Pelajaran dari Peristiwa Hijrah

29 Januari 2009 at 3:01 PM Tinggalkan komentar


Berkaitan dengan penyerangan Israel ke Gaza, bahwa tadi malam Israel sudah memasuki wilayah darat Gaza yang dilakukan oleh tentara angkatan darat Israel yang dipersiapkan sebanyak 10 ribu orang untuk menguasai Gaza. Diakui oleh Menteri Perang Israel, bahwa serangan darat ini akan memakan banyak hari. Di sisi lain, pimpinan HAMAS menyatakan, bahwa Gaza akan menjadi kuburan bagi tentara Israel. Mereka siap untuk mati.

Israel itu sebenarnya nama lain dari Nabi Ya’qub. Seperti diketahui, bahwa Nabi Ibrahim mempunyai beberapa orang anak. Dari istrinya yang bernama Hajar terlahirlah Ismail, sedangkan dari istrinya yang bernama Sarah, terlahirlah Ishaq. Selain itu, Nabi Ibrahim juga memiliki istri yang lain lagi, dan juga memiliki beberapa anak. Tapi memang, anaknya yang terkenal adalah Ismail dan Ishaq. Keturunan Ismail kemudian menjadi cikal bakal Bangsa Arab. Ishaq mempunyai anak yang bernama Ya’qub (Israil), yang keturunannya kemudian menjadi cikal bakal Bangsa Israel (dikenal juga dengan sebutan Yahudi). Jadi sebenarnya, Arab dan Yahudi itu masih merupakan saudara sepupu.

Alquran tidak mempersamakan semua orang Yahudi. Alquran berkata:

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Q.S. Ali Imraan: 75)

Jadi, kita jangan men-generalisir orang Yahudi. Sebagian besar dari mereka itu memiliki sifat materialisme. Sebagian besar dari mereka tidak dapat menggambarkan sesuatu yang bersifat spiritual (ruhaniah), karena menurut mereka semuanya materi. Karena itulah, kalau kita baca dalam ajaran Yudaisme, Tuhan itu berbentuk materi (orang). Itulah sebabnya, Nabi Musa yang diutus kepada mereka itu berupaya untuk mengikis sisi materialisme tersebut. Ketika Nabi Isa diutus, ternyata ajarannya lebih banyak bersifat spiritual.

Umat Nabi Musa, jika kita baca di Alquran disebutkan:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. (Q.S. Al-Baqarah: 55)

Mereka tidak bisa membayangkan sesuatu yang bersifat spiritual dan supra rasional. Mereka digambarkan sangat egois. Ketika Nabi Musa dikejar-kejar oleh Fir’aun, dia berkata kepada umatnya: “Jangan takut, Tuhan bersamaku.”

Bandingkan ketika Nabi Muhammad dikejar-kejar, yang dikatakannya adalah, “Jangan khawatir, jangan sedih, Tuhan bersama kita.”

Perkataan Nabi Musa tersebut merupakan cerminan dari sifat sebagian orang-orang Yahudi. Mereka dilukiskan di dalam Alquran sebagai orang-orang yang sangat senang pada kehidupan, walaupun kehidupannya itu buruk. Mereka juga digambarkan sebagai orang yang senang hidup, tapi takut mati. Salah satu buktinya di abad modern ini, yaitu waktu terjadi perang di Lebanon. Jika mereka (orang Yahudi) berhadapan satu lawan satu, maka mereka akan lari. Inilah yang disebut oleh pimpinan HAMAS, bahwa kami ini makhluk hidup melalui kematian.

Di dalam Alquran disebutkan:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Q.S. Al-Israa’: 4)

Menurut para ulama, pengrusakan yang pertama adalah pada zaman Nebukadnezar (Kerajaan Babylonia-Iraq). Yang kedua, kita belum tahu.

Sekali lagi kita ingat, bahwa tidak semuanya orang Yahudi itu sama. Sejak dahulu, orang-orang yang buruk tersebut hidup di berbagai daerah di dunia ini, namun mereka tidak mendapat simpati dari penduduk negeri. Di Inggris mereka pernah dikejar-kejar, apalagi di Jerman. Sehinga mereka itu berpencar di mana-mana.

Pada zaman Nabi Muhammad, ada juga orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah. Sewaktu Rasulullah belum diutus sebagai Rasul, orang-orang Yahudi ini berkata, bahwa akan datang seorang Nabi. Kalau dia Nabi, maka kami pasti akan menang melawan musuh-musuh kami. Tiba-tiba yang diutus bukan dari keturunan Israel, melainkan dari keturunan Ismail. Dari sinilah orang-orang Yahudi mulai dengki dan benci kepada Bangsa Arab.

Sewaktu Rasulullah dan pengikutnya hijrah ke Madinah, maka Rasulullah pun menggalang persatuan antara seluruh anggota masyarakat, termasuk juga orang-orang Yahudi. Mereka (orang-orang Yahudi) menyatakan kesediaan untuk membantu Umat Islam ketika itu, termasuk jika ada serangan dari luar terhadap umat Islam. Karena kelicikannya, mereka berpura-pura membantu, yang kemudian mereka merongrong Rasululah dan umat Islam dengan melakukan pengkhianatan.

Waktu itu, ada tiga kelompok besar Yahudi, yaitu Bani Qainuqa, Khuraizah, dan Nadhir. Ternyata, salah satu dari kelompok tersebut berkhianat. Rasulullah pun menjatuhkan sanksi terhadap kelompok Yahudi yang berkhianat itu. Rasulullah menawarkan kepada mereka untuk memilih siapa yang akan menjatuhkan ketetapan sanksi tersebut. Mereka pun menjatuhkan pilihan, yang kemudian disetujui oleh Rasulullah. Sanksi yang dijatuhkan adalah: yang laki-laki semuanya dibunuh, hartanya diambil, sedangkan yang perempuan dibebaskan. Mereka juga tidak lagi diperbolehkan tinggal di Madinah, karena mereka mengacau.

Dalam sejarah, orang Yahudi yang baik juga ada pada masa itu, antara lain: Ka’bil Akbar, Abdullah ibn Salam, dan beberapa yang lainnya. Berkaitan dengan ini, Alquran menyatakan, bahwa ada di antara Ahlul Kitab itu suatu kelompok yang melaksanakan tugasnya secara sempurna. Kalau kita kaitkan dengan keadaan kini, maka ada yang dinamakan Zionis, ada juga yang bukan Zionis. Kini pun sebenarnya ada orang-orang Yahudi yang membela orang Palestina, yang mereka itu berkata “tidak” terhadap tindakan Zionis. Mereka juga setuju untuk terjadinya pembagian negara, tapi mereka ini suaranya tidak terdengar.

Tadinya orang-orang Yahudi ini berpencar. Di tahun 1940-an, orang-orang Palestina hidup di Palestina. Ketika itu, ada juga orang-orang Yahudi yang hidup di Palestina, tapi jumlahnya masih sedikit. Pada tahun 1940-an ini, daerah Palestina dan banyak negara Arab berada di bawah kekuasaan Inggris. Orang-orang Yahudi menuntut dari Inggris, bahwa mereka ingin mempunyai negara. Permintaan mereka itupun disetujui oleh Inggris. Pertama kali, Inggris mengusulkan negara bagi orang Yahudi itu di Afrika Selatan. Tapi ternyata orang-orang Yahudi tidak mau di Afrika Selatan. Yang mereka inginkan adalah di Palestina.

Perdana Menteri Inggris ketika itu menjanjikan, bahwa nantinya orang-orang Yahudi akan diberikan wilayah di Palestina. Padahal sebenarnya Palestina ini bukanlah milik Israel, melainkan orang-orang Arab yang ada di sanalah pemilik sahnya. Keberadaan orang-orang Yahudi di Palestina ketika itu hanya sedikit, sedangkan yang lainnya terpencar-pencar di beberapa negara, yaitu ada di Rusia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan beberapa negara lainnya.

Sewaktu Inggris hendak keluar dari Palestina, orang-orang Yahudi dan orang-orang Inggris ini mempersenjatai Yahudi. Ketika Inggris keluar, maka terjadilah kekacauan di wilayah Palestina. Karena persiapan orang-orang Yahudi ini sedemikian rapi, dan mereka menteror masyarakat, maka sebagian orang Arab Palestina keluar dari Palestina: ada yang ke Yordania, Mesir, Gaza, dan beberapa negara Arab lainnya.

Pada tahun 1948 terjadilah perang pertama antara Arab dengan Israel. Kemudian PBB (mungkin waktu itu masih Liga Bangsa Bangsa/LBB) memutuskan untuk terjadinya gencatan senjata. Negara-negara Arab waktu itu yang dipimpin oleh Mesir (masa Raja Farouk) ternyata tidak siap perang, karena persenjataan yang dimiliki tidak memadai.

PBB kemudian memutuskan, bahwa Negara Palestina dibagi dua. Ada yang dihuni oleh orang-orang Arab yang kemudian menjadi Negara Palestina, dan ada yang dihuni oleh orang-orang Yahudi yang kemudian menjadi Negara Israel. Orang-orang Arab tidak terima akan keadaan tersebut. Tapi sejak saat itulah, masing-masing bertahan. Masyarakat Palestina yang sudah keluar dari Palestina tersebar di beberapa Negara Arab lainnya, yang ini tak lain karena mereka selalu diteror. Ada juga yang diteror, tempat tinggalnya diambil, tetapi mereka tidak mau keluar dari Palestina. Maka dibangunlah kemah-kemah untuk mereka, yang hingga kini masih ada di dalam wilayah Israel.

Pada tahun 1948 memang tidak terjadi lagi perang, tetapi sebagian masyarakat Arab membara hatinya. Karena Mesir adalah negara Arab yang paling besar, maka pada tahun 1952, Gamal Abdul Naser memimpin revolusi di Mesir. Kerajaan Mesir hancur, dan Gamal Abdul Naser tampil berkata, bahwa mereka harus menenggelamkan Israel di Laut Merah. Walaupun mereka siap ketika itu, tetapi sebagian pimpinan angkatan perangnya lengah. Teluk Aqabah ditutup oleh Mesir, kemudian meminta Pasukan PBB yang memelihara perbatasan untuk kembali. Pada malam harinya, ternyata Israel menyerang pangkalan-pangkalan militer Mesir. Karena pesawat-pesawat tempurnya tidak siap, maka Mesir pun kalah total.

Israel kemudian menguasai sebagian besar Palestina. Di Yordania mereka menguasai Tepi Barat, di Suriah mereka menguasai Dataran Tinggi Golan, sehingga wilayah Israel semakin besar. Gamal Abdul Naser pun akhirnya mundur, tapi ditolak oleh masyarakatnya. Kemudian tak berapa lama kemudian, Gamal Abdul Naser wafat. Setelah itu, Mesir dipimpin oleh Anwar Sadat, yang kemudian melakukan reformasi.

Pada tahun 1967 terjadi perang yang kedua, yang kemudian dimenangkan oleh Mesir. Tentara Mesir menduduki lagi wilayahnya yang dikuasai oleh Israel, tetapi ada celah. Waktu itu Amerika Serikat memberikan bantuan yang begitu besar kepada Israel, sehingga mereka bisa menduduki wilayah kecil. Semua orang mengakui, bahwa Mesir ketika itu menang. Tapi Anwar Sadat waktu itu mengumumkan, bahwa ia bersedia pergi ke Israel untuk menandatangani perdamaian. Kemudian terjadilah Perjanjian Camp David. Semua wilayah Mesir yang diduduki Israel kemudian dikembalikan kepada Mesir, sehingga tak ada lagi perang.

Negara-negara Arab lainnya tidak setuju dengan Mesir, karena Mesir bergerak sendirian. Di antara yang tidak setuju ini adalah Suriah. Waktu itu Mesir menuntut, bahwa semua yang diduduki oleh Israel harus dikembalikan. Mesir menyatakan, bahwa mereka bersedia untuk kembali pada keputusan PBB, yaitu Palestina dibagi menjadi dua wilayah. Namun ternyata Israel tidak mau. Ketika itu, sudah ada dua kelompok masyarakat Arab-Palestina. Ada yang mau menempuh jalur damai, dan ada yang mau menempuh jalur kekerasan. Inilah yang hingga kini masih ada di Palestina, yaitu: Fatah menginginkan perundingan, sedangkan HAMAS beranggapan bahwa tak ada gunanya berunding, karena tak pernah ada hasilnya.

Fatah itu sekuler yang tidak mau menyangkut-pautkan perjuangan Palestina dengan agama. Fatah menginginkan seluruh orang Arab-Palestina bersatu memperjuangkan Palestina tanpa adanya sekat-sekat agama, dan memang orang Kristen Arab pun tidak mendukung Yahudi.

Sedangkan HAMAS adalah pergerakan Islam. Kepanjangan dari HAMAS adalah Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah (Pergerakan Perjuangan Islam). Mereka ini memang sangat kuat. Bukan cuma militernya, tapi mereka mempunyai jaringan intelektual, sering melakukn kegiatan sosial, yang semuanya itu berdasarkan Islam. Negara-negara Arab yang mau damai tentunya tidak setuju dengan perjuangan HAMAS, apalagi yang dipengaruhi oleh Barat. Sedangkan negara-negara yang tidak mau berdamai dengan Israel antara lain adalah Iran dan Suriah.

Perundingan-perundingan selama ini tidak ada hasilnya. Yang dilakukan oleh HAMAS kemudian adalah Intifadhah (kebangkitan). Mereka menyuruh anak-anak untuk melemparkan batu ke pasukan Israel. Sehingga terjadilah yang baru ini, HAMAS melemparkan roket ke wilayah yang diduduki Israel. Ternyata Israel sudah setengah mati dengan roket yang diluncurkan oleh HAMAS ini, karena walaupun yang mati di pihak Israel hanya sedikit, tetapi mereka sudah ketakutan.

Orang-orang Arab selalu berkata, bahwa mereka lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang Yahudi di Israel. Kalau mati satu orang Yahudi, sedangkan orang Arab yang mati sepuluh, maka mereka (orang Arab) menganggap mereka (Arab) masih menang. Inilah semangat yang ada pada orang-orang Arab.

Karena memiliki jaringan yang begitu kuat dan rapi, maka HAMAS menang ketika Pemilu, yang kemudian menghantarkan Ismail Haniya menjadi Perdana Menteri Palestina. Karena Fatah tidak setuju dengan hasil Pemilu itu, maka terjadilah bentrok antara Fatah dan HAMAS. Kemudian, HAMAS menguasai Gaza. Karena mereka menguasai Gaza, maka mereka pun bebas melemparkan roketnya ke Israel. Israel pun marah akan hal ini. Kemudian Israel pun membombardir Gaza.

Dunia Internasional mengutuk tindakan Israel ini, karena Israel melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Internasional, seperti membunuh anak-anak dan perempuan, serta menghancurkan masjid (rumah ibadah). Kalau mau, seranglah tentaranya. Israel tak mau mematuhi ketentuan internasional dan membangkang hingga saat ini.

Beberapa hari yang lalu muncul persoalan baru. Pimpinan Hizbullah di Lebanon memaki-maki Mesir. Mereka menyatakan, bahwa Mesir tidak mau membuka perbatasan untuk memasukkan bantuan. Israel juga mengatakan, bahwa mereka sudah mendapat restu dari beberapa Negara Arab untuk menghantam HAMAS. Mungkin ada yang menyangka, bahwa restu tersebut adalah dari Mesir. Pernyataan fitnah dari Israel itu kemudian dibantah oleh Liga Arab. Tidak mungkin Mesir mau merestui itu. Memang, pejabat Israel pernah berkunjung ke Mesir beberapa hari sebelum penyerangan itu. Sekali lagi, tidak mungkin Mesir merestui Israel, apalagi rakyat Mesir bencinya masih begitu luar biasa kepada Yahudi.

Dalam hal ini, ada pihak-pihak yang bersikap realistis. Yang realistis ini adalah yang lebih menginginkan damai dibandingkan perang, apalagi sudah terlalu banyak kerugian akibat perang. Mesir mungkin berada pada kubu yang realistis ini, termasuk juga Fatah. Sedangkan bagi HAMAS, mungkin tak ada gunanya melakukan perundingan dengan Israel. HAMAS menghimbau berbagai pihak untuk membantunya. Memang kemudian banyak yang membantu, tapi terbatas hanya bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan, makanan, dan sebagainya untuk memulihkan kondisi Gaza, bukanlah bantuan pesenjataan. Dari sisi HAMAS mungkin lebih menginginkan bantuan yang lebih dari itu, terutama bantuan persenjataan dan personel untuk berperang melawan Israel. Dari segi persenjataan, sebenarnya HAMAS itu tidak ada artinya.

Dari Indonesia tidak mungkin mengirim tentara ke sana. Yang lebih memungkinkan adalah mengirim bantuan, paling tidak untuk membantu para korban perang. Memberikan bantuan kemanusiaan ini adalah kewajiban kita. Sebab, kalau kita tidak memberikan bantuan, maka kita termasuk sebagai pihak yang mendukung kekejaman Israel di Gaza.

Siapapun yang dizalimi, maka kita harus membelanya. Kalau Yahudi pun dizalimi, maka kita bela. Begitu juga kalau orang dari agama lain yang dizalimi, maka kita wajib membelanya. Apalagi kalau sesama muslim. Dan ini jelas-jelas rakyat Palestina dizalimi. Tidak ada satu pun keputusan PBB yang diterima oleh Israel dalam konteks Palestina, walaupun keputusan PBB itu sebenarnya sudah lebih menguntungkan Israel daripada Arab. Tapi, salah satu kesalahannya adalah bahwa Arab tidak bersatu, umat Islam tidak bersatu.

Jika kita kembali ke sejarah, bahwa dulu waktu ada serangan dari Israel, Inggris, dan Perancis, ketika itu Arab Saudi (masa Raja Faisal) melawan. Melawannya bukan dengan senjata api dan semacamnya, melainkan dengan “senjata minyak”. Arab Saudi ketika itu menyetop minyaknya, sehingga lumpuhlah negara-negara pendukung Israel yang selama ini sangat bergantung dengan pasokan minyak dari Arab Saudi.

Menghadapi segala macam kondisi ketidakpastian seperti halnya di Palestina, maka sebenarnya kita harus siap. Seperti yang termaktub di dalam Alquran, bahwa Allah memerintahkan kita untuk mempersiapkan kekuatan menghadapi musuh yang sudah kita kenal maupun musuh yang belum kita kenal. Kekuatan itu bermacam-macam. Puncak dari kekuatan itu adalah persatuan. Setelah itu batulah pengetahuan, ekonomi, senjata, dan sebagainya. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menggentarkan musuh jangan sampai berani melawan kita.

Dulu, Amerika Serikat (dalam hal ini George W. Bush) berani memerintahkan untuk menyerang Iraq, karena dia sudah mengetahui bahwa Iraq tidak mempunyai senjata nuklir. Sedangkan terhadap Korea Utara, Amerika Serikat tidak berani menyerangnya, karena mereka sudah mengetahui, bahwa Korea Utara memiliki nuklir. Sekarang Amerika Serikat mencoba mengusik Iran karena dikhawatirkan bisa mengantar kepada pemilikan senjata nuklir.

Dalam hal ini, kita ingin menunjukkan solidaritas kita. Kita ingin menunjukkan persatuan dan kesatuan kita. Bagaimanakah caranya? Bukan hanya berbicara, tapi kita tunjukkan dengan perbuatan. Perbuatan yang paling ringan yang orang bisa lihat dan yang bisa terasa oleh Israel adalah bantuan keuangan. Dengan ini, kita dukung perjuangan Palestina. Kita tunjukkan kepada dunia, bahwa kita tidak senang dengan tindakan Israel. Kalaupun kita tidak bisa menunjukkan ke dunia, maka setidaknya kita tunjukkan kepada Allah bahwa kita mendukung perjuangan Palestina.

Kita tidak ingin hanya mengandalkan Tuhan. Janganlah berkata seperti halnya yang dikatakan oleh umat Nabi Musa. Waktu itu, Nabi Musa memerintahkan untuk berperang melawan musuh-musuh mereka. Umatnya ketika itu berkata, “Hai Nabi Musa, pergilah kamu bersama Tuhanmu berperang, kami menunggu di sini saja.” Hal ini tentunya berbeda dengan umat Islam pada masa Rasulullah. Waktu mereka diajak berperang, mereka berkata, “Kami tidak berkata seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi, tetapi kami berkata, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan kami ikut bersamamu.”

Jadi, jangan biarkan Tuhan bekerja sendiri, janganlah kita hanya berdoa. Jangan hanya mengandalkan Tuhan, melainkan kita juga harus terlibat. Berkaitan dengan keadaan di Gaza kini, ada suatu pelajaran dari hijrah Nabi Muhammad yang kiranya patut untuk kita teladani.

Sebelumnya, janganlah pertentangkan antara perhitungan tahun miladiah (masehi) dengan perhitungan tahun hijriah. Harus diakui, bahwa kedua hitungan tahun itu memang berbeda. Kalau memang berbeda, yang manakah di antara keduanya kita utamakan, walaupun kedua-duanya kita gunakan? Mari kita lihat falsafahnya, mengapa Sayyidina Umar lebih menekankan pada Hijriah, bukanlah pada Miladiah.

Perhitungan tahun miladiah berdasarkan kelahiran Nabi Isa, sedangkan perhitungan tahun hijriah berdasarkan hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Pertanyaannya, apakah kelahiran Nabi Isa itu merupakan mu’jizat atau bukan? Apakah kelahiran Nabi Isa merupakan suatu kejadian yang luar biasa? Kelahiran Nabi Isa merupakan mu’jizat dan kejadian yang luar biasa, yang itu adalah kerja Tuhan sendiri. Sedangkan hijrah merupakan kerja Tuhan dan juga ada kerja manusia. Tetapi yang manakah yang lebih dulu dilakukan, kerja manusia atau kerja Tuhan?

Nabi Isa lahir tanpa ayah, yang itu merupakan mu’jizat. Setiap membuka penanggalan, kemudian kita ingat lahirnya Nabi Isa, maka yang ada di dalam benak kita bahwa peristiwa kelahiran Nabi Isa itu merupakan mu’jizat, dan itu adalah kerja Tuhan. Ajaran Nabi Isa memang seperti itu. Dalam Perjanjian Baru, Nabi Isa mengatakan, bahwa jangan mempercayai dia kalau dia tidak mengerjakan pekerjaan Bapa (maksudnya pekerjaan Tuhan). Jadi, jangan mempercayai Nabi Isa kalau tidak ada mu’jizat. Dan memang, bahwa Nabi Isa mengandalkan mu’jizat kelahirannya itu. Tetapi kalau Nabi Muhammad seperti yang dinyatakan Alquran:

Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu`jizat-mu`jizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mu`jizat-mu`jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”. (Q.S. Al-‘Ankabuut: 50)

Pesan dari ayat ini, bahwa janganlah mengandalkan mu’jizat semata-mata. Yang manakah yang lebih dahulu, kerja atau tawakkal? Semestinya kerja dahulu, setelah itu barulah kita bertawakkal. Tetapi sebelum bertawakkal kepada Allah, maka kita harus berusaha dahulu. Inilah yang terjadi pada peristiwa hijrahnya Rasulullah.

Pada waktu sebelum hijrah, Abu Bakar selalu berkata dan mengajak Rasulullah untuk berhijrah. Rasulullah mengatakan untuk menunggu, bahwa hijrah itu harus dipersiapkan dengan matang, dan juga harus mendapat izin dari Allah. Setelah mengetahui hal itu, barulah Abu Bakar mempersiapkan segala hal untuk berhijrah. Disiapkannya kendaraan berupa dua ekor unta, karena nantinya hijrah tersebut dilakukannya bersama Rasulullah.

Pada suatu siang, Rasulullah berkunjung ke rumah Abu Bakar. Ketika sampai di rumah Abu Bakar, Rasulullah berkata, bahwa jika sedang ada orang lain di rumahnya ketika itu, maka lebih baik dipersilakan dahulu untuk keluar, karena Rasulullah ingin berbicara berdua dengan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar pun mengatakan bahwa tidak ada siapa-siapa, kecuali hanya ada Aisyah di rumahnya ketika itu. Rasulullah kemudian mengatakan, bahwa hijrah akan dilakukan pada waktu malam nantinya (malam pada hari itu).

Pertanyaannya, apakah Abu Bakar sudah melakukan persiapan untuk hijrah? Telah diceritakan di atas, ternyata Abu Bakar sudah melakukan persiapan. Rasulullah kemudian mengatakan, siapkan lagi segala-galanya lebih matang. Abu Bakar kemudian mencari penunjuk jalan, karena Rasulullah tak mau mengikuti jalan biasa. Perlu juga dicari pengembala kambing yang akan menghapus jejak unta mereka ketika melakukan perjalanan. Apakah hal ini merupakan suatu usaha? Rasulullah juga mengatakan untuk mencari orang yang nantinya bertugas mengantarkan perbekalan ke gua tempat mereka menginap nantinya. Ini semua merupakan usaha.

Perencanaan sudah matang. Ketika akan berangkat, Abu Bakar mempersilakan Rasulullah memilih salah satu unta yang akan dikendarainya. Rasulullah mengatakan, bahwa ia akan memakai salah satu unta itu, tetapi beliau akan membayarnya. Mengapa Rasulullah juga harus membayar unta yang disediakan oleh Abu Bakar itu, sedangkan selama ini Abu Bakar selalu mendermakan hartanya untuk perjuangan Islam, apalagi ia juga orang kaya. Kita lihat lagi usaha manusia yang ada pada peristiwa hijrah ini. Pelajaran yang kita dapatkan, bahwa kalau mau berjuang, jangan tunggu diberi. Kita harus berusaha sekuat tenaga dan kemampuan kita.

Setelah semuanya siap, Rasulullah dan Abu Bakar pun berangkat hijrah. Pertanyaannya, apakah mereka sudah berusaha? Mereka memang sudah berusaha untuk itu. Kemudian dalam perjalanan, mereka singgah menginap di suatu gua. Ketika berada di dalam gua, rombongan pengejar dari kaum musyrik ada di mulut gua. Mengetahui hal ini, Abu Bakar gemetar ketakutan.

Sebenarnya, Abu Bakar bukanlah takut ia terbunuh, melainkan ia takut kalau nantinya Rasulullah terbunuh, sehingga perjuangan Islam menjadi habis. Menyikapi hal ini, Rasulullah pun mengatakan kepada Abu Bakar (seperti termaktub pada At-Taubah ayat 40): “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”

Pada keadaan seperti ini, apakah masih ada usaha manusia yang bisa dilakukan? Pada keadaan ini, tinggallah bertawakkal. Tetapi harus diingat, tawakkal tersebut setelah kita melakukan usaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan kita.

Pada waktu hijrah, yang khawatir adalah Abu Bakar, sedangkan Rasulullah tenang saja menghadapinya. Kebalikannya, pada waktu perang Badar, Rasulullah yang khawatir, sedangkan Abu Bakar bersikap tenang. Waktu di Badar, ketika perang akan berkecamuk, Rasulullah khawatir. “Ya Allah, kalau kelompok umat Islam yang hanya berjumlah 313 orang ini hancur, maka Engkau takkan disembah lagi. Karena itu, tolonglah kelompok yang kecil ini.”

Pertanyaannya, mengapa Rasulullah di Badar khawatir, sedangkan ketika hijrah tenang? Mengapa Abu Bakar ketika hijrah khawatir, sedangkan ketika di perang Badar, beliaulah yang menenangkan Rasulullah?

“Ya Rasulullah, cukuplah dengan doa, karena Tuhan pasti akan membantu kita.” Begitulah perkataan Abu Bakar kepada Rasulullah ketika perang Badar.

Ketika di mulut gua, sudah tak ada yang bisa dilakukan, sehingga ketika itu semuanya tinggal diserahkan kepada Allah. Sedangkan ketika di Badar, perang baru akan berkecamuk, sehingga masih ada hal-hal yang bisa dilakukan. Kalau begitu, pada saat akan dimulainya perang Badar itu, kekhawatiran Rasulullah adalah jangan sampai persiapan perang tersebut tidak optimal.

Jika kita sudah terdesak, tidak ada upaya lagi yang bisa dilakukan, maka serahkanlah semuanya kepada Allah. Ketika berada di dalam gua pada peristiwa hijrah, memang waktu itu keadaannya sudah terdesak, hingga pada akhirnya Rasulullah menyerahkan semuanya kepada Allah, yang kemudian turunkah malaikat memberikan pertolongan.

Pada waktu perang Uhud, seperti yang diinformasikan oleh Alquran:

ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Q.S. Ali Imraan: 125)

Jadi, harus sabar dan tabah dahulu, hindari dulu segala hal yang bisa memberi cedera bagi kita, setelah itu barulah turun bantuan dari Allah. Pada waktu hijrah, ternyata ada bantuan Allah yang diturunkan, yaitu ketika tak ada lagi usaha yang bisa dilakukan. Seperti yang diinformasikan oleh Alquran:

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang inggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah: 40)

Kata sebagian ulama, sebagian dari tentara itu adalah laba-laba yang menutupi mulut gua, dan juga burung merpati yang mengeram di sana. Jadi, Tuhan lah yang mengatur rencananya. Tapi sebelumnya harus didahului dengan usaha kita. Jika kita ingin Palestina menang, maka kita harus berusaha dahulu. Tetapi usahanya itu adalah melakukan sesuatu yang menghindarkan kita dari bencana. Jangan sampai usaha yang kita lakukan itu membabi-buta. Apa yang bisa kita lakukan dan itu bermanfaat, maka itulah yang seharusnya dilakukan.

Inilah pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa hijrah. Kita berusaha dahulu, setelah itu barulah bertawakkal. Kalau ini sudah dilakukan, barulah Allah akan menurunkan tentara-tentara dari langit. Hal ini sudah terbukti pada saat perang Badar, peristiwa hijrah, dan juga ketika perang Arab-Israel (serangan Ramadhan) yang waktu itu Israel tunggang-langgang. Menurut perhitungan para ahli militer, hal itu tidak mungkin terjadi, tidak mungkin Arab akan menang melawan Israel. Tetapi kemudian Allah turun tangan.

Kalau mau berhitung, pada waktu itu Hizbullah (di Lebanon) tidak mungkin bisa menang melawan Israel. Tetapi karena semangat juang yang ditunjukkan oleh para pejuang Hizbullah, maka Allah kemudian membantu. Karena itulah, mari kita kembali kepada nilai-nilai yang ada pada ajaran agama kita, yaitu nilai-nilai hijrah. []

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab, M.A. pada tanggal 4 Januari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Iklan

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , , , , , , , , .

Harapan Hampa terhadap Obama Tafsir Surah An-Nabaa ayat 31-40

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 434,207 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: