Adab Syeikh terhadap Murid dan Adab Mereka di Dalam Melaksanakan Semua Hak Rububiyah Ketuhanan

4 Februari 2009 at 12:19 PM Tinggalkan komentar


Marilah kita mengingat kembali kata-kata hikmah yang dirumuskan oleh para ulama kita: “Janganlah engkau menadahkan tanganmu untuk menerima pemberian makhluk, kecuali jika engkau melihat bahwa yang memberi adalah pelindungmu. Jika engkau seperti ini, maka ambillah apa yang sesuai dengan ilmu.”

Dari kata-kata hikmah di atas, bahwa kita dinasehatkan, jika ada yang memberikan sesuatu kepada kita, maka janganlah kita mengambil, sampai tiba pada sebuah keyakinan di dalam batin kita, sesungguhnya yang memberi ini adalah Allah melalui orang tersebut (orang yang memberi itu). Kalau sudah sampai seperti ini, rumus aksioma di dalam batin kita itu semua dari Allah, hanya saja melalui Si-A, Si-B, dan lain sebagainya.

Jangan sampai kita menafikan (meniadakan) unsur Tuhan pada saat kita memperoleh sesuatu. Karena hal tersebut (menafikan unsur Tuhan) bisa merusak akidah. Terutama bagi orang “khawas”. Mungkin bagi orang “awam”, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tetapi bagi orang yang derajat (martabat) nya sudah mencapai pada tingkatan yang lebih tinggi, tetapi masih sampai pada sebuah kesimpulan bahwa yang memberikan ini adalah Si-A atau Si-B, tanpa mengingat Tuhan, yaitu bahwa asalnya pemberian ini sesungguhnya bukan dari dia (orang yang memberi tersebut), melainkan dari Allah Swt.

Kita berterima kasih kepada faktor makhluk Tuhan (orang yang memberi tersebut) sambil kita bersyukur ke hadhirat Allah yang merupakan asal-usul dari pemberian tersebut.

Jadi, pada saat kita menerima pemberian, yakinkan dulu dalam batin kita, bahwa pemberian tersebut adalah dari Allah, melalui seorang perantara, kemudian setelah itu barulah kita mengambil pemberian tersebut. Kalau ini kita lakukan, maka ketakjuban untuk mensakralkan Si-Pemberi tak akan pernah terjadi, misalkan berterima kasih yang berlebih-lebihan kepada Si-Pemberi tersebut. Karena kita yakin, bahwa dia (Si-Pemberi) hanyalah penyalur dari Yang Maha Pemilik nya, yaitu Allah Swt.

Kadang orang arif malu untuk mengadukan hajat (kebutuhan) nya kepada pelindungnya, yaitu Allah Swt. Hal ini dikarenakan sudah merasa cukup dengan apa yang dikehendakinya. Maka bagaimana mungkin ia tidak merasa malu untuk mengeluhkannya kepada makhluk-Nya. Seorang yang penuh kearifan berat rasanya untuk memohon kepada Allah Swt. Sedangkan apa yang sudah ia peroleh belum bisa memberikan kesyukuran yang sangat maksimum. Terhadap Allah pun juga dia berat, apalagi kepada orang lain.

Seorang yang arif akan malu memperbanyak jenis-jenis permintaannya kepada Allah, sebelum ia mensyukuri nikmat Allah yang ia sudah peroleh sebelumnya, sebelum ia mengeluarkan zakat ataupun sadakahnya dari rezeki yang Allah berikan terhadapnya.

Jika kabur bagimu antara dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang terasa paling berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tiada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu, kecuali sesuatu yang benar.

Seandainya ada dua pilihan, yang mana harus kita pilih antara dua alternatif pilihan itu? Pilihlah yang paling memberatkan nafsu. Nafsu kita ingin memperoleh sebetulnya, dan kita ingin merasakan itu, maka itu merupakan isyarat: “Jangan lakukan itu,” karena itulah yang memperberat nafsu.

Jadi maksudnya, pilihan yang kita ambil itu adalah pilihan yang paling berat. Nafsu kita menginginkan itu: “iya”, tapi kita harus memlih sebaliknya: “tidak”.

Kriterianya: di antara dua pilihan, keduanya kita bernafsu memilikinya, maka pilihlah yang paling tidak terlalu bernafsu terhadapnya. Itulah pilihan yang baik.

Di antara tanda mengikuti hawa nafsu adalah cekatan di dalam melaksanakan beragam kebaikan yang nafilah (sunnat), namun bermalasan-malasan di dalam menunaikan amal-amal yang wajib. Terhadap hal seperti ini kita harus hati-hati. Di antara tanda-tanda mengikuti hawa nafsu adalah: “menganggap ringan yang sunnat, menganggap berat yang wajib”. Banyak sekali orang melakukan yang sunnat, tetapi meninggalkan yang wajib. Karena itu, terhadap hal-hal tersebut kita harus berhati-hati.

Terkadang kita meninggalkan yang wajib demi yang sunnat. Tidak termasuk wajib untuk melakukan kunjungan, bersilaturahim, seminar, rapat, dan sebagainya. Tetapi jika sudah sampai meninggalkan shalat, maka itu dapat dikatakan lebih mementingkan yang sunnat dibandingkan yang fardhu (wajib). Tak dapat dipungkiri, seringkali kita berhadapan dengan hal-hal yang seperti ini. Kita meninggalkan yang fardhu, kemudian memilih yang sunnat. Meninggalkan yang paling urgen, kemudian memilih yang tidak terlalu urgen.

Berikutnya, “Ia mengikat erat-erat amal ketaatan dengan ketentuan waktu, agar sikap menangguhkan tidak menghalangimu untuk menjalankannya. Namun ia memberikan keluasan waktu untukmu agar engkau tetap memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan.”

Maksudnya adalah: Perkuat, pegang teguh, batasi waktu yang menjadi prioritasnya, jangan menomor-duakan yang nomor satu. Kalau kita sudah tancapkan tekad niat kita bahwa ini yang harus saya lakukan yang pertama, maka insya Allah yang kedua yang menggoda itu, meskipun sama-sama baiknya, tapi yang paling pertama yang lebih baik, maka itulah yang akan menjadi kebiasaan kita.

Semakin tinggi tingkat pencarian seseorang, maka kita dihadapkan pada pilihan untuk memilih yang paling baik di antara kebaikan-kebaikan yang ada, memilih yang paling benar di antara yang benar itu.

Berikutnya, “Dia tahu tentang lemahnya vitalitas para hamba untuk bangkit beraudiensi dengan Allah. Maka ia pun mewajibkan ketaatan atas mereka, lantas menuntun mereka dengan rantai kewajiban, karena Dia kagum terhadap kaum yang dituntun ke surga dengan rantai tersebut.”

Maksudnya adalah: Tuhan Maha Tahu kelemahan kita. Karena itu, Tuhan menurunkan kewajiban. Seandainya semuanya disamakan sunnat saja, tidak ada kewajiban, maka niscaya kelemahan kita sebagai manusia tidak akan melakukan secara maksimum pendekatan tersebut. Karena Tuhan sayang terhadap hamba-Nya, Dia wajibkan yang wajib, Dia sunnat-kan yang sunnat. Hal ini agar manusia mematok dirinya untuk sesuatu yang fardhu (wajib), dan tidak boleh ada lagi alternatif untuk menurunkan yang wajib menjadi sunnat. Kalau seandainya tidak ada kewajiban, maka longgarlah keimanan kita. Kalau seandainya shalat lima waktu tidak di-fardhu-kan, hanya sunnatsunnat saja semuanya, maka longgarlah keimanan kita. Kewajiban itu hanya sedikit, karena kita perlu patokan agar nanti tidak ke mana-mana.

Berikutnya, “Kalau Allah mewajibkanmu untuk berkhidmat kepada-Nya, pada hakikatnya Dia tidak mewajibkanmu, melainkan agar kamu masuk ke dalam surga-Nya.”

Karena Tuhan terlalu sayang kepada kita, maka Dia tampakkan yang wajib itu wajib. Seandainya hanya akal saja yang Allah berikan kepada kita, namun tidak menunjukkan bahwa ini (sesuatu itu) yang wajib, maka akal tidak akan sanggup memilih bahwa ini yang pantas menjadi wajib, ini yang pantas menjadi haram, ini yang pantas menjadi sunnat. Kalau akal pikiran yang dijadikan patokan saja, namun tidak ada keimanan, tidak ada petunjuk dari Allah sendiri, maka manusia itu berpotensi untuk banyak terjerumus. Karena akal pikiran selalu subjektif. Tidak pernah akal pikiran itu tidak subjektif.

Bila merasa senang dan bahagia, pikiran kita menjadi lain. Tapi sebaliknya, bila merasa sedih dan menderita, maka pikiran kita itu juga akan menjadi lain. Karena itu, Tuhan membantu kita. Manusia memiliki kelemahan, oleh karena itu harus ditentukan: ini yang wajib, ini yang bukan wajib. Jadi kalau Tuhan menentukan kewajiban, maka kewajiban itu sesungguhnya adalah undangan pasti bagi seorang hamba untuk masuk ke dalam surga.

Berikutnya, “Barang siapa yang menganggap tidak mungkin Allah menyelamatkan dirimu dari syahwatnya, atau ia mengeluarkannya dari kelalaiannya, sesungguhnya ia menganggap lemah kekuasaan Ilahi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kalau ada terbetik pikiran kita bahwa sesungguhnya tidak ada yang bisa mengubah takdir saya, tidak ada yang bisa mengubah pendirian saya, dan tidak ada yang bisa mengubah nasib saya. Ia memandang enteng Tuhan. Seolah-olah Tuhan tidak mampu melakukan sesuatu pada dirinya. Padahal ayatnya mengatakan, innallaha ‘ala kulli syai’in qadir, Allah Maha Kuasa segala sesuatu.

“Terkadang kegelapan menyergapmu, karena Ia hendak mengingatkanmu tentang kebesaran nikmat yang diberikan-Nya kepadamu.”

Kegelapan, adalah isyarat keterangan. Kadang-kadang suatu kegelapan akan menerangkan hati. Kadang-kadang yang terang akan membutakan hati. Kadang kegelapan menyergapmu, karena Ia hendak mengingatkanmu tentang kebesaran nikmat yang diberikan kepadamu.

Kegelapan bisa berarti simbol negatif. Jadi kalau kita diberikan sesuatu yang negatif, sesungguhnya Allah menangkap kita supaya kita dibawa kepada diri-Nya sendiri. Inilah yang disebut dengan musibah yang membawa rahmat.

“Barangsiapa yang tidak mengenal nikmat saat masih ada, maka ia mengenalinya ketika nikmat itu telah lenyap.”

Orang tidak akan sadar bagaimana nikmatnya menjadi seorang muda, nanti terasa setelah menjadi tua. Bagaimana nikmatnya kesehatan itu terasa setelah kita sakit. Bagaimana nikmatnya peluang (potensi), hal itu akan terasa pada saat kita tidak berdaya.

Barangsiapa yang tidak mengenal nikmat saat masih ada, maka ia akan mengenalinya ketika nikmat itu telah lenyap. Karena itu, nikmatilah dalam bentuk bersyukur ke hadhirat Allah dengan segala kenikmatan yang kita peroleh. []

Disarikan dari Pengajian Tasawwuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 20 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Iklan

Entry filed under: Islamika, Tasawwuf.

Tauhid yang Berkaitan dengan Af’alullah (Perbuatan-Perbuatan Allah) Failasuf dan Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 415,696 hits
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: