Obsesi pada Keadilan

3 Maret 2009 at 6:58 PM Tinggalkan komentar


Salah satu bahasa politik yang sangat dominan ialah keadilan. Marshall Hodgson ambisius sekali untuk menulis sejarah dunia, tetapi dia mempunyai wawasan yang barangkali untuk orang lain agak aneh, bahwa pusat sejarah dunia adalah sejarah Islam. Karena itu, sebelum menyusun sejarah dunia, dia menyusun sejarah Islam terlebih dahulu. Dalam buku The Venture of Islam (usaha keras perjuangan Islam) sesungguhnya dia ingin mengatakan bahwa Islam itu membawa suatu misi the challenge of Islam, yakni menegakkan keadilan. Hal ini terlihat dari bukunya yang dimulai dengan kutipan Al-Quran, Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar serta beriman kepada Allah (Q., 3: 110). Ayat ini menimbulkan suatu etos di kalangan umat Islam yang didorong oleh kewajiban untuk menegakkan keadilan. Jadi, menurut Hodgson, Islam memperoleh keberhasilan yang sangat luar biasa. Namun demikian, seperti dikatakan Fazlur Rahman, Islam menjadi korban dari keberhasilannya sendiri.

Jelas bahwa keadilan menjadi obsesi umat Islam. Tetapi, apa yang disebut keadilan itu bermacam-macam. Harun al-Rasyid, misalnya, diberi gelar al-Rasyîd yang berarti adil karena dia dipandang sebagai pemimpin yang memang adil. Tetapi, seandainya Harun al-Rasyid menjadi raja kita sekarang, barangkali setiap hari kita melakukan demonstrasi. Kalau menurut ukuran sekarang, Harun al-Rasyid adalah pemimpin yang sangat zalim, karena ia meng¬gunakan uang negara semaunya. Sebagai contoh, ada seorang penyair tiba-tiba membaca syairnya, lalu ia ambilkan uang dari kas negara, seperti dikisahkan dalam Seribu Satu Malam.

Pemerintahannya juga diwarnai kemewahan yang luar biasa. Sebagai ilustrasi, film Mesir mengenai Rabi’ah al-‘Adawiyah. Orang-orang membayangkan bahwa sebuah negara Islam seperti yang dialami Harun al-Rasyid bersih sekali, tidak ada minuman keras dan sebagainya. Padahal, pekerjaan para pejabatnya sehari-hari adalah minum-minum. Sekalipun film itu adalah sebuah rekonstruksi, tetapi karena orang-orang Mesir terlibat baik dengan ini semua, maka mereka berusaha memberikan ilustrasi dengan sebaik-baiknya. Jadi, keadilan pun kemudian terikat oleh ruang dan waktu. ***

Sumber:
Sumber: Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008

Entry filed under: Ensi O - P, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: .

Taubat Obskurantisme Intelektual

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: