Bersikap Zuhud terhadap Rumah [Kajian Kitab Ihya Ulumuddin]

25 Februari 2009 at 3:46 PM 1 komentar


Sesungguhnya, jangan pernah ada yang mubazzir dari rumah dan diri kita. Misalkan, kita memiliki tanah yang begitu luas, sementara ada orang yang menanam di pinggir jalan, berdiam di bawah jembatan, dan sebagainya. Mengapa kita tidak efektifkan penggunaan tanah kita tersebut? Sementara ada orang yang ingin menanam, tapi tidak memiliki lahan. Tapi memang dalam hal ini biasanya kita serba-salah. Begitu orang tersebut kita berikan kesempatan untuk menggarap tanah kita, maka suatu waktu ketika kita memerlukan tanah tersebut, biasanya susah sekali untuk mengeluarkan orang itu. Dalam hal ini, Tuhan Maha tahu. Kita serahkan kepada-Nya.

Tingkatan tertinggi adalah bilamana seseorang tidak mencari tempat khusus untuk dirinya sendiri, maka dia mencukupkan tempat tinggalnya itu di lorong-lorong masjid seperti penghuni “shuffah”. “Shuffah” ini ada di Mekkah. Pada waktu masa Rasulullah, ada orang-orang yang disebut “Ahlu Shuffah”. Mereka ini tinggal di emperan masjid. Jika ada ruangan yang tidak dihuni, maka di situlah mereka bertempat tinggal. Orang yang pernah menjadi “Ahlu Shuffah” ini antara lain Abu Hurairah. Abu Hurairah adalah sahabat Rasulullah yang sangat banyak meriwayatkan hadis. Beliau masuk Islam pada tiga tahun terakhir sebelum Rasulullah wafat. Meskipun demikian, ke manapun Rasulullah pergi (kecuali ruang pribadi Rasulullah), Abu Hurairah selalu ikut dengannya. Sehingga, banyak sekali hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

“Ahlu Shuffah” ini tinggal di emperan masjid yang di situ dibuat kamar-kamar sebagai tempat tinggal mereka. Orang yang paling sederhana ataupun orang yang paling zuhud dalam hal perumahan tidak pernah lagi memikirkan rumah sebagai tempat tinggalnya. Asal ada masjid, maka di situlah mereka bertempat tinggal. Mereka telah mewakafkan hidupnya untuk masjid, untuk Allah, untuk akhirat, tidak lagi memiliki kepentingan terhadap hal-hal duniawi yang sangat banyak seperti yang lainnya.

Bagi kita yang tidak terbiasa hidup seperti ini, maka langsung saja kita mengatakan bahwa kita tidak sanggup untuk melakukannya. Tetapi bagi orang yang menjalani kehidupan seperti itu, meskipun tidurnya tanpa kasur, mungkin bisa saja lebih nyaman tidurnya dibandingkan dengan kita yang tidur di atas kasur empuk. Jadi dalam hal ini, tergantung dari suasana batin kita.

Untuk kezuhudan bertempat tinggal ini ada beberapa tingkatan. Tingkatan yang tertinggi adalah ketika seseorang itu tidak mencari tempat khusus untuk dirinya sendiri. Tingkatan sedang adalah ketika seseorang mencari tempat khusus untuk dirinya sendiri seperti pondok (gubuk) dari bamboo yang itu begitu sederhana. Tingkatan yang paling rendah adalah ketika seseorang mencari sebuah kamar yang dibangun, ada kalanya dengan membeli ataupun menyewa. Jadi bukan rumah, melainkan kamar. Yang penting ada kmar yang bisa disewa, maka ia pun bertempat tinggal di tempat itu, tidak peduli harus ada ruang tamu, dapur, tempat istirahat, dan sebagainya. Selebihnya (di luar ketiga tingkatan tersebut) berarti sudah tidak lagi mencerminkan kezuhudan tempat tinggal.

Jadi, siapa pun yang tak mempunyai rumah dan tidurnya di masjid, maka berbahagialah ia. Jangan karena tidak mempunyai rumah sehingga dia tidak mau salat dan beribadah. Siapa saja yang sudah mempunyai gubuk, sekalipun reyot, maka bersyukurlah orang tersebut, mungkin ia sudah bisa lebih khusyu’ salatnya. Siapa saja yang sudah mempunyai kamar, yang di situ sudah ada privasi baginya, maka tentunya ia harus bisa lebih bersyukur lagi.

Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang membangun lebih dari yang mencukupinya, niscaya ia dibebani untuk membawanya pada hari kiamat. (HR. Tabrani)

Rumah yang dibangunnya terlalu besar, padahal yang dipakai mungkin hanya beberapa kamar. Tapi, jika semua itu diniatkan untuk kepentingan sosial, maka lain lagi halnya. Kalau rumahnya itu hanya untuk bermegah-megahan, sementara rumah tetangganya mungkin ada yang bocor, sempit, tentunya ini suatu yang begitu kontras.

Berkaitan dengan hadis ini, ada juga hadis lain mengenai tanah. Jika ada orang yang suka menggeser pagarnya sampai tanahnya bertambah setengah meter misalkan, maka Rasulullah mengingatkan, bahwa orang tersebut pada hari akhirat nanti tanah dari atas hingga ke bawah akan dikalungkan ke leher orang tersebut. Ini artinya adalah neraka.

Hati-hatilah, jika kita sudah mempunyai rumah, tapi kemudian membuat lagi rumah di samping kanan dan samping kiri. Semakin banyak “space” yang kita bangun tapi tidak dimanfaatkan, maka itu artinya mubazzir. Sementara di tempat lain ada yang membutuhkan tempat itu. Hal ini akan semakin menambah dosa untuk kita.

Karena itulah ada wakaf. Mudah-mudahan sebelum kita meninggal dunia, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mewakafkan tanah. Syukur-syukur di atas tanah itu ada bangunan, biar nantinya di hari kiamat ada tabungan kita. Alangkah miskinnya jika kita meninggal dunia tanpa adanya bekal.

Di akhirat nanti, yang bisa kita panen nanti hanyalah tiga, yaitu: Pertama, anak-anak yang saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Kedua, amal jariah. Ketiga, ilmu yang bermanfaat.

Tapi berapa lamakah waktu hidupnya anak yang saleh itu? Jangan-jangan hanya dua puluh tahun setelah menginggal orang tuanya, atau jangan-jangan hanya satu tahun, setelah itu anak yang saleh itu pun menyusul kita. Tapi kalau tanah wakaf, sepanjang wakaf itu dimanfaatkan, maka sepanjang itulah kita akan mendapatkan amal jariahnya. Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini tanpa memiliki deposito akhirat.

Jika kita mengajarkan suatu ilmu, membuat suatu penelitian, menemukan suatu teknologi baru, maka sepanjang teknologi baru itu dimanfaatkan oleh generasi berikutnya, maka sepanjang itulah kita mendapatkan pahala.

Ada tiga kesempatan ini, jangan sampai kita “konyol”. Kita berharap kepada Allah, agar sebelum kita meninggal dunia, maka kita diizinkan sudah memiliki deposito akhirat. Misalkan, sepertinya anak kita sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk menjadi anak yang saleh, tapi kita berharap kepada Allah untuk diberikan kesempatan beramal jariah. Mungkin kita tidak mempunyai anak yang saleh dan juga tidak mempunyai kekayaan, tapi kita memiliki ilmu ataupun pengalaman sedikit, maka ajarkanlah ilmu pengetahuan dan pengalaman itu kepada orang lain. Sepanjang orang lain memanfaatkan ilmu yang kita ajarkan itu, maka sepanjang itu pulalah kita akan memperoleh pahalanya.

Kalau masih ada rumah ataupun tanah yang banyak, daripada diperebutkan oleh ahli waris, maka lebih baik ambil satu di antaranya untuk kita wakafkan.

Betapa banyak orang kaya yang meninggalkan kekayaannya, tetapi mereka lupa mempersiapkan bekal akhiratnya. Harta yang kita tinggalkan itu mungkin bisa saja oleh ahli waris kita digunakan untuk berfoya-foya dan bermaksiat, sehingga bukanlah pahalah yang kita peroleh, melainkan azab. Karena itulah, jangan sampai kita memberikan warisan yang sedemikian banyak kepada ahli waris kita tanpa adanya bekal agama yang baik kepada mereka. Harta kita yang diperebutkan oleh anak cucu kita, mungkin bisa saja kita akan ikut tersiksa di alam kubur nantinya.

Rasulullah bersabda:

Setiap nafkah bagi hamba akan diberikan kepadanya, kecuali harta yang dinafkahkan dalam air dan tanah.

Misalkan, kalau ada orang yang minta api kepada kita, maka kita tidak boleh kikir memberikannya kepada orang tersebut. Rasulullah begitu marah jika ada orang yang minta api, lalu tidak kita berikan kepada orang yang bersangkutan. Atau ada orang yang minta air minum, yang air itu dari langit (dari Tuhan). Ini khusus untuk air yang tidak kita beli, tapi lain lagi kalau air yang kita beli seperti air kemasan.

Rasulullah brsabda:

Setiap bangunan akan menjadi bencana atas pemiliknya di hari kiamat, kecuali bangunan yang melindunginya dari panas dan dingin.

Jadi, kalau terlalu banyak bangunan kita yang tidak dimanfaatkan, maka nantinya itu akan menjadi bencana bagi kita. Hitung-hitunglah semua bangunan yang kita miliki. Ada berapa bangunan yang selama ini belum pernah kita manfaatkan? Lebih baik bangunan tersebut diwakafkan, ataupun disewakan secara murah, ataupun dijadikan yayasan, agar semuanya itu tidak mubazzir. Jika semuanya itu menjadi mubazzir, sementara ada orang yang membutuhkannya, maka kita termasuk sebagai orang yang berdosa.

Kalau kebetulan rumah kita itu banyak kamarnya, jika suatu waktu ada sanak saudara kita yang bertandang ke kota tempat tinggal kita, maka persilakanlah mereka untuk mampir ke kediaman kita. Jangan sampai mereka menginap di hotel, karena ada kamar yang tersisa di rumah kita yang itu bisa mereka gunakan untuk menginap.

Hargailah tamu. Menghargai tamu adalah suatu contoh keakraban kita dengan para nabi. Rasulullah merupakan orang yang sangat luar biasa menghargai tamu. Inilah pekerjaan yang paling berat dari sebagian orang di antara kita, yaitu menerima tamu. Tamu itu kadang dianggap mengganggu ketenteraman, mengganggu ketenangan, merepotkan dan membebani. Apalagi di kepalanya itu hanya ada perhitungan untung rugi dan kepentingan. Kalau hanya perhitungan seperti ini yang ada pada kita, maka seakan-akan kita ini takkan pernah mati.

Mestinya kita berbahagia dan berbangga jika banyak tamu yang bertandang ke rumah kita. Semua makanan dan minuman yang dimakan dan diminum oleh para tamu itu adalah shadaqah untuk kita. Begitu juga dengan kamar, listrik, dan apa saja yang dipakai oleh para tamu itu juga merupakan shadaqah untuk kita. Tapi semua ini harus dilakukan secara ikhlas. Jangan hanya ikhlas sehari dua hari saja. Hari-hari berikutnya mulai ada keberatan di hati kita. Dihormati sedemikian rupa kalau hari pertama, tapi hari selanjutnya mulai ditinggal-tinggal dengan berbagai macam alasan. Hari-hari selanjutnya mungkin akan lebih dari itu.

Jika para tamu kita itu pulang ke tempat mereka lagi, mungkin mereka akan bercerita kepada orang lain, bahwa luar biasanya penerimaan kita terhadap mereka. Sesungguhnya apa yang baik-baik yang diceritakan para tamu tersebut mengenai kita, maka itu merupakan doa untuk kita.

Berapapun yang telah dimakan oleh para tamu itu, maka Tuhan akan menggantinya berpuluh-puluh kali lipat. Rezeki yang datang tiba-tiba mungkin itu karena kita ikhlas pernah menerima tamu. Tidak ada orang yang dimiskinkan Tuhan karena tamu. Semakin banyak tamu dan ikhlas kita menerimanya, maka insya Allah Tuhan akan memberikan lagi rezeki kepada kita. Ingatlah, bahwa kamar yang tidak pernah dipakai, maka itu adalah dosa untuk kita.

Puaskanlah hati orang lain, karena memuaskan hati orang lain itu adalah juga memuaskan hati Tuhan. Hargailah tamu itu, meskipun itu orang kafir. Apalagi tamu itu adalah sanak saudara kita sendiri.

Seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah tentang rumahnya yang sempit. Mendengar ini, Rasululah pun mengatakan, “Tak apa-apa sempit di dunia, tapi nantinya akan longgar di akhirat.”

Perluaslah di langit (maksudnya di surga). Siapapun yang luas hatinya dan juga lapang dadanya, artinya ia membangun istana luas di akhirat. Siapapun yang sempit dadanya menerima, maka dia telah membuat rumah yang sempit di akhirat.

Nabi Ibrahim tidak mau makan kalau sendirian. Kalau ia ke pasar, maka ia selalu menanyakan orang lain, apakah orang tersebut sudah makan. Jika orang tersebut belum makan, maka diajaknya orang tersebut untuk makan di rumahnya.

Bandingkanlah dengan kita. Biasanya jika tamu itu baru pulang jam sembilan malam, maka setelah tamu itu pulang, barulah kita makan. Kalau jam dua siang tamu itu beranjak dari rumah kita, maka setelah tamu itu beranjak, barulah kita makan. Mengapa tidak kita ajak saja tamu itu untuk makan? Tambahkan saja sepiring, walaupun makanan yang tersedia di rumah kita hanya sedikit. Insya Allah Tuhan akan menambahkan.

Yang mengenyangkan dan memuaskan itu bukanlah banyaknya, melainkan berkahnya. Apa adanya saja, jangan sampai kita mendramatisir, malu karena makanan kita sedikit. Justru itulah yang tulus, apa adanya kita sajikan kepada tamu itu. Kalau perlu tamu itu duluan kita persilakan untuk makan, dan kita katakan bahwa kita sudah makan, padahal kita belum makan misalkan. Mau masak lagi, ternyata makanan kita sudah habis. Tidak apa-apa, insya Allah Tuhan mencatat, bahwa hal tersebut merupakan prestasi luar biasa kita.

Orang yang tak pernah memiliki suatu amal istimewa, maka pada saat kesulitan tidak ada tolak bala baginya.

Evaluasilah diri kita. Jika kita tidak pernah berbuat amal istimewa untuk Tuhan, maka jangan berharap pertolongan Tuhan akan datang pada saat kita butuh. Semakin banyak amal yang kita lakukan, maka akan semakin banyak perisai pada diri kita. Misalkan terjadi suatu kecelakaan bus, yang lain celaka, ternyata kita tidak. Mungkin hal ini dikarenakan kita pernah melakukan amal istimewa.

Yang paling indah dan paling tinggi nilainya adalah kita tidak pernah sadar untuk melakukan amal istimewa. Jika kita masih membuat kesengajaan untuk melakukan amal istimewa, maka itu berarti ada maunya terhadap Tuhan. Kita melakukan itu bukan untuk mendapatkan keridhaan Tuhan, melainkan untuk yang lainnya. Lakukanlah semuanya lillahi ta’ala, tak usah peduli apakah itu amal istimewa atau bukan, justru inilah nantinya yang akan menjadi istimewa. Jangan membuat kesengajaan untuk membangun sesuatu yang bukan karena Allah. Dengan membuat kesengajaan itu, maka dua-duanya tidak dapat: terhadap Tuhan tidak dapat, tidak mempan juga sebagai tolak bala.

Suatu ketika, Umar berjalan di Negeri Syam. Waktu itu ia melihat suatu istana yang dibangun dengan kapur dan batu bata. Kemudian Umar bertakbir dan berkata, “Allahu akbar. Aku tidak mengira dalam umat ini ada orang yang membangun bangunan Haman untuk Firaun.”

Arsiteknya Firaun itu namanya Haman, yang bangunannya itu (yaitu Piramida) yang hingga sekarang masih ada di Mesir. Firaun adalah orang pertama yang membangun suatu bangunan dengan kapur dan batu bata. Dan orang yang pertama kali mengerjakannya adalah Haman. Kemudian, orang-orang yang sombong mengikuti keduanya. Orang yang memiliki kelebihan harta, maka ia membangun rumah ataupun istananya di mana-mana, sementara tetangganya, bangsanya, ataupun orang lain kehujanan.

Rumah yang tidak dimanfaatkan keluarga dan juga tidak dimanfaatkan untuk masa depan anak, maka secepatnyalah kita lakukan penggunaannya untuk akhirat. Hasan Bisri berkata, “Apabila aku masuk rumah sahabat Rasulullah, aku memukul lotengnya dengan tanganku.”

Ternyata rumah para sahabat Rasulullah itu begitu sederhana. Ibnu Mas’ud berkata, “Akan datang suatu kaum yang meninggikan tanah liat, merendahkan agama, mempekerjakan kuda Romawi, dan mereka menjalankan salat pada kiblatmu, dan mereka meninggal atas agamamu.”

Maksudnya adalah bahwa akan datang suatu kaum yang tingkat kesejahteraannya bagus, sekuler, dan juga berteknologi tinggi. Mereka salat menghadap ke kiblat juga, tapi pada saat yang bersamaan mereka melakukan hura-hura.

Jika nanti kita kembali ke rumah, maka lihatlah rumah kita. Kalau ada kamar yang hingga berbulan-bulan kamar tersebut tidak pernah dipakai tidur, maka takutlah terhadap hadis Rasulullah. Panggillah orang-orang ke rumah kita untuk bertamu, tidur di kamar tersebut, anggarkan secara rutin anggaran untuk tamu. Insya Allah semuanya itu akan berfungsi sebagai shadaqah jariah untuk kita semuanya. []

Disarikan dari Pengajian Tasawwuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 29 Oktober 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Iklan

Entry filed under: Islamika, Tasawwuf.

Bershalawat; Menciptakan Kelapangan di Dalam Dada Nilai dan Mempertahankan Prinsip

1 Komentar Add your own

  • 1. adefadlee  |  16 April 2009 pukul 7:30 PM

    zuhud bukan berarti membuang dunia sama sekali, tapi ambil dunia tapi tidak boleh cinta dunia

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 410,374 hits
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Top Clicks

  • Tidak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: