Pencerdasan Diri yang Qur’ani

30 Januari 2009 at 11:53 AM 1 komentar


Tiga ayat pada Surah Al-Mu’min ayat 57, 59, dan 61 memberikan inspirasi berkenaan tema kita kali ini.

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Al-Mu’min: 57)

Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman. (Q.S. Al-Mu’min: 59)

Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Q.S. Al-Mu’min: 61)

Pada penghujung ketiga ayat ini memberikan ketukan nurani kepada kita semua, baik bagi yang membacanya, ataupun yang hanya mendengarnya.

Alquran mengingatkan kita, bahwa apabila Alquran itu dibacakan, hendaklah kita menyimaknya. Mudah-mudahan inspirasi dari ketiga ayat pada Surah Mu’min tersebut akan mengajak kita semua kepada kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional.

Pada Al-Mu’min ayat 57 ditutup dengan pernyataan “… akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“, maksudnya bahwa ada yang tidak tahu, pura-pura tidak tahu, ataupun memang tidak mau tahu, apapun konteksnya. Ayat ini didahului dengan pernyataan, “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia ….

Ayat ini menginformasikan, bahwa Allah sebagai zat yang maha segalanya merupakan pencipta langit dan bumi, yang lebih besar dan hebat ciptaan-Nya itu dibandingkan apa yang diciptakan oleh manusia. Namun, umumnya manusia tidak menyadari akan hal ini. Karena tidak mengetahui, biasanya manusia banyak yang tidak beriman dan tidak bersyukur.

Jalinan ketiga ayat pada Surah Mu’min ini begitu menggugah kita. Bahwa berangkat dari ketidaktahuan, maka bisa menyebabkan orang terebut menjadi tidak beriman, dan akibatnya orang yang tidak beriman itu mustahil bisa bersyukur kepada Allah. Karena itulah, ciri orang yang beriman adalah bersyukur kepada-Nya.

Orang yang serba tahu, ataupun ingin tahu dan mau tahu, biasanya hal-hal kecilpun bisa diubahnya menjadi hal-hal yang besar manfaatnya.

Sebagai suatu contoh, berhubungan dengan pemakaian penanggalan hijriah. Umumnya kalender yang kita gunakan adalah kalender yang berdasarkan penanggalan masehi. Tidak salah memang. Namun patut dicermati, pada kalender yang selama ini kita gunakan, ternyata angka arab yang dicantumkan di situ begitu kecilnya. Ini baru satu contoh kecil, betapa tidak pedulinya kita terhadap penanggalan hijriah. Apalagi kalender tersebut diterbitkan oleh lembaga Islam.

Hal ini tentunya merupakan suatu keanehan. Lembaga-lembaga Islam tersebut dibiayai oleh masyarakat muslim, ketika mencetak kalender atas nama lembaga Islam, tetapi mengapa penanggalan hijriahnya begitu kecil tercetak di kalender tersebut. Selama ini, mengapa kita kurang peduli terhadap hal seperti ini? Inilah mungkin seperti yang diingatkan pada Al-Mu’min ayat 57.

Memang, mengetahui penanggalan hijriah bukanlah suatu rukun iman. Efek dari ketidaktahuan kita ini begitu besarnya. Dengan adanya kepedulian terhadap penanggalan hijriah, bukan berarti kita kemudian menafikan penanggalan masehi. Janganlah sampai umat Islam ini dikecilkan dan dikucilkan terus. Dan juga harus diakui, bahwa hal ini terkembali kepada sikap kita selama ini.

Al-Mu’min ayat 57 merupakan ayat yang berhubungan dengan alam, yaitu mengenai planet bumi dan benda-benda langit. Ayat ini mengajak kita untuk memahami dan mengetahui apa saja.

Sedangkan Al-Mu’min ayat 59 mengenai persoalan kiamat yang pasti akan datang. Memahami urusan “ghaib” tidak bisa hanya dengan mengandalkan kemampuan akademik. Alquran menginformasikan mengenai hari kiamat, akhirat, surga, dan neraka. Untuk memahami semuanya itu bisa dibantu setidaknya oleh pengetahuan kekinian yang ada pada manusia.

Rasulullah menyatakan, bahwa gambaran tentang surga dan neraka itu sulit untuk dilihat oleh mata, sulit didengar oleh telinga, bahkan juga sulit untuk dibayangkan oleh hati nurani.

Maksud dari “sulit” adalah tak mungkin terjangkau. Karena itulah, hal-hal seperti ini dikategorikan sebagai hal-hal yang “ghaib“.

Ketika penciptaan langit dan bumi, Allah mengajak kita berdialog, bahwa sesungguhnya manusia itu tidak mengetahui. Tapi ketika berkaitan dengan hari akhir, maka memang yang diperlukan bukan hanya sekedar mengetahui, namun juga keimanan. Kecerdasan itu modelnya bermacam-macam. Kecerdasan intelektual bisa didekati oleh kecerdasan akal pikiran, dan juga dibantu dengan teknologi. Namun, karena begitu canggihnya teknologi, sehingga manusia lupa akan Tuhannya. Buktinya, bahwa para tokoh atheis itu bukanlah orang yang bodoh, melainkan mereka merupakan orang yang cerdas secara intelektual. Karena itulah, berkaitan dengan hari akhir, yang terpenting adalah keimanan kita.

Kebanyakan manusia tidak beriman terhadap hari kiamat. Padahal, datangnya kiamat itu tiba-tiba, dan itu tak pernah kita ketahui waktu kedatangannya, dan kiamat juga pasti akan datang. Informasi Alquran mengenai hal-hal yang “ghaib” ini hanyalah secara umum, karena terlampau banyak jika diurai lebih detail.

walakinna aksarannaasi” pada ketiga ayat di atas, “an-naas” yang dimaksud belum tentu manusia muslim. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman:

(2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. Al-Baqarah: 2-7)

Disebutkan pada Surah Al-Baqarah ayat 2-7 ini, bahwa ada tiga tipologi manusia, yaitu:

Pertama, orang-orang beriman yang pasti diidentikkan dengan orang yang muttaqun.

Kedua, orang-orang kafir.

Ketiga, orang-orang yang mendua (munafiqun).

Kalau yang mukmin tegas keimanannya, yang kafir tegas kekafirannya, dan yang munafik adalah orang yang “plin-plan”.

Mudah-mudahan yang disindir pada “walakinna aksarannaasi” bukanlah kita, melainkan yang disindir adalah manusia yang kafir dan munafik. Tetapi, kita harus berjuang untuk menuju sebagai orang yang bertakwa tersebut.

Jika kita mencermati redaksi Alquran, maka kata yang digunakannya untuk menyapa manusia itu berbeda-beda. Ada kata “yaa ayyuhannaas” yang diulang sebanyak 9 kali di dalam Alquran. Ada juga kata “yaa ayyuhallaziina aamanu” yang diulang sebanyak 89 kali. Ada juga kata “yaa ayyuhal kaafirun” yang hanya sedikit diulang, dan Allah tidak langsung menghimbau, namun diawali dengan kata “qul“, seperti pada Surah Al-Kafirun:

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, (Q.S. Al-Kaafiruun: 1)

Pada ayat ini, Allah tidak mau berbicara langsung kepada orang-orang kafir. Namun, jika berbicara kepada orang beriman, maka langsung dikatakan “yaa ayyuhallaziina aamanu“, tanpa adanya kata “qul“. Apakah maknanya ini?

Maknanya, bahwa orang-orang beriman dihimbau langsung oleh Allah. namun jika terhadap orang-orang kafir, sepertinya Allah enggan menghimbaunya langsung, melainkan melalui perantaraan Nabi Muhammad.

Kembali kepada penggunaan kalender hijriah, bahwa selama ini sepertinya kita tak berani bersanding dengan kalender masehi. Jadi, sebenarnya siapakah yang kurang menghormati kebudayaan Islam? Apakah umat Islam atau non muslim? Tentunya harus diakui, ternyata kita lah yang selama ini kurang menghormati kebudayaan Islam. Contoh kecilnya adalah dalam penggunaan kalender hijriah. Ini mungkin karena kita tidak tahu, ataupun tidak menyadari, atau bahkan tidak percaya diri dengan kalender hijriah.

Akibat dari hal ini, umumnya kita menjadi orang yang tidak bersyukur. Syukur bisa berarti dalam ungkapan, perbuatan, ataupun dalam hal yang lainnya.

Hal ini berbahaya jika kita menjadi umat yang selalu “minder”. Dalam hal ini, seakan-akan apa yang kita miliki itu tidak se-level dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Karena itulah, Rasulullah menganjurkan, ketika Idul Fitri dan Idul Adha, maka kenakanlah pakaian yang terindah dan terbaik. Hal ini bukannya untuk menyombongkan diri, bukan pula riya’, melainkan untuk menunjukkan bahwa kita bukanlah umat yang “minder”.

Kita patut khawatir akan keberadaan kebudayaan peradaban Islam kini. Jangan sampai kebudayaan Islam ini terkikis habis. Kita harus mempertahankannya, minimal untuk diri kita. Bagaimanakah hal ini bisa kita lakukan? Tentunya hal ini semestinya kita lakukan bersama-sama. Jangan sampai kita nantinya tidak berbuat sesuatu untuk hal ini. Mungkin sudah banyak yang kita perbuat. Dan sudah selayaknya juga suasana keislaman ini kita bawa juga ke rumah kita masing-masing.

Memang kita tidak boleh menganggap milik kita itu yang terbaik, tetapi tidak mutlak selamanya harus seperti itu. Kalau kita merasa milik orang lain itu lebih baik dari apa yang kita miliki, maka ini sudah agak berbahaya. Kita harus memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap keyakinan keagamaan kita, karena hal ini (keyakinan keagamaan) sudah menjadi pilihan kita. Setiap pilihan ada resikonya. Karena pilihan kita Islam, maka sudah semestinya kita yang menyuarakan Islam ini.

Ayat yang didahului dengan penciptaan langit dan bumi merupakan ayat yang berkenaan dengan kecerdasan intelektual kita, yang kemudian didukung oleh kecanggihan teknologi. Allah dalam hal ini menghargai superioritas ilmu, hingga dikatakan oleh Allah: Apakah sama antara orang buta dengan orang yang melihat?

Maksudnya, bahwa orang yang berilmu itu adalah orang yang bisa melihat, sedangkan orang yang tidak berilmu itu adalah orang buta. Apakah sama antara orang buta dan orang melihat? Apakah sama antara orang yang tidak berilmu dengan orang yang berilmu? Tentunya tidak sama.

Sesudah dibentangkan tentang benda-benda langit dan planet bumi, mulai dari yang kelihatan hingga yang “ghaib”, lalu kemudian disebutkan pada Al-Mu’min ayat 61, bahwa “malam” diperuntukkan sebagai waktu untuk beristirahat. Sedangkan “siang” diperuntukkan sebagai waktu bekerja.

Karena itulah, sebenarnya orang-orang yang bekerja di malam hari itu kurang sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan juga tidak sesuai dengan sunnatullah. Sehingga memang, waktu malam itu lebih baik dipergunakan untuk tidur dan beristirahat. Bangun di tengah malam, kemudian kita dianjurkan untuk bertahajjud. Diperkirakan, bahwa orang yang bekerja di malam hari hingga larut itu sulit untuk dikatakan sebagai orang yang ahli tahajjud. Karena itulah, siang hari Allah berikan kesempatan seluas-luasnya untuk kita beraktivitas.

Pada akhir ayat 61 Surah Al-Mu’min ini dikatakan, bahwa sesungguhnya Allah yang memiliki keunggulan dan memiliki segala-galanya.

Kembali kepada penggunaan kalender hijriah, maka kalau itu selalu kita kembangkan, insya Allah akan banyak inspirasi yang mengalir kepada kita. Inspirasi tersebut bisa dari sisi peringatan bulannya, maupun dari sisi maknanya.

Jika kita bandingkan antara kalender masehi dengan hijriah, maka kita akan mendapatkan, ternyata nama-nama bulan pada kalender masehi merupakan nama tokoh (figur). Sedangkan bulan-bulan pada kalender hijriah merupakan nama bulan, yang itu tak ada satu pun yang mengacu pada figur (tokoh) tertentu. Semua nama bulan pada kalender hijriah itu memiliki arti, sehingga bisa kita aplikasikan dalam perbuatan kita, hingga ke aksi sosial sekali pun. Misalkan, muharram itu apa, kelebihannya bagaimana, sejarahnya seperti apa, begitu juga dengan bulan-bulan lainnya.

Karena kita memang mengetahui, mengimani, dan mensyukuri, sehingga hal-hal yang kecil pun tak boleh kita anggap remeh, dan juga tak boleh kita abaikan. Dampaknya nanti kita harapkan, minimal kalender hijriah bisa sejajar dengan kalender masehi. Kita tidak anti terhadap peradaban dan kebudayaan dunia, karena kalender masehi itu merupakan standard dunia. Namun sedih rasanya ketika kita menunjukkan kepedulian dan perhatian yang tinggi terhadap kebudayaan dan peradaban dunia, lalu peradaban dan kebudayaan Islamnya menjadi hilang.

Dampak dari penggunaan kalender hijriah nantinya akan banyak sekali. Misalkan pada sisi pembayaran zakat, infak, dan shadaqah. Karena zakat itu nisabnya dihitung satu tahun, maka jika kita menggunakan hitungan penanggalan hijriah, tentunya akan berdampak cukup signifikan dibandingkan menggunakan hitungan penanggalan masehi (ingat, bahwa selisih masehi dan hijriah itu dalam satu tahun adalah 11 hari).

Nantinya kita juga mengharapkan, bahwa administrasi di internal umat Islam (misalkan di lembaga-lembaga Islam) akan tercipta manajemen yang hijri (manajemen yang Islami). Apakah salah kalau kita memiliki manajemen sendiri?

Kalau kita merasa bahwa apa yang kita miliki tidak lebih baik ataupun tidak sepadan dibandingkan dengan milik orang lain, maka tentunya mustahil kita akan menjadi “Ummatan Wasathan“, mustahil kita bisa menjadi “kuntum khaira ummah“.

Rasulullah pernah mengatakan, bahwa nanti di hari kiamat, kami akan berlomba sesama Nabi dan Rasul. Tentunya berlomba yang dimaksud adalah berlomba dalam arti yang baik.

Perhatikan pula, antara orang tua dengan anak kecil, manakah yang tingkat kesyukurannya lebih baik? Pastinya tingkat kesyukuran yang lebih baik adalah orang tua, karena orang tua menyadari jerih payahnya, dan manfaat dari semuanya itu. Sedangkan anak kecil belum bisa merasakan manfaat dari setiap yang diproses, yang dilakukan, dan yang dinikmatinya.

Berkaitan dengan ini, ternyata usia Islam itu (dihitung dari masa hidupnya Nabi Muhammad sejak menjadi rasul) sudah 1443 tahun. Dari hal ini, ternyata sudah begitu tuanya usia Islam. Tapi, mengapa hingga kini umat Islam belum dewasa, belum cerdas, belum bangkit, dan juga belum bermartabat? Dengan mengetahui hal ini, tak perlu kiranya kita selalu menunggu komando untuk melakukan perubahan itu, karena kita sudah tumbuh dan berkembang.

Banyak yang haus kita renungkan bersama-sama. Mudah-mudahan dengan semuanya ini, kita akan tersadarkan, hingga kemudian kita bisa mengubah citra Islam menjadi lebih baik lagi. Sedikit demi sedikit kita tampakkan jati diri dan martabat Islam, sehingga Islam akan selalu disegani oleh siapapun. [Hanafi Mohan]

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Amin Suma, M.M., M.A. pada tanggal 11 Januari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: .

Abad Modern dan Sumerisme Foto Model di Tepi Jalan

1 Komentar Add your own

  • 1. nurdin  |  13 Oktober 2009 pukul 10:10 PM

    Wah terima kasih banyak neh, atas tambahan pengetahuanya, kalau boleh lebih diperinci lagi makna2 bulannya. Kebetulan saya lagi bingung masalah geosentris atau heliosentris. Saya melihat kajian ini berkaitan erat dengan hitungan hijriah. http://geosentris.wordpress.com/
    Mari kita gali bersama agar kita menjadi umat terbaik…..
    salam takzim

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 397,009 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • - مع السلامة - عمري ماهنتك طول عمري عارفه بجد قيمتك ومقدراك وحافظه غيبتك واديك بتشكرني بطريقتك في القلب صورتك... fb.me/8vCuw58I2 17 hours ago
  • Trailer Film Dokumenter: "Tapak HMI Ciputat" Ihwal sejarah perjalanan HMI Cabang Ciputat, sejak berdiri tahun... fb.me/5DXWTV9H9 20 hours ago
  • Sekarang pas tengah hari ni di Tanah Betawi cuacenye agék panas bedengkang. Ibarat kate sinar mateharinye tu pas... fb.me/8nCDqJXoa 4 days ago
  • Tak can lah Pasukan Bombe Jakarta ni, dah seharian madamkan api kebakaran tak udah-udah, dah sekitar 18 jam dah... fb.me/2SuX9Pbeq 5 days ago
  • Kalau kitak-kitak ade yang pacak, tolong ga' dirancangkan satu patong manusie, kepala'nye pakai kepala' Wak... fb.me/4hlXgpRVA 5 days ago

%d blogger menyukai ini: