Abad Modern: Aspek Teknik dan Aspek Kemanusiaan

30 Januari 2009 at 10:58 AM 1 komentar


Suatu hal yang tampaknya tak mungkin dihindari tentang Teknikalisme ialah implikasinya yang materialistik. Maka dalam menghadapi dan menyertai kemodernan, kaum Muslimin dituntut untuk memperhitungkan segi materialisme ini. Kalkulasi pribadi, inisiatif perorangan, efisiensi kerja adalah pekerti-pekerti yang baik dan ber¬manfaat besar. Tetapi, bagaimanapun, menundukkan nilai-nilai keakhlakan dan kema¬nusiaan ke bawah pemaksimalan efisien teknis, betapapun besar hasilnya, kata Hodgson, kemungkinan sekali akan terbukti merupakan mimpi buruk yang tak rasional.

Telah diketahui bahwa aspek kemanusiaan Abad Modern ini bisa, dan telah menjadi kenyataan, lebih penting dan lebih menentukan dari¬pada aspek teknikalismenya. Generasi 1789 yang secara garis besar meru¬pakan angkatan dua re¬vo¬lusi, yaitu Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis, dari sudut pan¬dangan kemanusiaan modern Barat adalah peletak dasar-dasar segi kemanusiaan bagi kemodernan. Cita-cita kemanusiaan yang dirumuskan dalam slogan Revolusi Prancis, “Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan,” memang belum seluruhnya terwujudkan dengan baik. Tetapi harus diakui bahwa dunia belum pernah me¬nyaksikan usaha yang lebih sungguh-sungguh dan lebih sistematis untuk mewu¬judkan nilai-nilai kemanusiaan itu, dalam bentuk pelaksanaan yang terlembagakan, daripada yang dilakukan orang (Barat) sejak terjadinya dua revolusi tersebut. Pengejawantahan terpenting cita-cita itu ialah sistem politik demokratis, yang sampai saat ini menurut kenyataan baru mantap di kalangan bangsa-bangsa Eropa Barat Laut dan keturunan mereka di Amerika Utara.

Aspek teknik yang material dan aspek kemanusiaan yang non¬material itu berjalan hampir seiring di Eropa Barat Laut, dan penyem¬bulannya ke permukaan juga terjadi se¬cara hampir bersamaan, yaitu dalam Revolusi Industri dan Revolusi Prancis. Tetapi bagi bangsa-bangsa lain yang hendak mencoba mengejar ketertinggalannya, jika tidak mungkin mengambil kedua aspek itu sekaligus, sering dihadap¬kan kepada pilihan yang tidak begitu mudah untuk menetapkan mana dari kedua aspek itu yang ha¬rus didahulukan. Tetapi biasanya bentuk kesiapan tertentu suatu bangsa akan mendorongnya untuk secara pragmatis menentukan pilih¬an tanpa kesulitan. Maka India misalnya, disebabkan oleh jumlah cukup besar dari kalangan atasnya yang berpendidikan Barat di bawah pe¬me¬rintahan kolonial Inggris, se¬cara amat menarik menunjukkan keberhasilannya untuk sampai batas tertentu menerapkan aspek kemanusiaan modern Barat, yaitu, dalam hal ini, demokrasi sistem pemerintahannya. Keberhasilan itu terjadi dengan seolah-olah mengingkari kenyataan sosial masyarakat Hindunya yang mengenal sistem kasta yang kaku, yang sama sekali tidak selaras dengan keseluruhan cita-cita kema¬nusiaan modern. Meskipun India berhasil mewujudkan dirinya seba¬gai “demokrasi terbesar di muka bumi”, perkembangan lebih lanjut menunjukkan bahwa kemelaratan rakyatnya senantiasa menjadi sum¬ber ancaman kelang¬sungan demo¬krasi itu.

Sebaliknya, saat-saat terakhir ini kita bisa menyaksikan peningkatan secara luar biasa kemakmuran material beberapa negara Timur Tengah pemilik petrodollar. Jika dibe¬narkan menggunakan kriteria India itu kepada gejala Timur Tengah ini, maka dapat dikatakan bahwa, kebalikan dari India, negara-negara petrodollar itu memiliki kesiapan tertentu untuk mengambil dari Barat dan mengadopsi, secara lahirnya, aspek teknik dan kemodernan. Tetapi jika tidak segera atau bersama dilakukan penggarapan yang serius terhadap aspek pengembangan kemanusiaannya, ada kemungkinan bahwa “kemajuan” material itu akan justru merupakan epok sejarah setempat yang ternyata nanti menimbulkan penyesalan yang mendalam. Nampaknya tantangan ini disadari sepenuhnya oleh para pemimpin negara-negara itu. []

Sumber: Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaytun, 2008

Iklan

Entry filed under: Ensi A - E, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: .

Menjadi Ummatan Wasathan Abad Modern dan Sumerisme

1 Komentar Add your own

  • 1. Akocha  |  19 November 2009 pukul 11:37 AM

    Sebuah analisa yang brilian… Tulisan yang mencerahkan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 415,082 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • "Waktu memang tak terkurung, melainkan ia bergerak sesuai dengan hukum sejarah. Walaupun ia tak lumpuh, tapi... fb.me/8OzEIo6eu 1 week ago
  • Di dalam kelas 4 Sekulah Dasar yang sunyi'-senyap, Cékgu Deraman dah ngasi' peringatan kepade muréd-muréd lam... fb.me/8LQHlLu5t 4 weeks ago
  • Nék Uwan : Cu'.., cammane carenye kalau nak nyekat (mblock) nomor talipon orang di Hénpon ni..? Cucu' : Entahlah... fb.me/1sIuT0YRw 1 month ago
  • Pembeli : Pak Mude, berape harge pisang ni sebuti'? (ceritenye ték nak mbeli Pisang Berangan) Penjual : Tige... fb.me/1eXHyTMdx 1 month ago
  • Anak : Yah, kamék nak betanya' ni. Ayah : Haaa, nak nanya' ape tu..? Ayah : Romah kite ni ade antu keee..?... fb.me/8RjltS0Md 1 month ago

%d blogger menyukai ini: