Abad Modern: Pengulangan “Sumerisme”

23 Maret 2009 at 10:36 AM 1 komentar


Apa yang dialami umat manusia 5.000 tahun yang lalu diulang lagi sejak dua abad terakhir ini, tetapi dengan tingkat intensitas dan ukuran yang jauh lebih hebat. Laju perkembangan peradaban umat manusia karena “Sumerisme” adalah sedemikian tingginya, sehingga sesuatu yang sebelumnya terselesaikan dalam hitungan waktu ribuan tahun kini dapat rampung dalam ratusan tahun saja. Jauh lebih tinggi adalah laju perkembangan per¬adaban manusia setelah timbulnya Abad Modern: apa yang dulu memerlukan ribuan tahun untuk menye¬lesaikannya sekarang dapat tuntas hanya dalam jangka waktu puluhan atau malah satuan tahun. Dengan kata lain, Abad Agraria dari Sumeria itu mempercepat perkembangan peradaban umat manusia secara deret hitung, sedangkan Abad Modern ini melecutnya secara deret ukur. Karena itu adalah amat logis bahwa krisis umat manusia secara keseluruhan akibat Abad Modern ini jauh lebih hebat berlipat ganda daripada gejolak akibat timbulnya pola kehidupan baru dari Sumeria dalam bentuk peradaban kota berdasarkan keagrarian 5000 tahun yang lalu.

Peninjau yang Westernistik mengira bahwa Abad Modern dan Teknikalismenya itu merupakan sesuatu yang secara istimewa hanya bisa lahir di Barat, yakni Eropa, dan dengan nada simplistik kemudian mereka menariknya ke belakang sampai ke peradaban Yunani dan Rumawi kuna (“Graeco Roman Civilizations”). Lebih tidak benar lagi ialah pandangan bahwa Modernisme itu merupakan “genius” peradaban Yahudi-Kristen (“Judeo Christian Civilizations”). Seperti halnya Abad Agraria yang dimulai oleh bangsa Sumeria yang tidak mungkin ada tanpa lebih dahulu terdapat kebudayaan pertanian (tanpa kota) pada kelompok-kelompok manusia di Mesopotamia dan sekitarnya, tinjauan dengan menggunakan wawasan sejarah kemanusian sejagad, seperti dilakukan oleh Hodgson, membuktikan bahwa Abad Modern ini, sekalipun sangat radikal, masih merupakan kelanjutan wajar perkem¬bangan peradaban dunia seluruhnya. Karena itu Modernisme, jika toh tidak timbul di suatu tempat tertentu seperti di Eropa Barat Laut, tentu akan timbul di tempat lain. Seandainya tidak timbul di Eropa Barat Laut seperti telah terjadi, Abad Modern itu diperkirakan sangat mungkin muncul setidaknya di dua tempat lain, yaitu Cina (di bawah dinasti Sun yang menemukan kompas dan mesiu serta melancarkan program industrialisasi pertanian) dan negeri-negeri Islam, yang memiliki kesiapan intelektual paling tinggi. Lebih-lebih berkenaan dengan Dâr al-Islâm, abad Modern dapat dengan mantap dipandang sebagai kelanjutan langsungnya, terutama dilihat dari segi pola kehidupan sosial-ekonominya sebagai masyarakat berkota (citied society).

Tetapi, karena watak dasar dan dinamikanya, Abad Modern ini, sekali dimulai di suatu tempat, tak mungkin lagi bagi tempat lain untuk juga memulainya dari titik tolak kosong. Dan mengapa Abad Modern tidak timbul dari lingkungan negeri-negeri Muslim (atau Cina) melainkan di Eropa Barat Laut, memang merupakan suatu pertanyaan besar. Hodgson menduga bahwa masyarakat Islam gagal mempelopori kemodernan karena tiga hal: konsentrasi yang kelewat besar penanaman modal harta dan manusia pada bidang-bidang tertentu, sehingga pengalihannya kepada bidang lain merupakan suatu kesulitan luar biasa; kerusakan hebat, baik material maupun mental-psikologis, akibat serbuan biadab bangsa Mongol; justru kecemerlangan peradaban Islam sebagai suatu bentuk pemuncakan Abad Agraria membuat kaum Muslimin tidak pernah secara mendesak merasa perlu kepada suatu peningkatan lebih tinggi. Dengan kata lain, dunia Islam berhenti berkembang karena kejenuhan dan kemantapan kepada dirinya sendiri. Ketika disadari secara amat terlambat bahwa bangsa lain, yakni Eropa, benar-benar lebih unggul dari mereka, bangsa-bangsa Muslim itu terperanjat luar biasa dalam sikap tak percaya. Tidak ada gambaran yang lebih dramatis tentang psikologi umat Islam itu seperti keterkejutan mereka ketika Napoleon datang ke Mesir dan menaklukkan bangsa Muslim itu dengan amat mudah. ***

Sumber:
Budhy Munawar-Rachman (editor), Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Sketsa Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, diterbitkan oleh: Mizan, Paramadina, Center for Spirituality & Leadership, 2007/2008.

Entry filed under: Ensi A - E, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: , , , , .

Ukhuwah Islamiyah (2) Abad Modern: Umat Islam Menderita Menghadapinya

1 Komentar Add your own

  • 1. SYAIFUL  |  4 April 2009 pukul 9:53 PM

    salam kenal pendatang baru dari Riau. baca-baca dulu ya salam ukhuwah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: