Menulis dari Belakang

21 Januari 2009 at 2:54 PM 1 komentar


Rindu Menulis di Kertas

Setelah lama tidak menulis di buku (kertas), ternyata kini aku rindu juga menulis di media konvensional yang satu ini, walaupun nanti akan terjadi kerja dua kali. Maksudnya, setelah kutulis di kertas (buku), tentunya akan diketik ulang di komputer. Tapi tak apalah, karena kedua media ini memilik kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Konstruksi Ide

Akhir-akhir ini, aku memang lebih sering mencurahkan ide dan gagasanku langsung ke komputer, tanpa terlebih dahulu ditulis di buku. Biasanya, ide dan gagasan itu kuendapkan dahulu di kepala, setelah itu barulah kuketik. Atau tak jarang juga langsung kuketik, walaupun baru berupa konstruksi kasar. Ketika mengetik, barulah ide dan gagasan itu lambat-laun terkonstruksi menjadi tulisan yang layak dibaca oleh orang lain.

Mulai untuk Menulis

Ketika akan mulai menulis, apakah yang pertama-tama harus ditulis? Kalau dikerucutkan lagi, kata apakah yang harus ditulis pertama kali?

Tak sedikit yang menghadapi kendala seperti ini. Sehingga jangankan satu kata, bahkan satu huruf pun tak tertulis. Aku mungkin termasuk ke dalam golongan ini, tapi itu dahulu. Walaupun tak dapat dipungkiri, kendala tersebut kini pun kadang menghampiriku.

Menurutku, yang pertama harus ditulis adalah menulis itu sendiri. Maksudnya, jika ingin menulis, maka menulis saja. Yakinlah, ketika huruf pertama tergores, maka akan terus bermunculan huruf-huruf yang lainnya. Kemudian, semuanya akan mengalir. Lambat-laun akan terangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, hingga tersusun suatu tulisan yang utuh.

Dari Mana Memulainya

Hal ini juga merupakan suatu kendala yang sering dihadapi. Jika sudah ada suatu ide, atau mungkin ide tersebut sudah terkonstruksi begitu rupa, maka dari mana kita akan memulai tulisan tersebut. Dari umum ke khusus, dari khusus ke umum, atau mungkin masih banyak lagi teori lainnya, yang kadang karena sudah banyak teori dan aturan itu, akhirnya menjadikan kita semakin bingung untuk menulis.

Abaikan semua teori dan aturan menulis tersebut. Kini, hal terpenting yang harus dilakukan adalah menulis, menulis, dan menulis. Ambil alat tulis kita, lalu tulislah di situ. Segera tulis huruf pertama. Jangan berhenti pada huruf pertama saja. Jika terhenti pada huruf pertama, maka berhentilah sejenak dari menulis. Tataplah huruf tersebut sedalam-dalamnya. Yakinlah, dari satu huruf tersebut akan berpendaran huruf-huruf lainnya. Bagaikan secercah cahaya lilin yang bisa menerangi ruangan yang tadinya gelap-gulita.

Menulis dari Mana Saja

Menulis dari belakanng; inilah ide utama tulisan yang sedang anda baca kini. Pada postingan terdahulu aku pernah menulis “Membaca dari Belakang”. Lantas apa pulakah “Menulis dari Belakang”?

Maksudnya, tidak harus sesuatu yang kita tulis duluan itu harus diletakkan di awal dan yang ditulis belakangan harus diletakkan di akhir. Ini sebenarnya hanya kreatifitas Sang Penulis saja dalam menyusun tulisannya.

Misalkan, kita ada suatu kerangka tulisan yang menurut kita itu sudah rapi dan sistematis. Ini baru kerangka. Ternyata, ketika akan mengurai poin-poin pada kerangka tersebut, kita menghadapi “kendala klasik”, yaitu “berhenti sebelum memulai”. Tentunya kita tak ingin hal ini terjadi.

Bacalah lagi kerangka tulisan tersebut. Perhatikanlah poin demi poin secara berurutan dari awal hingga akhir. Kita tentunya ingin menulis secara sistematis sesuai dengan urutan pada kerangka tersebut. Oke, kini menulislah sesuai dengan urutan poin demi poin. Mungkin pertama-tama kita akan lancar menulis poin yang pertama ini. Namun tak jarang pula kita menghadapi “kendala klasik” lagi. Jika seperti ini, maka abaikanlah keinginan kita untuk menulis secara sistematis.

Bacalah lagi secara cermat poin demi poin. Bias jadi, ide kita akan begitu lancar setelah mencermati poin demi poin itu. Bisa jadi pula akan bertambah poin yang baru. Kalau sudah seperti ini, maka mulailah menulis dari mana saja; bisa dari depan, dari tengah, atau dari belakang. Cari yang mana kira-kira lancar untuk kita tulis.

Gunakan memori asosiasi, gunakan mind mapping, atau gunakan cara menulis apa saja yang menurut kita cara tersebut menjadikan kita begitu lancar menulis.

Yang pasti, jangan terpaku pada kerangka tulisan. Kerangka tersebut hanyalah acuan awal. Bisa saja ketika menulis, kita tidak sesuai dengan kerangka tersebut. Mungkin bisa saja kerangka tersebut kita acak-acak, kemudian kita susun ulang lagi. Yang tadinya kita tulis paling awal, bisa saja kemudian diletakkan di tengah ataupun di akhir, atau bisa saja kita hilangkan sama sekali. Begitu juga yang kita tulis di tengah ataupun di akhir. Begitu juga poin awal bisa saja kita tulis belakangan, sedangkan poin di tengah ataupun di akhir kita tulis lebih duluan.

Sebenarnya ada aturan dalam menulis, tapi tidak ada aturan yang baku berkaitan dengan tulis-menulis. Bahkan setiap orang memiliki metode dan aturan tersendiri dalam menulis. Bahkan bagi orang-orang tertentu, dari waktu ke waktu metode dan aturan tersebut juga tidak stagnan dan itu-itu saja. Metode dan aturan tersebut akan berubah-ubah, tidak statis (melainkan dinamis), dan menyesuaikan dengan keadaan.

Jadi, jangan bingung ketika akan mulai menulis. Jika kita sudah bingung di awal menulis, maka kita sebenarnya sudah gagal sebelum memulai. Karena itulah, jadikan kebingungan tersebut sebagai awal yang indah untuk meraih pencapaian-pencapaian yang menarik dan menantang dalam menulis. Jadikanlah pula kebingungan itu sebagai pemicu kita untuk terus dan terus menulis. Dan jadikan pula kebingungan tersebut sebagai ketidak-bingungan.

Bingung berarti tidak bingung. Bingung berarti mengerti. Bingung berarti paham. Bingung berarti bisa.

Bersama kita bisa!

Kok jadi slogal salah satu partai politik sih? Wah, berarti sudah “ngawur” nih tulisannya. Kalau sudah seperti ini, tindakan terbaik yang harus dilakukan adalah berhenti dan menyudahi tulisan ini. Titik. [Hanafi Mohan/Ciputat, 13-14 Januari 2009]

Iklan

Entry filed under: Serba-serbi Menulis. Tags: .

Spirit ‘Asyura untuk Bangsa Palestina Waktu yang Ideal untuk Menulis

1 Komentar Add your own

  • 1. prisca  |  3 Oktober 2009 pukul 4:42 PM

    trims ya, sangaatt brmanfaat.. smoga ilmunya mkn dtambah, amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 434,207 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: