Puasa dan Spirit Musyawarah

8 September 2009 at 7:05 AM Tinggalkan komentar


HALABSudah sering kita mendengar tentang tujuan puasa seperti yang termaktub pada Surah Al-Baqarah ayat 183:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Tujuan puasa adalah untuk menciptakan orang-orang yang bertakwa. Kita sudah sering mendengarkan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa, baik di dalam surah Al-Baqarah, Ali Imran, maupun surah-surah yang lain. Di antara yang disebut tentang ciri-ciri orang yang beriman dan bertakwa adalah yang terdapat di dalam Surah Asy-Syuura 38:

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Dari ayat di atas dapatllah kita ketahui, bahwa ajaran Islam mencakup:
– Persoalan akidah.
– Melaksanakn shalat, dan di mana-manapun sering disebutkan mengenai shalat ini. Karena begitu pentingnya salat, sehingga ada hadis:

Ash-shalatu imaduddin fa man aqaamaha faqad aqaamaddin (salat itu adalah tiang agama, sehingga barang siapa yang melaksanakan salat, maka dia berarti menegakkan agama).

– Terkait dengan kebutuhan umat manusia dan terkait dengan kehidupan bersama, baik itu di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara, yaitu dengan melaksanakan musyawarah. Ini sudah dijelaskan di dalam Alquran maupun Hadis. Di dalam Alquran disebutkan: wa syawirhum fil amr (Nabi Muhammad juga disuruh untuk bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.)

– Terhadap benda, salah satu kriteria (ciri khas) orang yang bertakwa adalah orang yang mendermakan sebagian dari harta bendanya. Berulang kali dinyatakan di dalam Alquran: wa yanfiquuna fish-sharra wadh-dharra. Selain itu, di dalam hadis atau ayat yang lain juga dijelaskan mengenai hal ini.

Pada saat ini kita akan membahas tentang musyawarah, yang sebagian orang mengatakannya sebagai demokrasi. Tapi dalam hal ini kita tidak akan membicarakan demokrasi.

Musyawarah diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi, baik itu masalah-masalah yang normal saja, misalkan berkaitan dengan persoalan rumah tangga, ataupun persoalan yang lebih besar dan rumit seperti yang berkaitan dengan pengelolaan negara. Begitu pentingnya musyawarah, sehingga para pendiri negara ini juga memasukkan musyawarah ke dalam salah satu sila di dalam Pancasila, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Hal ini sungguh dipengaruhi oleh ajaran Islam, karena kata-kata musyawarah adalah bahasa Alquran, sehingga pengaruh ajaran Islam memang nampak sekali pada sila yang keempat pada Pancasila.

Musyawarah tidak hanya terkait dengan persoalan-persoalan yang akan direncanakan, tetapi juga dalam kondisi yang tidak normal, misalkan ketika adanya perbedaan pendapat pada suatu keluarga atau masyarakat. Sehingga alangkah baiknya jika terdapat perbedaan pendapat, maka bermusyawarahlah untuk menyelesaikannya.

Mengapa kita harus menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut melalui musyawarah? Tak dapat dipungkiri, bahwa setiap manusia tidak akan memiliki pendapat dan kepentingan yang sama persis.

Perbedaan pendapat merupakan salah satu sumber konflik potensial. Karena itulah, alangkah lebih baiknya perbedaan pendapat tersebut diselesaikan dengan jalan musyawarah, sehingga konflik tersebut tidak akan terjadi dalam bentuk fisik. Begitu juga perbedaan-perbedaan pendapat di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun sayangnya, hal ini belum dilaksanakan sepenuhnya oleh Umat Islam. Buktinya, kita masih sering mendengar adanya pertengkaran, konflik, adu jotos, dan sebagainya, tak terkecuali misalkan di dalam PILKADA.

Ada dua tahap dalam menyelesaikan permasalahan itu melalui musyawarah:

Di dalam Alquran disebutkan, misalkan jika permasalahan keluarga, jika suami dan istri memiliki problem yang begitu sulit untuk diselesaikan, maka masing-masing pihak mengutus mediator. Hal ini juga bisa diterapkan pada konflik-konflik yang lain. Mediator-mediator itulah yang nantinya akan mencarikan jalan keluarnya, sehingga takkan terjadi konflik. Kalau hal tersebut ternyata tidak bisa diselesaikan dengan cara mediasi, maka barulah dibawa ke pengadilan . Dalam bahasa lain, mediasi juga disebut sebagai ishlah.

Innamal mu’minuna ikhwatun fa ashlihu bayna akhwaykum (sesama muslim itu adalah bersaudara, maka jika terjadi perbedaan pendapat di antara keduanya, maka Ishlakanlah keduanya).

Kalau tidak bisa dilakukan secara mediasi (ishlah), barulah dibawa ke pengadilan. Jika di dalam bahasa Alquran, mediasi disebut sebagai hakam, maka pengadilan adalah hakim.

Jika konflik tersebut tak bisa diselesaikan dengan cara ishlah, maka jalan selanjutnya adalah melalui pengadilan, bukan dengan cara adu fisik (kekerasan). Islam tak pernah menganjurkan menyelesaikan suatu permasalahan dengan cara kekerasan.

Melalui pengadilan lah permasalahan tersebut akan diputuskan, dan orang-orang yang terlibat konflik itu harus menerima keputusan dari pengadilan yang dimaksud. Tentu saja ada persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu hakim yang memutuskan tersebut haruslah hakim yang berbuat adil. Bagi hakim yang tak bisa berbuat adil, maka ada hukumannya di hadapan Allah nanti. Ada tiga jenis hakim, dua masuk neraka, hanya satu yang masuk surga. Artinya, sangat berat untuk menjadi adil.

Ini adalah suatu mekanisme yang diajarkan oleh Islam untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi, untuk merencanakan masa depan kita, apakah itu urusan agama, ekonomi, politik, ataupun negara. Ketika terjadi perbedaan-perbedaan pendapat ataupun kepentingan, maka Islam sudah memberikan tuntunan yang jelas untuk menghadapinya, bukanlah dengan cara kekerasan. Karena itulah, jika ada yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan, maka tentunya anggapan itu adalah salah.

Dalam menyelesaikan masalah, misalkan jika kita melihat adanya kemaksiatan, maka kita harus bermusyawarah dahulu. Jadi semuanya bisa dilakukan dengan cara yang baik (bil maw’izatil hasanah), misalkan dengan cara musyawarah. Jadi, diubah dengan lisan, berarti maksudnya dengan cara musyawarah, bukanlah langsung dengan cara kekerasan dan main hakim sendiri. Kekerasan dan main hakim sendiri bukanlah ajaran yang baik. Di dalam Alquran sudah begitu jelasnya tuntunan untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini. Jika ada kemaksiatan, maka hal itu harus diselesaikan dengan cara musyawarah, diperingatkan dengan ucapan. Setelah itu, jika peringatan tersebut tidak diindahkan, barulah dengan tindakan, dan yang akan melakukannya adalah hakim, bukanlah dengan cara kekerasan, bertindak sendiri, dan main hakim sendiri. []

Disarikan dari Ceramah Tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Masykuri Abdilah pada tanggal 12 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

Sumber: https://thenafi.wordpress.com/

Entry filed under: Islamika, Mozaik Islam. Tags: , .

Puasa dan Pesan Moral di Dalamnya Keistimewaan Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: