Manusia Masuk ke Alam Dunia; Kehidupan Dunia adalah Amanah

23 Maret 2009 at 8:26 AM 1 komentar


Ketika manusia di Alam Arham (alam rahim) yang terjadi adalah: Pertama, ditetapkan kadarnya, yaitu ada empat: umur, rezeki, bahagia atau sengsara, baik atau buruk. Kedua, pembentukan watak. Kepribadian manusia dibentuk oleh watak (pembawaannya) dalam tiga tahap: ketika kedua orang tuanya senggama, ketika di dalam kandungan ibunya, dan ketika disusui.

Jadi, ketika si anak di dalam kandungan, kalau ibunya banyak membaca Alquran, maka anaknya akan terbentuk menjadi orang yang mencintai Alquran. Termasuk juga dari pengaruh makanan yang dimakan oleh si ibu ketika mengandung, kalau makanannya adalah makanan haram, maka anaknya juga nantinya akan cenderung kepada haram, susah diarahkan kepada kebaikan.

Ketika di alam rahim itulah, Allah mengingatkan manusia, bahwa ibunya mengandung dengan susah payah. Sehingga, semua manusia yang mengalami alam rahim harus mengingat, betapa penderitaan ibu ketika mengandung kita, dan dari situlah lahir kesadaran, bahwa kita harus berbakti kepada kedua orang tua.

Kehidupan Dunia adalah Amanah

Allah berfirman:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An-Nahl [16]: 78)

Ada beberapa hal yang patur kita cermati dari ayat ini:

Pertama, mengapa Allah mengklaim bahwa yang mengeluarkan kita dari perut ibu kita itu adalah Dia (Allah), bukanlah ibu kita. Padahal sudah jelas bahwa yang berusaha keras mati-matian ketika melahirkan kita itu adalah ibu kita, tetapi Allah mengatakan, bahwa Dia (Allah) lah yang mengeluarkan kita.

Kedua, ketika kita keluar dari rahim ke dunia ini, Allah mengatakan, bahwa manusia itu bodoh (tidak tahu apa-apa). Secara tersurat, kita keluar dari rahim ibu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Secara tersirat, kita tidak memiliki apa-apa (miskin).

Ketiga, sesudah Allah mengeluarkan manusia dari tidak tahu kemudian menjadi tahu, dari tidak punya kemudian menjadi punya, hal ini karena Allah memberi alat untuk hal tersebut, yaitu berupa pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran (hati). Jadi kalau sekarang kita pintar, maka pintarnya kita itu adalah karena oleh Allah.

Keempat, Allah mengingatkan manusia agar bersyukur.

Apakah syukur, bagaimana cara bersyukur, apa janji Allah kalau bersyukur, dan apa pula ancaman Allah kalau kufur nikmat?

Mengapa Allah mengklaim bahwa Dia (Allah) lah yang mengeluarkan manusia dari perut ibunya? Jawabannya:

Pertama, ketika berada di dalam kandungan, bayi bernapas melalui plasenta (tali ari). Jadi, oksigen yang dihirup oleh ibunya dialirkan melalui plasenta. Ketika si bayi keluar, maka plasenta itu dipotong. Selanjutnya, dari manakah manusia bernapas? Sejak manusia lahir, peran plasenta berakhir, dan kemudian beralih melalui hidung dan bernapas dengan paru-paru. Siapakah yang mengalihkan peran plasenta ke paru-paru? Bayangkanlah jika ketika itu paru-parunya tidak dibuka oleh Allah, maka manusia yang baru lahir itu akan mati.

Karena itulah Allah mengatakan, bahwa yang menjadikan manusia bisa hidup seperti sekarang ini adalah Dia (Allah). Yang membuka paru-paru itu bukanlah ibu kita, dan bukan pula dokter. Oleh sebab itu, ketika bayi lahir, maka si bayi berteriak. Itu bukanlah menangis, melainkan berteriak, karena kalau menangis tentunya keluar air mata. Ternyata ketika itu si bayi tidak mengeluarkan air mata.

Mengapa si bayi berteriak? Berteriaknya si bayi adalah untuk membuka paru-parunya, karena ketika si bayi di dalam perut, paru-parunya belum berfungsi (masih kempis). Siapakah yang membuka paru-paru itu kalau bukan Allah? Karena itulah, jika si bayi tidak berteriak, maka si bayi itu dipukul-pukul oleh dokter ataupun bidan yang membantu persalinan.

Hitunglah umur kita sekarang! Hitunglah, bahwa dari mulai kita lahir hingga sekarang, sudah berapa juta kubik oksigen yang kita hirup! Ternyata semuanya itu tak terhitung banyaknya. Siapakah yang membuka paru-paru kita sehingga kita bisa bernafas sebanyak yang tak terhitung itu? Karena itulah, sudah selayaknya pada setiap helaan napas kita harus selalu mengingat Allah. Janganlah sampai kita menyalahgunakan nikmat hidup yang telah diberikan oleh Allah.

Dari hal ini dapatlah kita pahami mengapa Allah mengklaim bahwa yang mengeluarkan manusia dari perut ibunya adalah Dia (Allah).

Kedua, bayi di dalam kandungan itu juga makan, yaitu dari saripati makanan yang dimakan oleh ibunya melalui plasenta. Plasenta adalah semacam selang yang menghubungkan dari perut ibu ke perut bayi. Karena itulah, si bayi di dalam rahim bisa membesar. Setelah si bayi lahir, plasenta pun dipotong. Karena plasenta telah dipotong, maka kemudian si bayi makan melalui mulut, kemudian diproses di lambung. Siapakah yang mengalihkan fungsi plasenta ke mulut? Jawabannya, sudah pasti yang mengalihkan itu adalah Allah.

Kedua alat tersebut, yaitu dari hidung ke paru-paru dan dari mulut ke lambung, maka kedua-duanya itu (udara dan makanan) berpapasan di tengah. Ketika berpapasan itu dipisahkan oleh semacam klep yang otomatis. Karena ada klep yang memisahkannya, maka udara dan makanan tersebut akan masuk ke salurannya yang sesuai. Siapakah yang mengatur klep tersebut? Allah yang mengatur semua itu. Rasulullah mengajarkan, bahwa apabila kita sedang makan dan minum, maka janganlah sambil bernafas, karena akan tersedak.

Ketiga, saat bayi keluar dari rahim ibunya, tulang-belulangnya masih elastis, terutama batok kepalanya. Bayangkanlah, dengan tulang-belulang yang masih elastis itu, ternyata si bayi bisa keluar dari lubang yang sangat kecil. Namun hanya dalam hitungan detik setelah dilahirkan, kepala bayi itu kemudian jadi mengeras.

Di dalam ilmu kedokteran disebutkan, bahwa si bayi itu selama kurang lebih 6 hingga 7 bulan di dalam rahim ibunya, kepalanya selalu berada di atas. Tapi beberapa minggu sebelum lahir, kepala si bayi kemudian berubah menjadi ke bawah. Mengapa kepalanya menjadi ke bawah? Karena di kepala itu ada otak yang sangat rawan yang sebentar lagi akan didorong oleh air ketuban yang mendapat tekanan dari napas ibunya ketika si bayi akan dilahirkan. Yang didorong ketika dilahirkan itu adalah pantatnya. Karena kalau yang didorong itu kepalanya, maka akan rusaklah otak si bayi. Sedangkan kalau yang didorong itu pantatnya, maka akan aman. Siapakah yang memutarkan itu? Lagi-lagi, yang mengatur semua itu hanyalah Allah Yang Maha Kuasa.

Jika kita cermati proses kelahiran seorang manusia, maka barulah kita menyadari, bahwa proses tersebut begitu rumitnya, yang itu semuanya ada campur tangan Allah. Dia mengatur proses yang rumit itu dengan begitu sistematis dan sempurnanya. Sejak manusia dilahirkan, maka manusia sangat bergantung kepada rahmat Allah. Tetapi ternyata kita lebih seringnya lupa dengan Rahmat Allah tersebut.

Tadinya manusia itu tidak ada, kemudian menjadi ada. Artinya, bahwa semua itu adalah pemberian dari Allah, bukanlah bawaan. Ketika lahir, manusia dalam keadaan bodoh. Sesudah mendengar, melihat, dan berpikir melalui pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran yang merupakan pemberian Allah, maka manusia kemudian menjadi pintar. Dengan begitu, kepintaran itu adalah pemberian Allah. Karena itulah, tak ada alasan untuk sombong karena kita pintar. Harusnya, semakin seorang manusia itu pintar, maka semakin menjadikannya bersyukur dan rendah hati.

Ketika lahir, manusia dalam keadaan miskin (tak memiliki apa-apa). Sesudah manusia menjadi pintar yang itu adalah anugerah dari Allah, kemudian menjadikannya kaya. Karena itulah, kekayaan adalah anugerah Allah. Tak ada alasan untuk menusia menjadi sombong karena kekayaan. Sehingga, kepintaran dan kekayaan memang seharusnya kita syukuri, karena semuanya itu adalah anugerah Allah.

Pemberian itu ada dua macam yaitu sebagai pemberian dan sebagai titipan. Sebagai pemberian berarti beralihnya hak milik pihak pertama kepada pihak kedua. Dan sesudah di tangan pihak kedua, maka tak ada ikatan lagi dengan pihak pertama. Kemudian terserah pada pihak kedua untuk memberlakukan pemberian tersebut. Jika pemberian itu sebagai titipan, berarti diserahkan kepada pihak kedua, tetapi pihak pertama tidak putus haknya terhadap yang dititipkannya itu, dan suatu saat pihak kedua akan dimintai pertanggungjawabannya.

Apakah umur kita ini pemberian atau titipan? Umur kita adalah titipan, karena nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah akan umur yang kita gunakan itu. Begitu juga dengan harta. Kalau begitu, ada berapa hal yang dititipkan Allah kepada kita? Mengenai ini, Rasulullah bersabda:

Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan. (HR. Ahmad)

Jasad ini bukanlah milik kita, melainkan titipan Allah. Kita bisa hidup hingga kini adalah amanat (titipan) dari Allah. Kelak akan ditanya, kita gunakan untuk apa jasad yang telah dititipkan ini. Umur (waktu) yang kita gunakan untuk hidup ini juga merupakan titipan Allah. Nanti akan ditanya, kita gunakan untuk apakah umur kita itu. Begitu juga dengan ilmu. Sedangkan harta, pertanyaannya ada dua: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.

Mengapa bisa ada dua pertanyaan untuk harta? Karena bisa saja seseorang rajin sekali bersedekah, ternyata setelah ditelusuri, hartanya itu diperoleh dengan cara yang haram. Atau hartanya itu diperoleh dengan cara yang halal, tetapi dibelanjakan untuk jalan yang haram. Karena itulah, harta ini begitu berat jika dititipkan kepada manusia.

Sekarang di dunia semua orang ingin kaya. Tapi bisa jadi nanti di akhirat ada orang yang menyesal karena menjadi kaya, dan bersyukur karena menjadi miskin. Karena itulah, jangan terlalu berkeras untuk menjadi kaya. Nikmati saja yang ada. Syukur-syukur kalau kaya alhamdulillah, tapi kalau tidak, maka nikmati saja yang ada.

Harta di dalam Alquran disebut dengan dua suku kata, yaitu maalun dan khair.

Dalam berbagai bentuknya di dalam Alquran, kata maal terulang sebanyak 86 kali: 25 kali bentuk tunggal, dan 61 kali bentuk jamak. Secara bahasa, maal itu artinya adalah miring, cenderung, menyeleweng, ataupun selingkuh. Harta menurut istilah adalah barang-barang berharga yang dimiliki.

Semua kata maal yang diartikan sebagai harta diidhafatkan kepada kata ganti nama jamak (amwaluhu, amwaluhum), karena fungsi utama dari harta adalah untuk tujuan sosial. Hanya 6 kali bentuk tunggal persona ketiga yaitu maaluhu: 5 kali bersifat kecaman, dan 1 kali saja yang berbentuk pujian. Yang 5 kali itu di Surah Al-Baqarah ayat 264, yaitu orang yang menafkahkan hartanya karena riya’, maka menjadi batallah sedekahnya. Kemudian Surah Nuh ayat 21, Al-Lail ayat 11, Al-Humazah ayat 2, dan Al-Lahab ayat 2. sedangkan 1 kali yang berbentuk pujian yaitu kasus Abu Bakar Shiddiq yang termaktub di Surah Al-Lail ayat 18.

Jadi, jika harta dikuasai oleh pribadi, maka cenderung mengarah kepada hal yang negatif. Dari 6 kali, ternyata 5 kecaman, dan 1 pujian.

Tapi ada juga kosakata lain yang berarti harta, yang di dalam Alquran disebut khair. Kata khair di dalam Alquran yang berarti harta itu terulang 4 kali, yang artinya adalah kebaikan atau pilihan. Hal ini termaktub di Surah Al-Baqarah ayat 180 yaitu mengenai berwasiat ketika akan meninggal dunia, Surah Al-Baqarah ayat 215, Surah Al-Muzammil ayat 20, dan Surah Al-’Aadiyaat ayat 8.

Bandingkanlah, Alquran menyebut harta dengan kosakata maal 86 kali cenderung negatif, sementara khair hanya 4 kali. Jadi, yang paling banyak membuat manusia sengsara nanti di akhirat justru adalah harta (maal).

Sesudah Allah mengatakan bahwa yang mengeluarkan manusia dari perut ibu adalah Allah, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mempunyai jadi mempunyai, yang semua itu agar manusia bersyukur.

Apakah syukur?

Secara etimologis, syukur artinya adalah terbuka. Kebalikannya adalah kufur yang artinya tertutup. Jadi, orang yang syukur nikmat itu terbuka terhadap nikmat, sedangkan orang yang kufur nikmat berarti tertutup terhadap nikmat.

Bagaimanakah cara bersyukur?

Ada empat caranya:

Pertama, menyadari bahwa nikmat itu adalah anugerah Allah. Allah berfirman:

Dan apa saja ni`mat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (Q.S. Al-Nahl: 53)

Syukur itu pada awalnya adalah kesadaran sikap hati.

Kedua, mendayagunakan nikmat itu sesuai dengan maksud Allah memberinya. Mata untuk melihat ayat-ayat Allah. Telinga untuk mendengar kalimat-kalimat yang baik. Mulut untuk berbicara yang baik, atau kalau tidak, maka lebih baik diam saja. Kaki untuk berjalan ke tempat yang baik.

Ketiga, menjaga nikmat itu dari maksiat dan durhaka kepada Allah.

Keempat, mengucapkan Alhamdulillah, ucapan syukur kepada Allah.

Apakah janji Allah bagi hamba-Nya yang bersyukur?

Janji-Nya yaitu:

Pertama, Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Hal ini termaktub di dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibraahim: 7)

Mengapa Allah mengatakan bahwa Dia akan menambah nikmat hamba-Nya jika hamba-Nya itu bersyukur? Karena rizki (nikmat) itu telah direncanakan oleh Allah waktu di alam rahim (alam arham), bahkan juga ada yang ditetapkan. Tapi, ketika di dalam kehidupan dia bersyukur, maka nikmatnya itu akan ditambah oleh Allah. Dan tambahannya itu luar biasa besarnya.

Salah satu hal yang dipertimbangkan oleh Allah dari rencananya itu dari qadarnya buruk berubah menjadi baik adalah karena hamba-Nya itu bersyukur. Tadinya rencana Allah terhadap orang tersebut qadarnya adalah miskin. Tapi karena orang tersebut bersyukur, maka diubah menjadi tidak miskin lagi, sehingga kehidupannya cukup. Setelah itu dia bersyukur lagi, sehingga kemudian dia menjadi kaya. Ketika kaya dia bersyukur lagi, sehingga menjadi kaya-raya.

Kedua, Allah takkan mengazab dan menyiksa manusia selama manusia itu bersyukur dan beriman. Hal ini termaktub di dalam firman-Nya:

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (Q.S. An-Nisaa: 147)

Jadi, yang paling banyak menentukan azab Allah itu turun karena kufur nikmat.

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (Q.S. An-Nahl: 112)

Jadi, kelaparan dan kemiskinan itu karena kufur nikmat. Bagaimanakah kalau manusia kufur nikmat? Allah mengatakan:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. Al-A’raaf: 179)

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan hamba Allah yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah diamanahkan-Nya kepada kita. Amin. ***

Disarikan dari Pengajian Ilmu Kalam yang disampaikan oleh Prof Drs. H. Umay M. Dja’far Shidiq pada tanggal 24 Februari 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Iklan

Entry filed under: Akidah Akhlak, Islamika. Tags: .

Ijtihad terhadap Masalah-Masalah Kontemporer Ukhuwah Islamiah (1)

1 Komentar Add your own

  • 1. site islami  |  26 Maret 2011 pukul 9:24 AM

    Assalamualaikum, Kak. kami mohon segenap keikhlasan utuk memberi komentar berupa kritik, saran dsb di postingan kami yang berkaitan dgn “School Contest V”, melihat Kakak (Anda) pandai dalam menulis. tampak pada postingan Kakak (Anda) luar biasa. mohon bantuan dan dukungan, terima kasih. http://www.siteislami.co.cc ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 434,207 hits
Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: