Nilai dan Mempertahankan Prinsip

25 Februari 2009 at 3:49 PM Tinggalkan komentar


Prinsip adalah hukum interaksi manusia, seperti: kejujuran, integritas, dan komitmen. Sedangkan nilai adalah hal-hal yang terpenting bagi kita, seperti: kepercayaan, kegemaran, prioritas, tujuan, dan bahkan prinsip-prinsip yang kita junjung tinggi. Nilai-nilai dikembangkan pada masa kecil dan dibentuk oleh kebudayaan, keluarga, dan pengalaman, termasuk juga oleh semangat keagamaan. Nilai-nilai dapat berubah, sedangkan prinsip biasanya lebih permanen. Prinsip adalah karakter yang menjadi watak dasar kita.

Karena itulah, nilai kita tersebut harus dirawat sehingga menjadi tangguh, dan juga prinsip kita itu harus dipertahankan supaya kokoh. Rasulullah mengajarkan suatu doa berkaitan dengan ini:

Allahumma ya muqallibal qulub tabbits quluubina ‘ala diinika wa ‘ala ta’ati (Wahai Tuhan yang menggoyang-goyangkan pendirian, tangguhkanlah pendirian, nilai-nilai, dan juga prinsip kami pada ketaatan ajaran agama-Mu).

Ketika kita berbicara tentang visi batin, maka kita berbicara tentang keseluruhan nilai yang mendorong kita. Ketika kita berbicara tentang visi sebuah usaha bersama, maka kita berbicara tentang nilai-nilai yang dianut bersama oleh para anggota kelompok. Jadi, nilai ini sangat penting untuk kita semua.

Di manakah kita bisa melihat nilai-nilai kita itu?

Kalau kita ingin melihat harga diri kita sudah berada pada tingkat ke berapa, seperti apa citra diri kita, maka kita harus mempunyai cermin. Apakah cermin kehidupan itu?

Kalau kita ingin melihat diri kita sendiri, maka lihatlah potret di mana kita berada. Kalau ingin tahu posisi kita, bahkan dikatakan kalau ingin mengetahui posisi kita di akhirat nanti apakah di surga atau di neraka, maka lihatlah orang yang ada di sekitar kita: siapakah sahabat, idola, dan juga guru kita.

Apakah kita juga menanamkan nilai-nilai ini di dalam diri kita sendiri?

Siapakah teman-teman kita yang kita idolakan? Apanya yang kita idolakan terhadap orang itu? Sudahkah ada unsur-unsur yang diidolakan itu melekat pada diri kita sendiri? Itulah cermin diri kita. Pemandangan yang ada di sekitar kita tidak lain merupakan cermin kehidupan kita sendiri.

Untuk mengetahui posisi kita di mata Tuhan, maka lihatlah di mana Tuhan menempatkan kita. Kalau kita lebih banyak bersahabat dengan orang-orang yang baik, maka Tuhan menempatkan kita di tempat yang baik. Kalau kita bersahabat dengan orang-orang yang tidak baik, maka Tuhan juga menempatkan kita di tempat yang tidak baik.

Lihatlah idola-idola dan orang-orang yang kita teladani, apakah yang paling kita kagumi dari mereka? Sudahkah unsur-unsur itu teradopsi di dalam diri kita?

Kalau kita masuk ke toko parfum, maka kita pun akan menjadi harum. Sedangkan kalau kita masuk ke tempat penjual ikan, maka kita pun akan berbau anyir (amis).

Ini adalah rumus yang penting untuk kita. Kalau ingin mengetahui posisi kita di akhirat, maka lihatlah Tuhan menempatkan kita di mana sekarang.

Perhatikanlah dengan cermat kegagalan kita. Kegagalan adalah pelajaran yang sangat berharga. Kegagalan janganlah dianggap sebagai kegagalan murni. Kegagalan itu adalah cambuk untuk kita meraih kesuksesan ke depannya. Karena itu, perhatikanlah dengan cermat kegagalan kita sendiri. Belajar dari pengalaman kegagalan, maka insya Allah kita takkan jatuh di lubang yang sama. Kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa kesalahan kita yang paling buruk itu terjadi karena kita gagal menuruti nilai-nilai kita sendiri.

Sebetulnya kata hati kita sudah ada, tapi kita melanggar kata hati itu. Mungkin karena kita ingin ikut-ikutan, dan juga tidak berani mengatakan “tidak”. Kita tidak berani mengatakan “tidak”, yang padahal itu hanya akan menambah beban diri kita sendiri. Beranilah mengatakan “tidak” pada saat kita memang harus mengatakan “tidak”. Jika pada kondisi ini kita kemudian mengatakan “iya” yang padahal itu di luar kemampuan diri kita, sekalipun hal itu alasannya basa-basi, maka: pertama, kita sudah membohongi diri kita sendiri. Kedua, kita telah membebani diri kita sendiri. Ketiga, menyebabkan orang lain berdosa, karena dia pasti akan mencap kita sebagai orang yang tidak konsisten dan munafik.

Karena itulah, “ulil haq walawka wanamurran” (Katakan kebenaran itu, sekalipun itu pahit).

Janganlah mengatakan “tidak” pada saat kita mampu mengatakan “iya”. Jadi, kapan kita harus mengatakan “iya” dan kapan kita harus mengatakan “tidak”, ini yang menentukannya adalah karakter dan nilai yang ada pada diri kita. Inilah saat di mana kita mengasah karakter dan nilai yang ada pada diri kita. Orang yang tidak pernah terasah nilai dan karakternya, maka “iya” dan “tidak” nya itu sangat terukur oleh orang luar. Tetapi, bagi orang yang sudah terasah karakternya, maka ia akan bisa mengukur pada dirinya sendiri. Ia bisa mengukur sesuai dengan takarannya sendiri dan tak perlu meminjam takaran orang lain hanya untuk mengukur dirinya sendiri.

Jika ada yang selalu menggunakan takaran orang lain untuk mengukur dirinya sendiri, maka biasanya orang seperti ini akan cepat stress, stroke, dan juga cepat dipanggil oleh Allah. Biasanya tidak ada keikhlasan pada dirinya. Antara keikhlasan dan kemunafikan tidak mungkin bisa berjalan bersama. Kalau kita munafik, pasti yang rugi adalah keikhlasan itu sendiri. Tapi kalau kita ikhlas, maka kemunafikan itu akan pergi dengan sendirinya. Kalau kita ikhlas, maka resiko penyesalannya akan sedikit sekali. Tapi kalau kita munafik, maka penyesalan batin dan berbagai penyesalan lainnya akan sangat berat sekali.

Perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang yang tak berpengalaman berdosa maka itu berat sekali baginya. Tapi lain halnya bagi orang yang sudah berpengalaman berdosa. Mungkin bagi orang yang seperti ini perbuatan dosa yang telah dilakukannya itu biasa saja baginya. Orang seperti ini adalah “khatamallahu ‘ala qulubihim”. Jadi bukan “fii quluubihim maradhan”, melainkan sudah tertutup dan terkunci mati dalam batinnya sendiri. Kalau “khatam”, maka sepertinya sudah tak ada lagi peluang untuk memperbaiki diri. Tetapi kalau “maridh-maradhan”, maka masih bisa untuk diobati.

Lihatlah para penjahat yang sudah membunuh, memperkosa, merampok pula, tetapi mereka bisa sambil tertawa, tidak ada penyesalan sedikit pun. Bagi orang yang tak berpengalaman berdosa, walaupun yang telah mereka lakukan itu hanyalah dosa kecil sekalipun, maka akan ada perasaan tak tenang padanya. Hal ini berarti menandakan masih ada tanda-tanda cinta pada orang tersebut. Pada saat kita menyesal setelah melakukan dosa, maka pertanda bahwa pintu taubat masih terbuka untuk kita. Waspadalah, jika pada saat telah melakukan suatu dosa, dan kemudian tak ada perasaan menyesal pada diri kita, maka ini merupakan pertanda matinya nurani kita.

Dengan memeriksa nilai-nilai kita sekarang, maka kita akan terbantu menghindari kesalahan-kesalahan pada masa depan. Jadi, kita jangan jatuh di lubang yang sama. Dulu kita gagal karena suatu sebab, maka jangan lagi kita mengulangi kegagalan yang sama. Kegagalan kita pada tahun 2008 jangan lagi terulang pada tahun 2009. Jika kita menyempatkan diri untuk menemukan apa yang paling penting bagi kita, maka kita tidak harus gagal dahulu untuk menyadarinya.

Falsafah lilin adalah rela hancur demi menerangi orang lain. Ini sebenarnya bukanlah falsafah yang baik. Cobalah lihat lampu neon, ia tak pernah menghancurkan dirinya demi menerangi sekelilingnya. Mengapa kita harus hancur demi untuk orang lain? Hal ini sungguh dilarang seperti yang disebutkan di dalam Alquran:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Baqarah: 195)

Jika kita menyempatkan diri untuk menemukan apa yang paling penting bagi kita, maka kita tidak harus gagal terlebih dahulu. Tidak selamanya surga itu harus ditebus dengan neraka. Tidak selamanya lorong menuju surga itu harus melewati neraka.

Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al-Baqarah: 201)

Jadi, tanpa harus melewati neraka, melainkan langsung masuk surga. Dunianya hasanah, sekaligus akhiratnya juga hasanah.

Dengan mengetahui apa yang penting ini, maka kita akan terhindar dari menempuh jalan yang salah. Tidak ada untungnya berlangganan dengan dosa. Mungkin selama ini ada dosa langganan yang kita pelihara. Mengapa kini kita tidak berani memutuskan dosa langganan tersebut? Putuskan dosa langganan tersebut. 2009 kita harus berani berpikir lain, harus berani bertindak lain, harus berani tampil beda, kita kembali muda, dan itu bisa kita lakukan.

Kembangkanlah suatu sistem untuk memeriksa nilai-nilai kita sendiri. Nilai-nilai kita itu takkan menunjukkan arah tertentu, melainkan nilai-nilai itu akan menempatkan kita pada lingkungan yang tepat. Kadang-kadang nilai itu tidak memberikan efek langsung terhadap diri kita. Tuhan takkan menyuapi makanan terhadap kita secara langsung. Tuhan bukan pembantu kita, melainkan adalah Tuhan kita. Tuhan lebih seringnya memberikan pertolongan kepada kita secara tidak langsung.

Pada saat kita menjalani pekerjaan, kita dapat membandingkan dengan nilai-nilai utama kita dan langsung mengetahui apakah arah tersebut sesuai dengan visi batin kita. Visi batin ini adalah kata hati. Kalau kita melakukan pelanggaran, maka akan ada yang keruh di hati ini. Sebetulnya kita tidak ingin melakukannya, tapi kemudian faktanya terjadi. Inilah yang dinamakan dengan tergelincir. Karena itu, cepat-cepatlah beristighfar jika mengalami ini.

Visi batin (kata hati) ini jangan sampai dilanggar, karena ujungnya adalah penyesalan. Kalau kita terbiasa melanggar visi batin, maka nantinya hati kita takkan sensitif lagi. Orang yang hatinya tidak sensitif, maka sulit sekali untuk membedakan antara yang haq dan bathil. Tapi kalau orang yang sudah terbiasa, batinnya dirawat, bahwa ini yang syubhat, ini yang haram, ini yang makruh, ini yang halal, maka dia akan mampu melihatnya secara mikro. Ia akan prioritaskan yang halal, secara mutlak ia akan meninggalkan yang haram.

Bagi orang “awwam”, wilayah abu-abunya lebih tebal, batas antara makruh dengan mubah itu masih sangat tipis. Tapi orang yang sudah tajam hati nuraninya, maka dia akan mampu membedakan antara mubah dan makruh. Ia pilih yang sunnat, ia tinggalkan yang makruh, bahkan yang makruh pun tidak ada lagi bedanya dengan yang haram, yang sunnat tak ada lagi bedanya dengan yang wajib. Orang yang masih membedakan sunnat dengan wajib, berarti itu masih kelas “awwam”.

Bagi Rasulullah, tak ada lagi bedanya antara yang wajib dengan yang sunnat. Semua yang sunnat menjadi wajib baginya. Semua yang syubhat menjadi haram baginya. Marilah kita contoh Rasulullah dalam hal ini. Tapi kalau kita belum mampu seperti Rasulullah, itu pun tidak apa-apa. Insya Allah nantinya kita akan menuju ke tingkatan tersebut. []

Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 5 Januari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Entry filed under: Akidah Akhlak, Islamika. Tags: .

Bersikap Zuhud terhadap Rumah [Kajian Kitab Ihya Ulumuddin] Sikap-sikap yang Disenangi dan Dibenci Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 397,011 hits
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • - مع السلامة - عمري ماهنتك طول عمري عارفه بجد قيمتك ومقدراك وحافظه غيبتك واديك بتشكرني بطريقتك في القلب صورتك... fb.me/8vCuw58I2 17 hours ago
  • Trailer Film Dokumenter: "Tapak HMI Ciputat" Ihwal sejarah perjalanan HMI Cabang Ciputat, sejak berdiri tahun... fb.me/5DXWTV9H9 20 hours ago
  • Sekarang pas tengah hari ni di Tanah Betawi cuacenye agék panas bedengkang. Ibarat kate sinar mateharinye tu pas... fb.me/8nCDqJXoa 4 days ago
  • Tak can lah Pasukan Bombe Jakarta ni, dah seharian madamkan api kebakaran tak udah-udah, dah sekitar 18 jam dah... fb.me/2SuX9Pbeq 5 days ago
  • Kalau kitak-kitak ade yang pacak, tolong ga' dirancangkan satu patong manusie, kepala'nye pakai kepala' Wak... fb.me/4hlXgpRVA 5 days ago

%d blogger menyukai ini: