Membaca dari Belakang

12 Desember 2008 at 11:33 AM 1 komentar


Ini adalah pengalaman paling pribadi dari diriku, yaitu membaca dari halaman belakang (halaman akhir), berlawanan dengan kebiasaan kita selama in, yaitu membaca dari halaman depan (halaman awal). Aneh mungkin, tapi kau cobalah kawan membaca seperti ini, niscaya kau akan mendapatkan sensasi yang lain daripada biasanya. Oh ya, untuk sementara ini mungkin hanya cocok digunakan untuk membaca novel, untuk bacaan yang lainnya aku belum pernah mencobanya.

Bayangkan, ketika membaca novel, maka kau mengetahui terlebih dahulu endingnya, setelah itu beranjak lembar demi lembar kau akan mengetahui cerita awalnya. Inilah sensasinya menurutku. Si pengarang novel mungkin menyusun cerita novel itu dengan logikanya sendiri yang itu sangat khas bagi setiap penulis. Maka kita selaku pembacanya tidak harus mengikuti logika penulis novel tersebut. Ketika novel tersebut sudah berada di tangan kita sebagai pembacanya, maka kita bebas sebebas-bebasnya untuk mengapresiasi novel tersebut.

Inilah membaca jungkir balik, awal menjadi akhir, akhir menjadi awal. Atau, awal tetap awal, akhir tetap akhir, tapi kita membaca akhirnya terlebih dahulu, sedangkan awalnya akan kita baca paling akhir. Jika si pengarang novel mempunyai logikanya sendiri dalam menulis jalinan ceritanya, maka tak ada salahnya kita juga memiliki logika tersendiri, serta cara tersendiri dalam membaca karya si penulis novel tersebut.

Sudah saatnya jangan lagi kita mau mengikuti logika para penulis novel tersebut. Sudah saatnya jangan lagi kita mau terjerumus oleh cara pandang si penulis novel terhadap cerita yang ia buat itu. Pembaca memiliki logikanya sendiri, memiliki kemerdekaannya sendiri, memiliki cara tersendiri, ….

Inilah revolusi para pembaca, inilah perlawanan para pembaca, …

“Edan,” kata temanku.

Lalu kujawab, “Tak ada yang lebih edan daripada para penulis cerita itu, kawan. Coba kau pikir, adakah orang yang lebih edan dibandingkan dengan orang yang mengkonstruksi suatu cerita hingga panjangnya beratus-ratus halaman banyaknya. Kemudian yang lebih edan lagi adalah kita, karena sudah mau mengikuti logika para penulis itu hanya untuk mengetahui ending ceritanya seperti apa, jalinan ceritanya seperti apa. Karena itu, agar kita tak terjerumus dengan logika para penulis itu, alangkah lebih baiknya kita membaca endingnya terlebih dahulu. Jika endingnya bagus, maka kita lanjutkanlah membaca karyanya itu. Tapi kalau endingnya jelek, maka tak ada salahnya kita memutuskan untuk tidak membaca novel tersebut. Selesai, kan?”

Dengan wajah seperti dilipat-lipat, temanku merenggut, “Sungguh edan, alias sableng bin gendeng kau itu,” kemudian temanku itupun berlalu dari hadapanku. Sedangkan aku tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah temanku yang seperti kertas habis diremas-remas itu, atau mungkin seperti baju yang tak pernah disetrika, kalau orang Melayu Pontianak menyebutnya “ronyok“, kalau orang Jakarta mungkin menyebutnya “kucel“. Tahu kan kau yang kumaksud ini, kawan? []

Ciputat, Minggu – 29 Juni 2008 17.07 – 17.32 WIB

Entry filed under: Essay. Tags: , , , , .

Ibadah Haji Menulis dengan Emosi

1 Komentar Add your own

  • 1. Asep Sofyan  |  25 Desember 2008 pukul 5:16 PM

    Reaksi temanmu tidak realistis.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 397,009 hits
Desember 2008
S S R K J S M
« Sep   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • - مع السلامة - عمري ماهنتك طول عمري عارفه بجد قيمتك ومقدراك وحافظه غيبتك واديك بتشكرني بطريقتك في القلب صورتك... fb.me/8vCuw58I2 17 hours ago
  • Trailer Film Dokumenter: "Tapak HMI Ciputat" Ihwal sejarah perjalanan HMI Cabang Ciputat, sejak berdiri tahun... fb.me/5DXWTV9H9 20 hours ago
  • Sekarang pas tengah hari ni di Tanah Betawi cuacenye agék panas bedengkang. Ibarat kate sinar mateharinye tu pas... fb.me/8nCDqJXoa 4 days ago
  • Tak can lah Pasukan Bombe Jakarta ni, dah seharian madamkan api kebakaran tak udah-udah, dah sekitar 18 jam dah... fb.me/2SuX9Pbeq 5 days ago
  • Kalau kitak-kitak ade yang pacak, tolong ga' dirancangkan satu patong manusie, kepala'nye pakai kepala' Wak... fb.me/4hlXgpRVA 5 days ago

%d blogger menyukai ini: