Tiba-Tiba Menjadi Islam

29 Oktober 2009 at 8:06 AM 1 komentar


2-2-2009-nasilustrasikawinbawahumurWarisan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan agama, keyakinan, dan kepercayaan yang kita anut selama ini. Umat beragama apapun itu. Tak terkecuali mayoritas Umat Islam. Bahkan hal tersebut sudah kita warisi semenjak lahir. Jadi, ketika kita lahir, tiba-tiba kita sudah menjadi Islam. Hinggalah kita beranjak besar, remaja, dewasa, tua, hingga kematian menjemput. Tak terkecuali aku.

Semenjak lahir, disematkanlah berbagai macam simbol untuk menegaskan keislaman kita. Diazankan, diiqamatkan, diberi nama ala Islam yang cenderung kearab-araban, diaqiqahkan, dikhitan, dan entah apalagi hal serupa yang tak lain untuk menegaskan, bahwa kita ini Islam.

Tiba-tiba kita sudah menjadi Islam, dengan berbagai macam pernak-perniknya. Mengucap dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, percaya kepada rasul, percaya kepada kitabullah, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada qadha’ dan qadar. Yang kadang kita pun tak mengerti, apa sebenarnya maksud semua itu akan diri dan kedirian kita. Yang pasti, kita harus meyakini dan menjalankannya, tanpa ada satupun ruang untuk kita bertanya akan semua hal tersebut.

Jika kita menyakini semua hal tersebut dengan seyakin-yakinnya, maka kita akan masuk surga, yaitu suatu tempat yang sangat indah yang disediakan oleh Tuhan untuk hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Namun sebaliknya, jika kita tidak meyakininya, maka kita akan dimasukkan ke dalam suatu tempat penyiksaan yang bernama neraka.

Setiap kita di waktu kecil mungkin pernah membayangkan pedihnya penyiksaan di neraka, dan nikmatnya surga. Jika kita teringat akan pedihnya siksa di neraka, maka kecutlah hati ini. Sehingga dengan begitu segala gerak-gerik kita pun terdorong oleh rasa takut. Panas, menggelegak, dan entah apa lagi bayangan ketakutan itu susul-menyusul mendera kita. Bayangan itu meneror pada saat masa-masa belia kita. Sepertinya tak ada lagi pemahaman yang selain itu. Melalui sekolah, melalui lingkungan, melalui bacaan, semuanya seakan-akan menggiring kita kepada pemahaman tersebut, semuanya seakan-akan bersatu dan bekerjasama untuk menakut-nakuti masa kecil kita.

Sebaliknya, kita juga diiming-imingi oleh manis, nikmat, dan indahnya surga. Yang satu ini tentunya tak begitu saja didapatkan. Berbuatlah kebaikan, taatlah kepada Tuhan, selalulah beramal shaleh, berbaktilah kepada kedua orang tua, pokoknya … bla…bla…bla…, kita dikondisikan untuk selalu menjadi orang baik, taat, serta rajin beramal-ibadah. Surga adalah hadiah dari kebaikan, ketaatan, dan amal ibadah yang kita lakukan itu.

Seperti inilah wajah keberagamaan kita. Seperti inilah keislaman yang kita anut. Agama ini kita warisi. Kebanyakan dari kita mungkin tidak memeluk dan menjalankannya secara sadar dan tulus. Atau secara sederhananya bahwa kita menganut agama ini dan juga menjalankan ritual-ritual di dalamnya lebih secara terpaksa. Kita mungkin jarang yang mau mengakui hal ini. Atau mungkin mayoritas kita meyakini adanya larangan mempertanyakan yang seperti ini.*** [Hanafi Mohan]

Sumber: https://thenafi.wordpress.com/

Entry filed under: Beriman secara Lapang. Tags: , , .

Tafsir yang Serampangan mengenai Gempa Padang Tertulis Dalam Al-Qur’an Ya Allah, Berikanlah Petunjuk-Mu kepada Orang-orang Yahudi

1 Komentar Add your own

  • 1. juliza binti zaini  |  22 Maret 2010 pukul 3:23 AM

    salam… sy menemui blog saudara semasa mencari2 maklumat suku sambas. sy tertarik dengan komentar2 saudara. iya… sy juga islam secara warisan juga.umat islam sekarang semakin punah dengan budaya hedonisme. anak2 kecil tidak lg diajar dengan pengajian agama, sebaliknya ibu bapa sekarang lebih senang melepas tanggungjawab itu kepada sekolah. anak2 dibiar mengenali dunia hiburan. jika dahulu anak2 dididik dengan fadhu ain, sekarang anak2 lebih senang menyanyikan lagu2 yang melalaikan. keadaan semakin melarat dalam umat islam kita. semakin menyedihkan. orang yg sedar kepentingan agama bagai buih2 di lautan. islam datang secara asing, kembalinya asing juga…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 393,074 hits
Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Clicks

  • Tak ada
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: