Jabariah Teologi Penguasa Zalim

7 Mei 2009 at 8:09 AM 5 komentar


20080918_27dsc0614_800Di ujung lain dari garis ekstremitas pandangan teologis ialah mereka yang menganut paham keterpaksaan manusia di hadapan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka menganggap bahwa manusia tidak berdaya menghadapi ketentuan Tuhan dan kehendak-Nya. Karena itu bagi mereka manusia tidak dapat dituntut untuk bertanggung jawab atas tingkah-lakunya, baik maupun buruk, sebab semuanya berasal dari Tuhan menurut kehendak-Nya yang mutlak. Manusia memperoleh kebahagiaan atau kesengsaraan hanyalah atas kehendak Tuhan semata. Paham ini secara teknis disebut Jabariah (Arab: jabarîyah”, artinya “Paham Keterpaksaan [Manusia])”.
Seperti bisa diduga, paham Jabariah itu mendapatkan pasaran¬nya yang kuat di kalangan penguasa dengan kecenderungan zalim, karena keperluan mereka kepada kerangka intelektual dan teologis yang membenarkan tindakan-tindakan mereka. Dan inilah memang yang terjadi pada perkem¬bangan Islam di masa setelah khalifah yang empat awal. Para penguasa Umayyah di Damaskus, seolah-olah karena didorong oleh keinginan membela dan melindungi nama Utsman ibn Affan, tapi jelas juga untuk kepentingan mereka sendiri mempertahankan kekuasaan, menunjukkan gejala paham Jabariah. Jika toh tidak dalam bentuk rumusan-rumusan intelektual dan teologis, gejala Jabariah para penguasa Umayyah itu menampakkan diri secara jelas dalam praktik. Bila diperingatkan bahwa tindakan-tindakan mereka yang menindas rakyat dan mengekang perkembangan pemikiran di kalangan umat itu menyalahi semangat Islam dan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan kezaliman itu di hadapan umat, selain di hadapan Tuhan kelak di akhirat, rezim Umayyah itu akan menolak dengan mengatakan: Kami tidak bisa dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakan kami. Sebab Tuhanlah yang menghendaki semuanya itu. Hanya pada-Nyalah kekuasaan untuk menentukan kebaikan atau keburukan! ***

Sumber:
Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality & Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.

Entry filed under: Ensi F - K, Ensiklopedi Cak Nur. Tags: .

Ibadat secara Benar Kajian Islam di Asia Tenggara

5 Komentar Add your own

  • 1. Myrazano  |  7 Mei 2009 pukul 12:50 PM

    Pemikiran dan pemahaman tentang ini oleh Nurcholish Madjid saya akui 100% benar. tapi sayang Aqidah dia sendiri juga salah.

    Semoga Allah Merahmati kita semua.
    amin

    Suka

  • 2. Hanafi Mohan  |  11 Mei 2009 pukul 2:45 PM

    @Myrazano, senaif itukah anda, sehingga anda dengan mudahnya menjudge salah terhadap akidah seseorang, apalagi orang tersebut kini sudah meninggal dunia.

    Semoga pikiran dan hati kita kembali dijernihkan.

    Semoga Nurcholish Madjid (Cak Nur) mendapatkan ketenangan di alam barzah, sesuai dengan amal-ibadahnya yang sungguh begitu menawan selama di dunia. Semoga Allah memberikan ganjaran pahala yang berlipat ganda kepada beliau.

    Semoga beliau termasuk ke dalam golongan hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh.

    Suka

  • 3. irfan darsina  |  12 Juni 2009 pukul 9:24 AM

    saya sepakat dg myrazano, bhw pemahaman cak nur (al marhum) soal jabariyah itu 100% benar. Tetapi saya juga tdk paham mengapa ia ngjudge cak nur memiliki akidah yang salah.

    Cuman, dalam pergaulan sehari-sehari dg sesama muslim di indonesia, saya memang seringkali menemukan sikap fatalis kaum jabariyah itu. “Sudah jadi kehendak Tuhan ini terjadi”, “kita dizalimi krn Tuhan menghendaki”, “kita miskin karena Tuhan menghendaki kita miskin” dll.

    Apakah myrazano merasakan akidah itu yang menjadi akidah mayoritas muslim indonesia? wallahu a’lam.

    Suka

  • 4. Akocha  |  19 November 2009 pukul 12:14 PM

    Oh MYRAZANO… aneh betul cara Anda menilai seseorang. Ingat, tidak ada hak seseorang untuk menakar akidah orang lain. Anda dan orang-orang seperti Anda sepertinya menderita panaroid yang kronis dengan pemikiran Cak Nur dan orang-orang sekelasnya… Bisanya mengkritik tanpa memberi solusi. Ingat, semua tulisan Cak Nur itu tak lain sebagai “Ijtihad” beliau terhadap suatu persoalan. Hatta salah pun asal itu hanya dipakai oleh beliau, masih mendapat satu pahala. Ingat, Cak Nur hanya manusia, bukan Nabi. Kalau ia salah dalam memahami dan menuliskan sesuatu itu urusan dia dengan Tuhan-Nya. Tetapi apakah akidah Cak Nur diterima Allah atau tidak, 100% itu bukan wewenang Anda untuk menilainya. Apakah Anda merasa diri Anda poros Agama sehingga pernah dibisiki Tuhan, akidah si Anu benar, akidah si Itu Salah. Absurd betul kalau itu yang menjadi pemahamanmu…

    Salam,

    Suka

  • 5. Firminus Gunawan  |  29 Oktober 2011 pukul 7:32 PM

    Kebenaran yang hanya menampakkan sebagian wajahnya belumlah cukup untuk dikatakan sebagai kebenaran yang penuh.
    Sebaliknya suatu ketidakbenaran yang baru terlihat setengahnya tidak berarti sebagai suatu ketidakbenaran yang tak dapat terkoreksi.
    Pada masanya nanti, waktulah yang jadi hakim untuk menggenapi menggenapi semua, menyingkap tirai bagi keduanya, memaparkan kebenaran yang sesungguhnya. Mungkin saja kebenaran yang dianggap benar oleh banyak selama ini adalah kebenaran yang belum lengkap, atau juga yang dianggap kebohongan selama ini justru mendapatkan “pembela” yang membenarkannya.
    Semua itu dimungkinkan oleh waktu, maka siapkanlah akal dan pikiran,dan hati kita untuk memahami dan menerima kenyataan terburuk bahwa yang yang selama ini kita yakini benar bisa jadi salah.
    Yang kita yakini akan datang pastilah menghampiri,
    dan yang akan menghampiri itu bisa sangat dekat,
    sedekat kemampuan mata untuk dapat melihatnya.
    Yakinkah masing-masing diri kita sudah siap untuk itu…..?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: