Paham Asy’ary

16 Maret 2009 at 10:15 AM Tinggalkan komentar


Sesungguhnya letak keunggulan sistem Asy‘arî atas yang lainnya ialah segi metodologinya, yang dapat diringkaskan sebagai jalan tengah antara berbagai ekstremitas. Maka ketika menggunakan meto¬dologi manthiq atau logika Aristoteles, ia tidaklah menggunakannya sebagai kerangka kebenaran itu an sich (seperti terkesan pada para failasuf), melainkan sekedar alat untuk membuat kejelasan-kejelasan, dan itu pun hanya dalam urutan sekunder. Sebab bagi al-Asy‘arî, sebagai seorang pendukung Ahl al-Hadîts, yang primer ialah teks-teks suci sendiri, baik dari Kitab maupun dari Sunnah, menurut makna harfiah atau literernya. Oleh karena itu, kalau¬pun ia melakukan ta’wîl, ia melakukan hanya secara sekunder, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi dilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu jalan tengah antara metode harfiah kaum Hanbalî dan metode ta’wîl kaum Mu‘tazilî. Di tengah-tengah serunya polemik dan kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu, metode yang ditempuh al-Asy‘arî ini merupakan jalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah alasan utama penerimaan paham Asy‘arî hampir secara universal, dan itu pula yang membuatnya begitu kukuh dan awet sampai sekarang.

Meskipun begitu, inti pokok paham Asy‘arî ialah Sunnisme. Hal ini ia kemukakan sendiri dalam bukunya yang sangat bagus dan sistematis, yaitu Maqâlât al-Islâmiyin wa Ikhtilâf al-Mushallîn (“Pendapat-pendapat Kaum Islam dan Perselisihan Kaum Bersembahyang”), sebuah buku heresiografi (catatan tentang berbagai penyimpangan atau bid‘ah) dalam Islam yang sangat dihargai karena kejujuran dan obyektifitas dan kelengkapannya. Dalam meneguhkan pahamnya sendiri, terlebih dahulu al-Asy‘arî menuturkan paham Ahl al-Hadîts seperti yang ada pada kaum Hanbalî, kemudian mengakhirinya dengan penegasan bahwa ia mendu¬kung paham itu dan menganutnya. Untuk memperoleh gam¬baran yang cukup lengkap tentang hal yang amat penting ini, di sini dikutip beberapa persoalan men¬dasar dari keterangan al-Asy‘arî yang dimaksud:

“Keseluruhan yang dianut para pendukung Hadis dan Sunnah ialah mengakui adanya Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan semua yang datang dari sisi Allah dan yang dituturkan oleh para tokoh terpercaya yang berasal dari Rasulullah Saw., tanpa mereka menolak sedikit pun juga dari itu semua. Dan Allah Subhânahû adalah Tuhan Yang Maha Esa. Unik (tanpa bandingan), tempat bergan¬tung semua makhluk, tiada Tuhan selain Dia, tidak mengambil istri, tidak juga anak; dan bahwa Mu¬ham¬mad adalah hamba dan rasul-Nya; dan bahwa surga itu nyata, neraka itu nyata, dan hari kiamat pasti datang tanpa diragukan lagi, dan bahwa Allah membangkitkan orang yang ada dalam kubur.

Dan bahwa Allah—Subhânahû—ada di atas ‘Arsy (Singga¬sana), sebagaimana difirmankan (Q., 20: 5), Dia Yang Maha Kasih, bertahta di atas Singgasana; dan bahwa Dia mempunyai dua tangan tanpa bagaimana (bi lâ kayfa) sebagaimana difirmankan (Q., 37: 75), Aku menciptakan dengan kedua tangan-Ku, dan juga firman-Nya (Q., 5: 64), Bahkan kedua tangan-Nya itu terbuka lebar…; dan Dia itu mempunyai dua mata tanpa bagaimana, sebagaimana difirman¬kan (Q., 54: 14), …Ia (kapal) itu berjalan dengan mata Kami…; dan Dia itu mempunyai wajah, sebagai¬mana difirmankan (Q., 55: 27), Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu Yang Maha Agung dan Maha Mulia.

Dan nama-nama Allah itu tidak dapat dikatakan sebagai lain dari Allah sendiri seperti dikatakan oleh kaum Mu‘tazilah dan Khawârij. Me¬reka (Ahl al-Sunnah) juga me¬ng¬akui bahwa pada Allah—Subhâ¬nahû—ada pengetahuan (‘ilm), sebagaimana difirmankan (Q., 4: 166), …diturunkan-Nya ia (Al-Quran) dengan pengetahuan-Nya…, dan juga firman-Nya (Q., 35: 11), …dan tidaklah ia (perempuan) mengandung (bayi) perempuan, juga tidak melahirkannya, kecuali dengan pengetahuan-Nya…

Mereka (Ahl al-Sunnah) juga berpendapat bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, sebagaimana difirmankan oleh Dia Yang Maha Tinggi dan Maha Agung (Q., 81: 29), Dan kamu (manusia) tidaklah (mampu) menghendaki sesuatu jika tidak Allah menghendakinya, dan sebagaimana diucapkan oleh orang-orang Muslim, “Apa pun yang dikehendaki Allah akan terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi”.

Mereka juga berpendapat bahwa tidak seorang pun mampu mela¬kukan sesuatu sebelum Dia (Allah) melakukannya, juga tidak seorang pun mampu keluar dari pengetahuan Allah, atau melakukan sesuatu yang Allah mengetahui bahwa ia tidak melakukannya.

Mereka mengakui bahwa tidak ada Pencipta selain Allah, dan bah¬wa keburukan para hamba (manusia) diciptakan oleh Allah, dan bah¬wa semua perilaku manusia diciptakan Allah ‘azzâ wa jallâ, dan bah¬wa manusia itu tidak berdaya men¬ceritakan sedikit pun dari pada¬nya.

Dan bahwa Allah memberi petunjuk kepada kaum beriman untuk taat kepada-Nya, serta meng¬hinakan kaum kafir. Allah menga¬sihi kaum beriman, mem¬perhatikan mereka, membuat mereka orang-orang saleh, mem¬bimbing mereka, dan Dia tidak mengasihi kaum kafir, tidak membuat mereka saleh, serta tidak membimbing mereka. Seandainya Allah membuat mereka saleh, tentulah mereka menjadi saleh, dan seandainya Allah membimbing mereka tentulah mereka menjadi berpetunjuk.

Dan Allah—subhânahû—berkuasa membuat orang-orang kafir itu saleh, mengasihi mereka sehingga menjadi beriman; tetapi Dia berkehendak untuk tidak membuat mereka saleh dan (tidak) mengasihi mereka sehingga menjadi beriman, melainkan Dia berkehendak bahwa mereka itu kafir adanya seperti Dia ketahui, menghinakan mereka, menyesatkan mereka dan mematri hati mereka.

Dan bahwa baik dan buruk dengan keputusan (qadlâ’) dan ketentuan (qadar) Allah, dan mereka (Ahl al-Sunnah) beriman kepada qadlâ’ dan qadar Allah itu, yang baik dan yang buruk, serta yang manis dan yang pahit. Mereka juga beriman bahwa mereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri (memberi) manfaat atau madarat, kecuali yang dikehendaki Allah, sebagaimana difirmankan-Nya, dan mereka (Ahl al-Sunnah) itu menyerahkan segala perkaranya kepada Allah—Subhânahû—dan mengakui adanya kebutuhan kepada Allah dalam setiap waktu serta keperluan kepada-Nya dalam setiap keadaan.

Selanjutnya al-Asy‘arî menuturkan pokok-pokok pandangan Sunni lainnya seperti bahwa Al-Quran adalah Kalâm Ilahi yang bukan makhluk; bahwa kaum beriman akan melihat Allah di surga “seperti melihat bulan purnama di waktu malam”; bahwa ahl al-Qiblah (orang yang melakukan shalat dengan menghadap kiblat di Makkah) tidak boleh dikafirkan meskipun melakukan dosa besar seperti mencuri dan zina, bahwa Nabi akan memberi syafa‘at kepada umatnya, termasuk kepada mereka yang melakukan dosa-dosa besar; bahwa iman menyangkut ucapan dan perbuatan yang kadarnya bisa naik dan turun; bahwa nama-nama Allah adalah Allah itu sendiri (bu¬kan sesuatu yang wujudnya terpisah), bahwa se¬seorang yang ber¬dosa besar tidak mesti dihukum ma¬suk neraka, se¬ba¬gai¬mana seseorang yang ber-tawhîd tidak mesti dihukum masuk surga sampai Allah sendiri yang menentu¬kan.

Juga bahwa Allah memberi pahala kepada siapa yang dike¬hendaki dan memberi siksaan kepa¬da siapa saja yang dikehendaki; bahwa apa saja yang sampai ke tangan kita dari Rasulullah Saw. melalui riwayat yang handal harus diterima, tanpa boleh bertanya: “Bagaimana?” atau “Mengapa?”, karena semuanya itu bid‘ah.

Juga bahwa Allah tidak meme¬rintahkan kejahatan, melainkan melarangnya; dan Dia memerintahkan kebaikan dengan tidak meridlai kejahatan, meskipun Dia menghendaki kejahatan itu.

Dan bahwa keunggulan para saha¬bat Nabi seperti manusia pilihan Allah harus diakui, dengan menghindarkan diri dari pertengkaran tentang mereka, besar maupun kecil, dan bahwa urutan ke¬unggulan Khalifah yang empat ialah pertama-tama Abu Bakr, kemudian ‘Umar, disusul ‘Utsman, dan diakhiri dengan ‘Ali.

Selanjutnya, menurut al-Asy‘arî, paham Sunni juga mengharuskan taat mengikuti imam atau pemim¬pin, dengan bersedia bershalat sebagai ma’mûm di belakang mereka, tidak peduli apakah mereka itu orang baik (barr) ataupun orang jahat (fâjir).

Disebutkan pula bahwa kaum Sunni mempercayai akan munculnya Dajjâl di akhir zaman, dan bahwa Isa al-Masih akan membunuhnya. Lalu ditegaskannya pula bahwa Ahl al-Sunnah itu berpendapat harus menjauhi setiap penyeru bid‘ah; harus rajin membaca Al-Quran, mengkaji Sunnah dan mempelajari fiqih dengan rendah hati, tenang, dan budi yang baik; harus berbuat banyak kebaikan dan tidak menyakiti orang; harus meninggalkan gunjingan, adu domba dan umpatan, dan terlalu mencari-cari makan dan minum!”

Demikian kutipan al-Asy‘arî. Pada akhir keterangannya itu, al-Asy‘arî menyatakan: “Dan kita pun berpendapat seperti semua pendapat yang telah kita sebutkan itu, dan kepadanyalah kita bermazhab”. ***

Sumber:
Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008.

Entry filed under: Ensi O - P, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: .

Pahala Puasa Rahbaniyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: