Puasa dan Pesan Moral di Dalamnya

1 September 2009 at 10:50 AM 1 komentar


FINEAyat-ayat yang terkait dengan puasa tidak hanya Al-Baqarah ayat 183, melainkan jika kita perhatikan, ternyata ada tiga “la alla” di Surah Al-Baqarah, yaitu: ayat 183, 185, dan 187. Pertama: la allakum tattaqun, kedua: la allakum tasykurun, dan ketiga: la allahum yarsyudun.

Ketiga-tiga ayat ini berkaitan dengan ramadan dan puasa. Bisa kita pahami, bahwa yang diinginkan oleh ibadah puasa adalah tercapainya tiga sikap ataupun tiga bentuk keberagamaan, yang satu sama lain terkait, tetapi masing-masing ada tuntutan tersendiri, yaitu antara ketakwaan, sikap bersyukur, dan orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah.

Yang menarik dari Surah Al-Baqarah, bahwa pada dua “la alla” yang pertama (la allakum tattaqun dan la allakum tasykurun), kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang kedua jamak. Tetapi pada “la alla” yang ketiga (la allahum yarsyudun), kata ganti yang digunakan adalah kata ganti orang ketiga jamak.

“La allakum”, seolah-olah berhadapan dengan kita. Siapapun yang berpuasa, maka ada jaminan untuk menjadi orang yang bertakwa. Siapapun yang berpuasa, maka ada jaminan bisa menjadi orang yang pandai bersyukur. Tetapi yang ketiga (la allakum yarsyudun: agar menjadi orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah), ini kelihatannya agak jauh bisa kita capai, karena orang yang selalu berada di bawah petunjuk Allah hanyalah para nabi, aulia, dan para syuhada. Kita semua dalam perjalanan menjalani kehidupan ini bisa dipastikan tak pernah luput dari kekeliruan dan dosa, baik itu disengaja ataupun tidak.

Berkaitan dengan konteks takwa, bahwa rumusan takwa adalah menjalankan seluruh perintah dan menghindari seluruh larangan. Tetapi, yang menarik dari ayat 183, justru orang yang menjalani ibadah puasa masih dituntut untuk melahirkan sikap ketakwaan. Dari redaksi ayat ini, tuntutan ibadah puasa tidak sekedar kemampuan menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan lainnya, di mana bagi orang yang beriman menahan makan dan minum dalam batas-batas tertentu bukanlah suatu persoalan. Orang yang tidak sanggup menjalani puasa itu lebih dikarenakan tidak berbasis iman. Menahan makan dan minum di siang hari sepertinya adalah pekerjaan yang ringan. Tetapi ada tuntutan “la allakum tattaqun” pada ayat ini, yaitu ada pesan moral yang diminta dari orang-orang yang berpuasa.

Apa yang dimaksud dengan pesan moral dari ibadah puasa? Mengenai hal ini, ada suatu riwayat yang menyebutkan:

Pada suatu ketika di Bulan Ramadan, Rasulullah mendengar ada seorang ibu yang mencaci-maki pembantunya. Caci-maki tersebut didengar oleh Rasulullah, sehingga sahabat diminta untuk memanggil wanita itu. Lalu Rasulullah menyuruhnya mengambil makanan. Setelah wanita itu datang menghadap Rasulullah, lalu beliau menyuruh wanita itu makan makanan yang telah disediakan itu. Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku sedang berpuasa.”

Kemudian Rasulullah berkata, “Banyak orang yang lapar, tetapi sedikit yang berpuasa. Allah tidak membutuhkan kalian menahan lapar dan haus di siang hari jika tak mampu menahan hawa nafsu.”

Dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa berpuasa bukanlah hanya sekedar menahan makan dan minum, melainkan ada tuntutan untuk menahan hawa nafsu. Di Bulan Ramadan ini, ekspresi kehidupan keagamaan kita kemudian meningkat.

Pada sebuah kitab dijelaskan, bahwa ada tiga pengandaian:

Pengandaian Pertama

Pada suatu ketika, ada seorang sahabat yang sedang berjalan. Di tengah jalan, ia melihat ada seorang pengemis yang meminta-minta. Sahabat itu sebenarnya hanya memiliki uang yang cukup untuk berbuka puasa. Setelah dipertimbangkan, sahabat itu kemudian memberikan seluruh uangnya kepada peminta-minta itu. Ternyata ia bermimpi, Allah memberikan balasan yang luar biasa. Ia berkata, seandaikan ia memberikan uang lebih besar lagi, pasti Allah akan melipat-gandakan lebih besar, karena peristiwa ini terjadi di Bulan Ramadan.

Pengandaian Kedua

Seorang sahabat ketika ia berjalan, tiba-tiba ia melihat ada seorang yang kedinginan di tengah jalan karena kehujanan. Melihat hal tersebut, diberikannya pakaian yang dipakainya kepada orang yang kedinginan itu. Sahabat tersebut kemudian bermimpi diberikan anugerah kenikmatan yang luar biasa. Lalu sahabat tersebut berkata, “Seandainya yang aku berikan itu bukan pakaian bekas, melainkan pakaian baru, tentunya Allah akan memberikan balasan yang luar biasa.” Mengapa? Karena hal ini terjadi di Bulan Ramadan.

Pengandaian Ketiga

Ada seorang tua yang tak bisa ke masjid karena harus dipapah. Untuk bisa berjamaah, rumahnya relatif jauh. Anaknya tidak ada yang menuntunnya. Tiba-tiba ada seorang pemuda mengantarkan orang tua tersebut ke masjid. Kemudian pemuda tersebut bermimpi mendapatkan balasan kenikmatan yang luar biasa dari Allah. Pemuda tersebut kemudian berkata, “Seandainya orang tua tersebut aku tuntun dari tempat yang lebih jauh dan bisa kulakukan setiap hari, maka nikmat yang akan diberikan oleh Allah tentunya akan sangat luar biasa besarnya.”

Pada Bulan Ramadan ini, sering kali kita menemui hal-hal yang seperti ini. Namun sering kali kita tidak terpanggil untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan itu. Bulan Ramadan ini merupakan bulan yang subur untuk melakukan seluruh kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan kemanusiaan.

Ketika Imam Al-Ghazali wafat, beliau dimimpikan oleh salah seorang sahabatnya, bahwa Imam Al-Ghazali diberikan balasan kenikmantan yang luar biasa di alam kuburnya. Terjadilah dialog dalam mimpi itu. Sahabat tersebut bertanya kepada Imam Al-Ghazali, “Apakah sebabnya sehingga Allah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepadamu?”

“Bukan karena Kitab Ihya Ulumuddin yang aku tulis, bukan karena aku ulama besar, dan bukan pula karena aku tokoh sufi, tetapi yang menyebabkan Allah memberikan kenikmatan kepadaku, bahwa pada suatu saat aku menulis kitab dengan tinta, lalu ada seekor lalat yang hinggap di ujung tinta tersebut hingga lalat tersebut kenyang, setelah itu barulah aku menggerakkan tinta tersebut,” jawab Imam Al-Ghazali di dalam mimpi itu.

Artinya, bahwa yang dituntut dari ibadah yang kita lakukan apapun bentuknya, maka harus ada ketulusan hati, ada perhatian terhadap kehidupan sosial, termasuk terhadap binatang yang menjijikkan sekalipun.

Dalam suatu hadis digambarkan, bahwa ada seorang ibu yang masuk neraka karena perlakuan ibu tersebut yang kasar terhadap seekor kucing. Kucing tersebut diikatnya dan dimasukkan ke dalam kamar dan tidak diberi makan, sehingga kucing tersebut kelaparan, dan kemudian mati.

Dalam hal ini, Islam ingin memberitahukan kepada umatnya, bahwa sebagai orang yang beriman, tidak cukup hanya melakukan hal-hal yang bersifat lahiriyah, melainkan yang lebih utama adalah ketulusan batin untuk memperhatikan lingkungan, termasuk juga terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan. Siapapun yang bersikap tidak baik terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka yang akan marah adalah yang menciptakan binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut (yaitu Allah), apalagi jika kita bersikap tidak baik terhadap sesama manusia.

Karena itulah, di balik semangat menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan, janganlah lupa untuk selalu berhati-hati di manapun kita berada, karena tingkat kejahatan di bulan Ramadan ini cukup meningkat. Perampokan, pencurian, bahkan pembunuhan bisa terjadi kapan dan di mana saja. Misalnya, karena hanya memikirkan lebaran, sehingga sering kali kita melupakan untuk saling bertenggang rasa. Itulah sebabnya, di Bulan Ramadan ini banyak orang-orang yang mati konyol, padahal dia pergi demi mencari nafkah untuk keluarganya, demi suksesnya ramadan. Karena itulah, kita harus selalu waspada. Ke manapun orang beriman pergi, maka ia akan selalu membawa ketakwaan, baik ketakwaan ritual maupun ketakwaan sosial. Insya Allah kita akan hidup selamat dalam bimbingan Allah SWT.

Mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan ramadan ini dengan sebaik-baiknya, hingga tuntas dan berakhir ramadan nanti, dan seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah. Kebaikan-kebaikan kita apapun bentuknya mudah-mudahan menjadi ciri ketakwaan kita di hadapan Allah SWT. Sekianlah, mudah-mudahan Allah menguatkan kita semua untuk bias beribadah di Bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. []

Disarikan dari Ceramah Tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrozi, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Sumber: https://thenafi.wordpress.com/

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , , .

Beribadah Puasa di Negeri yang Pada Suatu Musim Matahari Tak Pernah Tenggelam Puasa dan Spirit Musyawarah

1 Komentar Add your own

  • 1. ririe khayan  |  14 Agustus 2011 pukul 3:54 PM

    Selamat menunaikan Ibadah di BUlan Romadhon, semoga meraih La’allaku Tattaqun

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: