Taubat

2 Maret 2009 at 10:22 AM 2 komentar


Kita sering berdoa yang intinya meminta kepada Allah dan bermunajat kepada-Nya agar kita senantiasa bertaubat. Bahkan dalam doa yang sering kita panjatkan itu, yaitu “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah wallahu akbar” oleh Imam Al-Ghazali dikatakan merupakan kalimat-kalimat yang paling mulia dan juga selalu diucapkan oleh Rasulullah.

Ada riwayat yang mengatakan, bahwa Aisyah istri Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau ya Rasulullah selalu mengucapkan kalimat itu? Mengapa engkau selelu bertaubat? Bukankah engkau telah dijamin tidak mempunyai dosa?”

Rasulullah pun menjawab, “Aku dijamin tak mempunyai dosa. Tetapi aku kadang-kadang merasa menjadi berdosa. Aku malu kepada Allah yang telah memberikan segala-galanya kepadaku. Mengapa aku kemudian tidak memuji-Nya, padahal Allah telah memberikan kepadaku segala sesuatu.”

Kalau Rasulullah selalu mengucapkan kalimat-kalimat itu, mengapa kita tidak? Kalau Rasulullah masih mau bertaubat, mengucapkan kalimat “astaghfirullaahal ‘azim”, mengapa kita tidak?

Allah berfirman:

Wa saari’uu ilaa maghfiratin min rabbikum wa jannatin ‘ardhuhaas-samawaatu wal aardh u-‘iddat lil muttaqiin [Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,] (Q.S. Ali Imraan: 133)

Mengapa Allah mengatakan “Wa saari’uu ilaa maghfiratin min rabbikum”, bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, cepat-cepatlah kalian semuanya bertaubat? Apakah maksudnya? Maksudnya, agar setiap setelah kita melakukan suatu perbuatan dosa, kemudian kita sadar, maka cepatlah pada saat itu juga meminta ampun kepada Allah, jangan ditunda-tunda. Misalkan, ketika kita berdusta, segeralah mengucapkan “astaghfirullah”. Dan Allah mengatakan, bahwa perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus dosa.

Ada suatu riwayat mengenai seorang penjual kurma yang hidup pada masa Rasulullah. Diriwayatkan, bahwa si penjual kurma tersebut waktu itu agak sulit mendapatkan kurma yang baik. Ketika itu di tokonya banyak yang antri untuk membeli kurmanya, beberapa di antaranya adalah perempuan. Pada saat tiba giliran seorang perempuan yang muda dan cantik ingin membeli, perempuan itu menanyakan, adakah kurma yang baik? Si penjual kurma menanyakan bahwa kurma yang dimaksud itu ada, tetapi di dalam. Si pedagang mengatakan kepada si perempuan untuk menunggu sebentar setelah ia selesai melayani pembeli yang lain.

Setelah si penjual kurma selesai melayani pembeli yang lain, perempuan itu pun datang lagi menanyakan kurma yang dimaksud kepada si penjual kurma. Lalu si penjual kurma pun mengajak si perempuan ke dalam. Setelah sampai di dalam, yaitu di belakang toko, si penjual kurma kemudian mencium perempuan itu. Rupanya si penjual kurma sengaja mengatakan bahwa kurma yang dimaksud ada di dalam atau di belakang, tak lain agar ia bisa mencium perempuan tersebut.

Setelah kejadian itu, si penjual kurma pun menyesal akan perbuatannya. Ia pun datang kepada Rasulullah menceritakan perihal perbuatannya itu. Rasulullah menanyakan, apakah perbuatan itu dilakukannya dengan sadar. Dijawab oleh si penjual kurma, bahwa memang perbuatan tersebut dilakukannya dengan sadar. Ditanyakan lagi oleh Rasululah, apakah perbuatan tersebut didorong oleh hawa nafsu. Si penjual kurma menyatakan, bahwa memang benar perbuatannya tersebut didorong oleh hawa nafsu. Rasulullah kemudian mengatakan, kalau begitu, si penjual kurma harus bertaubat, yaitu dengan cara berwudhu’, kemudian salat dua rakaat. Sewaktu sujud, maka perlamalah sujud, dan kalimat “astaghfirullah” diulangi sampai seratus kali.

Setelah itu, turunlah ayat yang menyatakan:

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S. Huud: 114)

Jadi, kebaikan berupa salat dua rakaat akan menghapuskan dosa orang yang sungguh-sungguh ingin bertaubat. Karena itulah, kita diminta untuk banyak-banyak melakukan salat sunnat, karena salat sunnat itu bisa menghapus dosa. Di dalam ajaran agama kita disebutkan, bahwa semua ibadah yang kita lakukan akan dapat menghapus dosa kita.

Sehingga kalau kita hitung-hitung, sebenarnya dosa kita sudah dihapus oleh Allah, karena kita sungguh-sungguh bertaubat. Dalam satu tahun, antar ramadhan ke ramadhan dosa kita terhapus. Antar bulan yang setiap bulan kita melakukan ibadah-ibadah tertentu. Antar Jum’at kita lakukan salat Jum’at. Antar hari kita selalu salat. Selain salat, kita juga berpuasa, bersedekah, dan ibadah-ibadah dan amal kebaikan lainnya. Jadi, sebenarnya kita ini sudah bersih dari dosa.

Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Ya Imam, mengapakah orang takut mati?”

Dijawab oleh Imam Al-Ghazali, “Orang takut mati karena dia berpikir dosanya masih banyak.”

Karena itulah, orang yang sudah yakin bahwa dosanya sudah terhapus, yang sudah yakin dosanya sudah tak ada lagi, maka ia takkan takut mati. Seperti Al-Hallaj ketika akan dipancung (dihukum mati), dia ditanya, “Wahai Al-Hallaj, apa yang kau inginkan di akhir hidupmu?”

Jawab Al-Hallaj, “Segera pancung aku, supaya aku bisa secepatnya menemui kekasihku, supaya aku segera bisa menemui Allah.”

Seperti itulah yang dikatakan oleh Al-Hallaj. Ia sudah tak takut lagi mati, karena ia yakin dosanya sudah dihapus oleh Allah.

Tanyalah diri kita masing-masing, apakah kita sudah berani mati? Jika kita belum berani mati, berarti masih ada dosa pada diri kita. Karena itu, rajin-rajinlah beribadah dan beramal baik, supaya kita bisa sampai pada suatu keyakinan, bahwa jika kita mati, maka kita akan masuk ke dalam surga.

Wa saari’uu ilaa maghfiratin min rabbikum, (bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu/segeralah bertaubat). Menurut para ulama tafsir, kita diperintahkan untuk segera bertaubat, karena manusia itu banyak yang lupa dosanya, banyak yang tidak tahu dosanya, sehingga lupa untuk bertaubat. Karena ada orang yang tidak mau segera bertaubat, maka Allah pun mengingatkan kita untuk segera bertaubat.

Berapakah besarnya surga? Bukankah kita semuanya ingin masuk surga? Kalau semua kita ini adalah penghuni surga, lantas siapakah penghuni neraka? Isi neraka adalah orang-orang yang tidak beriman, dan masih banyak orang yang tidak beriman dibandingkan dengan orang yang beriman. Kalau semua orang Islam masuk surga, lantas di manakah tempatnya?

Jika kita cermati informasi dari Alquran, ternyata surga itu luas sekali. Disebutkan: wa jannatin ‘ardhuhaas-samawaatu wal ardh (surga yang luasnya seluas langit dan bumi). Kata “as-samawaat” artinya adalah banyak langit, ataupun dapat juga diartikan banyak planet. Jadi, luasnya surga itu lebih luas dibandingkan planet-planet, bintang-bintang, dan galaksi-galaksi yang ada. Karena itulah, tak usah khawatir jika nantinya kita tidak mendapatkan tempat di surga. Kita pasti bisa masuk surga, asalkan kita cepat-cepat bertaubat.

Berkaitan dengan taubat adalah dosa. Menurut para ulama, secara umum pada dasarnya dosa itu ada dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar ada lagi yang terbesar, yaitu musyrik (menyekutukan Allah). Para ulama berbeda pendapat mengenai musyrik. Ada yang berpendapat bahwa musyrik tidak diampuni oleh Allah. Sedangkan pendapat yang lain menyatakan, mengapa tidak diampuni, buktinya sahabat-sahabat Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar ibn Khattab, dan Utsman ibn Affan itu sudah dinyatakan diampuni oleh Allah, padahal mereka semuanya pernah menjadi musyrik. Jadi, dosa syirik tetap diampuni oleh Allah.

Dosa besar yang lain adalah: mendurhakai orang tua, dusta di pengadilan, memakan makanan yang haram, berzina, membunuh, dan mengambil hak orang lain (mencuri). Dosa besar takkan diampuni dengan hanya mengeluarkan sedekah, ataupun melakukan salat sunnat, melainkan dosa besar akan diampuni apabila orang tersebut memang benar-benar bertaubat dan bertekad tidak mengulanginya lagi (taubatan nasuha). Sedangkan dosa-dosa kecil tak bisa kita hindari, di mana-mana kita temui dosa kecil ini, tapi di mana-mana kita temukan kesempatan untuk beribadah dan bertaubat. Dosa-dosa kecil ini bisa terhapus dengan salat, berwudhu’, dan ibadah lainnya. Karena itulah, kita harus bersegera untuk taubat.

Niat adalah suatu hal yang paling penting. Jika kita sudah berniat untuk bertaubat, maka hal tersebut sudah dianggap suatu kebaikan. Berkaitan dengan ini. ada suatu riwayat yang kiranya bisa kita ambil hikmahnya. Ada ulama yang mengatakan bahwa riwayat ini merupakan salah satu kisah-kisah Israiliyat. Riwayat seperti ini oleh Imam Al-Ghazali dibolehkan untuk berdakwah.

Menurut riwayat ini, konon ada dua orang bersaudara yang ditinggal oleh kedua orang tuanya di dalam satu rumah yang berlantai dua. Yang tua tinggal di atas, sedangkan yang muda tinggal di bawah. Pekerjaan kedua saudara ini sangat berbeda (saling berbeda). Yang muda pekerjaannya adalah mengkonsumsi narkoba, minum khamar, dan beberapa perbuatan dosa lainnya. Sedangkan yang tua begitu shalehnya, kalau malam salat tahajjud, selalu berpuasa Senin Kamis, dan juga ibadah-ibadah lainnya.

Pada suatu ketika kedua saudara ini bertemu. Yang tua berkata kepada adiknya (yang muda), “Adikku, segeralah engkau bertaubat. Sudah terlalu lama engkau berbuat dosa. Apa yang kau rasakan dengan perbuatan yang kau lakukan itu? Kau tidak merasakan nikmatnya.”

Yang muda kemudian berkata, “Abangku, kau tidak tahu rasanya khamar, kau menyiksa diri tidak tidur malam. Cobalah kau minum khamar dan tidur pulas di malam hari. Engkau hanya memiliki istri satu orang. Engkau tidak tahu nikmatnya jika memiliki istri lebih banyak.”

Berulang-ulang kali mereka bertemu dan mengatakan hal yang sama terhadap satu sama lain. Hingga pada suatu ketika yang muda kemudian berpikir, rupanya benar juga apa yang dikatakan oleh abangnya. Sedangkan yang tua kemudian juga berpikir, barangkali benar juga apa yang dikatakan oleh adiknya. Karena itulah, yang muda kemudian mau sadar, sedangkan yang tua mau bersenang-senang dan melakukan kemaksiatan.

Menurut riwayat ini, yang muda niat ke atas, sedangkan yang tua niat ke bawah. Kebetulan takdirnya, kedua-duanya meninggal di tengah tangga. Menurut riwayat ini, malaikat memeriksa kedua bersaudara ini. Untuk yang di atas (yang tua) oleh Malaikat Ridwan (penjaga surga) dikatakan bahwa yang tua itu adalah haknya. Sedangkan yang di bawah (yang muda) oleh Malaikat Malik (penjaga neraka) dikatakan bahwa itu adalah haknya.

Persoalan ini kemudian dibawa kepada malaikat yang utama, dan dikatakan tidak terhadap apa yang dikatakan oleh kedua malaikat itu. Oleh Malaikat yang utama dikatakan, agar Malaikat Ridwan mengambil yang muda, sedangkan Malaikat Malik mengambil yang tua. Hal ini karena yang tua sudah berniat untuk berbuat jahat, sedangkan yang muda sudah berniat untuk bertaubat. Jadi, yang tua dimasukkan ke neraka, sedangkan yang muda dimasukkan ke surga.

Persoalan ini kemudian dibawa kepada Allah. Kemudian Allah memutuskan, cobalah ukur tangganya. Yang mana lebih banyak anak tangganya. Kebetulan yang muda enam anak tangga, dan yang tua lima anak tangga. Kemudian Allah putuskan, bahwa kedua-duanya dimasukkan ke dalam surga. Hal ini karena yang tua baru turun pada lima anak tangga yang ini belumlah setengah, jadi belumlah dinilai untuk berbuat jahat. Sedangkan yang muda sudah naik pada enam anak tangga yang berarti sudah lebih dari setengah, sehingga itu dinilai adalah untuk berbuat baik.

Dari sinilah katanya hadis yang mengatakan “innamal a’malu bin niat” (amal itu ditentukan oleh niat). Dan Allah itu Ghafurun Rahim (Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Karena itulah, jangan takut bahwa kita tidak diampuni oleh Allah. Selama niat kita untuk bertaubat, insya Allah kita akan diampuni.

Apakah yang dimaksud dengan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,”? Apakah memang surga itu sudah dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa? Kalau memang surga itu sudah dipersiapkan, berarti surga itu sudah ada? Surga itu memang sudah ada. Lantas, bagaimanakah surga itu? Bisakah kita membayangkan surga?

Dalam suatu hadits qudsi dinyatakan:

Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak terbersit dalam hati manusia.

Menurut hadits qudsi ini, bahwa Allah telah mempersiapkan kepada hamba-Nya yang shaleh apa yang tak pernah dilihat oleh mata. Misalnya kita pernah melihat suatu rumah yang indah, lalu kita katakan surga seperti itu, maka ternyata surga lebih indah dan lebih hebat dari itu. Apa yang pernah kita dengar, misalnya suara yang merdu, lalu kita katakan bahwa suara istri kita di surga nanti seperti itu. Ternyata, apa yang bisa didengar di surga lebih indah dari yang kita perkirakan itu. Tidak juga terlintas di dalam hati manusia. Jadi, apa pun yang kita bayangkan dan pikirkan tentang surga, maka surga lebih baik dari itu.

Di dalam Alquran juga disebutkan:

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al-Baqarah: 25)

Surga itu luar biasa besar, agung, dan indahnya. Tidak ada yang menyerupai surga. Ada yang mengatakan, bahwa harta kekayaan adalah surga dunia, maka itu tidak ada artinya bila dibandingkan denga harta kekayaan yang akan diberikan kepada orang yang menghuni surga. Istri yang cantik surga dunia, maka tak ada artinya jika dibandingkan dengan istri yang akan diberikan kepada penghuni surga. Suami yang tampan surga dunia, maka tak ada bandingannya jika dibandingkan dengan suami yang akan diberikan kepada penghuni surga. Surga adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan kita berpikir dan kemampuan kita membayangkan dan mengkhayalkannya.

Bagaimanakah caranya bertaubat yang benar, bagaimanakah supaya kita bisa menjadi penghuni surga?

Firman Allah:

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Ali Imraan: 134)

Siapakah penghuni surga? Penghuni surga ialah orang-orang yang mendermakan hartanya dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit. Misalkan, kalau kita lapang, maka berilah sumbangan (sedekah) sebanyak 20 ribu, dan ketika kita sempit, maka bersedekahlah sebanyak 5 ribu. Cobalah kita niatkan pada diri kita masing-masing, bahwa niat kita menyumbang itu karena kita ingin menjadi penghuni surga, dengan niat untuk bertaubat. Karena memberi nafkah, menyumbangkan untuk masjid misalkan, itu sama halnya dengan memberikan kepada Allah. Siapa yang memberi sumbangan untuk Allah, maka Allah akan melipatgandakan.

Penghuni surga adalah orang yang bisa menahan amarahnya. Inilah yang paling sulit dilakukan. Di dalam suatu riwayat diceritakan, pada suatu hari Ali ibn Abi Thalib berperang menghadapi seorang kafir Quraisy. Ketika itu pedangnya sedang terhunus yang tinggal dipancungkan saja ke leher musuhnya. Tetapi si musuh tiba-tiba meludahi muka Ali. Karena itulah Ali pun berhenti, tak jadi memancung orang tersebut. Ada sahabat yang bertanya kepada Ali, mengapa ia tidak jadi memancung, padahal tinggal sekali tebas saja, maka matilah musuhnya itu. Dijawab oleh Ali, bahwa ia takut jangan sampai memancung musuhnya itu karena ia marah yang disebabkan musuhnya itu meludahnya.

Jadi, yang paling susah adalah menahan amarah. Jika kita sudah bisa menahan amarah, insya Allah kita akan menjadi penghuni surga.

Selanjutnya, penghuni surga adalah orang yang memberikan maaf. Berhubungan dengan hal ini, patut dicermati bahwa tradisi yang sering kita lakukan pada waktu hari raya mungkin adalah tradisi yang keliru. Jika hari raya, kita sering mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Apakah pernyataan ini tepat? Pernyataan ini tidak salah, namun agak kurang tepat. Pertanyaanya, yang penting dan yang terbaik itu memohon maaf atau memberikan maaf? Yang penting dan yang terbaik itu adalah memberikan maaf. Kalau mau menjadi penghuni surga, maka usahakanlah untuk memberikan maaf. Ini adalah sesuatu yang berat untuk dilakukan.

Dikatakan oleh para ulama, bahwa orang yang berbuat dosa itu berarti sudah menzalimi dirinya sendiri. Jika tidak salat, tidak memberi maaf, berarti menzalimi dirinya sendiri. Karena itu, marilah kita berusaha untuk tidak berbuat dosa dan selalu bertaubat.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah duduk di masjid. Waktu itu beberapa sahabat juga ada di masjid. Tiba-tiba ada seorang pria yang masuk ke dalam masjid. Pria tersebut kemudian salat tahiyyatul masjid. Sebelum pria tersebut salat, Rasulullah mengatakan bahwa pria tersebut termasuk ke dalam golongan penghuni surga. Rasulullah berkata seperti itu sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya di dalam hatinya dan tidak mau bertanya kepada Rasulullah, siapakah pria tersebut sehingga oleh Rasulullah dimasukkan ke dalam golongan penghuni surga. Apakah sebabnya Rasulullah mengatakan seperti itu?

Ada satu orang yang bernama Abdullah ibn Amr, dia datang ke rumah orang itu. Abdullah ibn Amr mengatakan kepada orang itu bahwa ia adalah orang dari jauh yang bermaksud menumpang menginap di rumahnya. Ternyata orang terebut menerima Abdullah ibn Amr dengan begitu terbukanya. Waktu malam, Abdullah ibn Amr terbangun. Dilihatnya orang tersebut tertidur pulas tidak bangun tengah malam untuk salat tahajjud. Pada waktu pagi setelah salat Shubuh diperhatikan Abdullah ibn Amr bahwa orang tersebut pergi kerja. Kemudian pada waktu Dzuhur dan Ashar orang tersebut kembali ke rumah. Pada waktu salat Maghrib juga seperti biasa.

Pada waktu hari ketiga, yaitu pada hari Senin, Abdullah ibn Amr pun bertanya kepada orang itu, “Apakah anda sedang berpuasa?”

Dijawab oleh orang tersebut, bahwa ia tidak sedang berpuasa. Abdullah ibn Amr masih bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa orang tersebut masuk ke dalam golongan penghuni surga. Tidak salat malam, tidak puasa Senin Kamis, namun apakah gerangan ibadahnya sehingga dijamin masuk surga. Akhirnya Abdullah ibn Amr berkata kepada orang itu, bahwa dia dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Orang tersebut kemudian mengucapkan alhamdulillah ketika mendengar perkataan Abdullah ibn Amr.

“Ibadah apakah sebenarnya yang anda lakukan sehingga dijamin masuk surga oleh Rasulullah?” tanya Abdullah ibn Amr.

“Kau lihatlah sendiri apa yang aku kerjakan. Aku tidak mempunyai uang banyak untuk bersedekah, tidak berpuasa Senin Kamis, tidak selalu salat tahajjud (salat malam),” kata orang tersebut.

Abdullah ibn Amr kembali bertanya, “Wahai saudaraku, tolong katakan kepadaku ibadah apa yang anda lakukan sehingga anda dijamin masuk surga?”

“Aku tidak pernah iri hati, tak pernah merasa kecewa, tak pernah berputus asa kepada rahmat Allah,” perjelas orang itu.

Ternyata itulah kiranya yang menyebabkan orang tersebut termasuk ke dalam golongan orang yang dijamin masuk surga. Iri hati, curiga, putus asa, adalah faktor yang menyebabkan orang masuk neraka. Jadi, yang penting adalah bagaimana supaya kita mempunyai hati bersih kepada sesama kita, dengan hal ini dijamin kita akan masuk surga. Cobalah ukur pada diri kita sekarang, apakah kita masih memiliki rasa iri hati kepada orang lain? Apakah pernah kita bertanya mengapa si fulan itu mempunya mobil baru? Apakah kita pernah berpikir, mungkin saja dia mendapatkan semua itu karena korupsi?

Karena itu, bersihkanlah hati kita, sucikan jiwa kalau kita ingin masuk surga. Dan selalulah cepat-cepat bertaubat. Memang banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk bertaubat. Bagaimanakah cara kita bertaubat? Pada umumnya para ulama berpendapat, bahwa cara bertaubat itu ialah dengan mengucapkan kalimat-kalimat istighfar. Karena itulah, kalau kita mau bertaubat, kalau kita mau berdoa, ucapkanlah terlebih dahulu istighfar di dalam hati kita. Setelah beristighfar, barulah kita berdoa.

Rasulullah mengatakan, bahwa kalimat “subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar” itu ringan diucapkan tetapi berat timbangannya, karena di hari akhir nanti amal ibadah kita akan ditimbang. Jika kita banyak mengucapkan kalimat ini, maka timbangan amal kebaikan kita akan berat.

Oleh karena itu, janganlah kita menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Marilah kita segera bertaubat. Janganlah tunda-tunda taubat. Dan sucikanlah hati kita. []

Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Umar Shihab, M.A. pada tanggal 15 Februari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Iklan

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , , .

Syukur dan Sabar Obsesi pada Keadilan

2 Komentar Add your own

  • 1. joko  |  4 Juni 2009 pukul 3:49 AM

    jadi dosa syirik dapat diammpuni?

    Suka

  • 2. Hanafi Mohan  |  4 Juni 2009 pukul 4:57 AM

    Allah itu Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena itulah dosa syirik pun insya Allah akan tetap diampuni-Nya, asalkan orang yang telah syirik itu memang benar-benar bertaubat (taubatan nasuha). Berprasangka baiklah kepada Allah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 434,207 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: