Madani

15 Maret 2009 at 7:25 PM Tinggalkan komentar


Dalam Hijrah, di antara tindakan pertama Rasulullah Saw. segera setelah tiba di Yatsrîb ialah mengubah nama kota itu menjadi Madînah, atau, lengkapnya, Madînat al-Nabî, “Kota Nabi”. Ini bisa dibandingkan dengan perbuatan Raja Constantin dari Byzantium yang memberi nama Constantinopel (Constantinopolis, “Kota Konstantin”) kepada kota yang didirikannya. Tetapi Nabi tidaklah bermaksud untuk sekedar mengabadikan nama beliau seperti maksud raja Eropa itu. Dengan mengubah nama kota Yatsrîb menjadi Madinah itu Nabi memaksudkan sesuatu yang jauh lebih mendalam.

Pertama-tama, perkataan “madînah” sendiri memang berarti “kota”. Selanjutnya, dari segi etimologis, perkataan itu berasal dari akar kata yang sama dengan perkataan “madaniyah” dan “tamaddun”, yang artinya “peradaban”, “civilization”. Maka secara harfiah “madînah” adalah tempat peradaban, atau suatu lingkungan hidup yang ber-”adab” (kesopanan, “civility”), tidak “liar”.

Dalam bahasa Arab, padanan istilah “madanîyah” ialah “hadlârah” (satu akar kata dengan perkataan “hâdlir” [Indonesia: “hadir”]) yang menunjuk kepada pengertian asal “pola hidup menetap di suatu tempat” (“sedentary”). Pengertian ini amat erat kaitannya dengan istilah “tsaqâfah”, suatu padanan dalam bahasa Arab untuk “budaya”, “culture”, tapi sesungguhnya juga mengisyaratkan pola kehidupan yang menetap di suatu tempat tertentu. Sebab peradaban dan kebudayaan, dalam arti idealnya, dapat diwujudkan hanya melalui pola kehidupan sosial yang menetap, “sedentary” (Inggris), tidak berpindah-pindah seperti dalam pola kehidupan kaum “nomad” (Inggris).

Oleh karena itu, konsep “madanîyah” tersebut akan menjadi lebih tajam pengertiannya jika kita letakkan dalam konteks pola kehidupan yang umum terdapat di Jazirah Arabia saat itu, yaitu pola kehidupan “badâwah”, “bâdiyah” atau “badw”, yang mengandung makna pola kehidupan berpindah-pindah, nomad, dan tidak teratur, khususnya pola kehidupan gurun pasir. Bahkan sesungguhnya istilah itu mengisyaratkan pola kehidupan “primitif” (“tingkat permulaan”), sebagaimana ditunjukkan oleh etimologi istilah itu sendiri (“badâwah”, “badw” adalah seakar kata dengan “ib-tidâ’” seperti dimaksud dalam istilah “madrasah ibtidâ’îyah”, yakni “sekolah tingkat permulaan”). Karena itu orang yang berpola kehidupan berpindah-pindah, tidak teratur, dan “kasar” dalam bahasa Arab disebut orang “badâwi” atau “badawî” (“badui”, yang juga dipinjam dalam bahasa Inggris menjadi “bedouin”), sebagai lawan dari mereka yang disebut kaum “hadlarî” atau “madanî”.***

Sumber:
Sumber: Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008.

Entry filed under: Ensi L - N, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: .

Merawat Tradisi Blogger ala Makki Ada yang tahu, SBY nanti featuring dengan siapa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: