Sabar, Menunda Kesenangan

16 Mei 2009 at 7:51 PM 2 komentar


_DSC6822Mundur selangkah untuk dapat maju beberapa langkah adalah suatu hal yang dilakukan dalam kehidupan dan merupakan kenyataan sehari-hari kegiatan kita. Ungkapan itu sendiri sebetulnya mengacu kepada suatu sikap hidup yang amat penting untuk dipahami dengan baik, yaitu sikap hidup berpikir dan bertindak stategis.

Tetapi meskipun “dalil” itu nampak mudah diucapkan, namun sebenarnya tidak semua orang dengan mudah melaksanakan. Karena “mundur selangkah” dapat mengesankan suatu kekalahan, maka orang yang tinggi hati biasanya tidak mau melakukannya, sebab kuatir dinilai sebagai orang yang kalah. Padahal, dengan tidak mau “mengalah” secara taktis (sementara) itu dia justru terancam akan mengalami kekalahan strategis yang lebih besar.

Dalam sebuah tembang Jawa disebutkan ungkapan, Dedalane guna kalawan sakti wani ngalah duwue weksane. Terjemahnya, secara sedikit bebas, ialah “Jalan menuju kemenangan dan ketangguhan ialah sikap berani mengalah namun akhirnya memperoleh keunggulan”. Ini adalah isyarat agar dalam hidup ini kita mengenali mana bagian dari kegiatan kita yang bernilai alat (instrumental) dan mana pula yang bernilai tujuan (intrinsik), mana yang jangka pendek (taktis) dan mana pula yang jangka panjang (strategis). Selanjutnya, kita hendaknya menyadari bahwa yang instrumental dan taktis selalu sekunder kedudukannya dibanding yang intrinsik dan strategis. Sedangkan yang intrinsik dan strategi adalah primer.

Jika menyadari hal itu, maka kita akan mampu mengambil sikap yang tepat dan tenang dalam menghadapi situasi-situasi yang menghendaki agar kita bersedia mengorbankan hal yang sekunder untuk mempertahankan dan menjamin tercapainya hal yang primer. Dengan tenang dan penuh perhitungan kita akan mundur selangkah (mengalah atau “kalah” dalam jangka pendek), agar supaya dapat maju beberapa langkah (yang akan membawa kemenangan dalam jangka panjang).

Jika kita tidak sepenuhnya menyadari persoalan itu, maka kemungkinan besar kita terjembab ke dalam sikap-sikap mendahulukan “gengsi” yang semu, yang akan membuat tindakan kita menjadi emosional, seperti yang dapat disaksikan pada banyak orang yang dalam hidup sehari-hari tidak mau mengalah sama sekali. Kita tahu bahwa dari sudut lain sikap itu juga bisa dipadang sebagai kekanak-kanakan.

Oleh karena itu menarik sekali merenungkan mengapa agama selalu mengajarkan sifat dan watak kesabaran. “Sabar” (Arab: shabr) artinya tabah menderita, yakni, sanggup menunda kesenangan sementara (seperti kesenangan karena merasa “menang” dalam hal-hal sekunder) karena kita berharap dan yakin akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar dan lama. Jadi sama dengan makna tembang Jawa tadi, dan senafas dengan semangat pepatah Indonesia. “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Disebabkan sangat pentingnya sikap hidup yang penuh kedewasaan itu, maka Kitab Suci memperingatkan kita semua agar tidak tertipu oleh hal-hal yang bersifat segera, sambil melupakan hal-hal yang akan kita temui di belakang hari (Q., 75: 20 dan Q., 76: 27). Dan bahwa takwa kepada Allah itu terkait erat dengan sikap hidup memandang jauh ke depan, tidak hanya untuk di sini dan kini saja (Q., 59: 18). ***

Sumber:
Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Penyunting: Budhy Munawar-Rachman, Editor: Ahmad Gaus AF, et.al., diterbitkan oleh: Penerbit Mizan, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, dan Center for Spirituality & Leadership (CSL), Jakarta, Mizan, 2006.

Iklan

Entry filed under: Ensi Q - S, Ensiklopedi Cak Nur.

Kajian Islam di Asia Tenggara Value Judgement Penggunaan Kekayaan

2 Komentar Add your own

  • 1. resi2009  |  26 Mei 2009 pukul 5:17 PM

    kesabaran itu memang penting dan melatih untuk berfikir positif

    Suka

  • 2. Mochamad Syaiful  |  30 Juni 2009 pukul 7:44 AM

    Terima kasih atas segalanya. Semoga Alloh swt membalas segala amal ibadahnya. Amien.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 415,082 hits
Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates

  • "Waktu memang tak terkurung, melainkan ia bergerak sesuai dengan hukum sejarah. Walaupun ia tak lumpuh, tapi... fb.me/8OzEIo6eu 1 week ago
  • Di dalam kelas 4 Sekulah Dasar yang sunyi'-senyap, Cékgu Deraman dah ngasi' peringatan kepade muréd-muréd lam... fb.me/8LQHlLu5t 4 weeks ago
  • Nék Uwan : Cu'.., cammane carenye kalau nak nyekat (mblock) nomor talipon orang di Hénpon ni..? Cucu' : Entahlah... fb.me/1sIuT0YRw 1 month ago
  • Pembeli : Pak Mude, berape harge pisang ni sebuti'? (ceritenye ték nak mbeli Pisang Berangan) Penjual : Tige... fb.me/1eXHyTMdx 1 month ago
  • Anak : Yah, kamék nak betanya' ni. Ayah : Haaa, nak nanya' ape tu..? Ayah : Romah kite ni ade antu keee..?... fb.me/8RjltS0Md 1 month ago

%d blogger menyukai ini: