Musik, Sastra, dan Aku

16 Juni 2008 at 5:08 AM Tinggalkan komentar


MUSIK, SASTRA, DAN AKU

Oleh: Hanafi Mohan

Dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga pencinta seni, meniscayakan aku untuk mencintai bidang ini. Lain lagi kota kelahiranku memang kota yang berada di bawah naungan keagungan adat resam budaya Melayu yang begitu kental. Sedari kecil, kami anak-anak Melayu memang sudah berakrab-akraban dengan dunia seni. Kami begitu mencintai seni dan budaya Melayu sebagaimana kami mencintai orang tua kami dan tanah tumpah darah kami, Bumi Khatulistiwa Bertuah, Pontianak.

Sebagai anak-anak yang dibesarkan dalam nilai-nilai kebudayaan yang begitu agung, kami tak hanya menjadi penonton di daerah kami, melainkan kami menjadi duta-duta budaya yang diandalkan untuk melestarikan seni budaya kami, memperkenalkannya, dan menjadi pelaku terdepan untuk menjaga eksistensi seni budaya kami.

Allahyarham (Almarhum) Al-Mukarram Al-Ustadz H. Kasim Mohan, beliaulah guru kami yang akan selalu kami kenang sepanjang hayat. Beliau memiliki intuisi seni yang begitu tinggi, serta memiliki kepedulian yang begitu besar dalam menjaga eksistensi seni budaya Melayu Pontianak. Beliau adalah seorang ulama, mantan Kepala Kampung (Lurah), pejuang (veteran perang), serta juga seniman dan budayawan. Melalui tangan dinginnya, kami dididik dalam kemuliaan akhlak Islam dan keluhuran adat resam budaya Melayu.

Beliau mengajarkan kami lantunan syair, pantun, nazam, burdah, ghazal, dan zikir hadrah. Selain itu, keanggunan tarian redat hadrah yang dipadu-padankan dengan gerak tari jepin dan serampang dua belas, serta jurus-jurus silat Melayu yang rancak dan bersemangat juga diajarkannya kepada kami. Sekilas Tarian Redat Hadrah menyerupai Tari Saman dan Seudati dari Aceh. Keserupaan itu tak lebih karena tarian-tarian tersebut sama-sama berasal dari Alam Budaya Melayu.

Dari didikan beliau yang tak kenal lelah dan tak kenal henti sepanjang hayatnya, sehingga jadilah kami anak-anak Melayu yang begitu mencintai seni budaya, dari seni musik, tari, sastra, hingga silat. Selain sebagai guru seni kami, beliau juga adalah guru agama yang mencerahkan kami. Ilmu Tarikhul Islam, Khat Arab Melayu, dan Ulumul Hadits adalah ilmu yang diajarkannya kepada kami di Madrasah Diniyah Awaliyah Haruniyah-Pontianak. Selain sebagai guruku, beliau juga merupakan pamanku, abang tertua dari Almarhum Ayahku. Beliau merupakan seorang autodidak yang mengagumkan, sekaligus seorang multitalenta yang berdedikasi tinggi. Ia menguasai berbagai alat musik seperti gitar, bas tongkang (bas klasik), biola, akordion, halmanian (harmonium) dan beberapa instrumen perkusi seperti tar (rebana) dan gendang Melayu. Suaranya juga begitu merdu ketika bernyanyi dan membawakan syair Melayu, qasidah dan syair hadrah, burdah, barzanji, dan qira’ah Al-Qur’an.

Kota tempatku dilahirkan dan dibesarkan adalah kota pesisir yang begitu terbuka. Karena itu pulalah, Budaya Melayu menjadi budaya yang begitu terbuka, yang mampu menyerap nilai-nilai keagungan dari budaya luar. Di bidang seni musik, kami juga dengan mudah menyerap keindahan musik dari berbagai peradaban, baik itu timur ataupun barat. Kami menyenangi musik Senandung Melayu, dan di waktu yang bersamaan kami juga bisa menikmati Musik Rock yang menghentak, Jazz yang dinamis, Musik Arab yang bersemangat, Musik India yang memikat, Musik Latin yang menggoda, dan entah musik-musik apalagi, yang semuanya dengan mudah kami serap dan nikmati seperti halnya musik tradisi Melayu. Anak-anak muda di kotaku bisa dengan fasih memainkan komposisi melodi Yngwie JM, Joe Satriani, Steve Pay, Carlos Santana, dan Gary More, bahkan musik Rock Deep Purple, Queen, Scorpion, Halloween, Deep Leppard, Dream Theater, sefasih mereka memainkan lagu-lagu Melayu dari Maestro Melayu seperti Tan Sri P. Ramlee AMN, Said Effendi, Husein Bawafi, dan Ahmad Jaiz.

Sehingga wajar kemudian ketika di Jakarta, ketika bersentuhan dengan berbagai aliran musik, maka aku dengan mudah pula menyerap estetika dan keindahan musik-musik tersebut. Sebut saja seperti R&B, disko, rap, reggae, hip-hop, instrumental klasik seperti Mozart, Beethoven, Vivaldi, instrumental modern seperti Yanni, Bond, Kitaro, Kenny G, Richard Claydermen, Safri Duo, Vanessa Mae, Maksim, Dave Koz, dsb. Bukan hanya itu, aku juga memiliki ketertarikan tersendiri dengan musik tradisional Jawa dan Sunda ketika aktif di Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Andaikan aku bisa memainkan angklung, gamelan, gending, dsb.

Dan suatu waktu aku mendapatkan kesempatan memainkan gamelan (atau mungkin gending), hanya dengan adaptasi beberapa saat, aku langsung bisa lancar memainkan instrumen tradisional Jawa itu. Di saat yang lain, aku mendapatkan kesempatan emas memainkan instrumen Biola, Ukulele, dan Gitar Dayak. Dan lagi-lagi, hanya adaptasi sebentar, aku langsung bisa memainkan alat-alat musik tersebut.

Jika kuingat-ingat itu, barulah aku menyadari, bahwa anak Melayu di kotaku memang adalah anak-anak yang setiap hari mengalun di telinga mereka keindahan musik dari berbagai peradaban, sehingga anak-anak Melayu adalah para autodidak yang luar biasa dalam hal musik. Dan ini terbukti pada diriku. Dan jika kuingat lagi, aku dulu sudah bisa memainkan alat musik pukul tradisional Melayu, yaitu Tar (sejenis rebana) pada saat aku masih SD. Bahkan ketika SD pun aku sudah bisa memainkan instrumen petik seperti gitar. Ketika SMP aku sudah lancar memainkan recorder, harmonika, dan mulai bisa memainkan piano/organ/keyboards.

Sebegitu hebatnyakah diriku? Sebenarnya tidak juga. Dan memang tidak hebat-hebat amat. Karena yang hebat hanyalah Allah Swt. Manusia tak ada artinya di hadapan Kemahabesaran-Nya. Diri ini tak lebih hanyalah setitik noktah.

Aku tak lebih hanyalah penggemar seni, yang dengan menggemari seni seakan-akan diri ini semakin sadar akan Kemaha-indahan-Nya. Dan bukan suatu yang baru pula jika kini aku menjadi penggemar sastra, karena memang aku dilahirkan dan dibesarkan dalam naungan budaya dan tradisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai sastra. Dari kecil aku sudah biasa mendengarkan, bahkan membacakan syair-syair Melayu yang begitu syahdu dan penuh dengan nilai-nilai. Pantun juga menjadi bagian tersendiri dalam masyarakat kami. Tradisi lisan juga di hidup di masyarakat kami, sehingga dari orang tua-orang tua kami, penuturan cerita-cerita kepahlawanan Melayu juga tak jarang kami dengar, juga cerita Hang Tuah, Musang Berjanggut, Nujum Pak Belalang, Pak Ngeng, Putri Junjung Buih, Putri Dara Hitam, Batu Belah Batu Betangkup, Raja Tan Unggal, dsb. Lain lagi sastra-sastra yang bernuansa religius seperti burdah dan barzanji yang sudah mengiringi kami dari kami dilahirkan sebagai anak Melayu, hingga kami besar dalam budaya agung tersebut. Seni dan Sastra adalah keseharian kami sebagai Bangsa Melayu, kami berbicara dengan dialek Melayu yang bersenandung, berpantun, dan bersyair.

Itulah sedikit celotehanku mengenai musik, sastra, dan aku. [Aan]

Ciputat, Sabtu-Minggu, 14-15 Juni 2008

Entry filed under: Kebudayaan. Tags: , , , .

Adab Kesopanan Faqir dalam Perbuatan Kebahagiaan Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 397,009 hits
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • - مع السلامة - عمري ماهنتك طول عمري عارفه بجد قيمتك ومقدراك وحافظه غيبتك واديك بتشكرني بطريقتك في القلب صورتك... fb.me/8vCuw58I2 17 hours ago
  • Trailer Film Dokumenter: "Tapak HMI Ciputat" Ihwal sejarah perjalanan HMI Cabang Ciputat, sejak berdiri tahun... fb.me/5DXWTV9H9 20 hours ago
  • Sekarang pas tengah hari ni di Tanah Betawi cuacenye agék panas bedengkang. Ibarat kate sinar mateharinye tu pas... fb.me/8nCDqJXoa 4 days ago
  • Tak can lah Pasukan Bombe Jakarta ni, dah seharian madamkan api kebakaran tak udah-udah, dah sekitar 18 jam dah... fb.me/2SuX9Pbeq 5 days ago
  • Kalau kitak-kitak ade yang pacak, tolong ga' dirancangkan satu patong manusie, kepala'nye pakai kepala' Wak... fb.me/4hlXgpRVA 5 days ago

%d blogger menyukai ini: