Rahmah dalam Injil dan Taurat

16 Maret 2009 at 10:46 AM Tinggalkan komentar


Mengapa kata rahmaana itu muncul dalam Taurat? Karena para nabi setelah Nabi Musa menyadari bahwa agama Taurat (artinya hukum) sudah tidak lagi relevan, terlalu keras dan kurang kelem¬butan-kemanusiaan. Memang Nabi Musa oleh Allah Swt. diberi tugas untuk mendidik Bani Israil supaya taat pada hukum karena mereka mengalami masa perbudakan ratusan tahun dan budak biasanya sulit sekali berdisiplin; mereka tidak bisa memerintah diri sendiri dan biasa menunggu perintah orang lain.

Bani Israil dulu terkenal sangat tidak disiplin, maka agamanya menjadi sangat keras dari segi hukum, yang dimulai dengan The Ten Commandements. Tetapi lama kelamaan dirasakan kalau terus-menerus hukumnya keras, maka aspek kelembutan manusia menjadi hilang. Maka paham tentang Tuhan sebagai hakim yang serbaadil dan serbamemvonis diimbangi dengan paham tentang Tuhan sebagai yang Mahakasih. Dari situlah muncul kata rahmaana.

Pemahaman inilah yang me¬nyiapkan tampilnya Nabi Isa al-Masih. Dialah yang diberi tugas oleh Allah Swt. untuk mengajari kasih kepada manusia. Hidup ini tidak cukup hanya dengan hukum, tetapi juga harus ada kasih. Maka Nabi Isa digambarkan dalam Al-Quran sebagai yang mendekla¬rasikan, … untuk menghalalkan bagi kamu sebagian apa yang sebagian diharamkan bagi kamu,” (Q., 3:50); dan … Kami tanamkan ke dalam hati mereka yang menjadi pengikut¬nya, rasa cinta dan kasih sayang,” (Q., 57:27).

Tetapi sayangnya, para pengikut Nabi Isa kemudian mengem¬bangkan ajarannya begitu rupa sehingga segi hukum sama sekali hilang dan yang ada hanyalah kasih. Maka mereka pun terjerembab kepada sikap-sikap yang terlalu lunak dari segi moral. Mereka jadi permisif. Nabi Muhammad datang menggabungkan kembali kasih dan hukum. Menggabungkan kembali sifat Allah yang keras dan pendendam dengan sifat Allah yang Mahakasih dan Pengampun. Itulah jalan tengah atau al-shirâth al-mustaqìm, yaitu jalan tengah yang ditempuh oleh mereka yang men¬dapatkan kebahagiaan dari Allah (shirâth-a ‘l-ladzì-na an‘am-ta ‘alayhim). Bukan jalan mereka yang dimurkai Allah (ghayr-i ‘l-maghdlûb-i ‘alayhim), yaitu orang yang memahami agama hanya dari segi hukum seperti orang-orang Yahudi, dan bukan pula jalan mereka yang sesat (walâ ‘l-dlâllìn), yatu mereka yang hanya memahami agama dari segi kasih, sehingga menjadi permisif. Maka menjadi orang Islam itu sulit, tetapi ganjarannya besar. Kalau berhasil, kita kembali kepada rahmat. Kita jalankan ajaran agama mengenai anjuran meniru akhlak Allah. Kita terapkan rahmat, tetapi sekaligus kita sadari bahwa Tuhan tidak bisa dianggap biasa-biasa saja. ***

Sumber:
Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008.

Iklan

Entry filed under: Ensi Q - S, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: , , , .

Rahbaniyah Madina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 404,011 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: