Kitabuttawhid wa Tawakkal

25 Februari 2009 at 3:54 PM 1 komentar


Selama ini kita tawakkalnya setengah-setengah. Dalam bertawakkal ini kita tanggung, sehingga Tuhan pun tanggung menerima kehadiran kita. Satu sisi kita berharap kepada Tuhan, tapi pada sisi lain kita meragukan Tuhan. Selama ini kita mungkin sering bertanya, apakah Tuhan akan membantu kita? Dari sikap ini, akhirnya kita sibuk mencari penolong-penolong selain Allah.

Kita tidak yakin terhadap Allah, yang hal inilah kemudian menjadikan kita tidak percaya diri. Kehidupan yang tidak percaya diri sesungguhnya akan menghasilkan energi yang lemah. Kita kurang yakin terhadap diri kita, dan kita juga kurang yakin terhadap Allah. Kita mempercayai bahwa Allah itu adalah Tuhan, tetapi kita tidak haqqul yaqin bahwa Tuhan itu Maha Pemurah dan Maha Penolong.

Kita dibayangi oleh ketakutan terhadap bayangan kita sendiri. Jadi, kita takut terhadap bayangan kehidupan yang kita ciptakan sendiri. Lupakan bayangan-bayangan gelap itu dan hidupkanlah cahaya Tuhan di dalam benak kita. Sekecil apapun cahaya Tuhan di dalam benak kita, insya Allah Tuhan akan menolong hamba-Nya. Siapakah yang akan ditolong oleh Tuhan kalau bukan kita? Adakah makhluk lain yang akan ditolong oleh Tuhan selain kita? Yakinlah, bahwa kita adalah prioritas pertama yang akan ditolong oleh Allah.

Dengan keyakinan seperti ini, maka akan terasa ringan menjalani kehidupan ini. Karena kalau kita menggantungkan diri kita kepada orang lain, maka akan terasa berat menjalani kehidupan ini, kecemasan selalu menghantui kita. Tapi kalau kita percaya diri dan yakin terhadap Allah, maka insya Allah semuanya akan terasa ringan. Kalau memang Tuhan masih mengizinkan kita untuk menghirup udara-Nya, maka yakinlah bahwa tidak ada makhluk melata yang berjalan di atas bumi ini melainkan Allah menjamin rezeki dan kehidupannya. Yakinlah, bahwa selama kita masih hidup, maka rezeki kita selalu dijamin oleh Allah.

Pasti ada jalan keluar dari persoalan dan kesulitan hidup yang kita hadapi. Allah menjanjikan, barang siapa yang sungguh-sungguh bertakwa kepada-Nya, maka Ia akan memberikan jalan keluar terhadap kesulitan-kesulitan itu dalam keadaan yang tidak diduga-duga.

Allah memberikan rezeki yang di luar dugaan kita. Semakin tawakkal kita memuncak kepada-Nya, kita haqqul yaqin bahwa Tuhan adalah Maha Pemurah, maka keajaiban dalam kehidupan ini pasti akan ada. Bukankah selama ini kita telah banyak mengalami keajaiban hidup? Jujurlah dan jangan mengingkari kenyataan kehidupan kita. Pernahkah kita membayangkan akan hidup seperti sekarang ini? Yang telah kita raih kini mungkin tak pernah ada di dalam benak kita dahulu. Semuanya ini adalah keajaiban. Cita-cita kita dulu juga mungkin kecil dan biasa saja, tidak setinggi dan sebesar yang telah kita raih kini. Jadi, kalau Tuhan akan mengambil sebagian dari apa yang telah kita raih kini, maka itu pasti pilihan Tuhan yang terbaik untuk kita.

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Q.S. Al-Maa’idah: 23)

Jadi, tidak semua orang yang beriman itu kemudian juga sekaligus bertakwa.

Allah menjanjikan:

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. Ath-Thalaaq: 3)

Allah mengatakan, kalau hamba-Ku tawakkalnya seperti burung, maka rezekinya pun juga seperti burung. Burung itu tidak perlu deposito. Rezekinya begitu terjamin. Ketika ia terbang meninggalkan sarangnya, maka melimpah ruah rezekinya di mana-mana. Inilah tawakkalnya burung, tapi ada usaha di dalam tawakkalnya itu. Janganlah kita hanya berdoa saja, tapi tak pernah ada kreatifitas dan usaha. Tetaplah kita berusaha, tapi pada sisi lain kita pasrahkan diri ini kepada Allah.

Jika semua ini sudah dilakukan, maka kita akan puas walaupun kita tidak berhasil. Ketidakberhasilan itu mungkin bukan yang terbaik untuk kita. Inilah sikap orang yang bertawakkal kepada Allah. Dengan haqqul yaqin, kita kemudian menjadi yakin, bahwa seandainya hal tersebut kita peroleh, mungkin kita menjadi tidak dekat dengan Allah, mungkin kita akan jauh dari-Nya, karena apa yang didapatkan itu ternyata tidak ada berkahnya. Apa yang telah kita minta dan itu diberikan, maka kita haqqul yaqin bahwa hal tersebut adalah amanah Tuhan. Pertama kita harus mengeluarkan zakatnya, harus bersedekah, tidak boleh kikir, karena hal tersebut adalah titipan Tuhan.

Kalau jalan kehidupan kita sudah seperti ini, maka kesulitan hidup takkan pernah kita alami. Yang membuat kita menjadi terkadang sulit dalam menjalani kehidupan ini karena antara lain kita kikir. Kita selalu meminta lagi, padahal banyak yang telah kita miliki. Apalah artinya pemberian kita, karena takkan mengurangi harta yang telah kita miliki. Rumusnya adalah, bahwa semakin banyak kita memberi, maka akan semakin banyak yang datang. Semakin kita nafkahkan di jalan Allah, maka akan semakin banyak juga Allah memberikan kepada kita. Begitu juga dengan ilmu, semakin banyak kita mentransfer ilmu di jalan Allah, maka Allah pun juga akan memberikan ilmu yang baru lagi kepada kita. Inilah jaminan Tuhan.

Yang akan dicukupi oleh Allah adalah semua kebutuhannya, bukanlah semua keinginannya. Keinginan itu bercampur baur antara hitam dan putih, antara negatif dan positif. Tapi kalau kebutuhan, maka hal itu memang kita butuhkan.

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Q.S. Az-Zumar: 36)

Allah sudah mencukupi kita, hanya saja keinginan kita yang lebih dari itu, sehingga kita selalu merasa kekurangan. Basic need kita sudah dipenuhi oleh Allah. Kita sebenarnya sudah cukup, namun jika mengukur keinginan kita, maka takkan pernah ada cukupnya.

Bukankah Allah telah mencukupi kepada hamba-Nya, hanya saja si hamba seperti ember yang bocor, yang apabila diisi air, maka ember itu takkan pernah penuh. Orang yang mencari kecukupan kepada selain Allah, maka orang itu sebenarnya telah meninggalkan tawakkal. Dengan bertawakkal, maka kita takkan menggerutu. Jangan pernah ada kedongkolan di dalam hati kita. Kita harus haqqul yaqin bahwa apa yang telah kita dapatkan itu adalah yang terbaik untuk kita. Tak usah mencari kambing hitam, dan tak usah pula membenci orang lain.

Berapa lamakah kita ini sebenarnya akan hidup? Ternyata waktu kita hidup itu tidaklah lama. Mungkin Tuhan akan memberikan waktu yang sangat longgar untuk membangun perkebunan akhirat yang kita butuhkan. Janganlah hanya dunia melulu yang kita pikirkan. Sehingga tak seharusnya kita mengalami post power syndrome. Sehingga kita takkan stress ketika memasuki masa pensiun. Kita akan bersyukur, bahwa kita telah pensiun dengan baik.

Rasulullah mengatakan, bahwa barangsiapa yang menghabiskan waktunya kepada Allah azza wajalla, niscaya Allah akan mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang menghabiskan waktunya kepada dunia, niscaya Allah akan menyerahkan orang tersebut kepada dunia.

Barangsiapa yang merasa disenangkan bahwa ia menjadi manusia yang paling kaya, maka hendaklah ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada percaya kepada apa yang ada di tangannya. Sekaya apapun orang itu, maka tak ada artinya dengan kekayaan Tuhan.

Tidak bertawakkal orang yang memohon dijampikan dan bertenung. Kalau ingin kaya, maka janganlah pergi ke dukun. Rasulullah mengingatkan, bahwa orang yang percaya dengan jampi dan tenung serta pergi ke dukun, maka orang tersebut sudah miskin dunianya, miskin pula di akhirat.

Tapi lain halnya jika kita ke para ulama dan sahabat Tuhan. Terkadang di suatu tempat itu ada kekasih-Nya Tuhan. Kelihatannya orang tersebut tak pernah melanggar aturan Tuhan, begitu dekat kepada Tuhan, zikirnya, bacaan Alqurannya, wiridnya, salat-salat sunnatnya, puasa senin kamisnya, dan hatinya selalu lurus mencintai Tuhan. Orang seperti inilah kekasih Tuhan. Meminta tolong kepada kekasih Tuhan merupakan suatu yang wajar. Kita tidak percaya diri untuk meminta langsung kepada Tuhan, maka boleh saja kita meminta bantuan kepada para kekasih Tuhan ini.

Janganlah kita sampai salah alamat, karena kita meminta bantuan dukun, yang dukun itu tak pernah salat, tak pernah tersentuh air wudhu’. Apakah orang seperti ini yang bisa menyelamatkan? Orang seperti ini bukanlah kekasih Tuhan, melainkan kekasihnya iblis. Lebih baik kita datang ke masjid, langsung kita meminta kepada Allah. Insya Allah pada waktunya nanti, Tuhan pun akan menurunkan kasih-Nya, karena dilihat-Nya bahwa hamba-Nya tersebut tak pernah berhenti memohon kepada-Nya.

Pada wujudnya, terdapat rezeki yang tanpa dicari. Kadang-kadang kita mencari rezeki barhari-hari, tetapi tidak juga dapat. Tiba-tiba pada suatu hari kita mendapatkan rezeki yang tak pernah kita duga-duga. Inilah kehidupan. Semua orang pernah seperti ini. Ulama mengatakan, bahwa tak ada yang gratis dari Tuhan. Artinya, pasti kita pernah berdoa, tetapi doa kita tidak dikabulkan pada saat itu, melainkan dikabulkan pada saat yang lain. Bisa jadi doa tersebut baru dikabulkan pada sepuluh tahun yang akan datang. Karena itulah, jangan malas untuk berdoa.

Atau bisa juga kita berdoa, tapi hingga kita wafat, doa tersebut tidak dikabulkan oleh Tuhan. Mungkin menurut Tuhan bukan kita yang butuh akan permintaan dari doa tersebut, melainkan nanti suatu waktu permintaan dari doa tersebut akan dianugerahkan kepada anak kita, karena menurut Tuhan anak kita itu lebih membutuhkannya.

Sebagian ulama berkata, jika engkau merasa senang dengan Allah sebagai wakil, niscaya engkau akan menemukan jalan menuju kebaikan.

Hidup ini takkan berakhir sepanjang kita masih bisa bernafas. Beranilah menjalani kehidupan, dan jalinlah silaturahim dengan siapapun juga makhluk Tuhan dan juga terhadap Tuhan. Bersilaturahimlah dengan alam dan lingkungan kita. Allah memerintahkan, janganlah kita membuat kerusakan di muka bumi ini. Logikanya, bersilaturahimlah dengan alam raya ini, yang itu akan menjadikan Tuhan memerintahkan rezeki itu mencari orang yang selalu bersilaturahim. Tapi apabila kita melakukan yang sebaliknya, angkuh, bangga, dan semacamnya, maka liang lahat nanti menunggu kita dan akan menjepit hingga ke tulang rusuk kita.

Kalau ada keyakinan yang sangat mendalam, maka percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita. Pada kenyataannya terdapat rezeki yang tanpa harus dicari. Ini menunjukkan bahwa rezeki itu diperintahkan untuk mencari hamba-Nya. Hal ini juga berarti ada yang mengendalikan. Begitu juga halnya dengan jodoh. Kadang-kadang begitu seringnya kita memohon jodoh yang baik, tapi tidak datang-datang juga. Pada saatnya, tanpa kita berdoa, tanpa berusaha untuk mencarinya, tiba-tiba saja jodoh itu datang. Jadi memang ada yang mengatur segalanya. Ada skala makro yang bekerja di luar diri kita. Inilah yang disebut dengan kekuasaan Allah SWT. []

Disarikan dari Pengajian Tasawwuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 24 Desember 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Iklan

Entry filed under: Islamika, Tasawwuf. Tags: , .

Sikap-sikap yang Disenangi dan Dibenci Allah Pengertian Tawakal

1 Komentar Add your own

  • 1. hendra efendi  |  28 Agustus 2009 pukul 3:58 AM

    asamualaikum.alhamdulillah ana senang sekali membaca tulisan ini…..klw bisa kirim dong ke E-mail ana,wasalamkum.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 434,207 hits
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: