, sementara ia kurang bersyukur. Di dalam bahasa tasawuf terdapat ungkapan, “lain syukur lain tahmid”. Jika mendapat rizki lalu mengucap “alhamdulillah“, maka itu belumlah dapat dikatakan sebagai bersyukur, melainkan barulah “bertahmid” memuji-muji nama Tuhan. Nanti bisa disebut bersyukur kalau mengeluarkan zakat, infaq, dan shadaqahnya.

La insyakartum la azidannakum” (apabila kalian bersyukur, maka akan Aku tambahkan), Tuhan tidak mengatakan “La inhamidtum la azidannakum” (apabila kalian memuji Aku, maka akan Aku tambahkan). Kata “syukur” dengan “hamida” itu adalah berbeda. Introspeksilah diri kita, jangan sampai kita baru sebatas bertahmid, tapi belum bersyukur, yang itu berarti bahwa hutang kita belum terpenuhi di mata Allah SWT.

Yang dimaksud dengan “syukur” itu adalah memberikan haknya orang lain yang dititipkan melalui pemberian-Nya terhadap kita. Misalkan, gaji kita setiap bulannya adalah sebesar lima juta rupiah. Tidak seratus persen semuanya adalah halal untuk kita. Ada titipan Tuhan di situ 2,5% yang harus dizakatkan. Jika kita konsumsi seluruhnya, maka ada api neraka yang kita telan ke dalam perut ini. “kullu lahmin nabatha min haramin fannaru awlabihi” (semua barang yang haram masuk ke dalam perut menjadi daging, hanya api neraka yang bisa membersihkannya). Na’uzubillahi min zalik.

Karena itu, sisihkanlah 2,5% dari setiap penghasilan kita untuk zakat. Kalau bisa jangan digabung dengan duit yg lain, tapi langsung disisihkan. Hal ini dilakukan agar duit yang seharusnya dizakatkan tersebut tidak bercampur dengan duit yang lain, sehingga kita bisa terhindar dari memakan duit haram yang nantinya akan menjadi api neraka di dalam perut kita ini. Lebih baik pengeluaran kita untuk shadaqah itu lebih besar dibandingkan lebih sedikit dari itu.

Umat Islam yang paling pelit ialah orang yang hanya mengeluarkan zakat. Alangkah kikirnya sebagai seorang muslim kalau pengeluarannya hanya zakat. Zakat itu adalah standard minimum yang harus dikeluarkan bagi seorang muslim. Di dalam Islam itu ada 27 konsep untuk pengeluaran, antara lain: shadaqah, infaq, jariyah, hibah, waqaf, wasiat, luqathah, fay, ghanimah, dan masih banyak lagi.

Seorang Direktorat Zakat pernah mengatakan, bahwa Bangsa Indonesia ini seharusnya mengandalkan zakat sebagai sokoguru perekonomian umat. Saya jawab, bahwa tidak seperti itu seharusnya. Karena zakat itu hanyalah pengeluaran yang paling kecil. Karena itulah menurut aliran Syi’ah, ada yang dinamakan khumush, yaitu seperlima, ada juga ushr sebesar sepersepuluh, yang itu semua adalah untuk para imam (ulama) mereka. Sehingga ulama mereka itu tidak usah bekerja lagi, melainkan hanya membaca kitab saja, memberikan pengajian, yang akhirnya para ulamanya itu memang benar-benar bisa memfokuskan dirinya pada bidang keagamaan dan pencerahan umat. Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan nasib para ulama di negara kita.

Ekspektasi (pengharapan) masyarakat Indonesia terhadap ulama begitu besarnya, tetapi pengeluaran umat terhadap ulamanya begitu sedikitnya, bahkan tidak ada. Akhirnya, apa yang terjadi? Pilu hati kita sekarang ini, karena begitu banyaknya desa-desa terpencil yang ditinggalkan para ustadz (ulama)nya. Mengapa ini bisa terjadi? Karena ustadz itu juga adalah manusia biasa. Mereka mempunyai keluarga yang harus dinafkahi, sementara uangnya untuk khutbah dan mengajarkan agama kepada masyarakat itu tidak ada. Apalagi ia juga menyewa tanah, karena dia pendatang misalkan. Jadi, “lillahi ta’ala” sekarang ini terevaluasi oleh keadaan. Sudahlah, “lillahi ta’ala” saja, tapi dengan konsekuensi nafkah keluarga tidak terpenuhi secara maksimal, bahkan tidak bisa menyekolahkan anaknya.

Sistem di dalam masyarakat Indonesia ini masih sangat memandang rendah posisi ulama. Sungguh berbeda keadaannya dengan keadaan di negara tetangga kita, yaitu Brunei Darussalam. Di sana, ulama itu setara dengan Eselon 1. Karena itulah, jika ada fatwa, maka fatwa itu tidak hanya satu lembar, melainkan ada draft akademiknya hingga berpuluh-puluh halaman, yang pembahasannya begitu mendalam. Mengapa? Karena ulama tersebut memang digaji untuk menulis dan memberikan fatwa.

Di satu sisi, umat kita itu begitu pintarnya menyorot ulama. “Ah …, ulama kita itu pintarnya hanya bicara halal dan haram.” Mengapa ulama kita hanya bisa bicara halal dan haram? Karena untuk membicarakan mengenai sunnah, mubah, makruh, yang hal tersebut berada pada sisi antara halal dan haram itu memerlukan ilmu. Ilmu itu perlu energi, perlu biaya, dan keperluan lain-lainnya.

Di satu sisi umat kita menuntut kedalaman pemahaman seorang ulama, tapi pada sisi lain ulama tidak pernah diberikan alat pengasah “gergaji” itu. Akhirnya, gergaji yang dipakai ulama kita itu menjadi tumpul, karena tak pernah diasah. Untuk mengasah gergaji ini perlu biaya. Akhirnya Sang Ulama seperti kaset berjalan, ketika khutbah di satu masjid, setelah itu khutbah di masjid yang lain, biasanya materinya persis sama. Mengapa bisa seperti ini? Karena hanya itu yang mampu ia baca. Untuk membuat suatu persiapan baru, perlu buku baru, sedangkan ia tak punya uang untuk beli buku baru tersebut, apalagi kini harga buku memang mahal. Ternyata barulah kita menyadari, bahwa selama ini kita sudah berlaku tidak adil terhadap ulama. Di satu sisi ulama itu tidak boleh salah, sedangkan di sisi lainnya kita tidak pernah memperhatikan kesejahteraannya.

Di dalam suatu hadits disebutkan: “Kalau Tuhan akan menarik berkahnya di suatu daerah, maka yang paling pertama akan ditarik adalah ulamanya.” Cermatilah kini, bahwa para ulama sudah banyak yang wafat. Kalau sarjana mati satu, maka akan tumbuh seribu sarjana yang baru. Tapi jika seorang ulama tersohor yang wafat, maka harus memerlukan waktu beberapa tahun hingga munculnya ulama baru yang juga kompeten.

Perhatikanlah kini, ternyata para ulama kita sudah banyak yang meninggalkan pondok pesantren. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena tidak ada kehidupan di pondok pesantren yang serba gratis, sehingga Sang Ulama harus mengalih haluan untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

Karena itulah, menjadi tugas kita bersama untuk peduli terhadap kesejahteraan para ulama. Ulama lah yang bisa menyadarkan hati ini jika ada musibah, yang bisa membuat para orang kaya itu bersyukur, dan mengajak untuk mengingat Tuhan. Jika moralitas masyarakat dan bangsa kita semakin bobrok seperti sekarang ini, maka salah satu faktornya adalah karena tidak adanya energi baru bagi para ulama inim yang kemudian memuncak hingga tidak ada regenerasi ulama.

Ada sekitar enam ribu orang penyuluh agama kita, yang setiap penyuluh itu negara hanya mampu menggaji Rp. 40.000,- per-bulan. Tak ada penghasilan lain selain daripada itu. Pernah di antara penyuluh itu bercerita kepada saya, “Pak Nasar, kalau saya tinggalkan desa ini, orang di desa ini tidak bisa Shalat Jum’at, tidak ada anak-anak yang bisa mengaji.”

Tak ada artinya keikhlashan yang kita miliki di perkotaan ini dibandingkan mereka. Kalau ada yang meninggal, maka merekalah yang diandalkan untuk mengurus jenazah tersebut, dari memandikan hingga menguburkan. Bahkan ketika dirinya sakit pun, mereka tak peduli. Mereka hanya berobat dengan obat generik melalui bidan-bidan desa.

Mungkin berbeda lagi dengan ulama-ulama yang popular itu. Mereka banyak uang, bahkan ada yang menetapkan tarif. Yang paling ironis adalah mereka bisa melakukan pembatalan sepihak hanya karena ada tawaran lebih tinggi dari itu. Nah, yang seperti inilah menurut Imam Al-Ghazali termasuk Ulama Su’.

Jangan kita lihat kedalaman ilmunya, tapi kemanfaatannya di dalam masyarakat kita. Orang-orang seperti itu (para ulama yang tulus dan ikhlas) mewaqafkan betul hidupnya untuk ummat ini.

Sekarang anak-anak tidak tertarik menghafal Al-Qur’an, mungkin karena sekarang masyarakat tidak lagi menghargai para penghafal Al-Qur’an. Coba bayangkan, kita kesulitan mencari imam-imam shalat Tarawih, karena tak ada yang hafal Al-Qur’an. Bagaimana orang bisa tertarik menghafal Al-Qur’an, jika kesejahteraan mereka tidak terlalu diperhatikan ketika menjadi imam Shalat Tarawih satu bulan penuh misalkan. Walaupun sebenarnya mereka memang tulus melakukan itu, tetapi kesadaran kitalah untuk menghargai jerih payah mereka.

Itulah kenyataannya, betapa para pahlawan penegak panji-panji Islam ini tidak mendapatkan perhatian, baik itu dari pemerintah ataupun dari umat Islam sendiri. Anggaran Negara untuk mereka begitu sangat tidak memadai. Guru umum dan guru agama bedanya begitu mencolok. Jika tunjangan untuk guru umum itu sebesar 2 juta, tapi guru agama hanya mendapat tunjangan sebesar 500 ribu. Padahal keringat yang mereka (guru agama) keluarkan biasanya lebih banyak.

Kalau sudah seperti ini, tak tertarik orang untuk menjadi guru agama sekarang ini, karena penghargaan masyarakat terhadap guru agama begitu minimnya. Tapi di sisi lain, masyarakat kita itu ekspektasinya besar sekali terhadap ulama dan guru agama ini. Ada saja ungkapan misalkan; “Bahwa ini gara-gara guru agamanya tidak benar.” Patut kita bertanya, yang tidak benar itu guru agamanya atau sebenarnya kitalah (umat ini) yang tidak benar, atau memang sistemnya yang amburadul?

Jumlah muballigh itu 1 berbanding 2.300 orang. Jadi sekarang ini, satu ustadz harus menceramahi 2.300 orang. Bandingkanlah dengan pendeta. 1 pendeta hanya mendakwahi 200 orang. Pendetanya banyak umatnya sedikit. Sebaliknya, banyaknya umat Islam tidak sebanding dengan jumlah muballighnya yang begitu sedikit. Bagaimana mungkin pendalaman ajaran agama kita di masyarakat bisa begitu mendalam jika keadaannya seperti ini. Ini suatu contoh, betapa susahnya mengurus umat. Tapi kita tentunya jangan pesimistis akan hal ini. Kita harus optimis, mulailah dari diri kita sendiri. Insya Allah, di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan. []

Iklan

Entry filed under: Ceramah Agama Islam. Tags: , , .

Kiat Mengatasi Kesulitan Musik, Sastra, dan Aku

6 Komentar Add your own

  • 1. padhepokananime  |  17 Juni 2008 pukul 3:56 AM

    artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
    agama terhangat
    “Artikel anda di infogue”

    anda bisa promosikan artikel anda di http://www.infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!

    Suka

  • 2. thenafi  |  17 Juni 2008 pukul 10:37 AM

    terima kasih, kalau menurut anda bagus.
    mudah2an menjadi suatu kebahagiaan bagi saya, karena saya merasa sudah bisa memberikan manfaat bagi orang lain

    Suka

  • 3. winwin  |  22 Juni 2008 pukul 2:31 PM

    Artikel tentang kefakiran ini menyinggung kesenjangan sosial yang tidak akan menjadi masalah, karena ada mekanisme menolong simiskin oleh yang kaya dan akhirnya simiskin menyayangi sikaya. Miskin dan kaya menyangkut faktor psikologis. Kaya menjadi sombong, semena-mena, sedangkan miskin berputus asa penuh kedengkian. Pemahaman saya pada Al Qur’an sesungguhnya anjuran bersedekah adalah semacam obat penyembuh bagi sistem yang semena-mena, jadi Islam tidaklah membangun sistem masyarakat yang bersedekah saja dan ada yang menerima sedekah. Namanya juga obat, ditelan kalau ada penyakit bukan untuk konsumsi terus menerus. Obat kalau dikonsumsi terus menerus bisa menjadi narkoba juga atau psikotropika.
    Memang rasio ulama dengan umat amatlah besarnya, di Tahiland setiap 8 orang terdapat 1 biksu, jadi secara moral orang Thai lebih baik ketimbang umat Islam Indonesia, ditambah lagi orang Indonesia malas baca buku.

    Suka

  • 4. thenafi  |  22 Juni 2008 pukul 2:53 PM

    Kasusnya di Indonesia menurut saya bahwa Kemiskinan adalah suatu Problem Sosial yang terstruktur. Kemiskinan bukanlah problem kultural, melainkan adalah problem Struktural.

    Masyarakat Indonesia dipaksa secara struktur untuk tetap menjadi miskin, bahkan semakin bertambah miskin.

    Lihatlah, setiap hari, mungkin angka kemiskinan ini semakin bertambahn, bukannya semakin berkurang.

    Pada dasarnya tidak ada satu orang pun yg ingin menjadi miskin, tapi kemiskinan yang terjadi itu adalah karena adanya suatu sistem yg terstruktur yg meniscayakan kemiskinan itu terus berlangsung.

    jadi, pemberantasan kemiskinan memang takkan pernah selesai jika cara yg dilakukan adalah cara kultural, misalkan: setiap orang miskin diberi BLT, dsb.

    Kemiskinan hanya bisa diberantas secara struktural, karena problem kemiskinan yg dihadapi ini adalah problem struktural, bukanlah problem kultural. perbaiki sistem yg ada, dan cara2 terstruktur dan tersistematis lainnya.

    insya Allah, kemiskinan akan terberantas jika ini dilakukan.

    Suka

  • 5. faisol  |  28 Agustus 2008 pukul 4:56 AM

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    Suka

  • 6. Al Fakir ilm  |  26 Agustus 2009 pukul 3:12 PM

    BUAT WINWIN.

    Tolong baca lagi pelajaran BAHASA INDONESIA.
    semena-mena = TIDAK SEWENANG-WENANG artinya orang yang semena-mena berarti orang yang TIDAK SEWENANG-WENANG, atau dengan kata lain orang yang peduli, prihatin atas nasib orang lain.

    Seharusnya anda menulis SEWENANG-WENANG bukan SEMENA-MENA

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 415,082 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • "Waktu memang tak terkurung, melainkan ia bergerak sesuai dengan hukum sejarah. Walaupun ia tak lumpuh, tapi... fb.me/8OzEIo6eu 1 week ago
  • Di dalam kelas 4 Sekulah Dasar yang sunyi'-senyap, Cékgu Deraman dah ngasi' peringatan kepade muréd-muréd lam... fb.me/8LQHlLu5t 4 weeks ago
  • Nék Uwan : Cu'.., cammane carenye kalau nak nyekat (mblock) nomor talipon orang di Hénpon ni..? Cucu' : Entahlah... fb.me/1sIuT0YRw 1 month ago
  • Pembeli : Pak Mude, berape harge pisang ni sebuti'? (ceritenye ték nak mbeli Pisang Berangan) Penjual : Tige... fb.me/1eXHyTMdx 1 month ago
  • Anak : Yah, kamék nak betanya' ni. Ayah : Haaa, nak nanya' ape tu..? Ayah : Romah kite ni ade antu keee..?... fb.me/8RjltS0Md 1 month ago

%d blogger menyukai ini: