Qadariyah-Jabariyah

5 Maret 2009 at 9:14 AM 2 komentar


Dalam sejarah pemikiran Islam klasik ada kontroversi qadarîyah—jaba­rîyah, yang dikaitkan dengan masalah “takdir” (taqdîr, sebagai istilah Ilmu Kalam) dan “ikhtiar” (ikhtiyâr). Dalam hal ini penting sekali kita telaah bahwa sesung­guhnya firman Allah yang dijadikan acuan untuk faham takdir atau penentuan nasib (predeterminism) itu berbicara tentang hal yang su­dah terjadi pada seorang manusia, baik atau pun buruk, dan meng­ajarkan agar manusia mene­rima hal yang sudah terjadi itu sebagai sesuatu yang sudah lewat sesuai dengan kehendak Allah, yang harus diterima dengan penuh ketulusan dan pasrah, tanpa keluh kesah jika ditimpa ke­ma­langan, dan tanpa menjadi congkak jika mengalami keberhasilan (Q., 57:23).

Sedangkan untuk hal yang belum terjadi, yaitu sesuatu yang masih berada di masa depan, maka sikap yang diajarkan agama bu­kanlah kepasifan menunggu nasib, melainkan keaktifan me­milih (makna kata Arab ikhtiyâr) yang terbaik dari segala kemungkinan yang tersedia, demi men­capai tujuan yang baik. Iman dan taqwa dikaitkan dengan keaktifan me­nyiap­kan diri meng­hadapi ma­sa depan, dan bukannya sikap pasif dan nerimo karena menunggu nasib. Pribadi yang ber­iman dan bertaqwa harus menyiapkan diri untuk hari esok (Q., 59:18).

Dalam rangka ikhtiar itu m­a­nu­sia diperintahkan untuk mem­per­hatikan hukum-hukum (dari Tuhan) yang berlaku pada alam secara keseluruhan (yang dalam Al Qurân hukum-hukum itu di­sebut taqdîr — Lihat, Q., 25:2, 54:49, 6:96 dan 36:38), seperti juga dipe­rin­tahkan agar manusia mem­per­hatikan hukum-hukum (dari Tuhan) yang berlaku pada masya­rakat manusia dalam sejarah (yang dalam Al Qurân hukum-hukum ini disebut Sunnatullâh — Lihat Q., 33:38, 33:62, 35:43).

Hasil pengamatan manusia kepada alam dan sejarah mem­buah­kan ilmu pengetahuan, ya­itu, kurang lebih, pengetahuan alam dan pengetahuan sosial. Dengan ilmu inilah manusia memiliki kemampuan melakukan ikhtiar atau pilihan alternatif yang sebaik-baiknya guna mencapai efektifitas dan efisiensi kerja yang setinggi-tingginya. Maka ilmu merupakan faktor keunggulan yang amat pen­ting. Bersama dengan iman yang men­dasari motivasi kerja (karena ter­kait dengan keinsafan akan mak­na dan tujuan hidup yang tinggi di atas), ilmu merupakan faktor yang membuat seseorang atau kelompok menjadi lebih unggul daripada yang lain (Q., 58:11).

Dari hal di atas itu jelas bahwa kemajuan suatu bangsa atau masya­ra­kat akan mempunyai dampak positif kepada peningkatan etos kerja para warganya. Sebab, dalam kemajuan suatu bang­sa itu tentu langsung atau tidak langsung ter­bawa serta perkembangan dan ke­majuan ilmu. Dan ilmu itu, da­lam ungkapan yang lebih operatif, tidak lain ialah kefahaman manusia akan situasi, kon­disi dan ling­kungan yang terkait dan mem­pengaruhi kerjanya untuk berhasil atau tidak. Ilmu memfasilitasi kerja, dan fasi­li­tas itu, pada urutannya, mem­per­tinggi motivasi kerja dan mem­perkuat etos kerja. Sebagaimana disabdakan Nabi Saw., ilmu, setelah iman, adalah jaminan utama keberhasilan di du­nia, di akhirat, dan di dunia-akhirat sekaligus.

Sumber:
Sumber: Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008

Entry filed under: Ensi Q - S, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: , .

Informasi Alquran mengenai Kehidupan Manusia di Alam Arham (rahim ibu) Qubbat al-Shakhrah: Diilhami Al-Quran

2 Komentar Add your own

  • 1. Nur  |  24 Desember 2009 pukul 11:04 AM

    Aslkm,sy nk tahu psl qadariyyah mlalaui ahli pmikiran ulama @ mazhab dgan lbh mdalam lg.pbezaan pmikiran stiap ulama mgenai qadariyyah?

    Suka

  • 2. benzoz  |  21 Oktober 2010 pukul 2:48 PM

    terima kasih telah mmbantu tugas saya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: