Menulis dengan Emosi

12 Desember 2008 at 11:42 AM 6 komentar


Mengutip ceramah dari seorang Doktor, bahwa menulis adalah salah satu media untuk menyalurkan emosi kita. Selain menulis, seni juga merupakan media penyaluran emosi yang begitu efektif. Orang yang memiliki jiwa seni kemungkinan juga merupakan orang yang memiliki hati yang lembut. Nah, lantas bagaimana jika emosi, seni, dan menulis menjadi satu kesatuan kegiatan? Tentunya akan menghasilkan karya yang begitu menakjubkan, seperti novel, cerpen, puisi, syair, lirik lagu, komposisi musik, dan karya-karya yang serupa yang di dalamnya merupakan gabungan emosi, seni, dan tulisan.

Jadi, bagi siapapun yang memiliki emosi yang susah dikendalikan, maka cobalah menyalurkan emosi tersebut melalui tulisan. Curahkanlah kesedihan, kesusahan, kekecewaan, kemarahan, dan emosi apapun itu melalui tulisan. Ketika tersadar dari emosi tersebut, ternyata tulisan kita sudah berlembar-lembar banyaknya. Barulah kita sadar, ternyata emosi kita sudah terekam begitu rupa di dalam tulisan. Atau bisa juga emosi tersebut dijadikan sebagai pemicu dalam menulis. Maksudnya, bisa saja tulisan kita itu tidak berhubungan dengan emosi kita, melainkan emosi tersebut hanya dijadikan sebagai pemicu dalam menulis. Ketika hal ini dilakukan, tangan ini akan terus menggoreskan pena di atas kertas, jari-jari ini akan terus menari-nari di atas tuts keyboard, hanya mata yang ngantuk yang akan menghentikannya.

Tulisan yang disertai dengan emosi biasanya menjadi tidak kering, bahasanya mengalir bagaikan arus sungai yang menuju ke laut: lambat, kadang deras, atau tak jarang juga berhenti untuk mengumpulkan tenaga. Tulisan yang disertai dengan emosi biasanya sangat enak untuk dibaca. Yakinlah, kalau ada tulisan yang tidak enak dibaca, mungkin tulisan tersebut tidak ditulis dengan emosi.

Dia meledak-ledak, mengharu-biru, membahana semesta raya, menyambar-nyambar, kilatan-kilatannya memercikkan kecemerlangan, gilang-gemilang, dan terang-benderang di semesta raya. Menulis dengan emosi adalah saat-saat terindah bagi para penulis, saat-saat yang memberikan kepuasan tersendiri bagi penulis dalam mendaki hingga mencapai puncak yang menakjubkan. Sensasi dari menulis seperti ini begitu hebatnya, bukan hanya bagi penulisnya, melainkan pembacanya pun merasakan sensasi yang luar biasa dari tulisan tersebut.

Menulis dengan emosi, sudahkah anda mencobanya? [Aan]

Ciputat, Kamis, 24 Juli 2008 Pukul: 20.43-21.54 WIB

Iklan

Entry filed under: Essay. Tags: , , , , , , , .

Membaca dari Belakang Cak Nur; Cendekiawan yang Rendah Hati

6 Komentar Add your own

  • 1. gendut1mu3t  |  15 Desember 2008 pukul 5:02 AM

    Yupz,,,
    Swetuju kemawon!!!! tapi saat emosi yang bahagia, it8u susah sekali di ceritakan, beda bange dengan kebencian, kita akan begitu mudah mencerca org lain dg tulisan , hehe…(curhat pribadi)

    Suka

  • 2. thenafi  |  16 Desember 2008 pukul 6:37 AM

    kaya’nya kebalikan deh dgn-ku.
    aku lebih mudah menuliskan emosi bahagiaku dibandingkan dgn emosi kebencian.

    salam kenal ya…

    Suka

  • 3. oRiDo™  |  18 Desember 2008 pukul 3:18 AM

    menulis dengan emosi…
    mungkin lebih bersifat menulis dengan penuh semangat kali yah??
    ketika kita bersemangat.. apapun emosi yang ada dalam hati.. maka insyaAllah akan terbentuk tulisan yang menggambarkan situasi emosi kita..
    😀

    Suka

  • 4. Nanda Evawandry, S.Pd.  |  20 Desember 2008 pukul 12:45 PM

    Menulis dengan emosi…..
    Asal jangan emosi jiwa aja, itu kan kayak judul lagu aja. Mungkin bisa dicoba tuh, atau barangkali sudah sering dilakukan tapi nggak nyadar gitu. walaupun gitu, ok juga tuh idenya.

    Suka

  • 5. Hanafi Mohan  |  31 Desember 2008 pukul 8:47 AM

    @Nanda Evawandry, terima kasih atas kunjungannya.
    salam kenal.

    Suka

  • 6. Hanafi Mohan  |  31 Desember 2008 pukul 8:55 AM

    @oRiDo, terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

    Salam kenal

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 410,374 hits
Desember 2008
S S R K J S M
« Sep   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: