Beribadah Puasa di Negeri yang Pada Suatu Musim Matahari Tak Pernah Tenggelam

21 Agustus 2009 at 10:56 AM 7 komentar


leningrad_34Suatu ketika saya pulang dari Amerika belasan jam di dalam pesawat. Di dalam pesawat, saya pun sambil membaca buku berjudul “Agama dan Sains“. Di sebelah saya ada seorang non Muslim, dia mengajak saya berdiskusi, dan kemudian saya iyakan. Dalam diskusi itu, orang non Muslim tersebut menyatakan, bahwa menurutnya Islam kok sepertinya hanya cocok untuk orang-orang yang ada di negara tropis.

Saya tidak marah, tidak tersinggung, namun hanya ingin tahu mengapa dia berkesimpulan bahwa Islam hanya cocok untuk orang-orangg di negara tropis. Dia pun berargumentasi, karena dia melihat bahwa ibadahnya orang Islam itu dikaitkan dengan pergerakan matahari di negara tropis. Shubuh (matahari belum terbit), Dzuhur (matahari tergelincir sedikit), Ashar, Maghrib, Isya, balik lagi ke Shubuh. Menurutnya, itu kan pergerakan matahari tropis. Kalau di Eropa Utara atau New Zealand ke selatan, pergerakan matahari tidak seperti itu (tidak seperti di negara-negara tropis).

Saya manggut-manggut, saya katakan bahwa benar juga yang dia katakan. Karena saya pernah suatu ketika ke Eropa, yaitu ke Belgia. Bahwa di Belgia jam 9 malam matahari belum tenggelam, jam 10 malam matahari barulah tenggelam, dan saya baru Shalat Maghrib jam 10 malam. Kalau kita ke utara lagi ke sebuah negara yg bernama Finlandia, di musim panas matahari terbit (bersinar) terus 23 jam. Jadi malamnya hanya satu jam. Shalat Maghrib, Isya’, dan Shubuh cuma bisa kita lakukan selama 1 jam. Kalau begitu, kapan kita bisa melakukan salat tahajjud?

Ketika saya menulis buku yang berjudul “Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari”, saya kontak-kontakan (Email, SMS, dans sebagainya) dengan teman saya yang bekerja di kedutaan Moscow. Teman saya itu bercerita, bahwa ada lagi yang lebih seru, yaitu di utaranya Moscow. Ada kota yang bernama Leningrad (sekarang diganti namanya menjad St. Petersburg). Di kota itu pada musim panas mataharinya tidak tenggelam (terbit ataupun bersinar terus): jam 10 malam terang, jam 11 malam, 12 malam terang, jam 1 pagi ya tetap terang.

leningradTeman saya itu bertanya, kalau begitu di kota itu kapan waktunya kita bisa melakukan Shalat Maghrib dan Isya’? Lebih pusing kalau di Bulan Ramadhan, kapan buka puasanya? Kawan saya itu mengatakan, bahwa menurut “fiqh tropis”, berpuasalah kalian sebelum matahari terbit, dan berbukalah kalian sesudah matahari tenggelam. Tapi ini kan mataharinya tidak tenggelam? Kalau begitu kapan kita Shalat Tahajjud ketika matahari masih terang itu? Ya… salat tahajjudnya waktu terang itu, karena sebetulnya itu adalah malam, namun saja mataharinya masih bersinar.

Pada buku saya yang berjudul “Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari” menjawab pertanyaan orang non Muslim tadi, yaitu apakah Islam hanya cocok untuk orang-orang di negara tropis. Saya jawab di buku itu, bahwa Islam tidak hanya cocok untuk orang-orang di negara tropis, melainkan cocok untuk semua manusia di manapun manusia itu berada. Bagaimanakah kemudian seharusnya kita mengatur waktu-waktu ibadah internasional kita, karena selama ini kita lebih berpatokan pada negara-negara tropis. Sehingga teman saya yang bersekolah di Eropa Utara mengatakan, bahwa jangan-jangan orang-orang di Eropa Utara itu tak mau masuk Islam karena takut melaksanakan puasa selama 24 jam. Kalau sudah seperi ini, salah siapakah kemudian?

Namun, pasti di dalam Alquran ada solusinya, dan kemudian saya temukan dan saya tuliskan di dalam buku “Tahajud Siang Hari Dzuhur Malam Hari”. Apalagi bagi Astronot, dia keluar dari bumi kita, dia bisa melihat matahari terus dan takkan melihat malam. Apakah kemudian Islam tidak cocok untuk Astronot? Tentunya tidak, melainkan Islam tetap cocok bagi siapa saja. Di buku-buku yang saya tulis, tentunya saya bukanlah sedang ingin mendangkalkan keimanan, justru saya ingin memberikan suatu sudut pandang baru dari sudut pandang kekinian dan sudut pandang masa depan, yaitu bagaimana seharusnya Islam itu diperkenalkan dan disyi’arkan ke seluruh permukaan bumi. []

(dikutip dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Ir. H. Agus Mustofa pada tanggal 19 Juli 2009 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan)

Sumber tulisan: thenafi.wordpress.com

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , .

Wahabisme: Pembaru Militan Puasa dan Pesan Moral di Dalamnya

7 Komentar Add your own

  • 1. nurdiana  |  31 Agustus 2009 pukul 5:03 AM

    saya sangat tertarik dengan tulisan ini, saya juga pingin baca buku tahajud di siang hari. sebenarnya dalam kajian fiqih pun perbedaan siang malam sudah dibahas dan menjadi topik kajian. saya juga pernah diskusikan itu, bahwa jika kita hidup di negara Eropa yang bahkan mataharinya tidak pernah tenggelam, maka kita bisa mengikuti waktu ibadah di daerah tropis terdekat. dari sini sungguh ternyata Islam sangat akomodatif.

    Suka

  • 2. Johnny  |  1 September 2009 pukul 2:06 AM

    Materinya sangat baik sehingga org non muslim bisa melakukan analogi dalam materi ini.

    Suka

  • 3. Nurohmah  |  15 Oktober 2009 pukul 12:53 PM

    bagus ya ceritanya!

    Suka

  • 4. odeto  |  7 November 2009 pukul 3:23 PM

    kota yang tidak bisa tidur…hm…menarik…dan suatu ke ajaiban juga…

    Suka

  • 5. nursalim  |  18 Agustus 2010 pukul 2:23 AM

    saya tertarik dengan masalah ini, cara beribadah di negeri matahari yg tdk pernah tenggelam. Kalo ada buku atau referensi ini, saya mau memilikinya, syukur kalo ada yg mau memberi

    Suka

  • 6. irfana  |  20 Agustus 2010 pukul 4:13 AM

    pernah membaca hal serupa.., yang membuat yang mengemukakan menjadi atheis karena ini.., kalo boleh usul resensi buku tentang buku pembicara tahajud di siang hari isinya pa pak tak

    Suka

  • 7. JAMALUSJAMAL@GMAIL.COM  |  5 November 2012 pukul 12:54 AM

    SUBHANALLAH MAHA BESAR ALLAH SWT. ISLAM TIDAK SEMPIT DAN KAKU, SAYA SNGAT TERTARIK KAJIANNYA SYUKRON, SMGA SAUDARA KITA DI EROPA DPT HIDAYAH AAMIIN

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: