Lingkungan Taat Beragama

14 Februari 2010 at 12:42 PM 10 komentar


Di sebuah kampong bernama Kampong Tambelan (Kelurahan Tambelan Sampit, dalam ucapan orang Pontianak, “Sampit” diucapkan “Sampet“), di sinilah aku dilahirkan dan dibesarkan. Sebagian masyarakat Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat mengenal kampong yang satu ini sebagai kampong yang Islami atau kampong yang religius. Kampongku ini pas terletak di pesisir Sungai Kapuas. Karena masih berada di dekat dan di sekitar kawasan Kesultanan Pontianak yang berada di Kecamatan Pontianak Timur, maka adat resam budaya Melayu juga masih sangat kental di kampongku ini.

Bahasa sehari-hari yang kami gunakan adalah Bahasa Melayu Pontianak. Diakui atau tidak, jika ingin menjumpai Bahasa Melayu Pontianak yang masih sangat kental, maka di pesisir Sungai Kapuas lah tempatnya, terutama di kampong-kampong yang dekat dengan kawasan Kesultanan Pontianak (di kawasan Kesultanan Pontianak terdapat Istana Qadriyah dan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri). Bahkan tiap-tiap kampong punya logat bahasanya sendiri-sendiri. Bagi yang jeli, mungkin bisa membedakan antara logat orang-orang di kapong yang satu dengan orang-orang di kampong lainnya.

Karena dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan religius seperti ini, maka sedikit banyak aku juga dididik oleh keluarga dan lingkunganku dengan cara-cara yang religius. Entah cara religius yang kumaksudkan seperti apa, sungguh cukup sulit untuk mendeskripsikannya. Yang pasti, aku sungguh merasakan suasana religius tersebut semenjak masa anak-anak hingga dewasa. Strata sosial yang tertinggi di kampong kami mungkin adalah para ulama, ustadz, dan orang-orang yang memahami ilmu keislaman.

Perayaan hari-hari besar Islam mungkin yang paling meriah adalah di kampong kami. Tahun Baru Islam 1 Muharram (terutama pas Hari ‘Asyura 10 Muharram), Maulod (Maulid Nabi Muhammad), Isra’ Mi’raj, Nisfu Sya’ban, Ramadhan (Puase), ‘Adhil Fithri (Lebaran Ramdhan), dan ‘Adhil Adha (Lebaran Haji). Semua perayaan itu dibaluti dengan tradisi Melayu yang begitu khas di kampongku yang mungkin sulit ditemui di kampong-kampong lain yang ada di Kota Pontianak.

Sungguh pun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak praktek-praktek dan tradisi keagamaan yang sudah tak sesuai dengan napas zaman, bahkan mungkin bertentangan dengan Aqidah (Tawhid) dan dan Akhlak Islam. Agama lebih banyak diterjemahkan sebagai ibadah ritual. Kadang juga agama dijalankan secara sempit dan fanatik tak karuan. Masih banyak masyarakat kampongku yang beriman dan berislam secara kolot. Pandangan keagamaannya sungguh masih sangat sederhana.

Di waktu kecil dahulu aku pun sering mendengar ungkapan bahwa mencuri di rumah orang kafir itu dibolehkan. Tentunya ungkapan seperti ini sangatlah bertolak belakang dengan keyakinan keislaman yang kita anut. Anak-anak yang mendengar ini kemudian menerjemahkannya secara demonstratif. Ketika itu ada salah satu kedai (warung) milik orang keturunan Cine/Cina (Tionghoa) di kampong kami, sebut saja namanya Siango. Maka tak ayal lagi, jadilah kedai Siango sebagai sasaran untuk menjalankan pandangan keagamaan yang sungguh sangat salah itu. Ketika berbelanja, banyaklah anak-anak yang tidak membayar. Makan kue lima, bayarnya satu atau dua saja.

Ketika itu juga lagi musim-musimnya menjual lempengan-lempengan alumunium bekas. Kedai Siango adalah salah satu tempat untuk menjual alumunium bekas yang dimaksud. Beberapa teman-temanku ketika itu ada yang sangat kreatif, yaitu mencampurkan lempengan alumunium dengan pasir ataupun batu. Hal ini bisa dilakukan, karena Siango ataupun pembantu-pembantunya jarang memeriksa alumunium-alumunium yang dijual itu. Alumunium yang tadinya hanya beberapa ons, setelah ditambahkan batu mungkin menjadi agak lebih berat, sehingga duit yang didapatkan juga bisa lebih banyak. Ada juga yang kreatif dengan cara menjual alumunium yang sama berkali-kali. Caranya yaitu teman-temanku yang menjual alumunium itu yang membantu meletakkan alumunium yang dijualnya ke tempat penyimpanan. Hal ini karena Siango mungkin ketika itu lagi sibuk-sibuknya melayani pembeli, dan pembantu-pembantunya pun jarang memperhatikan yang seperti ini.

Lain lagi anjing yang dianggap sebagai najis mughallazah. Kalau ada anjing yang lagi berkeliaran, baik itu anjing liar, ataupun anjing milik orang-orang keturunan Cine/Cina (Tionghoa), maka jadilah anjing itu sebagai sasaran empuk untuk dilempari ataupun dipukuli, bahkan anjing itu dikerjai sampai sekarat. Bukankah anjing itu juga makhluk hidup seperti kita yang mempunyai hak yang sama untuk hidup di atas muka bumi ini? Sungguh tragis nasib hewan yang satu ini di kampongku ketika itu.

Keluargaku mungkin salah satu keluarga yang cukup moderat dan mempunyai pikiran dan pandangan keagamaan yang cukup maju ketika itu. Bayangkan, di kolong rumah panggung kami yang cukup luas itu kami memelihara hewan ternak seperti ayam. Selain itu, tak jarang juga ada anjing-anjing liar yang menjadikan kolong rumah kami sebagai tempat tidurnya. Entah mungkin karena tak pernah kami ganggu keberadaannya, maka betahlah anjing itu di bawah kolong rumah kami. Seakan-akan anjing itu adalah peliharaan kami. Selama ada anjing itu di bawah kolong rumah kami, maka amanlah rumah kami dari sergapan pencuri, amanlah pula ayam-ayam yang kami pelihara dari kejahatan pencurian.

Tentunya masih banyak pandangan-pandangan keliru lainnya yang dijalankan oleh masyarakat kampongku dalam beragama, terutama berkaitan dengan makhluk gaib. Biasanya pandangan-pandangan itu bukanlah berasal dari para ulama dan ustadz di kampongku yang mengerti ilmu keislaman, melainkan itu adalah pandangan-pandangan dari orang-orang awam yang sok-sok mengerti agama. Pandangan-pandangan sempit itu kemudian mereka sebarkan kepada kalangan keluarga terdekat mereka. Seakan-akan itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya, padahal itu adalah pandangan yang keliru.

Begitulah kampongku yang religius, walaupun terkadang masih ada keyakinan-keyakinan yang keliru yang masih diyakini dan dijalankan oleh masyarakatnya dari dulu hingga kini. Lingkungan taat beragama itulah yang di hari-hari kemudian cukup memberikan nuansa dalam pemikiran keislamanku yang moderat dan rasional. [Hanafi Mohan – Ciputat, Minggu 14 Februari 2010]

Sumber gambar: http://www.chip.co.id/gallery/

Tulisan ini dimuat di: https://thenafi.wordpress.com/

Iklan

Entry filed under: Beriman secara Lapang. Tags: , , , , , , , , , .

Hijau Hitam Kian Pudar Indonesia, Bangsa yang Ghafuurun Rahiim (Pengampun dan Penyayang)

10 Komentar Add your own

  • 1. nurrahman18  |  14 Februari 2010 pukul 1:09 PM

    kayaknya indah sekali kampung anda…salam..saya pgn kapan2 ke pontianak

    ——-
    @nurrahman, begitulah adanya kampong saya yang ada di tepian Sungai Kapuas-Pontianak, penuh dgn kebersahajaan, bahkan mungkin hingga kini, walaupun berada di tengah-tengah Kota Pontianak. Murah & sebentar kok ke Pontianak, kalau pakai kapal laut 36 jam lamanya, dgn biaya kira2 Rp. 250.000. Kalau pakai pesawat terbang 1 jam lamanya, dgn biaya kira2 Rp. 350.000 sampai Rp. 500.000.

    Suka

  • 2. Fitri  |  16 Februari 2010 pukul 1:44 AM

    Kalau saya di Samarinda.

    ——
    Salam utk yg di Samarinda, mungkin apa yg ada di Pontianak hampir sama dgn apa yg ada di Samarinda…, kondisi alamnya, kehidupan sosial kemasyarakatnya…, dsb…

    Suka

  • 3. shaquenna  |  17 Februari 2011 pukul 5:00 AM

    wuiiiihh mantap meski udah lama ninggalin kampong,,, masih gak terkeanang ye…

    Suka

  • 4. Pujex Carlox's blog  |  2 Juni 2011 pukul 4:56 PM

    […] Lingkungan Taat Beragama […]

    Suka

  • 5. Sudirman anak pak ramli m akib  |  19 Juli 2011 pukul 6:36 AM

    Kami sebagai putra melayu kampong tambelan sampit berterima kasih kepada saudara hanafi yg telah postkan kampong kite, kerne kami yang udah hampir 10 taon tak balik kesane jadi tau ape yang terjadi di kampong kite.
    Siango, cine kedai yang di laot itukan…
    Kami ingat….
    Heheheeee…..

    By:
    sudirman
    sorek
    pekanbaru

    Suka

  • 6. yan  |  24 Desember 2011 pukul 5:28 PM

    sudirman anak pak ramli m. Akip ?? Yg asli tambelan riau ke ? Yg biese di panggel pak uteh akip itu ke?

    Suka

  • 7. yan  |  24 Desember 2011 pukul 5:47 PM

    sudirman anak pak ramli m. Akip ?? Siape ye?

    Suka

  • 8. yan  |  24 Desember 2011 pukul 5:48 PM

    ini mungkin hanafi anak pak uteh sukor ye?

    Suka

  • 9. yan  |  25 Desember 2011 pukul 12:37 PM

    Dolo’ memang ye, kampong tambelan terkenal dengan ilmu agama karne banyak ulama nye. Tapi sekarang jaoh sekali perbandingannye. Kate orang kampong tembelan banyak BEGAJOL nye.

    Suka

  • 10. lia  |  7 Mei 2012 pukul 3:42 PM

    i love kote pontianak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Selamat Berkunjung

Selamat datang di:
Laman The Nafi's Story
https://thenafi.wordpress.com/

Silakan membaca apa yg ada di sini.
Jika ada yg berguna, silakan bawa pulang.
Yg mau copy-paste, jgn lupa mencantumkan "Hanafi Mohan" sebagai penulisnya & Link tulisan yg dimaksud.

Statistik

Blog Stats

  • 404,011 hits
Februari 2010
S S R K J S M
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
Powered by  MyPagerank.Net
free counters
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
Counter Powered by  RedCounter

Twitter Updates


%d blogger menyukai ini: