Waktu yang Ideal untuk Menulis

21 Januari 2009 at 3:02 PM Tinggalkan komentar


Dalam satu hari, sebenarnya begitu banyak waktu yang bisa kita sediakan untuk menulis. Kalaupun tidak banyak, maka mungkin ada sedikit waktu yang bisa kita sisihkan untuk aktivitas yang satu ini.

Ada yang mengatakan, bahwa waktu yang ideal untuk menulis adalah ketika akan tidur. Mengapa? Karena pada waktu ini biasanya kita merefleksikan lagi apa-apa yang telah kita lakukan, menyusun rencana untuk besoknya, dan mungkin masih banyak lagi yang berkelebat di kepala ini. Saking banyaknya pikiran, bahkan terkadang kita menjadi begitu sulit untuk tertidur. Semakin mata ini dipejamkan, maka semakin banyak pula pikiran yang melintas.

Ketika bangun tidur juga merupakan waktu yang terbaik untuk menulis, karena pikiran kita masih segar. Ada juga yang berpendapat seperti ini.

Jadi, sebenarnya manakah waktu yang ideal untuk menulis? Belum lagi ada yang berpendapat lain, sehingga semakin banyak pilihan-pilihan waktu yang ideal itu.

Waktu secara garis besar sebenarnya hanya ada dua, yaitu waktu objektif dan waktu subjektif. Enam jam dikatakan lama, satu jam dikatakan sebentar. Inilah waktu objektif. Sedangkan waktu subjektif adalah waktu yang dirasakan oleh masig-masing orang. Bagi orang yang sedang berbahagia, maka enam jam dikatakannya hanya sebentar saja berlalu. Sedangkan bagi orang yang sedang menderita, maka satu jam pun menurutnya adalah waktu yang lama sekali berlalunya.

Dalam hal ini, maka dapatlah dikatakan, bahwa waktu yang ideal untuk menulis bagi setiap orang itu begitu subjektifnya. Menulis itu berkaitan dengan rasa, serta suasana hati. Ada orang yang begitu lancar menulis ketika ia sedang santai, namun ada juga yang lancar menulis ketika ia tidak santai. Ada orang yang lancar menulis ketika emosinya sedang stabil, namun ada juga yang lancar menulis ketika emosinya labil.

Menulis adalah pekerjaan yang mensinergikan antara data, fakta, dan teks, antara rasa, karsa, dan cipta, juga antara indera, rasio, dan emosi. Sehingga, menulis merupakan aktivitas yang superkompleks. Karena itulah, menulis merupakan kegiatan yang tidak mengenal waktu. Patut diingat, bahwa menulis adalah proses ketika seseorang berdialog dengan dirinya sendiri, yang itu harus juga didialogkannya dengan data, fakta, lingkungan, dan yang terpenting adalah kata-kata yang akan diturunkannya dalam bentuk teks. Di sisi yang lain, menulis adalah mentransformasikan bahasa lisan menjadi bahasa tulisan (teks).

Jangan dibingungkan dengan waktu ideal, karena yang mengetahui waktu ideal itu adalah diri kita masing-masing. Waktu ideal orang lain cukuplah menjadi referensi bagi kita. [Hanafi Mohan/Ciputat, 14-16 Januari 2009]

Iklan

Entry filed under: Serba-serbi Menulis. Tags: , .

Menulis dari Belakang Harapan Hampa terhadap Obama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 423,400 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • Mari...mari tikam yang nak cepat kaya. fb.me/1tVskMDtG 3 weeks ago
  • Di beberapa kampong di Borneo Barat yang berada di sempadan administratif indonesia-Malaysia, bukan lagi bendera... fb.me/w5Pg6Pyf 1 month ago
  • Untuk menegakkan nasionalisme itu memerlukan pendukung yang teramat banyak pula tentunya. Segala macam cara pun... fb.me/3iqVa7gAu 1 month ago
  • Jikalau terbiasa dengan tradisi "mudzakarah", menghargai pandangan yang berbeda itu seumpama tarikan dan hembusan nafas insani. 1 month ago
  • Sebentar gék ni bakal ramai yang ikot-ikot merayekan tujoh puloh taon lebéh negeri kampong halaman/negeri tanah kelahérannye kena' jajah. 1 month ago

%d blogger menyukai ini: