Fleksibilitas Kehidupan

13 Maret 2009 at 3:11 PM Tinggalkan komentar


Fleksibilitas kehidupan bukan berarti hidup tanpa prinsip, dan bukan pula hidup tanpa memiliki pendirian. Kehidupan yang fleksibel artinya adalah hidup dengan penuh seni. Seni kehidupan itu dibutuhkan untuk memperoleh kesuksesan di dalam pergaulan, seperti bergaul sesama manusia, bergaul sesama makhluk Allah, dan yang paling penting adalah berkomunikasi aktif dengan Allah. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk merespon (menyesuaikan diri) pada situasi yang baru, ataupun berubah untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Dan yang patut diingat, semua itu dilakukan tanpa meninggalkan karakter kita.

Di satu sisi kita mempertahankan karakter, dan pada sisi yang lain hidup kita menjadi fleksibel. Contohnya adalah Rasulullah. Jika beliau bergaul dengan anak-anak kecil, semua anak kecil itu menganggap bahwa Nabi Muhammad adalah teman bermainnya, seperti tak ada jarak antara diri anak tersebut dengan Rasulullah. Beliau tidak pernah melewati anak kecil tanpa mengusap-usap kepala anak itu.

Janganlah kita pernah membenci anak-anak, sekalipun bukan anak kita, bahkan sekalipun anak itu nakal. Suatu Qaul Ulama menyatakan, bahwa teriakan-teriakan anak-anak di masjid sama dengan doa. Karena itu, janganlah kita mengusir anak-anak dari masjid, sekalipun anak tersebut berlaku nakal. Dengan alasan bahwa mereka itu bisa mengganggu orang yang sedang salat bukan berarti kita bisa semaunya mengusir mereka. Tapi bagi orang tua dari si anak juga harus mempunyai perasaan, jangan terlalu egois, dan usahakanlah agar anaknya jangan nakal di masjid, kecuali memang hal tersebut berada di luar perkiraan si orang tua.

Mungkin seperti inilah fleksibilitas hidup kita, yaitu dalam batas mana kita toleransi dan dalam batas mana kita sendiri sebagai orang tua memiliki pengertian. Jadi, bukan si anak itu yang menyesuaikan dengan kita, melainkan kitalah yang menyesuaikan diri dengan mereka. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk merespon (menyesuaikan diri) pada situasi yang baru.

Orang tua yang ditakuti oleh anak-anak, maka sebetulnya itu bukanlah orang tua yang ideal. Orang tua yang ideal adalah seperti Rasulullah. Kalau Rasulullah lewat, maka berebutanlah anak-anak mencium tangannya. Inilah fleksibilitas hidup, yaitu tanpa harus meninggalkan karakter. Dia tetap berwibawa, tapi pada sisi lain dia juga sayang terhadap anak-anak.

Fleksibilitas adalah kemampuan untuk meninggalkan apa yang tidak berhasil dan menemukan apa yang berhasil. Sudah tahu bahwa gaya kehidupannya yang seperti itu ternyata tidak menyenangkan orang lain, maka dia mempunyai kemampuan untuk menyetel dirinya sendiri, bahwa kehidupan yang introvert (mementingkan diri sendiri) itu ternyata tidak selamanya menguntungkan dirinya. Kadang-kadang sesekali kita perlu ekstrovert.

Ada orang yang begitu gampang bergaul, begitu gampang mendapatkan teman, dan mau menyisihkan waktunya untuk memperhatikan orang lain, sekalipun orang yang diperhatikan itu tidak memberikan keuntungan terhadap dirinya. Bagi kita pada umumnya, jika orang tersebut tidak memberikan sedikitpun keuntungan, biasanya kita takkan bertegur sapa dengannya. Tapi kalau kita ada kepentingan terhadap orang tersebut, maka berbagai cara kita lakukan untuk mendekatinya.

Orang yang memiliki fleksibilitas hidup, maka dia mampu menyisihkan waktunya itu bukan hanya kepada orang yang dia butuhkan, tetapi juga terhadap orang yang tidak ia butuhkan. Hal ini karena ia mengetahui, bahwa silaturahim terhadap orang tersebut adalah sangat mulia di sisi Allah. Hal ini tergambar misalkan pada saat ada tamu, sekalipun waktunya sudah mepet, atau dia tak ada waktu, tetapi dia tetap mempersilakan tamu tersebut untuk masuk ke rumahnya. Sebaliknya, sebagai tamu yang baik, maka juga harus memiliki pengertian terhadap tuan rumah yang baik seperti ini. Jangan menuntut orang lain untuk fleksibel, tetapi kita sendiri tidak fleksibel. Sehingga setiap kita harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kita masing-masing.

Fleksibilitas kehidupan adalah salah satu unsur utama dalam kehidupan yang sukses dalam dunia yang berubah. Di dunia yang cepat sekali perubahannya seperti sekarang ini, maka kita harus memiliki kepribadian yang elastis. Jika di kampungnya ia adalah bangsawan, maka janganlah berperilaku bangsawan di tempat lain. Tanpa harus meninggalkan kepribadian, kita bisa melakukan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri dan juga menguntungkan keluarga.

Sebetulnya ada unsur keangkuhan di dalam kebangsawanan. Keakuan, keangkuhan, dan egoisme genetik itu semestinya tidak ada di dalam diri seorang yang beriman. Nabi Muhammad itu terlahir dari keluarga bangsawan yang paling tinggi di lingkungan Arab ketika itu, yaitu Suku Quraisy, dan keluarga Rasulullah adalah bangsawan yang paling tinggi di Suku Quraisy.

Singkirkanlah yang tidak berfungsi. Segala sesuatu yang tidak berfungsi di dalam diri kita, apalagi hal tersebut merugikan diri kita, maka itu perlu disingkirkan. Tetapi yang perlu disingkirkan itu bukanlah karakter kita. Gaya hidup yang seringkali membuat kita terpojok adalah kebohongan. Berbohong bukanlah karakter, melainkan sifat-sifat tambahan yang melekat pada diri seseorang yang tidak ada gunanya dan itu harus ditinggalkan.

Gantilah perspektifnya. Misalkan, paradigma kita selama ini mungkin terlalu kaku dalam bergaul dan memilih-milih teman. Sepanjang itu tidak menguntungkan diri kita, maka kita ganti. Mungkin ada saatnya kita harus lebih banyak turun ke bawah. Sesekali mungkin kita berteman dengan orang biasa yang itu juga ada kenikmatannya tersendiri.

Bagi orang yang tinggal di kota, maka kadang menimbulkan suatu kecongkakan dan pandangan hidup yang sedikit agak angkuh. Karena itu, mudik (pulang kampung) sebenarnya memiliki manfaat untuk “mengecas” baterai kultural kita yang mungkin sudah terkontaminasi oleh perasaan egoisme di kota. Misalkan, ketika pulang kampung, mau tak mau terkadang kita mengeluarkan uang memberikan kepada teman-teman kita ataupun terhadap orang yang membutuhkan, yang mungkin uang sebanyak itu tak ada artinya bagi kita, tetapi bagi mereka besar sekali nilainya.

Karena itulah, sesekali kita juga harus masuk ke suatu wilayah tertentu yang sangat kontras dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini adalah salah satu kiat untuk membuat diri kita lentur di dalam pergaulan. Orang yang suka melakukan perjalanan ke mana-mana, apalagi hingga ke luar negeri, biasanya mereka membawa suatu kepribadian yang tersendiri. Orang yang selalu hidup di dalam “tempurung kultural”nya, tidak pernah menyeberang ke kultur yang lain, apalagi ke kultur negara-negara lain, biasanya orang tersebut egosentrisnya sangat tinggi.

Sebagai umat Islam di Indonesia, maka orang yang tak pernah hidup di dalam suatu daerah minoritas Islam, misalkan sehari-harinya hidup di Pulau Jawa yang mayoritas Islam, maka dia seakan-akan bisa seenaknya saja mendikte dan mengatur (walaupun itu hanya di dalam perasaannya). Dia bisa seenaknya mengatur bahwa rumah ibadah agama non Islam tak boleh dibangun di tempatnya, serta orang beragama lain tak boleh diberi kesempatan berbicara dan berpendapat.

Hal ini menunjukkan, bahwa ego-ego mayoritas lokalnya sangat kuat, sehingga kelompok-kelompok minoritas itu seperti tak ada tempat di hatinya. Akan sangat berbeda jika kita pernah hidup di suatu tempat yang di situ agama Islam adalah agama minoritas. Di tempat tersebut akan terasa agama kita menjadi sangat berharga. Ketika di daerah mayoritas Islam seperti di Jakarta, mungkin ia akan menghindar ketika ada yang mau membangun masjid. Tetapi ketika berada di daerah yang minoritas Islam, mungkin ia akan menjadi orang yang fanatik terhadap Islam, malahan mungkin ia akan banyak menyumbang jika ada yang mau membangun masjid.

Karena itulah, perlu ada situasi batin seperti ini. Agama akan terasa begitu berharga ketika kita berada di suatu tempat yang di situ agama kita minoritas. Demikian juga ketika kita melihat agama selain Islam, mengapa mereka begitu kompak? Karena mereka bersatu, mereka ditantang oleh lingkungannya. Jadi, dengan melakukan perjalanan ke luar dari lingkungan kita, maka akan memberikan kearifan terhadap diri kita. Alquran mengatakan:

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. (Q.S. Al-An’aam: 11)

Jadi, semakin banyak kita berjalan, maka akan semakin bertambah kearifan itu.

Peliharalah kemampuan untuk mengubah apa yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Jika kita melewati perubahan, maka kita akan terus maju. Jangan pernah merasa diri kita maju. Ketika kita merasa diri ini maju, maka kemungkinan akan menimbulkan efek negatif. Jangan pernah sadar bahwa kita adalah ahli ibadah. Jika hal itu muncul (merasa diri kita maju), maka akan ada dampaknya di dalam diri kita. Yang paling bagus adalah kita maju, tetapi kita tidak merasa maju. Semakin meningkat kualitas spiritual kita, maka kita semakin tak merasakan adanya peningkatan itu. Kalau kita sadar dengan apa yang kita lakukan, maka biasanya itu akan menimbulkan kecongkakan. Tetapi, ketika kita sudah merasa tidak sadar kalau perbuatan yang kita lakukan adalah yang paling baik, maka itu adalah yang paling mahal.

Kalau orang melakukan kebaikan karena dia sadar bahwa itu adalah kebaikan, maka itu adalah sesuatu yang baik. Tetapi menjadi lebih baik lagi ketika ia melakukan kebaikan itu, tetapi ia tidak sadar bahwa yang dilakukannya itu adalah kebaikan. Ia menganggap itu sebagai rutinitas saja, padahal orang lain menganggap itu adalah suatu prestasi yang luar biasa.

Kalau kita merasakan bahwa yang kita lakukan itu adalah sesuatu yang luar biasa, maka biasanya terdapat riya’ di ujungnya. Tetapi kalau kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan itu adalah kebaikan, melainkan bagi kita itu hanya rutinitas, maka itulah yang mahal.

Kita terus maju, buatlah perubahan, maka kelak insya Allah kita justru akan berterima kasih pada diri sendiri karena melakukan hal tersebut. Tetapi kalau kita terlalu membebani diri kita harus melakukan sesuatu, maka itu tak lain adalah keterpaksaan yang biasanya hasilnya juga tidak baik. Kalau kita hidup mengalir seperti air, insya Allah kehidupan yang kita jalani akan terasa nikmat dan takkan ada dampak negatifnya. Kita menganggap bahwa kebaikan yang kita lakukan itu hanyalah rutinitas.

Ketika kita telah memutuskan ini saatnya untuk berubah, bagaimana kita memutuskan arah tindakan baru?

Kadang-kadang kita memutuskan untuk berubah, tapi tak ada penggantinya. Perubahan itu bukanlah merencanakan perubahan, ataupun bukanlah bertekad melakukan perubahan, melainkan perubahan itu adalah melakukan pengganti terhadap rutinitas masa lampaunya yang negatif.

Bukanlah suatu perubahan jika hanya menyetop dirinya untuk melakukan perbuatan yang lampau tapi tanpa menyiapkan perbuatan yang baru. Biasanya orang seperti ini tak ubahnya keluar dari mulut singa kemudian masuk ke dalam mulut buaya. Kita tidak ingin perubahan demi perubahan yang kita lakukan adalah dari sesuatu yang negatif ke sesuatu yang negatif lainnya. Hijrah yang kita lakukan itu harus dari yang negatif ke tempat yang positif, dari yang positif ke tempat yang lebih positif.

Sebaik apakah kita menangani perubahan itu?

Mengubah karakter, mengubah pendirian, dan mengubah kebiasaan dari yang negatif kepada yang positif itu memerlukan kecerdasan emosional. Bukanlah kecerdasan intelektual yang berlaku di sini. Selain kecerdasan emosional, juga adanya kecerdasan spiritual, karena dimotivasi dan dilegitimasi oleh keyakinan agama.

Apakah kita bertahan pada cara-cara lama dalam melakukan sesuatu, meskipun kita tahu bahwa itu tidak berhasil? Yang seperti ini bukanlah perubahan. Kita tahu bahwa sesuatu itu negatif, kita sudah bertaubat, sehingga pengganti taubatnya harus sudah dipersiapkan. Lebih baik menunda satu hari bertaubat untuk mempersiapkan pengganti taubatnya, dibandingkan bertaubat secara emosional tetapi tak memiliki persiapan.

Ada juga orang yang selalu melawan perubahan. Hal ini bisa menjadi positif, namun bisa juga menjadi negatif. Kita mungkin mengenal orang yang kaku dan tidak fleksibel yang menolak beradaptasi dengan keadaan baru. Itulah kadang-kadang yang menyebabkan seseorang menjadi teroris, yang itu karena terlalu kaku di dalam beragama. Ketika melihat ada sesuatu yang haram, maka ia akan melabraknya. Rasulullah tidaklah seperti itu. Perang pada masa Rasulullah adalah perang yang dilakukan pada saat terpaksa, yaitu ketika umat Islam diperangi. Tidak semua kebatilan itu harus diperangi seketika itu juga, namun ada pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan. Rasulullah selalu menghindari jatuhnya korban.

Terorisme itu terjadi karena dia tidak tahan terhadap perubahan yang begitu cepat. Mereka merasakan bahwa masa depan itu datang lebih awal sebelum waktunya, melampaui kecepatannya mempersiapkan diri, sehingga yang muncul kemudian adalah shock (goncangan atau kejutan). Dalam pandangan mereka, semetinya zaman itu datang 50 tahun lagi. Tetapi ternyata hal tersebut baru satu bulan sudah sampai di sini. Belum sempat menyiapkan diri terhadap perubahan itu, ternyata masa depan datang lebih awal, sehingga akibatnya adalah stress (ketegangan atau tekanan). Orang yang stress itu bisa melakukan tindakan teroris, atau bisa juga melakukan kebalikannya, yaitu tidak beragama, liberal, dan semacamnya.

Jadi, kekagetan budaya itu bisa melahirkan terorisme, bisa juga melahirkan liberalisme, masa bodoh, dan semacamnya. Yang lebih baik itu adalah fleksibilitas.

Apa jadinya kalau masyarakat kita disuguhi suatu perkembangan baru tanpa adanya persiapan dari kita?

Situasi internasional sekarang ini ditandai oleh begitu cepatnya perubahan, sementara agama kita kadang-kadang sulit untuk mengantisipasi cepatnya perkembangan perubahan itu. Akhirnya, kita sebagai umat beragama kalah cepat untuk melakukan perubahan dibandingkan dengan perubahan eksternal kita. Akibatnya, muncullah shock dan stress.

Perubahan sekarang ini di luar dugaan kita. Globalisasi itu banyak anak haramnya. Salah satunya adalah gelombang fanatisme, termasuk juga terorisme. Dalam hal ini, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Yang penting bagi kita adalah mempersiapkan perubahan itu sendiri di dalam lingkungan kita.

Dalam hal ini, Allah telah mendidik kita untuk mempersiapkan perubahan itu. Sebelum masuk Bulan Ramadhan, ada bulan-bulan sebelumnya untuk kita mempersiapkan mental. Jika pas saat masuknya Bulan Ramadhan kita baru menyiapkan diri untuk salat, beriman, puasa, dan sebagainya, maka kita juga kemudian menjadi shock.

Jadi, Agama Islam dalam hal ini sudah membuat suatu sistem persiapan di dalam diri kita sendiri. Oleh sebab itu, semestinya Umat Islam adalah umat yang paling gampang menyesuaikan diri dengan perubahan. Hal ini tak lain karena ajaran yang paling revolusioner di dalam masyarakat sepanjang sejarah dunia adalah Islam. Sehingga tak ada alasan bagi Umat Islam menjadi selalu terlambat mengantisipasi perubahan. Kitalah seharusnya sebagai Umat Islam yang memandu perubahan itu, bukanlah membeo terhadap perubahan.

Hidup itu menolak untuk mengikuti suatu rencana. Dia cair, dinamis, dan selalu berubah. Tetap fleksibel berarti memiliki keberanian dan keterbukaan untuk berubah bersamanya.

Kepuasan diri adalah musuh kesuksesan. Jika ada orang yang berorientasi pada kepuasan sesaat, maka itu adalah musuh kesuksesan. Kalau mau sukses, janganlah terhanyutkan dengan kepuasan sesaat. Seringkali kenikmatan sesaat menimbulkan malapetaka seumur hidup.

Ketika kita menjadi nyaman, berarti kita berhenti bergerak maju. Kita menyusut, berhenti, tertidur, dan melepaskan diri, sehingga menjadikan jiwa kita terlelap. Perubahan membangunkan kita, membuat kita berdiri, dan menarik kita, sehingga kita tersentak. Jangan pernah ada kata menunda-nunda, karena itu adalah kamusnya orang yang pemalas. []

*** Disarikan dari Pengajian Husnul Khatimah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 16 Februari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Entry filed under: Akidah Akhlak, Islamika. Tags: .

Tafsir al-Maraghi; Antara bi Ra’yi dan Sejarah Saddudz Dzara-i’ dan Al-Bara’ah Al-Ashliyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 397,009 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • - مع السلامة - عمري ماهنتك طول عمري عارفه بجد قيمتك ومقدراك وحافظه غيبتك واديك بتشكرني بطريقتك في القلب صورتك... fb.me/8vCuw58I2 17 hours ago
  • Trailer Film Dokumenter: "Tapak HMI Ciputat" Ihwal sejarah perjalanan HMI Cabang Ciputat, sejak berdiri tahun... fb.me/5DXWTV9H9 20 hours ago
  • Sekarang pas tengah hari ni di Tanah Betawi cuacenye agék panas bedengkang. Ibarat kate sinar mateharinye tu pas... fb.me/8nCDqJXoa 4 days ago
  • Tak can lah Pasukan Bombe Jakarta ni, dah seharian madamkan api kebakaran tak udah-udah, dah sekitar 18 jam dah... fb.me/2SuX9Pbeq 5 days ago
  • Kalau kitak-kitak ade yang pacak, tolong ga' dirancangkan satu patong manusie, kepala'nye pakai kepala' Wak... fb.me/4hlXgpRVA 5 days ago

%d blogger menyukai ini: