Hakikat Kesuksesan

16 Juni 2008 at 3:43 AM 2 komentar


HAKIKAT KESUKSESAN

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah

yang disampaikan oleh:

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.

pada tanggal 12 Mei 2008

di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta

Transkriptor: Hanafi Mohan

Ada lima langkah untuk mengembangkan hidup yang memiliki tujuan, yaitu: eksplorasi diri, determinasi diri, aktivitas diri, kolaborasi diri, dan evaluasi diri.

Pada point evaluasi diri, jika kita ingin jujur, maka hal yang paling sering dihindari adalah sebuah pujian. Pujian ini sering menganggu iman seseorang. Karena itu, biasakanlah diri untuk tahan dari berbagai pujian. Jangan sampai karena pujian, subjektifitas kita menonjol, sehingga nanti kita salah dalam menentukan langkah. Manusiawi jika seseorang itu dipuji dan pujian itu harus disyukuri. Sampaikanlah kepada yang memuji kita itu, bahwa yang pantas untuk dipuji hanyalah Allah SWT, karena apa yang ada pada diri kita sesungguhnya bersumber dari-Nya. Dengan hal ini akan membuat kita berhenti dari keangkuhan.

Kita takut untuk dinilai, sering enggan untuk melakukan evaluasi, karena takut melihat kegagalan. Jadi, orang yang tak ingin melihat kegagalannya sendiri, itu pertanda akan melakukan pembiaran terhadap kegagalannya juga.

Ciri-ciri orang yang melanggengkan kegagalan adalah: takut dikritik dan tidak mau mengevaluasi diri, bahkan tidak ingin mendengarkan kritikan orang lain. Dia hanya ingin mendengarkan pujian dari orang lain, tapi tidak ingin mendengarkan kritikan dari orang lain. Padahal sesungguhnya, mungkin kita lebih membutuhkan kritikan daripada pujian. Jika ada yang mengkritik kita, itu menandakan orang tersebut mencintai kita. Siapa tahu orang yang mengkritik itu adalah penyambung lidah daripada kehendak Allah SWT untuk memperbaiki diri kita. Jangan melihat orang yang mengkritik kita itu seperti setan, tapi anggaplah ia bagaikan malaikat utusan Tuhan untuk memberikan perbaikan terhadap diri kita. Lebih perlu diwaspadai adalah orang yang hanya suka memuji daripada mengkritik. Yang penting kritikan itu juga jangan sampai berlebihan, melainkan kritiknya adalah bil maw’izatil hasanah, yaitu kritikan yang baik dan cenderung konstruktif.

Dibutuhkannya evaluasi dan penilaian, agar kita dapat mengetahui sejauh mana kekurangan ataupun keberhasilan kita. Evaluasi diri bukan hanya menunjukkan kelemahan, evaluasi juga menunjukkan kelebihan-kelebihan. Tak ada orang yang kesalahannya 100%, dan juga tak ada orang yang benarnya 100%. Pasti di balik kesalahan ada terselip kelebihan-kelebihan. Pasti di balik kelebihan ada terselip kesalahan dan kekeliruan. Tidak ada yang sempurna selain daripada Allah SWT.

Pemahaman Kesuksesan

Apakah yang dimaksud dengan kesuksesan? Jika definisi kesuksesan yang kita pahami terlalu materialistis, maka jalan hidup yang kita tempuh akan keliru. Karena itu, kita perlu mendefinisikan apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kesuksesan tersebut. Jika kesuksesan itu ukurannya adalah nafsu, keinginan, dan biologi, maka terlalu rendah nilai kesuksesan itu. Dalam hal ini, kita tidak memberikan tempat untuk kesuksesan rohani.

Kesuksesan bagaikan pohon yang ditanam di tepi sungai. Memiliki sumber air yang tak pernah habis. Maka ia akan menghasilkan buah-buah keberhasilan pada musimnya. Biasanya kalau orang sukses, tapi penuh kemawasdirian, akan berlangganan kesuksesan itu. Tapi biasanyan kalau orang itu gagal, tidak mau mengevaluasi diri, maka orang itu akan berlangganan dengan kegagalan. Banyak orang yang kita lihat sukses dan selalu sukses. Sementara ada juga orang yang selalu gagal. Dalam hal ini, kita tentunya jangan menyalahkan Tuhan.

Beberapa pandangan yang keliru mengenai kesuksesan

Orang sering mendefinisikan kesuksesan itu hanya kekayaan. Jadi kalau orang tidak kaya, berarti orang itu gagal. Sukses bukan sekedar menjadi kaya. Kesuksesan juga bisa dalam hal membina kepribadian, sukses menjalin komunikasi dengan relasi, sukses untuk mencegah dirinya dari dosa dan maksiat. Begitu banyaknya cabang-cabang kesuksesan.

Sukses bagi seorang seniman tentunya berbeda dengan sukses bagi seorang pedagang. Sukses bagi seorang pegawai tentunya berbeda dengan kesuksesan seorang petani. Bagi seorang seniman misalkan, kesuksesannya adalah ketika menciptakan suatu puisi yang sangat indah melalui suatu proses yang mendalam, hingga ia melahirkan puisi-puisi yang indah, walaupun puisinya itu begitu pendeknya. Bagi seorang pegawai, kesuksesannya mungkin adalah promosi jabatan ataupun kenaikan gajinya.

Keliru juga jika dikatakan bahwa kesuksesan itu adalah berhasil tanpa kesulitan. Kalau seperti ini bukan sukses namanya. Kesuksesan adalah berbanding lurus dengan tingkat penderitaannya. Sukses itu bukannya tanpa tetesan keringat, seolah-olah kesuksesan tersebut diperoleh secara gratis. Kesuksesan yang didapat dengan mudah ini bisa saja malahan tidak berkah. Rasulullah mengingatkan, jika ingin mencicipi keberkahan, maka perolehlah dengan tetesan keringat. Karena itu Rasulullah juga mengatakan, bayarlah pegawai kalian sebelum keringatnya kering.

Sukses juga bukan datang karena keberuntungan. Jika ada orang yang sukses tanpa keringat, maka kesuksesan seperti ini adalah kesuksesan yang tidak normal. Segala sesuatu yang datangnya begitu gampang, maka kepergiannya juga akan begitu cepat. Karena itu, ilmu yang diperoleh melalui proses yang sangat mendalam, maka ilmu tersebut akan menjadi begitu melekat pada diri orang tersebut. Tetapi ilmu yang begitu gampang diperoleh, maka akan dengan gampang juga hilangnya.

Jadi, janganlah mudah puas dengan sesuatu yang didapat dengan mudah, gratis, gampang, yang diperoleh tanpa kesulitan, melainkan apa yang didapat itu adalah sesuatu yang tidak normal, sehingga menjadikan keberkahannya kurang.

Memahami arti kesuksesan

Jika kita mendefinisikan kesuksesan dengan hal-hal yang materil semisal harta dan jabatan, maka kearifan di dalam diri kita tidak akan muncul. Sukses ialah menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri. Tidak usah kriteria orang lain yang kita gunakan. Jika orang lain bisa membangun rumah mewah, kita tentunya tidak usah mengukur kesuksesan dengan kesukesan yang diraih orang tersebut, melainkan yang terbaik adalah menjadi diri kita sendiri. Kita tidak harus sukses dengan rumah mewah, karena kemampuan yang ada pada kita tidak bisa mencapai yang seperti itu. Kita harus berbahagia dengan standar diri kita sendiri. Merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah (qana’ah), itulah kesuksesan kita yang merupakan kebahagiaan puncak.

Berfungsi dan melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi dan kapasitas pribadi masing-masing. Jika pendidikan kita hanya SMP, sedangkan tetangga kita itu sarjana, maka sangat tidak bijaksana jika kita tetap memaksakan diri kita seperti mereka. Dalam hal ini, buatlah seolah-olah kita harus punya nilai plus ukuran diri kita sendiri. Misalkan, sementara banyak orang yang tak bisa menyekolahkan anaknya, maka kita patut bersyukur, bahwa kita bisa menyekolahkan anak kita hingga tamat SMA, yang itu merupakan kesukesan tersendiri bagi kita.

Kesuksesan adalah kemampuan untuk mewujudkan agar segala sesuatu menjadi lebih baik secara utuh dan holistik dari seluruh aspek kehidupan kita. Bukan rumah bersusun yang membuat orang itu bahagia, melainkan kebahagiaan batin inilah yang paling utama. Kebahagiaan itu tidak bisa dibeli, tidak bisa ditebus dengan apapun, kecuali kita harus melaluinya dengan proses yang sangat panjang dan mendalam. Kenyamanan bisa dibeli di hotel bintang lima, kelezatan bisa dibeli di restoran paling mahal, tapi kebahagiaan tak bisa dibeli, melainkan kebahagiaan tersebut hanya bisa didapatkan melalui proses olah batin kita sendiri. Sebegitu banyak orang yang mendambakan kebahagiaan batin, tapi tidak berhasil. Mengapa? Karena metode yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan batin itu adalah metode materialistik. Disangkanya dengan membayar begitu mahal, ikut suatu training motivasi misalkan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang diharapkannya. Memang ketika baru-baru selesai dari training tersebut ada kelihatan hasilnya. Tapi setelah tiga bulan misalkan, kebahagiaan tersebut kemudian hilang lagi. Tentunya kita tidak menginginkan yang seperti ini, melainkan yang kita inginkan adalah keabadian kebahagiaan itu.

Jadi, jangan pernah merasa cukup dan puas dengan training pendek. Al-Qur’an diturunkan 23 tahun lamanya. Rasulullah mengajarkan Islam itu 23 tahun lamanya. Tidak mungkin hanya dengan sekejap saja. Kebahagiaan adalah harus dicapai dengan proses yang berliku-liku, yang proses itu tak pernah mengenal henti, kalau perlu hingga akhir hayat kita. Belajar itu bukan hanya ketika masa-masa muda misalkan. Karena itulah, ilmu mendidik itu dikritik. Di dalam dunia pendidikan dikenal suatu teori yang dinamakan Paedagogi (ilmu mendidik anak). Ternyata di dalam Islam mengkritisi teori ini. Islam menganjurkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Bukankah Al-Qur’an turun memerintahkan orang untuk belajar (iqra’/bacalah) ketika Rasulullah sudah berumur 40 tahun, dan wahyu itu diterima oleh Rasulullah hingga akhir hayatnya, yang di dalamnya terdapat proses pembelajaran Rasulullah yang dituntun oleh wahyu, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Kemudian di dunia pendidikan juga dikenal teori Andragogi, yaitu metode pendidikan untuk seumur hidup, dan metode inilah yang sesuai dgn ajaran Islam. Jadi, kepuasan intelektual itu takkan pernah berhenti dan tidak mengenal usia.

Delapan bidang kesuksesan

Menurut ajaran Islam, ada delapan bidang kesuksesan. Orang akan dinilai sukses jika delapan hal ini dipenuhi.

Pertama, kepribadian yang utuh.

Sekalipun banyak uang, mendapat warisan dari orang tua, banyak rumah, tapi jika yang bersangkutan itu idiot, setengah sadar, dan gila, tentunya ia tidak mendapat kebahagiaan yang dimaksud. Jadi, karunia dasar yang Tuhan berikan kepada kita adalah dalam bentuk kepribadian yang utuh. Apakah yang dimaksud dengan kepribadian yang utuh? Kepribadian yang utuh bukanlah kepribadian yang pecah (split personality). Kepribadian yang pecah adalah kepribadian yang tidak memiliki pendirian. Orang yang seperti ini susah khusyu’ di dalam shalat dan biasanya munafik. Orang yang tidak memiliki pendirian sebetulnya adalah tipe orang yang tidak sadar dan tidak normal.

Menurut Psikolog, bahwa hampir semua orang itu mengalami gangguan jiwa. Namun tingkatannya ada yang parah dan ada juga yang tidak terlalu parah. Orang yang berusia di atas 30 tahun biasanya berpotensi untuk mengalami gangguan kejiwaan, karena jarak antara yang diharapkan dengan yang menjadi kenyataan begitu jauhnya. Dia menginginkan seratus, tapi kemampuan pada dirinya hanya bisa mencapai sepuluh. Akhirnya, jika harapan-harapan itu terlalu banyak, sedangkan kenyataan yang didapatkan jauh di bawah yang diharapkan, maka hal-hal tersebut kemudian berakumulasi, sehingga orang tersebut menjadi selalu tertekan, bahkan kadang memori jangka pendeknya menjadi lemah. Bertumpuknya akumulasi kekecewaan ini biasanya dikarenakan tidak mendapatkan pemecahan. Makanya, pemecahan yang terbaik adalah dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kepribadian yang utuh merupakan rahmat Allah yang paling berharga di dalam diri kita. Tak ada gunanya pencapaian yang telah kita raih jika kepribadian kita rusak dan bermasalah, sehingga semua pencapaian yang telah kita raih itu akan menjadi sia-sia.

Kedua, keluarga.

Tidak gampang sukses membina keluarga. Uang, pangkat, dan kekayaan tidak otomatis menjamin suatu keluarga menjadi bahagia. Kebahagiaan keluarga itu diciptakan, bukan tiba-tiba langsung turun dari atas langit. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang dibina.

Memang kita akui, bahwa tidak mungkin ada keluarga yang seperti keluarga surga. Pasti setiap keluarga itu ada kelemahan-kelemahannya. Namun jangan sampai membiarkan keluarganya itu berada dalam suatu kondisi yang tidak penting. Misalkan, suatu masalah di dalam keluarga sebenarnya bisa dipecahkan, tapi karena yang berada di dalam rumah tangga itu masing-masing emosi dan sama-sama keras, maka akan sulitlah terbinanya kebahagiaan. Karena itulah, suatu kebahagiaan tersendiri jika melampaui usia 50 tahun kita tidak pernah mengalami proses-proses yang mengarah kepada kehancuran keluarga.

Persoalan keluarga juga kadang berdampak sangat luas sekali, misalkan berdampak ke pekerjaan. Jika ia seorang pimpinan, maka yang menjadi sasaran kekesalan adalah stafnya. Jika ia seorang staf, maka ia selalu ditegur oleh atasannya, karena gairah kerjanya tidak ada. Endapan-endapan negatif dari permasalahan keluarga tersebut akan mengikuti di manapun kita berada, termasuk di pekerjaan.

Ketiga, kesuksesan juga bisa diukur melalui karir seseorang.

Misalkan, di manapun ia ditempatkan, maka di situ ada kemajuan. Orang seperti ini biasanya diperebutkan oleh berbagai tempat pekerjaan. Sementara ada orang yang setengah mati membawa map untuk melamar kerja, sementara juga ada orang yang diperebutkan oleh tempat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi.

Jika riwayat hidup seseorang sungguh bagus dari ia kecil, termasuk juga prestasinya, insya Allah orang itu nantinya di era keterbukaan seperti sekarang ini pasti akan diperebutkan. Jadi, jika seseorang berprestasi, maka pekerjaanlah yang berebutan mencari dirinya. Tapi sebaliknya jika tidak memiliki prestasi, maka dialah yang mengejar pekerjaan. Karena itulah, karir dan prestasi ini memang harus dibina sejak dini.

Keempat, kesuksesan juga bisa diukur dari keuangan.

Bukan rahasia lagi, bahwa siapa saja yang memiliki uang, maka kemudahan-kemudahan hidup akan diperolehnya. Sebaliknya, siapa saja yang tidak mempunyai uang dan tidak mempunyai potensi lain selain uang, maka kesulitan hidup akan selalu bersamanya. Karena itulah, uang begitu pentingnya. Tapi yang paling penting lagi adalah berkah dari uang itu sendiri. Uang yang berkah tidak mesti harus banyak, melainkan cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan kita, bukan seluruh keinginan kita.

Kelima, kesehatan juga menjadi unsur terpenting dari kesuksesan.

Walaupun kita memiliki segalanya, tapi jika selalu sakit-sakitan, tentunya akan sulit sekali kita merasakan kebahagiaan. Rahasia kesuksesan Nabi Muhammad salah satunya adalah kesehatan. Nabi Muhammad adalah salah seorang yang paling sehat di masanya. Rahasia kesehatan Nabi Muhammad adalah makan pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Nabi Muhammad juga suka berpuasa.

Dalam hal makanan, ternyata sebagian penyakit itu berasal dari meja makan. Mengapa? Dahulunya mungkin penyumbang kematian terbesar adalah penyakit berbahaya seperti malaria, tipes, cacar, dan sebagainya. Sekarang, penyumbang kematian terbesar adalah penyakit jantung, kolesterol tinggi, asam urat, yang semuanya ini diperoleh di atas meja makan.

Rasulullah menganjurkan untuk tidak meniup makanan yang akan dimakan, sekalipun itu panas. Belakangan para dokter bersepakat betapa tidak bolehnya meniup makanan. Rahasia kesehatan Rasulullah juga adalah dalam hal pengobatan secara alami (herba). Nabi Muhammad juga suka berolahraga. Misalkan dalam hal ini, Rasulullah jika pergi ke masjid, jalur yang digunakan untuk pergi ke masjid berbeda dengan jalur ketika beliau pulang dari masjid.

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa Rasulullah pernah menantang seorang pegulat tradisional Arab (mungkin seperti sumo) yang pegulat tersebut begitu kelewat sombong dan sering berkata-kata bahwa tak ada lagi yang bisa mengalahkannya di atas bumi ini. Pegulat tersebut badannya besar dan tinggi, sedangkan Rasulullah tidak sebesar pegulat tersebut. Begitu adu tanding dengan Rasulullah, hanya dengan beberapa gerakan, maka pegulat tersebut kalah (KO) pada pertandingan itu, padahal Rasulullah tidak sebesar pegulat tersebut, tetapi Rasulullah memang sehat. Di dalam hadits juga disebutkan, bahwa badannya Rasulullah itu padat, tidak gemuk, namun tidak juga kurus. Kukunya tergunting rapat, jenggotnya tercukur rapi, pokoknya tipe ideal pada waktu itu, dan juga parasnya tidak termakan usia.

Karena itu, kesehatan begitu pentingnya. Hampir tidak ada dalam setiap riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah itu sakit gigi. Rahasianya adalah Rasulullah selalu bersiwak. Jadi, sehatnya Rasulullah itu karena ia rajin berolahraga, selalu menjaga makanan, sering berpuasa, dan juga mencegah kemungkinan-kemungkinan adanya penyakit.

Keenam, adalah kerohanian.

Percuma pencapaian-pencapaian yang telah kita raih, jika tidak ada kebahagiaan rohani. Begitu nikmatnya setelah menyelesaikan ibadah, dan begitu tidak nikmatnya setelah melakukan dosa. Bagi orang yang masih memiliki iman, jika setelah melakukan dosa, maka ia akan merasa begitu berat dan menyesal. Sebaliknya, bagi orang yang tidak memiliki keimanan, maka setelah melakukan dosa itu ia tidak memiliki beban sama sekali. Orang yang tidak memiliki penyesalan setelah melakukan dosa, maka orang seperti inilah yang telah dikunci pintu ketenteraman hatinya oleh Allah.

Firman Allah:

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. Al-Baqarah: 7)

Ketujuh, berkomunikasi di dalam masyarakat.

Walaupun seseorang memiliki kepribadian yang bagus, keluarga yang bahagia, begitu juga karir, keuangan, kesehatan, dan kerohanian yang bagus, tapi terisolasi di dalam masyarakat, maka ini juga merupakan penderitaan tersendiri. Fitrahnya manusia adalah ingin mencintai orang banyak dan ingin dicintai orang banyak.

Komunitas sosial begitu pentingnya karena adalah sarana untuk beramal shaleh. Tidak mungkin seseorang bisa masuk surga hanya dengan bermodalkan keshalehan individu, tapi akan bisa masuk surga jika keshalehan individu dan keshalehan sosialnya berbanding lurus.

Firman Allah:

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr: 3)

Jadi, yang memasukkan seseorang itu ke dalam surga bukan hanya keimanannya (amanu), tapi juga amal shalehnya (wa amilush shalihati), yang amal shalehnya itu dapat dirasakan oleh orang lain. Sebaliknya, hanya dengan bermodalkan amal shaleh pun juga tidak akan memasukkan orang ke dalam surga jika ia tidak beriman. Jadi, memang antara keimanan dan amal shaleh itu harus seimbang dan berbanding lurus.

Kedelapan, kemampuan pembelajaran.

Menuntut ilmu juga merupakan suatu kepuasan tersendiri. Sekalipun semua hal di atas terpenuhi, tapi jika ilmu kita kosong, maka segala pencapaian yang kita raih juga tidak ada artinya apa-apa. Di dalam Islam selalu diingatkan akan hal ini, bahwa menuntut ilmu itu tak ada henti-hentinya sepanjang hayat kita. Bahkan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah adalah pesan mengenai pentingnya menuntut ilmu (iqra’ bismirabbika)

Kesuksesan kita terukur dari satu hingga delapan ini. Inilah perbedaannya dengan orang-orang sekuler. Mereka tidak perlu kerohanian, tidak ada urusan mereka akan kepribadian yang utuh, dan mereka juga tidak mementingkan untuk berkomunikasi di dalam masyarakat. Karena itulah, individualisme begitu dominan di negara-negara barat (negara yang berfaham sekuler). Tak perlu bagi mereka untuk saling mengenal dengan tetangga. Tetapi di dalam Islam, hubungan baik kita dengan masyarakat sekitar sangat perlu untuk dijaga.

Jadi, inilah delapan bidang kesuksesan di dalam hidup kita: kepribadian yang utuh, keluarga yang sakinah, karir yang terus meningkat, keuangan yang stabil, kesehatan yang prima, kerohanian yang tangguh, komunitas sosial yang ideal, dan juga kemampuan pembelajaran yang senantiasa kita pertahankan. Jika semuanya kita miliki, maka itulah pilihan-pilihan Allah untuk kita di dunia, dan insya Allah kita juga akan berbahagia di akhirat. [4An]

Entry filed under: Ceramah Agama Islam. Tags: , .

Makna Qana’ah Kiat Mengatasi Kesulitan

2 Komentar Add your own

  • 1. Hakikat Kesuksesan « SMK MULIA’s Blog  |  21 November 2008 pukul 7:15 PM

    […] Hakikat Kesuksesan https://thenafi.wordpress.com/2008/06/16/hakikat-kesuksesan/ […]

    Suka

  • 2. machmud  |  5 Desember 2009 pukul 1:24 PM

    sebuah pencerahan dan masukan yang bagus tuk pengembangan khazanah ilmu qu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 397,009 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • - مع السلامة - عمري ماهنتك طول عمري عارفه بجد قيمتك ومقدراك وحافظه غيبتك واديك بتشكرني بطريقتك في القلب صورتك... fb.me/8vCuw58I2 17 hours ago
  • Trailer Film Dokumenter: "Tapak HMI Ciputat" Ihwal sejarah perjalanan HMI Cabang Ciputat, sejak berdiri tahun... fb.me/5DXWTV9H9 20 hours ago
  • Sekarang pas tengah hari ni di Tanah Betawi cuacenye agék panas bedengkang. Ibarat kate sinar mateharinye tu pas... fb.me/8nCDqJXoa 4 days ago
  • Tak can lah Pasukan Bombe Jakarta ni, dah seharian madamkan api kebakaran tak udah-udah, dah sekitar 18 jam dah... fb.me/2SuX9Pbeq 5 days ago
  • Kalau kitak-kitak ade yang pacak, tolong ga' dirancangkan satu patong manusie, kepala'nye pakai kepala' Wak... fb.me/4hlXgpRVA 5 days ago

%d blogger menyukai ini: